• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Kegiatan dan Rencana Tindak Lanjut

Dalam dokumen Prosiding - psp-kumkm (Halaman 177-200)

Tahap 6. Pada hari ke-7 suhu bahan mulai meningkat sampai dengan hari ke-21

D. Evaluasi Kegiatan dan Rencana Tindak Lanjut

Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur seberapa besar keberhasilan kegiatan ini berupa: Evaluasi kognitif dan evaluasi psikomotorik.

Evaluasi kognitif, Evaluasi yang dilakukan berupa diskusi (tanya jawab) dan lembar evaluasi (post test evaluation) tentang pelatihan pembuatan pupuk organik, pembuatan media tanam, pembibitan, dan penanaman. Indikator keberhasilannya Tujuh puluh lima persen santri mengerti terhadap cara pembuatan pupuk organik, media tanama, pembibitan, penanaman yang ditunjukkan dengan jawaban pada lembar evaluasi.

Evaluasi psikomotorik, bentuk evaluasinya: santri dapat langsung melakukan praktek membuat media tanam, melakukan pembibitan, melakukan penanaman di polibag. Indikator keberhasilan, bahwa tujuh puluh lima persen santri dapat melakukan praktek membuat media tanam, melakukan pembibitan, melakukan penanaman di polibag.

Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan IbM di pondok pesantren dan berdasarkan Focus Group Discussion yang dilakukan dengan para santri dan pengasuh pondook pesantren, maka ada beberapa hal yang disepakati untuk rencana tindak lanjut sebagai salah satu wujud nyata kesinambungan hubungan kerja sama antara perguruan tinggi dengan pondok pesantren, yakni: (1) tim IbM bersama dengan pengasuh pondok pesantren melakukan pembinaan secara berkelanjutan terhadap para santri di bidang agribisnis; (2) Para santri akan melakukan kunjungan ke laboratorium-laboratorium di Fakultas Pertanian UNS untuk mengenal lebih jauh tentang dunia agribisnis; (3) Tim IbM dan Pengasuh

208 Pondok sepakat untuk mengusulkan kegiatan sejenis yang difokuskan pada usaha ekonomi produktif berdasarkan potensi lokal.

PENUTUP

Kegiatan Pengabdian ini memberikan manfaat kepada mitra berupa: (1) berdirinya Pusat Informasi Agribisnis/Agibusiness Information Center yang dilengkapi dengan perangkat komputer dan koleksi buku-buku agribisnis sebagai pusat belajar dunia agribisnis bagi para santri dan masyarakat sekitar pondok; (2) adanya pilot project kolam lele sebagai tempat untuk praktek secara langsung para santri untuk menekuni bidang agribisnis; (3) terjalinnya kerja sama antara pondok pesantren dengan Fakultas Pertanian UNS, (4) Santri bisa mengakses informasi- informasi seputar agribisnis ke kampus dan Tim IbM di jadikan sebagai Tim Pengembang Agribisnis di Pondok Pesantren Kyai Abdul Djalal.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar W dan Haryadi, 2004. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Kemiskinan. TKP3 KPK. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Jakarta.

Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.

Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V.

Simplex. Jakarta.

Harry Hikmat, 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung.

Ife, Jime. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives- Vision, Analiysis and practice. Melbourne : Longman.

Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit Swadaya.

Jakarta.

Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo. Bhratara.

Jakarta.

Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.

Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.

209 USAHA MIKRO BENGKEL LAS MANUNGGAL JAYA

MENGEMBANGKAN RANJANG LIPAT

Ida Nugroho Saputro

Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta

email: [email protected]

ABSTRAK

Ranjang lipat ini dapat dibuat dengan berbagai bahan seperti besi, alumunium, kayu, dan bahan-bahan lain. Dalam hal ini bahan yang dipilih adalah besi, mengingat bahan besi mudah didapat dan pengetahuan mengenai pembuatan produk-produk besi tersedia di kampus, yaitu dengan cara pengelasan. Pengelasan merupakan salah satu jenis penyambungan di antara penyambungan yang lain seperti baut dan keling. Ranjang lipat merupakan inovasi teknologi dalam membuat tempat tidur serbaguna. Produk ini digunakan dalam perumahan yang mempunyai keterbatasan ruangan. Penggunaan ranjang lipat dalam ruangan bisa memaksimalkan fungsi dari ruangan tersebut. Ranjang lipat multi fungsi pada waktu digunakan dibuka sebagai ranjang untuk tidur sedangkan waktu tidak digunakan bisa dilipat menempel pada dinding.

Usaha mikro Manunggal Jaya merupakan workshop/bengkel yang bergerak dalam bidang bengkel las yang usahanya meliputi pembuatan pagar besi, trailis, pintu besi, kanopy dan lain-lain. Pada kegiatan ini membuat prototif ranjang lipat sebagai usaha inovasi produk baru yang selama ini hanya diproduksi pada bengkel rekayasa. Pada pembuatan produk memerlukan waktu 3 bulan untuk uji trial dan error. Pembuatan ranjang lipat terbuat dari besi hollow ukuran 4 cm x 4 cm yang dirangkai menjadi satu kesatuan yang dipasang pada dinding. Setelah melalui berbagai perbaikan akhirnya terbentuk satu contoh ranjang lipat. Kedepan diperlukan pengembangan produk dan pemasaran produk sehingga bisa dipasarkan secara luas dan diterima pada masyarakat.

Kata kunci: ranjang lipat, bengkel las, usaha mikro,

PENDAHULUAN

Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo, merupakan sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng pegunungan Lawu dan pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 m diatas permukaan air laut.

Dengan Luas sekitar 44 Km2, Kota Surakarta terletak diantara 110 45` 15″ – 110 45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan. Dengan letak geografis yang demikian menjadikan Kota Solo menjadi daerah yang subur dan menjadi pusat perdagangan. Batas wilayah Kota Surakarta sebelah Utara adalah Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali. Batas wilayah sebelah Timur adalah Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karangnyar, batas wilayah sebelah

210 Barat adalah Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar, sedang batas wilayah sebelah selatan adalah Kabupaten Sukoharjo.

Perkembangan properti yang begitu tinggi didalam kota Solo dan daerah sekitarnya yang mempunyai dampak pada tingginya harga rumah. Ini berakibat perumahan yang dibangun mempunyai type atau ukuran yang kecil. Perumahan ini terdiri dari satu dan dua kamar yang mengharuskan aktifitas didalam rumah agak terganggu. Aktifitas yang yang dimaksud aktifitas untuk tidur, belajar, bermain dan lain sebagainya. Ruangan yang tersedia untuk kamar tidur biasanya mempunyai luas 5m2. Hal ini berakibat aktifitas ruang tidur, belajar, bermain untuk anak – anak menjadi satu kamar. Permasalahan luas ruangan kamar yang menjadi bagi sebagian masyarakat.

Pemasalahan – permasalahan tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi suatu produk yang dapat mengatasi kebutuhan akan luas ruangan/kamar. Produk tersebut adalah dengan membuat tempat tidur lipat multi fungsi. Kegunaan dari tempat tidur lipat ini adalah bagian atas bisa dipakai untuk tidur sedangkan bagian bawah untuk belajar. Fungsi yang lain juga tempat tidur lipat ini menempel pada dinding, pada waktu dipakai untuk tidur ditarik kebawah sedangkan kalau tidak dipakai tempat tidur ini dilipat menempel pada tembok.

Sehingga luas ruangan kamar menjadi longgar untuk untuk bisa beraktifitas sehari – hari.

Bahan untuk membuat tempat tidur lipat terdiri dari bermacam-macam antara lain kayu, besi, aluminium dan lain sebagainya. Juga ada yang terbuat dari perpaduan antara kayu dan besi. Untuk pemberdayaan pada masayarakat ini kita menggunakan bahan dari besi, mengingat besi bahan yang mudah dibentuk, disambung, maupun dipotong. Juga dari segi kekuatan lebih kuat dari bahan yang lain. Penyambungan besi dilakukan dengan pengelasan, baut maupun keling.

Berbeda antara keduanya bahwa pengelasan membutuhkan perhatian yang khusus di antaranya adalah jenis pengelasan, klasifikasi pengelasan, dan karakteristiknya.

Bengkel las Manunggal Jaya sebagai mitra dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini, merupakan usaha mikro yang bergerak dalam bidang bengkel las yang usahanya meliputi pembuatan pagar besi, trailis, pintu besi, kanopy dan

211 lain-lain. Bengkel las Manunggal Jaya masih memerlukan dukungan pengembangan inovasi produksinya agar dapat memenuhi kebutuhan permintaan dari para konsumen. Inovasi produk dari bengkel las sangat penting dilakukan karena permintaan dari konsumen beragam jenis. Bengkel las Manunggal Jaya beralamat di Jl Majapahit V/19 Nusukan Solo melayani kebutuhan bengkel las di kota Solo dan sekitarnya.

Alat-alat yang dimiliki bengkel las manunggal jaya berupa mesin las diesel kapasitas 3000 watt, mesin las listrik kapasitas 2200 watt, pemotong besi dan alat bantu lainnya. Bengkel las Manunggal Jaya mempunyai kapasitas produksi 3-4 paket/bulan. Permasalahan yang dihadapi rendahnya produksi bengkel las karena permintaan dari konsumen berkurang, karena produk-produk yang dihasilkan kurang bervariatif. Sehingga adanya kegiatan pemberdayaan ini, produknya akan bervariasi dan produk berinovasi tinggi yang dihasilkan mempunyai daya jual yang tinggi.

Terdapat permasalahan lain yang urgent untuk dicarikan solusi, yaitu berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan dari mitra mengenai proses pemotongan besi/plat sampai penyambungan dengan las yang efektif dan efisien, serta keterbatasan pengetahuan mitra berkaitan dengan inovasi produk.

Keterbatasan pengetahuan tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu dalam proses produksi dan pemasaran produk. Sehingga pengetahuan dan ketrampilan dalam proses produksi dan inovasi produk ditingkatkan. Pemberdayaan ini merupakan salah satu inovasi produk ranjang lipat yang selama ini belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra dalam kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat ini akan ditawarkan beberapa solusi, yaitu : 1. Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Tata Cara Pengelasan. Untuk

mewujudkan produk dari bengkel las yang, diperlukan pengetahuan serta ketrampilan khusus tentang tatacara pengukuran, pemotongan besi, penyambungan besi, dan pengelasan yang benar. Untuk itu kelompok mitra perlu memahami teknik atau tatacara pengelasan sehingga proses produksinya dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

212 2. Peningkatan Teknologi Inovasi Dalam Proses Produksi. Untuk memujudkan teknologi yang tepat guna diperlukan produk memiliki inovasi tinggi. Produk ini mendesain ranjang lipat multiguna, yang langkah-langkahnya yaitu mendesain dengan program komputer, setelah desain selesai baru dilakukan proses produksi. Dalam proses ini diperhatikan tentang estetika dan keamanan pengguna produk.

3. Peningkatan Pengetahuan Manajerial. Keberhasilan sebuah usaha tidak bisa lepas dari manajerial. Karena itu, kelompok mitra wajib memahami cara pengelolaan usahanya, baik dari pengelolaan tenaga kerja, pengelolaan keuangan maupun strategi pemasaran produk.

METODE PENELITIAN

Sebagai solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh bengkel las mitra seperti yang telah diuraikan diatas, maka dapat diterapkan beberapa kegiatan yaitu:

5. Mengadakan dialog melalui kegiatan program FGD (Focuss Group Disscussion) FGD akan dilaksanakan oleh tim pelaksana kegiatan dengan mitra. Tujuan kegiatan FGD adalah untuk mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan, penggalian potensi keterlibatan mitra serta pihak pendukung lainnya untuk mengatasi permasalahan yang ada, serta evaluasi setiap tahapan pelaksanaan kegiatan.

6. Metode pelatihan ketrampilan pengelasan dengan cara praktek langsung.

Pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mitra dalam proses desain produk dan proses produksi. Dalam produksi meliputi pemilihan bahan, pemotongan bahan, penyambungan dan pengelasan.

Pelatihan akan disampaikan oleh nara sumber yang kompeten di bidang ini, antara lain melibatkan akademisi bidang teknik las.

7. Metode desain produk ranjang lipat. Desain produk ranjang lipat yang multi fungsi menggunakan bantuan komputer. Dalam mendesain ini juga memperhatikan fungsi ranjang lipat, estetika, kenyaman dan keamanan dari produk ini.

213 8. Metode membuat ranjang lipat. Dalam pembuatan menggunakan besi kotak ukuran 4 cm x 4 cm. Untuk penyambungan menggunakan baut dan las. Proses produksi menggunakan metode trial dan error. Untuk finishing dilakukan pengecatan agar estetika lebih menarik.

9. Metode pelatihan manajerial (manajemen pengelolaan usaha).

Manajerial mutlak dikuasai owner bengkel agar usahanya bisa berkembang dengan baik. Pelatihan pembukuan keuangan berupa pembukuan praktis yaitu model pembukuan keuangan sederhana yang mudah dipahami. Dengan pembukuan yang baik, maka bengkel las mitra bisa mengontrol posisi keuangan sehingga pemborosan dan kerugian bisa diminimalisir. Selain masalah keuangan, masalah pemasaran juga mutlak dipahami karena tidak ada manfaatnya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kalau tidak bisa memasarkannya. Untuk itu mitra perlu diberi pelatihan teknik-teknik pemasaran praktis sehingga usaha bengkel las bisa memberikan keuntungan yang signifikan dan bisa berkembang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Program kegiatan ini melibatkan mitra workshop bengkel las Manunggal Jaya. Workshop manunggal jaya terletak di Nusukan Banjarsari Surakarta, saat ini bergerak dalam bidang workshop bengkel las. Bengkel las yang dikerjakan berdasarkan pesanan dari konsumen. Pekerjaan yang biasa dilakukan pengerjaan pagar besi, tralis, kanopy dll. Dengan adanya pemberdayaan ini membuat inovasi ranjang lipat untuk tempat tidur yang bisa dibongkar dan pasang. Produk ranjang lipat untuk wilayah Solo dan sekitarnya belum ada yang membuatnya. Dengan adanya produk ini diharapkan menjadi tantangan dalam mendesain maupun memproduksi.

Tantangan yang dihadapi membuat inovasi produk yang selama ini belum dikenal masyarakat. Tantangan ini juga merupakan peluang bisnis usaha yang karena belum ada yang membuatnya. Inovasi produk ini multi fungsi sebagai ranjang lipat sekaligus memperluas ruangan kamar sehingga aktifitas kamar lebih nyaman dan estetika lebih menarik.

214 Untuk membuat desain produk sebelum masuk proses produksi dilakukan penggambaran model dengan bantuan program dikomputer. Pembuatan desain mempertimbangkan peralatan yang ada dibengkel mapun bahan yang tersedia dipasaran. Dalam pembuatan desain ranjang lipat dibagi menjadi 2 bagian antara bagian atas dan bagian bawah. Ranjang bagian atas difungsikan untuk tidur, sedangkan ranjang bagian bawah bisa dilipat menghadap dinding.

Bahan yang digunakan besi berbentuk kotak dengan ukuran 4 cm x 4 cm dengan tebal 1 milimeter. Untuk penyambungan menggunakan pengelasan, dan baut. Sedangkan untuk pengunci dan engsel dibuat dengan cara rekayasa dibengkel las. Pengunci dan engsel sebagai pelipat pada ranjang merupakan bahan yang utama pada produk ini. Pengunci dan engsel samapai saat ini dipasaran belum aja yang menjualnya. Sampai saat ini masih melakukan rekayasa trial dan error untuk membuat pengunci dan engsel. Produk yang sudah jadi masih terkendala pada bagian pengunci dan engsel. Walaupun produk sudah bisa digunakan, tapi belum memuaskan dalam hal kenyamanan. Perbaikan produk masih dilakukan demi kesempurnaan, kenyamanan dan estetikanya.

Pembuatan ranjang lipat telah dilakukan tinggal membuat aplikasi produk nyata. Inovasi ini sebagai salah satu rekayasa bengkel las manunggal jaya dengan pendampingan dari tim UNS.

Gambar rancangan ranjang lipat

215 Gambar ranjang lipat yang sudah jadi

Kegiatan pendampingan dan monitoring dilakukan tim UNS dengan tujuan untuk memantau perkembangan usaha mikro bengkel las dalam pengembangan inovasi setelah diadakan penyuluhan dan pelatihan. Monitoring ini dilakukan bukan hanya pada waktu kegiatan dilaksanakan tapi juga dilaksanakan pasca kegiatan. Sejauh mana para mitra bisa mengembangakan usaha las dengan baik dengan inovasai produk baru yang pada akhirnya menambah penghasilan dari hasil bengkel las.

Dengan dijadikannya warga masyarakat sebagai sasaran utama dalam program ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai motor penggerak bagi masyarakat lainnya yang belum bisa mengikuti kegitan ini untuk mengembangkan produk-produk inovasi dari pengelasan sebagai solusi untuk membuat usaha sendiri, sehingga dapat menambah penghasilan. Dalam usaha/workshop las dapat mendukung ekonomi kreatif yang belum banyak yang melakukannya.

KESIMPULAN

Kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat ini diharapkan akan memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan kelompok usaha las mitra.

Peralatan yang dihibahkan semoga dapat dimanfaatkan secara optimal. Sosialisasi dan pelatihan yang telah dilakukan semoga dapat diterima dengan baik oleh mitra dan diterapkan dalam proses produksi perusahaan mereka. Sosialisasi tentang informasi perkembangan terkini bahan dan desain produk akan terus disalurkan

216 dari dunia pendidikan (kampus) kepada pengusaha (mitra) dimasa-masa selanjutnya meskipun kegiatan telah selesai dilaksanakan. Karena sejatinya, hasil pemikiran akademisi tidak akan bermanfaat jika hanya berhenti sebagai laporan di atas kertas tanpa diaplikasikan kepada masyarakat.

UCAPAN TERIMAKASIH

Tim Pelaksana mengucapkan terima kasih kepada LPPM UNS atas terlaksananya kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan IbM tahun anggaran 2014.

DAFTAR PUSTAKA

Amstead, B.H., Ostwald, P. F., and Begeman, M. L. (1978). ”Manufacturing Prosesses”. New York, USA: John Wiley and Sons.

Cary, H.B. (1998) ”Modern Welding Technology”, 4th edition, New Jersey, USA:

Prentice Hall.

Didik Suryana dan Djaindar Sidabutar, (1978). ”Petunjuk Praktek Las Asitelin dan Las Listrik 1”, Jakarta: Depdikbud.

Kenyon, W. dan Ginting, D. (1985). ”Dasar-dasar Pengelasan”. Jakarta:

Erlangga.

Messler, R. W., (1999). ”Principle of Welding”. New York, USA: John Wiley  Sons Inc.

M Suparno Sastra, 2007, 12 Jam Belajar Autocad 2007, Yogyakarta: Andi Offset Ostwald, P. F., and Muñoz, J. (1997). ”Manufacturing Processes and Systems”,

9th edition, New York, USA: John Wiley  Sons.

Rossi, B. E., (1954). ”Welding Engineering”. New York USA: McGraw-Hill Book Company, Inc.

Soedarti Surbakti. (2002). Keadaan pekerja/buruh/karyawan di Indonesia Agustus 2002. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Suhardi, A. C. (2000). ”Teknologi Proses Pengelasan dan Peralatannya”.

Jakarta: Balai Besar Pengembangan Industri Bahan dan Barang Teknik.

217 Suharno. (2004). ”Pengaruh Kecepatan Las pada Proses Pengelasan SAW pada Baja Karbon Rendah terhadap Struktur Mikro Logam Las”. Yogyakarta:

Prosiding Seminar Nasional UGM.

. (2009). ”Pengelasan Logam”. Surakarta: UNS Press.

Surdia, T. dan Shinroku, S. (1987), ”Pengetahuan Bahan Teknik”. Jakarta: PT.

Pradya Paramita.

Wiryosumarto, H., dan Okumura, T. ”Teknologi Pengelasan Logam”. edisi 8, Jakarta: Pradnya Paramita.

http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Ruang-tidur/Artikel/Tempat-Tidur-Susun-pun- Menjadi-Solusi

218 Koperasi Sebagai Centre of economic Bagi Peningkatan Daya Saing Klaster

Paguyuban Tenun Troso Jepara Mamik Indaryani dan Kertati Sumekar

Universitas Muria Kudus

Kampus Gondangmanis, Bae, Kudus, Jawa Tengah Email : [email protected]

Abstraks

Penelitian ini dilakukan menggunakan skim MP3EI, Karena Kerajinan Tenun termasuk industri kreatif yang memiliki potensi untuk percepatan pengembangan ekonomi wilayah dan pengembangan koridor Jawa. Upaya peningkatan daya saing potensi unggulan daerah sedang dan terus digalakkan, khususnya bagi 34 anggota koperasi paguyuban pengusaha tenun Troso di Kabupaten Jepara. Pendekatan klaster dinamis digunakan untuk mengindentifikasi potensi dan permasalahan serta solusinya terhadap faktor kompetitif koperasi, yaitu pemasok, konsumen, pemain baru kerajinan tenun troso serta industri pendukung. Kunci membangun daya saing adalah kesediaan untuk berubah bukan hanya pelaku usaha, tetapi juga perspektif terhadap masalah oleh para stakeholder yang terkait. Proses perubahan memerlukan partisipasi aktif para pelaku usaha dalam kelompok, pendamping dan memerlukan media, untuk berinteraksi. Sesuai dengan semangatnya maka koperasi (UU No 14 /1997) adalah lembaga ekonomi rakyat yang relevan menjadi centre of economic, media interaksi antar anggota untuk kemajuan bersama.Pengumpulan data menggunakan FGD, indepth interview dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan perilaku anggota koperasi dari aktivitas yang bersifat individu, menjadi berbasis kelompok. Indikatornya adalah kerjasama, jejaring yang terbangun, program koperasi dan revitalisasi kelembagaan untuk menjawab kebutuhan anggota, proses produksi, pameran dan promosi bersama (liflet dan kartu nama atas nama Koperasi), serta keterlibatan anggota secara menyeluruh.

Kata kunci : centre of economic, daya saing, koperasi, klaster.

PENDAHULUAN

Troso adalah nama desa yang digunakan menjadi nama kerajinan Tenun sebagai industri kerajinan tenun di Kabupaten Jepara yang terus eksis dalam

219 pemasaran dan persaingan. Kerajinan Tenun Troso, merupakan industri berbasis masyarakat dan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) seperti tenun di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Sekalipun ATBM yang ada di seluruh Indonesia untuk memproduksi tenun seperti padang, NTB, Bali dan laini- lain tetapi yang dimiliki oleh Troso memiliki berbagai keistimewaan yang menghasilkan kain tenun khas dengan berbagai kelebihan dari tenun ikat didaerah-lain di Indonesia bahkan diberbagai negara seperti Thailand dan Malaysia yang memiliki kerajinan tenun serupa. Tenun Troso merupakan potensi lokal yang perlu terus didorong agar dapat meningkatkan daya saingnya dalam era pasar bebas saat ini yang mengharuskan adanya standar-standar dan persyaratan lainnya agar dapat diterima dan unggul dalam persaingan pasar bebas. Pendekatan klaster dinamis dianggap memiliki banyak keunggulan karena dapat mengidentifikasi faktor kompetitifnya terkait, industri pendukung dan dengan industri lainnya dalam rantai industri dari hulu sampai hilir. Selain berbasis klaster juga didorong untuk meningkatkan kerjasama industri sejenis menggunakan media Koperasi. Khususnya untuk industri berbahan tekstil termasuk kerajinan tenun masih beroperasi secara individu, dengan skala mulai rumahan (gurem), mikro, kecil dan menengah yang biasanya dikelompokkan kedalam usaha berbasis UMKM. Oleh karenanya sekalipun memiliki kekhasan, inovatif dan memiliki keunggulan-keunggulan tetapi belum dapat bersaing dipasar yang lebih luas dengan tersistem dan berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena kekuatan tawar mereka belum terpusat sehingga diantara mereka sendiri justru saling bersaing.

Koperasi, selama ini belum memberikan dampak secara signifikan bagi usaha para anggotanya. Koperasi diharapkan sebagai pusat kegiatan ekonomi (centre of economic) bagi anggota nya maupun sebagai media pengembangan klaster sebagai pendekatan yang komprehensif yang sangat berguna untuk menggerakkan fungsi klaster secara dinamis bagi peningkatan daya saing pada setiap rantai, baik ketersediaan bahan baku, produksi, jaringan pasar dan pemasarannya baik industri sejenis, terkait dan pendukung. Sebanyak 34 pengusaha tenun Troso secara formal masih tergabung menjadi anggota Koperasi yang didirikan sejak tahun 2009. Berbadan Hukum

220 No.518/192/BH/XIV.10/IV/2008. Iuaran pokok anggota sebesar Rp. 750.000,- simpanan wajib Rp. 10.000,- setiap bulan tidak teradministrasi dengan baik.

Koperasi sudah tidak beraktivitas sejak ketuanya meninggal dunia pada tahun 2011. Rapat anggota tahunan (RAT) tidak terlaksana dengan baik karena teknis koordinasi dengan Dinas terkait sebagai pembina. Banyak faktor yang menjadi kendala antara lain dari perspektif stakeholder dalam mendefinisikan UMKM dan karakteristiknya, yang cenderung menyamakan permasalahan yang dihadapi oleh pelaku usaha. Sehingga solusinya cenderung sama, untuk berbagai usaha/industri berbasis UMKM. Dalam hal ini sekalipun UMKM memiliki masalah dasar yang sama, tetapi ketika sudah masuk pada jenis /bidang produksi maka permasalahan tidak lagi dapat dianggap sama. Stakeholder tidak melihat dari sisi pelaku usaha karena sudah terikat pada tujuan dan target program /proyek yang dibawanya.

Pada akhirnya hanya memposisikan UMKM sebagai sasaran program atau proyek saja. Dari sisi pelaku usaha, keterbatasan pengetahuan yang dimiliki menyebabkan hanya mengakui uang sebagai modal yang terpenting dan paling dibutuhkan. Oleh karena itu perlu pendampingan untuk dapat mengenali kelemahan diri dan usahanya agar tidak hanya mengandalkan uang sebagai kunci keberhasilan usaha.

Pada dasarnya hasil berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan permasalahan ada pada sumberdaya manusia, secara komprehensif. Hal ini sangat dapat dipahami karena sejarah usaha berskala UMKM di Indonesia pada umumnya memiliki latar belakang karena keterpaksaan karena kondisi dan realitas masyarakat yang harus bertahan hidup, dan kemudahannya untuk memasuki karena tidak memerlukan teknologi tinggi, modal uang, dan fleksibel dalam arti dapat berganti usaha kapan saja ketika tidak memiliki prospek atau pengaruh faktor lain. Dalam hal ini bagi pemerintah kelebihan UMKM justru menguntungkan karena dapat menjadi katub pengaman bagi permasalahan pengangguran dan kemiskinan. Koperasi sesuai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia No 25 Tahun 1992 merupakan Kelembagaan ekonomi masyarakat yang diyakini memiliki semangat yang cocok dengan karakteristik bangsa Indonesia dalam berusaha berbasis kerjasama dan gotong royong, bahkan dalam Pasal 33 UUD RI 1945 menjadi sokok guru perekonomian Indonesia dalam

Dalam dokumen Prosiding - psp-kumkm (Halaman 177-200)

Dokumen terkait