Latar belakang inilah yang menjadi pelopor terciptanya program “Vision 2020: Right to Sight” yang bertujuan untuk menekan angka penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Unit mata harus komprehensif, ini tersedia untuk semua orang, apakah mereka perkotaan atau pedesaan, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin. Analisis kondisional adalah metode yang digunakan untuk memahami kinerja suatu organisasi dan menentukan faktor mana yang dapat mempengaruhinya.
Memahami kebijakan dan program yang ada di tingkat nasional dan daerah berarti departemen mata dapat membantu mengatasi kebutaan dengan menggunakan model pengobatan yang tepat dan sumber daya yang tepat. Peta bagaimana penduduk didistribusikan pada akses ke layanan kesehatan, seperti data geografi dan infrastruktur yang mungkin berdampak. Hambatan penting untuk diketahui, seperti alasan mengapa orang buta tidak datang ke unit mata.
Ada 5M yang dapat memberi saran tentang informasi apa yang harus dikumpulkan di departemen mata atau rumah sakit untuk analisis situasi. Misalnya, analisis SWOT unit mata akan mengidentifikasi kekuatan seperti memiliki ahli bedah katarak yang terlatih di unit mata tersebut. Kerugian yang dapat terjadi adalah daftar tunggu yang panjang yang disebabkan oleh waktu operasional yang tidak mencukupi.
Peluang yang ada adalah lembaga swadaya masyarakat yang dapat menyediakan bahan habis pakai, dan ancamannya adalah ketakutan pasien operasi katarak pada penduduk setempat.
TUJUAN, SASARAN
DAN TARGET
Tujuan dan sasaran penting untuk dilaksanakan karena dapat memberikan pembenaran dan memberikan cara untuk melaksanakan rencana yang dilakukan. Goal adalah pernyataan singkat dan umum tentang tujuan rencana yang akan dilaksanakan, menjelaskan mengapa rencana atau proyek tersebut harus dilaksanakan, misalnya “tujuannya adalah untuk mengurangi kebutaan katarak”. Tujuan dan sasaran yang ditentukan harus disepakati oleh semua perencana sejak awal dan memerlukan revisi seiring berjalannya proyek atau ada masalah yang memerlukan revisi terhadap tujuan dan sasaran.
Target adalah tingkat perubahan yang ingin dicapai pada setiap target selama periode yang ditentukan. Penetapan target harus dipertimbangkan dengan cermat, misalnya jumlah operasi katarak per ahli bedah di unit oftalmik adalah 200 per tahun, direncanakan mencapai target 400 pada tahun 2020. Cara perencana menetapkan target adalah menjelaskan alasan menyelidiki mengapa output saat ini rendah, maka carilah panduan dari rencana nasional dan lokal tentang target yang diharapkan untuk tingkat operasi katarak.
PRIORITAS, JADWAL DAN
ANGGARAN
Kita harus memutuskan mana yang paling penting dan memilih urutan tindakan yang akan diambil, ini disebut prioritas dan ada banyak cara untuk memprioritaskan kegiatan. Semua kegiatan yang dapat dilakukan dicatat, untuk setiap kegiatan diberikan skala 1 sampai 5 poin untuk 4 kategori. 1 adalah nilai terendah dan diterapkan pada kegiatan yang sulit atau tidak terlalu penting dan mahal.
Semua skor akan dijumlahkan untuk setiap aktivitas dan aktivitas dengan skor tertinggi akan diberi prioritas tertinggi. Misalnya, katarak paling sering menjadi masalah bagi orang berusia di atas 50 tahun, orang yang lebih tua dan lebih mampu cenderung memiliki akses ke layanan kesehatan mata dan dapat melakukan intervensi dini, sehingga target prioritasnya adalah orang miskin di atas usia 50 tahun, terutama perempuan. Semua kegiatan per target dicantumkan bersama dengan kapan akan dilakukan dan diselesaikan, ini dipantau dan diperbarui saat kegiatan dilakukan.
Anggaran untuk pelaksanaan program harus diungkapkan kepada pemilik dana, baik pemerintah maupun donor eksternal. Presentasi anggaran untuk setiap kegiatan dirinci sehingga perkiraan dan jumlah dapat diperbarui dan diubah. Informasi tentang pengeluaran dan pendapatan adalah bagian dari laporan bulanan yang harus dibuat untuk manajemen, untuk melakukan ini, persentase dari setiap item yang telah dikeluarkan (pengeluaran) atau dikumpulkan (pendapatan) dihitung.
MONITORING PROGRAM
Dalam setiap program pencapaiannya diselaraskan dengan tercapainya tujuan, dan biasanya ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan penting untuk mengetahui kapan dan informasi apa yang harus diambil dalam setiap program. Perencana harus memutuskan apa yang dapat dipantau dan apa yang harus dipantau, sehingga penting untuk memutuskan siapa yang akan mengambil indikator pemantauan di setiap tingkat, di mana laporan akan diberikan dan bagaimana program akan menerima tinjauan umpan balik. Dengan menyiapkan Sistem Informasi Manajemen (MIS) yang baik pada awal program, data dasar dapat dibuat dan dampak dari upaya yang direncanakan dapat diukur.
Hasil pemantauan tersebut kemudian akan diputuskan oleh manajemen apakah tujuan dan sasaran yang realistis dapat tercapai, strategi yang telah diterapkan efektif dan efisien, apakah program dikelola dengan baik atau tidak. Pengumpulan data yang tepat akan memandu keberhasilan suatu program, sehingga pemilihan indikator pemantauan yang tepat akan membuat program berjalan dengan sukses. Monitoring sangat penting untuk keberhasilan suatu program yang dirancang karena monitoring dapat meningkatkan akuntabilitas penggunaan dana dan sumber daya, meningkatkan kinerja untuk mencapai hasil yang baik.
EVALUASI PROGRAM
Evaluasi merupakan penilaian kritis terhadap sejauh mana sistem pelayanan kesehatan memenuhi tujuan, atau menilai perubahan sebelum dan sesudah program berjalan. Evaluasi membantu perencana memahami keseluruhan program termasuk hasilnya, bukan hanya apa yang direncanakan. Perencana harus mengevaluasi program yang dirancang sebanyak 3 kali, yaitu pada saat program berjalan, 6-12 bulan setelah program berlangsung, dan pasca evaluasi.
Evaluasi merupakan kegiatan yang tidak boleh bias, sehingga evaluasi harus dilakukan oleh konsultan atau tim eksternal. Koordinator regional dan nasional serta evaluator eksternal menyepakati tugas atau ruang lingkup evaluasi.
STUDI KASUS JAWA BARAT
Kementerian Kesehatan mendistribusikan program tersebut di tingkat provinsi sehingga dinas kesehatan provinsi dapat melakukan kegiatan kesehatan mata di seluruh wilayah kerjanya. Di tingkat akar rumput juga terdapat puskesmas, posyandu dan posbindu yang sudah memiliki program kesehatan mata dengan kader pelayanan kesehatan mata yang terlatih. Propinsi Jawa Barat sudah memiliki satu RS Khusus Pemerintah yang menjadi rujukan nasional dengan 33 dokter spesialis mata.
Terdapat tiga rumah sakit swasta spesialis mata di tingkat pelayanan tersier dengan 16 dokter spesialis mata. Pada tingkat pelayanan lanjutan, terdapat 33 rumah sakit pemerintah dan 99 rumah sakit swasta yang memberikan pelayanan kesehatan mata. Layanan sekunder memiliki 67 dokter mata di rumah sakit negara dan 57 dokter mata di rumah sakit swasta.
Terdapat 1330 puskesmas dengan program kesehatan mata dan 1065 perawat kesehatan mata. Di tingkat masyarakat terdapat posyandu, posbindu atau sejenisnya yang memiliki 480 program kesehatan mata dan memiliki 480 kader terlatih kesehatan mata. Mengacu pada nilai tersebut, jumlah operasi katarak di Jawa Barat per tahun sebanyak 49.748 per tahun.
Jumlah RS pemerintah dengan pelayanan kesehatan mata khusus 1 Jumlah RS swasta dengan pelayanan kesehatan mata khusus 3 Jumlah tempat tidur RS khusus kesehatan mata 125. Meningkatkan jumlah CSR dari 1050 per 1 juta penduduk menjadi 2000 per 1 juta penduduk pada tahun 2020 Barat Provinsi Jawa. Direktur Rumah Sakit Menyesuaikan ketersediaan mikroskop dan alat untuk operasi katarak di rumah sakit Meningkatkan pelatihan dokter dan.