• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding - psp-kumkm

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Prosiding - psp-kumkm"

Copied!
469
0
0

Teks penuh

Eristia Lidia Paramita, dkk (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga) ... 41 MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PEMAIN CARICA BY. Kegiatan pengabdian penguatan produk unggulan Masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan alat teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas manisan carica di kawasan wisata Sikunir. Dukungan teknologi mekanisasi pasca panen sangat penting untuk menjamin ketersediaan manisan carica sepanjang tahun dan meningkatkan kualitas produk olahannya, salah satunya adalah pasteurisasi otomatis.

Di sisi lain, teknologi pasteurisasi untuk industri menengah dan besar kurang cocok untuk industri kecil dan rumah tangga karena harganya yang tidak terjangkau sehingga diperlukan teknologi pasteurisasi yang sederhana, namun menghasilkan kualitas manisan karika yang baik.

Gambar 1. Tanaman Carica
Gambar 1. Tanaman Carica

Bahan dan peralatan

45 pada makanan dan minuman bersifat mati, sehingga produk yang dipanaskan dengan UHT sering disebut produk steril. LTLT merupakan singkatan dari Low Temperature Long Time atau pemanasan pada suhu rendah dalam waktu yang cukup lama. Perbedaan suhu tinggi dan rendah pada pasteurisasi juga berbeda pada umur atau ketahanan makanan dan minuman yang dipasteurisasi.

Metode

Perkebunan kelapa sawit baik milik pemerintah maupun swasta untuk pengolahan serat daun kelapa sawit (Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Lampung, Banten, dll). Penelitian mengenai daun kelapa sawit telah dilakukan terhadap pemanfaatan daun kelapa sawit sebagai pakan ternak (Simanihuruk, 2007). Sementara itu, penelitian mengenai pemanfaatan daun lontar sebagai bahan baku produk kerajinan sejauh ini belum menemukan referensi.

53 Bahan yang digunakan adalah daun lontar segar, air soda kosmetik (NaOH), mikroorganisme efektif (EM4), gas.

Gambar 3. Alat pasteurisasi otomatis
Gambar 3. Alat pasteurisasi otomatis

Cara mekanik (alat dekortikator)

Fokus penelitian ini terutama pada metode pemisahan serat yaitu (1) secara mekanis dengan menggunakan dekortikator, (2) secara kimia dengan merendam NaOH yang terdiri dari 3 konsentrasi yaitu g/L dan (3) secara biologis dengan fermentasi menggunakan EM4 dengan 3 perbandingan yaitu .

Cara kimia (perendaman NaOH)

Cara biologi (fermentasi)

Selain itu, ia juga merancang mesin penumbuk dan pencampur bumbu berbentuk customized yang dapat digunakan untuk bahan bumbu yang keras dan membandel. Proses pemurnian bahan jamu yang digunakan oleh kedua usaha kecil dan menengah tersebut dilakukan dengan memperkenalkan teknologi yang sesuai untuk mesin tepung dan pencampur jamu. Bahan herba keras direduksi terlebih dahulu sebelum masuk ke mesin tepung untuk mencegah mesin berhenti karena kurang kuat untuk proses penepungan.

Dengan diperkenalkannya mesin tepung ini menjadi efisien, bahan herbal tidak tercampur dengan bahan herbal lain dan tidak ada yang terbuang. Setelah diperkenalkannya mesin tepung yang diadaptasi, UKM Pondok Daun tidak lagi menghadapi kendala dalam proses pembuatan tepung. Pemanfaatan teknologi tepat guna yaitu mesin tepung bahan herbal dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi kedua UKM tersebut pada saat proses produksi.

Tabel 1.  Kekuatan tarik serat pelepah kelapa sawit
Tabel 1. Kekuatan tarik serat pelepah kelapa sawit

Pada hari ke-7 suhu bahan mulai meningkat sampai dengan hari ke-21

Redesain atau perbaikan kandang peternak anggota KWT “Bhakti Rahayu” dan “Ngudi Rejeki” sebagai percontohan kandang yang ideal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pH dan fiksasi terhadap kualitas hasil pewarnaan kain katun dengan pewarna alami dari kayu nangka. Larutan pewarna alami diperoleh dengan cara mengekstraksi butiran kayu dengan air pada suhu mendidih selama 2 jam. Dari hasil percobaan diketahui ekstrak kayu nangka dapat mewarnai kain katun, karena kayu nangka mengandung tanin seperti morin yang memberikan warna kuning dan coklat.

Tanin pada kayu nangka merupakan salah satu jenis morin yang dapat diekstraksi dengan air panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pH dan fiksasi terhadap kualitas hasil pewarnaan kain katun dengan pewarna alami. Kain katun yang sudah siap diwarnai dimasukkan terlebih dahulu ke dalam mesin jigger, kemudian larutan ekstrak kayu nangka yang diberi tambahan humektan dimasukkan ke dalam mesin jigger.

Tanin yang terkandung dalam kayu nangka merupakan salah satu jenis morin yang dapat memberikan warna kuning jeruk. Hasil uji FTIR (Fourier Transform Infra Red) terhadap serbuk pewarna kayu nangka ditunjukkan pada Gambar 9, menunjukkan bahwa pigmen kayu nangka mempunyai gugus fungsi karbonil (C=O) yang merupakan gugus kromofor (gugus pembawa warna). ) pigmen pada kayu nangka. Dari hasil penelitian terlihat bahwa kayu nangka dapat mewarnai serat kapas menjadi kuning karena kayu nangka mengandung tanin.

Selama proses pewarnaan, serat kapas akan direndam dalam larutan ekstrak kayu nangka dan akan mengalami penggembungan sehingga pori-pori serat terbuka dan tanin/morin dapat masuk ke dalam serat bersama dengan larutan pewarna. Gambar 180 menunjukkan bahwa kain yang diwarnai dengan ekstrak kayu nangka dan difiksasi dengan menggunakan bahan pengikat berbeda dengan pH yang sama akan menghasilkan warna yang berbeda.

Gambar 3. Tahapan Proses Pewarnaan Kain Kapas dengan Ekstrak Kayu Nangka
Gambar 3. Tahapan Proses Pewarnaan Kain Kapas dengan Ekstrak Kayu Nangka

Ketahanan Luntur Warna

Kegiatan pembuatan pestisida organik ini dilaksanakan di Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, sebagai bagian dari program pengabdian Sinergi Pemberdayaan Masyarakat (Sibermas). Penggunaan pestisida organik merupakan salah satu bentuk pengelolaan pertanian yang sehat, ramah lingkungan dan selaras dengan kondisi alam sekitar. Tujuan Kegiatan: (1) Memberikan pemahaman, sosialisasi dan pendampingan secara berkesinambungan agar petani benar-benar mampu mengaplikasikan pestisida organik secara mandiri, dan (2) Memberikan demonstrasi pembuatan pestisida organik termasuk pengaplikasiannya pada lahan pertanian, agar petani terbiasa. melakukan hal tersebut dan memproduksi pestisida organik secara berkelanjutan.

Kesimpulan kegiatan: (1) Pelaksanaan sosialisasi dan praktik langsung produksi pestisida organik telah berjalan dengan baik, sesuai dengan rencana dan harapan, (2) Secara teknis dimungkinkan untuk mengembangkan penggunaan pestisida organik di Desa Hargomulyo . 187 Untuk menghasilkan pestisida organik yang memenuhi aspek kualitas (kinerja baik) dan kuantitas (jumlah cukup), hal-hal yang perlu dilakukan adalah; (1) potensi sumber bahan baku pestisida organik, (2), hama dan penyakit sasaran, (3) prinsip kerja pestisida organik, (4) keunikan pestisida organik, (5) hambatan penerapannya, dan (6) cara penggunaannya. membuat dan bagaimana cara mengajukannya. Kegiatan pembuatan pestisida organik ini dilakukan langsung oleh para petani sendiri sehingga mereka langsung terbiasa melakukannya.

Tiga (3) petani bersedia dan mampu melakukan demonstrasi penggunaan pestisida organik di lahan sawahnya. Selama demplot penerapan pestisida organik, kebetulan tidak terjadi serangan hama atau penyakit di seluruh hamparan sekitar demplot. Penerapan pestisida organik pada lahan sawah milik 3 petani menunjukkan tidak terjadi serangan hama dan penyakit.

Pelaksanaan sosialisasi dan praktek langsung produksi pestisida organik di Desa Hargomulyo Kecamatan Ngrambe Kecamatan Ngawi telah berjalan dengan baik sesuai dengan rencana dan harapan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Bappedi Ngawi yang telah memungkinkan terlaksananya kegiatan pembuatan produk organik dan pestisida.

Pendampingan

Optimalisasi Peran Pusat Informasi Agribisnis (PIA)

200 membuat pakan ternak; (2) pelatihan budidaya Azolla sebagai alternatif pakan ternak; (3) pelatihan pengolahan bahan baku ikan lele; (4) pelatihan manajemen praktis; (5) pelatihan praktis akuntansi/akuntansi; (6) pelatihan kewirausahaan; (7) pelatihan komunikasi efektif untuk negosiasi bisnis; Kolam lele di Pondok Pesantren Kyai Abdul Jalal dibangun di sekitar tempat tinggal santri dan tidak jauh dari masjid. 202 Perkembangan budidaya ikan lele di lingkungan Pondok Pesantren Kyai Abdul Jalal dilihat matriks berikut.

Kondisi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan budidaya ikan lele di Pondok Pesantren Kyai Abdul Jalal. Aspek sumber daya alam - Memanfaatkan sisa air cucian membuat penggunaan air di pondok pesantren menjadi lebih hemat; Ikan lele merupakan produk yang dapat dibudidayakan dengan kepadatan tebar tinggi pada lahan terbatas (land saving) dan hemat air.

Jadi, budidaya ikan lele menjadi salah satu solusi yang bisa dijadikan salah satu alternatif untuk menambah pendapatan meski hanya memiliki lahan yang sedikit. Ikan lele di Indonesia merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan dan digemari masyarakat. Oleh karena itu, permintaan ikan lele tidak akan pernah berkurang. Menurunnya stok bibit ikan lele lebih banyak disebabkan oleh perkawinan sedarah yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan, rendahnya kelangsungan hidup, kelainan bentuk dan mudah terserang penyakit (Najiyati, S. 1992).

Gambar 1. Diagram Alir Pemecahan Masalah
Gambar 1. Diagram Alir Pemecahan Masalah

Pelatihan Pelatihan Teknis

Namun dua minggu sebelum panen, persentase pemberian pakan sebaiknya dikurangi menjadi 2-3% dari total bobot ikan. Pemberian pakan pada ikan lele untuk pembesaran diberikan secara ad libithum, artinya pemberian pakan diberikan secara bertahap dalam jumlah banyak dan dihentikan pada saat ikan lele mulai merasa kenyang. Indikator yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah ikan lele sudah kenyang adalah ikan lele sudah malas dan tidak lagi bereaksi agresif terhadap makanan ikan yang diberikan.

Cara pemberian pakannya disebar secara merata di setiap sisi kolam agar semua ikan mempunyai kesempatan makan yang sama. Perubahan takaran pakan juga sebaiknya dilakukan secara bertahap agar ikan lele dapat beradaptasi dan tidak menyebabkan ikan lele menjadi malas makan atau berkurang nafsu makannya (Arifin, M.Z. 1991). Namun kelemahan pemberian pakan ini adalah kurang praktis karena memerlukan perlakuan khusus sebelum diberikan.

Dengan menggunakan azole, peternak lele dapat menekan biaya produksi pembelian pakan lele yang harga pasarnya semakin meningkat. Sebagai pakan ternak, rumput azole dapat dikatakan sebagai pakan ternak organik dengan kandungan nutrisi yang menjanjikan dan tanpa bahan kimia.

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Pakan Pellet Berdasarkan Jenis (Kode) Pakan.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Pakan Pellet Berdasarkan Jenis (Kode) Pakan.

Hambatan dan Kendala Kegiatan

207 kalangan pengurus yayasan, pimpinan pesantren dan sebagian santri pesantren untuk menumbuhkan jiwa wirausaha. Dari diskusi tersebut, terdapat beberapa alternatif kegiatan yang kedepannya dapat dilakukan untuk memotivasi mahasiswa, antara lain: Pelatihan motivasi berprestasi, pelatihan perencanaan usaha, pelatihan manajemen, kegiatan praktek usaha peternakan.

Evaluasi Kegiatan dan Rencana Tindak Lanjut

Usaha Mikro Manunggal Jaya adalah bengkel yang bergerak di bidang bengkel las yang usahanya meliputi produksi pagar besi, railing tangga, gerbang besi, kanopi dan lain-lain. Bengkel Las Manunggal Jaya sebagai mitra dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini merupakan usaha mikro yang bergerak di bidang bengkel las yang usahanya meliputi pembuatan pagar besi, rel, gerbang besi, kanopi dan. Bengkel Las Manunggal Jaya masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan inovasi produk guna memenuhi permintaan konsumen.

Bengkel Las Manunggal Jaya berlokasi di Jl Majapahit V/19 Nusukan Solo dan melayani kebutuhan bengkel las di kota Solo dan sekitarnya. Alat-alat yang dimiliki bengkel las Manunggal Jaya antara lain mesin las diesel kapasitas 3000 watt, mesin las listrik kapasitas 2200 watt, pemotong besi dan peralatan lainnya. Permasalahan yang dihadapi dengan rendahnya produksi pada bengkel las disebabkan berkurangnya permintaan dari konsumen, karena produk yang dihasilkan kurang bervariasi.

Dengan pembukuan yang baik, bengkel las rekanan dapat mengontrol posisi keuangannya sehingga pemborosan dan kerugian dapat diminimalisir. Bengkel Manunggal Jaya berlokasi di Nusukan Banjarsari Surakarta, saat ini bergerak di bidang bengkel las. Inovasi ini merupakan bagian dari rekayasa bengkel las Manunggal Jaya dengan bantuan tim UNS.

Kegiatan pendampingan dan monitoring dilakukan oleh tim UNS dengan tujuan untuk memonitor perkembangan usaha mikro bengkel las dalam pengembangan inovasi setelah dilakukan konsultasi dan pelatihan. Sejauh mana para mitra dapat mengembangkan usaha pengelasannya dengan baik melalui inovasi produk-produk baru, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dari bengkel las tersebut.

Gambar rancangan ranjang lipat
Gambar rancangan ranjang lipat

Gambar

Gambar 1. Tanaman Carica
Gambar 3. Alat pasteurisasi otomatis
Tabel 1.  Kekuatan tarik serat pelepah kelapa sawit
Tabel 2. Nilai rendemen serat pelepah kelapa sawit  Contoh uji  Berat Pelepah
+7

Referensi

Dokumen terkait

SIMPULAN Dari hasil penelitian dan ulasan diatas sehingga penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: Terdapat faktor internal dan eksternal yang dominan pada hasil belajar kognitif