B. Kemandirian Belajar (Selfi Regulated Learning)
1. Hubungan Metakognisi dengan Self Regulated Learning
metakognisi, yaitu merupakan strategi pemanfaatan kognisi untuk mengatur perencanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Agar didapatkan pemahaman yang lebih mendalam, akan dikemukakan pandangan Flavell keterkaitan SRL dengan metakognisi sebagai berikut, “the concept of metacognition was first introduced by Flavell as ‘any knowledge or cognitive activity that takes as its object or regulates, any aspect of any cognitive anterprise’. There are two separate but closely related phenomena within this concept i.e knoeledge about cognation or metacognitive knowledge, and regulation. Metacognitive knowledge refers to the person’s knowledge about his or her own available cognitive means. It is developed in accordancewith age and experience of the learner, and therefore, relatively stable. This awareness capabilities, however, does not quarantee that person will be an active and strategic learner (Flavell, 1987; Flavell et.al., 1998 dalam Ajisuksmo, 1996).
Jelas dari uraian tersebut, konsep metakognitif meliputi dua aspek, yaitu pengetahuan tentang kognisi (knowledge about cognition), atau metacognitive knowledge dan regulasi kognisi atau regulation cognation atau metacognitive regulation disebut juga Self Regulated Learning. Aspek pengetahuan tentang kognisi atau knowledge about cognation atau metacognitive knowledge mengacu pada pengetahuan individu tentang pemahaman kognitifnya sendiri. Pengetahuan tentang kognisi ini berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman dari siswa, oleh karena itu relatif stabil. Kesadaran akan kemampuannya ini tidak dapat dijadikan garansi bahwa siswa akan menjadi aktif dan menjadi pembelajar yang memiliki strategi.
a. Pengaturan Diri dalam Belajar
1) Pengaturan Diri Tingkah Laku; menurut Bandura (1997b, dalam Franken, 2002) penhaturan diri meliputi tiga proses, yaitu 1) observasi diri (memonitor diri sendiri); 2) evaluasi diri (menilai diri sendiri); dan 3) reaksi diri (mempertahankan motivasi diri sendir).
a) Observasi diri; sebelum individu mengubah tingkah lakunya, ia harus terlebih dahulu menyadari tingkah lakunya. Hal ini melibatkan kegiatan memantau atau memonitor tingkah laku dirinya. Semakin sistematis individu memantau tingkah lakunya, maka semakin cepat individu sadar akan apa yang dilakukannya.
b) Evaluasi diri; langkah berikutnya adalah menentukan apakah tindakan individu yang dilakukan sesuai dengan yang diinginkan, yaitu sesuai dengan standar pibadi individu tersebut (personal standards). Standar pribadi berasal dari informasi yang diperoleh individu dari orang lain, dengan melakukan penilaian diri, individu dapat menentukan apoakah tindakannya berada pada jalur yang benar.
c) Reaksi diri; penilaian diri selalu diikuti dengan reaksi diri. Ketika individu berhasil melakukan sesuatu, individu akan merasakan kepuasan atau kesenangan, namun jika mengalami kegagalan, individu akan mengalami kekecewaan atau perasaan tidak puas.
Reaksi diri ini dapat mengarahkan individu apakah harus menetapkan tujuan yang lebih tinggi atau harus mengganti tujuan. Untuk mencapai tujuan, individu perlu menerapkan tahapan-tahapan tindakan yang menghasilkan reaksi diri yang positif dan menghindari tahapan yang berakibat menyalahkan diri sendiri. Saat individu mengaitkan kepuasan
dengan pencapaian hasil tertentu, individu akan memotivasi diri sendiri untuk mengoptimalkan energy yang diperlukan guna mencapai tujuan.
b. Pengaturan Diri dalam Belajar Menurut Pintrich & de Groot
Pintrich dan de Groot (1990) menjelaskan bahwa terdapat beberapa macam definisi SRL.Namun dari beberapa definisi SRL tersebut dapat disimpulkan terdapat tiga komponen penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar di kelas. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut:
a) Strategi metakognisi siswa untuk merencanakan, memantau dan memodifikasi kognisi mereka (Brown, Brandford, Campione & Ferrara, 1983;
Corni, 1986; Zimmerman, Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich & de Groot, 1990).
b) Cara siswa mengelola dan mengontrol usaha mereka dalam tugas-tugas akademik. Contoh siswa yang mampu menekuni atau tidak menyerah pada tugas- tugas yang sukar atau mampu menghindari gangguan-gangguan, akan dapat mempertahankan dorongan untuk menyelesaikan tugas-tugas sehingga memmungkinkan mereka berprestasi lebih baik (Corno, 1986; Corno & Rohr Kemper, 1985 dalam Pintrich & de Groot, 1990).
c) Aspek SRL yang sangat penting yang diajukan para peneliti dalam konseptualisasi mereka adalah strategi kognisi yang secara nyata digunakan siswa untuk belajar, mengingat dan memahami materi bidang studi (Corno & Mandinech, 1983; Zimmerman &
Pons, 1986, 1988 dalam Pintrich & de Groot, 1990).
Strategi kognisi yang lebih baik yang dugunakan siswa seperti mengulang, mengelaborasi dan mengorganisasikan materi bidang studi ternyata membantu mendorong kegiatan kognisi dan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi dalam belajar (Weinsten & Mayer, 1986 dalam Pintrich & de Groot, 1990).
c. Pengaturan Diri dalam Belajar Menurut Zimmerman Menurut Zimmerman (1989), siswa disebut telah menggunakan SRL bila siswa tersebut memiliki strategi untuk mengaktifkan metakognisi, motivasi dan tingkah laku dalam proses belajar mereka sendiri (Zimmerman, 1986, 1989). Siswa-siswa yang telah menggunakan SRL dalam proses belajarnya memulai dan mengarahkan usahanya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan ketimbang bergantung pada guru, orangtua, atau agen pembelajaran yang lain. Definisi SRL tersebut mengasumsikan pentingnya tuga elemen berikut ini.
a) Strategi SRL merupakan tindakan dan proses yang diarahkan untuk menguasai informasi atau keterampilan yang meliputi cara, tujuan, dan persepsi siswa yang bersifat instrumental (instrumentality perceptions by learnes). Strategi-strategi tersebut memanfaatkan metode-metode seperti mengatur dan mengubah informasi, self-cosequating, pengulangan informasi serta penggunaan bantuan memori (Zimmerman & Martinez-Pons, 1986 dalam Zimmerman, 1989).
b) Self-efficacy mengacu pada persepsi tentang kemampuan seseorang dalam mengatur dan melakukan tindakan yang dibutuhkan guna meraih
kinerja keterampilan yang telah direncanakan untuk tugas-tugvas tertentu (Bandura, 1986 dalam Zimmerman, 1989). Definisi tersebut lebih memfokuskan pada kesadaran akan kemampuan siswa sendiri untuk menamopilkan tindakan dan strategi dalam meraih tujuan.
c) Tujuan-tujuan akademik, misalnya nilai-nilai social (social value), kesempatan-kesempatan kerja setelah lulus yang sangat bervariasi.
d. Pengaturan Diri dalam Belajar menurut Vermunt Kajian Vermunt dalam pengaturan diri dalam belajar mempunya empat tujuan:
a) Untuk meningkatkan integrasi konseptualisasi komponen-komponen belajar siswa dan mengkaitkan aspek-aspek metakognisi belajar siswa dengan strategi pemrosesan kognisi siswa dan motivasi.
b) Untuk memperoleh pemahaman gejala atau fenomena pengaturan belajar, yang digambarkan dalam model sebagai berikut:
Berdasarkan model ini, cara siswa memproses materi pelajaran hamper selalu ditentukan secara langsung oleh strategi pengaturan yang mereka gunakan. Model belajar secara mental dan orientasi belajar juga mempengaruhi strategi pemrosesan yang dipergunakan siswa, namun pengaruh tersebut tidak langsung, tetapi melalui strategi pengaturan. Cara siswa mengatur proses belajar pada tingkat tertentu yaitu tingkat yang sederhana saja yang dipengaruhi oleh model belajar secara mental dan orientasi belajar mereka.
c) Generalisasi fenomena ini telah diuji dengan melakukan penelitian silang konteks (across contexts) dengan menggunakan dua macam lingkungan belajar yang berbeda, yaitu lingkungan pendidikan jarak jauh (Universitas Terbuka), dan pendidikan regular (Universitas Reguler).
d) Menguji stabilitas dari model belajar secara mental.
e. Pengaturan Diri dalam Belajar Menurut Purdie, Hattie, Douglas
Pengertian SRL dalam buku ini adalah proses metakognisi yang mengatur proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi dalam aktivitas belajar. Proses tersebut dilandasi noleh keyakinan pada kemampuan sendiri (self-efficacy beliefs) dan oleh komitmen pencapaian tujuan belajar, atau tugas-tugas akademis, sehingga tujuan belajar yaitu penguasaan (acquisition) pengetahuan dan keterampilan dapat tercapai.