HUBUNGAN POLA MAKANAN DAN FURNITUR KESEHATAN DENGAN STATUS GIZI ANAK DI WILAYAH JAWA, MINANG DAN BATAK DI WILAYAH KERJA PUSKASCTASRA GUNG MEDAN DHARMISTRA. HUBUNGAN POLA AIR DAN POLA PELAYANAN KESEHATAN DENGAN STATUS GIZI ANAK DI WILAYAH JAWA, MINANG DAN BATAK WILAYAH KERJA PUSKASCTASRA GUNG MEDAN DHARMIDISTRA”.
DAFTAR GRAFIK
Latar Belakang
Karyadi (1985) mengartikan food parenting sebagai praktik pengasuhan yang diterapkan ibu kepada anak mengenai cara dan situasi makan. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pola makan dan pola asuh orang tua yang sehat dengan kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya.
Rumusan Masalah
Puskesmas Gunung Medan terletak di Kecamatan Sitiung yang terdiri dari 2 Nagari yaitu Nagari Siguntur dan Nagari Gunung Medan serta terdiri dari 24 jorong. Berdasarkan kronologisnya, di Nagari Gunung Medan terdapat beberapa jenis suku yang hidup berdampingan. Berdasarkan data tahun 2014-2019, jumlah anak gizi buruk (di bawah garis merah) sebanyak 29 orang yaitu di Nagari Siguntur di Jorong Koto Tuo, Siguntur I, Siguntur II dan di Nagari Gunung Medan di Jorong Palo Tabek, Bunga Tanjung, Ganting .
1.3.2.1.4 Mengetahui distribusi frekuensi pola asuh makan pada masyarakat suku Jawa di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan. 1.3.2.1.5 Mengetahui distribusi frekuensi pola asuh makan pada suku Minang di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan.
Ruang Lingkup
Status Gizi Balita
Faktor langsung yang dapat mempengaruhi gizi adalah penyakit menular dan konsumsi makanan, dan faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi gizi adalah pengetahuan ibu tentang gizi, usia saat menyapih, berat badan lahir rendah (BBLR), pemberian makan prematur, jumlah anggota keluarga, pola asuh. sampel, kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan. Pola asuh gizi merupakan hal yang dilakukan orang tua dalam rumah tangga, yang dibuktikan dengan tersedianya pangan, pelayanan kesehatan, dan sumber daya lainnya bagi kelangsungan hidup serta tumbuh kembang anak.
Pengukuran Status Gizi
Gizi buruk merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak memperoleh zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat kesalahan atau kurangnya asupan makanan. Dalam standar yang ditetapkan pemerintah, balita mengalami gizi buruk jika indeks massa tubuh menurut umur (BB/U) -3 sampai <-2 SD (Wong, 2008; Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007). Ilmu status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB/TB secara individual berdasarkan umur.
Indikator BB/U bisa normal, lebih rendah atau lebih tinggi setelah dibandingkan dengan standar WHO, bila BB/U normal maka tergolong dalam status gizi baik dan BB/U rendah berarti status gizi kurang/buruk, dan bila BB/ U yang tinggi dapat digolongkan dalam status gizi lebih, baik itu status gizi kurang maupun status gizi lebih, keduanya membawa risiko yang tidak baik bagi kesehatan anak kecil.
Penilaian Status Gizi
Selain itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda dan gejala atau riwayat kesehatan. Penilaian biofisik merupakan suatu metode penentuan status gizi dengan melihat kapasitas fungsional (terutama jaringan). Secara umum dapat digunakan pada situasi tertentu seperti rabun senja, epidemi. Metode yang digunakan adalah uji adaptasi gelap. Penilaian status gizi tidak langsung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu survei konsumsi pangan, statistik vital, dan faktor ekologi.
Survei konsumsi pangan merupakan suatu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Penyebab Gizi Kurang
Setiap keluarga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas gizinya. Setiap keluarga dan masyarakat diharapkan memberikan waktu, perhatian dan dukungan kepada anak agar dapat berkembang dengan baik secara fisik, mental dan sosial. Sistem kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin tersedianya air bersih dan fasilitas kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan, semakin baik tingkat ketahanan pangan keluarga maka semakin baik pola asuh orang tua maka semakin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi Pola Asuh Gizi
Pada keluarga yang memiliki balita, dengan jumlah anggota keluarga yang banyak, apabila tidak didukung dengan persediaan makanan yang seimbang di rumah maka hal ini akan berdampak pada pola makan yang berdampak langsung pada konsumsi makanan setiap anggota keluarga, terutama balita yang memerlukan makanan pendamping ASI. untuk ASI, Program Keluarga Berencana telah menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga yang paling ideal adalah manusia. Peningkatan status gizi anak dan ibu akan meningkatkan tekanan penduduk, oleh karena itu program ini bertujuan untuk membatasi pertumbuhan penduduk. Menurut Suhardjo, kolostrum dapat mempengaruhi status gizi balita karena kolostrum lebih banyak mengandung protein, mineral, dan karbohidrat lebih sedikit dibandingkan ASI.
Kolostrum juga mengandung beberapa komponen anti penyakit yang dapat membantu memberikan bayi ketahanan terhadap penyakit menular yang mempengaruhi status gizinya.
Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi .1 Pemberian Asi Ekslusif .1 Pemberian Asi Ekslusif
- Hubungan Asi Esklusif dengan Pola Asuh Makan
- Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
- Hubungan Pemberian MP-ASI dengan Pola Asuh Makan
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan yang diberikan kepada bayi yang telah berusia enam bulan ke atas karena ASI sudah tidak lagi memenuhi gizi bayi. Makanan pendamping ASI diberikan secara bertahap untuk mengembangkan kemampuan bayi dalam mengunyah dan menelan serta menerima berbagai jenis makanan dengan tekstur dan rasa yang beragam. Menurut Arisman (2004), pemberian makanan tambahan harus bertahap dan bervariasi, mulai dari bentuk cair, bubur kental, jus buah, buah segar, makanan tumbuk, makanan lunak, dan terakhir makanan padat. Secara teoritis pola pemberian MP-ASI dipengaruhi oleh faktor ibu, karena ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengatur konsumsi anak yang kemudian akan mempengaruhi status gizi anak.
Dari penelitian Rika Septiana, dkk (2010) disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola pemberian MP-ASI dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta.
Hubungan Pola Asuh Kesehatan dengan Status Gizi .1 Praktek Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan .1 Praktek Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
- Upaya Meminimalkan Resiko Terserang Penyakit
- Hubungan Praktek Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
- Perawatan Anak Dalam Keadaan Sakit
- Hubungan Praktek Perawatan Kesehatan dengan Kejadian Gizi Kurang
Dari penelitian yang dilakukan Yulia dkk. Pada anak balita yang merupakan keluarga pemetik teh di Pangalengan diketahui bahwa pola asuh orang tua yang sehat berperan terhadap status gizi anak. Terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dan pemberian makanan tambahan (MP-ASI) terhadap status gizi balita. Terdapat hubungan antara pola pelayanan kesehatan dan praktik kebersihan dan sanitasi lingkungan terhadap status gizi anak usia dini.
Terdapat hubungan antara pola asuh orang tua sehat dan perawatan anak sakit serta imunisasi lengkap terhadap status gizi balita.
Jenis dan Desain Penelitian
Lokasi dan Waktu
Populasi dan Sampel .1 Populasi .1 Populasi
- Sampel
Variabel Penelitian
- Data Sekunder
- Data Primer
Data (balita) diperoleh dengan melihat Daftar Medis Puskesmas Gunung Medan dengan melihat spesifikasi data pada Dokumen Daftar Medis Puskesmas Gunung Medan. Data yang telah diedit dan diberi kode dimasukkan ke dalam komputer untuk dianalisis dan diolah menggunakan SPSS. Data status gizi dimasukkan ke dalam software WHO Antro, data pengetahuan ibu, ketersediaan pangan, asupan gizi dan pola asuh orang tua dimasukkan ke dalam program SPSS dengan menggunakan kuesioner. Data yang dimasukkan kemudian diperiksa kembali untuk menghindari kesalahan pada saat memasukkan data.
Analisis univariat digunakan untuk mengetahui gambaran deskriptif masing-masing variabel. Data univariat yang dianalisis adalah status gizi, pengetahuan ibu, ketersediaan pangan, asupan gizi dan pola pengasuhan. Hasil olahan disajikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
Etika Penelitian
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara pola asuh makan dan pola asuh kesehatan pada variabel bebas (pengetahuan ibu, ketersediaan pangan, asupan gizi dan pola asuh) dengan variabel terikat (status gizi). Analisis bivariat dianalisis menggunakan uji chi square. Jika p-value < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan, sebaliknya jika p > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Pekerjaan Orang tua
- Pendidikan Orang Tua
Berdasarkan data penelitian terlihat 50 anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan menjadi responden penelitian, seperti terlihat pada tabel 4.2. Berdasarkan tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua/responden pada penelitian ini adalah lulusan SMA yaitu sebanyak 31 orang (62%).
Analisis Univariat .1 Status Gizi Balita .1 Status Gizi Balita
- Pemberian Makanan Pendamping Asi
- Praktek Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan
- Perawatan Anak dalam Sakit
- Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita
Pemberian makanan tambahan ASI pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya Tahun 2020 berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.4. Praktik higiene dan sanitasi lingkungan balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya Tahun 2020 berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.5. Perawatan anak sakit pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya Tahun 2020 berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Pengetahuan ibu tentang gizi bayi di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya tahun 2020 berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Analisis Bivariat .4 Pola Asuh Makan .4 Pola Asuh Makan
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pada balita pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pada balita masuk dalam kategori Kurang (30,0%) dan Cukup (20%), sedangkan pada kategori Baik (50%).
- Pemberian Asi Ekslusif
- Pola Asuh Kesehatan
Berdasarkan tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif pada balita pada penelitian ini mendapatkan ASI eksklusif dengan kategori baik pada suku Jawa (63,6%), suku Minang (52,4%), sedangkan pada suku Batak (57,1). pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya Tahun 2020 berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 4.10.
- Status Imunisasi Lengkap
- Keterbatasan Penelitian
- Analisis Univariat
- Gambaran Status Gizi Balita pada Suku Jawa di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Status Gizi Balita pada Suku Minang di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Status Gizi Balita pada Suku Batak di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh Makan Balita Pada Suku Jawa di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh Makan Balita pada Suku Minang di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh MakanBalita Pada Suku Batak di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh Kesehatan Balita pada Suku jawa di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh KesehatanBalita Pada Suku Minang di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Gambaran Pola Asuh KesehatanBalita pada Suku batak di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Medan
- Analisis Bivariat
- Hubungan Status gizi balita, dengan Pola Asuh Makan Balita pada Suku Jawa di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan
- Hubungan Status gizi balita, dengan Pola Asuh Makan Balita pada Suku Minang dan suku batak di wilayah kerja Puskesmas Gunung
- Hubungan Pola Asuh makan dan Pola Asuh Kesehatan Balita pada suku Jawa di Wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan
- Hubungan Pola Asuh makan dan Pola Asuh Kesehatan Balitapada suku Minang dan suku Batak di Wilayah kerja Puskesmas Gunung
- Kesimpulan
- Saran
- Bagi Masyarakat
- Bagi Institusi Pendidikan
- Bagi Tenaga Kesehatan
- Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian dapat dilihat dari 50 sampel bahwa suku Jawa di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan rata-rata mempunyai status gizi baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pola makan dan pelayanan kesehatan pada balita. sangat bagus. Hasil penelitian dapat diketahui dari 50 sampel bahwa Suku Minang di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan sebagian besar berstatus gizi kurang, hal ini disebabkan oleh pola makan dan pola pelayanan kesehatan balita yang kurang baik. . Pola pengasuhan balita di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya terdiri dari praktik pemberian ASI eksklusif (50%) dan pemberian makanan pendamping ASI (50).
Hubungan status gizi dengan pola asuh anak kecil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pola asuh orang tua anak kecil di wilayah kerja Puskesmas Gunung Medan Kabupaten Dharmasraya.
DAFTAR PUSTAKA
DATA ANAK 1.Nama anak
Pemberian Asi Ekslusif
Pemberian Makan Pendamping ASI (MP-ASI)
- PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI BALITA
4. Asupan nutrisi yang tidak mencukupi pada anak anjing dapat menurunkan berat badan dan meningkatkan stamina. 5. Makanan yang bergizi dan seimbang, selain dapat memberikan gizi yang cukup bagi tumbuh kembang fisik anak, juga dapat meningkatkan perkembangan sosial, psikis, dan emosional anak usia dini. 7. Gizi buruk pada bayi dapat mengakibatkan gizi buruk dan kurang gizi, sehingga tumbuh kembang anak menjadi terhambat.
10. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral merupakan zat gizi yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan.