Prosiding SKIM XIV 2015 merupakan kompilasi artikel penyelidikan yang dibentangkan dalam SKIM XIV 2015. Kepada AJK yang pada kali ini berjaya menerbitkan Prosiding SKIM XIV 2015, kami ucapkan selamat sejahtera dan tahniah atas usaha murni ini.
Ancaman Homogenisasi Budaya Global terhadap Identitas Kultural: Kasus Indonesia
Oleh karena itu, di era kontemporer saat ini, revitalisasi identitas budaya Indonesia merupakan sebuah langkah penting dan mendesak. Akibatnya, banyak masyarakat yang langsung menyerap nilai-nilai identitas budaya asing tanpa melihat dampaknya terhadap jati diri bangsa.
Membina Intelektual Remaja Dalam Drama
Gelanggang Tuk Wali” Dari Perspektif i-Think
Pada tahun 2009, "Gelanggang Tuk Wali" telah diterbitkan dalam jurnal Kesusasteraan Melayu, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh Prof. Kenyataan itu jelas menunjukkan drama “Gelanggang Tuk Wali” menjadi pilihan dan keutamaan penggiat teater untuk pementasan.
Kreativiti Dalam Senjata Rahsia Tamadun Melayu
Senjata ini adalah senjata yang berbahaya kerana ia mudah disembunyikan dalam gulungan kain, di dalam poket tat yang terletak di belakang tapak tangan. Segala-galanya tentang senjata ini boleh dirujuk kepada Mohd Zainudin & Mohd Shahrim (2007) dan juga Shahrum (1967).
Cerita Dari Tepi Sungai Nipah: Terorisme Negara Orde Baru Soeharto dalam Sebuah Novel Fiksi
Novel ini mengambil latar belakang keluarga terpandang pemilik perkebunan tebu di desa Sangir, yaitu keluarga Karyo Petir. Dyah Merta menggambarkan, praktik pembangunan yang diperkenalkan pada masa Orde Baru menjadi lipstik yang memikat masyarakat Desa Sangir.
Pengucapan Patriotisma Dharmawijaya dan Subagio Sastrowardojo: Sebagai Satu Karya Perbandingan
- kedua-dua unsur ini berjaya menzahirkan semangat patriotisme Subagio iaitu rakyat berjuang untuk menaikkan darjat dan menyelamatkan maruah negara sendiri. Tetapi kesedaran yang lebih mendalam muncul dalam puisi ini, melupakan penyair dengan pisau dan tali, melupakan bunuh diri dan kembali memperjuangkan nasib bangsa di tanah air sendiri. Kampung Talang" dan rasa tanggungjawabnya membela nasib petani yang banyak berjasa dan digambarkan dalam "Cinta Sayang di Sawah Ladang", juga terdapat dalam puisi Dharmawijaya "Tanah Airku" yang penuh ghairah, jelas. menunjukkan semangat patriotiknya terhadap tanah air tercinta;
Fasa ketiga lagu Tanah Airku menyeru anak bangsa menggunakan tiket kemerdekaan untuk bangkit dan bekerja keras mengubah cara hidup. Begitulah sikap dan pemikiran Dharmawijaya, jelas patriotismenya terhadap tanah air tercinta, kental hatinya sehingga bersenandung tentang petani, membela nasib mereka yang banyak berjasa dalam hidupnya. Ini selari dengan generasi penyair tahun 1960-an di Malaysia dan Indonesia yang ternyata tidak banyak bezanya dalam menzahirkan rasa cinta kepada negara.
Eufemisme Pengurusan Jenazah Masyarakat Melayu Sarawak: Analisis Semantik Kognitif
Salehuddin bagaimanapun menyatakan bahawa skema imej lebih menekankan imej yang diperoleh seseorang melalui pengalamannya. Berdasarkan data eufemisme kematian bagi subjek pengendalian mayat dalam MMS yang kami fokuskan, didapati terdapat beberapa skema imej yang boleh dikaitkan dengan reka bentuk kiasan ini. Perwakilan bergambar yang sesuai bagi mekanisme kognitif ini ialah perwakilan bergambar berskala penuh seperti yang ditunjukkan dalam Rajah 1.
Berdasarkan skema gambar dalam Rajah 2, TR (mayat) dibawa dari TT1 (rumah kediaman) ke TT2 (tanah perkuburan) untuk tujuan pengebumian. Pada asasnya, skema imej terdahulu mempunyai struktur sempadan yang memisahkan bahagian dalam dengan luaran (Lakoff 1987). Pemeriksaan data (3) hingga (5) di bawah menunjukkan skema imej Beka mempunyai makna bagi eufemisme bumi, berkubur dan berkubur.
Politeness’ Gradation In Sundanesse’s School Books Elementary In Bandung West Java-Indonesia
Penggunaan kata 'Keur' (melakukan sesuatu/untuk) Penggunaan kata 'Keur' dirumuskan pada tabel berikut. Penggunaan kata 'anjeun' dalam buku teks bahasa Sunda kelas 1, 2, 3, dan 5 sangat tidak lazim dan dapat dilihat pada tabel berikut. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kata ‘anjeun’ jarang digunakan dalam buku teks bahasa Sunda kelas 1, 2, 3, dan 5.
Melalui tabel 3.4 di atas dapat dikemukakan bahwa penggunaan kata ‘alus’ mengalami distribusi yang tidak merata. Kata 'mere' (memberi/memberi) sangat sering digunakan pada kelas 3 yaitu sebanyak (F=24), namun tidak sering pada kelas 1 (hanya muncul sebanyak F=4). Melalui tabel 3.7 diatas dapat diketahui bahwa penggunaan kata ‘indit’ paling banyak digunakan pada kelas 2, sedangkan kelas 1 menggunakan kata lebih sedikit.
Analisis Kompetensi Pegawai Pusat Pengembangan Strategi Dan Diplomasi Kebahasaan Di Kementerian
Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia
Fokus penelitian ini adalah pada Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Bahasa Badan Pengembangan dan Pengembangan Bahasa sebagai unit yang baru dibentuk, dengan menganalisis dan menyusun rumusan kompetensi manajemen untuk menentukan kebutuhan kompetensi manajemen pada setiap pekerjaan yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan kompetensi manajemen. dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan pegawai berbasis kompetensi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan penekanan pada kajian kebutuhan kompetensi pegawai pada Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Bahasa, Badan Pengembangan dan Pengembangan Bahasa MŠŠ. Hasil evaluasi panel ahli terhadap persyaratan kompetensi minimum jabatan struktural pada Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Bahasa kemudian dirangkum dalam bentuk tabel persyaratan kompetensi jabatan sebagai berikut.
Dari tabel di atas terlihat adanya perbedaan tingkat kebutuhan kompetensi masing-masing jabatan struktural di lingkungan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Linguistik, kecuali kepala Pengembangan Strategi Bahasa dan Kepala Departemen. untuk Linguistik. Diplomasi. Sama halnya dengan bidang sebelumnya, terdapat perbedaan persyaratan kompetensi antara satu jabatan dengan jabatan lainnya. Berdasarkan analisis kebutuhan kompetensi pegawai di lingkungan Center for Strategy Development and Linguistic Diplomacy, diperoleh hasil sebagai berikut.
Peran organisasi masyarakat Mathla’ul Anwar dalam Mencerdaskan Bangsa dan menghadapi Komunitas
Masyarakat ASEAN
Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahannya. Pertama, bagaimana peran organisasi kemasyarakatan Mathla'ul Anwar dalam mencerdaskan bangsa. Kedua, sebagai organisasi kemasyarakatan yang masih bertahan, bagaimana kesiapan Mathla'ul Anwar menghadapi masyarakat ASEAN? Sebagai organisasi masyarakat berbasis Islam, Mathla'ul Anwar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam di tengah perubahan dunia.
Kalau pemimpin Mathla'ul Anwar mengklaim pada tahun 1986 terdapat 6 ribu lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Justru melalui integrasi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, Mathla'ul Anwar ingin menciptakan keunggulan. Yang harus dilakukan Mathla'ul Anwar adalah terus meningkatkan mutu pendidikannya (continuous Improvement).
Leksikon Makanan dan Minuman di Tiga Desa Berbahasa Sunda dan Melayu di
Perbatasan Bogor-Bekasi
Daftar Nama Makanan dan Minuman yang Ditanyakan
Ngaran-ngaran kadaharan jeung inuman nu aya di Désa Ciangsana, Désa Jatisari jeung Désa Jayamulya dina observatorium basa Sunda. Glosarium titik observasi jeung data Sunda Ciangsana Jatisari Jayamulya 1 107 endog asin ´əndog ´asin əndog ´asin əndog ´asin. Ngaran-ngaran kadaharan jeung inuman nu aya di Désa Ciangsana, Désa Jatisari jeung Désa Jayamulya di observatorium berbahasa Melayu.
Leksikon makanan dan minuman yang diuraikan di atas hanya menunjukkan kepemilikan masing-masing isolek Sunda dan Melayu di tiga desa pengamatan. Namun sebenarnya ada leksikon makanan dan minuman yang dimiliki oleh orang Sunda dan Melayu. Tentu saja penyebarannya dimulai secara geografis, yaitu terjadi dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lainnya.
Multimodaliti Dalam Akhbar Dalam Talian: Analisis Persembahan Slaid Isu Pelarian Rohingya
Data itu diambil daripada paparan empat organisasi berita antarabangsa iaitu laman web Reuters UK Edition, laman web organisasi berita SFGate dan Wall Street Journal dan Hindustan Times mengenai isu pelarian Rohingya. Panjang kapsyen juga tidak berkaitan dengan sama ada tayangan slaid itu disertakan dengan artikel berita. Selain itu, tayangan slaid daripada SFGate juga memfokuskan kepada aktiviti dan tindakan yang melibatkan topik tersebut.
Sebagai contoh, imej kelima dalam tayangan slaid Wall Street Journal menamakan subjek secara khusus sebagai sumber berita. Beberapa kesimpulan boleh dibuat daripada analisis imej dan kapsyen dalam tayangan slaid sebagai teks berita yang unik dan tersendiri. Keempat, kehadiran sepanduk pengarang dilihat sebagai satu aspek yang mempengaruhi penghasilan persembahan slaid (dan kapsyen).
Belajar Dari Malaysia: Pemertahanan Budaya Lisan Melalui Teknologi Animasi
Terinspirasi dari film 'Di Zaman Tua', animator Tanah Air membuat film serupa berjudul 'Kartun Anak - Kancil yang Pintar'. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan bagian-bagian yang membuat film animasi “Pada Zaman Dahulu” lebih menarik dibandingkan “Kartun Anak – Si Kancil yang Cerdas.” Beberapa foto juga ditampilkan untuk menggambarkan perbedaan penyajian antara film animasi “Di Zaman Tua” dan “Kartun Anak – Kancil yang Pintar”.
Dalam film “Kartun Anak – Kancil Pintar” tokoh Kancil direpresentasikan secara berbeda-beda, seperti pada kutipan berikut. 34;Ya, baiklah, saya akan segera melakukannya. Dalam film "Kancil Mengira Buaya" si Kancil meloncat sambil mengucapkan bait puisi Melayu, "Satu, karena, tige, leko. Dalam film animasi "Kartun Anak - Si Kancil Pintar" tidak ada tokoh anak sehingga anak-anak sebagai penontonnya tidak terlibat langsung dalam cerita tersebut.
Pengaruh Dialek Melayu Patani Dalam Pengajaran Bahasa Melayu Baku Di Selatan Thailand
Satu Kajian Kes
Pengaruh Perubahan Fonem Vokal di Akhir Kata
Pertama, vokal akhir /ɛ/ ditemui dalam perubahan bunyi __an#, __am# dan __aŋ# dalam Bahasa Melayu Standard. Kedua, pengaruh perubahan fonem vokal /a/ di akhir kata terdapat pada perubahan bunyi __ay#, __aw#, __al# dan __ar# dalam bahasa Melayu. Keempat, perubahan fonem vokal /o/ di akhir kata terdapat pada perubahan bunyi vokal __ur# dan __ul# dalam bahasa Melayu.
Terdapat 3 contoh perkataan yang digunakan oleh dua orang guru bahasa Melayu iaitu guru pertama dan guru kedua. Kelima, perubahan fonem vokal /u/ pada akhir kata terdapat pada perubahan bunyi vokal __aw# dalam bahasa Melayu baku. Akhir sekali, perubahan fonem vokal /e/ pada akhir kata dalam dialek Melayu Patani terdapat pada perubahan bunyi vokal __il# dan bunyi __ir# dalam bahasa Melayu baku.
Pengaruh Perubahan Fonem Konsonan pada Suku Kata Praakhir
Ketiga, perubahan fonem vokal /ɔ/ pada akhir kata dalam dialek Melayu Patani terdapat pada perubahan vokal __a#, __ol# dan __or#. Dua orang guru hanya menggunakan 2 perkataan iaitu guru ketujuh dan guru kelapan. Contoh pengaruh diambil daripada 8 orang guru Melayu yang diperhatikan atau diperhatikan.
Pengkaji mendapati 26 contoh perubahan perkataan aspek ini digunakan oleh guru Montenegrin semasa proses pengajaran di dalam bilik darjah. Proses penggabungjalinan dua bunyi konsonan dialek Melayu Patani juga telah wujud dalam pengajaran guru bahasa Melayu yang dipelajari. Pengkaji mendapati bahawa empat perkataan perubahan aspek ini digunakan oleh guru Montenegrin dalam pengajaran mereka.
Pengaruh Perubahan Fonem Konsonan di Akhir Kata
Pengkaji mendapati 12 contoh perkataan bagi perubahan aspek ini digunakan oleh guru Bahasa Melayu dalam pengajaran bilik darjah. Manakala aspek-aspek lain seperti perubahan bunyi fonem vokal /o/, /u/ dan /e/ pada akhir perkataan tidak banyak mempengaruhi guru Bahasa Melayu dalam pengajaran bilik darjah mereka. Menghapuskan fonem konsonan terhalang /d/, /b/ dan /g/ dalam suku kata terakhir adalah aspek utama yang digunakan oleh guru Bahasa Melayu dalam pengajaran bilik darjah.
Diikuti dengan aspek penyingkiran fonem konsonan nasal obstruent /ŋ/, /m/ dan /n/ dalam suku kata praakhir sebagai aspek kedua yang mempengaruhi guru Bahasa Melayu dalam pengajaran mereka. Manakala penyingkiran bunyi fonem trill /r/ dan konsonan sisi /l/ pada akhir perkataan merupakan aspek mudah yang digunakan oleh guru Malaysia dalam pengajaran bilik darjah. Berdasarkan kajian yang dijalankan, penulis mendapati pengaruh dialek Patani-Melayu terhadap pengajaran guru bahasa Melayu di dalam bilik darjah.
Penambahan Konsonan Nasal Pada Akhir Kata Dalam Dialek Melayu Patani
Salah satu perbezaan yang akan dibincangkan dalam artikel ini ialah perubahan kedudukan akhir perkataan tertentu iaitu proses penambahan konsonan sengau. Walaupun kajian telah dilakukan terhadap penambahan konsonan nasal pada akhir perkataan, kajian beliau tidak menjelaskan motivasi linguistik yang menyebabkan gejala ini berlaku. Kajian ini cuba menyelesaikan masalah fonologi ini iaitu penambahan konsonan nasal di hujung perkataan.
Konsonan nasal ŋ tidak boleh dihurufkan menjadi koda oleh rumus binaan koda, kerana konsonan nasal tidak homogen dengan konsonan terhalang berikut. Sekatan ini merupakan sekatan bahasa Melayu yang mensyaratkan konsonan sengau yang menjadi koda suku kata mestilah homorganik dengan obstruen yang menjadi permulaan suku kata seterusnya. Oleh kerana konsonan sengau bukan suku kata tambahan, tidak ada motivasi untuk menggalakkan pelaksanaan formula epentesis.