PROSES PEMBUATAN DAN TEKNIK PERMAINAN LOBAT PAKPAK OLEH BAPAK ATUR PANDAPOTAN SOLIN DI DESA SUKARAMAI
KECAMATAN KERAJAAN KABUPATEN PAKPAK BHARAT
PROPOSAL SKRIPSI OLEH
ANDIKA PRANATA PASARIBU 210707027
PROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2025
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Batasan Masalah... 4
1.3 Rumusan Masalah... 4
1.4 Tujuan Penelitian...4
1.5 Manfaat Penelitian... 4
1.5.1 Manfaat Teoritis...5
1.5.2 Manfaat Praktis...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...6
2.1 Landasan Teori... 6
2.2 Penelitian Terdahulu...6
2.3 Kerangka Konseptual...7
BAB III METODOLOGI DAN TEKNIK PENELITIAN...9
3.1 Jenis Penelitian...9
3.2 Data dan Sumber Data... 9
3.3 Teknik Pengumpulan Data...10
3.3.1 Observasi...10
3.3.2 Wawancara...10
3.3.3 Dokumentasi... 10
3.4 Teknik Analisis Data...11
3.5 Teknik Penyajian Data...11
DAFTAR PUSTAKA...13
DAFTAR INFORMAN...14
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang masyarakatnya terdiri dari beragam etnis atau suku asli, yang mendiami wilayah dari Sabang hingga Merauke.
Banyaknya suku yang ada menjadikan bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya yang dimiliki setiap suku, dan menjadikan ciri khas dari suku-suku yang ada di Indonesia. Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang memiliki delapan suku asli yaitu, Karo, Batak Toba, Nias, Batak Simalungun, Mandailing, Melayu, Tapanuli Tengah dan Pakpak.
Suku Pakpak Tersebar di beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil, dan Kabupaten Subulussalam (Provinsi Aceh). Suku Pakpak terdiri atas lima sub suku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima Suak yang terdiri dari (1) Pakpak Klasen, berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah (2) Pakpak Simsim, berdiam di Kabupaten Pakpak Bharat (3) Pakpak Boang, bermukim di Provinsi Aceh yaitu Kabupaten Aceh Singkil dan kota Subulussalam (4) Pakpak Pegagan, bermukim di Sumbul dan sekitarnya di Kabupaten Dairi (5) Pakpak Keppas, bermukim di kota Sidikalang dan sekitarnya di Kabupaten Dairi. Pakpak Bharat terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan. Kabupaten Pakpak Bharat terdiri dari delapan Kecamatan yaitu Kecamatan Salak, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Sitellu Tali Urang Jehe, Kecamatan Kerajaan, Kecamatan Pergetteng-Getteng Sengkut, Kecamatan Pagindar, Kecamatan Siempat Rube dan Kecamatan Tinada. Hampir 90 persen penduduk Kawasan Pakpak Bharat beretnis Pakpak, dan selebihnya merupakan pendatang dari suku lain seperti Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Nias, yang bekerja di Pakpa Bharat. Kegiatan perekonomian masyarakat Pakpak terfokus pada pertanian dan perkebunan. Ibukota Kabupaten Pakpak Bharat (Salak) berjarak sekitar 193 km dari Ibukota Provinsi Sumatera Utara (Medan).
Etnis pakpak memiliki budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang masyarakat Pakpak. Salah satu bentuk warisan budaya tersebut adalah kesenian. Kesenian yang diwariskan oleh leluhur Masyarakat Pakpak dalam beberapa bentuk, diantaranya adalah seni tari (tatak), seni ukir, seni tekstil dan seni musik. Bagi suku Pakpak musik mempunyai peranan yang sangat penting dalam aspek kehidupan masyarakatnya, karena hampir seluruh kegiatan adat, ritual dan hiburan selalu menggunakan musik. Masyarakat Pakpak mempunyai budaya musikal sendiri. Dalam penyajiannya ada yang menggunakan alat musik, vokal, dan vokal gabungan dengan instrumen musik, dalam penggunaan alat musiknya ada yang dimainkan secara ensambel dan ada juga secara solo.
Masyarakat Pakpak membagi alat musiknya berdasarkan bentuk penyajian dan cara memainkannya. Berdasarkan bentuk penyajiannya, alat-alat musik tersebut dibagi menjadi beberapa ensambel, yakni Genderang Sisibah, dan oning- oningen. Sedangkan dengan cara memainkannya, instrumen musik tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: Sipalun (alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul), Sisempulen (alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup) dan Sipeltiken (alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik). Ensambel Genderang Sisibah terdiri dari Genderang Sisibah (Conis Drum Single Head yang terdiri dari sembilan buah gendang yang berbentuk konis), Gung Sada Rabaan (Idiophone yang terdiri dari empat buah Gung yaitu Panggora, Poi, Puldep dan Pong-Pong), Sarune (Double Reed Oboe) dan Cilatcilat (Concussion Idiophone). Dalam penyajiannya ensambel ini dipakai pada jenis upacara sukacita (Kerja Mbaik) pada tingkatan upacara terbesar saja.. Ensambel yang terahir adalah Oning-oningen.
Ensambel ini terdiri dari Genderang Sitelu-telu, Gung Sada Rabaan, Lobat (Aerophone), Kalondang (Xylophone), dan Husapi (Lut Long Neck). Ensambel ini digunakan pada upacara sukacita (Kerja Mbaik) seperti upacara pernikahan dan untuk mengiringi tarian. Lobat merupakan salah satu jenis alat musik yang dipakai dalam bentuk solo instrumen dan dapat juga digabungkan dengan ensambel musik Oning-oningen tradisional Pakpak.
Lobat merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu, panjang istrumen Lobat sekitar 20 cm sampai 25 cm dan memiliki diameter 2 cm. Lobat memiliki lima lubang nada dan satu lubang penghasil bunyi. Alat musik ini termasuk kedalam
klasifikasi alat musik Aerophone. Lobat dimainkan dengan cara ditiup dan mengasilkan bunyi seperti suara seruling. Tangga nada Lobat terdiri dari tangga nada pentatonik, yaitu Do, Re, Fi, Sol, Si, Do. Lobat sekarang jarang ditemui pada ensambel Oning-oningen, dan pembuat Lobat biasanya adalah orang-orang tua yang cinta terhadap kesenian budaya. Pada awalnya Lobat merupakan alat musik pribadi yang digunakan sebagai hiburan pribadi oleh nenek moyang masyarakat Pakpak pada saat menjaga padi (Muro) diladang. Hiburan pribadi yang dimaksud disini adalah sebagai ungkapan perasaan yang sedang dirasakan, baik rasa senang, sedih, dan rasa yang tidak dapat diungkapkan, kecuali memainkan Lobat. Namun pada perkembangannya, alat musik ini dimasukkan kedalam ensambel Oning- oningen seperti pembawa melodi pada musik pengiring tari-tarian daerah Pakpak.
Pada mulanya pembuat alat musik Lobat biasanya pemain alat musik itu sendiri.
namun sejalan dengan waktu pembuat alat musik Lobat pada saat ini sudah sangat sedikit. Lobat Pakpak terbuat dari bambu dan kayu, dengan panjang lebih kurang 20 cm sampai 25 cm, memiliki diameter 2 cm. Instrumen Lobat tergolong kedalam klasifikasi Aerophone dimana memainkannya dengan cara ditiup sehingga menghasilkan suara seperti suara seruling. Lobat Pakpak dibuat dengan menggunakan alat-alat yang sederhana seperti parang, pisau, gergaji, meter, besi, dan api tungku untuk memanaskan besi dalam proses pembuatan lubang pada Lobat . Saat ini pembuat Lobat tidak banyak lagi.
Bapak Atur Pandapotan Solin adalah salah satu yang dapat membuat alat musik Lobat di Desa Sukaramai Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat.
Beliau seorang tamatan Sekolah Dasar (SD) Aornekan, dimana kesehariannya bekerja sebagai pengrajin instrumen-instrumen yang dipesan oleh orang lain, seperti Lobat, Kalondang, Sulim (seruling), Sordam, dan Husapi (Kecapi). Selain pengrajin alat musik Pakpak beliau juga pemilik Sanggar Seni Pakpak Nina Nola.
Lobat buatan beliau sudah banyak digunakan oleh pemain Lobat di group musik tradisional yang berada di Pakpak Bharat, seperti Geby Audio Group, Padang Jambu Group, Manik Ndai Group, Tania Group dan Nina Nola Group.
Berdasarkan masalah diatas penulis tertarik untuk mengkaji dan menjadikannya sebagai topik skripsi dengan judul Proses Teknik pembuatan dan
permainan Lobat Pakpak oleh Atur Pandapotan Solin di Sukaramai Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat.
1.2 Batasan Masalah
Penelitian ini akan difokuskan pada ritual pembuatan dan teknik permainan Lobat Pakpak oleh Atur Pandapotan Solin di Desa Sukaramai, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat. Kajian akan dibatasi pada aspek yang meliputi bahan, alat, dan Ritual langkah-langkah pembuatan Lobat Pakpak, serta teknik permainan yang mencakup cara memainkan alat musik ini, teknik pernafasan, penjarian, dan embouchure untuk menghasilkan nada yang sesuai. Dengan keterbatasan waktu dan sumber daya penelitian, kajian ini tidak mencakup semua aspek terkait Lobat Pakpak secara keseluruhan, melainkan hanya berfokus pada elemen-elemen tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembuatan Lobat Pakpak karya Atur Pandapotan Solin di Desa Aorkan Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut Kabupatn Pakpak Bharat?
2. Mendeskripsikan teknik permainan Lobat yang benar sesuai dengan tradisi masyarakat Pakpak?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan Proses pembuatan Lobat Pakpak.
2. Mendeskripsikan Teknik Permainan Lobat Pakpak
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarlan Latar bekalang dan Pokok permasalahan serta Tujuan penelitian diatas terdapat beberapa manfaat penelitian bagi Penulis dan Pembaca yaitu:
1.5.1 Manfaat Teoritis
Memberikan sumbangan terhadap pengembangan Ilmu Pengetahuan, khususnya dalam bidang Etnomusikologi dan budaya Indonesia. Dengan mendokumentasikan proses Ritual pembuatan dan teknik permainan Lobat.
Penelitian ini akan memperkaya literatur yang ada mengenai alat musik tradisional Indonesia.
1.5.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya tradisional masyarakat Pakpak. Dengan mendokumentasikan ritual pembuatan dan teknik permainan Lobat, diharapkan generasi muda tertarik untuk mempelajari dan melestarikan tradisi ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
Dalam membahas proses ritual pembuatan penulis menggunakan teori Davamony. M (1991). tentang magis menjelaskan bahwa magis terkait dengan tindakan ritual yang menggunakan bahan-bahan atau unsur yang dianggap memiliki daya mistis atau kekuatan gaib. Ritual magis ini berfungsi sebagai cara manusia berinteraksi dengan kekuatan-kekuatan adikodrati yang menguasai alam semesta, dengan tujuan mempengaruhi atau mendapatkan perlindungan, keselamatan, dan kemakmuran dari makhluk gaib tersebut. Davamony mengkategorikan ritual menjadi beberapa jenis, salah satunya adalah tindakan magis yang menggunakan bahan-bahan dengan kekuatan mistis. Ritual ini biasanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu yang dianggap sakral, seperti gua, tempat keramat, atau pinggir laut, dan menggunakan benda-benda khusus yang bukan untuk keperluan sehari-hari.
Pelaku ritual magis biasanya adalah orang yang dianggap memiliki keahlian khusus dalam berhubungan dengan dunia gaib. Menghubungkan dengan proses ritual pembuatan lobat Pakpak (sejenis ritual tradisional dari suku Pakpak di Indonesia), teori Davamony dapat diterapkan untuk memahami bahwa ritual tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga magis. Proses pembuatan lobat Pakpak kemungkinan melibatkan penggunaan bahan-bahan dan tata cara khusus yang diyakini memiliki kekuatan magis untuk menghubungkan manusia dengan kekuatan gaib, menjaga keseimbangan kosmis, dan melanggengkan tradisi serta identitas budaya suku Pakpak. Ritual ini juga berfungsi sebagai sarana negosiasi dengan makhluk-makhluk gaib agar mereka memberikan keselamatan dan kemakmuran bagi masyarakat yang melaksanakan ritual tersebut
Dalam membahas tentang mendeskripsikan teknik pembuatan dan permainan penulis menggunakan teori Susumu Khasima (1979). Teori Susumu Khasima (1979) dalam konteks mendeskripsikan teknik pembuatan dan permainan menekankan pentingnya analisis struktural terhadap proses produksi suatu karya atau aktivitas budaya, termasuk ritual dan seni tradisional. Khasima melihat teknik sebagai rangkaian prosedur atau langkah sistematis yang membentuk suatu produk
budaya, yang tidak hanya bersifat teknis tetapi juga mengandung makna sosial dan simbolik dalam pelaksanaannya. Menghubungkan teori Susumu Khasima dengan proses pembuatan Lobat Pakpak, dapat dijelaskan bahwa teknik pembuatan Lobat Pakpak bukan sekadar proses fisik atau teknis, melainkan juga merupakan rangkaian tindakan ritual yang terstruktur dan bermakna. Proses ini melibatkan tahapan-tahapan yang sistematis dalam pembuatan dan pelaksanaan permainan Lobat, yang mencerminkan nilai-nilai budaya, simbolisme, dan fungsi sosial dalam komunitas Pakpak. Dengan pendekatan Khasima, penulis dapat mendeskripsikan bagaimana setiap langkah dalam pembuatan Lobat Pakpak-mulai dari pemilihan bahan, cara pengolahan, hingga tata cara permainan-mengandung makna ritual dan teknik yang terintegrasi. Teknik tersebut bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga bagaimana teknik itu menjadi media untuk mengekspresikan identitas budaya, menjaga tradisi, dan memperkuat kohesi sosial melalui ritual permainan Lobat Pakpak. Jadi, teori Khasima membantu memahami bahwa teknik dalam pembuatan dan permainan Lobat Pakpak adalah proses yang kompleks dan bermakna, yang menggabungkan aspek teknis dan simbolik secara utuh dalam praktik budaya tersebut
Dalam membahas teknik permainan, penulis menggunakan teori Perilaku fisik dan verbal yang dikemukakan oleh Alan P. Merriam (1961) tentang segala tindakan yang dilakukan sebagai respon terhadap musik, atau yang digunakan untuk menciptakan musik.
2.2 Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung pemahaman penulis dalam penelitian, maka perlu digunakan beberapa penelitian terlebih dahulu seperti buku, jurnal dan sumber literatur lainnya. Berikut beberapa sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan relevan dengan topik permasalahan penelitian ini, antara lain:
1. Mandiri Berutu (2016) Kajian Organologi Lobat Pakpak karya Atur Pandapotan Solin di Desa aorkan kecamatan pargetteng – getteng sengkut Kabupaten Pakpak Bharat. Penelitian ini membahas tentang organologi Lobat Pakpak, termasuk proses pembuatan dan teknik permainan alat musik tersebut.
Penelitian ini juga menyoroti keberadaan dan peran Lobat dalam ensambel musik tradisional Pakpak.
2. Deni Romario Siregar (2020) Deskripsi Pembuatan dan Teknik Permainan Lobat Pakpak. Penelitian ini menjelaskan teknik pembuatan dan cara memainkan Lobat. Penelitian ini juga mencakup analisis nada dan teknik embouchure yang digunakan saat memainkan alat musik tersebut.
3. Merdy Roy Sunarya Togatorop (2018) Nyanyian Etnis Pakpak Simsim di Sumatera Utara. Penelitian ini mengkaji nyanyian etnis Pakpak, termasuk penggunaan alat musik seperti Lobat dalam konteks pertunjukan musik tradisional. Ini memberikan wawasan tentang hubungan antara alat musik dan tradisi lisan masyarakat Pakpak.
4. Jojo Paniroi Nababan. (2024). (Fungsi dan Interaksi Simbolik Gendang Si Sangkar Laus. Meskipun fokus utama penelitian ini adalah gendang, penelitian ini juga menyentuh penggunaan alat musik lain dalam upacara kematian di masyarakat Pakpak, termasuk Lobat, menggarisbawahi pentingnya alat musik dalam ritual budaya.
5. Siregar, T & Tarigan, B. (2015).Kebudayaan Masyarakat Kabupaten Pakpak Barat. Penelitian ini memberikan gambaran umum tentang kebudayaan masyarakat Kabupaten Pakpak Barat, termasuk tradisi musik dan alat-alat musik tradisional seperti Lobat yang menjadi bagian dari warisan budaya daerah tersebut.
Penelitian-penelitian ini memberikan wawasan yang berharga mengenai Lobat sebagai alat musik tradisional dan perannya dalam budaya masyarakat Pakpak.
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual penelitian Proses Pembuatan dan Teknik Permainan L obat Pakpak oleh Atur Pandapotan Solin.
1. Judul penelitian Proses Pembuatan dan Teknik Permainan Lobat Pakpak Oleh Atur Pandapotan Boang Manalu di Desa Sukaramai Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat
2. Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi dan menjelaskan tahapan ritual pembuatan Lobat Pakpak.
Bagaimana teknik pembuatan Lobat Pakpak karya Atur Pandapotan Solin di De
Bagaimana teknik permainan Lobat Pakpak sebagai pembawa melodi?
3. Lokasi Penelitian
Desa Sukaramai sebagai wilayah penelitian dengan karakteristik geografis, demografis, dan budaya khas suku Pakpak di Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat
4. Metode Penelitian
Pendekatan Kualitatif Deskriptif: Menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data.
5. Hasil yang Diharapkan
Pemahaman yang lebih baik tentang Proses pembuatan dan teknik permainan Lobat Pakpak.
Dokumentasi yang mendetail mengenai organologi dan Teknik Permainan L obat
Proses Pembuatan dan Teknik Permainan Lobat Pakpak Oleh Atur Pandapotan Solin
Di Desa Sukaramai Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat
Proses Pembuatan Teknik Permainan
Alat dan bahan Proses ritual pembuatan
Pernafasan Penjarian Embouchure Gerakan tubuh Teori Davamony, M (1991)
Teori Susumu Khasima
Struktural Teori Fungsional Susumu
Khasima
BAB III
METODOLOGI DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif.
penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor, 2008).
Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengkaji alat musik Lobat buatan Bapak Atur Pandapotan Solin dari Ritual pembuatan, aspek bentuk, bahan, cara pembuatan, Teknik permainan. Informasi dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap pembuatan alat musik Lobat, wawancara dengan pengrajin dan pemain musik tradisional, serta studi pustaka terkait organologi alat musik. Penulis menggunakan metode ilmu etnomusikologi, yaitu: kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (laboratory work). Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai Proses pembuatan, Teknik permainan alat musik Lobat.
Penulis menggunakan metode pengumpulan data guna untuk memperoleh informasi ataupun data yang diperlukan, yaitu: (1) daftar pertanyaan, dan (2) wawancara.
3.2 Data dan Sumber Data
Data merupakan kumpulan informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau pencatatan yang digunakan untuk pengambilan keputusan dan analisis lebih lanjut (Santoso, 2017). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan.Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya. Selain wawancara, observasi partisipan juga dilakukan untuk mengamati secara interaksi langsung dan perilaku informan dalam konteks penelitian. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber, seperti dokumen-dokumen resmi, arsip, laporan penelitian sebelumnya, dan literatur yang relevan dengan topik penelitian.
Sumber data utama untuk penelitian ini terdiri dari informan yang memiliki pengalaman dan pengetahuan luas terkait fenomena yang diteliti. Informan dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan, termasuk usia, jenis kelamin, dan pengalaman kerja. Selain informan, sumber informasi lain yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dokumen resmi, arsip, dan laporan penelitian sebelumnya.
3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1 Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati objek di lapangan secara langsung, sehingga peneliti memperoleh informasi yang lebih akurat dan relevan (Sugiyono, 2009).
Dalam penelitian ini, penulis melakukan kerja lapangan dengan melakukan observasi langsung dalam proses pembuatan Lobat oleh Bapak Atur Pandapotan Solin di Desa Sukaramai Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat.
3.3.2 Wawancara
Menurut Kriyantono (2020:289) wawancara merupakan percakapan antara periset (seseorang yang ingin mendapatkan informasi) dan informan (seseorang yang dinilai mempunyai informasi penting terhadap satu objek). Dalam melakukan wawancara, penulis berpacu pada wawancara berfokus (focused interview) dan wawancara bebas (free interview). Sebelum melakukan wawancara penulis terlebih dahulu menyiapkan pertanyaan yang relevan dengan pokok permasalahan, kemudian melakukan wawancara. Hasil wawancara akan dicatat untuk mengurangi resiko kehilangan informasi atau data yang diperoleh dari informan.
3.3.3 Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan menganalisis dokumen tertulis, gambar, atau rekaman yang berkaitan dengan objek penelitian (Arikunto, 2010). Alat yang akan
digunakan oleh penulis adalah Handphone Xiaomi 14T Pro sebagai sarana pendukung untuk mendokumentasikan segala kejadian yang terjadi di lapangan untuk memberikan informasi yang jelas dan tepat berdasarkan fenomena yang akan diteliti.
3.4 Teknik Analisis Data
Seluruh data yang disimpan dari lapangan selanjutnya akan diproses di laboratorium kerja untuk menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Data yang bersifat analitis akan disusun dengan metode penulisan ilmiah yang terorganisir, mengikuti prinsip-prinsip akademik yang berlaku, seperti pengaturan bab, sub-bab, serta pemanfaatan referensi yang tepat. Selain itu, data yang berupa gambar, rekaman, atau dokumentasi visual lainnya akan dianalisis kembali dengan teliti.
Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan ukuran dan parameter yang telah ditetapkan sebelumnya untuk menjamin kesesuaian dan relevansi informasi yang terdapat di dalamnya. Setiap elemen visual akan dievaluasi untuk menilai mutu dan konteksnya dalam mendukung hasil penelitian. Selanjutnya, informasi yang telah dijelaskan akan disusun secara teratur dalam sebuah laporan penelitian yang menyeluruh, yang akan berbentuk skripsi.
3.5 Teknik Penyajian Data
Dalam penelitian ini, data akan disampaikan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas, mendalam, dan komprehensif mengenai proses pembuatan dan teknik bermain Lobat Pakpak.
Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam menggambarkan secara detail tahapan pembuatan Lobat, mulai dari pemilihan bahan yang sesuai hingga proses penyelesaiannya, dan juga untuk menggali lebih dalam praktik memainkan Lobat tradisional yang telah diwariskan oleh masyarakat Pakpak selama bertahun-tahun.
Dalam konteks ini, informasi akan ditampilkan dengan cara yang teratur dan sistematis. Proses pengumpulan data akan mencakup berbagai metode, termasuk wawancara mendalam dengan pengrajin, di mana peneliti akan menggali pengalaman dan pengetahuan mereka tentang Ritual pembuatan dan teknik
permainan Lobat. Di sisi lain, observasi langsung terhadap proses Ritual pembuatan Lobat di lokasi akan dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik-praktik tradisional yang ada. Dokumentasi visual dan audio yang berkaitan juga akan digunakan sebagai komponen dalam penyajian data.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Boangmanalu, M. (n.d.). Kajian organologi Lobat Pakpak. Universitas Negeri Medan. Retrieved
Bogdan, RC, & Taylor, SJ (2007). Pengantar Metode Penelitian Kualitatif: Buku Panduan dan Sumber Daya. New York: Wiley.
Kashima, S. (2005). The Construction and Performance Techniques of Traditional Japanese Instruments. Tokyo: Musik Press.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Kriyantono, R. (2020). Teknik penelitian komunikasi: Praktik dan penelitian.
Jakarta: Kencana.
Merriam, A. P. (1964). Use and funtcion (pp. 219–227). Evanston, IL: Northwestern University Press
Santoso, S. (2017). Mengolah Data Statistik dengan Aplikasi Komputer . Elex Media Komputindo.
Sihombing, J., & Simanjuntak, P. (2020). Fungsi dan interaksi simbolik gendang Si Sangkar Laus dalam upacara adat kematian masyarakat Pakpak. J- Innovative, 15(2), 45-60. Retrieved
Sinaga, R. (n.d.). Deskripsi pembuatan dan teknik permainan Lobat Pakpak.
Universitas Negeri Medan. Retrieved
Siregar, T., & Tarigan, B. (2015). Kebudayaan masyarakat Kabupaten Pak-Pak Barat: Kajian etnografi musik tradisional. Neliti. Retrieved
Sugiyono. (2009). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Togatorop, M. R. S. (2017). Nyanyian etnis Pakpak Simsim di Sumatera Utara.
Institut Seni Indonesia Surakarta. Retrieved
DAFTAR INFORMAN
1. Nama : Atur Pandapotan Solin Alamat : Desa Sukaramai
Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat
Profesi : Budayawan, Pengrajin alat musik Pakpak 2. Nama : Mardi Boang Manalu
Alamat : Desa Aornaken
Kecamatan Pargetteng - getteng Sengkut Kabupaten Pakpak Bharat
Profesi : Budayawan Pakpak
OUT LINE BAB IV
4.1 Gambaran umum masyarakat Pakpak dan biografi
4.1.1 Gambaran Geografis Kabupaten Pakpak Bharat dan Lokasi Penelitian
4.1.2 Sistem Kekerabatan 4.1.3 Sistem Kepercayaan 4.1.4 Sistem Kesenian 4.1.5 Bahasa
4.1.6 Biografi
4.2 Proses Pembuatan Lobat 4.2.1 Sejarah Lobat 4.2.2 Klasifikasi Lobat 4.2.3 Struktur Lobat 4.2.4 Ukuran Lobat 4.2.5 Bahan Lobat 4.2.6 Peralatan Lobat
4.2.7 Proses Pembuatan Lobat 4.3 Teknik Permainan Lobat
4.3.1 Teknik Dasar Permainan 4.3.2 Posisi Penjarian
4.3.3 Posisi Bermain 4.3.4 Proses Pembelajaran BAB V Kesimpulan dan saran 5.1 Kesimpulan
5.2 Saran