Penyusun : National Coordinating Body (NCB) MFF Indonesia Kontributor : National Coordinating Body (NCB) MFF Indonesia Design and layout : Dudy Nugroho. Seminar Nasional “Adaptasi Pengelolaan Pesisir Berkelanjutan; Perbaikan dan Rehabilitasi Kerusakan Pantai Utara Jawa”, dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 di Hotel Novotel, Jl. Seminar Nasional ini telah direncanakan oleh National Coordinating Body (NCB) Indonesia sejak Oktober 2011 dan masuk dalam Annual Work Plan (AWP) 2012 dalam program kegiatan Mangrove For the Future (MFF) 2012.
Dalam realisasinya seminar ini dapat berkembang dengan baik dengan kerjasama berbagai pihak seperti di tingkat nasional dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Bappena dan juga dengan rekan kerja. mulai dari tingkat provinsi dan kabupaten. Seminar Nasional Mangrove dihadiri oleh 126 peserta yang berasal dari berbagai pihak yang mewakili unsur: Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional/Nasional/Lokal, Organisasi/Kelompok Masyarakat, Lembaga Pendidikan dan Pihak Swasta. Laporan ini merangkum pelaksanaan kegiatan dan hasil Seminar Nasional, dengan harapan informasi tersebut dapat diketahui oleh berbagai kalangan, khususnya pemangku kepentingan, sehingga dapat memperoleh manfaat positif dan berperan aktif dalam Upaya Pengelolaan Pesisir Berkelanjutan. Daerah.
Tim persiapan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bappenas, KKP, Kementerian Pekerjaan Umum dan UNDP Indonesia yang telah mendukung kegiatan ini dengan mempersiapkan dan menyelenggarakan kegiatan seminar yang berjalan sukses. Seluruh anggota NCB Indonesia (Bappenas, KKP, KLH, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Lahan Basah Indonesia, LPP Mangrove, Prof. Sukristijono sebagai pakar mangrove).
Sekilas Tentang Seminar Nasional a. Tema Seminar Nasional
Kedua, jika tidak berhasil sampai Anda menanam bakau, coba gunakan pemecah gelombang. Sejalan dengan upaya tersebut di atas, perlu adanya upaya pengembangan kelembagaan pengelolaan wilayah pesisir baik di pusat maupun daerah, yang melibatkan pemangku kepentingan terkait melalui kerja sama dan perencanaan yang komprehensif. Masing-masing pihak harus memahami tujuan pengelolaan wilayah pesisir terpadu dan mempertimbangkan keberadaan masyarakat lokal yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap wilayah pesisir dan laut.
Membuat data dasar mengenai kegiatan yang telah dan akan dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait penanganan Pantai Utara Jawa. Matriks informasi data dasar status dan penyebab kerusakan pantai Jawa serta kegiatan yang telah dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Seminar Nasional ini memadukan pemaparan pleno oleh kementerian terkait dan kajian permasalahan oleh para ahli yang memiliki hasil penelitian mengenai keadaan wilayah pesisir dan kemudian membawa hasil pleno tersebut ke dalam diskusi kelompok.
Pakar: Pemetaan Keadaan dan Kerusakan Wilayah Pesisir Pantai Pantura Jawa, Studi Kasus di Jawa Tengah. Kemendagri: Peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (RKWG) dalam mendorong promosi pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan.
Makalah Seminar Nasional Arahan Seminar Nasional
Agenda Seminar Nasional
Universitas Diponegoro) Peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) dalam mendorong percepatan pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan. Pengantar diskusi kelompok Kementerian Kelautan dan Perikanan. a) Struktur lunak untuk pemulihan pantai.
Penyebab stres lokal: Faktor manusia, misalnya bangunan pantai untuk kebutuhan atau tindakan keselamatan tertentu, mempunyai dampak negatif terhadap garis pantai. UU No. 27/2007 Struktur pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil – ada kawasan lindung dan kawasan pemanfaatan umum. Penetapan lokasi prioritas yang akan ditangani dalam 5 tahun ke depan, misalnya Demak dan Karawang; bagaimana dengan pembagian anggaran masing-masing K/L.
Menciptakan kebijakan yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama (lintas sektoral) sehingga dampak kerusakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat diminimalisir, terutama untuk melindungi garis pantai. Mangrove vs kawasan mangrove vs hutan mangrove : masih terdapat perbedaan luas hutan mangrove, belum ada data pastinya. Institusi Mangrove yang ada: Pusat Pengelolaan Mangrove (Area 1/Barat di Medan dan 2/Timur - Denpasar) di bawah Kementerian Kehutanan; KKMN; KKMD.
Implementasi: penyediaan data dan informasi sejak tahun 2006 namun masih terdapat kesenjangan metodologi; PP 76 dan PP 38 memiliki hierarki perencanaan pengelolaan mangrove: (1) Rencana Teknis RHL. Perlindungan kualitas laut (kriteria baku kerusakan lingkungan): terumbu karang, kualitas air laut, padang lamun dan mangrove. Kebijakan: tidak melakukan investasi baru di daerah rawan bencana; tidak melakukan apa pun pada situs yang rusak dan tidak ada hal penting yang perlu dilindungi; relokasi penduduk dari segi ekonomi menimbulkan kerugian, memerlukan koordinasi; membangun bangunan pantai;
Tujuan perlindungan pantai: abrasi, perampokan, stabilitas muara untuk mendukung lalu lintas navigasi, mendukung revitalisasi kawasan pantai, yang dilakukan secara sinergi dengan sektor lain. PP No. 42/2008 Pengelolaan sumber daya alam: proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, pengendalian daya rusak air (pencegahan, respon dan pemulihan). Latar belakang dibentuknya KKMN dibentuk pada tahun 2006 sebagai salah satu upaya memperkuat koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar sektor/lembaga dalam pengelolaan.
Peran KKMD dalam pemajuan RHL Mangrove: sinkronisasi rencana tata ruang dan pembangunan menjadi tantangan bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Permasalahannya juga tidak terintegrasinya prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam penataan ruang dan rencana pembangunan: saling ketergantungan, keseimbangan aspek sosial budaya, dan keadilan antar generasi dan kelompok tertentu.
Diskusi
Notulensi Hasil Diskusi Kelompok
- KELEMBAGAAN
Kita butuh ganti rugi dalam hal ini dari BUMN (Pelindo) [pembuatan groin, jalur pantai, seperti di Jakarta - yaitu pembuatan pemecah gelombang. Pantura sebaiknya dikelola bersama-sama, selama ini masing-masing daerah mempunyai visi pembangunan yang berbeda-beda. Ada forum untuk setiap instansi yang berkepentingan di dalamnya. kkmns, kkmnd) ---- belum bisa maksimal karena belum bisa bersinergi dan terkoordinasi dengan baik.
Rekomendasi: mengundang seluruh pihak yang terkait dengan pesisir (perusahaan) yang nantinya akan diarahkan ke pesisir melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Peta rinci yang akan dihasilkan oleh BIG harus dibagikan kepada sektor swasta, pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait. Apakah ada penelitian tambahan untuk menyelesaikan masalah yang hanya memberi desain saja dan tidak mempertimbangkan dampaknya.
Ketika harus menentukan desain tanpa melihat dampak yang akan terjadi, maka diperlukan tenaga ahli yang menentukan desain agar tepat sasaran. Rekomendasi: Semua aturan yang dibuat di daerah harus dibuat oleh orang-orang yang mengerti dan tahu tentang kondisi mangrove dan pesisir (saat membuat kebijakan, masyarakat sangat perlu mengerti/ahli dan tahu). Rekomendasi wilayah hulu diperuntukkan bagi bupati yang belum memiliki pantai sehingga masih perlu membantu menentukannya.