Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kemampuan pemecahan masalah matematis siswa PGMI IAIN Bengkulu berdasarkan teori Polya. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengajukan penelitian yang berjudul “Deskripsi Keterampilan Pemecahan Masalah Matematis Siswa PGMI IAIN Bengkulu pada Mata Pelajaran Matematika II Ditinjau dari Teori Polya”.
Identifikasi Masalah
Perkembangan empat tahap pemecahan masalah yang diungkapkan Polya merupakan satu kesatuan yang sangat penting. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan, peneliti mengidentifikasi masalah pentingnya keterampilan pemecahan masalah matematis mahasiswa PGMI dalam teori Polya.
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penlitian
Pemecahan masalah merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pembelajaran matematika agar kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan pemecahan masalah. 14 Eka Irawan, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah Matematika, (Singaraja: Ghana Education University, 2016). nilai-nilai sosial kerja kelompok.
Kemampuan Pemecahan Masalah Menurut Teori Polya
Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan membayangkan, membandingkan, menebak, menentukan, mengkonstruksi, merepresentasikan, dan mengambil informasi dari rangsangan visual dalam konteks spasial. Indikator kemampuan pemecahan masalah antara lain: Menurut Polya, tahap pemecahan masalah ada 4 langkah, yaitu memahami masalah, membuat rencana penyelesaian masalah, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil penyelesaian.
Matematika II
Konversi Satuan Waktu
Satuan Luas
Hal ini karena waktu berdasarkan jam pada dasarnya adalah kelipatan 6, bukan kelipatan 10 seperti berat dan tinggi badan. Konversi ini dilakukan pada skala 100 karena pada dasarnya luas merupakan hasil kali panjang dan besaran panjang lainnya.
Satuan Volume
KERANGKA PIKIR
Kemudian teori-teori yang telah diuraikan dianalisis secara kritis dan sistematis, yang berujung pada sintesa hubungan antar variabel yang telah diteliti18. Kerangka konseptual di bawah ini menjelaskan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan menggunakan pendekatan polya pada aspek perencanaan.
Kerangka Kikir Pembelajaran Matematika
Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini meliputi penelitian tentang keterampilan pemecahan masalah, kesulitan dalam memecahkan masalah cerita, serta upaya meminimalkan kesulitan yang dialami siswa dalam memecahkan masalah cerita. Kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal matematika adalah kesulitan dalam memahami dan menggunakan simbol-simbol, menggunakan.
Lokasi Dan Waktu Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, penulis menggunakan pendekatan kualitatif karena dianggap tepat untuk digunakan dalam penelitian ini. Data kualitatif memungkinkan kita menelusuri dan memahami secara kronologis, mengkaji sebab akibat dalam benak masyarakat setempat, serta memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat.
Sumber Data
Selain itu, terdapat kriteria yang harus dipenuhi oleh subjek untuk dapat dijadikan subjek penelitian, antara lain: subjek dapat berkomunikasi dengan baik selama proses wawancara dan kesediaan subjek untuk selalu berpartisipasi dalam pengumpulan data selama penelitian. Dari setiap mata pelajaran yang dipilih akan diketahui tingkat kemampuan matematika dalam menyelesaikan masalah II teori Polya.
Fokus Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Soal tes yang digunakan sebelumnya dibuat berdasarkan hasil analisis RPS yang diperoleh dari guru Matematika 2 dan soal tersebut divalidasi oleh guru yaitu Ibu Mela Aziza S.pd M.Si., validasi ini dilakukan mulai bulan Maret 20 hingga 29 Maret. Alasan dipilihnya guru tersebut sebagai validator karena beliau merupakan lulusan pendidikan matematika di luar negeri dan beliau juga mengajar matematika di kampus IAIN Bengkulu. Setelah validator menyatakan layak digunakan dan melakukan penyelidikan lebih lanjut, maka dilakukan pertanyaan tes. diujikan pada siswa. Selain itu, data ini juga digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan pemahamannya (tinggi, sedang, rendah).
Data pendukung pemahaman konsep matematika siswa yang diperoleh adalah wawancara setelah pemberian tes kemampuan pemecahan masalah matematis dengan menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur. Tujuan wawancara adalah untuk memperjelas jawaban yang diberikan oleh subjek penelitian, sehingga dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis pada mata pelajaran matematika II ditinjau dari teori Polya. Tahapan wawancara ini dilakukan tidak hanya untuk mengkaji lebih dalam kemampuan penyelesaian masalah matematika pada materi pengukuran, tetapi juga untuk memperoleh informasi yang tidak dituliskan siswa pada saat pemberian soal tes.
Pertanyaannya tidak harus sama persis dengan pedoman wawancara, namun mengandung intisari poin-poin sehingga memperdalam informasi yang ingin diperoleh.
Teknik Keabsahan Data
Teknik ini merupakan kegiatan memeriksa keabsahan data yang menggunakan sesuatu selain data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding dengan data tersebut. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari masing-masing kelompok kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dalam proses data mining, seorang peneliti harus mempunyai referensi yang cukup, bisa diperoleh dari buku, jurnal penelitian atau referensi lain yang terpercaya.
23 Susana Afrila Ngadas, dkk, Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VIII SMA pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Berbasis Teori Apos di SMP Kristen Petra Malang, (Seminar Nasional FST 2019: Universitas Kanjuruhan Malang ), Jil. Revisi di sini adalah cara agar hasil penelitian dapat diperhatikan dan dipertahankan, sehingga peneliti memasukkan pihak-pihak yang berbeda dalam penelitian ini.
Teknik Analisis Data
- Deskripsi Data Pemilihan Subjek
Saat ini IAIN Bengkulu mempunyai empat fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah dan Tadris, Fakultas Syariah, Fakultas Usuludin Adab dan Dakwah serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Fakultas Tarbiyah dan Tadris mempunyai 3 jurusan yaitu Tarbiyah, Pendidikan Bahasa dan Pendidikan IPS dan juga mempunyai 9 program yaitu Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Inggris, Matematika Pendidikan, pendidikan ilmu sosial dan pendidikan ilmu pengetahuan alam. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah atau biasa dikenal dengan PGMI telah berdiri sejak tahun 2003 untuk program D2 namun untuk program sarjana dimulai pada tahun 2007 di bawah naungan Jurusan Tarbiyah Fakultas Tarbiyah dan Tadris Fakultas IAIN Bengkulu.
Namun karena besarnya animo masyarakat untuk belajar di prodi PGMI, maka selama ini mahasiswa PGMI menjadi mahasiswa dengan jumlah mahasiswa terbanyak kedua di IAIN Bengkulu setelah Prodi PAI. Berikut Urutan Ketua Program Studi PGMI beserta masa jabatannya: .. nama Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madresah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu Pada Masa Berdirinya. Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa PGMI IAIN Bengkulu pada mata pelajaran Matematika II dilihat dari teori Polya.
Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Ibtidaiyah (PGMI) fakultas Tarbiyah dan Tadris IAIN Bengkulu. Indikator yang menjadi pedoman saat wawancara adalah indikator kemampuan pemecahan masalah yang dinilai dari teori polya.
Analisis Data
- Hasil Soal Tes Berdasarkan Teori Polya
- Hasil Wawancara dengan Mahasiswa a. Prosedur Penyelesaian soal
- Analisis Hasil Wawancara dengan Dosen
- Pembahasan Hasil Penelitian
Berikut data hasil tes subjek berkemampuan sedang (MSb) dalam menyelesaikan soal kemampuan pemecahan masalah pada nomor 2. Pada jawaban subjek MTa di atas terlihat subjek mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah dengan benar. Pada jawaban subjek MTb di atas terlihat subjek mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah dengan benar.
Jawaban subjek MSb di atas menunjukkan bahwa subjek menjawab pertanyaan tentang keterampilan pemecahan masalah dengan benar. Jawaban subjek MRb di atas menunjukkan bahwa subjek menjawab soal keterampilan pemecahan masalah dengan benar. Respon subjek MSa di atas menunjukkan bahwa subjek mengerjakan pekerjaan, namun Msa kurang teliti dalam mengerjakan soal pemecahan masalah pada nomor 6.
Pada jawaban subjek MSb di atas terlihat subjek telah mengerjakan pekerjaannya, namun Msb kurang teliti dalam mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah pada nomor 6. Pada jawaban subjek MRa di atas terlihat bahwa Subjek telah mengerjakan soal tersebut, namun MRa kurang teliti saat mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah pada nomor 6. Pada respon subjek MSa di atas terlihat bahwa subjek mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah dengan benar.
Pada jawaban subjek MrB di atas terlihat bahwa subjek menyelesaikan soal kemampuan pemecahan masalah dengan benar.
Keterbatasan Penelitian
Maka dari pembahasan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah dan belum maksimal terutama pada tahap rechecking dansolving, siswa belum bisa berkomunikasi atau terhubung pada setiap tahap mulai dari tahap pemahaman. ke tahap pengecekan ulang. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada mata kuliah yang dipelajari, pada penelitian sebelumnya mengkaji persamaan linear dua variabel, pada penelitian ini mengkaji mata kuliah matematika II. Penyebab lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah karena pola pembelajaran yang dialami siswa pada sekolah sebelumnya mengenai konsep matematika II tergantung pada kondisi pembelajaran di kelasnya.
Ketika belajar dengan dosen, ada siswa yang serius mengikuti pelajaran dan ada pula yang sekadar ikut-ikutan saja, karena pengajaran di kelas tidak ada, mereka mengalami kesulitan. Analisis Keterampilan Pemecahan Masalah Matematis Mahasiswa PGMI IAIN Bengkulu Pada Mata Pelajaran Matematika II Ditinjau Dari Teori Polya Dapat Disimpulkan Hasil Bahwa Keterampilan Pemecahan Masalah Mahasiswa PGMI IAIN Bengkulu Semester 3 Mata Pelajaran Matematika II dari segi teori Polya belum maksimal, siswa yang mampu menguasai tahapan dengan baik hanya sampai pada tahap pemahaman dan perencanaan. Siswa kurang memahami konsep dasar mata pelajaran matematika II, karena siswa hanya menghafal rumus dan mengetahui konsep dasar saja, namun belum dapat menerapkannya ke tahap selanjutnya, dan faktor lainnya adalah kurangnya perhatian terhadap pelajaran pada saat belajar di sekolah. .sebelumnya, serta kapan pelajaran berlangsung. tempat di kelas.
Saran
Penerapan Strategi Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VII SMP Negeri 7 Padang. Penerapan Strategi Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VII SMP Negeri 7 Padang. Responden : karena menurut saya mengukur jarak itu seperti belajar fisika dan saya tidak suka dengan pelajaran itu.
Responden : Karena menurut saya berat gram dan kilogram itu banyak, nah bagian itu saya kurang paham. Responden: karena menurut saya mengukur luas itu tidak ada batasnya, banyak orang yang mengukur planet dan mengukur luar angkasa, jadi menurut saya ribet saja. Responden : karena menurut saya saya kurang pandai matematika. Peneliti : Yang dimaksud dengan pertanyaan ini (soal nomor 3).
Peneliti : Kira-kira dari kemampuan pemecahan masalah pada materi pengukuran siswa mampu berapa persen. Dosen: Tergantung pemahaman yang didapat selama belajar di sekolah, ada yang mungkin baru paham, ada juga yang tidak paham sama sekali. Dosen : Untuk kelas yang anda ajar sekarang, kemampuan pemecahan masalah mereka cukup baik, hampir separuh kelas dapat menjawab keterampilan pemecahan masalah matematika.
Dosen : Ada yang bisa dan ada yang tidak, soalnya jangan terlalu jauh dengan contohnya karena menurut ibu saya itu berdasarkan contoh yang sudah mereka pelajari.