• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KEMISKINAN

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

SEPTEMBER 2016

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

(2)

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan & bukan makanan).

Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan (setara 2100 kkalori per kapita per hari); sedangkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok non makanan lainnya.

Metode ini dipakai BPS sejak tahun 1998 supaya hasil penghitungan konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu (apple to apple).

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

(3)

Headcount Index (P

0

)

: Persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

Poverty Gap Index (P

1

)/

Indeks Kedalaman Kemiskinan

:

Ukuran rata-rata

kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis

kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran

dari garis kemiskinan.

Poverty Severity (P

2

)

/Indeks Keparahan Kemiskinan:

Semakin tinggi nilai

indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk

miskin.

(4)

Penduduk Miskin

September 2016

137.463 orang

5,36

%

Maret 2014 September 2014 Maret 2015 Maret 2016

6,03%

6,07%

5,94%

5,91%

5,66%

5,36%

September 2015

(146.324

Orang) (148.825Orang) (147.700Orang) (148.129Orang)

(143.485 Orang) September 2016 (137.463 Orang)

(-0,55%)

(5)

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin

Persentase Penduduk Miskin (%)

Kota

Desa

K+D

Kota

Desa

K+D

Sept 2015

48.723

99.406

148.129

5,68

6,02

5,91

Sept 2016

40.615

96.848

137.463

4,49

5,83

5,36

(6)

Perkembangan Kemiskinan di Provinsi Kalimantan

Tengah, 2011–2016

148.228 151.989 150.752 145.082 140.596 149.384 146.324 148.825 147.700 148.129 143.485 137.463 6,55 6,64 6,51 6,19 5,93 6,23 6,03 6,07 5,94 5,91 5,66 5,36

Mar 11 Sept 11 Mar 12 Sept 12 Mar 13 Sept 13 Mar 14 Sept 14 Mar 15 Sept 15 Mar 16 Sept 16

Jumlah Pend Miskin

% Pend Miskin

(7)

Beberapa Faktor yang Diduga Mempengaruhi

Penurunan Penduduk Miskin di Kalteng

• Inflasi (yoy) pada September 2015 sebesar 5,75 persen mengalami penurunan

pada September 2016 yaitu tercacat sebesar 3,18 persen.

• Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Kalimantan Tengah selama September 2016

sebesar 97,67 persen, naik 0,47 persen dibandingkan NTP bulan Agustus 2016.

• Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) sebesar 104,94 persen, naik

0,46 persen dibandingkan Agustus 2016 yang sebesar 104,48 persen.

• Ekonomi Kalimantan Tengah triwulan III-2016 terhadap triwulan II-2016 tumbuh

3,20 persen (

q to q

). Dari sisi produksi, kondisi ini didorong oleh Pertanian,

Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 8,96 persen dan Industri Pengolahan yang

tumbuh 6,63 persen

(8)

Garis Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah

September 2015 – September 2016

Selama September 2015 – September 2016,

Garis Kemiskinan naik sebesar 4,91 persen,

yaitu dari Rp 362.729,- per kapita per bulan

pada September 2015 menjadi Rp 380.524,- per

kapita per bulan pada September 2016.

Pada September 2016 peranan komoditi

makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar

79,77 persen, jauh lebih besar dibandingkan

peranan

komoditi

bukan

makanan

(perumahan,

sandang,

pendidikan,

dan

kesehatan) yang hanya sebesar 20,23 persen.

(9)

Garis Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah,

September 2015 – September 2016

Sept 2015

Sept 2016

256.020 271.490 83.219 85.734

Sept 2015

Sept 2016

GKM

GKBM

Sept 2015

Sept 2016

4,95% 4,72% 4,91%

KOTA

DESA

KOTA + DESA

339.239 357.224 374.938 392.543 362.729 380.524 306.475 68.463 320.315 72.228 289.219 303.541 73.510 76.983 4,52% 5,50% 4,70% 6,04% 3,02% 5,30%

(10)

Komoditi Makanan yang Memberi Pengaruh Besar

pada Kenaikan Garis Kemiskinan, September 2016 (%)

Perkotaan

Perdesaan

Komoditi

%

Komoditi

%

Beras

20,20

Beras

29,35

Rokok kretek filter

14,87

Rokok kretek filter

12,16

Daging ayam ras

5,12

Gula pasir

4,51

Telur ayam ras

3,62

Telur ayam ras

3,97

Daging sapi

3,58

Mie instan

3,41

Gula pasir

2,99

Daging ayam ras

3,22

Kue basah

2,79

Kue basah

2,97

Mie instan

2,67

Bawang merah

2,69

Bawang merah

2,05

Kopi bubuk & kopi instan

(sachet)

1,61

(11)

Komoditi Makanan yang Memberi Pengaruh Besar

pada Kenaikan Garis Kemiskinan, September 2016 (%)

20,20 14,87 5,12 3,62 3,58 2,99 2,79 2,67 2,05 1,30 1,23 1,21 1,18 1,06 0,93 0,92 0,84 0,78 0,72 0,69 29,35 12,16 3,22 3,97 1,02 4,51 2,97 3,41 2,69 0,59 0,80 0,73 0,99 1,61 0,79 0,84 1,01 0,19 0,72 0,82 30 20 10 0 10 20 30 Beras Rokok kretek filter Daging ayam ras Telur ayam ras Daging sapi

Gula pasir Kue basah Mie instan Bawang merah Susu kental manis Tempe Tahu Kembung Kopi bubuk & kopi instan (sachet) Kue kering/biskuit Teh bubuk & teh celup (sachet) Cabe rawit Susu bubuk Bayam Kacang panjang Perdesaan Perkotaan

(12)

Komoditi Bukan Makanan yang Memberi Pengaruh Besar

pada Kenaikan Garis Kemiskinan, September 2016 (%)

Perkotaan

Perdesaan

Komoditi

%

Komoditi

%

Perumahan

8,38

Perumahan

8,71

Bensin

2,74

Bensin

1,54

Listrik

2,27

Pendidikan

1,16

Pendidikan

1,62

Listrik

1,05

Perlengkapan mandi

1,14

Perlengkapan mandi

0,79

(13)

Komoditi Bukan Makanan yang Memberi Pengaruh Besar

pada Kenaikan Garis Kemiskinan, September 2016 (%)

8,38 2,74 2,27 1,62 1,14 0,88 0,69 0,62 0,60 0,58 0,53 0,49 0,47 0,44 0,38 0,37 0,36 0,35 0,29 0,22 8,71 1,54 1,05 1,16 0,79 0,56 0,34 0,43 0,40 0,39 0,37 0,11 0,13 0,13 0,18 0,27 0,48 0,44 0,36 0,08 10 8 6 4 2 0 2 4 6 8 10 Perumahan Bensin Listrik Pendidikan Perlengkapan mandi Kesehatan Pakaian jadi laki-laki dewasa Barang kecantikan Pakaian jadi anak-anak Pakaian jadi perempuan dewasa Pajak kendaraan bermotor Minyak tanah Air Perawatan kulit, muka, kuku, rambut Alas kaki Obat nyamuk, korek api, baterai, aki, dsb Sabun cuci Kayu bakar Angkutan Bahan pemeliharaan pakaian

Perdesaan Perkotaan

(14)

Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan

Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah, September 2015 –

September 2016

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan

persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan

adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P

1

) turun dari 1,018 pada September

2015 menjadi 0,648 pada September 2016. Indeks Keparahan

Kemiskinan (P

2

) turun dari 0,235 menjadi 0,146 pada periode yang

sama.

Perubahan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata

pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis

Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga

semakin menyempit.

(15)

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P

1

) dan Indeks Keparahan

Kemiskinan (P

2

) di Provinsi Kalimantan Tengah, September

2015 – September 2016

Tahun

Kota

Desa

Kota + Desa

P

1

Sept 2015

1,048

1,002

1,018

Sept 2016

0,683

0,629

0,648

P

2

Sept 2015

0,245

0,230

0,235

Sept 2016

0,165

0,136

0,146

(16)

Perkembangan Indeks Kedalaman dan Indeks Keparahan

Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah, 2011 – 2016

0,988 1,094 1,047 1,078 0,864 1,016 0,748 0,968 0,886 1,018 0,859 0,648 0,242 0,285 0,257 0,266 0,191 0,305 0,165 0,248 0,214 0,235 0,196 0,146 0,000 0,400 0,800 1,200

Mar 11 Sept 11 Mar 12 Sept 12 Mar 13 Sept 13 Mar 14 Sept 14 Mar 15 Sept 15 Mar 16 Sept 16 Indeks Kedalaman Indeks Keparahan

(17)

Tingkat Kemiskinan Menurut Provinsi di Pulau

Kalimantan, September 2016

Jika dibandingkan antar provinsi yang ada di

Pulau Kalimantan pada September 2016 angka

kemiskinan tertinggi di Provinsi Kalimantan Barat

sebesar 8,00 persen, sedangkan terendah di

Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 4,52 persen.

Dilihat dari jumlah penduduk, sebagian besar

penduduk miskin berada di Provinsi Kalimantan

Barat mencapai 390.325 orang, sementara jumlah

penduduk miskin terkecil berada di Provinsi

Kalimantan Utara berjumlah 47.034 orang.

(18)

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut

Provinsi di Pulau Kalimantan, September 2016

Provinsi

Jumlah Penduduk Miskin

Persentase Penduduk

Miskin

Kota

Desa

Kota +

Desa

Kota

Desa

Kota +

Desa

Kalbar

75.981

314.344

390.325

4,97

9,38

8,00

Kalteng

40.615

96.848

137.463

4,49

5,83

5,36

Kalsel

60.898

123.262

184.160

3,43

5,37

4,52

Kaltim

89.637

121.604

211.241

3,86

10,15

6,00

Kaltara

17.254

29.780

47.034

4,50

10,29

6,99

(19)

3, 75 4,15 4,52 5, 04 5,36 5,36 5,84 6,00 6, 41 6,99 7,14 7, 67 8,00 8,20 8,37 8,77 9, 24 10,27 10 ,7 0 11 ,1 9 11 ,8 5 12 ,7 7 13 ,1 0 13 ,1 9 13 ,3 9 13 ,8 6 14 ,0 9 16,0 2 16 ,4 3 17 ,0 3 17 ,6 3 19,26 22 ,0 1 24 ,8 8 28 ,4 0 0 5 10 15 20 25 30 DK I B al i Ka ls el B ab el Ka lt eng B an ten Kep ri Ka lt im Mal ut Ka lt ar a Sumb ar Ri au Ka lb ar Sul ut Ja mbi Ja ba r Sul se l Sumu t Ind one si a Sul ba r Ja ti m Sul tr a DIY Ja te ng Sums el Lamp ung Sul teng NTB Ace h B engkul u G or o nt al o Mal uku NTT Pap ba r Pap ua

KALTENG (5)

5,36%

INDONESIA

10,70%

Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi,

September 2016

(20)

http://kalteng.bps.go.id

Jl. Kapten Piere Tendean No.6 Palangka Raya

(0536) 3228105

[email protected]

(0536) 3221380

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perancangan sebelumnya maka terbentuklah sistem managemen rantai pasok yang terdiri dari 8 user dan 1 admin. Masing-masing user memiliki hak akses

Hasil wawancara pada tanggal 01 Maret 2014, peneliti mendapatkan gambaran bagaimana perilaku prososial antara siswa yang berasal dari sekolah umum seperti SMA Ronggolawe

Menurut (Yunianta, 2006) kapasitas suatu ruas jalan didefinisikan sebagai jumlah maksimum kendaraan yang dapat malintasi suatu ruas jalan yang uniform per jam, dalam satu arah

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) Universitas Airlangga dalam penelitiannya menemukan bahwa wortel (Daucus carota L) dapat digunakan sebagai bahan

Pada penderita hipertensi yang juga menderita hipertrofi prostate, maka obat anti hipertansi terbaik yang dapat diberikan adalah :.. Anti hipertensif yang

Membangun suatu perangkat lunak untuk mengidentifikasi karakter pada suatu file gambar yang berasal dari hardcopy dokumen atau dari sumber lainnya, dengan

Hasil penelitian ini menunjukkan variabel keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mempunyai kontribusi yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar mata pelajaran

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: adanya pengaruh secara bersama-sama dari variabel persepsi resiko, variabel kualitas, variabel harga dan variabel nilai terhadap