• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Nama Makanan dan Minuman yang Ditanyakan

Dalam dokumen prosiding (Halaman 145-154)

Perbatasan Bogor-Bekasi

Tebel 1 Daftar Nama Makanan dan Minuman yang Ditanyakan

NO. GLOS NO. GLOS

1 105 nasi 9 108d wajik

2 105a bubur tepung 10 108e lemper

3 106 gado-gado 11 108f serabi

4 107 telur asin 12 108g serundeng

5 108 kerupuk 13 109 tapai

6 108a rengginang 14 110 ketimus

7 108b rempeyek 15 111 cincau

8 108c kue seroja 16 112 sirup

Penomoran glos diakukan secara berurutan dan alfabetis. Nomor glos pada nama makanan dan minuman di atas menunjukkan urutan ke sekian dalam instrumen yang dibuat. Data yang dipakai dan dianalsis dalam makalah ini merupakan sebagian kecil data yang diperoleh di lapangan untuk keperluan penelitian disertasi penulis, yang belum dipublikasikan.

129 Simposium Kebudayaan Dan Kerjasama Indonesia–Malaysia 2015 (SKIM XIV 2015) 25 - 27 November 2015, The Everly Hotel, Putrajaya, MALAYSIA

Nama Makanan dan Minuman di Desa Ciangsana, Desa Jatisari, dan Desa Jayamulya pada Titik Pengamatan yang Berbahasa Sunda

a. Leksikon Sama

Dari hasil pengamatan terhadap leksikon yang mencerminkan enam belas glos, ditemukan leksikon sama atau tanpa variasi pada sembilan glos, yaitu glos 107, 108, 108a, 108c, 108c, 109, 110, 111, dan 112. Data yang

menunjukkan hal itu dapat diamati pada tabel berikut.

Tabel 2 Leksikon Tanpa Variasi di Tiga Desa pada Titik Pengamatan Berbahasa Sunda

No. Glos Titik Pengamatan dan Data Bahasa Sunda Ciangsana Jatisari Jayamulya 1 107 telur asin ´əndog ´asin əndog ´asin əndog ´asin

2 108 kerupuk kurupuk kurupuk kurupuk

3 108a rengginang raŋginaŋ raŋginaŋ raŋginaŋ

4 108c kue seroja kəmbaŋ goyaŋ kəmbaŋ goyaŋ kəmbaŋ goyaŋ

5 108d wajik wajit wajit wajit

6 109 tapai pöyöm pöyöm pöyöm

7 110 ketimus katimus katimus katimus

8 111 cincau ciŋcaw ciŋcaw ciŋcaw

9 112 sirup sirop sirop sirop

Dari data di atas, leksikon yang tidak mengenal variasi adalah (1) əndog

´asin, (2) kurupuk, (3) raŋginaŋ, (4) kəmbaŋ goyaŋ, (5) wajit, (6) pöyöm, (7) katimus, (8) ciŋcaw, dan (9) sirop. Kesembilan leksikon dari sembilan glos tersebut tidak memiliki variasi. Ini berarti kesembilan leksikon tersebut tidak mengalami perubahan di tiga titik pengamatan. Artinya, kesembilan leksikon mememilki retensi yang kuat dan konvergensi yang kuat. Ketiga desa tersebut untuk kesembilan leksikon tersebut menunjukkan satu kesatuan isolek.

b. Leksikon Bervariasi

Di atas telah dipaparkan sembilan dari enam belas glos menunjukkan leksikon yang sama. Sisanya, yaitu tujuh glos menampilkan leksikon yang bervariasi. Ketujuh glos tersebut adalah glos105, 105a, 106, 108b, 108e, 108f, dan 108g.

Tabel 3 Leksikon Bervariasi di Tiga Desa pada Titik Pengamatan yang Berbahasa Sunda

No. Glos Titik Pengamatan dan Data Bahasa Sunda

Ciangsana Jatisari Jayamulya

1 105 nasi kєjo´ saŋu´ saŋu´

2 105a bubur tepung bubur tipuŋ bubur tipuŋ bubur sumsum

3 106 gado-gado bacєtrok lotєk lotєk

4 108b rempeyek tampєyєk pєyє´ tampєyє´

5 108e lemper ləmpər, kєjo’ buŋkus

saŋu´ buŋkus buras

6 108f serabi sarabi´ surabi´ sorabi´

7 108g serundeng bubuk kalapa´ sambəl bubuk bumbu´ kalapa´

Dari data di atas, leksikon yang memiliki variasi adalah (1) kєjo´ dan saŋu´, (2) bubur tipuŋ dan bubur sumsum , (3) bacєtrok dan lotєk, (4) tampєyєk, pєyє´, dan tampєyє´ , (5) ləmpər, kєjo’ buŋkus, saŋu´ buŋkus, dan buras, (6) sarabi´, surabi´, dan sorabi, serta (7) bubuk kalapa´, sambəl bubuk, dan bumbu´ kalapa´. Tampak jumlah varian yang muncul berbeda untuk setiap glos. Pada glos 105, 105a, 106, terdapat dua varian; pada glos 106b, 108f, dan 108g terdapat tiga varian. Pada glos 108e terdapat empat varian. Banyaknya jumlah varian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada leksikon asal.

Jika dilhat dari bentuknya, terdapat dua bentuk variasi, yaitu variasi fonologis dan variasi leksikal. Variasi fonologis terjadi akibat adanya perubahan fonoilogis, sedangkan variasi leksikal terjadi karena adanya perubahan leksikal secara penuh. Pada perubahan fonologis tampak kebertahapan perubahan tersebut, tetapi pada perubahan leksikal tidak demikian.

Variasi fonologis terdapat pada (1) tampєyєk, pєyє´, dan tampєyє´, serta (2) sarabi´¸ surabi´, dan sorabi´. Jika dianggap bentuk asalnya rampєyє’, secara berurutan pada data nomor (1) terjadi penggantian r dengan t pada awal kata dan penambahan k pada akhir kata tampєyєk. Terjadi pengantian r dengan t pada awal kata tampєyє´. Terjadi penghilangan suku kata pertama ram pada kata pєyє´. Ketiga kata tersebut telah mengalami inovasi internal sehingga merupakan varian inovatif.

Kata surabi jika dianggap bentuk asal, telah mengalami perubahan bunyi pada bunyi kedua suku kata pertama kata sarabi´dan sorabi´. Dengan demikian, dua kata terakhir merupakan varian inovatif.

Variasi leksikal terjadi pada kata (1) kєjo´ dan saŋu´, (2) bubur tipuŋ dan bubur sumsum, (3) bacєtrok dan lotєk, (4) l∂mp∂r, kєjo’ buŋkus, saŋu´ buŋkus, dan buras, serta (5) bubuk kalapa´, sambəl bubuk, dan bumbu´ kalapa´. Dalam bahasa Sunda, kata kєjo´ kurang sopan daripada kata saŋu´ dalam pemakaian. Kata bubur tipuŋ lebih menunjukkan bahan, yakni bubur yang terbuat dari tepung beras. Kata

131 Simposium Kebudayaan Dan Kerjasama Indonesia–Malaysia 2015 (SKIM XIV 2015) 25 - 27 November 2015, The Everly Hotel, Putrajaya, MALAYSIA

bubur sumsum menunjukkan kesamaan bentuk dengan sumsum atau isi tulang yang lembut. Kata bacєtrok merupakan kata khas setempat, yakni kata yang mengalami inovasi internal, yang muncul dalam bahasa Sunda di perbatasan Bogor-Bekasi. Kata lotek merupakan kata bahasa Sunda baku. Kata ləmpər merupakan kata basa Sunda baku. Kata kєjo’ buŋkus, saŋu´ buŋkus, dan buras merupakan kata khas setempat, yakni kata yang mengalami inovasi internal. Kata buras merupakan kata yang mengalami perubahan makna karena dalam bahsa Sunda baku, buras terbuat dari beras, sedangkan ləmpər terbuat dari ketan. Dengan demikian, kata buras di titik pengamatan telah mengalami perubahan makna. Kata bubuk kalapa´, sambəl bubuk, dan bumbu´ kalapa´ merupakan kata khas setempat. Jadi, ketiga kata itu merupakan inovasi internal. Dalam bahasa Sunda baku konsep serundeng diungkapkan dengan sarundeŋ.

Kata atau varian inovatif yang merupakan inovasi leksikal di atas menyebar dengan distribusi geografis yang berbeda. Ada varian yang sama, yang menyebar di dua desa, yakni saŋu´, bubur tipuŋ, dan lotєk. Sisanya setiap varian menyebardi desa yang berbeda. Secara geografis penyebaran vaian berbeda di tempat-tempat yang berbeda menunjukkan tidak adanya kepaduan. Tingkat divergensi bahasa tersebut tinggi. Penyebaran bentuk inovasi menunjukkan adanya difusi, yakni difusi geografis.

Nama Makanan dan Minuman di Desa Ciangsana, Desa Jatisari, dan Desa Jayamulya pada Titik Pengamatan yang Berbahasa Melayu

i. Leksikon Sama

Dari enam belas glos, terdapat sembilan glos yang memperlihatkan leksikon yang sama, tanpa variasi dan tujuh glos memperlihatkan adanya variasi. Kesembilan glos yang memperlihatkan leksikon yang sama adalah 105, 108, 108a, 108c, 108d, 108f, 109, 110, dan 111. Kata yang mencerminkan kesepuluh glos tersebut adalah nasi´, kərupuk¸ rəŋginaŋ, kəmbaŋ goyaŋ, wajik, sərabi´, tapє´, kətimus, dan ciŋcaw. Data di atas dapat diamati pada Tabel 3 berikut.

Leksikon pada kesembilan glos tersebut menunjukkan tidak adanya perubahan sehingga tampak padu secara distribusi geografis. Tingkat konvergensinya tinggi sebagai satu kesatuan isolek di tiga desa. Leksikan yang sama masing-masing menyebar di tiga desa. Data tersebut dapat diamati pada Tabel 3 berikut

Tabel 4 Leksikon Tanpa Variasi di Tiga Desa pada Titik Pengamatan yang Berbahasa Melayu

No. Glos Titik Pengamatan dan Data Bahasa Melayu

Ciangsana Jatisari Jayamulya

1 105 nasi nasi´ nasi´ nasi´

2 108 kerupuk kərupuk kərupuk kərupuk

3 108a rengginang rəŋginaŋ rəŋginaŋ rəŋginaŋ 4 108c kue seroja kəmbaŋ goyaŋ kəmbaŋ goyaŋ kəmbaŋ goyaŋ

5 108d wajik wajik wajik wajik

6 108f serabi sərabi´ sərabi´ sərabi´

7 109 tapai tapє´ tapє´ tapє´

8 110 ketimus kətimus kətimus kətimus

9 111 cincau ciŋcaw ciŋcaw ciŋcaw

ii. Leksikon Bervariasi

Di atas telah dipaparkan sembilan dari enam belas glos menunjukkan leksikon yang sama. Sisanya, yaitu tujuh glos menampilkan leksikon yang bervariasi. Ketujuh glos tersebut adalah glos 105a, 106, 107, 108, 108b, 108e, dan 112. Tabel 5 berikut menyajikan data secara rinci.

Tabel 5 Leksikon Bervariasi di Tiga Desa pada Titik Pengamatan yang Berbahasa Melayu

No.

Urut

Glos Titik Pengamatan dan Data Bahasa Melayu Ciangsana Jatisari Jayamulya

1 105a bubur tepung pəpais pəpais bubur təpuŋ

2 106 gado-gado cєtrok gado-gado´ gado-gado´

3 107 telur asin təlor ´asin təlur ´asin təlor ´asin

4 108b rempeyek pəpєyє´ rəmpєyєk pєyєk

5 108e lemper ləmpər ləmpər nasi´ buŋkus

6 108g serundeng bumbu´ sambəl bubuk sambəl bubuk

7 112 sirup sirup sirop sirop

Dari data di atas, leksikon yang memiliki variasi adalah (1) pəpais dan bubur təpuŋ, (2) cєtrok dan gado-gado, (3) təlor ´asin dan təlur ´asin (3) , (4) pəpєyє´, rəmpєyєk, dan pєyєk, (5) ləmpər dan nasi´ buŋkus, (6) bumbu´, sambəl bubuk, dan (7 ) sirup dan sirop. Tampak jumlah varian yang muncul berbeda untuk setiap glos. Pada glos 105a, 106, 107, 108e, dan 112 terdapat dua varian; pada glos 108b, dan 108g

133 Simposium Kebudayaan Dan Kerjasama Indonesia–Malaysia 2015 (SKIM XIV 2015) 25 - 27 November 2015, The Everly Hotel, Putrajaya, MALAYSIA

terdapat tiga varian. Banyaknya jumlah varian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada leksikon asal.

Jika dilhat dari bentuknya, terdapat dua bentuk variasi, yaitu variasi fonologis dan variasi leksikal.. Variasi fonologis terdapat pada (1) təlor ´asin dan təlur ´asin, dan (3) pəpєyє´, rəmpєyєk, dan pєyєk, dan (3) sirup dan sirop. Jika dianggap bentuk asalnya təlur ´asin, terjadi penggantian bunyi u dengan o pada bunyi kedua suku kata kedua kata təlor. Kata rəmpєyєk jika dianggap bentuk asal, telah mengalami penghilangan suku kata pertama dan diaganti dengan suku kata dan penghilangan bunyi ketiga akhir suku kata ketiga pada pəpєyє´ serta penghilanagan suku kata pertama pada pєyєk. Selanjutnya terjadi penggantian u dengan o pada suku kedua kata sirop. Dengan demikian, tiga kata terakhir mengalami inovasi internal.

Variasi leksikal terjadi pada kata (1) pəpais dan bubur təpuŋ´, (2) cєtrok dan gado-gado´, (3) ləmpər dan nasi´ buŋkus, serta (4) bumbu´dan sambəl bubuk.

Kata pəpais, cєtrok, nasi´ buŋkus, bumbu´, dan sambəl bubuk merupakan kata khas setempat, yakni kata yang mengalami inovasi internal. Kata atau varian inovatif yang merupakan inovasi leksikal di atas menyebar dengan distribusi geografis yang berbeda. Ada varian yang sama, yang menyebar di dua desa, yakni pəpais, gado- gado´, təlor ´asin, ləmpər, dan sirop. Secara geografis penyebaran vaian yang sama di tempat-tempat yang berbeda menunjukkan adanya kepaduan. Namun, tingkat konvergensi kata yang sama di dua desa berbeda dengan di tiga desa.

Nama Makanan dan Minuman di Desa Ciangsana, Desa Jatisari, dan Desa Jayamulya sebagai Unsur Bersama Sunda dan Melayu

Leksikon makanan dan minuman yang telah dijelaskan di atas hanya menunjukkan kepemilikan tiap-tiap isolek Sunda dan Melayu di tiga desa yang diamati. Namun, sebenarnya terdapat leksikon makanan dan minuman yang digunakan bersama oleh bahasa Sunda dan Melayu. Leksikon tersebut adalah ləmpər (Ciangsana), sambəl bubuk (Jatisari), kəmbaŋ goyaŋ (Ciangsana, Jatisari, dan Jayamulya), ciŋcaw (Ciangsana, Jatisari, dan Jayamulya), dan sirop (Jatisari dan Jayamulya). Pemakaian bersama leksikon tersebut lazim mengingat kedua isolek tersebut telah lama hidup berdampingan di satu tempat. Luasnya penyebaran leksikon-leksikon tersebut berbeda. Kata ləmpər dan sambəl bubuk hanya di satu desa, yakni masing-masing di Ciangsana dan Jatisari. Kata sirop menyebar di dua desa, yakni Jatisari dan Jayamulya. Kata kəmbaŋ goyaŋ dan ciŋcaw menyebar di tiga desa, yakni Ciangsana, Jatisari, dan Jayamulya. Bahasa Sunda dan Melayu di desa yang diamati menunjukkan perbedaan di satu sisi dengan indikator terdapatnya leksikon-leksikon yang jelas-jelas berbeda di anatar kedua bahasa tersebut. Namun di sisi lain, terdapat persamaan pemakaian leksikon seperti yang telah dipaparkan di atas. Perbedaan pemakian leksikon menunjukkan keberadaan tiap-tiap isolek. Keadaan ini menunjukkan adanya divergensi kedua isolek. Kesamaan pemakaian bahasa menunjukkan peleburan keberadaan kedua isolek. Dua isolek Sunda dan Melayu di satu sisi dipakai sebagai alat komunikasi pada setiap etnik secara sendiri-sendiri.

Namun, di sisi lain memerlukan kesamaan saat keduanya berkomunikasi. Hal inilah yang memunculkan pemakaian leksikon yang sama oleh penutur Sunda dan Melayu.

Dalam komunikasi terjadinya perbedaan sering dihindarkan atau perbedaan duperkecil agar komunikasi menjadi lancar. Dalam keadaan inilah saling menyerap unsur leksikon terjadi pada kedua bahasa. Dalam kata lain, itu dilakukan dalam upaya akomodasi menurut Teori Akomodasi.

Unsur serapan dalam teori variasi bahasa sering disebut inovasi eksternal.

Inovasi eksternal dapat menyebar dari satu isolek ke isolek lain, dari satu bahasa ke bahasa lain. Jika ini terjadi disebut difusi antarisolek atau antarbahasa. Tentu difusi ini dimulai secara geografis, yakni terjadi dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lain. Dari pengamatan di lapangan, ada kemungkinan unsur tersebut berasal dari isolek Sunda ke isolek Melayu. Hal ini terjadi karena isolek Melayu berada di tengah-tengah wilayah pemakaian isolek Sunda. Daerah pakai bahasa Melayu merupakan enclave. Bahasa dengan penutur yang banyak dengan daerah pemakaian yang lebih luas biasanya menjadi sumber penyerapan leksikon.

Gelombang difusi geografis menyebabkan beberapa bahasa memiliki kesamaan unsur. Jika hal itu terus belangsung secara intensif akan memunculkan isolek baru. Dalam situasi kebahasaan yang bilingual atau multilingual, seperti terjadi di tiga desa yang diteliti, munculnya isolek baru bukanlah hal yang mustahil.

Dianamika kehidupan sosial di daerah tujuan migrasi, seperti daerah Bogor dan Bekasi, akibat dibangunnya sarana-saran kehidupan yang memadai dan dibangunnya sarana-sarana lapanag kerja, seperti pabrik-pabrik, menjadi pemicu situasi kebahasaan seperti yang dipaparkan di atas. Inilah yang menjadi pengamatan geolinguistik.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisi data terhadap leksikon makanan dan minuman di tiga desa yang diteliti, yaitu Ciangsana, Jatisari, dan Jayamulya dapat disimpulkan hal-hal berikut. Nama makanan dan minuman sebagai leksikon budaya menunjukkan adanya variasi. Variasi ini terjadi akibat perubahan atau terjadinya inovasi. Inovasi ini jika terjadi dalam isolek itu sendiri merupakan inovasi internal. Inovasi yang terjadi pada data yang diamati merupakan inovasi internal, yakni inovasi fonologis dan inovasi leksikal. Ini terjadi baik dalam isolek Sunda maupun Melayu yang diamati. Inovasi internal ini dapat menyebar ke daerah lain atau ke bahasa lain.

Fenomena ini merupakan difusi. Bahasa Sunda dan Melayu di tiga desa yang diamati berbeda keadaannya secara geolinguistik. Bahasa Sunda dipakai oleh penutur yang lebih banyak dengan daerah pakai yang lebih luas, sedangkan bahasa Melayu sebaliknya. Dalam berkomunikasi, penutur Melayu akan mengakomodasi diri sehingga leksikon bahasa Sunda akan diserapnya.

Penghargaan

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada promotor penullis, yaitu Prof. Dr. H. J.S. Badudu, Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djayasudarma, dan Prof. Dr. H. Moh. Tadjuddin, yang telah membimbing penulisan disertasi penulis.

Makalah ini bersumber pada sebagian data disertasi penulis tersebut.

135 Simposium Kebudayaan Dan Kerjasama Indonesia–Malaysia 2015 (SKIM XIV 2015) 25 - 27 November 2015, The Everly Hotel, Putrajaya, MALAYSIA

DAFTAR PUSTAKA

Adriati, Ira. (2001) “Tinjauan Jenis Makanan, Jenis Kemasan, dan Resep Makanan”

Dalam Kemasan Tradisional Makanan Sunda Ungkapan Simbolik dan Estetik Senirupa Tradisional Sunda. Bandung: Penerbit ITB.

Ayatrohaedi. (2002). Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Chambers, J.K. and Peter Trudgill. (1980). Dialectology. Cambridge, New York, Melbourne: Cambridge University Press. Ciputat: Logos.

Sabana, Setiawan. (2001) . Kemasan Tradisional Makanan Sunda Ungkapan Simbolik dan Estetik Senirupa Tradisional Sunda. Bandung: Penerbit ITB.

Sudaryanto. (1988). Metode Linguistik Bagian Kedua Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudaryanto (1993). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linbguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

Wahya. (2000). “Fonem /h/ dalam Dialek-Dialek Bahasa Sunda”. Dalam Jurnal Sastra, Vol. 8. No. 5. Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Wahya. (2005). Inovasi dan Difusi-Geografis Leksikal Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda di Perbatasan Bogor-Bekasi: Kajian Geolinguistik. Disertasi Doktor.

Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Wahya. (2010). “Inovasi Bentuk dalam Variasi Geografis Bahasa Sunda:

Kedinamisan dan Keharmonisan dalam Perubahan Bahasa Ibu”. Makalah Seminar Internasional Hari Bahasa Ibu pada tanggal 19—20 Februari 2010 di Bndung

Wahya. (2015). Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis.

Bandung: Semiotika.

Biografi Ringkas

Dr. Wahya; lahir di Bandung, 12 Agustus 1961. Penulis adalah dosen di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Silain itu, penulis mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Mata kuliah yang diampu, di antaranya Semantik, Penelitian Linguistik, Dialektologi, dan Linguistik Komparatif. Buku yang telah ditulis di aVntaranya Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis (2015).

Kini penullis menjabat sebagai Koordinator Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Dr. Heriyanto; lahir di Pekalongan, 21 Juni 1956. Penulis adalah dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Silain itu, penulis mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Mata kuliah yang diampu, di antaranya Wacana dan Bahasa Inggris.

Buku yang telah ditulis di antaranya Pola Pengajaran Pronomina Non Asertif (2011).

Dr. Fahmy Lukman; lahir di Padang, 11Maret 1964. Penulis adalah dosen di Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Mata kuliah yang diampu, di antaranya Bahasa Arab.. Buku yang telah ditulis di antaranya Pendidikan Agama Islam di Universitas Padjadjaran (2015). Kini penulis menjabat sebagai Koordinator Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Multimodaliti Dalam Akhbar Dalam Talian: Analisis

Dalam dokumen prosiding (Halaman 145-154)