• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSIKOLOGI UMUM B “TEORI PERKEMBANGAN MORAL”

N/A
N/A
William Samuel Gading

Academic year: 2024

Membagikan "PSIKOLOGI UMUM B “TEORI PERKEMBANGAN MORAL” "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOLOGI UMUM B

“TEORI PERKEMBANGAN MORAL”

LAWRENCE KOHLBERG

❖ Sandro Yohanis Pellondou (Ketua Kelompok 2) (712023130)

❖ Abdi Rui Kritianto Hawu (712023051)

❖ Adrey Adrian Anin (712023106)

❖ Daniella Kurnia Nenotek (712023096)

❖ Giselle Kinsey Bawotong (712023120)

❖ Nofita Refita Tunmuni (712023138)

❖ Maria Lema (712023291)

❖ Rambu Kudu May Harabi (712023196)

❖ Roci Sihombing (712023159)

❖ Jonathan Zending Lumban Toruan (712023264)

❖ William Samuel Gading Sitompul (712023070)

FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

2023

(2)

Bab I Pendahuluan

Pengembangan pemikiran moral manusia telah menjadi subjek penelitian yang menarik selama beberapa dekade, dan salah satu kontributor utama dalam bidang ini adalah Lawrence Kohlberg (1927-1987). Kohlberg membawa pemahaman tentang perkembangan moral ke Tahapan yang lebih mendalam, memperbaiki teori awal yang diajukan oleh Jean Piaget.

Dalam penelitiannya, Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang memberikan wawasan yang komprehensif tentang bagaimana individu memahami dan mengambil keputusan moral. Untuk memahami kontribusinya yang luar biasa dalam bidang ini, mari kita menjelajahi perjalanan hidup dan metodologi penelitian yang digunakan oleh Lawrence Kohlberg dalam mengembangkan teori tahap-tahap pemikiran moralnya.

Bab II Isi Pembahasan

A. Autobiografi Lawrence Kohlberg

Salah satu penelitian yang sangat menarik dalam kerangka pemikiran Piaget adalah karya dari Lawrence Kohlberg (1927-1987). Penelitian yang dilakukan oleh Kohlberg berkaitan dengan perkembangan moral dan teori tahap-tahap pemikiran moral yang merupakan perbaikan dari teori awal yang diajukan oleh Piaget. Kohlberg menghabiskan masa kecilnya di Bronxville, New York, dan menempuh pendidikan di Akademi Andover di Massachusetts, sebuah sekolah menengah atas bergengsi. Setelah lulus dari sekolah menengah, dia tidak langsung melanjutkan pendidikan tingginya. Sebaliknya, dia pergi untuk membantu dalam pemulangan orang-orang Israel, bekerja sebagai insinyur Tahapan dua di pesawat angkut yang membawa para pengungsi dari Eropa melalui blokade Inggris menuju Israel.

Pada tahun 1948, Lawrence Kohlberg mendaftar di Universitas Chicago untuk mengejar studi psikologi. Karena ketertarikannya pada teori Piaget, Kohlberg mulai mewawancarai remaja mengenai isu-isu moral, dan hasil penelitiannya kemudian dijadikan bagian dari disertasinya untuk memperoleh gelar doktor pada tahun 1958. Ia mengajar di Universitas Chicago antara tahun 1962 hingga 1968 dan kemudian menjadi dosen di Universitas Harvard dari tahun 1968 hingga wafatnya

(3)

pada tahun 1987. Kohlberg dikenal sebagai sosok yang tidak mengedepankan formalitas, sering mengenakan pakaian santai saat mengajar. Ketika memulai kuliahnya, Kohlberg selalu memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya, mirip dengan cara ia mempertimbangkan pertanyaan kritis dalam bidang filsafat dan psikologi kepada dirinya sendiri.

Tulisan-tulisan Kohlberg banyak memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman terhadap kontribusi para psikolog lama seperti Rousseau, John Dewey, dan James Mark Baldwin.

Pada usia 59 tahun, dia mengakhiri hidupnya dengan cara tenggelam karena menderita penyakit tropis dan melawan depresi yang menyebabkan penderitaan yang mendalam selama 20 tahun terakhir dalam hidupnya. Lawrence Kohlberg memiliki penyakit yang berkembang biak di usus, sehingga terjadi infeksi. Penyakit yang dideritanya ialah Giardia Lamblia. Lalu, akibat penyakit yang dideritanya, ia mengalami depresi berat sehingga Kohlberg berniatan untuk bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya (tidak diterangkan secara detail, namun kelompok kami berasumsi Kohlberg menenggelamkan dirinya dengan berbagai kemungkinan, di antaranya:

1. Jatuh dari apartemen tingkat paling tinggi, dan di bawahnya terdapat kolam renang khusus yang disediakan oleh pengelola apartemen.

2. Dengan cara terjun dari bukit yang tinggi yang dibawahnya terdapat danau/sungai/dsb))

B. TAHAP-TAHAP PENILAIAN MORAL PIAGET

Saat menyelesaikan gelar sarjananya, Lawrence Kohlberg tertarik pada studi-studi Piaget tentang penilaian moral. Secara esensial, temuan-temuan Piaget tentang penilaian moral sesuai dengan teori dua tahap. Anak-anak yang lebih muda menghadapi dilema-dilema moral dengan cara melihat aturan sebagai sesuatu yang kaku dan mutlak; mereka meyakini bahwa aturan ini bersumber dari Tuhan dan tidak dapat diubah atau dilanggar oleh siapapun. Sementara anak-anak yang lebih tua memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu memahami bahwa aturan dapat diubah dengan syarat semua orang setuju. Mereka melihat aturan bukan sebagai sesuatu yang sakral dan mutlak, melainkan sebagai alat untuk mendorong kerjasama di antara manusia. Biasanya, pada usia sekitar 10-11 tahun, pemikiran moral anak-anak mulai mengalami pergeseran. Anak-anak yang lebih muda cenderung menilai berdasarkan konsekuensi, sementara anak-anak yang lebih tua lebih cenderung mempertimbangkan intensi atau niat.

(4)

Sebagai contoh, ketika seorang anak kecil mendengar tentang dua kejadian, yaitu seorang anak yang memecahkan 15 cangkir saat berusaha membantu ibunya dan seorang anak lain yang memecahkan 1 cangkir ketika mencoba mencuri kue coklat, anak kecil tersebut akan cenderung berpikir bahwa anak yang pertama melakukan tindakan yang lebih buruk. Anak yang lebih muda cenderung fokus pada jumlah kerusakan yang terjadi sebagai konsekuensi dari tindakan tersebut.

Sementara itu, anak yang lebih tua cenderung menilai kesalahan berdasarkan motif yang mendasari tindakan tersebut (Piaget 1932, h. 137).

Perkembangan penilaian moral mengalami perubahan signifikan sekitar usia 10-12 tahun ketika anak-anak mulai memasuki tahap operasi berpikir formal, dan perkembangan ini terus berlanjut selama masa remaja. Inilah mengapa Lawrence Kohlberg melakukan wawancara dengan anak-anak dan remaja mengenai dilema-dilema moral, dan dia menemukan sistem pentahapan yang jauh lebih rinci dibandingkan dengan teori Piaget. Kohlberg mengidentifikasi enam tahap dalam perkembangan moral, di mana tiga tahap pertama mirip dengan teori yang diajukan oleh Piaget.

C. Metode yang ditawarkan Lawrence Kohlberg

Contoh utama yang digunakan oleh Kohlberg (1958a) melibatkan 72 anak laki-laki yang berasal dari keluarga kelas menengah dan kelas bawah di Chicago. Mereka memiliki rentang usia antara 10, 13, dan 16 tahun. Selain itu, Kohlberg juga menambahkan contoh dari kelompok pembanding yang terdiri dari anak-anak yang lebih muda, anak-anak Bengal, serta anak laki-laki dan perempuan dari berbagai kota di Amerika bahkan negara lain (1963, 1970). Dalam wawancaranya, Kohlberg memberikan serangkaian dilema moral kepada partisipan-patisipan tersebut.

(5)

Heinz Mencuri Obat

Di Eropa, seorang Wanita sedang menanti ajal karena menderita kanker berat. Ada satu obat yang menurut dokter bisa menyelamatkannya. Itu adalah suatu radium yang baru ditemukan oleh seorang ahli obat di kota itu. Biaya untuk membuat obat ini sangat mahal karena dia meminta bayaran sepuluh kali limpat jika ada orang yang ingin membuatnya. Si pembuat obat harus membeli dulu radium seharga $200, lalu meminta $2000 untuk meracik obat itu dalam dosis kecil. Suami wanita yang sakit itu, Heinz, pergi ke semua orang yang dikenalnya untuk meminjam uang namun dia hanya bisa mengumpulkan $1000 separuh dari uang yang diminta. Dia mengatakan kepada pembuat obat bahwa istrinya sedang sekarat dan memintanya untuk menjual obat itu dengan harga yang lebih murah atau memberi kelonggaran waktu untuk menyicil sisanya. Namun si pembuat obat berkata: “Tidak, saya sudah bekerja keras untuk menemukan obat langka ini, dan saya harus memperoleh uang darinya.” Heinz jadi putus asa sehingga masuk dengan paksa ke toko obat itu dan mencuri obat tersebut untuk diberikan kepada isterinya. Maka pertanyaannya adalah Bolehkah Heinz sebagai suami bertindak demikian?”

Kohlberg tidak begitu tertarik dengan jawaban boleh atau tidaknya melainkan kepada penalaran dibelakang jawaban itu. Wawancara kemudian dimulai dan Kohlberg melontarkan pertanyaan-pertanyaan baru untuk membantunya memahami penalaran anak-anak.

D. Enam Tahapan Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg 1. Tahapan I: Moralitas Prakonvensioanal

Tahap 1. Kepatuhan dan Orientasi hukuman.

Anak-anak sering menganggap bahwa pihak berwenang yang memiliki kekuasaan penuh telah mengeluarkan seperangkat peraturan yang harus diikuti tanpa penolakan. Dalam konteks dilema Heinz, anak-anak cenderung menyatakan bahwa tindakan Heinz mencuri obat adalah kesalahan dan "melanggar hukum," seolah-olah semua hal harus berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Mereka lebih fokus pada konsekuensi atau hasil dari perbuatan Heinz, seperti hukuman yang akan diterimanya atas tindakan mencuri. Sebagian besar anak pada tahap ini menentang tindakan pencurian yang dilakukan Heinz, tetapi ada beberapa anak yang mendukung tindakan tersebut.

Seorang berkata “Heinz boleh mencuri karena awalnya dia sudah meminta dan kelihatannya yang dicuri bukan satu hal yang besar, dia tidak akan dihukum” (lihat Rest, 1973). Meskipun anak setuju dengan tindakan Heinz, namun penalaran mereka masih ada ditahap 1 yaitu fokus mereka hanya kepada apa yang diperbolehkan atau apa yang dihukum oleh otoritas. Kohlberg menyebut tahap ini pra-konvensional karena anak-anak belum bisa bicara sebagai anggota masyarakat. Mereka melihat moralitas sebagai suatu yang eksternal , sesuatu yang orang dewasa lakukan dan harus dilakukan (Colby dkk, 1987, h.16).

(6)

Contoh Sehari-hari:

Di sebuah sekolah, seorang siswa bernama Budi melihat temannya, Ani, mencuri sepotong cokelat dari kantin tanpa membayar.

Respon Siswa

: "Ani itu salah banget! Dia mencuri cokelat tanpa bayar, itu melanggar hukum! Guru pasti akan menghukumnya. Dia seharusnya tahu bahwa mencuri itu salah dan akan ada konsekuensinya. Aku mendukung guru untuk memberikan hukuman pada Ani karena itu aturan yang harus diikuti."

Dalam contoh ini, siswa (Budi) berada pada tahap 1 karena ia sangat mematuhi aturan dan melihat tindakan mencuri Ani sebagai pelanggaran hukum. Responnya lebih fokus pada pemahaman aturan dan konsekuensinya, seperti hukuman yang akan diterima Ani, daripada mempertimbangkan alasan atau motif Ani untuk mencuri cokelat. Ia melihat moralitas sebagai sesuatu yang eksternal, yaitu aturan yang harus diikuti dan ditegakkan oleh pihak berwenang.

Tahap 2. Individualsime dan Pertukaran.

Pada tahap ini, anak-anak mulai menyadari bahwa tidak hanya ada satu pandangan yang dianggap benar oleh otoritas-otoritas. Mereka menyadari bahwa individu yang berbeda dapat memiliki sudut pandang yang berbeda pula. Mereka mungkin mengatakan, "Seseorang mungkin berpikir bahwa mengambil obat itu benar, tetapi tidak semua orang akan setuju, terutama si pembuat obat." Karena pemahaman bahwa segala sesuatu bersifat relatif, setiap individu memiliki kebebasan untuk mengejar minat dan kepentingan pribadinya.

• Seorang anak laki-laki mengungkapkan pendapat bahwa Heinz dapat mencuri obat jika itu akan menyelamatkan nyawa istrinya, tetapi tidak perlu mencuri jika dia ingin menikah lagi dengan seorang gadis yang lebih muda dan menarik. (Kohlberg,1963, h.

24).

• Seorang anak laki-laki lainnya menyatakan, "Mungkin mereka memiliki anak-anak yang perlu diurus di rumah, jadi mereka memerlukan kehadiran ibu itu. Tetapi, dia tidak seharusnya melakukan pencurian karena bisa berakhir dengan masuk penjara karena tindakannya."

Anak-anak pada tahap 1 dan 2 selalu berfokus pada topik penghukuman. Pada tahap 1, anak-anak mempertimbangkan hubungan antara kesalahan dan hukuman sebagai bukti ketidakpatuhan. Sementara pada tahap 2, hukuman dianggap sebagai risiko alamiah yang ingin dihindari oleh banyak orang.

(7)

Pada titik ini, pembahasan berfokus pada konsep pertukaran yang adil atau hubungan yang adil. Contohnya adalah, "Jika kamu melakukan sesuatu untuk saya, saya juga akan melakukan sesuatu untukmu." Heinz diharapkan untuk memberikan imbalan sebanding dengan usaha yang telah dilakukan oleh pembuat obat, sehingga keduanya merasa puas dan merasa bahwa hubungan tersebut adalah adil.

Contoh Sehari-hari:

Di sekolah, ada seorang siswa bernama Ali yang memiliki kue cokelat favorit. Temannya, Siti, sangat ingin mencicipi kue cokelat itu.

Respon Siti

"Ali, bolehkah aku mencicipi sepotong kue cokelatmu? Aku sangat ingin tahu rasanya."

Respon Ali

"Hmm, Siti, aku suka sekali kue ini dan aku ingin menikmati semua potongannya sendiri. Tapi jika kamu mau membantuku dengan tugas matematika yang sulit, mungkin aku akan

membagikan sepotong kue padamu."

Dalam contoh ini, Siti dan Ali berada pada tahap 2, yaitu orientasi pemenuhan kepentingan sendiri. Siti ingin mencicipi kue cokelat Ali karena itu akan memenuhi keinginannya, sementara Ali ingin mempertahankan kue itu untuk dirinya sendiri, tetapi ia bersedia berbicara tentang pertukaran yang adil dengan Siti untuk memenuhi kepentingannya. Mereka berfokus pada konsep pertukaran yang adil untuk memuaskan kepentingan pribadi masing-masing, mirip dengan contoh yang disebutkan dalam tahap tersebut di mana Heinz dapat mencuri obat jika itu akan menyelamatkan nyawa istrinya, tetapi tidak perlu mencuri jika motifnya adalah menikah lagi dengan seseorang yang lebih muda dan menarik.

(8)

2. Tahapan II. Moralitas Konvensional

Tahap 3. Hubungan-hubungan Antar Pribadi yang Baik.

Pada tahap ini, remaja yang mulai memasuki fase ini melihat moralitas sebagai sesuatu yang lebih sederhana. Mereka meyakini bahwa manusia seharusnya hidup sesuai dengan harapan keluarga dan komunitas, dan bertindak dengan cara yang baik. Perilaku yang baik mencakup memiliki motivasi dan perasaan antar-pribadi yang positif, seperti kasih, empati, kepercayaan, dan kepedulian terhadap orang lain:

"Seseorang yang baik dengan niat untuk menyelamatkan istrinya," dan "Niatnya baik, yaitu ingin menyelamatkan nyawa orang yang dicintainya." Orang-orang dengan sudut pandang ini sering berpendapat bahwa dia memiliki izin untuk mencuri obat karena tidak ada suami yang bisa dengan tenang menyaksikan kematian istrinya.(Kohlberg, 1958; Colby dkk, 1987c, h,27-29). Jika motif Heinz baik, maka motif si pembuat obat jelek. Si pembuat obat adalah orang yang egois, serakah, dan hanya peduli dirinya sendiri, bukannya pada kehidupan orang lain.

Jawaban khas tahap 3 dari seorang remaja berusia 1-3 tahun:

"Ini benar-benar kesalahan pembuat obat, dia tidak berlaku adil, memberikan beban yang terlalu besar pada orang lain dan membiarkan mereka mati. Heinz sangat mencintai istrinya dan berusaha menyelamatkannya. Menurut saya, siapa pun akan bertindak serupa. Saya rasa tidak ada yang akan menghukumnya dengan penjara. Hakim akan mempertimbangkan semua sudut pandang dalam kasus ini dan melihat bahwa pembuat obat menetapkan harga yang sangat tinggi." (Kohlberg 1963, h. 25).

Don mendefinisikan persoalan menurut kecenderungan dan motif karakter para pelakunya.

Dia membicarakan suami yang mencintai istrinya, pembuat obat yang tidak adil, dan hakim yang penuh pengertian. Jawabannya bisa dikategorikan sebagai moralitas konvensional karena mengasumsikan bahwa tingkah laku yang diekpresikan akan dirasakan seluruh komunitas.

Contoh Sehari-hari

Di sebuah kelas, seorang siswa bernama Maya melihat temannya, Rudi, mencuri buku pelajaran yang mahal di toko buku.

Respon Maya

"Ini benar-benar kesalahan Rudi. Dia tidak berlaku adil dan mencuri adalah perbuatan yang salah. Buku itu sangat penting dan berharga, dan toko buku pasti akan merugi. Tapi aku tahu Rudi memiliki masalah keuangan dan kesulitan untuk membeli buku tersebut. Saya pikir, jika motifnya baik, seperti ingin belajar dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, maka mungkin dia bisa mencari cara lain untuk mendapatkan buku itu tanpa mencuri. Namun, toko buku juga harus mempertimbangkan untuk memberikan diskon kepada siswa yang kurang mampu agar bisa membeli buku-buku yang mereka butuhkan dengan harga yang terjangkau."

(9)

Dalam contoh ini, Maya menggunakan sudut pandang moralitas konvensional (Tahap 3) dengan mempertimbangkan baiknya niat Rudi dalam mencuri buku tersebut, yaitu untuk pendidikan yang lebih baik. Meskipun ia mengakui bahwa tindakan mencuri adalah salah dan merugikan, ia juga mencoba mencari solusi yang lebih adil, seperti toko buku memberikan diskon kepada siswa yang kurang mampu. Maya berpikir tentang bagaimana tindakan ini akan dipandang oleh komunitasnya secara keseluruhan, serupa dengan contoh pada tahap 3 yang disebutkan dalam teori Kohlberg.

Tahap 4. Memelihara Tatanan Sosial.

Seorang anak bernama “Don” menggambarkan masalah berdasarkan kecenderungan dan motif karakter para pelaku dalam cerita. Dia membicarakan suami yang mencintai istrinya, pembuat obat yang dianggap tidak adil, dan hakim yang dianggap penuh pengertian. Jawabannya dapat diklasifikasikan sebagai moralitas konvensional karena diasumsikan bahwa perilaku yang diungkapkan akan diterima oleh seluruh komunitas.

Responden tahap 4 mengatakan bahwa motif Heinz baik tapi tidak setuju karena melakukan pencurian. Apa yang akan terjadi jika semua orang melanggar hukum? Tidak akan ada ketertiban dalam masyarakat. Salah satu responden mengatakan:

“Saya tidak ingin terdengar seperti Spiro Agnew, menegakkkan hukum dan aturan dan menjaga bendera tetap berkibar, namun jika setiap orang melakukan apapun yang diinginkan, menetapkan keyakinannya sebagai suatu yang benar atau keliru, maka saya kira membuat peradaban tetap seperti sekarang ini adalah sejenis struktur hukum dimana setiap orang harus menaatinya.

Masyarakat memerlukan sebuah kerangka yang bisa memusatkan semua itu.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari

Di sebuah keluarga, ada perdebatan antara dua anak, Aria dan Budi, tentang apakah mereka boleh makan camilan di kamar mereka sebelum makan malam, meskipun ibu mereka telah melarang.

Respon Aria

"Kita seharusnya tidak melanggar aturan yang sudah ibu tetapkan. Ibu melarang kita makan camilan di kamar, dan itu adalah peraturan yang harus kita taati. Meskipun kita lapar dan camilan ada di sana, melanggar aturan akan merusak kedisiplinan dan ketertiban di rumah.

Jika semua orang dalam keluarga melakukan apa yang mereka inginkan, maka akan sulit menjaga kerapihan dan ketentraman di rumah ini."

Dalam contoh ini, Aria berbicara dari sudut pandang tahap 4 yaitu moralitas hukum dan ketertiban. Dia menghormati peraturan yang sudah ditetapkan oleh ibunya dan percaya bahwa aturan tersebut harus ditaati untuk menjaga keteraturan dalam keluarga mereka, serupa dengan

(10)

pendekatan yang diungkapkan oleh responden dalam kalimat tersebut. Meskipun lapar dan ingin makan camilan, Aria menganggap penting untuk mematuhi hukum dan aturan yang ada di rumah mereka.

3. Tahap III. Moralitas Pasca-Konvensional Tahap 5. Kontrak Sosial dan Hak-hak Individual.

Dalam menghadapi Heinz, individu pada tahap 5 secara umumnya menyatakan bahwa mereka tidak ingin Heinz melanggar aturan, karena hukum dan peraturan adalah kontrak sosial yang kita sepakati untuk dipegang sampai kita bisa mengubahnya melalui proses demokratis.

Meskipun demikian, hak istrinya untuk hidup dianggap sebagai hak moral yang harus dijaga.

Dengan kata lain, responden tahap 5 kadang-kadang mendukung tindakan pencurian Heinz dengan sangat tegas. Mereka berpendapat bahwa suami memiliki kewajiban untuk menyelamatkan istrinya. Fakta bahwa nyawa istrinya berada dalam bahaya dianggap sebagai faktor yang lebih tinggi daripada pertimbangan hak milik atau kepatuhan terhadap aturan. Hidup dianggap lebih berharga daripada hak milik.

Saat ditanya apakah hakim akan menjatuhkan hukuman kepada Heinz, dia menjawab :

Biasanya sudut pandang moral dan hukum berjalan bersisian. Namun di sini mereka berkonflik.

Hakim mestinya mempertimbangkan sudut pandang moral lebih besar namun tetap mempertahankan eksistensi hukum legal sehingga Heinz mungkin dihukum ringan saja. (Kohlberg, 1976, h. 38).

Subjek-subjek tahap 5, kalau begitu, membicarakan “moralitas” dan “kebenaran” lebih tinggi daripada hukum-hukum tertentu. Mereka sering kali bernalar, contohnya, kalau hak milik lebih kecil maknanya ketimbang hidup.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Di sebuah komunitas, terdapat perdebatan tentang apakah sebuah taman umum yang sudah ada sejak lama harus digunakan untuk membangun gedung perkantoran yang dapat membawa manfaat ekonomi bagi komunitas, atau apakah taman tersebut harus

dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau bagi warga.

Respon Warga Komunitas

"Kami semua setuju bahwa hukum dan peraturan harus dihormati. Namun, kita juga harus mempertimbangkan hak-hak moral kita sebagai warga komunitas. Jika kita memutuskan untuk membangun gedung perkantoran di taman ini, itu akan memberikan manfaat ekonomi yang besar, tetapi kita juga harus memikirkan hak-hak mereka yang menikmati taman ini sebagai tempat rekreasi dan ruang hijau. Kami harus mencari solusi yang bisa mencapai keseimbangan antara hukum yang berlaku dan hak moral warga. Mungkin ada

(11)

cara untuk membangun gedung perkantoran tanpa mengorbankan seluruh taman atau dengan mengkompensasi warga yang terdampak."

Dalam contoh ini, warga komunitas menggunakan sudut pandang moralitas kontraktual (Tahap 5) dengan mempertimbangkan pentingnya hukum dan peraturan, tetapi juga mengakui hak- hak moral individu dalam komunitas. Mereka mencoba mencari solusi yang dapat menghormati hukum dan hak moral warga komunitas secara seimbang, serupa dengan pendekatan yang dijelaskan dalam teori Kohlberg. Dalam hal ini, hak-hak moral dan kebenaran dianggap lebih tinggi daripada hukum-hukum tertentu atau kepentingan ekonomi semata.

Contoh lainnya, Aktivisme Sosial dan Kesadaran akan Hak Asasi Manusia

4. Tahap 6. Prinsip-prinsip Universal.

Konsepsi Kohlberg tentang keadilan mengikuti pandangan dari filsuf seperti Kant dan Rawls, serta mengambil contoh dari pemimpin moral terkenal seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King. Dalam praktiknya, menurut Kohlberg, kita dapat mencapai keputusan yang sesuai dengan pandangan ini dengan melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Dalam konteks dilema Heinz, hal ini berarti bahwa semua pihak, termasuk pembuat obat, Heinz, dan istrinya, harus mencoba memahami posisi satu sama lain. Jika pembuat obat melakukannya, maka dia mungkin akan menyadari bahwa kehidupan harus diberi prioritas lebih tinggi daripada hak milik, karena dia sendiri tidak akan ingin menghadapi risiko jika berada dalam posisi istri Heinz yang nyawanya dianggap kurang berharga daripada hak milik. Dengan demikian, semua pihak mungkin akan setuju bahwa menyelamatkan nyawa istri Heinz adalah solusi yang adil. Namun, jika nyawa istri Heinz dianggap kurang bernilai dibandingkan dengan hal lain, maka solusi yang adil tidak akan dapat dicapai.

Hingga tahun 1975, Kohlberg telah mengidentifikasi beberapa subjek yang mencapai tahap 6 dalam penelitiannya, tetapi setelah itu, dia menghentikan upaya untuk melanjutkannya.

Alasannya adalah bahwa dia dan peneliti lainnya menemukan bahwa sangat sedikit subjek yang secara konsisten menunjukkan penalaran pada tahap ini. Selain itu, dalam hasil wawancaranya mengenai dilema moral, dia tidak banyak menemukan perbedaan antara cara berpikir subjek pada tahap 5 dan 6. Meskipun secara teoritis tahap 6 memiliki konsepsi yang lebih jelas dan luas tentang prinsip-prinsip universal seperti keadilan sebagai hak individu, Kohlberg memutuskan untuk menghapus tahap 6 dari teorinya dan menggolongkannya sebagai tahap teoritis. Ia kemudian mengklasifikasikan semua respon pasca konvensional sebagai tahap 5 saja (Colby dkk, 1987a, h.45-40).

(12)

Contoh dalam kehidupan sehari-hari :

Di sebuah perusahaan, terdapat perdebatan tentang pengalihan dana yang akan menguntungkan pemilik perusahaan tetapi dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja sejumlah karyawan.

Respon Karyawan

"Kami memahami bahwa pemilik perusahaan ingin menguntungkan bisnisnya, tetapi kami, sebagai karyawan, juga memiliki hak untuk pekerjaan yang aman dan kehidupan yang layak. Untuk mencapai solusi yang adil, kami harus mencoba memahami sudut pandang pemilik perusahaan. Namun, pemilik perusahaan juga harus mencoba memahami bagaimana pengalihan dana ini dapat memengaruhi kami secara pribadi dan ekonomi.

Dengan berbicara dan mencoba untuk saling memahami, kita mungkin dapat mencari solusi yang menghormati hak-hak kami sebagai karyawan dan kepentingan bisnis pemilik perusahaan."

Dalam contoh ini, karyawan menggunakan pendekatan yang sejalan dengan pandangan Kohlberg tentang keadilan. Mereka mencoba untuk memahami sudut pandang pemilik perusahaan, yaitu kepentingan bisnis, tetapi juga mengharapkan pemilik perusahaan untuk memahami bagaimana keputusan mereka akan memengaruhi kehidupan karyawan. Dalam prosesnya, mereka berusaha mencapai solusi yang adil yang memperhatikan hak-hak individu dan kepentingan bersama. Ini mencerminkan pemahaman tentang prinsip-prinsip moral dan keadilan yang dipromosikan oleh Kohlberg dalam teorinya.

Contoh lainnya Menghormati, keadilan, kebenaran, dan kasih sayang universal, tanpa memandang norma sosial atau tuntutan kontrak sosial yang ada; Pengorbanan dan Pengampunan Yesus; Ajaran mengasihi musuh; Kisah Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati

(13)

Analisisis Kritis dan Tanggapan Kritis

Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg adalah kontribusi penting dalam psikologi perkembangan dan etika. Namun, ada beberapa kritik terhadap teori ini. Pertama, teori ini sering dianggap terlalu berfokus pada pemikiran moral individual dan kurang mempertimbangkan faktor sosial dan budaya yang dapat memengaruhi perkembangan moral. Kedua, metode penelitian yang digunakan oleh Kohlberg juga telah dikritik karena kurangnya inklusi sampel dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Hal ini mengakibatkan pertanyaan tentang sejauh mana teori ini dapat diterapkan secara universal.

Selain itu, beberapa kritikus berpendapat bahwa teori ini mungkin terlalu idealis dalam asumsinya tentang perkembangan moral. Pada kenyataannya, individu seringkali dapat berpindah- pindah antara tahap-tahap perkembangan ini tergantung pada situasi dan konteksnya. Ini menunjukkan kompleksitas perkembangan moral yang mungkin sulit dijelaskan dengan model yang hanya memiliki enam tahap.

Dalam penggunaan praktis, teori Kohlberg tetap menjadi alat yang berharga dalam memahami perkembangan moral individu. Namun, perlu digunakan dengan hati-hati dan diintegrasikan dengan pemahaman yang lebih luas tentang faktor-faktor sosial, budaya, dan kontekstual yang memengaruhi perkembangan moral.

(14)

Bab III Kesimpulan

Dalam bab-bab yang telah dibahas, kita telah menjelajahi kontribusi besar Lawrence Kohlberg dalam pemahaman perkembangan moral manusia. Kohlberg mengembangkan teori tahap-tahap pemikiran moral yang mendalam dan lebih rinci daripada teori awal yang diajukan oleh Jean Piaget. Teori ini mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang memberikan wawasan komprehensif tentang bagaimana individu memahami dan mengambil keputusan moral.

Lawrence Kohlberg menggunakan metode wawancara dan dilema moral untuk memahami penalaran anak-anak dan remaja dalam konteks keputusan moral. Ia lebih tertarik pada penalaran moral yang mendasari jawaban individu daripada pada jawaban "boleh" atau "tidak boleh."

Kohlberg juga menggambarkan perbedaan antara tahap-tahap perkembangan moral, mulai dari tahap pra-konvensional hingga tahap pasca-konvensional.

Pentingnya penelitian Kohlberg adalah penekanannya pada pergeseran penalaran moral seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Dia menggambarkan bagaimana anak-anak lebih awal cenderung mengikuti aturan secara ketat dan fokus pada konsekuensi tindakan, sedangkan remaja lebih tua cenderung mempertimbangkan intensi, hak-hak individu, dan prinsip moral universal dalam pengambilan keputusan.

Namun, ada juga kritik terhadap teori Kohlberg, termasuk kurangnya perhatian pada faktor budaya dan kontekstual dalam penilaian moral serta penekanannya pada penalaran verbal daripada perilaku sebenarnya. Selain itu, penghapusan tahap 6 dalam teorinya mengundang pertanyaan tentang sejauh mana individu dapat mencapai penalaran moral yang lebih tinggi.

Dalam kesimpulan, kontribusi besar Lawrence Kohlberg dalam pemahaman perkembangan moral manusia telah memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana individu mengembangkan penalaran moral mereka seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Meskipun ada kritik terhadap teorinya, penelitian Kohlberg tetap menjadi pijakan penting dalam bidang psikologi perkembangan moral.

(15)

PERTANYAAN KELOMPOK 4

1. Chelsea Irene Mage (712023141)

Dalam teori Lawrence, pada tahap 5, Heinz sudah melanggar aturan dan hakim sudah menjatuhkan hukuman pada Heinz apabila kita contohkan pada remaja zaman sekarang yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan bahkan terjadi kejadian hamil diluar nikah. Dari analisis kelompok 2 bagaimana dengan perkembangan moral pelaku yang sudah melakukan perilaku seperti yang sudah dijelaskan?

2. Rianisa P (712023132)

Bagaimana individu pada tahapan perkembangan moral yang berbeda memandang konsep hak asasi manusia,hukum,dan kontrak social?

Bagaimana ketiganya mempengaruhi cara merespon dilemma moral sebagaimana yang dijelaskan dalam cerita Heinz?

3. Joice Yasinta Liu (712023075)

Ada seorang siswa kelas 8 yang diperkosa oleh 3 orang laki-laki dewasa,dan para pelaku ini adalah orang-orang yang setiap harinya berada dalam lingkungan yang sama dengan korban.para pelaku ini bersikap biasa saja setelah kejadian tersebut,sedangkan sikorban mengalami trauma dan cenderung mengurung dirinya dalam kamar.Bagaimana hubungan perkembangan moral dan traumatic dari si korban?

4. Saglyoga Mongkol (712023056)

Bagaimana tanggapan kelompok 2 tentang perkawinan dini? Bagaimana moralitas dari anak tersebut? Kultur dan psikologi sama penting dalam memahami moralitas anak.

Kenapa kultur tidak termasuk dalam teori perkembangan Kohlberg?

5. Tarissa Julia Wardani (712023269)

Tahap 2 mengatakan tentang individualisme yang menurut saya seorang anak bersifat menyendiri atau individu (introvert) yang disebabkan oleh factor lingkungan sekitar.Bagaimana perkembangan moral dan pengambilan keputusan yang etis untuk anak yang bersifat introvert tersebut?

6. Aneke Unwakoly (712023204)

Bagaimana respon teman-teman kepada seorang bapak yang terpaksa harus mencuri handphone untuk anaknya yang mengikuti kelas online?

7. Yanto Anunut (712023123)

Apa yang melatarbelakangi sehingga dalam tingkat III moralitas pasca- konvensional dapat mengemukakan bahwa individu tersebut mulai mempertimbangkan prinsip-prinsip etis yang lebih universal dan mendasarkan tindakan moral mereka pada nilai-nilai hak asasi manusia dan kesepakatan sosial yang adil lalu bagaimana dengan individu tersebut yang mengalami autis?

8. Kerenhapukh Tiurnaulia Simbolon (712023163)

Pada tahap ketiga dikatakan bahwa anak-anak yang memasuki fase remaja percaya bahwa manusia semestinya hidup menurut harapan keluarga dan komunitas serta bertindak dengan cara-cara yang baik. Tetapi, sekarang ini terdapat banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja. Contohnya, anak-anak kelas VI SD merundung teman sebayanya.

Anak-anak tersebut membentuk sebuah kelompok dimana mereka semua melakukan tindak kekerasan kepada temannya. Mengapa ada dianak-anak yang pada masa itu seharusnya berbuat baik justru membentuk sebuah kelompok untuk melakukan

(16)

perundungan? Bagaimanakah dengan moral anak-anak pelaku kekerasan tersebut? Apakah moralitasnya berkembang?

Terdapat banyak kasus pelecehan seksual, dimana pelaku dulunya adalah korban pelecehan seksual. Bagaimana tanggapan teman-teman kelompok mengenai perkembangan moralitas pelaku tersebut?

9. Titan Delian Gifanti Seik (712023111)

Bagaimna theori kolhberg mampu menjawab dilema moral yang dihadapi anak usia 7-12 tahun yang harusnya sekolah tetapi terpaksa ngamen agar mereka bisa makan atau yang terlibat kasus pencurian karena harus makan (tekanan Ekonomi) apakah tahapan moral kholberg mampu menjawab ini?

10. Sirma Nofianti Malingsu (712023098)

Bagaimanakah perkembangan moralitas anak-anak yang terbilang bodo amat dengan konsekuensi atau hukuman yang akan mereka terima ketika melakukan sebuah kesalahan? Seperti contoh si A mencuri uang orang tuanya dan ketika orang tuanya tahu aksi anaknya tersebut, maka orang tuanya ini memukuli atau menghukum anaknya, namun seiring berjalannya waktu anak ini masih saja mencuri uang orang tuanya yang membuat dia selalu dihukum karena perbuatan salahnya tersebut.

11. Agnes A Pasaribu (712023294)

Apa level perkembangan moral yang mungkin terjadi di antara siswa SD kelas VI?

Bagaimana ini mempengaruhi pendekatan guru terhadap cara mengelola hubungan sesama siswa dikelas ?

Contoh nya:

Anak yang dalam usia tersebut kan pasti sudah bisa berpikir sosial, berpikir secara kritis dan emosional dalam menggapai sesuatu, apalagi ketika terjadi perbedaan pendapat dalam lingkungan pertemanan nya,bagaimana kah cara guru menanggapi hal tersebut dan melakukan pendekatan,dan apakah pendekatan tersebut berpengaruh bagi penunjangan moral anak tersebut?

(17)

JAWABAN

1. Dalam situasi yang dijelaskan di pertanyaan, Heinz melanggar hukum dengan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya. Subjek-subjek pada tahap 5 mungkin akan menghadapi dilema moral, di mana mereka harus mempertimbangkan konflik antara kewajiban moral untuk menyelamatkan nyawa seseorang (dalam hal ini, istrinya) dan aturan hukum yang melarang pencurian. Namun, ketika kita mencoba menghubungkan ini dengan situasi remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah, ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan.

Dalam kasus Heinz, pelanggaran hukum (pencurian) dilakukan untuk tujuan yang jelas dan moral (menyelamatkan nyawa seseorang). Di sisi lain, dalam kasus pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah, pelanggaran hukum mungkin terkait dengan perilaku yang lebih kompleks dan beragam, dan sifat pelanggarannya mungkin kurang jelas.

Konsekuensi dari pelanggaran hukum dalam kedua kasus ini berbeda. Dalam kasus Heinz, konsekuensinya terkait dengan nyawa seseorang. Dalam kasus pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah, konsekuensinya dapat berkaitan dengan tanggung jawab sosial, moral, dan kesejahteraan anak yang mungkin terlibat.

Persepsi tentang pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah juga sangat

dipengaruhi oleh faktor budaya dan nilai-nilai sosial. Apakah tindakan tersebut dianggap sebagai pelanggaran moral atau hanya pelanggaran hukum akan sangat bervariasi dalam konteks budaya dan sosial yang berbeda.

Dengan demikian, untuk mengembangkan pemahaman moral remaja dalam situasi seperti pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah, perlu melihat lebih dari sekadar tahap 5 dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pertimbangan konteks sosial, nilai-nilai budaya, dan dampak sosial dari tindakan tersebut juga harus diperhitungkan. Selain itu, peran pendidikan moral dan dukungan sosial dalam membantu remaja membuat keputusan moral yang tepat juga sangat penting.

2. Dalam pandangan individu pada tahap 5, hukum dan moral dapat bersinggungan, tetapi jika terjadi konflik, mereka akan cenderung lebih mendukung pertimbangan moral yang lebih tinggi, seperti hak untuk hidup, dibandingkan dengan pematuhan terhadap hukum yang kaku. Hakim dalam cerita Heinz juga mencerminkan pendekatan ini dengan mencoba mempertimbangkan sudut pandang moral lebih besar dalam menjatuhkan hukuman kepada Heinz.

Dalam konteks ini, konsep hak asasi manusia, hukum, dan kontrak sosial mempengaruhi cara individu merespons dilema moral seperti Heinz Mencuri Obat dengan cara yang sangat berbeda, tergantung pada tahap perkembangan moral mereka. Tahap 1 lebih cenderung memprioritaskan aturan dan hukuman, sedangkan Tahap 5 lebih cenderung

mempertimbangkan nilai-nilai moral yang lebih tinggi seperti hak untuk hidup.

(18)

3. Pada tahap perkembangan moral yang berbeda-beda, individu akan memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan bagaimana mereka merespons situasi seperti diperkosa siswa tersebut.

Pada Tahap 1, individu cenderung berfokus pada aspek hukuman dan menganggap bahwa pelaku harus dihukum sesuai hukum. Mereka mungkin kurang memahami dampak psikologis yang dialami oleh korban. Pada Tahap 2, individu mulai menyadari perbedaan pandangan orang dan dapat lebih mempertimbangkan perspektif korban, tetapi fokus mereka masih pada pertukaran yang adil. Pada Tahap 3, individu mengembangkan empati dan perasaan positif terhadap orang lain, sehingga lebih mungkin untuk memahami dampak emosional dan psikologis yang dialami korban. Mereka cenderung memberikan dukungan moral kepada korban. Pada Tahap 4, individu melihat pentingnya menjaga tatanan sosial dan hukum yang ada, namun mereka juga dapat memahami perlunya memberikan dukungan dan perawatan kepada korban untuk pemulihan psikologis. Pada Tahap 5, individu memahami pentingnya hak asasi manusia dan hak moral individu, dan mereka mendukung upaya untuk memastikan bahwa pelaku dihukum sesuai hukum. Mereka juga memahami perlunya memberikan dukungan dan perawatan kepada korban, mengakui hak korban untuk hidup tanpa trauma.

Dalam konteks ini, perkembangan moral individu pada tahap 3 hingga 5 cenderung lebih mendukung korban dan pemulihan mereka, sambil tetap menghormati proses hukum yang ada. Pendekatan yang penuh empati dan berpusat pada korban sangat penting dalam membantu korban mengatasi trauma mereka dan memastikan bahwa hak-hak mereka dihormati.

4. Ketika membahas mengapa teori perkembangan moral Kohlberg tidak memasukkan faktor budaya secara eksplisit, penting untuk diingat bahwa teori Kohlberg lebih berfokus pada tahap-tahap perkembangan moral yang bersifat universal dan bersifat umum. Teori ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana individu secara umumnya berkembang dalam pemahaman moral mereka. Namun, faktor budaya dapat memengaruhi bagaimana individu memahami dan menerapkan moralitas, termasuk pandangan mereka tentang perkawinan dini.

Faktor budaya dapat memengaruhi norma-norma sosial, nilai-nilai, dan pandangan moral yang diterima oleh individu dalam masyarakat tertentu. Oleh karena itu, dalam konteks perkawinan dini, faktor budaya bisa sangat signifikan. Teori Kohlberg tidak secara eksplisit memasukkan faktor budaya karena fokus utamanya adalah pada tahap-tahap perkembangan moral yang bersifat umum. Namun, para peneliti moralitas sering mempertimbangkan faktor budaya dalam analisis mereka, karena ini merupakan aspek penting dalam memahami perbedaan dalam pandangan moral di berbagai kelompok dan masyarakat.

5. ………

………

………

………

………

………

………

6. ………

………

………

………

………

(19)

7. Tahap 3 dalam perkembangan moralitas, yang dikenal sebagai tahap moralitas konvensional, melibatkan individu dalam mempertimbangkan tindakan moral mereka dengan berfokus pada hubungan antar pribadi yang baik dan nilai-nilai sosial yang diakui dalam keluarga dan masyarakat. Pada tahap ini, individu mulai menghargai pentingnya motivasi dan perasaan positif terhadap orang lain, seperti kasih sayang, empati, kepercayaan, dan kepedulian.

Mereka juga mempertimbangkan hak dan kewajiban dalam konteks hubungan antar pribadi.

Contoh dilema Heinz yang menggambarkan seorang suami yang mencoba menyelamatkan nyawa istrinya dengan mencuri obat adalah ilustrasi bagaimana individu pada tahap ini mungkin akan melihat tindakan tersebut sebagai moral jika didasarkan pada niat baik untuk menyelamatkan nyawa orang yang dicintai. Mereka juga mungkin memandang bahwa Heinz memiliki kewajiban moral untuk melakukan tindakan tersebut, karena kewajiban ini sesuai dengan harapan sosial dalam hubungan suami-istri.

Namun, individu dengan autisme mungkin mengalami tantangan tambahan dalam memahami nuansa sosial dan emosi orang lain. Ini dapat mempengaruhi cara mereka memproses dan merespons dilema moral seperti yang dijelaskan dalam cerita Heinz. Oleh karena itu, pendekatan yang sensitif terhadap kebutuhan individu dengan autisme dan mungkin memerlukan panduan yang lebih konkret dalam konteks moral.

Dalam mendukung individu dengan autisme dalam perkembangan moral mereka, penting untuk memahami bahwa setiap individu adalah unik, dan pengalaman moral dapat bervariasi.

Dukungan yang sesuai, seperti membantu mereka memahami norma sosial dan nilai-nilai moral dalam lingkungan mereka, serta memberikan panduan yang jelas dalam situasi moral, dapat membantu mereka mengatasi tantangan moral yang mungkin mereka hadapi.

8. Kasus perundungan oleh anak-anak merupakan isu serius dalam perkembangan moral mereka.

Pemahaman tentang kasus ini dapat dilihat dari perspektif tahap-tahap perkembangan moral Kohlberg.

Tahap 1, Anak-anak pada tahap ini cenderung berfokus pada hukuman dan aturan, sementara perundungan sering melibatkan kekuasaan dan dominasi. Ini menunjukkan bahwa tahap ini tidak sepenuhnya menjelaskan motivasi di balik perundungan. Tahap 2, Tahap ini mempertimbangkan kepentingan pribadi, namun perundungan yang merugikan korban tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan egoisme. Motivasi perundungan sering lebih kompleks.

Tahap 3, Pada tahap ini, pentingnya hubungan yang baik dan empati semakin ditekankan.

Namun, masih mungkin ada ketidakpahaman tentang dampak perundungan terhadap korban.

Tahap 4, Tahap ini menekankan memelihara tatanan sosial, tetapi perundungan jelas melanggar tatanan sosial dan keseimbangan keadilan. Tahap 5, Pada tahap ini, individu mempertimbangkan hak-hak individu dan kontrak sosial. Tindakan perundungan akan dianggap tidak bermoral karena melanggar hak-hak korban.

Dalam kasus perundungan, penting untuk diingat bahwa motivasi pelaku bisa sangat beragam dan kompleks. Faktor seperti pengaruh teman sebaya, kurangnya pemahaman dampaknya, atau masalah individu dapat memainkan peran. Oleh karena itu, perlu memberikan pendidikan moral yang mempromosikan empati, kepedulian, dan pemahaman dampak perundungan. Ketika pelaku perundungan adalah mantan korban, situasinya menjadi lebih kompleks karena mereka mungkin mengalami trauma. Dukungan dan bimbingan untuk mengatasi pengalaman mereka sangat penting. Secara keseluruhan, pendidikan moral, komunikasi terbuka, dan pengawasan orang dewasa berperan penting dalam membantu anak- anak memahami moralitas dan perilaku yang sesuai dalam masyarakat.

(20)

9. Teori perkembangan moral Kohlberg memberikan pandangan yang berguna untuk

memahami bagaimana anak-anak usia 7-12 tahun merespons dilema moral yang berkaitan dengan tekanan ekonomi, seperti ngamen agar bisa makan atau terlibat dalam pencurian karena kebutuhan makan. Tahap-tahap perkembangan moral yang dijelaskan oleh Kohlberg dapat memberikan wawasan tentang bagaimana anak-anak pada usia ini memproses masalah etika tersebut. Pada tahap 1, anak-anak cenderung melihat tindakan ngamen atau pencurian sebagai pelanggaran aturan yang dapat mengakibatkan hukuman. Mereka mungkin lebih fokus pada konsekuensi hukuman daripada pertimbangan moral. Tahap 2 menyoroti

kepentingan pribadi, dan dalam situasi ekonomi sulit, anak-anak mungkin cenderung melihat tindakan tersebut sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sendiri, bahkan jika itu melibatkan pelanggaran aturan. Tahap 3 menekankan hubungan antar pribadi yang baik, kasih sayang, dan empati. Dalam konteks ini, anak-anak mungkin melihat tindakan tersebut sebagai usaha untuk menjaga hubungan keluarga yang baik dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Tahap 4 menyoroti pemeliharaan tatanan sosial dan

menghormati aturan yang ada. Anak-anak dalam tahap ini mungkin akan melihat tindakan ngamen atau pencurian sebagai pelanggaran terhadap tatanan sosial dan hukum yang ada.

Tahap 5 membahas kontrak sosial dan hak-hak individu. Anak-anak pada tahap ini mungkin akan mempertimbangkan hak individu untuk mendapatkan makanan dan pemenuhan

kebutuhan dasar, dan mereka mungkin juga berpendapat bahwa sistem sosial harus diperbaiki untuk mengatasi tekanan ekonomi yang menyebabkan situasi semacam ini.

Penting untuk diingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik, dan respons mereka terhadap dilema moral dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan pengalaman pribadi. Selain itu, solusi untuk dilema moral semacam ini tidak selalu bersifat hitam-putih dan perlu mempertimbangkan konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, teori Kohlberg memberikan kerangka kerja penting, tetapi tidak selalu

memberikan jawaban pasti dalam situasi-situasi etika yang kompleks.

10.

11. …..

12. ….

13. ….

Referensi

Dokumen terkait