• Tidak ada hasil yang ditemukan

proposal osama (2)(1)

N/A
N/A
Anis Fridina

Academic year: 2024

Membagikan "proposal osama (2)(1)"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM PENINGKATAN HASIL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI

SMAN 3 TEBING TINGGI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana strata ( S-1) Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh: OSAMA NURHARIS NPM: 20.1213

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)

AL-HIKMAH TEBINGTINGGI

TAHUN 2024

(2)

i

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena berkat pertolongan dan rahmat-Nya saya berhasil menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Pengaruh kegiatan ekstrakulikuler keagaamaan dalam peningkatan hasil pembelajaran PAI di SMAN 3Tebing Tinggi” Adapun skripsi ini disusun untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat kelulusan Strata pada program studi Pendidikan Agama Islam.

Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti - nantikan syafaatnya diakhirat kelak berkat tuntunan dan perjuangannya kita dapat merasakan betapa manisnya iman dan islam semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaatnya amiin.

Saya sangat berharap skripsi ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan Seria pengetahuan kita. Saya juga menyadari bahwa didalam proposal ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Saya berharap ada nya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan proposal yang saya buat dimasa yang akan datang . dan semoga bermanfaat bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya terimakasih.

Tebing Tinggi, Agustus 2024

OSAMA NURHARIS

(3)

ii

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Fokus Masalah...6

C. Rumusan Masalah... 7

D. Tujuan Penelitian... 7

E. Manfaat penelitian...7

BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan.9 a. Pengertian kegiatan ekstrakulikuler...9

b. Pengertian kegiatan ekstrakulikuler keagamaan...10

B. Tujuan kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan ....11

a. Tujuan kegiatan ekstrakulikuler...11

b. Tujuan kegiatan ekstrakulikuler keagamaan ...13

C. Jenis program kegiatan ekstrakulikuler keagamaan...13

a. Prinsip prinsip kegiatan ekstrakulikuler keagamaan ...14

D. Bentuk bentuk program kegiatan ekstrakulikuler keagamaan...15

E. Tujuan dan manfaat kegiatan ekstrakulikuler keagamaan di sekolah...21

(4)

iii

ekstrakulikuler keagamaan di Sekolah...23

a. Faktor pendukung kegiatan kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan di sekolah...23

b. Faktor penghambat kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan di sekolah...27

BAB III METODE PENELITIAN...30

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian...30

B. Waktu dan Tempat penelitian...30

C. Sumber data... 31

D. Teknik pengumpulan data... 32

E. Teknik Analisis data...34

F. Pengecekan Keabsahan Data...35

DAFTAR PUSTAKA

(5)

1

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Di lembaga pendidikan formal yang umumnya disebut dengan sekolah, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi baik secara afektif, kognitif maupun psikomotor atau yang biasa disebut dengan pengembangan secara akademik. Namun tidak hanya akademik yang diunggulkan tetapi sekolah perlu membina kemandirian, kreativitas, dan keterampilan dalam bidang non akademik.adalah salah satu solusi sekolah untuk melihat potensi siswa agar dikembangkan secara maksimal yaitu dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler yang berfungsi meningkatkan dan mengembangkan minat bakat menjadi keterampilan yang mendukung kualitas siswa sebagai generasi emas yang memiliki sikap religius. Guru sebagai orang yang berpengaruh di sekolah hendaknya memberikan contoh tauladan yang baik, mengajak kejalan yang baik dan menjauhkan dari kemunkaran, membantu mengatasi masalah yang ada pada diri siswa, karena dalam proses pembelajaran di sekolah tidak sedikit faktor yang mempengaruhi siswa untuk meraih kesuksesan atau sebaliknya. Guru sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian siswa. Salah satu bentuk kepribadian siswa yang sulit ditanamkan kepada siswa adalah pribadi religius atau sikap religius.

(6)

Sikap religius merupakan salah satu bentuk karakter dari 18 karakter yang ada.1 Adapun 18 karakter tersebut yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, 4 peduli sosial, dan tanggung jawab. Persoalannya adalah apakah seorang pendidik mampu untuk diberi tanggung jawab dalam hal ini, mengingat bahwa siswa-siswi sekolah menengah saat ini berada pada posisi yang labil.

Remaja yang memiliki pemahaman dan penjiwaan terhadap nilai-nilai ajaran agama atau dengan kata lain memiliki religiusitas yang tinggi2, akan berhati-hati dalam berfikir, berucap, dan bertindak sehingga terhindar dari bahaya kenakalan remaja maupun kecenderungannya.

Sekolah dengan perannya sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai posisi penting dalam mencanangkan pendidikan karakter. Sekolah- sekolah dituntut merancang berbagai macam strategi dalam upaya mengembangkan karakter peserta didik, salah satu langkah strategis yang biasa dilakukan adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wahana, wadah, tempat atau lingkungan organisasi dalam mengembangkan dan menggali bakat dan minat siswa di luar jam pelajaran. Disamping itu, kegiatan ekstrakurikuler dapat dijadikan media untuk meningkatkan sikap, akhlak, karakter, dan kepribadian seseorang. Ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam mata

1 . Nanang Fatah , Landasan manajemen pendidikan, ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 6

2 Amir Daien Indrakusuma , pengantar ilmu pendidikan, (Surabaya: usaha offset printing ) h 27

(7)

pelajaran dan pelayan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah3. Berdasarkan Permendikbud No. 62 Tahun 2014, Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan, bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan, Salah satu ekstrakurikuler yang umumnya diselenggarakan oleh sekolah yaitu kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.

Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan adalah sebuah organisasi yang melakukan kegiatan kerohanian islam. Dalam pelaksanaannya, kegiatan keagaamaan PAI bertujuan untuk mengembangkan pendidikan karekter, terutama karakter religius. Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Setiap kegiatan di sekolah khususnya ekstrakurikuler rohis tentu memberikan dampak kepada proses pembelajaran ataupun kepada siswanya. Baik itu dampak positif ataupun dampak negatif. Adapun dampak positif dari ekstrakurikuler terhadap prestasi belajar siswa, yaitu4:

3Ahmad Tafsir, Ilmu pendidikan dalam perspektif islam , (Bandung : PT. Rosdakarya , 2005) h. 24

4 Zakiyah Dradjad, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara 1992.) hal 60

(8)

memberikan wawasan akademik maupun non akademik, membentuk karakter siswa, membentuk sikap siswa, mengembangkan bakat siswa, menunjang prestasi belajar siswa. Adapun tujuan ekstrakurikuler Rohis menurut Handani adalah sebagai berikut:

(1) Membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat;

(2) Memberikan pertolongan kepada setiap individu agar sehat secara jasmaniah dan rohaniah;

(3) Meningkatkan kualitas keimanan, ke-Islaman, keihsanan, dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari dan nyata;

(4) Mengantarkan individu mengenal, mencintai dan berjumpa dengan esensi diri dan citra diri serta dzat yang Maha Suci yaitu Allah Swt;

(5) Membantu individu agar terhindar dari masalah;

(6) Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain. SMA Negeri 3 Tebing Tinggi merupakan salah satu sekolah yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler Keagamaan Pendidikan Agama Islam. Hal ini disampaikan oleh Pembina rohis pada saat peneliti melakukan observasi awal. Dalam wawancara tersebut, beliau menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan Pendidikan Agama Islam adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Negeri 3 Tebing Tinggi dan memiliki tujuan untuk mengembangkan karakter sesuai dengan tujuan utama Pendidikan Nasional. Melalui kegiatan

(9)

keagamaan PAI yang telah digalakkan lebih kurang 5 tahun Rohani Islam(ROHIS)5 ini diharapkan dapat mengembangkan karakter siswa/I terutama karakter religius, dan mampu mengurangi kenakalan remaja terhadap pelanggaran peraturan-peraturan sekolah misalnya siswa/I dapat menjadi lebih disiplin baik beribadah maupun dalam kegiatan belajar.Namun, berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan adanya perilaku siswa yang peduli terhadap lingkungan dibuktikan dengan perilaku membuang sampah pada tempatnya, serta bersikap jujur dalam pelaksanaan ulangan akhir semester. Dari kedua kegiatan positif tersebut mengindikasikan bahwa di lingkungan SMA Negeri 3 Tebing Tinggi telah tumbuh karakter religius yang diamanatkan oleh visi misi sekolah.

Di sisi lain, peneliti mengamati masih banyak terdapat siswa/I SMa Negeri 3 Tebing Tinggi yang belum sesuai dengan harapan. Hal ini terlihat dari beberapa siswa/I yang melanggar peraturan sekolah, seperti berada di luar kelas di saat jam pelajaran berlangsung, tidak mengenakan pakaian dengan rapih, sering terlihat bolos jam sekolah, bahkan terlibat dalam perkelahian antar pelajar.

Mengenai hal ini pembina kegiatan keagamaan PAI menyampaikan beberapa kegiatan yang menjadi program penunjang tercapainya keberhasilan dalam meningkatkan sikap religius peserta didik6. Dalam pernyataannya disampaikan kegiatan-kegiatannya seperti:

Pembelajaran dan Pelatihan berdakwah/ceramah, belajar baca tulis Al-

5 Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Dan Implementasi Kurikulum 2004, ( bandung remaja rosdakarya 2004), h 132

6Muhammad Surya, Percikan Seorang Guru, (semarang: Aneka Ilmu ,2003) h 223

(10)

Qur‘an, mengadakan kegiatan sosial, melaksanakan sholat dhuha dan sholah dzuhur berjamaah, melaksanakan infaq, melaksanakan peringatan hari besar islam, dan beberapa kegiatan positif lainnya.

Alasan penulis memilih SMAN 3 Tebing Tinggi adalah karena masih banyaknya kasus ataupun pelanggaran yang berada di sekolah tersebut yang tidak sesuai dengan norma norma agama , maka dari itu peneliti ingin mengetahui apa saja permasalahan yang ada di sekolah tersebut untuk membenahi norma norma ataupun aturan agama islam agar lebih dipatuhi di sekolah tersebut

B. Identifikasi masalah .

C.

Rumusan Masalah

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut

1. Bagaimana upaya kegiatan ekstrakulikuler keagamaan untuk meningkatkan hasil pembelajaran PAI di SMAN 3 Tebing Tinggi?

2. Faktor apa saja yang menghambat dan pendukung upaya kegiatan ekstrakulikuler keagamaan dalam meningkatkan hasil pembelajaran PAI Pada siswa di SMAN 3 Tebing Tinggi?

3. Bagaimana solusi kegiatan ekstrakulikuler keagamaan untuk mengatasi faktor penghambat hasil pembelajaran PAI pada siswa di SMAN 3 Tebing Tinggi

D.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian diatas maka tujuan dari

(11)

penelitian dalam rangka menulis skripsi ini adalah

1. Untuk mengetahui bagaimana upaya kegiatan ekstrakulikuler keagamaan untuk meningkatkan hasil pembelajaran PAI pada siswa di SMAN 3 Tebing Tinggi

2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menghambat dan pendukung upaya kegiatan ekstrakulikuler keagamaan dalam meningkatkan hasil pembelajaran PAI di SMAN 3 Tebing Tinggi.

3. Untuk mengetahui bagaimana solusi yang dilakukan kegiatan ekstrakulikuler keagamaan terhadap peningkatan hasil pembelajaran PAI di SMAN 3 Tebing Tinggi.

E.

Manfaat Penelitian

1. Kegunaan Teoritis

Peneliti berharap penelitian ini sebagai sumbangan untuk memperkaya khasanah ilmiah tentang pendidikan agama Islam dan sebagai gambaran tentang Pengaruh kegiatan ekstrakulikuler keagaamaan terhadap hasil pembelajaran PAI di SMAN 3 Tebing Tinggi.

2. Kegunaan Praktis :

a. Bagi Sekolah Sebagai bahan rujukan serta bahan pemikiran tentang pentingnya pengaruh kegiatan ekstrakulikuler keagamaan/ROHIS dalam peningkatan hasil pembelajaran PAI di SMAN 3 Tebing Tinggi

b. Bagi pembina ROHIS sebagai bahan referensi maupun rujukan dalam melakukan pendekatan maupun pembenahan untuk meningkatkan hasil pembelajaran PAI sesuai yang diinginkan

(12)

pembina maupun peserta didik .

c. Bagi deserta didik Sebagi bekal pengetahuan dan pembelajaran yang lebih dalam terhadap hasil pembelajaran PAI Yang ada di sekolah

(13)

9

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori

1. Pengertian Kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan a. Pengertian Kegiatan Ekstrakulikuler

Ekstrakurikuler atau sering juga disebut dengan ”ekskul” di sekolah merupakan kegiatan tambahan di luar jam sekolah yang diharapkan dapat membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Banyak hal yang dapat dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Mulai dari kegiatan pembentukan fisik dengan berolah raga, pembinaan kreatifitas berolah rasa dengan kesenian dan keterampilan sampai dengan pembangunan dan pengembangan mentalitas peserta didik melalui kegiatan keagamaan atau kerohanian dan kegiatan lain sejenisnya.

Hasil penelitian Mary Rombokas di Iowa State University yang dikutip Rachel Hollrah menyebutkan bahwa peserta didik yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler memperoleh nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler7. Ada lima hal yang menjadi poin kunci dalam penelitiannya yaitu akademik, character building, skills, student risk, dan sosial.1 Kelima hal tersebut memberikan

7Lihat Mary Rombokas, High School Extracurricular Activities and College Grades makalah dipresentasikan pada The Southeastern Conference of Counseling Personnel, Jekyll Island, GA (Oktober 1995) yang dikutip Rachel Hollrah, Extracurricular Activities, dalam http://www.public.iastate.edu/~rhetoric/105H17/rhollrah/cof.html

(14)

kesimpulan yang positif terhadap kegiatan ekstrakurikuler. Artinya, dari lima hal itu saja sudah memberikan gambaran tentang manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan ekstrakurikuler

Ekstrakurikuler di sekolah merupakan kegiatan yang bernilai tambah yang diberikan sebagai pendamping pelajaran yang diberikan secara intrakurikuler. Bahkan menurut Suharsimi Arikunto, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan, di luar struktur program yang pada umumnya merupakan kegiatan pilihan.6

Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat dimaknai bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan di luar struktur program yang dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan peserta didik. Inilah makna secara sederhana yang bisa dipahami dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli

b. Pengertian ekstrakulikuler keagamaan

Sedangkan program ekstrakurikuler keagamaan adalah berbagai program kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran dalam rangka memberikan arahan bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan ajaran agama yang diperolehnya melalui kegiatan belajar dikelas serta untuk mendorong pembentukan pribadi peserta didik dan penanaman nilai-nilai agama dan akhlakul karimah peserta didik8. Tujuannya adalah membentuk

8 Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hal. 271

(15)

manusia yang terpelajar dan bertaqwa kepada Allah SWT.

B. Tujuan kegiatan ektrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan 1. Tujuan Kegiatan Ekstrakurikuler

Pengembangan sekolah melalui kegiatan kurikuler atau intrakurikuler merupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Secara sederhana pengembangan aspek-aspek tersebut bertujuan agar peserta didik mampu menghadapi dan mengatasi berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan pada lingkup terkecil dan terdekat, hingga lingkup yang terbesar9. Luasnya jangkauan kompetensi yang diharapkan itu meliputi aspek intelektual, sikap emosional, dan keterampilan- menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sangat diperlukan guna melengkapi ketercapaian kompetensi yang diprogramkan dalam kegiatan intrakurikuler tersebut.

Sebagai kegiatan tambahan dan penunjang, kegiatan ekstrakurikuler tidak terbatas pada program untuk membantu ketercapaian tujuan kurikuler saja, tetapi juga mencakup pemantapan dan pembentukan kepribadian yang utuh termasuk pengembangan minat dan bakat peserta didik. Dengan demikian program kegiatan ekstrakurikuler harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan kurikuler, maupun pembentukan kepribadian yang menjadi inti kegiatan ekstrakurikuler.

Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa tujuan program kegiatan

9Departemen Agama RI, Panduan Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), hal. 9

(16)

ekstrakurikuler adalah untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan peserta didik, mengenal hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.7 Paling tidak, selain mengembangkan bakat dan minat peserta didik, ekstrakurikuler diharapkan juga mampu memupuk bakat yang dimiliki peserta didik. Dengan aktifnya peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler10, secara otomatis mereka telah membentuk wadah-wadah kecil yang di dalamnya akan terjalin komunikasi antar anggotanya dan sekaligus dapat belajar dalam mengorganisir setiap aktivitas kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler baik secara perorangan maupun kelompok diharapkan dapat meraih prestasi yang optimal, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.11

Rohmat Mulyana mengemukakan bahwa inti dari pengembangan kegiatan ekstrakurikuler adalah pengembangan kepribadian peserta didik.

Karena itu, profil kepribadian yang matang atau kaffah merupakan tujuan utama kegiatan ekstrakurikuler.

2. Tujuan Kegiatan Ekstrakulikuler Keagamaan

10 4Ibid.., Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum dan Madrasah; Panduan Untuk Guru dan Siswa (Jakarta: Depag R.I., 2004), h. 10.

11 5Lihat Moh. Uzer Usman dan Lilis Setyowati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), h. 22.

(17)

Sedangkan tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dapat dirumuskan sebagai berikut:12

a. Meningkatkan pemahaman terhadap agama sehingga mampu mengembangkan dirinya sejalan dengan norma-norma agama dan mampu mengamalkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

b. Meningkatkan kemampuan peserta didik sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkunga sosial, budaya danalam sekitar.

c. Menyalurkan dan mengembangkan potensi dan bakat peserta didik agar dapat menjadi manusia yang berkreativitas tinggi dan penuh karya.

d. Melatih sikap disiplin, kejujuran, kepercayaan dan tanggungjawab.

Menumbuh kembangkan akhlak islami yang mengintegrasikan hubungan dengan Allah, Rasul, Manusia, alam bahkan diri sendiri.

C. Jenis Program Ekstrakurikuler Keagamaan

Program ekstrakurikuler keagamaan pada umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu kegiatan wajib dan kegiatan pilihan. Kegiatan wajib adalah seluruh bentuk kegiatan yang berkaitan dengan masalah- masalah yang melibatkan potensi, bakat, pengembangan seni dan ketrampilan tertentu yang harus didukung oleh kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik. Sasaran

12 Departemen Agama RI, Panduan Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), hal. 9

(18)

program ini adalah seluruh peserta didik madrasah dan masyarakat sekolah, yang kegiatan ini wajib di ikuti oleh seluruh peserta didiknya.6 Kegiatan pilihan adalah7 kegiatan yang ditetapkan sekolah berdasarkan minat dan bakat dari peserta didiknya.

Kegiatannya menekankan peningkatan ketrampilan. Biasanya kegiatan ini berbentuk klub-klub dan organisasi seperti ROHIS ataupun berhubungan langsung dengan mata pelajaran.

a. Prinsip-prinsip Program Ekstrakurikuler Keagamaan

Pada umumnya prinsip pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dilakukan diluar jam pelajaran, dan merupakan serangkaian program yang dapat menunjang dan dapat mendukung program intrakurikuler. Prinsip-prinsip program ekstrakurikuler menurut Oteng Sutisna adalah: 813

Semua peserta didik, guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha meningkatkan program.Kerjasama tim adalah fundamental. Pembatasan-pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.Prosesnya adalah lebih penting daripada hasil.Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan dan minat semua siswa. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.Program dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai- nilai pendidikan di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.Kegiatan ini

13Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah,… hal. 275-276

(19)

hendaknya menyediakan sumber-sumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas juga memberikan sumber motivasi bagi kegiatan peserta didik.Kegiatan ekstrakurikuler hendaknya dipandang sebagai integral dari keseluruhan program pendidikan di sekolah

C. Bentuk-bentuk Program Ekstrakurikulr Keagamaan

Bentuk-bentuk kegiatan ekstrakurikuler begitu bervariasi dari sekolah yang satu dengan yang lain, begitupun dengan pengemangan program ekstrakurikuler keagamaan ini. Bentuk-bentuk kegiatan ekstrakurikuler harus dikembangkan dengan mempertimbangkan tingkat pemahaman dan kemampuan peserta didik, serta tuntutan lokal dimana madrasah atau sekolah umum berada, sehingga melalui program kegiatan yang diikutinya, peserta didik mampu belajat untuk memevahkan masalah- masalah yang berkembang dilingkungannya, dengan tetap tidak melupakan masalah-masalah global yang tentu saja harus diketahui oleh peserta didik.9

Adapun beberapa bentuk program ekstrakurikuler Keagamaan, diantaranya adalah:

1. Pelatihan ibadah perorangan atau jama’ah14

Ibadah yang dimaksudkan disini meliputi aktifitas-aktifitas yang tercakup dalam rukun Islam, yaitu membaca dua kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji serta ditambah dengan bentuk-bentuk ibadah lainnya yang sifatnya Sunnah, seperti sholat qobliyah dan

14Departemen Agama RI... hal. 11

(20)

ba’diyah. Kegiatan pelatihan ketrampilan pengamalan ibadah ini bertujuan untuk menjadikan peserta didik sebagai Muslim yang disamping berilmu juga mampu mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu pelatihan ini bertujuan untuk:15

• Memperdalam wawasan peserta didik tentang makna-makna yang terkandung dalam ibadah-ibadah yang diperintahkan agama, sehingga mampu mengimplementasikan nilai-nilai ajaran didalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

• Menumbuhkan sikap mental jujur, ikhlas, sadar, tegas dan berani dalam menjalankan tanggungjawabnya, baik secara individual maupun social.

• Melatih ketrampilan dan kedisiplinan peserta didik dalam menjalankan ritual keagamaannya.

Karena bentuk yang dimaksudkan disini bermacam-macam kegiatan maka pelaksanaan kegiatannya juga bervariasi, tergantung pada intensitas pelaksanaan ibadah tersebut sesuai dengan ajaran agama.

2. Tilawah dan Tahsin Al- Qur’an

15Departemen Agama RI... hal. 15

(21)

Secara bahasa, tilawah berarti membaca, dan tahsin berarti memperindah, memperbaiki atau memperelok. Maksud dari program kegiatan tilawah dan tahsin al-Qur’an disini adalah kegiatan atau program pelatihan membaca al-Qur’an dengan menekankan pada metode baca yang benar, dan kefasihan bacaan, serta keindahan (kemerduan) bacaan, serta memahami tajwid. Adapun tujuan kegiatan tilawah dan tahsin al-Qur’an ini adalah:10

• Membentuk kemampuan peserta didik dalam membaca al- Qur’an secara baik dan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah bacaannya.

• Membuat peserta didik tertarik, akrab, atau familiardan semangat dalam mendalami dan memahami kitab suci al- Qur’an.

• Menjaga dan melestarikan kandungan seni dan keindahan yang dubawa oleh al-Qur’an.

• Menyalurkan potensi dan bakat yang dimiliki peserta didik dalam seni mebaca al-Qur’an sehingga mereka terlatih untuk memperbaiki seni olah vocal membaca al-Qur’an dan emnampilkan nilai-nilai estetisnya sesuai dengan perkembangan seni baca al-Qur’an yang berkembang di dunia Islam.

3. Apresiasi seni dan kebudayaan islam

(22)

Apresiasi seni dan kebudayaan Islam disini, maksudnya adalah kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka melestarikan, memperkenalkan, dan menghayati tradisi, budaya dan kesenian keagamaan yang ada dalam masyarakat Islam. Tujuan dari diselenggarakan apresiasi seni dan kebudayaan Islam diantaranya adalah:16

• Menciptakan rasa memiliki bagi peserta didik terhadap khazanah seni dan kebudayaan Islam.

• Menghayati seni, tradisi dan kebudayaan Islam dengan pemaknaan yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

• Menghidupkan syari’at Islam di lingkungan madrasah dan sekolah.

Bentuk kegiatan apresiasi seni dan kebudayaan Islam ini bisa mencakup hal-hal sebagai berikut

1) Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tertentu untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat peserta didik seperti kursus kaligrafi, seni membaca al-Qur’an dan lain sebagainya.

2) Menyelenggakan festival seni dan kebudayaan Islam yang

16Departemen Agama RI, hal. 13-31.

(23)

mencakup berbagai kegiatan seperti lomba kaligrafi, lomba seni baca al-Qur’an, lomba baca puisi Islam, lomba atau pentas music marawis, gambus, kosidah, rebana dan lain sebagainya.

4. Peringatan hari-hari besar Islam

Peringatan hari-hari besar islam maksudnya adalah kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan untuk memperingati dan merayakan hari- hari besar islam sebagaimana diselenggarakan oleh masyarakat islam di seluruh dunia berkitan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah seperti peringatan maulid Nabi Muhamaad SAW, peringatan isra’

mi’raj, peringatan 1 Muharram dan sebagainya.

Tujuan diadakannya peringatan dan perayaan hari besar Islam adalah melatih peserta didik untuk selalu berperan serta dalam upaya- upaya menyemarakkan syiar Islam dalam kehidupan masyarakat untuk mengingat perjuangan para leluhur melalui kegiatan-kegiatan yang positif dan bernilai baik bagi perkembangan internal ke dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas

5. Tadabbur dan Tafakkur Alam

Tadabbur secara etimologis berarti mencari dan menghayati makna (yang terkandung) dibalik sesuatu dan tafakkur berarti berfikirtentang sesuatu secara mendalam. Tadabbur dan tafakkur alam yang dimaksudkan disini adalah kegiatan karyawisata ke lokasi tertentu untuk melakukan pengamatan, penghayatan dan perenungan mendalam terhadap alam ciptaan Allah SWT yang demikian besar dan

(24)

menakjubkan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk dan pemahaman akan kekuasaan dan keagungan Allah SWT. Kegiatan ini biasanya terwujud seperti pantai, pegunungan, kebun binatang dan lain sebagainya.

6. Pesantren kilat

Pesantren kilat yang dimaksud adalah kegiatan yang diselenggarakan pada waktu bulan puasa yang berisi dengan berbagai bentuk kegiatan keagamaan seperti buka bersama, pengkajian dan diskusi agama atau kitab-kitab tertentu, shalat terawih berjamaah, tadarus al- Qur’an dan lain-lain.

Tujuan kegiatan pesantren kilat ini adalah memeberi pemahaman yang menyeluruh tentang pentingnya menghidupkan hari- hari dan malam- malam ramadhan dengan kegiatan positif. Kegiatan pesantren kilat ini biasanya dengan dua model yaitu mengasramakan para peserta agar bias mengikuti program selama 24 jam, atau sebagian waktu saja sehingga para peserta didik tidak perlu diasramakan

D. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan Di

(25)

Sekolah

Tujuan dilaksanakannaya ekstrakurikuler keagamaan adalah untuk memperdalam pengetahuan siswa mengenai materi yang diperoleh di kelas, mengenal hubungan antara mata pelajaran dengan keimanan dan ketaqwaan, menyeluruh bakat dan minat siswa, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya Sebagian sisebutkan dalam Qs. Al- Imran ayat 104,17

نوْ حُ لِ وْ حُ وْا حُ حُ كَ لِ لٰۤواحُوكَ لِرِۗ كَ وْ حُ وْا لِ كَ نكَوْ كَ وْ كَوكَ لِ ووْحُ وْ كَ وْا لِ نكَووْحُ !حُا"وْكَ وكَ لِ #وْ$كَوْا ىكَالِ نكَوْ حُ &وْ'كَ (ةٌ!'كَاحُ وْ حُ وْ!مِّ وْ حُ +كَوْوكَ

َ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

Maksud ayat diatas adalah Allah memerintahkan orang yang beriman untuk menempuh jalan yang luas dan lurus serta mengajak orang lain menempuh jalan kebajikan dan ma’ruf18. Tidak dapat disangkal bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang, bahkan kemampuanya mengamalkan sesuatu akan berkurang, bahkan terlupakan dan hilang, jika tidak ada yang mengigatkannya atau tidak dia ulang- ulangi mengerjakan. Disisi lain, pengetahuan dan pengalaman saling berkaitan erat, pengetahuan mendorong kepada pengalaman meningkatkan kualitas amal sedang pengalaman yang terlihat dalam kenyataan hidup merupakan guru yang mengajar individu dan masyarakat sehingga mereka pun belajar mengamalkannya. Kalau demekian

17 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesab dan Keserasian Al-Quran,(Jakarta:

Lentera Hati,2002). Vol 2 hlm 171

18Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum dan Madrasah;

Panduan Untuk Guru dan Siswa (Jakarta: Depag R.I., 2004), h. 10.

(26)

itu halnya, maka manusia dan masyarakat perlu selalu diingatkan dan diberi keteladanan. Inilah inti dakwah Islamiah.

Maksud dari ayat diatas, menganjurkan untuk beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Ynag Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memilki pengetahuan dan keterampiulan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa. Dan mengajak masyarakat atau siswa yang beriman kepada jalan kebaikan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.19

Mengetahui begitu pentingnya tujuan PAI yang harus dicapai, maka jika guru agama hanya mengandalkan pada kegiatan proses mengajar saja, mungkin tujuan pendidikan agama itu sulit untuk mencapai dengan kualitas yang memuaskan. Apalagi materi pendidikan agama Islam itu setelah dipelajari dan dipahami maka perlu diamalkan dalam segi kehidupan.

Disinilah fungsi dari kegiatan keagamaan, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa-siswi untuk memperoleh pengalaman dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh agama Islam, terutama ha l-hal yang berkaitan dengan rukun Islam. Untuk selanjutnya menjadi kebiasaan siswa untuk selalu mengamalkan ajaran Islam.

a. Manfaat diadakanya kegiatan ekstrakurikuler keagamaan disekolah yaitu:

1) Meningkatkan pemahaman terhadap agama sehingga mampu

19 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesab dan Keserasian Al- Quran,...Vol 2 hlm 172-173

(27)

mengembangkan diri sejalan dengan norma-norma agama dan mampu mengamalkan dalam perkembangan iptek dan budaya.20

2) Dapat meningkatkan pengayaan pengetahuan.

3) Menyalurkan bakat dan minat.

4) Melatih siswa hidup bermasyarakat.

5) Menumbuh kembangkan akhlak Islami yang mengintegrasikan hubungan dengan Allah, rosul, manusia, alam semesta bahkan diri sendiri.

E. Faktor Pendukung Dan Penghambat Ekstrakuliker Dan Ekstrakulikuler Keagamaan Di Sekolah

1. Faktor pendukng kegiatan ekstrakulikiler dan ekstrakulikuler keagamaan di Sekolah

Menurut wali kelas, faktor pendukung diantaranya yaitu minat siswa yang memang berpengaruh terhadap semangat berkegiatan ekstrakurikuler.

Kemudian faktor pendukung lainnya adalah siswa masih ada yang bersemangat untuk latihan. Yang menjadi faktor pendukung lainnya juga dalam kegiatan ekstrakurikuler adalah sarana dan prasarana yang memadai.

Kemudian, faktor pendukung lainnya adalah izin orang tua yang diberikan kepada siswa. Menurut orang tua yang putra-putrinya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mengaku ada yang tahu dan tidak tentang kegiatan

20Tap MPR RI dan GBHN 1998-2003, (Surabaya: Bina Pustaka Tama, 1993), hal.136.

(28)

ekstrakurikuler putra-putrinya di sekolah. Ada orang tua yang putra putrinya memang cenderung pendiam tetapi komunikasi dengan saya sebagai wali cukup baik, sehingga sedikitnya orang tua selalu bertanya mengenai ekstrakurikuler21. Putra-putrinya mengatakan yang menjadi faktor pendorongnya ialah para alumni yang selalu memotivasi terhadap juniornya, juga dukungan dari guru dan wali kelasnya selalu memaklumi saat putra- putrinya tidak bisa mengikuti pembelajaran karena ada kegiatan dari salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Setidaknya putra-putrinya mempunyai wawasan yang luas dan menjadi pribadi yang mandiri dan disiplin. Kemudian pada orang tua yang lainnya ada putra-putrinya yang menceritakan bahwa pelatih paskibranya sangat mengerti akan juniornya, seniornya baik dan adanya kebersamaan yang erat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mungkin itu sebagai faktor pendorong bagi putra-putrinya untuk tetap berada dalam kegiatan ekstrakurikuler. Menurut alumni yang dulu pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. faktor pendukung di dalam ekstrakurikuler adalah dari segi peraturan yang tidaklah terlalu mengekang kepada siswa tapi membuat siswa patuh dan taat aturan. Faktor pendukung lainnya adalah pelatih yang kompeten dibidangnya yang membuat siswa dulu yang secara kebetulan anggota PMR senang untuk mempelajari apapun yang ada pada kegiatan ekstrakurikuler PMR. Kemudian, faktor pendukung selama kegiatan ekstrakurikuler adalah orang tua yang selalu mendukung, guru, kepala

21 Yanti, N. 2016. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Rangka Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Siswa Untuk Menjadi Warga Negara Yang Baik Di SMA Korpri Banjaran. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6 (11) 963-970.

(29)

sekolah, juga sarana dan prasarana. Untuk faktor pendukung lainnya siswa dulu termotivasi untuk mempelajari dan memperdalam ilmu yang diajarkan pada kegiatan ekstrakurikuler.

Berdasarkan hasil temuan peneliti terdapat beberapa faktor pendukung kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dalam menanamkan nilai religius peserta didik,diantaranya: 22

a) Motivasi dalam diri peseta didik Berbicara tentang motivasi semua peserta didik pasti membutuhkan motivasi. Karena motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku peserta didik.dalam motivasi terkandung keinginan yang mengaktifkan,menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap serta perilakuindividu. Dengan motivasi yang kuat dalam diri peserta didik maka akan mudah penanaman nilai religius pada peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler ini. Karena peserta didik mempunyai motivasi untuk

melakukan hal-hal yang baik dan positif.

b) Antusias peserta didik

Antusias peserta didik dalam mengikuti ekstrakurikuler keagamaan juga sangat pengaruh. Ketika peserta didik mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mereka akan mendapatkan nasihat-nasihat tentang berperilaku sesuai ajaran islam. Dan pembimbing diharapkan dapat menumbuhkan antusias peserta didik agar semua tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud.

22 Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

(30)

c) Dukungan dari keluarga

Keluarga merupakan faktor terpenting dalam penanaman nilai religius peserta didik. Hal tersebut dikarenakan keluarga merupakan tempat pembelajaran yang utama. Dukungan orang tua merupakan faktor pembantu dan pendorong terwujudnya tuijuan penanaman nilai religius dengan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Jika orang tua mendukung dengan kegiatan yang dilakukan maka pencapaian tujuan penanaman nilai religius pada peserta didik akan terlaksana dengan baik.

d) Dukungan dari guru pembimbing

Guru pembimbing berperan penting dalam menentukan keberhasilan dari penanaman nilai religius melalui kegiatan ekstrakurikuler ini. Dengan pemberian dukungan berupa pendampingan dan pengarahan pada setiap kegiatan yang dilakukan peserta didik. Sehingga dalam praktiknya peserta didik akan merasa gurunya tidak hanya menyuruh saja akan tetapi juga mengarahkan dan mendampingi peserta didik dalam melakukan kegiatan. Hal tersebut merupakan faktor pendukung karena dengan hal tersenut peserta didik akan lebih mudah menyerap apa yang diarahkan oleh pembimbing karena langsung diawasi dan didampingi.23

23 Dimyati dan Mujiono, belajardan pembelajaran, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hal.23

(31)

2. Faktor penghambat kegiatan ekstrakulikuler dan ekstrakulikuler keagamaan di Sekolah

Permasalahan lain yang dijumpai yaitu dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler siswa sering terlambat pulang ke rumah. Hal ini dikarenakan jadwal latihan yang begitu padat membuat waktu istirahat siswa sangat kurang. Setelah mereka merasa capek biasanya mereka pulang dan langsung tidur. Kegiatan belajar di rumah dirasa cukup kurang. Kendala berikutnya adalah tentang pembagian waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Ada sekolah yang masih menerapkan sekolah 2 (dua) shift. Pelaksanaan sekolah yang menerapkan system 2 (dua) shift dikarenakan ada satu sekolah baru yang menginduk pada sekolah lain. Hal ini tentu saja akan mengganggu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Waktu yang terbatas dan habis oleh kegiatan pembelajaran, yang menjadikan waktu latihan pada semua jenis kegiatan ekstrakurikuler juga terbatas, lapangan yang terbatas yang menjadikan setiap kegiatan ekstrakurikuler harus bergantian memakai lapangan yang tersedia.24

Menurut pandangan Pembina dan pelatih kegiatan ekstrakurikuler, beberapa kendala yang dihadapi diantaranya adalah kesibukan siswa, tugas yang menumpuk, serta kehadiran yang minim dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kemudian, kendala waktu, karena idealnya latihan dilaksanakan satu minggu dua kali. Kendala berikutnya, dalam

24 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini:

Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 172

(32)

pengadministrasian masih tidak terstruktur, dana dari sekolah yang tidak memadai yang membuat pembina acuh dalam menyusun pengadministrasian karena memang pada kenyataannya dana itu sendiri yang tidak memadai, Tidak memiliki Pelatih yang kompeten, pernah memiliki pelatih yang bagus tetapi siswa malah cenderung mengikuti apa yang diajarkann pelatih dibandingkan Guru Pembina yang mengakibatkan karakter anak menurun menjadi tidak baik dalam kehidupan di sekolah mereka hanya baik ketika bergaul dengan pelatihnya dilapangan.

faktor penghambat kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dalam menanamkan nilai religius peserta didik

a) Keadaan keluarga yang kurang mendukung

Dari hasil penelitian faktor pengahambat penanaman nilai religius melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yaitu keadaan keluarga yang kurang mendukung penanaman akhlak yang baik dari sekolah.Terkadang orang tua cenderung tidak peduli dengan sikapnya dirumah.Ketika di sekolah, dari pihak sekolah mengupayakan agar peserta didik mempunyia sikap yang baik dan juga ditanamkan nilai-nilai religius namun pada saat dirumah mereka justru tidak mendapatkan dukungan atau justru menyimpang dari apa yang telah diajarkan disekolah.

Hal seperti inilah yang dapat menghambat upaya yang dilakukan pihak sekolah. Seharusnya para orang tua mendukung kegiatan ini mengingat perilaku peserta didik yang tidak seluruhnya baik maka dengan adanya

(33)

kegiatan ini dapat merubah peserta didik menjadi pribadi yang baik.25 b) Pengaruh dalam diri peserta didik

Dari data yang didapat peneliti pengaruh dalam peserta didik juga merupakan faktor penghambat dalam penanaman nilai religius peserta didik.

Karena peserta didik cenderung mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat negatif dari pada yang bersifat positif. Pengaruh buruk tersebut tidak hanya didapat dari teman bermain akan tetapi juga didapat dari menonton televisi dan juga dari media sosial. Dengan itu maka guru pembimbimbing ekstrakurikuler harus lebih memperhatikan sikap peserta didik. Dan harus segera ditindak lanjuti mengenai pengaruh buruk yang masuk kedalam peserta didik agar bisa berubah menjadi baik kenbali.

c) Terbatasnya pengawasan dari pihak sekolah

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti faktor pengahambat lainnya yaituterbatasnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak sekolah.

Pihak sekolah hanya bisa mengawasi peserta didik di lingkungan serkolah tanpa mengetahui perilaku peserta didik diluar lingkungan sekolah.26

Disisi lain kurangnya pengawasan dari pihak sekolah orang tua malah terkesan cuek dengan sikap yang dilakukan peserta didik. Mereka menganggap jika anak disekolahkan di sekolah agama pasti sikapnya akan baik. Padahal perilaku anak tidak terbentuk dari sekolah saja.

25 Tap MPR RI dan GBHN 1998-2003, (Surabaya: Bina Pustaka Tama, 1993), hal.138

26 Hidayati, N. 2014. Peran Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Menumbuhkan Kedisiplinan Siswa Di Sma Negeri 5 Tangerang. Skripsi, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(34)

30

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang Peran kegiatan ekstrakulikuler keagamaan dalam peningkatan hasil pembelajaran PAI di SMA Negeri 3 Tebing Tinggi. Sesuai dengan fokus penelitian, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

Menurut Denzin dan Lincoin, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.27

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.28 Penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa gambar, kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati dan bukan berupa angka-angka atau data statistik.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA NEGERI 3 Tebing Tinggi.

Peneliti memilih sekolah ini sebagai lokasi penelitian mengingat betapa

27 Lexy .J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2005),hal 5

28 Margono, Metodilogi Penelitian Pendidikan,( Jakarta Rineka Cipta, 2000), hal 36

(35)

pentingnya ekstrakulikuler keagamaan terhadap pembelajaran PAI maupun dalam kehidupan sehari hari dan supaya mengetahui bagaimana ekstrakulikuler keagamaan dapat merubah pandangan siswa/i terhadap pembelajaran PAI maupun aturan agama islama dalam kehidupan sehari hari C. Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah dari mana data dapat diperoleh. Menurut sumbernya, data penelitian digolongkan sebagai data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek

penelitian dengan menggunakan alat-alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain dan tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya.29

Untuk memperoleh informasi yang lebih jelas secara langsung dari pihak-pihak tertentu yang peneliti anggap kompeten dan mengetahui seluk beluk tentang SMA NEGERI 3 Tebing Tinggi, maka peneliti juga akan menggali data dari informan atau responden. Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.30 Sedangkan responden adalah orang yang merespon atau menjawab pertanyaan pertanyaan peneliti baik pertanyaan tertulis maupun

29 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta: Rineka Cipta 2002) hal 154.

30Lexy .J. Moleong, metodologi… hlm 90

(36)

lisan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang dimaksudkan untuk mencari semua jenis data yang diperlukan, hal ini merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu penelitian. Kedudukan peneliti kualitatif cukup rumit. Seperti yang dikemukakan oleh Moleong bahwa ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analisis, penafsiran data dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.

Untuk memperoleh data yang valid dan akurat, peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu:

1. Observasi

Menurut Suharsimi, metode observasi adalah kegiatan permusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.

Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Guna untuk mengetahui hal hal yang di teliti.

2. Wawancara

Interview sering juga disebut dengan wawancara atau kuisioner lisan.

Interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara." Sedangkan wawancara mendalam adalah percakapan antara dua orang dengan maksud tertentu, yaitu antara peneliti dengan informasi untuk menggali informasi secara detail. Dengan demikian akan diperoleh informasi yang valid dari informan.

(37)

Metode wawancara dibedakan dalam beberapa macam, diantaranya:

a. Wawancara tertutup dan wawancara terbuka (convert and overt)

Pada wawancara tertutup biasanya yang diwawancara tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai. Sedangkan wawancara terbuka, subyeknya mengetahui bahwa ia sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud dari wawancara tersebut.

b. Wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur.

Wawancara terstruktur adalah pewawancara menentapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Jenis wawancara ini bertujuan untuk mencari jawaban telaah hipotesis.Sedangkan wawancara tak terstruktur adalah pertanyaan yang diajukan tidak disusun terlebih dahulu, dengan kata lain tergantung dengan keadaan atau subyeknya.31

3. Dokumentasi

Menurut Suharsimi, “dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis” dalam pelaksanaan metode dokumentasi, peneliti mencari data mengenai benda-benda tertulis yang berupa catatan harian, transkrip, buku-buku, surat kabar, majalah, agenda, notulen rapat, dan sebagainya."

Dokumen yang terhimpun sangat berguna untuk melengkapi data yang

31Burhan Bungin, metodologi penelitian kualitatif aktualisasi metodologi kea rah ragam varian kontemporer, (Jakarta: PT. Raja Grapindo persada, 2003), hak 103.

(38)

telah diperoleh dari teknik wawancara dan observasi. Selain itu digunakan juga untuk mengetahui secara kongkrit peranan kegiatan ekstrakulikuler keagamaan terhadap hasil pembelajaran PAI di SMA NEGERI 3 Tebing Tinggi.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah sebuah proses yang dilakukan melalu pencatatan, penyusunan, pengelolaan, dan penafsiran serta menghubungkan makna data yang ada kaitannya dengan masalah penelitian.32

Analisis data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan baik selama proses pengumpulan data maupun setelah pengumpulan data melalui tahap- tahap analisis, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.

Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan peneliti tentang bagian mana-mana yang dibuang, pola-pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebar, cerita-cerita apa yang berkembang, semua itu merupakan pilihan analisis yang menunjukkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tak perlu dan mengorganisasi data dengan

32Nana Sudjana, Awal Kusumah, Proposal Penelitian Di Perguruan Tinggi ( Bandung:

Sinar Baru Algesindo, 2009), hal 89

(39)

cara sedemikian rupa hingga kesimpulan kesimpulan finalnya dapat ditarik kesimpulan dan diversifkasi.

2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.Penyajian yang paling penting dan sering digunakan sehingga mudah dipahami.

3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi

Peneliti mencoba dan berusaha mencari makna data yang tergali atau terkumpul kemudian membentuk pola, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, dan sebagainya. Dari data yang diperoleh, peneliti mencoba mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang diperoleh dituangkan menjadi laporan penelitian yang tercakup dalam riwayat penelitian (dokumen terkait), hasil wawancara dan observasi.

F. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan.

Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu.

Ada empat kriteria yang digunakan yaitu credibility (derajat kepercayaan), transferability (Keteralihan), dependabilitry (kebergantungan), dan confirmabiliry (kepastian).

1. Credibility, (kepercayaan) yaitu kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Kriteria ini berfungsi untuk melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan

(40)

penemuannya dapat dicapai dan mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil- hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan yang sedang diteliti.

2. Transferability, (keteralihan) yaitu kriteria yang bergantung pada kesamaan antara konteks pengiriman dan penerimaan, kriteria ini digunakan untuk memenuhi kriteria bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat ditransfer ke subyek lain yang memiliki jenis yang sama.

3. Dependability, (ketergantungan) yaitu kriteria ini digunakan untuk menilai apakah teknik penelitian ini bermutu dari segi prosesnya beberapa percobaan yang dilakukan selalu mendapatkan hasil yang sama. Penelitian yang dependability atau reliabilitas adalah penelitian apabila penelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan proses penelitian yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula.

4. Confirmability, ( kepercayaan) yaitu pemastian bahwa sesuatu itu obyektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang.

Adapun teknik pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan keabsahan data dalam penelitian ini adalah:

1. Perpanjangan keikutsertaan

Keikutsertaan dilakukan dengan memperpanjang waktu pada latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatakan derajat kepercayaan daya yang dikumpulkan karena peneliti

(41)

akan banyak mempelajari kebudayaan, menguji ketidakbenaran informasi, dan membangun kepercayaan subyek.

2. Ketekunan Pengamatan

Ketekunan penagamatan dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur- unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memuaskan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

3. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau perbandingan terhadap data itu, untuk mengecek kesalahan data, penulis menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi data

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. (2005). Ilmu pendidikan dalam perspektif islam , Bandung : PT.

Rosdakarya.

Amir Daien Indrakusuma , pengantar ilmu pendidikan, Surabaya: usaha offset printing.

Departemen Agama RI,(2004). Panduan Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Depag RI.

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005

Fatah Nanang. 2004. Landasan manajemen pendidikan, Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.

Hidayati, N. 2014. Peran Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Menumbuhkan

Kedisiplinan Siswa Di Sma Negeri 5 Tangerang. Skripsi, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Lihat Mary Rombokas, High School Extracurricular Activities and College Grades makalah dipresentasikan pada The Southeastern Conference of Counseling Personnel, Jekyll Island, GA (Oktober 1995) yang dikutip Rachel Hollrah, Extracurricular Activities, dalam

http://www.public.iastate.edu/~rhetoric/105H17/rhollrah/cof.html

Moh. Uzer Usman dan Lilis Setyowati.1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar .Bandung: Remaja Rosdakarya.

M. Quraish Shihab.2002. Tafsir Al-Misbah Pesan Kesab dan Keserasian Al- Quran,Jakarta: Lentera Hati.

Madjid Abdul dan Dian Andayani.2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Dan Implementasi Kurikulum , Bandung Remaja Rosdakarya.

(43)

Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini 2013: Konsep dan Aplikasinya dalam PAUD, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Suryosubroto.2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah,.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Surya Muhammad. 2003. Percikan Seorang Guru, Semarang: Aneka Ilmu.

Tap MPR RI dan GBHN 1998-2003. Surabaya: Bina Pustaka Tama.

Zakiyah Dradjad.1992, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara .

Referensi

Dokumen terkait

Adapun sikap religius dan tanggung jawab yang tertanam dalam diri peserta didik melalui metode pembiasaan dalam kegiatan keagamaan dan ekstrakurikuler

Dalam implementasi ekstrakurikuler keagamaan di SMKN-1 Palangka Raya memang ada factor penghambat, namun tidak menjadikan peserta didik dan guru-guru Agama Islam malas

Evaluasi dan Dampak Ekstrakurikuler Keagamaan terhadap Karakter Religius Peserta Didik SMP Islam Brawijaya Kota Mojokerto Aspek yang paling penting dalam

Dalam penelitian ini memperoleh kesimpulan 1) implementasi kegiatan ekstrakurikuler berbasis keagamaan dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MI

Untuk faktor penghambat dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan pada seni hadrah yaitu untuk latihan ekstrakurikuler seni hadrah belum mempunyai tempat sendiri, jadi untuk

Penanaman nilai-nilai religius pada siswa melalui metode pembiasaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara menanamkan nilai-nilai keagamaan pada peserta didik

Skripsi ini menggunakan metode kualitatif bertujuan untuk mengetahui strategi Remaja Masjid Baiturrahman dalam pembinaan Keagamaan Remaja, Faktor-faktor yang mendukung dan penghambat

sedangkan faktor penghambat dari program ekstrakurikuler rohani islam adalah sebagai berikut : 1 sarana prasarana yang kurang memadai; 2 dalam pengelolaan kegiatan cenderung kurang