• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psikologi Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Psikologi Pendidikan"

Copied!
219
0
0

Teks penuh

Berkat karunia dan bimbingan Allah SWT, buku ajar dan program penulisan referensi ini dapat terselesaikan. Buku ajar psikologi pendidikan ini memuat konsep-konsep dasar psikologi pendidikan dan hubungannya dengan peran dan tugas seorang pendidik.

  • Pendahuluan
  • Pengertian Pendidikan dan Psikologi Pendidikan
    • Pengertian Pendidikan dan Psikologi Pendidikan
    • Manfaat Mempelajari Psikologi Pendidikan
    • Relevansi Konsep Dasar Psikologi dengan Kompetensi
  • Rangkuman
  • Tugas

Dengan kata lain menggambarkan gejala-gejala siswa sebagai wujud kemungkinan interaksi siswa dengan lingkungannya. Memprediksi perilaku siswa dalam situasi yang berkaitan dengan kegiatan belajar dan dalam proses belajar mengajar.

Hakikat Peserta Didik

  • Peserta Didik Sebagai Individu Pembelajar
  • Motivasi dan Dinamika Proses Perilaku Manusia
  • Usaha Peningkatan Motivasi Belajar

Siswa merupakan manusia pembelajar yang tidak bisa lepas dari perhatian orang dewasa disekitarnya. Pendidikan benar-benar menjadi sistem pendukung pembentukan karakter peserta didik sebagai individu/manusia pembelajar.

Tahapan, Tugas, dan Aspek Perkembangan Peserta Didik

  • Hakikat Perkembangan
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
  • Fase-Fase atau Tahapan Perkembangan
  • Tugas-Tugas Perkembangan
  • Aspek-Aspek Perkembangan

Bukti yang terkenal terkait hal ini adalah hadis Rosulullah SAW, beliau mengatakan bagaimana orang tua mempengaruhi agama, akhlak dan psikologi terhadap sosialisasi dan perkembangan anaknya. Penguasaan tugas perkembangan tidak lagi sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua seperti pada masa prasekolah. Peran orang tua yang dahulu mempunyai pengaruh langsung terhadap krisis pembangunan, kini mempunyai pengaruh tidak langsung.

Pengalaman awal dan emosional dengan orang tua dan orang dewasa merupakan fondasi yang membangun hubungan keagamaan di masa depan.

Konsep Dasar Belajar Mengajar dan Perilaku Belajar

  • Konsep Dasar Umum Belajar
  • Konsep Dasar Perilaku Belajar
  • Proses Belajar serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
  • Hasil Belajar dan Kemungkinan-Kemungkinan

Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupakan fungsi terpenting dan upaya paling strategis untuk mencapai tujuan kelembagaan lembaga. Guru memegang peranan penting dan mempunyai tugas pokok, antara lain guru harus mampu dan kompeten dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengawasi kegiatan belajar mengajar. Pengajar; yaitu orang dewasa yang karena kedudukan formalnya selalu berusaha menciptakan situasi mengajar yang tepat agar memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar bagi siswa, dengan menggunakan segala sumber daya dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat.

Artinya belajar mengajar dapat diartikan sebagai serangkaian interaksi antara siswa dan guru untuk mencapai tujuannya.7. Konsep dasar proses belajar mengajar meliputi: 8 a) Pengertian dan komunikasi dalam proses belajar mengajar; proses. Dan agar daya tersebut dapat berfungsi secara fungsional maka harus dilatih terlebih dahulu, disinilah proses pembelajaran berlangsung.

Bruner, salah satu penentang teori S-R Bond (Barlow, 1985), berlangsung dalam proses belajar siswa dalam tiga fase, yaitu: 12. Fase ketiga, keluaran hasil pengolahan informasi; yaitu peserta didik (O) memilih, menggunakan dan menggerakkan instrumen untuk mengungkapkan hasil pengolahan dan penafsirannya dengan melakukan serangkaian pola sapaan atau perilaku (R) dalam menanggapi/menanggapi informasi (S). 2) Proses pembelajaran dalam konteks: Apa-Mengapa-Bagaimana. Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai interaksi antara siswa dan guru dengan tujuan mencapai tujuan pembelajaran.

Tabel faktor yang mempengaruhi belajar: 15 Faktor Internal
Tabel faktor yang mempengaruhi belajar: 15 Faktor Internal

Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar

  • Pengertian Strategi Belajar-Mengajar
  • Mengidentifikasi Entering Behavior Peserta didik
  • Model atau Metode Strategi Pembelajaran

Dalam kaitannya dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola umum kegiatan siswa-guru untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang telah digariskan. Perilaku masukan siswa adalah tingkat atau jenis ciri-ciri perilaku siswa yang dimilikinya ketika melakukan kegiatan belajar mengajar. Terdapat strategi belajar mengajar yang dikelompokkan berdasarkan komponen-komponen yang menjadi bobot dalam proses mengajar,20 seperti telah disebutkan sebelumnya.

Strategi belajar mengajar yang berpusat pada guru, atau biasa disebut dengan teacher-centered learning (TCL); Strategi ini banyak ditinggalkan karena tidak memperhatikan potensi siswa. Strategi belajar mengajar yang menitikberatkan pada materi pembelajaran, dimana sumber belajar menjadi pusat proses belajar mengajar. Strategi belajar mengajar heuristik atau kurikuler, dimana siswa mengolah sendiri pesan/materi sesuai petunjuk guru.

Strategi dapat diartikan sebagai suatu model umum kegiatan guru siswa dalam terwujudnya kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perilaku siswa yang masuk adalah tingkat atau jenis ciri-ciri perilaku siswa yang dimilikinya ketika memasuki kegiatan belajar mengajar. Disebutkannya model pendekatan strategi belajar mengajar yang paling cocok dan cocok untuk perkembangan siswa.

Intelegensi, Kognisi, dan Metakognisi

  • Pengertian Intelegensi, Kognisi, dan Metakognisi
  • Peran Metakognisi dalam Proses Belajar

Pengkodean tersebut merupakan bentuk representasi fungsi subsistem memori. Namun pengkodean dalam memori kerja tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga visual (khususnya terhadap rangsangan yang tidak dapat diberi label, misalnya wajah anak muda), dan memori kerja juga berfungsi secara semantik (semantik) yang berarti mewakili makna. dari sebuah kenangan. c) Fungsi memori jangka panjang (long-term memory) Memori jangka panjang berfungsi menyimpan secara permanen pengetahuan umum yang dimiliki seseorang. Artinya kenangan yang sudah lama tersimpan dalam memori jangka panjang tidak akan pernah terhapus. Memori jangka panjang tidak hanya berfungsi menyimpan fakta, namun juga berfungsi sebagai prosedur.

Ibarat komputer, selain berfungsi sebagai penyimpan data, ia juga berperan sebagai program pengolah data, sekaligus sebagai memori jangka panjang, tidak hanya berfungsi menyimpan data, tetapi juga mempunyai kemampuan mengolah data, dan fungsi inilah yang disebut dengan proses, sehingga individu dapat menyelesaikan berbagai permasalahan/problem dalam bidang yang berbeda-beda. Proses pengendalian ini merupakan proses yang juga merupakan salah satu fungsi memori jangka panjang, seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, memori jangka panjang juga berfungsi untuk melakukan pengkodean dan berperan sebagai prosedur atau pengendalian proses.

Komputer berfungsi tidak hanya sebagai penyimpan data, namun juga sebagai program untuk memanipulasi data, sehingga memori jangka panjang dapat menyelesaikan permasalahan di berbagai bidang. Atau dengan kata lain menerapkan proses pengendalian yang dapat dianalogikan dengan program komputer yang mengontrol aliran informasi agar informasi tersimpan dalam memori jangka panjang dan dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Memori jangka panjang juga merupakan strategi untuk pemecahan masalah, mengingat, memahami, dan memproduksi bahasa.

Kemandirian Belajar (Selfi Regulated Learning)

  • Hubungan Metakognisi dengan Self Regulated Learning
  • Aspek-Aspek Self Regulated Learning
  • Peranan Budaya dalam Pengembangan Keterampilan

Hubungan Metakognisi dengan Self Regulated Learning Self Regulated Learning (SRL) merupakan salah satu aspek Self Regulated Learning (SRL) merupakan salah satu aspek metakognisi yaitu strategi penggunaan kognisi untuk mengatur perencanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembelajaran. untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari uraian tersebut terlihat jelas bahwa konsep metakognitif mencakup dua aspek, yaitu pengetahuan tentang kognisi atau pengetahuan metakognitif dan regulasi kognitif atau regulasi kognisi atau regulasi metakognitif disebut juga self-regulated learning. Misalnya, siswa yang mampu bertahan atau tidak menyerah pada tugas-tugas sulit atau yang dapat menghindari gangguan akan mampu mempertahankan keinginan untuk menyelesaikan tugas, sehingga memungkinkan mereka mencapai prestasi yang lebih baik (Corno, 1986; Corno & Rohr Kemper, 1985 dalam Pintrich & de Groot, 1990). c) Aspek SRL yang sangat penting yang diusulkan oleh peneliti dalam konseptualisasi mereka adalah strategi kognitif yang sebenarnya digunakan siswa untuk mempelajari, mengingat dan memahami subjek (Corno & Mandinech, 1983; Zimmerman & .

Strategi kognitif yang lebih baik yang digunakan siswa, seperti pengulangan, elaborasi, dan pengorganisasian materi pembelajaran, jelas membantu merangsang aktivitas kognitif dan menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi (Weinsten & Mayer, 1986 dalam Pintrich & de Groot, 1990). Regulasi diri dalam belajar menurut Zimmerman Menurut Zimmerman (1989), siswa dikatakan menggunakan SRL jika siswa tersebut mempunyai strategi untuk mengaktifkan metakognisi, motivasi dan perilaku dalam proses belajarnya sendiri (Zimmerman. Struktur wawancara digunakan untuk mengukur kemampuan siswa strategi pembelajaran yang digunakan yang disusun Zimmerman dan Martinez-Pons 1986 (dalam Purdie et al. 1999), adalah sebagai berikut: a) evaluasi diri, yaitu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa mengevaluasi kualitas tugas yang telah diselesaikan, pemahaman tentang ruang lingkup pekerjaan atau usaha yang berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan.

Artinya budaya mempengaruhi strategi kognisi dan regulasi kognitif atau disebut dengan regulasi diri atau self-regulated learning dalam konteks pembelajaran. Self-regulated learning (SRL) merupakan salah satu aspek metakognisi, yaitu strategi penggunaan kognisi untuk mengatur perencanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Aspek SRL meliputi evaluasi diri, pengorganisasian dan transformasi, penetapan dan perencanaan tujuan (goal setting and Planning), pencarian informasi, pencatatan dan pemantauan, pengelolaan lingkungan (penataan lingkungan), konsekuensi diri, pengulangan dan ingatan (repetition and hafalan). ), mencari dukungan sosial (seeking social help), memeriksa data (review data) dan lain-lain (other), yaitu pernyataan yang menunjukkan perilaku belajar yang dicontohkan oleh orang lain seperti guru dan orang tua, pernyataan keinginan yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Belajar

  • Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  • Identifikasi Kesulitan Belajar
  • Faktor Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus
  • Strategi Pendampingan Belajar Anak Berkebutuhan
  • Bimbingan dan Layanan Belajar

Dalam paradigma baru, SEN berarti anak yang mempunyai kebutuhan individu unik yang tidak dapat disamakan dengan anak normal lainnya (Suyanto, 2005). Anak yang mempunyai kebutuhan individu yang unik dalam proses perkembangannya memerlukan layanan pendidikan khusus. Dengan demikian, SEN dapat diartikan sebagai anak yang mempunyai kebutuhan individu yang unik dan tidak dapat disamakan dengan anak normal pada umumnya, sehingga dalam perkembangannya diperlukan layanan pendidikan khusus agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal (Abdurahman; 1994).

Di dalam kelas sering kali kita jumpai anak-anak yang bereaksi cepat, anak-anak tersebut langsung berbicara tanpa memperhatikan pertanyaan guru. Berikut profil anak usia 6 tahun 2 bulan yang duduk di bangku kelas I SD/MI. Ada anak yang cepat paham saat belajar, namun ada juga anak yang belajarnya lambat.

Dalam paradigma baru, ABK berarti anak yang mempunyai kebutuhan individu unik yang tidak dapat disamakan dengan anak normal lainnya. Dengan demikian ABK dapat diartikan sebagai anak yang mempunyai kebutuhan individual yang unik dan tidak dapat disamakan dengan anak normal pada umumnya, sehingga dalam perkembangannya perlu adanya tawaran pendidikan khusus agar potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara maksimal. Tahapan tersebut menunjukkan bimbingan dan layanan pembelajaran seperti apa yang sebaiknya diberikan kepada anak yang mengalami ketidakmampuan belajar.

Konstruksi Interaksi Orang Tua dan Anak melalui Pola

  • Kedekatan, Adaptabilitas, dan Komunikasi dalam
  • Pola Asuh Orang Tua dalam Upaya Mempersiapkan
  • Menemukan Pola Pengasuhan Orang Tua di Era Digital
  • Konstruksi Pola Pengasuhan Yang Humanis

Pola asuh orang tua selalu menjadi sorotan dan diskusi yang tiada habisnya terkait pendidikan dan masa depan anak. Kekhawatiran terhadap pola asuh orang tua semakin menguat karena menjadi pemicu sekaligus pemecah masalah dampak modernisasi. Oleh karena itu, hubungan perkawinan dan pola asuh orang tua sangat erat kaitannya dengan perilaku dan perkembangan anak.

Temuan yang paling konsisten adalah bahwa orang tua dalam pernikahan bahagia cenderung lebih sensitif, responsif, hangat, dan afektif terhadap anak-anaknya. Ketiga, pola asuh otoriter: kontrol orang tua tinggi terhadap perilaku anak namun rendah kehangatan. Pola asuh yang diperoleh Generasi X mempengaruhi cara Generasi X mendidik Generasi Z dan Alpha.

Pengalaman generasi X diasuh oleh orang tua yang sering menelantarkan mereka, sehingga generasi selain itu, interaksi tatap muka antara orang tua dan anak mempunyai nilai yang sangat berarti bagi keduanya. Anak-anak yang rentan terpapar dampak negatif media sosial seringkali menyisakan kekhawatiran bagi orang tua.

Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait