PROPOSAL
STRATEGI PENERAPAN KONSEP HIJAU-BIRU INDONESIA PADA RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK
DI TAMAN MACCINI SOMBALA
Diajukan Oleh
Monica Tombe Nim. 4623102003
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2024
i PRAKATA PENULIS
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmat-Nya, tugas ini dapat peneliti selesaikan. Penulisan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Teknik Pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Bosowa Makassar.
Adapun harapan peneliti, semoga tugas ini akan menghasilkan peran pada pengembangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi seluruh pihak yang membacanya.
Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tugas ini, sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan tugas ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan pertolongan, pernyataan, kekuatan, serta kemampuan kepada peneliti sehingga proposal Tesis ini dapat terselesaikan;
2. Kedua orangtua papa Drs. Daruis Minggu dan mama Yohana Niko Kalani atas doa, semangat, dan dukungan yang diberikan selama ini;
3. Saudara-saudara peneliti kakak Apt. Christien Darwis S.farm, adik Jeklin Yuro Tiropadang, dan adik Natasya Tombe atas doa dan dukungan yang diberikan selama ini;
4. Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Program Pascasarjana, Dr. Ir. Syafri, S.T, M.Si
5. Bapak Dr. Ir. Murshal Manaf, M.T selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan ilmu untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan proposal Tesis ini;
6. Bapak Dr. Ir. Rudi Latief, ST. M.Si selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan ilmu untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan proposal Tesis ini;
ii 7. Seluruh Dosen program studi Perencanaan Wilayah Dan Kota Program
Pascasarjana, atas ilmu dan pengalaman yang diberikan kepada peneliti 8. Sahabat sekaligus teman seperjuangan kakak Rana Wafiqah Adiputri, atas
dukungan dan bantuan yang diberikan kepada peneliti;
Makassar, 25 September 2024
Monica Tombe
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
PRAKATA PENULIS ... i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C.Tujuan Penelitian... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP A. Perspektif Teori ... 10
B. Penelitian Terdahulu ... 41
C. Kerangka Konseptual ... 44
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 45
B. Lokasi dan Jadwal Penelitian ... 46
C. Fokus dan Deskripsi Fokus ... 47
D. Sampel Data Penelitian ... 50
E. Instrumen Penelitian ... 53
F. Jenis dan Sumber Data ... 55
G. Teknik Pengumpulan Data ... 56
H. Teknik Analisa Data ... 60
I. Rencana Pengujian Keabsahan Data ... 66
J. Alur Penelitian ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 71
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat akan memberikan dampak pada tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota, kebutuhan lahan untuk tempat bermukim dan aktivitas kegiatan ekonomi. Hal tersebut tidak dapat dihentikan tetapi dapat diatur dalam suatu perencanaan agar ruang kota dapat dimanfaatkan dengan benar. Namun, jika pemanfaatan ruang kota tidak diatur dengan benar tentunya hal tersebut akan berdampak pada penurunan kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau suatu perkotaan.
Kegiatan yang lebih banyak dilakukan di pusat kota, dapat menyebabkan emisi CO2 menjadi tinggi di area tersebut. Sedangkan CO2 dapat menyimpan panas, sehingga menyebabkan peningkatan suhu udara. Kegiatan pembangunan yang diikuti dengan perubahan tutupan lahan dari ruang terbuka hijau (RTH).
Menurunnya kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada di perkotaan, baik berupa ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti seringnya terjadi banjir di perkotaan, tingginya polusi udara, dan meningkatnya kerawanan sosial (kriminalitas dan krisis sosial), menurunnya produktivitas masyarakat akibat stress karena terbatasnya ruang publik yang tersedia untuk interaksi sosial.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai infrastruktur hijau perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang
2 diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi guna mendukung manfaat ekologis dan sosial budaya. Sedangkan, ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai kawasan genangan (retention basin).
Meningkatkan keberadaan ruang publik, khususnya RTH di perkotaan, perlu dilakukan beberapa hal. Pertama, secara konsisten pemerintah berusaha untuk mendorong pengembangan ruang terbuka hijau, khususnya di perkotaan dengan melalui penerbitan buku dan pedoman pembangunan RTH di perkotaan. Kedua, dalam hal kebijakan pemerintah juga mendorong agar proporsi RTH di perkotaan ini terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai minimal 30 persen dari luas wilayah yang ada.
Ketiga, dalam konsep kebijakan yang sedang disiapkan, juga perlu diatur mengenai mekanisme insentif dan disinsentif yang dapat lebih meningkatkan peran swasta dan masyarakat melalui bentuk-bentuk kerjasama yang saling menguntungkan untuk pengembangan RTH seperti misalnya memberi ijin bangunan lebih tinggi yang masih dalam batas persyaratan apabila dapat menyediakan RTH lebih luas atau bersedia membebaskan lahan untuk dijadikan RTH. Keempat, dalam hal upaya pengendalian pemanfaatan ruang terutama ruang publik, terkait penegakan hukum dan peraturan pemberian sanksi, baik secara administrasi maupun pidana. Dengan adanya hal tersebut diharapkan penegakan hukum dalam penyelenggaraan RTH kota dapat dilakukan dengan lebih efektif.
3 Namun, dalam penerapannya masih belum optimal yaitu terkait kebijakan dan penegakan hukum terhadap pengendalian pemanfaatan ruang. Terdapat tiga (3) fungsi pokok RTH yaitu fisik-ekologis, ekonomis (nilai produktif dan penyeimbang untuk kesehatan lingkungan), dan sosiai-budaya (termasuk pendidikan, nilai budaya dan psikologis masyarakat). Hal ini berkaitan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) yaitu adanya integrasi antara lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Akibat keterbatasan lahan, pengembangan RTH dimungkinkan mengarah ke atas. Lansekap vertikal (vertical landscape) tengah dikembangkan di kota Singapura, New York, Chicago, dan kota-kota berpenduduk padat di Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang. Pengembangan lansekap vertikal berupa taman atap (roof deck gardens), taman gantung (sky terraces greenery), taman balkoni (landscape balconies). Konsep kembali ke alam merupakan upaya menuju kehidupan alam asli ke dalam lingkungan kehidupan kota dan menyatukan dengan sumber-sumber kehidupan alaminya. Pemahaman akan pentingnya upaya menjaga fungsi lingkungan melalui keseimbangan antara RTH dengan ruang kota lain, akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan kota berkelanjutan.
Negara seperti Singapura, Beijing, Cina dan Jerman menerapkan pendekatan yang lebih dikenal dengan sebutan Blue-Green Infrastructure (BGI). Salah satu contoh penerapan Blue-Green Infrastructure (BGI) yaitu pada Singapura yang menyusun perencanaan dan program jaringan “blue- green” bertujuan untuk melindungi nilai hidrologi dan ekologi lanskap perkotaan untuk mengatasi ancaman degradasi lingkungan (Rowe dan Hee,
4 2019). Konsep Green Blue dalam Masterplan RTH Singapura telah dibuat semenjak tahun 1991 yang menggabungkan penghijauan di daratan dan badan air menjadi satu kesatuan. Strategi peningkatan luasan RTH di Singapura terimplementasi dengan baik dan meningkat setiap tahunnya dan menjadikannya Negara dengan persentase luasan RTH terbesar di dunia.
Kota Makassar merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang banyak serta maraknya pembangunan yang terjadi sehingga sangat kekurangan akan RTH. Terkait lokasi penelitian bahwa persentase ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Makassar yaitu 11,47 persen (Dinas Lingkungan Hidup, 2023) dari total luas ruang terbuka hijau terhadap luas Kota Makassar.
Tentunya luas tersebut masih dibawah 30 persen sesuai ketentuan ketersediaan ruang terbuka hijau pada suatu wilayah.
Kota Makassar penyediaan RTH masih sangat rendah di 5 tahun terakhir, yaitu di kisaran 7-11% padahal jumlah atau angka kewajiban penyediaan RTH yang disebutkan di dalam Pasal 55 Ayat 4 Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar Tahun 2015-2034 adalah sebesar 30% yaitu terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat dari luas kawasan kota yang sudah terbangun.
Khususnya pada Taman Macini Sombala berdasarkan studi literatur bahwa Taman Macini Sombala awalnya merupakan Taman yang banyak diakses oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas berangsur-angsur tidak terawat dan terbengkalai. Pentingnya mengatur rencana terkait tata ruang wilayah adalah strategi perencanaan yang mengatur bagaimana sumber daya alam dan manusia berinteraksi satu sama lain dalam menciptakan lingkungan yang produktif.
5 BGI menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan dan hemat biaya untuk infrastruktur abu-abu, karena dapat memberikan banyak manfaat sekaligus meningkatkan nilai estetika dan rekreasi ruang perkotaan. Solusi berbasis alam dapat membantu menyediakan infrastruktur yang tangguh, terjangkau, dan adil tentunya perlu adanya partisipasi dari pemerintah, swasta dan masyarakat.
infrastruktur biru-hijau merupakan salah satu pendekatan yang dipilih banyak perkotaan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan tersebut. Konsep ini memberikan banyak manfaat kepada masyarakat yaitu terciptanya sistem regulasi udara yang efisien, menurunkan suhu lingkungan, serta meningkatkan kualitas udara.
Dalam PERMEN ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau mengatur penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau menggunakan pendekatan yaitu Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI). Pendekataan Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI) merupakan pengintegrasian RTNH dan RTB ke dalam RTH yang sekiranya menjadi solusi yang tepat bagi wilayah kota maupun kawasan perkotaan di wilayah kabupaten dengan permasalahan kekurangan area hijau yang dapat diperburuk tanpa adanya perencanaan untuk penyediaan dan pemanfaatan RTH yang tepat.
Mengingat ketersediaan lahan untuk ruang terbuka hijau yang semakin berkurang karena dampak dari urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa dihentikan karena akan berdampak pula pada perkembangan wilayah dan kota. Sehingga perlu adanya pendekatan baru yang tidak hanya memperhitungkan luas lahan ruang terbuka hijau tetapi juga memperhitungkan
6 vegetasi yang ada pada lahan tersebut, sehingga ketersediaan ruang terbuka hijau yang telah ada dapat dimanfaatkan dengan optimal.
Selain penggunaan pendekatan IHBI yang belum banyak digunakan dalam penelitian, pemilian lokasi pun berdasarkan kemudahan untuk diakses karena peneliti berdomisili di Kota Makassar, peneliti hanya ingin memfokuskan penelitian pada ruang terbuka hijau publik karena peneliti merasa lebih mudah dalam melakukan penelitian dan mengambil data, dan fenomena perubahan iklim yang saat ini menjadi salah satu permasalahan yang terjadi di Indonesia khususnya di Kota Makassar. Hal tersebut yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian untuk tesis yang berjudul “Strategi penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Macini Sombala”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemanfaatan ruang terbuka hijau publik berdasarkan konsep hijau-biru Indonesia pada fungsi ekologi dan fungsi sosial di Taman Maccini Sombala?
2. Bagaimana strategi dalam penerapan konsep hijau-biru Indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Maccini Sombala?
C. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis pemanfaatan ruang terbuka hijau publik berdasarkan konsep hijau-biru Indonesia pada fungsi ekologi dan fungsi sosial di Taman Maccini Sombala.
2. Merumuskan strategi dalam penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Maccini Sombala.
7 D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bidang Akademik
Dalam bidang akademik perencanaan wilayah dan kota, penelitian ini bermanfaat untuk memperdalam pemahaman tentang strategi dalam penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Macini Sombala.
2. Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan informasi tentang strategi dalam penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Macini Sombala.
3. Pemerintah
Penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi untuk pemerintah setempat dalam strategi penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Macini Sombala.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian untuk memperoleh hasil dan kesimpulan yang mendalam maka dilakukan pembatasan ruang lingkup penelitian. Ruang lingkup dari penelitian ini adalah strategi penerapan konsep hijau-biru indonesia pada ruang terbuka hijau publik di Taman Macini Sombala. Peneliti menjabarkan lingkup penelitian dalam 3 (tiga) bagian yaitu wilayah substansi dan tahapan sebagai berikut:
8 1. Ruang Lingkup Wilayah:
Penelitian dilakukan di Kota Makassar khususnya di Taman Macini Sombala. Taman Maccini Sombala yang terletak di wilayah kota Makassar diresmikan pada tahun 2014 pada awalnya merupakan taman yang indah dan banyak diakses oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas. Dalam periode yang tidak terlalu lama kondisi taman ini berangsur-angsur tidak terawat dan terbengkalai, berbagai fasilitas dan bangunan tidak lagi berfungsi.
2. Ruang Lingkup Substansial
a. Peneliti memfokuskan penggunaan teori yaitu teori ruang terbuka hijau berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang.
b. Peneliti memfokuskan penggunaan teori yaitu teori pemanfaatan ruang terbuka hijau berupa taman kota berdasarkan Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 Tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau.
3. Ruang Lingkup Tahapan:
Pada penelitian terdapat tahapan-tahapan yang dapat mengukur tingkat aktivitas penelitian dimana tahapan tersebut terdapat memiliki proses yang dilakukan secara terstruktur, runtut, baku, logis dan sistematis. Tahapan penelitian yang pertama adalah mengidentifikasikan masalah pada penelitian yang akan di teliti, selanjutnya mencari rumusan masalah dan tujuan penelitian yang sesuai dengan identifikasi masalah. Setelah itu mencari studi literatur atau referensi untuk dijadikan bahan acuan dalam penelitian. Selanjutnya observasi dengan wawancara dan melakukan tanya
9 jawab terhadap narasumber yang telah ditentukan oleh peneliti. Hasil dari wawancara kemudian dianalisis data dan pengolahan data sehingga masalah yang telah teridentifikasi dapat di simpulkan untuk menjadi strategi penerapan konsep hijau-biru Indonesia pada ruang terbuka hijau publik Taman Maccini Sombala. Data yang sudah di analisa dan dirancang yang diketahui hasilnya kemudian dijadikan karya tulis ilmiah dan rekomendasi dari impelmentasi strategi penerapan konsep hijau-biru Indonesia pada ruang terbuka hijau publik Taman Maccini Sombala.
10
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. Perspektif Teori
1. Pembangunan Berkelanjutan
a. Sejarah Pembangunan Berkelanjutan
Sejarah pembangunan berkelanjutan diawali dari Conference on the Human Environment (Konferensi mengenai lingkungan manusia) yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) pada tahun 1972 di Stockholm. Dalam konferensi yang dihadiri oleh delegasi negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa perlu adanya pertimbangan masalah lingkungan dalam program–program pembangunan yang selama ini dijalankan.
Berangkat dari konferensi di Stockholm, PBB melalui World Conference on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987 mempublikasikan sebuah laporan yang berjudul our comman future atau Brundtland report yang didalamnya memuat mengenai konsep pembangunan yang berkelanjutan. Menurut laporan tersebut pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai proses pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pada masa sekarang dengan tidak mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya.
Sejak dipublikasikan oleh WCED mulai banyak para ahli dari berbagai disiplin ilmu mendefinisikan mengenai pembangunan berkelanjutan. Tidak berhenti sampai di pertemuan WCED, pembahasan
11 mengenai pembangunan berkelanjutan dilanjutkan dengan United Nations’ Earth Summit atau Konferensi Bumi PBB pada tahun 1992 di Rio Janerio yang menghasilkan Agenda 21 dan disambung dengan pertemuan di Johannesburg yang dilaksanakan Majelis Umum PBB yang mengadopsi Millenium Development Goals pada tahun 2000 dan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dunia pada tahun 2002.
Dari berbagai pertemuan yang diadakan menunjukkan bahwa betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan. Dari berbagai definisi pembangunan berkelanjutan yang ada, dapat diintisarikan bahwa pembangunan berkelanjutan ditujukan untuk pencapaian tidak hanya keberlanjutan bidang ekologi/lingkungan akan tetapi keberlanjutan dibidang ekonomi dan sosial. Model pembangunan berkelanjutan sesuai yang disampaikan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).
b. Definisi Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan berarti pembangunan yang dapat berlangsung secara terus menerus dan konsisten dengan menjaga kualitas hidup (well being) masyarakat dengan tidak merusak lingkungan dan mempertimbangkan cadangan sumber daya yang ada untuk kebutuhan masa depan. Dengan demikian, dalam upaya untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan diperlukan adanya paradigma baru dalam perencanaan pembangunan kota dan wilayah yang berorientasi market driven (ekonomi), dimensi sosial, lingkungan dan budaya sebagai prinsip keadilan saat ini dan masa depan. Pembangunan berkelanjutan adalah
12 sebagai upaya manusia untuk memperbaiki mutu kehidupan dengan tetap berusaha tidak melampaui ekosistem yang mendukung kehidupannya.
Masalah pembangunan berkelanjutan telah dijadikan sebagai isu penting yang perlu terus di sosialisasikan ditengah masyarakat (Rahadian, 2016). Berikut beberapa pengertian pembangunan berkelanjutan yang dipaparkan oleh beberapa ahli :
1) Pengertian pembangunan berkelanjutan dalam Stockholm United Nation Conference on Human Enviromental pada tahun 1972 atau dikenal sebagai Deklarasi Stockholm adalah sebagai berikut : segala sumber daya alam di bumi, termasuk udara, air, tanah, flora dan fauna terutama contoh yang mewakili bagian ekosistem alam, harus dijaga supaya aman untuk kepentingan generasi sekarang dan masa depan melalui perencanaan atau manajemen yang sesuai dan hati-hati.
2) Menurut Brutland Report dalam sidang PBB tahun 1987, pembangunan berkelanjutan atau dalam bahasa Inggris sering disebut sustainable development merupakan proses pembangunan yang berprinsip untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.
c. Prinsip Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan berkonsenterasi kepada tiga buah pilar yakni pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Untuk menjamin tercapainya keharmonisan antara ketiga buah pilar tersebut pelaksanaan pembangunan haruslah mengacu kapada prinsip-prinsip pembangunan
13 berkelanjutan. Setidaknya ada empat butir prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan . Prinsip-prinsip tersebut meliputi :
1) Pemerataan dan keadilan sosial. Prinsip pertama ini mempunyai makna bahwa proses pembangunan harus tetap menjamin pemerataan sumberdaya alam dan lahan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Pembangunan juga harus menjamin kesejahteraan semua lapisan masyarakat.
2) Menghargai keaneragaman (diversity). Keaneragaman hayati dan keaneragaman budaya perlu dijaga dalam menjamin keberlanjutan.
Keaneragaman hayati berhubungan dengan keberlanjutan sumberdaya alam, sedangkan keaneragaman budaya berkaitan dengan perlakuan merata terhadap setiap orang.
3) Menggunakan pendekatan integratif. Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan antara manusia dengan alam. Dimana manusia dan alam merupakan unsur yang tidak dapat berdiri sendiri.
4) Perspektif jangka panjang, dalam hal ini pembangunan berkelanjutan berorientasi tidak hanya masa sekarang akan tetapi masa depan. Untuk menjamin generasi mendatang mendapatkan kondisi lingkungan yang sama atau bahkan lebih baik.
Dari berbagai konsep yang ada maka dapat dirumuskan prinsip dasar dari setiap elemen pembangunan berkelanjutan berikut strateginya :
1) Pembangunan yang Menjamin Pemerataan dan Keadilan Sosial Pembangunan yang berorientasi pemerataan dan keadilan sosial harus dilandasi hal-hal seperti ; meratanya distribusi sumber lahan dan
14 faktor produksi, meratanya peran dan kesempatan perempuan, meratanya ekonomi yang dicapai dengan keseimbangan distribusi kesejahteraan dan juga pembangunan berkelanjutan harus juga mempertimbangkan generasi masa depan.
2) Pembangunan yang Menghargai Keanekaragaman Pemeliharaan keanekaragaman hayati adalah prasyarat untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang. Keanekaragaman hayati juga merupakan dasar bagi keseimbangan ekosistem.. Pemeliharaan keanekaragaman budaya akan mendorong perlakuan yang merata terhadap setiap orang dan membuat pengetahuan terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti.
3) Pembangunan yang Menggunakan Pendekatan Integratif Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan antara manusia dengan alam. Manusia mempengaruhi alam dengan cara yang bermanfaat atau merusak. Hanya dengan memanfaatkan pengertian tentang kompleksnya keterkaitan antara sistem alam dan sistem sosial. Dengan menggunakan pengertian ini maka pelaksanaan pembangunan yang lebih integratif merupakan konsep pelaksanaan pembangunan yang dapat dimungkinkan. Hal ini merupakan tantangan utama dalam kelembagaan.
4) Pembangunan yang Meminta Perspektif Jangka Panjang Masyarakat cenderung menilai masa kini lebih dari masa depan, implikasi pembangunan berkelanjutan merupakan tantangan yang melandasi
15 penilaian ini. Pembangunan berkelanjutan mensyarat kan dilaksanakan penilaian yang berbeda dengan asumsi normal dalam prosedur discounting. Persepsi jangka panjang adalah perspektif pembangunan yang berkelanjutan. Hingga saat ini kerangka jangka pendek mendominasi pemikiran para pengambil keputusan ekonomi, oleh karena itu perlu dipertimbangkan.
Adapun kajian mengenai pembangunan berkelanjutan telah menghasilkan kelompok model pembangunan berkelanjutan seperti
“Three-Legged Stool Model), Three Overlapping Ellipses”, “Never Ending Triangle”, “Concentric Ring/Egg Model”, ‘Three Sustainable Development Dimensions”, dan “Planner Triangle” (Fauzi &
Oxtavianus, 2014). Sebagai berikut:
a. Model "Three-Legged Stool"
Model "Three-Legged Stool" menggambarkan pembangunan berkelanjutan sebagai sebuah bangku dengan tiga kaki, di mana setiap kaki melambangkan salah satu dari tiga dimensi utama: ekonomi, lingkungan, dan sosial. Jika salah satu kaki tidak stabil atau hilang, bangku tidak dapat berdiri, yang mengindikasikan bahwa ketiga dimensi tersebut harus seimbang dan kuat untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
Model ini sering digunakan untuk menekankan pentingnya keseimbangan antara ketiga dimensi tersebut dalam kebijakan dan praktik pembangunan.
Penerapan dalam pengambilan kebijakan publik sering melibatkan analisis dampak yang merata pada aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial (Dahl et al., 2010).
16 b. Model "Never Ending Triangle"
Model "Never Ending Triangle" menggambarkan pembangunan berkelanjutan sebagai sebuah segitiga dengan tiga sisi yang terus berlanjut tanpa ujung, melambangkan keberlanjutan yang terus menerus. Setiap sisi segitiga mewakili satu dimensi dari pembangunan berkelanjutan:
ekonomi, lingkungan, dan sosial. Model ini digunakan untuk menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah proses yang tidak pernah berakhir dan selalu memerlukan penyesuaian dan keseimbangan antara ketiga dimensi. Penerapan dalam perencanaan kota dan komunitas sering kali melibatkan perbaikan dan adaptasi berkelanjutan untuk menghadapi perubahan lingkungan dan sosial.
c. Model "Concentric Ring/Egg"
Model "Concentric Ring/Egg" menggambarkan pembangunan berkelanjutan sebagai serangkaian cincin konsentris atau seperti struktur telur, di mana setiap lapisan mewakili dimensi yang berbeda. Biasanya, lingkungan ditempatkan di bagian luar sebagai dasar dari segala sesuatu, dengan ekonomi dan sosial berada di dalamnya, menunjukkan ketergantungan ekonomi dan sosial pada lingkungan yang sehat. Model ini menekankan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Model ini sering digunakan dalam analisis kebijakan lingkungan dan perencanaan penggunaan lahan (Zagonari, 2022).
d. Model "Three Sustainable Development Dimensions"
17 Model "Three Sustainable Development Dimensions" secara sederhana mengelompokkan pembangunan berkelanjutan ke dalam tiga dimensi: ekonomi, lingkungan, dan sosial, tanpa menggunakan metafora khusus. Fokusnya adalah pada integrasi dan saling ketergantungan antara ketiga dimensi ini. Model ini digunakan dalam berbagai pendekatan analisis kebijakan, penelitian, dan pelaporan pembangunan berkelanjutan.
Ini membantu dalam pengembangan indikator yang mencerminkan kinerja dalam masing-masing dimensi (J. M. Harris, 2001).
e. Model "Planner Triangle"
Model "Planner Triangle" menggambarkan pembangunan berkelanjutan sebagai segitiga dengan tiga sisi yang masing-masing mewakili dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial. Setiap sudut dari segitiga ini melambangkan konflik atau ketegangan antara dua dimensi, dan titik di tengah segitiga melambangkan keseimbangan atau solusi yang ideal. Model ini digunakan untuk menunjukkan konflik dan ketegangan yang sering muncul antara tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ini membantu dalam identifikasi dan mitigasi trade-offs dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan (Darchen & Searle, 2019).
Model-model tersebut menggambarkan pembangunan berkelanjutan sebagai tiga pilar utama: ekonomi, ekologi, dan sosial. Pada intinya, setiap pilar harus seimbang untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Model ini membantu kita memahami bagaimana ketiga dimensi ini saling berinteraksi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Model- model ini juga digunakan dapat digunakan untuk membantu para
18 pemangku kepentingan memahami kompleksitas pembangunan berkelanjutan dan mengembangkan pendekatan yang seimbang untuk mencapai tujuan jangka panjang yang berkelanjutan. Masing-masing model menawarkan cara berbeda untuk memahami dan mengelola hubungan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial, yang semuanya penting untuk keberhasilan pembangunan berkelanjutan.
2. Keberlanjutan Lingkungan
Keberlanjutan lingkungan, organisasi harus mengatur strategi agar seluruh proses dan hasil kerjanya dapat berjalan namun tetap memanfaatkan sumber daya alam secara efisien. Adapun Morelli & Morelli (2011) menyampaikan bahwa keberlanjutan lingkungan berkaitan pada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dengan kapasitas ekosistem pendukung sehingga dapat terus meregenerasi layanan untuk generasi saat ini dan masa depan. Dalam konteks organisasi, keberlanjutan lingkungan adalah kapasitas suatu organisasi untuk mengatur dan mengontrol bahaya yang ditimbulkan dari proses, produk dan model bisnis kepada lingkungan (Pogutz et al., 2011).
Lingkungan yang baik menyediakan udara bersih untuk bernapas, air segar untuk minum, dan makanan yang bergizi untuk hidup (Fathoni, 2022). Ini adalah sumber daya yang mendukung kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati di planet ini. Dalam era perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, kita harus menghargai pentingnya melindungi dan merawat lingkungan kita.
Dunia sangat membutuhkan lingkungan yang baik agar kita, serta generasi mendatang, dapat terus menikmati kehidupan yang sehat dan berkelanjutan
19 (Sembiring, 2019; Wihardjo & Rahmayanti, 2021; Yulia et al., 2022).
Kesehatan dunia sangat tergantung pada kesehatan lingkungan (Novita, 2019;
Purnama, 2018; Sumampouw, 2019). Lingkungan yang sehat memberikan udara bersih, air bersih, serta sumber daya alam yang berkelanjutan (Abidin &
Hasibuan, 2019; Akhirul et al., 2020; Ervianto, 2018; Suparmoko, 2020). Ini mendukung kehidupan manusia, satwa liar, dan ekosistem yang seimbang.
Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dapat mengancam kesehatan manusia, memicu bencana alam, dan mengganggu rantai makanan. Oleh karena itu, menjaga lingkungan yang sehat adalah kunci untuk menjaga kesehatan dan keberlanjutan dunia (Karo, 2020; Pratama et al., 2019; Tahir, 2018).
Berkelanjutan memiliki arti yang cukup luas, yaitu kemampuan untuk melanjutkan sesuatu yang didefinisikan tanpa batasan waktu. Berkelanjutan dapat dimaksudkan dengan ketahanan, keseimbangan, keterkaitan. Lebih lanjut berkelanjutan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan melanjutkan suatu perilaku yang didefinisikan tanpa batas waktu. World Commission on Environment and Development mendefinisikan berkelanjutan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Lingkungan berkelanjutan dapat diartikan segala sesuatu yang berada di sekeliling makhluk hidup yang mempengaruhi kehidupannya dengan kondisi yang terus terjaga kelestariannya secara alami maupun dengan sentuhan tangan manusia tanpa batasan waktu.
20 Lingkungan berkelanjutan juga dapat diartikan sebagai bagaimana pemenuhan kebutuhan sumber daya yang ada untuk generasi masa kini hingga masa depan tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem yang menyediakannya.
Secara lebih spesifik, lingkungan berkelanjutan disimpulkan sebagai suatu kondisi keseimbangan, ketahanan, dan keterkaitan yang memungkinkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya tanpa melebihi kapasitas ekosistem pendukungnya dan mampu beregenerasi untuk terus mampu memenuhi kebutuhan hingga di masa depan.
Lingkungan berkelanjutan memiliki prinsip-prinsip dalam menekankan kelestarian, diantaranya:
a. Melindungi sistem penunjang kehidupan.
b. Melindungi dan meningkatkan keanekaragaman biotik.
c. Memelihara atau meningkatkan integritas ekosistem, serta mengembangkan dan menerapkan ukuran-ukuran rehabilitasi untuk ekosistem yang sangat rusak.
d. Mengembangkan dan menerapkan strategi yang preventif dan adaptif untuk menanggapi ancaman perubahan lingkungan global Dalam lingkup ekologis, Herman Daly (1990) yang merupakan salah satu perintis awal keberlanjutan ekologis mengusulkan agar:
1) Sumber daya terbarukan, tingkat panen tidak boleh melebihi tingkat regenerasi (hasil lestari).
2) Tingkat pembangkitan limbah dari proyek tidak boleh melebihi kapasitas asimilasi lingkungan (pembuangan limbah berkelanjutan).
21 3) Sumber daya tak terbarukan, penipisan sumber daya tak terbarukan harus memerlukan pengembangan pengganti terbarukan yang sebanding untuk sumber daya tersebut.
3. Keberlanjutan Sosial
Keberlanjutan sosial dibentuk atas satu konsep besar yaitu persamaan akses dari masyarakat (Mishaal & Abu-shanab, 2015). Tujuan utama dari konsep keberlanjutan sosial adalah untuk meningkatkan partisipasi warga sehingga mendorong pemberdayaan dalam proses politik melalui saluran interaksi sosial (Mishaal & Abu-shanab, 2015). (Sartori, Da Silva, & De Souza Campos, 2014) turut menyampaikan bahwa keberlanjutan sosial mengacu pada homogenitas sosial, kesetaraan dalam pendapatan, kebutuhan, layanan dan pekerjaan. Dalam definisi tersebut keberlanjutan sosial menekankan pada persamaan kondisi hidup baik antara kelompok miskin maupun kaya untuk memiliki akses yang sama dalam mendapatkan layanan publik.
Secara sosial, pembangunan yang tidak berkelanjutan dapat memperburuk ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial. Di tingkat nasional, pembangunan yang tidak inklusif dapat menyebabkan marginalisasi kelompok-kelompok tertentu, seperti masyarakat adat dan komunitas miskin, yang seringkali tidak mendapatkan manfaat dari pembangunan. Ketidakadilan ini dapat memicu konflik sosial dan mengurangi kohesi sosial, yang pada akhirnya menghambat pembangunan berkelanjutan.
Dimensi sosial pembangunan berkelanjutan menekankan pada pemenuhan kebutuhan dasar anggota yang hidup dalam masyarakat. Pembangunan sangat dipengaruhi dan mempengaruhi interaksi sosial (hubungan sosial) dalam
22 masyarakat. Masyarakat yang berkelanjutan secara sosial harus memiliki fleksibilitas untuk melindungi dan mengembangkan sumber dayanya sendiri dan untuk mencegah dan atau menyelesaikan masalah di masa depan (Setiawan, 2022). Hal tersebut mengacu pada pelestarian karakteristik sosial budaya dalam menghadapi perubahan. Pembangunan berkelanjutan dalam perspektif sosial haruslah dapat meningkatkan kualitas masyarakat untuk menciptakan keberlanjutan sosial yakni memenuhi kebutuhan manusia yang terbentang mulai dari kebutuhan fisik sampai sosial. Pembangunan bukanlah hanya suatu proses yang bersifat ekonomis, unsur-unsur sosial dan budaya juga turut diperhitungkan.
4. Pengertian Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka bisa dikatakan hanya merupakan bagian kecil ruang kota, sebab hanya dipakai saat pemukim memerlukan ruang terbuka yang bisa menampung kebutuhan untuk bersosialisasi atau bertemu, berdiskusi dalam skala lingkungan terbatas, juga untuk saling barter barang (pasar atau plaza).
Pada jaman itu bila seseorang ingin berekreasi ke tempat-tempat bersuasana 'hijau' mereka hanya perlu sedikit saja keluar dari ruang binaan yang padat dan relatif sempit, menuju apa yang disebut 'country side' yang amat sangat luas yang langsung mengelilingi atau bahkan 'menempel' pada lingkungan binaan yang ada.
Kemudian berkembanglah kebutuhan akan lapangan terbuka, khususnya pada jaman kerajaan yang mulai membangun istana yang luas yang membutuhkan taman-taman yang luas pula di sekitar bangunan istana raja.
Masa feodalisme sangat berpengaruh pada perkembangan lansekap kota pula,
23 akhirnya terbentuk pula 'public park' yang diekspresikan dan diperlukan bagi pengejawantahan identitas tertentu suatu komunitas, misalnya di kota-kota yang bersifat perindustrian dimana dirasa perlu adanya suatu perimbangan pada identitas tertentu kota tersebut.
Rekreasi dan pengisian waktu senggang merupakan kebutuhan yang fundamental bagi kehidupan seseorang serta memiliki fungsi lain untuk memberikan keseimbangan dalam kehidupan seseorang, pembebasan dari rutinitas yang terus menerus, penyegaran dari beban pikiran dan tanggung jawab yang berat, atau perasaan jenuh selama bekerja di kantor. Perlunya memperhatikan rekreasi dan pengisian waktu luang yang positif sehingga dapat menyegarkan dan menambah semangat dalam bekerja.
Penyediaan dan pengelolaan pelayanan sosial yang kurang atau tidak baik, kondisi sosial, seperti keadaan lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi kepribadian individu. Demikian pula halnya dengan penyediaan dan pengelolaan pelayanan sosial yang kurang atau tidak baik, akan mengakibatkan hasil pelayanan yang kurang memadai terhadap para pengguna pelayanan tersebut. Misalnya, kurangnya kualitas pelayanan rumah sakit, kurangnya sarana RTH sebagai tempat rekreasi dan kurangnya sarana pendidikan yang memadai. Masalah kesejahteraan sosial dapat ditimbulkan oleh kondisi sosial, pelayanan yang kurang atau tidak baik dalam menjangkau penerima pelayanan (Adi, 2005).
Ruang terbuka hijau merupakan eleman penting dalam pengembangan pembangunan berkelanjutan. RTH merupakan konsep dalam multidisiplin ilmu, sehingga definisinya dipahami dalam beragam perspektif (Atiqul Haq,
24 2011). Secara teoritis menurut beberapa ahli pengertian ruang terbuka hijau adalah:
a. Nurisjah dan Pramukanto (1995) menyatakan bahwa RTH adalah areal bagian dari suatu ruang terbuka (open space) kota yang secara optimal digunakan sebagai daerah penghijauan dan berfungsi secara langsung maupun tidak langsung untuk kehidupan dan kesejahteraan warga kotanya.
b. Menurut Joga dan Ismaun (2011) mendefinisikan ruang terbuka hijau adalah bagian dari ruang terbuka (open space) yang diklasifikasikan sebagai ruang atau lahan yang mengandung unsur dan struktur alami.
c. Dewiyanti (2009) ruang terbuka hijau (RTH) merupakan ruang terbuka bervegetasi yang berada di kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi antara lain sebagai area rekreasi, sosial budaya, estetika, fisik kota, ekologis dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi bagi manusia maupun bagi pengembangan kota.
5. Ruang Terbuka Hijau Publik
Ruang Terbuka Hijau Publik yang selanjutnya disebut RTH Publik adalah ruang terbuka hijau yang dimiliki, dikelola, dan/atau diperoleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota atau Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota melalui kerja sama dengan pemerintah dan/atau masyarakat serta digunakan untuk kepentingan umum (PERMEN ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022).
6. Tipologi Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau yang berada di kawasan perkotaan dapat dibedakan kedalam beberapa tipologi. Berdasarkan PERMEN ATR/BPN
25 Nomor 14 Tahun 2022, Ruang Terbuka Hijau yang ada terdiri dari 3 (tiga) tipologi yaitu kawasan atau zona RTH, kawasan atau zona lainnya, dan objek berfungsi RTH. Selain itu kepemilikan RTH juga terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu RTH publik dan RTH privat seperti pada tabel 2.1 berikut :
Tabel 2. 1
Tipologi ruang terbuka hijau
No. Tipologi RTH
A Kawasan/Zona RTH
A.1 Rimba Kota A.2 Taman Kota A.3 Taman Kecamatan A.4 Taman Kelurahan A.5 Taman RW A.6 Taman RT A.7 Pemakaman A.8 Jalur Hijau
B Kawasan/Zona Lainnya
B.1 Kawasan/Zona yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya B.2 Kawasan/Zona Perlindungan Setempat
B.3 Kawasan/Zona Konservasi B.4 Kawasan/Zona Hutan Adat B.5 Kawasan/Zona Lindung Geologi B.6 Kawasan/Zona Cagar Budaya B.7 Kawasan/Zona Ekosistem Mangrove B.8 Kawasan/Zona Hutan Produksi B.9 Kawasan/Zona Perkebunan Rakyat B.10 Kawasan/Zona Pertanian
C Objek berfungsi RTH
C.1 Objek Berfungsi RTH pada Bangunan C.1.a Taman Atap (roof garden)
C.1.b Taman Podium (podium garden) C.1.c Taman Balkon (balcony garden) C.1.d Taman Koridor (corridor garden) C.1.e Taman Vertikal (vertical garden) C.1.f Taman dalam Pot (planter box garden) C.1.g Taman dalam Kontainer (container garden)
C.2 Objek Berfungsi RTH pada Kaveling C.2.a Persil pada Kawasan/Zona Perumahan
C.2.b Persil pada Kawasan/Zona Perdagangan dan Jasa C.2.c Persil pada Kawasan/Zona Perkantoran C.2.d Persil pada Kawasan/Zona Industri C.2.e Pekarangan Rumah
26 Tabel 2. 1
Lanjutan
No. Tipologi RTH
C.3 RTB
C.3.a Danau C.3.b Waduk C.3.c Sungai C.3.d Embung C.3.e Situ C.3.f Mata Air C.3.g Rawa C.3.h Biopori C.3.i Sumur Resapan C.3.j Bioswale C.3.k Kebun Hujan
C.3.l Kolam Retensi dan Detensi C.3.m Rawa Buatan (constructed wetland)
Sumber : PERMEN ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022
7. Fungsi Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau memiliki beberapa aspek fungsi yaitu ekologis, resapan air, ekonomi, sosial budaya, estetika, dan penanggulangan bencana. Pada aspek-aspek tersebut memuat beberapa hal yaitu meliputi:
a. Fungsi ekologis 1) penghasil oksigen 2) bagian paru-paru kota 3) pengatur iklim mikro 4) peneduh
5) penyerap air hujan
6) penyedia habitat vegetasi dan satwa
7) penyerap dan penjerap polusi udara, polusi air, dan polusi tanah 8) penahan angin
9) peredam kebisingan b. Fungsi resapan air
27 1) area penyedia resapan air
2) area penyedia pengisian air tanah 3) pengendali banjir
c. Fungsi ekonomi
1) pemberi jaminan peningkatan nilai tanah 2) pemberi nilai tambah lingkungan kota
3) penyedia ruang produksi pertanian, perkebunan 4) kehutanan, dan/atau wisata alam
d. Fungsi sosial budaya
1) pemertahanan aspek historis
2) penyedia ruang interaksi masyarakat
3) penyedia ruang kegiatan rekreasi dan olahraga 4) penyedia ruang ekspresi budaya
5) penyedia ruang kreativitas dan produktivitas
6) penyedia ruang dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan 7) penyedia ruang pendukung kesehatan
e. Fungsi estetika
1) peningkat kenyamanan lingkungan
2) peningkat keindahan lingkungan dan lanskap kota secara keseluruhan
3) pembentuk identitas elemen kota
4) pencipta suasana serasi dan seimbang antara area 5) terbangun dan tidak terbangun
f. Penanggulangan bencana
28 1) pengurangan risiko bencana
2) penyedia ruang evakuasi bencana 3) penyedia ruang pemulihan pascabencana 8. Taman Kota
a. Definisi
Taman kota adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreasi, edukasi, atau kegiatan lain pada tingkat kota. Taman Kota sebagai ruang terbuka hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu: keamanan, kenyamanan, kesejahtraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut (Permen Pu No. 05/PRT/M/2008) Menurut kamus besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa Taman adalah suatu tempat yang ditanami berbagai bunga dan sebagainya; tempat besenang-senang; tempat yang menyenangkan dan sebagainya.
b. Fungsi
Sasongko (2002), fungsi taman kota dikelompokan menjadi tiga fungsi sebagai berikut:
1) Fungsi Lanskap, meliputi
a) Fungsi fisik, yaitu vegetasi berfungsi untuk melindungi dari kondisi fisik alami seperti terhadap angin dan sinar matahari.
b) Fungsi sosial, penataan unsur-unsur yang berbeda seperti bangku, telepon, air mancur dan patung ditata sedemikian rupa sehingga
29 bisa memberikan tempat interaksi sosial yang sangat produktif (Carmona, 2003). Taman kota dengan aneka vegetasi memiliki nilai-nilai ilmiah sehingga dapat dijadikan sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian.
2) Fungsi Pelestarian Lingkungan
a) Menyegarkan udara atau sebagai paru-paru kota, yaitu dengan menyerap Karbon Dioksida (CO2) dan mengeluarkan Oksigen (O2) dalam proses fotosintesis.
b) Menurunkan suhu kota dan meningkatkan kelembaban, pepohonan mampu memperbaiki suhu kota melalui evaporasi dan transpirasi (evapotranspirasi), karena sebatang pohon secara soliter mampu menguapkan air rata-rata 400 liter/hari, jika air tanah cukup tersedia dalam kapasitas lapang.
c) Sebagai habitat satwa, vegetasi dapat menciptakan habitat bagi makhluk hidup lainnya, misal burung. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting, di antaranya adalah pengontrol populasi serangga, dan membantu penyerbukan bunga.
d) Penyangga dan perlindungan permukaan air tanah dari erosi, sebagai penyangga dan perlindungan tanah dari air hujan dan angin juga untuk penyediaan air tanah dan pencegah erosi.
e) Pengendalian dan mengurangi polusi udara dan limbah, debu,atau partikel yang terdiri dari beberapa komponen zat pencemar. Hasil penelitian Irwan (1994), menunjukkan bahwa taman kota dengan
30 luas minimal 0,2 ha dan berstrata banyak rata-rata dapat menurunkan kadar debu sebesar 46,13% di siang hari pada permulaan musim hujan.
f) Tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator. Taman kota juga berfungsi sebagai tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator dari timbulnya masalah lingkungan karena tumbuhan tertentu akan memberikan reaksi tertentu terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekitarnya.
g) Menyuburkan tanah. Sisa-sisa tumbuhan akan dibusukkan oleh mikroorganisme dalam tanah dan akhirnya terurai menjadi humus atau materi yang merupakan sumber hara mineral bagi tumbuhan.
3) Fungsi Estetika
Estetika dapat dilihat dari penampilan vegetasi dalam taman kota secara individu maupun dalam bentuk asosiasi. Vegetasi memberikan kesan alami, khususnya lingkungan perkotaan, dimana vegetasi memberikan kesegaran visual terhadap lingkungan yang serba keras (Sasongko, 2002).
c. Pemafaatan Taman Kota
1. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi ekologis dapat dilakukan melalui hal berikut:
a) Penanaman vegetasi dengan stratifikasi lengkap (pohon besar, pohon sedang, pohon kecil, perdu, semak, dan qroundcoven; dan / atau
31 b) Pemilihan vegetasi menyesuaikan dengan ekosistem existing
lahan.
2. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi resapan air dapat dilakukan melalui hal berikut:
a) Pengelolaan limpasan air hujan dengan menyediakan ruang terbuka biru (misalnya danau retensi atau detensi, kolam retensi atau detensi, sumur resapan, bioswale, kebun hujan (rain garden) darr/atau biopori); darr/atau
b) Pemanenan air hujan untuk keperluan pemeliharaan taman.
3. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi ekonomi dapat dilakukan melalui hal berikut:
a) Pasar kaget dan/ atau pasar tumpah yang dikelola Kota/Kabupaten;
b) Penyedia kebun pembibitan (nursery) (misal penyedia bibit pohon keras, dan jenis tanaman lainnya) dengan luasan yang disesuaikan; dan/ atau
c) Pertanian perkotaan.
4. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi sosial budaya dilakukan melalui hal berikut:
a) Menyediakan fasilitas olahraga (misalnya lapangan sepak bola yang juga dapat digunakan sebagai lapangan multifungsi (lapangan basket darr/atau lapangan voli darr/atau lapangan bulu tangkis darr/atau tenis meja dan I atau senam dan I atau permainan anak, jogging track, dan/ atau outdoor fitness, dan/
32 atau kegiatan lainnya) dengan material ramah lingkungarr/berpori (porous/permeable materials;
b) Menyediakan plaza multifungsi dengan material ramah lingkungan Iberpori (porous/permeable materials;
c) Menyediakan fasilitas taman bermain;
d) Menyediakan fasilitas rekreasi;
e) Menyediakan ruang beratap/gazebo untuk sarana berkumpul;
f) Menyediakan area parkir terbatas (kendaraan bermotor, kendaraan listrik, sepeda dan lain sebagainya) dengan material ramah lingkungan Iberpori (porous/permeable materials;
g) Menyediakan bangunan pendukung yang dilengkapi ramp (dengan program ruang terdiri dari pos jaga, mushola, dan toilet (pria, wanita, kaum difabel);
h) Menyediakan ubin pengarah (tactile paving) untuk kaum difabel;
i) Menyediakan fasilitas kesehatan (taman terapi/therapeutic garden darr/atau jalur refleksi, darr/atau lainnya);
j) Menyediakan fasilitas pendidikan dan penelitian dek pandang (viewing deck), darr/atau papan interpretasi); dan/atau
k) Menyediakan penerangan sesuai dengan kebutuhan dan standar penerangan.
5. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi estetika dapat dilakukan melalui hal berikut:
a) Menanam tanaman lokal khas daerah;
33 b) Menggunakan pola perkerasan dan landscape furniture (misalnya bangku taman, lampu taman, tempat sampah, dan lain sebagainya) dengan merujuk pada kearifan lokal (misalnya ornamen, seni kriya, ragam hias daerah dan lain-lain); darr/atau c) Menggunakan aksara (tipografi) lokal untuk sign letter.
6. Pemanfaatan Taman Kota untuk fungsi penanggulangan beneana dapat dilakukan melalui hal berikut:
a) Menyediakan ruang titik kumpul berupa area terbuka multifungsi dalam taman sebagai ruang evakuasi dan pengungsian sementara;
b) Menyediakan jalur evakuasi beneana;
c) Menyediakan instalasi hidran kebakaran; dan/ atau
d) Menambahkan tanaman yang berfungsi sebagai daerah penyangga kebakaran (firebreaks) untuk kawasan rawan beneana kebakaran.
9. Indeks Hijau-Biru Indonesia
Indeks Hijau Biru Indonesia yang selanjutnya disingkat IHBI adalah metode perhitungan RTH dengan menilai kualitas ruang berdasarkan fungsi ekologis dan sosial. Adapun fungsi ekologis yaitu penghasil oksigen, bagian paru-paru kota, pengatur iklim mikro, peneduh, penyerap air hujan, penyedia habitat vegetasi dan satwa, penyerap dan penjerap polusi udara, polusi air, dan polusi tanah, penahan angin dan peredam kebisingan.
Serta fungsi sosial budayanya yaitu pemertanahan aspek historis, penyedia ruang interaksi masyarakat, penyedia ruang kegiatan rekreasi dan olahraga,
34 penyedia ruang ekspresi budaya, penyedia ruang kreativitas dan produktivitas, penyedia ruang dan objek Pendidikan, penelitian, dan pelatihan dan penyedia ruang pendukung Kesehatan. (PERMEN ATR/BPN Nomor 14 tahun 2022).
Metode perhitungan dengan menggunakan IHBI merupakan cara menilai kualitas RTH berdasarkan fungsi ekologis dan sosial dengan cara memberikan nilai pembobotan (persentase), Faktor Hijau-Biru Indonesia/FHBI (koefisien), dan bonus elemen terhadap luasan RTH. Metode perhitungan IHBI dilakukan dalam dua kegiatan utama, yaitu (1) perhitungan RTH berdasarkan pembobotan dan FHBI yang disusun berdasarkan kriteria penilaian pada aspek ekologis, sosial budaya, resapan air, ekonomi, estetika, dan penanggulangan bencana, serta (2) perhitungan RTH berdasarkan bonus elemen pembentuk RTH yang disusun berdasarkan krieteria penilaian pada aspek evapotranspirasi, penyerapan/penjerapan polutan, porositas, permeabilitas, dan biodiversitas.
Metode perhitungan berdasarkan pembobotan dan FHBI dilakukan untuk menilai kuantitas dan kualitas dari setiap tipologi RTH dengan persentase bobot dan koefisien FHBI yang disajikan dalam Tabel 2.2. Adapun perhitungan berdasarkan bonus elemen dilakukan untuk menilai potensi dari elemen pembentuk RTH dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas setiap tipologi RTH dengan koefisien faktor elemen yang disajikan dalam Tabel 2.3.
Ketentuan lebih lanjut terkait metode perhitungan dengan menggunakan IHBI diatur lebih lanjut dalam petunjuk teknis.
35 Tabel 2. 2
Nilai pembobotan dan FHBI dalam perhitungan IHBI
No. Tipologi RTH Bobot
(%)
FHBI (Koefisien)
A Kawasan/Zona RTH
A.1 Rimba Kota 100 3,0
A.2 Taman Kota 100 1,5
A.3 Taman Kecamatan 100 1,6
A.4 Taman Kelurahan 100 1,8
A.5 Taman RW 100 2,0
A.6 Taman RT 100 2,5
A.7 Pemakaman 100 1,4
A.8 Jalur Hijau 100 1,5
B Kawasan/Zona Lainnya
B.1 Kawasan/Zona yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya (kawasan hutan lindung dan kawasan lindung gambut
30 1,0
B.2 Kawasan/Zona Perlindungan Setempat (sempadan pantai, sempadan sungai, sempadan mata air, sempadan situ, sempadan danau, sempadan embung, dan sempadan waduk, serta kawasan lainnya yang memiliki fungsi perlindungan setempat)
50 1,0
B.3 Kawasan/Zona Konservasi (kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan taman buru, kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil)
30 1,0
B.4 Kawasan/Zona Hutan Adat 30 1,0
B.5 Kawasan/Zona Lindung Geologi (kawasan cagar alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah)
20 1,0
B.6 Kawasan/Zona Cagar Budaya 10 1,0
B.7 Kawasan/Zona Ekosistem Mangrove 20 1,0
B.8 Kawasan/Zona Hutan Produksi (kawasan hutan produksi terbatas, kawasan produksi tetap, dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi)
15 1,0
B.9 Kawasan/Zona Perkebunan Rakyat (hutan rakyat) 15 1,0
B.10 Kawasan/Zona Pertanian (kawasan tanaman pangan, kawasan hortikultura, kawasan perkebunan, dan kawasan peternakan)
10 1,0
C Objek berfungsi RTH
C.1 Objek Berfungsi RTH pada Bangunan
C.1.1 Taman Atap (roof garden) (per 1 m2) 100 0,65
C.1.2 Taman Podium (podium garden) (per 1 m2) 100 0,65
C.1.3 Taman Balkon (balcony garden) (per 1 m2) 100 0,65
C.1.4 Taman Koridor (corridor garden) (per 1 m2) 100 0,65
C.1.5 Taman Vertikal (vertical garden) (per 1 m2) 100 0,5
C.1.6 Taman dalam Pot (planter box garden) (per 1 m2) 100 0,4
C.1.7 Taman dalam Kontainer (container garden) (per 1 m2) 100 0,45
C.2 Objek Berfungsi RTH pada Kaveling
C.2.a Persil pada Kawasan/Zona Perumahan 100 0,1
C.2.b Persil pada Kawasan/Zona Perdagangan dan Jasa 100 0,1
C.2.c Persil pada Kawasan/Zona Perkantoran 100 0,1
C.2.d Persil pada Kawasan/Zona Industri 100 0,1
C.2.e Pekarangan Rumah 100 0,1
C.3 RTB
C.3.a Danau 20 1,0
C.3.b Waduk 20 1,0
C.3.c Sungai 20 1,0
C.3.d Embung 20 1,0
C.3.e Situ 20 1,0
C.3.f Mata Air 50 1,0
C.3.g Rawa 20 0,1
C.3.h Biopori 100 0,2
C.3.i Sumur Resapan 100 0,5
C.3.j Bioswale 100 1,2
C.3.k Kebun Hujan 100 1,2
C.3.l Kolam Retensi dan Detensi 100 1,3
C.3.m Rawa Buatan (constructed wetland) 100 1,5
Sumber : PERMEN ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022
36 Tabel 2. 3
Nilai faktor elemen dalam perhitungan bonus elemen pembentuk RTH
1 Perkerasan tidak berpori seperti beton dan aspal (per 1 m2) 0,00
2 Aspal berpori (per 1 m2) 0,10
3 Paving block (per 1 m2) 0,15
4 Beton berpori (per 1 m2) 0,20
5 Paving berpori (per 1 m2) 0,25
6 Taman dalam pot atau planter box garden (per 1 m2) 0,40 7 Taman dalam container atau container garden (per 1 m2) 0,45 8 Taman vertical atau vertical garden (per 1 m2) 0,50
9 Tanah atau batuan terbuka (per 1 m2) 0,50
10 Grass block (per 1 m2) 0,60
11 Rumput (per 1 m2) 1,00
12 Semak (per 1 m2) 1,10
13 Tanaman rambat (per 1 m2) 1,20
14 Pohon kecil (per pohon per luas tajuk) 1,30
15 Pohon sedang (per pohon per luas tajuk) 1,50
16 Pohon besar (per pohon per luas tajuk) 2,00
Sumber : PERMEN ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022
Adapun rumus IHBI sebagai berikut :
IHBI = (Luas RTH × Bobot × FHBI ) + Bonus Elemen………...(1) RTH= ∑ni=0IHBIi
Luas Wilayah ×100%...(2) Bonus Elemen =∑ni=1Elemen RTH × Faktor RTH………...(3) Keterangan
a. IHBI dihitung dengan mengali kan luas masing-masing RTH (dalam satuan Ha) sesuai tipologi dengan bobot dan FHBI. Hasil perhitungan selanjutnya ditambahkan dengan bonus elemen yang merupakan total jumlah perhitungan elemen RTH yang telah dikalikan dengan faktor elemen RTH.
b. RTH berdasarkan IHBI merupakan total penjumlahan IHBI dari seluruh tipologi RTH yang berada di wilayah kota/kawasan perkotaan dibagi
37 dengan luas wilayah kota/kawasan perkotaan (dalam satuan Ha). Hasil perhitungan selanjutnya dikalikan dengan 100%.
10. Penerapan Blue-Green Infrastrukctur di beberapa Kota
Peneliti mencoba menampilkan 3 (tiga) kota yang relatif lebih aktif dan progresif dalam menerapkan Blue-Green Infrastrukctur (BGI). Yaitu Portland, Singapura dan Zhenjiang sebagai berikut:
a. Portland, Oregon, Amerika Serikat
Portland adalah pelopor BGI di Amerika Serikat. Kebijakan utamanya adalah program Green Streets, yang mengubah jalan konvensional menjadi 'jalan hijau' dengan memasang 'tanaman air hujan' sejenis taman hujan di trotoar, perluasan tepi jalan, bundaran, dan pulau lalu lintas.
Tanaman ini ditempatkan dekat dengan saluran pembuangan air hujan untuk mencegat, memperlambat, membersihkan, dan menyerap limpasan.
agar tidak masuk ke sistem pembuangan limbah gabungan. Jalan hijau pertama selesai dibangun pada tahun 2003.
Portland juga mempromosikan 'ecoroofs', yaitu atap hijau. Sejak tahun 1999, ketika ecoroof secara resmi diakui sebagai alat pengelolaan air hujan di Portland, lebih dari 560 ecoroof telah dipasang, meliputi 15,4 ha. Setiap bangunan milik kota diharuskan memasang ecoroof untuk menutupi setidaknya 70% dari total luas atap. Insentif juga tersedia untuk mendorong ecoroof pada bangunan pribadi, termasuk bonus FAR (rasio luas lantai) dan pengembalian uang (US$5 untuk setiap kaki persegi ecoroof yang dibangun). Kinerja sistem BGI yang ada telah dipantau melalui Program Pengelolaan Air Badai Berkelanjutan untuk mengukur
38 manfaat, meningkatkan desain, dan biaya perawatan yang lebih rendah.
Menurut Biro Layanan Lingkungan Portland, atap ramah lingkungan dan jalan hijau telah menunjukkan hasil positif dalam mengurangi limpasan pengurangan. Ada pula Program Green Street Steward untuk mendorong anggota masyarakat agar menjadi relawan dalam perawatan dan pemeliharaan sistem BGI. Untuk lebih mempromosikan BGI, pemerintah kota telah bermitra dengan sekolah-sekolah setempat untuk memasang sistem BGI di halaman sekolah sebagai edukasi tentang pengelolaan air hujan yang berkelanjutan.
b. Singapura
Singapura telah mempromosikan BGI melalui Program Perairan ABC sejak tahun 2006. Tujuan dari program ini adalah untuk mengubah saluran air, kanal dan waduk di seluruh Singapura menjadi sungai dan danau yang indah dan bersih dengan ruang komunitas dinikmati semua orang . Karena hampir semua jalur air di Singapura telah disalurkan secara besar-besaran, dikelola secara eksklusif untuk efisiensi drainase, sebagian besar berada di luar kehidupan sehari-hari masyarakat. Program Perairan ABC bertujuan untuk lebih mengintegrasikan saluran air dan badan air lainnya dengan lanskap perkotaan lainnya guna menumbuhkan rasa kepemilikan, melalui peningkatan kualitas air, tampilan fisik, dan nilai rekreasi badan air.
Program ini membahas kualitas air menggunakan sistem BGI, yang disebut sebagai 'fitur Perairan ABC', termasuk swale bervegetasi, swale bio-retensi, cekungan bio-retensi, cekungan sedimentasi, lahan basah buatan, dan biotop pembersih dan target kualitas air yang dapat dicapai
39 telah ditetapkan, yang dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan. Program Perairan ABC dikelola oleh badan pengelola air nasional Singapura, Badan Utilitas Publik (PUB). Untuk meningkatkan penerapan ABC Waters memiliki fitur di seluruh negeri, PUB juga meluncurkan skema Sertifikasi ABC Waters pada tahun 2010 untuk mendorong sektor publik dan swasta lainnya untuk memasukkan fitur ABC Waters dalam proyek pengembangan mereka.
c. Zhenjiang, Provinsi Jiangsu, Tiongkok
Zhenjiang, Provinsi Jiangsu, Tiongkok seperti kota-kota Cina lainnya yang berkembang pesat, Zhenjiang menghadapi tantangan berupa infrastruktur drainase yang tidak memadai dan polusi air hujan pada tahun 2007, pemerintah Zhenjiang mulai mempelajari gagasan LID dan penerapannya di tingkat lokal. Sejak tahun 2010, langkah-langkah LID telah dimasukkan ke dalam Kota Baru Guantang dan pembangunan kembali kawasan dalam kota lama. Hingga tahun 2015, Zhenjiang telah membangun total 16 km bioswales, 350.000 m2 atap hijau, 350.000 m2 taman hujan, 40 km jalan dengan paving pervious, dan 1 juta m3 fasilitas penyimpanan air hujan (Zhenjiang Housing and Development Bureau Tahun 2015). Pada bulan April 2015, pengalaman sebelumnya di LID menghasilkan Zhenjiang terpilih sebagai salah satu dari 16 'kota spons percontohan' untuk inisiatif Kota Spons Tiongkok. Inisiatif Kota Spons didukung oleh kemauan politik yang kuat dari atas ke bawah dari Presiden Xi Jinping dengan anggaran yang besar. Proyek Kota Zhenjiang melibatkan total area seluas 22 km2 dan 302 subproyek yang berbeda, dengan total investasi sebesar RMB 8
40 miliar (US$1,2 miliar), dan tujuan utamanya adalah untuk mengatasi 75%
dari total volume tahunan limpasan air hujan untuk keselamatan banjir terhadap badai 30 tahunan, dan untuk mengurangi polusi sebesar 60%
(Biro Perumahan dan Pembangunan ZhenjiangTahun 2015).