Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia, yg berada di pulau Kalimantan, dengan ibu kota atau pusat pemerintahan berada di Kota Pontianak.Luas wilayah provinsi Kalimantan Barat adalah 147.307,00 km2Provinsi Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia, yang berada di pulau Kalimantan, dengan ibu kota atau pusat pemerintahan berada di kota Pontianak.[7]
Luas wilayah provinsi Kalimantan Barat adalah 147.307,00 km² (7,53% luas Indonesia).[8][9] Pada tahun 2020, penduduk Kalimantan Barat berjumlah 5.414.390 jiwa, dengan kepadatan 37 jiwa/km2, dan pada akhir tahun 2023 berjumlah 5.557.277 jiwa.[3][4]
Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.
Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia.[10] Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar
sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.
1. Suku Dayak
Dikutip dari buku Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya oleh Pram (2013), Suku Dayak atau Daya adalah suku asli yang
mendiami Pulau Kalimantan. Suku ini diperkirakan berasal dari Yunan di Cina Selatan. Sekitar 3.000-1.500 SM, penduduk Yunan bermigrasi secara besar-besaran.
Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil. Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu (Malaysia).
Suku Dayak sendiri menjadi penduduk terbesar yang menempati Provinsi Kalimantan Barat. Meskipun demikian, Suku Dayak yang menempati Kalimantan Barat memiliki sub suku, seperti Dayak Banyadu, Punan, Krio, Iban, Benuaq, Kenyah, dan Sebaruk.
ADVERTISEMENT
2. Suku Jawa
Meskipun bukan asli penduduk Provinsi Kalimantan Barat, namun banyak penduduk Suku Jawa melakukan transmigrasi atau
perpindahan penduduk. Inilah yang membuat masyarakat Suku Jawa dapat mudah ditemui, terutama di Sintang dan Kubu Raya.
3. Suku Tionghoa
Masyarakat Tionghoa dapat ditemui di Provinsi Kalimantan Barat, terutama di daerah perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang.
4. Suku Madura
Seperti masyarakat Suku Jawa, Suku Madura datang ke Kalimantan Barat karena migrasi. Perbedaannya adalah kebanyakan
masyarakat Suku Madura datang ke provinsi ini dengan biaya sendiri.
Masyarakat Suku Madura di Kalimantan Barat dapat ditemui di kawasan Kubu Raya dan Mempawah.
5. Suku Melayu
Suku kedua yang mendominasi masyarakat Kalimantan Barat adalah Suku Melayu. Ciri khas dari penduduk Suku Melayu di Kalimantan Barat adalah memeluk agama Islam.
Suku Melayu di Kalimantan Barat sendiri juga memiliki sub suku, seperti Suku Melayu Pontianak dan Suku Sambas yang menempati sebagian besar wilayah Sambas, Bengkayang, Singkawang,
Mempawah, dan sebagian Landak.
1. King Baba
King Baba adalah nama pakaian adat yang digunakan oleh laki laki yang berasal dari suku Dayak. Pakaian ini bila dari segi bentuknya akan serupa dengan
pakaian milik perempuan, hanya saja dari segi bentuknya lebih sederhana. King Baba menjadi semakin unik karena bahan yang dipajau untuk membuat pakaian ini berasal dari kulit kayu yang sudah dipipihkan dan diberi nama King Baba.
Tanaman yang dipakai untuk diambil kulitnya ialah jenis tanaman ampuro atau kayu kapuo.
Tanaman ini adalah tumbuhan endemik khas dari Kalimantan yang mempunyai kandungan serat tinggi. Untuk nama King Baba sendiri diambil dari bahasa Dayak, yang mana king memiliki arti pakaian serta Baba yang berarti laki laki.
Dalam proses pembuatannya, kulit kayu dipukul pukul dengan menggunakan palu di dalam air sehingga hanya tersisa seratnya saja. Jika kulit kayu tersebut telah lentur, tinggal dijemur, dan juga dilukis menggunakan corak etnik khas Dayak.
Pewarna yang dipakai juga adalah pewarna alami dari alam. Tak sekadar untuk membuat bajunya saja, aksesoris seperti ikat kepala juga memakai bahan yang sama. Hal yang membedakan, yakni ikat kepala dihias dengan memakai bulu
burung Enggan Gading sehingga memberi kesan gagah pada penggunanya. Untuk bagian baju dihias dengan manik-manik serta dibuat tanpa lengan. Jangan
lupakan aksesoris tambahan, yakni mandau sebagai senjata tradisional yang turut disematkan.
2. King Bibinge
Apabila King Baba merupakan pakaian yang digunakan untuk laki laki, King Bibinge adalah pakaian untuk perempuan. Cara pembuatan serta bahan yang digunakan pada King Bibinge juga sama dengan yang dipakai oleh busana laki laki.
Hal yang membedakan King Baba dan King Bibinge adalah King Bibinge dibuat lebih tertutup dan sopan. Ada juga perlengkapan yang dipakai untuk menutup bagian dada dengan menggunakan kain bawahan serta stagen. Hiasannya juga memakai manik-manik dan juga bulu burung enggang.
Sama dengan pakaian pria yang juga tak mempunyai lengan, King Bibinge juga tidak memiliki lengan, tetapi lebih tertutup. Ada juga lukisan khas Dayak yang turut dipadukan dengan manik-manik yang terbuat dari kayu dan bikian kering.
Aksesoris tersebut membuat King Bibinge semakin unik dan indah karena memakai berbagai bahan alami yang ada di sekitar mereka. Untuk pakaian adat perempuan Dayak ini, juga akan memakai aksesoris berupa gelang dan kalung.
Gelang yang digunakan terbuat dari akar pohon yang dipintal serta dibentuk dengan unik. Untuk kalungnya dibuat dari tulang hewan dan akar pohon. Kalung ini tak sekadar berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai jimat dan tolak bala.
Pada bagian kepala, memakai ikat kepala khas suku Dayak yang berbentuk segitiga. King Bibinge walaupun terbuat dari bahan alami, tetapi tetap tampak cantik dan juga estetik pada waktu yang bersamaan.
3. Buang Kuureng
Instagram @salonmimin
Pakaian adat dari Kalimantan Barat yang satu ini adalah pakaian adat yang
berasal dari suku Melayu. Buang Kuureng adalah nama lain dari baju kurung yang juga dipakai oleh suku Melayu dari provinsi lain di Indonesia, Malaysia, dan juga Brunei.
Meski demikian, Buang Kuureng ini tetap mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan dengan baju kurung dari daerah lain. Ciri khas tersebut dapat dilihat dari segi corak, desain, maupun bahannya. Buang Kuureng sendiri ada dua macam yang keduanya dipakai oleh perempuan.
Buang Kuureng ada yang menggunakan lengan panjang dan ada juga yang menggunakan lengan pendek. Di mana, Buang Kuureng yang berlengan pendek dikenal dengan Kuurung Sapek Tangan dan yang berlengan panjang disebut Kurung Langke Tangan.
Perpaduan antara budaya Melayu dengan sentuhan budaya Dayaknya menjadikan corak yang ada pada baju ini terlihat unik dan membuat baju ini tampak lebih cantik keberadaannya harus dijaga kelestariannya. Mengingat, terkadang baju adat hanya digunakan pada saat acara tertentu saja, seperti peringatan Hari Kartini.
4. Teluk Belanga
Hi!Pontianak
Selain baju Kurung, suku Melayu di Kalimantan Barat juga mempunyai pakaian adat yang dibedakan antara laki laki dan juga perempuan. Telok Belanga adalah pakaian Melayu yang khusus digunakan oleh laki-laki.
Umumnya, pakaian ini digunakan untuk acara acara resmi seperti upacar adat atau pesta pernikahan. Pakaian indah ini terdiri dari pakaian dalam yang terbuat dari bahan satin dan umumnya berwarna kuning emas. Di mana, warna tersebut adalah warna yang identik dengan kerajayaan Melayu.
Memang, bagi suku Melayu warna yang digunakan mempunyai maknanya tersendiri dan warna kuning emas menjadi warna yang paling banyak dipakai oleh suku Melayu. Baju dalaman ini, dipadukan dengan celana panjang serta kain maupun sarung yang memilik corang ingsang. Kain ini nantinya akan dililitkan di bagian pinggang hingga ke lutut. Sebagai pelengkap, dikenakan pula songkok dengan warna hitam.
Dari baju adat ini tentunya dapat dilihat dengan jelas perbedaannya. Bula suku Melayu tepatnya Melayu Sambas memakai kain sebagai bahan pakaiannya.
Berbeda dengan suku Dayak yang masih menggunakan bahan alami seperti dedaunan dan kulit pohon. Pakaian yang berasal dari suku Melayu juga lebih tertutup dan memiliki desain yang khas.
5. King Kabo
artisaanaldistro
Pakaian adat King Kabo berasal dari suku Dayak yang dapat dikatakan telah mengalami pengembangan atau modifikasi. Modifikasi tersebut membuat King Kabo menjadi unik, tetapi tak meninggalkan ciri khas dari pakaian adat yang asli.
Pengembangan ini tentunya terjadi karena adanya kreasi serta turut mengikuti perkembangan zaman yang ada. Sehingga, jika King Kabo digunakan pada saat
ini tak akan terkesan ketinggalan zaman tanpa harus menghilangkan berbagai unsur khasnya.
King Kabo sendiri adalah modifikasi dari pakaian adat King Baba yang dipakai oleh pria dari suku Dayak. Jika King Baba memakai bahan dasar kulit pohon, pada King Kabo dipadukan menggunakan jenis kain yang bernama Kain Sungkit. Kain Sungkit sendiri adalah kain khas milik negara tetangga, yaitu Brunei
Darussallam. Perpaduan tersebut, menjadikan pakaian satu ini menjadi begitu memukau dan cantik.
1. Mandau
Mandau adalah salah satu senjata tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kalimantan Barat. Senjata ini memang cukup dikenal hampir ke berbagai pelosok wilayah yang ada di tanah air. Selain karena kekuatannya, jenis senjata yang satu ini juga dikenal kental dengan aura mistis. Sepintas senjata ini memang menyerupai senjata parang.
Meskipun begitu, senjata yang ada di Kalimantan Barat ini memiliki ukiran pada bagian bilahnya. Hal inilah yang membedakan dengan jenis parang yang biasa digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Masyarakat Dayak kerap menutup lubang-lubang yang terdapat pada bilahnya dengan cara melapisinya menggunakan kuningan atau tembaga agar terlihat lebih menawan.
Senjata yang berasal dari kebudayaan Dayak ini konon telah digunakan oleh
masyarakat Kalimantan Barat sejak abad ke-17. Mandau sendiri menjadi salah satu senjata khas orang Dayak awal yang sangat ditakuti oleh bangsa lain. Senjata ini diketahui kerap digunakan untuk memenggal kepala musuh-musuhnya.
2. Lonjo atau Tombak
Selain Mandau, di Kalimantan Barat juga terdapat senjata yang dikenal memiliki tuah dan cukup ditakuti oleh bangsa lain. Lonjo adalah salah satu senjata tradisional suku Dayak yang berbentuk tombak panjang. Senjata ini terbuat dari besi yang diikat dengan anyaman rotan pada tangkai yang dibuat dari bambu atau kayu keras.
Sama seperti Mandau, Lonjo juga kerap digunakan oleh masyarakat suku Dayak untuk peperangan. Konon, setiap nyawa yang melayang akibat senjata ini akan membuat energi senjata ini semakin kuat. Nah, energi tersebut dipercaya dapat memberikan kekuatan bagi pemegang senjata tersebut untuk memenangkan pertarungan saat berperang.
Saat ini, masyarakat Dayak sendiri kerap menggunakan senjata ini untuk berburu hewan di hutan atau bercocok tanam. Sebagai salah satu senjata tradisional Dayak yang khas, Lonjo juga kerap dijadikan sebagai Souvenir untuk para wisatawan yang sedang berkunjung ke Kalimantan Barat.
Nah, berbeda dengan Lonjo yang kerap dibawa saat berperang melawan musuh, Lonjo yang dijual oleh para pengrajin saat ini jauh lebih estetik dan cocok untuk dijadikan sebagai pajangan benda seni yang ada di rumah.
3. Sipet
Sipet atau sumpit adalah salah satu senjata khas suku Dayak yang masih bisa kita lihat sampai saat ini. Sipet biasa digunakan oleh masyarakat Dayak untuk berburu hewan liar di hutan. Meskipun demikian, Sipet juga menjadi salah satu senjata yang sering digunakan dalam pertempuran saat melawan bangsa lain yang mencoba menduduki wilayah Kalimantan Barat.
Senjata ini dikenal cukup ampuh saat di Medan perang. Selain dapat melumpuhkan musuh dalam jarak jauh, senjata ini juga dikenal sangat mematikan. Orang yang terkena anak sumpit atau damek akan sangat tersiksa sebelum akhirnya kehilangan nyawa. Hal itu disebabkan oleh racun yang berasal dari getah pohon Ipuh atau iren yang mereka oleskan pada anak sumpit atau damek tersebut.
Kemampuannya dalam melumpuhkan musuh secara senyap membuatnya cukup ditakuti oleh musuh-misuhnya. Meskipun senjata ini dikenal mematikan, namun untuk menggunakan senjata ini orang tersebut harus memiliki keterampilan. Orang Dayak sendiri biasanya melakukan latihan terlebih dahulu untuk bisa
menggunakannya dengan benar.
Nah, jika dahulu Sipet digunakan untuk berburu dan berperang, maka sekarang senjata ini biasa digunakan sebagai alat dalam perlombaan tradisional yang ada di Kalimantan Barat seperti layaknya olah raga menebak dan juga panahan. Kegiatan tersebut bahkan rutin diadakan setiap tahunnya sebagai cara untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang.
4. Dohong
Senjata khas Kalimantan Barat berikutnya yang juga cukup ditakuti oleh lawan adalah Dohong. Dohong adalah salah satu senjata khas dari suku Dayak Ngaju.
Senjata ini biasa digunakan untuk serangan jarak dekat. Dohong adalah sejenis senjata tikam dengan bilah yang simetris. Masyarakat suku Dayak Ngaju biasa menggunakan senjata ini sebagai alat pertahanan maupun untuk melumpuhkan hewan buruan.
Nah, bentuknya yang unik memang menjadi salah satu ciri khas dari senjata ini.
Selain dapat digunakan layaknya seperti sebuah pisau, senjata ini juga bisa
digunakan sebagai mata tombak dengan dua bilah sisi yang sangat tajam dan ujung senjata yang runcing. Masyarakat Dayak Ngaju biasanya menyelipkan senjata ini di pinggang.
Nah, jika sebelumnya senjata ini digunakan untuk berburu dan bercocok tanam oleh masyarakat Dayak, maka saat ini Dohong hanya boleh dimiliki oleh Pisur atau ketua adat yang ada di Kalimantan Barat. Masyarakat Dayak sendiri percaya bahwa
Dohong adalah senjata tertua, sehingga sering dijadikan sebagai benda pusaka yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
5. Talawang atau Perisai
Talawang atau perisai adalah alat yang digunakan oleh masyarakat Dayak untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Senjata ini berbentuk persegi panjang dengan bagian atas dan bagian bawahnya yang meruncing. Talawang sendiri memiliki panjang sekitar 1-2 meter dengan lebar sekitar 50 cm. Senjata ini memiliki ciri khas ukiran Dayak yang bernilai seni tinggi.
Talawang sendiri biasanya terbuat dari kayu Ulin, kayu Besi, atau kayu Liat. Selain karena keberadaan jenis kayu tersebut yang melimpah di Kalimantan, jenis kayu- kayu tersebut juga memiliki kekuatan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan jenis kayu lain.