Pokok-pokok syirkah menurut Imam Syafi'i yang harus dipenuhi dalam suatu transaksi adalah: pelaku, obyek, shiga (akad dan ijab qabul). Syikah Imam Syafi'i juga mengedepankan kehati-hatian dan kepentingan kolektif, bukan kepentingan individu (individu) seperti yang dilakukan sistem perekonomian modern.
No. Gambar Judul Gambar Halaman 3.1 Skema akad Musayarakah 52
Singkatan
Terjadinya kemacetan perekonomian seringkali terjadi karena pemilik modal tidak mampu mengelola modalnya sendiri atau sebaliknya mempunyai kemampuan mengelola modal namun tidak mempunyai modal, data ini diselesaikan secara syirkah yang dibenarkan dalam syariat Islam. Menurut pendapat Imam Syafi'i tentang syirkah pada lembaga keuangan syariah. Perbankan syariah) tidak diperbolehkan jika kedua belah pihak tidak mencampurkan harta, menggarap harta tersebut dan membagi keuntungan dari hasilnya.
Rumusan Masalah
Karena diketahui bahwa syirkah perbankan syariah merupakan salah satu produk yang banyak diminati masyarakat, maka akad syirkah perbankan syariah sering kali dilakukan oleh para pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya. Dalam perekonomian modern saat ini, dimana perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan sudah menjadi kebutuhan masyarakat, syirkah menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan pada perbankan syariah.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penilitian
Kaedah ijtihad yang digunakan oleh Imam Syafi'i boleh dilihat dalam kitab ushul al-fiqh al-Risalah dan kitab Al-Umm. Dalam kitab-kitab tersebut, Imam Syafi’i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh rumusan hukum furu’iyyah (yang merupakan cabang).
Tinjauan Penelitian Relevan
Penelitian ini mempunyai perbedaan dan persamaan dengan yang peneliti angkat yaitu persamaan pembahasan syirka menurut pandangan Ulama Imam Syafi’i, yang membedakan penelitian ini adalah perbandingan dengan pemikiran Imam Abu Hanifah. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsep syirkah menurut Imam Syafi’i berkaitan dengan persoalan aqad, sarana dan bentuk usaha (Bentuk Syirkah) serta kemitraan yang dilakukan dalam suatu usaha tertentu. 22 Muhammad Syukur, “Konsep Syirkah Abdana (Studi Banding Mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyah)”, (skripsi;.
23 Devi Sureva, “Kajian Pemikiran Imam Al-Syafi’i Tentang Syirka”, (skripsi; program studi Fakultas Syariah dan Hukum; Muamalah: Riau Pekanbaru, 2013). Sedangkan yang membedakan adalah penelitian ini fokus pada syirkah abdan dan perbandingan antara Imam Syafi'i dan Hanafi. 25 Annisa Nur Aida, Pemanfaatan Syirkah Abdan Dalam Profesi Perancang Syar'i Dalam Perspektif Mazhab Hanafi dan Syafii, (skripsi: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).
Landasan Teori
Allah berfirman, Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bekerjasama selama yang satu tidak berkhianat. Salah satu pihak dapat menangani lebih banyak pekerjaan dibandingkan pihak lain dan, menurut kesepakatan, berhak menuntut lebih banyak bagi hasil darinya. Kedua pihak dalam syirkah mufawadhah harus seimbang dalam hal modal dan keuntungan, sehingga salah satu pihak tidak boleh mempunyai modal lebih banyak dari pihak lainnya.
Syirkah akan berakhir jika sesuatu berlaku dan satu pihak membatalkannya, walaupun tanpa persetujuan pihak yang lain. Ini kerana syrkah adalah akad yang dibuat atas persetujuan kedua-dua pihak, dan tidak perlu dilaksanakan sekiranya salah satu pihak tidak lagi menginginkannya. Salah satu pihak telah muflis, menyebabkan dia tidak mempunyai kawalan ke atas hartanah yang menjadi saham Syirkah.
Metode Penelitian
Selain itu, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli tentang tempat kelahiran Imam Syafi'i, yang diyakini sebagian berada di Gaza. Keluarga Imam Syafi'i berasal dari keluarga miskin Palestina dan tinggal di desa yang nyaman. Imam Syafi'i telah hafal Al-Qur'an dengan sempurna sejak ia masih kecil, yaitu pada usia sekitar tujuh tahun.
57 Sutomo Abu Nasr, Rangkuman Kitab Al-Umm Karya Imam Syafi'i, (Jakarta: Rumah Fikh Publishing, 2019). Imam Syafi'í berpendapat dalam Kitab Al-Umm bahwa yang dimaksud dengan syirkah atau musyarakah adalah sebagai berikut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa syrkah menurut Imam Siyafi adalah akad antara manusia yang bersatu dalam hal modal dan keuntungan.
Bentuk-bentuk Syirkah
Manakala syrkah akad (syrikatul uqud), iaitu perjanjian dua pihak atau lebih untuk menjalinkan kerjasama atau perniagaan. Syrkah amlak ikhtiyari (perkongsian sukarela), ialah perkongsian yang wujud kerana wujudnya akad antara dua orang yang bersekutu. Syrkah amlak ijbari, ialah perkongsian untuk dua orang atau lebih yang tidak berdasarkan perbuatan mereka berdua.
Misalnya, dalam hal pembagian harta warisan sebagian besar orang yang disayangi ahli waris, jika jumlah orang yang dicintainya lebih dari satu orang, maka mereka mendapat bagian seperenam. Syirkah inan merupakan kerjasama antara dua orang atau lebih dengan modal yang dimilikinya bersama-sama untuk membuka usahanya dan kemudian membagi keuntungannya sesuai kesepakatan. Syirkatul Abdan (shirkah al-a'māl), yaitu akad kerjasama antara dua orang yang mempunyai profesi yang sama untuk menerima pekerjaan secara bersama-sama dan memberi manfaat.
Sumber Hukum Syirkah
Menurut Imam Syafi'i, shirkah secara etimologi bermaksud bercampur, bersambung, bersatu dalam konteks mencampurkan harta seseorang dengan harta orang lain yang berlainan timbangan. Menurut Imam Syafi'i, sebagaimana yang dipetik dari kitab Bidayatul Mujtahid Ibnu Rushd, asas hukum yang merujuk kepada asal dan penerimaan prinsip syirik adalah pada zaman Rasulullah dan zaman Al-Qur'an berikutnya. 'a Surat Shad ayat 24 yang berbunyi 77. Dasar hukum syirik yang bersumber dari Sunnah Nabi Muhammad sawadalah, hadits riwayat Imam Bukhari dan terdapat dalam kitab Syarah Musnad Syafi'i adalah sebagai berikut. hadis.
Hadis di atas menggambarkan bahawa Allah SWT akan menolong dan menjaga dua orang yang menghubungkan dan menurunkan rahmat di mata mereka. Justeru, boleh dikatakan bahawa akad syirik dalam perspektif Imam Syafi'i adalah perbuatan muamalah yang boleh mendatangkan keberkatan. 80 Habib Segaf bin Hasan Baharun, Fiqih Muamalat, Pengajian Fiqh Muamalat Dalam MadzhabImam Syafi'i RA, (Jakarta: Al Hidayah, 2010), hlm.
Praktik Syirkah Pada Perbankan Syariah
Imam Syafi’i lebih menekankan pada pencampuran sarana dalam syirk, sehingga masing-masing sarana tidak dapat dibedakan satu sama lain. Imam Syafi'i menghimbau agar dilakukan pencampuran sumber daya, sesuai dengan akal sehat, dengan adanya pencampuran sumber daya tersebut maka pekerjaan kedua belah pihak menjadi lebih penting dan tuntas. Imam Syafi'i menghendaki adanya penggabungan dana sebelum akad dibuat, sehingga jika dilakukan berdasarkan akad maka dianggap tidak sah.85 Tidak ada pembahasan mengenai campuran dana dalam perbankan syariah.
Sama halnya dengan perbankan syariah, yaitu ada proyek pekerjaan/usaha. Mengenai pembagian keuntungan dan kerugian, Imam Syafi'i menyatakan tergantung pada modal yang disepakati. Dilihat dari beberapa unsur syirkah yang ada, menurut Imam Syafi'i, ada dua unsur dalam perbankan syariah. 84 Rika Susanti, Pemikiran Imam Syafi'i tentang Syirkah dan Relevansinya dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Syariah”, (Skripsi; Jurusan Muamalah: Pekan Baru, 2011), h.
Pengambilan Keuntungan Pada Perbankan Syariah
Pengelolaan proyek bisnis dikelola oleh nasabah, dan dapat dibantu oleh bank syariah atau mengelola usahanya sendiri, bank syariah memberikan kuasa kepada nasabah untuk mengelola usahanya. Hasil kerjasama bank syariah dengan nasabah dibagi sesuai nisbah yang disepakati dalam perjanjian pembiayaan, misalnya 60% untuk nasabah dan 40% untuk bank syariah. Namun jika terjadi kerugian maka bank syariah akan menanggung kerugian sebesar 70% dan nasabah kerugian sebesar 30%.
Setelah akad berakhir, modal dikembalikan ke masing-masing mitra kerja, yaitu 70% dikembalikan ke bank syariah dan 30% dikembalikan ke nasabah. Imam Syafi'i menyatakan bahwa dalam syirkah, bagi hasil dibagikan secara proporsional sesuai dengan penyertaan modalnya, tanpa memandang besarnya manfaat yang diterima karyawan sama atau tidak.87. Imam Syafi'i menjelaskan bahwa konsep kemitraan adalah suatu bentuk keuntungan yang diperoleh selama bekerja sama dan harus dibagi rata karena modal kerja dari pihak-pihak yang bekerjasama sudah menyatu dan tidak lagi terpisah-pisah.
Syirkah Yang Tidak Diperbolehkan 1. Syirkah abdan
Dalam fiqih Islam, hukum asli syirkah diperbolehkan.90 Syirkah juga merupakan salah satu lembaga bisnis tertua yang masih ada dan diamalkan oleh masyarakat Muslim. Saat ini banyak masyarakat yang menjadikan syirkah abdan sebagai lahan mencari rezeki untuk melanjutkan hidup. Terkait hukum batil menurut Imam Syafi’i dalam pelaksanaan syirkah abdan dengan alasan tidak ada modal dalam bekerja, yang ada hanya keahlian, ada juga unsur gharar didalamnya, karena apapun tenaga manusia atau keahliannya berbeda-beda, sehingga dikhawatirkan salah satu pihak dirugikan dalam hal gaji yang akan diterima.
Namun jika dilihat dari konteks kekinian, syirkah abdan sangat penting bagi kehidupan manusia karena dapat berperan penting dalam perekonomian saat ini. Syirkah abdan dalam kehidupan warga terjadi dalam kerjasama pembangunan, misalnya gedung, rumah, orang-orang yang bekerja di pabrik dan tempat-tempat lain yang bersifat jasa.
ا وُن َواَعَت َو ا
Syirkah Yang Diperbolehkan
105 Asrul Hamid, Syirkah Abdan dalam Sudut Pandang Imam Syafi'i: Analisis Kontekstual Fikih Islam Kontemporer, "Jurnal Lingkaran Islam 1, no. Imam Syafi'i berpendapat, agar syirkah inan sah, diperlukan keuntungan dan kerugian harus disesuaikan dengan besarnya modal atau persentasenya.111 Devi Sureva, “Kajian Pemikiran Imam Al-Syafi’I Tentang Syirkah”, (Skripsi; Fakultas Program Studi Syariah dan Hukum; Muamalah: Riau Pekanbaru, 2013 ) , h.
Imam Syafi’i mengartikan syirkah sebagai akad antara dua pihak atau lebih yang sepakat untuk menjalankan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan. Sumber yang digunakan Imam Syafi'i dalam membahas syirk adalah: Al-Qur'an, hadits, ijma dan qiyas. Relevansi syirkah menurut Imam Syafi'i dengan perbankan syariah adalah adanya usaha (tingkat pekerjaan) dan bagi hasil, sedangkan kombinasi aset dalam perbankan syariah tidak tertulis secara jelas.
Saran
Analisis Implementasi Konsep Syirkah pada Bank Syariah (Studi Kasus pada Bank Syariah Sumut Brigjen Katamso). (Tesis Universitas; Ketentuan Syirkah pada Lembaga Keuangan Syariah), (Skripsi Universitas; Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri IAIN Metro. Pemikiran Imam Syafi tentang Syirkah dan Pentingnya dengan Undang-undang no. 21 Tahun 2008 tentang Syariah Perbankan".
Sari, Zurifah Diana. “Analisis Fiqih Muamalah Terhadap Praktik Pelayanan Belanja Online Pada Akun Instagram @Storemurmersby.” (Skripsi; Institut Hukum Perdata Islam: Surabaya, 2018. Kajian Pemikiran Imam Al-Syafi'I tentang Syirkah). Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Syariah”.