• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSKOPEN KECERDASAN

N/A
N/A
24J@Lailin Nuzzul Maghfira

Academic year: 2025

Membagikan "PSKOPEN KECERDASAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Nur Azhira Putri Salifah NIM : 24120664289

Kelas : 2024 J

Konsep Dasar Kecerdasan dan Perannya dalam Proses Belajar A. Dasar- Dasar kecerdasan

Kecerdasan adalah kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memahami dan mengatasi situasi kompleks, serta menggunakan pengetahuan untuk beradaptasi dengan lingkungan. pembelajaran adalah usaha- usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber- sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa.

(Intelegensi_Konsep_dan_Pengukurannya, n.d.)

Konsep dasar kecerdasan sering kali mencakup beberapa aspek, seperti kemampuan kognitif, keterampilan sosial, kreativitas, dan pemecahan masalah. Kecerdasan juga berperan dalam kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang tersedia, yang sangat penting dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Individu yang cerdas cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan memiliki ketekunan yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan. kecerdasan memainkan peran krusial dalam meningkatkan efektivitas proses belajar dan membantu individu mencapai potensi maksimalnya.(Eka et al., n.d.)

B. Teori tokoh kecerdasan 1. General Intelligence

Pada tahun 1904, Charles Spearman memperkenalkan suatu teori yang menyatakan bahwa ada satu faktor umum kecerdasan yang disebut sebagai Faktor G (G Factor) . Faktor G merujuk pada kapasitas mental yang luas yang memiliki pengaruh terhadap penampilan dalam berbagai kemampuan kognitif. Teori ini menyatakan bahwa kecerdasan seseorang dapat diukur, serta diwakili oleh satu faktor tunggal yang merangkum semua bentuk kecerdasan, meskipun terdapat perbedaan- perbedaan di dalamnya.

2. Primary Mental Abilities

Melalui tulisannya dalam bidang psikologi pada tahun 1938, Louis J. Thurstone menyatakan bahwa kecerdasan tidak dapat disederhanakan. Menurutnya, kecerdasan terdiri dari beragam jenis kemampuan mental yang berbeda.

3. Theory of Multiple Intelligence

Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya terbatas pada aspek verbal atau matematis, melainkan terdiri dari berbagai bentuk kecerdasan yang berbeda, seperti kecerdasan interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan lainnya.

(2)

4. Triarchic Theory of Intelligence

Sternberg menggambarkan kecerdasan sebagai proses mental yang terfokus pada adaptasi yang bermakna, pemilihan, dan penciptaan lingkungan yang sesuai dengan kehidupan nyata seseorang. Seperti pandangan Gardner, Sternberg juga meyakini bahwa kecerdasan melampaui satu kemampuan umum saja. Dalam teori ini, Robert Sternberg mengusulkan bahwa kecerdasan manusia terdiri dari tiga bentuk utama, yaitu

Kecerdasan analitik (Mengukur, membandingkan, dan mengevaluasi)

Kreatif (Memecahkan masalah dalam situasi baru)

Praktikal (Menerapkan ide-ide dalam kehidupan sehari-hari).

C. Jawaban pertanyaan

1. Apa definisi dan teori dasar kecerdasan

Kecerdasan adalah kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memahami dan mengatasi masalah, serta beradaptasi dengan lingkungan. Ini mencakup kemampuan kognitif, kreativitas, pemecahan masalah, serta keterampilan sosial dan emosional. Dan teori dasar kecerdasan yaitu, Teori Kecerdasan Tunggal (Spearman), Theory of Multiple Intelligence( Teori kecerdasan ganda), triarchic theory of intelligence(Sternberg), Primary Mental Abilities(Kemampuan Mental Utama).

2. Tes kecerdasan apa yang digunakan secara internasional dan bagaimana interpretasinya?

Ada beberapa tes kecerdasan yang digunakan secara internasional, masing-masing dengan pendekatan dan interpretasi yang berbeda.

1. Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) interpretasinya: Hasil WAIS biasanya dilaporkan dalam bentuk IQ (Intelligence Quotient). Skor IQ di atas 100 dianggap rata-rata, sedangkan skor di bawah 100 dianggap di bawah rata- rata. Tes ini memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan dalam kemampuan kognitif.

2. Stanford-Binet Intelligence Scales, interpretasinya: Hasil tes juga dilaporkan dalam bentuk skor IQ. Tes ini mencakup berbagai subtes yang mengukur kemampuan verbal, pemecahan masalah, dan keterampilan visual-spasial.

3. Raven's Progressive Matrices, interpretasinya: Hasilnya memberikan gambaran tentang kecerdasan umum, dan skor yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih baik, terutama dalam konteks penalaran abstrak.

3. Apa saja kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam Pendidikan Kritik dan tantangan dalam tes kecerdasan ada bias budaya yaitu tes sering dianggap tidak adil terhadap kelompok tertentu, karena pertanyaan mungkin lebih akrab bagi budaya tertentu.

(3)

DAFTAR PUSTAKA

Eka, V. W., Sekolah, I., Islam, T., & Banyuwangi, B. (n.d.). Peranan Kecerdasan Spiritual dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.

Purwanto. Surakarta: STAIN Surakarta Intelegensi_Konsep_dan_Pengukurannya. (n.d.).

(4)

Nama : Megalita Adliyana Riestiya NIM : 24120664105

Kelas : 2024 J

Konsep Dasar Kecerdasan Dan Perannya Dalam Proses Belajar

A. Dasar Dasar Kecerdasan

Dasar-dasar kecerdasan tentunya dilakukan dengan cara belajar, belajar ini menunjukkan adanya perubahan yang bersifat positif pada siswa. Dengan melakukan belajar, maka siswa akan mendapatkan pemikiran yang cerdas. Belajar sendiri merupakan proses dari yang belum mampu memahami materi menjadi mampu dan terjadi di dalam waktu tertentu. Proses belajar merupakan hal yang penting, karena melalui belajar individu dapat mengenal lingkungannya dan ia dapat menyesuakan diri dengan lingkungan sekitar (Ahmad Zain Sarnoto, 2014)

B. Teori Tokoh

1. Teori dua faktor (Two-Factors Theory)

Dikembangkan oleh Charles Spearman, ia mengembangkan teori kecerdasan berdasarkan elemen mental umum yang dilambangkan G serta elemen spesifik yang dilambangkan S. Faktor G mewakili mental umum yang berfungsi dalam perilaku mental individu, sedangkan faktor S mengidentifikasikan tindakan mental khusus untuk pemecahan masalah (Kurnia Muhajarah, 2022).

2. Teori Multifaktor

Louis Thurstone, ia mengatakan bahwa kecerdasan terdiri dari tujuh, yaitu : (1) penalaran numerik; (2) memori; (3) kesadaran linguistik; (4) kemampuan spesial;

(5) penalaran induktif; (6) kecepatan berpikir; (7) pemecahan masalah (Kurnia Muhajarah, 2022).

3. Teori Kecerdasan Kuantitatif

Menurut Thorndike, ada tiga jenis kecerdasan, yaitu (1) tingkat munculnya masalah yang dapat dipecahkan seseorang; (2) kualitas pemecahan masalah; (3) jumlah masalah hingga batasan tertentu dapat diselesaikan (Kurnia Muhajarah, 2022).

4. Teori Kecerdasan Cair dan Kecerdasan Kristal (Fluid Intellegence and Crystalized Intellegence)

Ditemukan oleh Raymond Cattel dan John Horn pada tahun 1960, merupakan teori pengembangan lebih lanjut dari teori kecerdasan umum. Kecerdasan cair pengukuran kecerdasannya adalah inferensi umum, memori, jarak perhatian, dan analisis. Sedangkan kecerdasan kristal pengukuran kecerdasannya menggunakan pembelajaran, pendidikan dan pengalaman hidup (Kurnia Muhajarah, 2022).

(5)

5. Teori Kecerdasan Triarkis (Triarchic Intelligence)

Menurut Prof. Robert J. Stenberg adalah orang yang selalu menyeimbangkan kecerdasan kreatif, kemampuan analitis, dan kepraktisan. Kecerdasan kreatif mencakup kemampuan untuk mengenali dan membentuk ide-ide yang baik dan solusi untuk masalah di berbagai bidang kehidupan. Kecerdasan analitis digunakan untuk secara sadar memahami dan memecahkan masalah; pengembangan strategi;

menyusun dan menyampaikan informasi secara akurat; mengalokasikan sumber daya dan pantau hasilnya (Kurnia Muhajarah, 2022).

6. Teori kecerdasan yang dapat dipelajari (Learnable Intelligence)

Teori kecerdasan ditemukan oleh David Perkins di Harvard, inti dari teori ini adalah bahwa kecerdasan dipengaruhi dan dimanfaatkan oleh sejumlah faktor dalam kehidupan seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah sistem otak, pengalaman hidup dan kapasitas pengaturan diri (Kurnia Muhajarah, 2022).

7. Teori kecerdasan behavioral (Behaviour Intelligence)

Profesor Arthur Costa dari Institut Intelijen di Berkeley telah melakukan penelitian tentang kecerdasan sebagai seperangkat kecenderungan perilaku. Kecerdasan adalah ketekunan, kemampuan mengatur perilaku impulsif, empati, keluwesan berpikir, metakognisi, menguji ketelitian dan ketepatan, kemampuan bertanya dan mengajukan pertanyaan, menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya, menggunakan ketepatan bahasa dan pikiran, mengumpulkan data melalui panca indera, kebijaksanaan, rasa ingin tahu, pengetahuan dan kemampuan membelokkan sensasi (Kurnia Muhajarah, 2022).

C. Jawaban Pertanyaan

1. Apa definisi dan teori dasar kecerdasan?

Kecerdasan merupakan suatu tingkatan dalam otak atau pemikiran individu yang dapat di lihat melalui tes IQ, teori dasar kecerdasan ada banyak yaitu (1) Teori dua faktor; (2) Teori multifaktor; (3) Teori kecerdasan kuantitatif; (4) Teori kecerdasan cair dan kecerdasan kristal; (5) Teori kecerdasan triarkis, (6) Teori kecerdasan yang dapat dipelajari, (7) Teori kecerdasan behavioral.

2. Tes kecerdasan apa yang digunakan secara internasional dan bagaimana interpretasinya?

Tes kecerdasan yang digunakan secara Internasional ada banyak salah satunya adalah CFIT (Culture Fair Intellegence Test) yang telah dikembangkan oleh Raymond Cattel, interpretasinya dengan skala 1 untuk usia 4-8 tahun, skala 2 untuk usia 8-13, skala 3 ditujukan untuk individu dengan kecerdasan di atas rata-rata.

3. Apa saja kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam pendidikan?

Kritik utama adalah tes kecerdasan tidak terlalu mampu memprediksi seberapa baik kinerja seseorang pada posisi tertentu, dan tantangannya jika hasilnya jelek maka anak akan merasa tidak percaya diri.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Muhajarah, K. (2022). Beragam Teori Kecerdasan, Proses Berpikir dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama , 8(1), 116-127.

Warsah, I. (2018). Pendidikan Keimanan Sebagai Basis Kecerdasan Sosial Peserta Didik:

Telaah Psikologi Islami. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 4(1), 1-16.

(7)

Nama : Tasya Adinda Prameswari NIM : 24120664498

Kelas : 2024 J

1. Apa definisi dan teori dasar kecerdasan?

2. Tes kecerdasan apa yang digunakan secara internasional dan bagaimana interpretasinya?

3. Apa saja kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam pendidikan?

JAWABAN 1. Teori dasar kecerdasan

 Teori Howard Gardner

Teori kecerdasan Gardner mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas. Bagi Gardner tidak ada anak yang bodoh atau pintar; yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan. Tetapi terkadang di sekolah atau di rumah, guru atau orang tua mengatakan anaknya tidak pintar atau bodoh dan inilah yang terkadang membuat seorang anak menjadi patah semangat, down, dan tidak mau belajar lagi sehingga susah untuk mencapai masa depan yang baik. Tujuan penulisan ini untuk memberikan teguran atau ajaran kepada guru dan orang tua supaya tidak mengatakan kepada anaknya bahwa mereka bodoh atau tidak pintar tetapi selayaknya orang tua dan guru jeli dan cermat merancang sebuah metode khusus untuk mencari dan mengasah kecerdasan anaknya karena setiap manusia memiliki kelebihannya masing-masing, sehingga anak-anak mempunyai masa depan yang baik. Dengan menggunakan teori-teori dari berbagai sumber dan di analisis sehingga menemukan teori untuk memecahkan suatu masalah. Teori Gardner mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas dan tidak ada anak yang bodoh dan pintar. Setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing, jadi guru dan orang tua seharusnya bisa melihat dengan jeli dan cermat sehingga bisa merancang sebuah metode khusus untuk mencari dan mengasah kecerdasan anaknya sehingga anak-anak memiliki masa depan yang baik.

 Teori Daniel Goleman

Teori kecerdasan emosi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia dini.

kecerdasan emosi Goleman dalam pendidikan anak usia dini berkontribusi positif terhadap perkembangan emosi yang sehat dan seimbang, yang pada gilirannya mendukung pertumbuhan sosial dan akademis anak secara keseluruhan. Dalam perspektif Daniel Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengelola dan memahami emosi dengan bijaksana. Ini melibatkan kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Kecerdasan emosional membantu kita berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik dan mencapai kesejahteraan emosi. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan

(8)

emosinya pada porsi yang tepat, memilihlah kepuasan memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.

 Teori Stemberg

Pada tahun 1985, Sternberg mengusulkan teori kecerdasan tiga kategori, mengintegrasikan komponen yang kurang dalam teori Gardner. Teori ini didasarkan pada definisi kecerdasan sebagai kemampuan untuk mencapai kesuksesan berdasarkan standar pribadi Anda dan konteks sosial budaya Anda. Kecerdasan analitis disebut sebagai kecerdasan komponen, mengacu pada kecerdasan yang diterapkan untuk menganalisis atau mengevaluasi masalah dan sampai pada solusi.

Inilah yang diukur dengan tes IQ tradisional. Kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk melampaui apa yang diberikan untuk menciptakan ide-ide baru dan menarik.

Jenis kecerdasan ini melibatkan imajinasi, inovasi, dan pemecahan masalah.

Kecerdasan praktis adalah kemampuan yang digunakan individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,

Ketika seseorang menemukan yang paling cocok antara dirinya dan tuntutan lingkungan. Beradaptasi dengan tuntutan lingkungan melibatkan baik memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman untuk secara sengaja mengubah diri sendiri agar sesuai dengan lingkungan, mengubah lingkungan agar sesuai dengan diri sendiri atau menemukan lingkungan baru untuk bekerja. Dari pembahasan jenis teori di atas dapat disimpulkan bahwa semua teori tersebut benar dan sesuai dengan perspektif masing-masing bahwa setiap orang mempunyai kecerdasannya secara individual dan kelompok. Kemudian, dari kecerdasan tersebut dapat membantu dan membentuk dirinya sendiri agar lebih memahami bagaimana kemampuan yang dimiliki sehingga proses perkembangan hidup lebih maju.

 Teori Spearman

Spearman (1904) adalah seorang psikolog Inggris yang mendirikan teori kecerdasan dalam dua faktor. Kecerdasan ini dikenal dengan faktor g, mengacu pada kemampuan mental umum yang, mendasari beberapa keterampilan khusus, termasuk verbal, spasial, numerik dan mekanik. Pada tahap teori ini dia mengunakan teknik yang dikenal dengan analis faktor. Analisis faktor adalah prosedur melalui mana korelasi variabel terkait dievaluasi untuk menemukan faktor yang mendasari yang menjelaskan korelasi ini. Sperman memperhatikan bahwa orang yang berhasil dalam satu bidang tes kecerdasan (misalnya, matematika), juga berhasil dalam bidang lain (seperti membedakan nada; Kalat, 2014). Itu menunjukkan bahwa ada strong connection antara kinerja yang baik dalam matematika dan musik. Kemudian, dia juga mengkorelasikan hubungan ini dengan faktor sentral, yaitu kecerdasan umum. Hal ini juga mewakili kecerdasan umum secara individu diberbagai kemampuan dan faktor kedua adalah yang berfokus pada kemampuan spesifik dalam bidang tertentu, hal ini didukung oleh (Thomson, 1947).

(9)

2. Tes kecerdasan apa yang digunakan secara internasional

 Tes WAIS

Merupakan tes yang dikembangkan untuk diberikan kepada individu dengan rentang usia 16 hingga 89 tahun. Peserta dalam tes ini harus memiliki penglihatan dan fungsi motorik yang baik untuk administrasi subtes skala kinerja yang baik, serta kemampuan berbahasa dan juga pendengaran yang baik untuk memungkinkan administrasi subtes verbal yang baik (Ryan, 2001). Tes WAIS dapat digunakan untuk memperoleh IQ bagi remaja yang memiliki fungsi di atas rata-rata dan juga menentukan fungsi kognitif bagi orang dewasa. Selain itu, tes WAIS memiliki kegunaan khusus, yaitu untuk mendiagnosis bakat dan keterbelakangan mental, serta menentukan tingkat gangguan mental dan gangguan neuropsikologis yang berkaitan dengan faktor usia atau tidak terkait dengan faktor usia (Ryan, 2001). Alat tes yang dinamai Wechsler Bellevue Intelligence Scale (WBIS) ia rancang berdasarkan kritiknya terhadap alat ukur yang dikemukakan oleh Binet, bahwa skala Binet tidak cocok jika digunakan oleh orang dewasa. Oleh karena itu, Wechsler mendesain sebuah alat ukur yang berfokus untuk orang dewasa sekaligus memperbaiki kelemahan yang terdapat dalam skala Binet.

Setelahnya, WBIS berganti nama menjadi Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) (Rohmah, 2011). Tes WAIS merupakan tes intelegensi yang bersifat individu.

Sebagai alat ukur intelegensi untuk usia dewasa, tes WAIS telah memberikan berbagai dampak yang sangat besar bagi ilmu psikologi. Dalam keberfungsiannya, tes WAIS dimanfaatkan sebagai alat ukur untuk mengukur kecerdasan, tes neuropsikologis, asesmen psikologi, serta fungsi diagnostik lainnya. Berbagai kemampuan ini menyebabkan tes WAIS menjadi lebih dipandang, sehingga terbukti beberapa negara telah menggunakan serta mengembangkan alat ukur ini sebagai adaptasi dari skala asli sesuai dengan kebutuhan, seperti kebutuhan dalam bidang klinis, pendidikan, penelitian ataupun kebutuhan lainnya (Basri, 2019).

 Raven’s Colored Progressive Matrices (CPM)

Tes kognitif yang paling banyak digunakan oleh praktisi di bidang pendidikan yang berfungsi mengidentifikasi tingkat kognitif anak. J.C Raven yaitu pembuat dari tes ini, dianggap telah berhasil melakukan terobosan dalam mendesain alat ukur yang secara efektif berhasil meminimalkan empat hambatan budaya yang diidentifikasi oleh Anastasia dan Urbina (1997) yaitu bahasa, konten tes, kemampuan membaca soal, dan kecepatan pengerjaan tes. Dua komponen utama dari kemampuan kognitif. Umum (g factor) yang diukur oleh Raven adalah, seperti halnya yang disebutkan juga oleh teori Spearman, yakni: 1) eductive ability, yaitu kemampuan untuk membuat makna dan menghasilkan sebuah skema dari informasi yang tidak terstruktur, membingungkan, biasanya bersifat non-verbal, dan implisit sehingga kompleksitas yang dihadapi tadi menjadi lebih mudah ditangani; dan 2) reproductive ability, yaitu kemampuan untuk menyerap, menginga, dan mereproduksi informasi yang telah dibuat eksplisit dan dikomunikasikan dari satu orang ke orang lain (Raven, 2008). Walaupun kemudian penelitian menunjukkan bahwa alat ukur yang dibuat Raven tidak sepenuhnya

(10)

mengukur g factor (Gignac, 2015). CPM merupakan alat yang cukup valid dan reliabel untuk digunakan sebagai alat identifikasi kemampuan kognitif pada anak- anak di Lithuania. Penelitian lain juga menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak ditemukan perbedaan yang signifikan terkait perolehan skor CPM terhadap perbedaan jenis kelamin (Fajgelj,Bala & Tubic, 2007).

 Tes Intelegensi

Tes Intelegensi Stanford-Binet Form L-M (SB L-M) yang dikembangkan oleh Terman & Merrill dan versi yang sudah diadaptasi menggunakan Bahasa Indonesia mengingat tes intelegensi ini merupakan alat yang sering digunakan sejak awal abad 20 (Roid & Barram, 2004) dan banyak digunakan untuk melakukan asesmen intelegensi pada anak yang mengalami retardasi mental di Indonesia (Kurniawan et al., 2023). Tes Stanford-Binet (SB) sendiri digunakan dalam penelitian ini karena mulanya disusun oleh Alfred Binet dan Theodore Simon bertujuan untuk mengidentifikasi aspek intelegensi pada anak yang mengalami retardasi mental.

Implementasi tujuan tersebut tercermin melalui prinsip dasar interpretasi hasil tes yaitu membandingkan mental age (MA) sebagai hasil tes yang merupakan usia harapan atau ideal dari individu untuk menunjukkan level performansinya dalam berpikir dengan chronological age (CA) sebagai usia anak yang sesungguhnya.

Jika hasil tes menunjukkan mental age lebih muda daripada chronological age maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikirnya lebih rendah dari kemampuan berpikir anak seusianya pada umumnya (Becker, 2003; Sattler, 2018).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil Tes Intelegensi SB L-M memiliki tingkat ceiling dan nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan SB IV dan SB V (Tyler-Wood et al., 2014). Hasil tes yang lebih baik ini tentu akan mempermudah pengadministrasian kepada anak yang mengalami retardasi mental.

Selain itu Tes Intelegensi SB L-M juga sudah pernah diteliti terkait dengan daya prediksinya terhadap prestasi akademik siswa SD di Indonesia. Menggunakan analisis regresi sederhana, hasilnya menunjukkan bahwa 25,4% dari variasi nilai dapat diterangkan oleh hasil tes SB L-M sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil tes SB L-M memiliki daya prediksi yang tergolong menengah terhadap prestasi akademik pada siswa SD (Reinaldi & Hidayat, 2021). Tes Intelegensi SB Form L- M memiliki beberapa aspek struktur intelegensi yang dianalisa, yaitu General Comprehension, Visual-Motor Ability, Arithmetic-Reason, Memory and Concept, Vocab and Verbal Fluency, dan Judgement and Reasoning. General comprehension mengukur kemampuan dalam mengkonseptualisasikan dan mengintegrasi beberapa hal detil menjadi sesuatu yang bermakna. Visual-motor ability mengukur kemampuan memanipulasi informasi untuk memecahkan suatu masalah menggunakan koordinasi visual dan kemampuan motorik. Arithmetic reasoning mengukur kemampuan untuk melakukan asosiasi numerik secara tepat dan menggunakannya dalam memecahkan suatu masalah. Memory and concept mengukur kemampuan untuk memusatkan dan mempertahankan perhatian dalam mengingat pengetahuan atau informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.Vocabulary and verbal fluency merupakan kemampuan menggunakan kata dengan tepat dalam mengabstraksi atau mengkonkritkan suatu informasi, serta memahami dan arti kata dan konsep verbal. Judgement and reasoning merupakan

(11)

kemampuan untuk merespon kondisi spesifik secara tepat menggunakan diskriminasi, perbandingan, dan penilaian dalam beradaptasi (Valett, 1963; Sattler, 2018).

3. Kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam pendidikan:

- Kritik

o Keterbasan Ruang Lingkup o Bias Budaya

o Stigmatization

o Overemphasis pada IQ - Tantangan

o Validalitas dan Reliabilitas o Penggunaan dan Penempatan

o Sistem Pendidikan yang Terfokus pada Tes o Keterbatasan dalam Intervensi

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Chintya, R., & Sit, M. (2024). Analisis Teori Daniel Goleman dalam Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak Usia Dini Analysis of Daniel Goleman’s Theory in the Development of Emotional Intelligence in Early Childhood conditions of the Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY SA) license.

Kezia Vb Lalujan, O. K. T. Y. M. (n.d.). Kecerdasan Anak Usia Dini Ditinjau Dari Prespektif Teori  Kecerdasan Howard Gardner.docx.

Dyah Maharani, N., Azizah Maulidyah, N. A., Azizah Maghfiroh, N., & Eva, N. (n.d.).

WECHSLER ADULT INTELLIGENCE SCALE. Jurnal Flourishing, 2(1), 32–37.

https://doi.org/10.17977/10.17977/um070v2i12022p32-37

Tarigan, M., & Fadillah, F. (2021). Analisis Item Response Theory Raven’s Coloured Progressive Matrices pada Sampel Anak Usia Dini. PSIKODIMENSIA, 20(2), 158–

169. https://doi.org/10.24167/psidim.v20i2.3101

Muhamad, U. (2022). Memahami Kecerdasan Emosional: Perspektif Psikologi Islam.

Dharmawan, M., & Adhyatma, R. (2024). Psikodinamika : Jurnal Literasi Psikologi Deskripsi Krakteristik Hasil Tes Intelegensi Stanford-Binet Form L-M (SB L-M) pada Siswa Retardasi Mental di Tingkat Sekolah Dasar. In PSIKODINAMIKA: JURNAL LITERASI PSIKOLOGI (Vol. 4, Issue 1).

(13)

Nama : Lailin Nuzzul Maghfira NIM : 24120664500

Kelas : 2024 J

A. Dasar-Dasar Kecerdasan

Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti pintar dan cerdik, cepat tanggap dalam menghadapi masalah dan cepat mengerti jika mendengar keterangan.

Kecerdasan adalah kesempurnaan perkembangan akal budi. Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam hal ini adalah masalah yang menuntut kemampuan fikiran. Kecerdasan atau yang biasa disebut dengan intelegensi berasal dari bahasa Latin “intelligence” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Bagi para ahli yang meneliti, istilah intelegensi memberikan bermacam-macam arti. Menurut mereka, kecerdasan merupakan sebuah konsep yang bisa diamati tetapi menjadi hal yang paling sulit untuk didefinisikan. Hal ini terjadi karena intelegensi tergantung pada konteks atau lingkungannya (James W, Elston D, 20 C.E.).

David Wechsler memberi pengertian kecerdasan sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berpikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif (Syaiful Sagala, 2010: 82). Menurut Dusek (Casmini, 2007:14), kecerdasan dapat didefinisikan melalui dua jalan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.

Secara kuantitatif, kecerdasan adalah proses belajar untuk memecahkan masalah yang dapat diukur dengan tes intelegensi, sedangkan secara kualitatif kecerdasan merupakan suatu cara berpikir dalam membentuk konstruk bagaimana menghubungkan dan mengelola informasi dari luar yang disesuaikan dengan dirinya (James W, Elston D, 20 C.E.).

Alfred Binet merupakan seorang tokoh perintis pengukuran inteligensi, ia menjelaskan bahwa inteligensi merupakan kemampuan individu mencangkup tiga hal.

Pertama, kemampuan mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, artinya individu mampu menetapkan tujuan untuk dicapainya (goal setting). Kedua, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila dituntut demikian, artinya individu mampu melakukan penyesuaian diri dalam lingkungan tertentu. Ketiga, kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto kritik, artinya individu mampu melakukan perubahan atas kesalahan-kesalahan (Latifah, 2018).

(14)

Lebih lanjut, Raymond Bernard Cattel mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu inteligensi fluid (gf) dan inteligensi crystallized (gc).

Inteligensi fluid merupakan kemampuan yang berasal dari faktor bawaan biologis yang diperoleh sejak kelahirannya dan lepas dari pengaruh pendidikan dan pengalaman.

Sedangkan inteligensi crystallized merupakan kemampuan yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan dalam diri seseorang, inteligensi ini akan meningkat kadarnya dalam diri seseorang seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh individu.

Karakteristik dari inteligensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 atau 15 tahun, sedangkan inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang sampai usia 30 - 40 tahun bahkan lebih (Latifah, 2018).

B. Kecerdasan Menurut Teori Spearman

Menurut Spearman, inteligensi bukanlah kemampuan tunggal, melainkan terdiri dari dua faktor, sehingga teorinya dikenal sebagai teori inteligensi dwifaktor atau bifaktor. Kecerdasan dapat dibagi menjadi dua yaitu kecerdasan umum (general ability) dan kecerdasan khusus (specific ability), sehingga inteligensi mempunyai dua faktor.

Dua faktor itu adalah faktor yang bersifat umum (general factor, disingkat g) dan yang bersifat khusus (specific factor, disingkat s). Faktor umum mendasari semua tingkah laku, sedang faktor khusus hanya mendasari tingkah laku tertentu. Menurut Suryabrata (2002:128), faktor umum bergantung kepada keturunan dan faktor khusus bergantung kepada pengalaman (lingkungan, pendidikan).

Setiap masalah dipecahkan menggunakan kombinasi antara inteligensi umum dan spesifik. Menurut Winkel (1996:139), inteligensi adalah hasil perpaduan antara faktor umum dan sejumlah faktor khusus. Perpaduan faktor g dan s bersifat unik untuk setiap orang, sehingga ada perbedaan individu satu sama lain. Menurut Spearman (Atkinson, Atkinson, Smith dan Bem, t.th:174), semua individu memiliki faktor inteligensi umum (g) dalam jumlah yang bervariasi. Seseorang dapat dikatakan secara umum cerdas atau bodoh tergantung pada jumlah g yang ia miliki. Faktor g merupakan determinan utama kemampuan mengerjakan soal tes inteligensi (M.Ed, 2010).

C. Kecerdasan Menurut Teori Gardner

Menurut Gardner, inteligensi bukanlah satu kemampuan sebagaimana disampaikan oleh Terman, Spearman, Sternberg, Thurstone, dan Guilford. Inteligensi merupakan kemampuan ganda (multiple intelligence). Kemampuan ganda dalam konsep inteligensi menurut Gardner, terdiri dari sembilan kemampuan (Suparno, 2004:

(15)

19). Kesembilan kemampuan itu adalah (1) linguistik, (2) matematis – logis, (3) ruang, (4) kinestetik – badani, (5) musikal, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, (8) lingkungan / naturalis, dan (9) eksistensial.

Masing-masing kemampuan dalam inteligensi menurut Gardner bersifat independen. Gardner (Good dan Brophy, 1990: 595) menyatakan bahwa inteligensi bukanlah tunggal tetapi jamak, yang masing-masing penting untuk bidangnya dan independen satu sama lain. Tiap-tiap kemampuan bersifat independen. Menurut Atkinson, Atkinson, Smith dan Bem (2003: 181), tiap inteligensi merupakan “modul terbungkus” di dalam otak yang bekerja menurut aturan dan prosedurnya sendiri.

Cedera otak tertentu dapat mengganggu salah satu jenis inteligensi dan tidak memiliki pengaruh pada inteligensi lain. Independensi kemampuan-kemampuan juga dijelaskan oleh Winkel (1996:140). Menurutnya, independensi kemampuan didasarkan adanya bukti: (1) kerusakan otak pada bagian tertentu tidak mengakibatkan gangguan pada bagian lain, (2) orang sering menyolok pada suatu inteligensi tapi tidak pada inteligensi yang lain (M.Ed, 2010).

D. Kecerdasan Menurut Teori Sternberg

Menurut Sternberg inteligensi mempunyai tiga bagian sehingga teorinya dikenal dengan teori inteligensi triarkhis. Tiga bagian inteligensi itu adalah konseptual, kreatif dan kontekstual (Good dan Brophy, 1990: 597). Pertama, konseptual adalah komponen pemrosesan informasi yang digunakan dalam inteligensi. Menurut Winkel (1996 : 140), bagian konseptual mempunyai tiga fungsi yai tu komponen pengatur dan pengontrol (metacomponent atau metacognition), komponen pelaksanaan (performance) dan komponen untuk memperoleh informasi baru (knowledge acquisition). Kedua, kreatif merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan baru secara efektif dan mencapai taraf kemahiran dalam berpikir sehingga mudah berhasil mengatasi segala permasalahan yang muncul . Ketiga, kontekstual adalah kemampuan untuk menempatkan diri dalam lingkungan yang memungkinkan akan berhasil, menye suaikan diri dengan lingkungan dan mengadakan perubahan terhadap lingkungan bila perlu, misalnya memilih kasus, menyesuaikan dengan lingkungan kerja baru dan kelincahan pergaulan sosial (M.Ed, 2010).

(16)

E. Jawaban Pertanyaan

1. Apa definisi dan teori dasar kecerdasan?

Kecerdasan merupakan salah satu subjek yang paling banyak dibicarakan dalam psikologi , tetapi tidak ada definisi standar. Beberapa peneliti berpendapat bahwa kecerdasan merupakan kemampuan tunggal dan umum. Teori kecerdasan lainnya menyatakan bahwa kecerdasan mencakup berbagai bakat, keterampilan, dan talenta. Secara umum, kecerdasan dianggap sebagai seberap besar kapasitas individu untuk memahami konsep kompleks, beradaptasi secara efektif dengan lingkungan sekitar, berpikir secara logis, dan belajar dengan cepat.

Adapun teori dasar kecerdasan, diantaranya :

a. Teori spearman (teori G atau general intelligence)

Charles spearman mengembangkan teori kecerdasan umum, yang dimana teori tersebut menyatakan bahwa kecerdasan manusia terdiri dari satu faktor umum yang berkontribusi pada berbagai kemampuan mental. Berdasarkan teori ini, seseprang yang memiliki nilai tinggi yang dihasilkan dari satu jenis tes kecerdasan cenderung memiliki nilai tinggi dalam tes lainnya karena adanya faktor umum atau g factor tersebut.

b. Teori kecerdasan majemuk Horward Gardner

Gardner berpendapat bahwa kecerdasan tidak bisa diukur hanya menggunakan tes IQ karena kecerdasan terdiri dari berbagai jenis yang berbeda-beda. Gardner mengidentifikasi delapan tipe kecerdasan yaitu linguistik, logika-matematika, spasial, kinestik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Teori ini menjelaskan bahwa setiap individu memiliki ciri khas dan potensi yang berbeda dalam bidang kecerdasan tertentu

c. Teori triarki Robert Sternberg

Sternberg mengembangkan teori kecerdasan triarkis yang mencakup tiga jenis kecerdasan. Yang pertama, kecerdasan analitik yaitu kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi suatu informasi. Yang kedua, kecerdasan kreatif yaitu kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan menghasilkan ide baru. Yang ketiga, kecerdasan praktis yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan memecahkan masalah dalam situasi nyata.

(17)

2. Tes kecerdasan apa yang digunakan secara internasional dan bagaimana interpretasinya?

tes kecerdasan yang sering digunakan secara internasional adalah tes IQ (intelligence Quotient) dengan metode yang bervariasi termasuk tes Weschler dan S tanford-Binet yang diantaranya sebagai berikut :

a. Wechsler Adult Intelligence Scale (AWIS) digunakan untuk mengukur kecerdasan pada orang dewasa. Skor rata-rata IQ adalah 100. Jika individu mendapat skor 90-109 dianggap rata-rata, jika 110-119 maka dianggap diatas rata-rata. Namun, jika individu mendapat skor 80 maka IQ nya di bawah rata- rata.

b. Wechsler Intelligence Scal for Children (WISC) digunakan untuk mengukur kecerdasan pada anak dengan rentan usia 6-16 tahun. Interpretasinya mirip dengan AWIS, menggunakan skala yang pendeteksian kekuatan dan kelemahan di berbagai domain kognitif.

c. Stanford-Binet Intelligence Scales, secara umum tes ini digunakan untuk segala usia dengan mengukur lima faktor utama yaitu penalaran fluida, pengetahuan, penalaran kuantitatif, pemrosesan visual-ruang, dan memori kerja). Skor rata- ratany adalah 100 dengan standar deviasi 15, yang berarti 85-115 dianggap rata- rata.

d. Raven’s Progressive Matrices, tes nonverbal yang digunakan untuk menilai kemampuan penalaran abstrak. Sering kali digunakan dalam konteks lintas budaya karena lebih minim bias bahasa dan budaya

e. Interpretasi umum skor tes IQ yaitu jika individu mendapat skor 130 dan lebih tinggi maka dianggap sangat superior, 120-129 dianggap superior, 110-119 diatas rata-rata, 90-109 diangga rata-rata, 80-89 dibawah rata-rata, 70-79 dianggap cenderung ke bawah, 69 dan dibawahnya dianggap sangat rendah.

3. Apa saja kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam pendidikan?

Kritik dan tantangan dalam penggunaan tes kecerdasan dalam pendidikan yaitu, tes kecerdasan cendurung hanya bisa mengukur beberapa aspek kecerdasan secara logika, verbal, atau matematika. Padahal, kecerdasan itu luas termasuk kecerdasan secara emosional, sosial, artistik atau kinestik yang sering tidak tercakup dalam tes standar. Tes kecerdasan dapat menyebabkan siswa diberi tanda khusus seperti

“berbakat” atau “berkenutuhan khusu” yang diaman tanda ini sangat mempengaruhi cara siswa diperlakukan disekolah dan membuat perkembangan siswa terbatas

(18)

karena adanya stereotip atau ekpektasi yang rendah. Selain itu, siswa yang mendapat hasil rendah dalam tes kecerdasan akan merasa kurang percaya diri. Hal tersebut berdampak negatif pada kesehatan mental mereka, terutama jika mereka merasa tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Hasil tes kecerdasan dapat dipengaruhi oleh faktor latar belakang sosial, budaya, atau ekonomi siswa.

Misalnya, siswa dengan latar belakang yang kurang mampu mungkin memiliki skor yang lebih rendah karena kurangnya akses sumber daya pendidikan, bukan karena kecerdasan mereka lebih rendah.

(19)

PUSTAKA

Astaman. (2020). Kecerdasan dalam Perspektif Psikologi dan Al-Qur’an/Hadits. Tarbiya Islamica, 1(1), 41–50. http://ojs.iaisambas.ac.id/index.php/Tarbiya_Islamica/index James W, Elston D, T. J. et al. (20 C.E.). Konsep Kecerdasan. Andrew’s Disease of the Skin

Clinical Dermatology., 11–27.

Latifah, ‘Ainiyatul. (2018). KECERDASAN SANTRI TUNANETRA DALAM

MENGHAFAL AL QUR’AN (Studi Kasus pada Santri Tunanetra di Pondok Pesantren Tarbiyatul Qur’an Al Mannan Kauman Tulungagung). Skripsi, 43.

M.Ed, P. (2010). Intelegensi: Konsep dan Pengukurannya. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16(4), 477–485. https://doi.org/10.24832/jpnk.v16i4.479

Magdalena, I., Dewi, R. H., Ardani, R., & Juliasih. (2021). Intelegensi; Bakat; Prestasi.

Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi), 2(10), 1678–1687.

Rohmah, U. (2011). Tes intelegensi dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan. Cendekia:

Journal of Education and Society, 9, 125–139.

https://doi.org/https://doi.org/10.21154/cendekia.v9i1.869

Suparyanto, R. (2020). Landasan Dasar Teori. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–253.

(20)

Nama Anggota Kelompok 12 :

1. Nur Azhira Putri Salifah (24120664289) 2. Megalita Adliyana Riestiya (24120664105) 3. Tasya Adinda Prameswari (24120664498) 4. Lailin Nuzzul Maghfira (24120664500)

PROPOSAL RELEVANSI TEORI KECERDASAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budi nurani) dan jasmani (pancaindera serta keterampilan- keterampilan). Pendidikan adalah juga merupakan dari upaya untuk membantu manusia memperoleh kehidupan yang bermakna, sehingga diperoleh suatu kebahagiaan hidup baik secara individu maupun kelompok. Sebagai proses, pendidikan memerlukan sebuah sistem yang terprogram dan mantap, serta tujuan yang jelas agar arah yang dituju mudah dicapai. Pendidikan adalah upaya sengaja, pendidikan merupakan suatu rancangan dari proses suatu kegiatan yang memiliki landasan dasar yang kokoh, dan arah yang jelas sebagai tujuan yang hendak dicapai (Suparyanto, 2020).

Tinjauan psikologis mengenai kecerdasan merujuk adanya pengaruh-pengaruh relatif keturunan dan lingkungan sekitar terhadap perkembangan kecerdasan individu.

Untuk memperjelas definisi kecerdasan dari aspek psikologis ini, kita dapat melihat definisi kecerdasan yang telah dikemukakan oleh psikolog C. Burt, D.O. Hebb, dan R.B.

Cattel. (Purwa Atmaja Prawira, 2013:14). Menurut Burt, kecerdasan adalah kemampuan kognitif umum yang dibawa individu sejak lahir. Untuk itu perlakuan tes kecerdasan yang sesungguhnya telah dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar akan memberikan konsekuensi yang berbeda pada definisi kecerdasan. Sedangkan menurut D.O. Hebb dan R.B. Cattell, kecerdasan dibedakan menjadi dua tipe, yaitu kecerdasan tipe A dan kecerdasan tipe B (fluid and crystalized intelligences) (Astaman, 2020).

Tes intelegensi mengukur kecakapan potensial yang bersifat umum. Kecakapan ini berkenaan dengan kemampuan untuk memahami, menganalisis, memecahkan masalah dan mengembangkan sesuatu dengan menggunakan rasio atau pemikirannya. Tes intelegensi sebagai suatu instrumen tes psikologis dapat menyajikan fungsi-fungsi tertentu, diantaranya: dapat memberikan data untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan pemahaman diri (self understanding), penilaian diri (self evaluation), dan

(21)

penerimaan diri (self acceptance). Hasil pengukuran dengan menggunakan tes intelegensi juga dapat meningkatkan persepsi dirinya secara maksimal dan mengembangkan eksplorasi dalam beberapa bidang tertentu. Hal ini diperlukan untuk mendukung siswa dalam mencapai prestasi yang optimal di sekolah. Kontroversi mengenai apakah intelegensi lebih ditentukan oleh faktor bawaan (genetically determined) ataukah oleh faktor lingkungan (learned) terus berlangsung. Sebenarnya, kontroversi ini tidak hanya mengenai intelegensi melainkan mengenai pula berbagai atribut psikologis lainnya dalam diri manusia. Penelitian Galton (1870) dan Vandenberg (1962) mengemukakan bahwa faktor genetika mempunyai pengaruh yang relatif tinggi terhadap kemampuan intelegensi anak. Sebaliknya, lingkungan sebagaimana dikatakan oleh J.P. Chaplin sangat mempengaruhi organisme individu, termasuk intelegensi (Rohmah, 2011).

Secara keseluruhan, pendidikan dan kecerdasan saling berkaitan dalam membentuk potensi individu. Jika pendidikan disusun secara terencana dan sistematis, individu tidak hanya mendapat bekal dengan pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mengoptimalkan kecerdasan yang dimilikinya. Kecerdasan dari perspektif psikologis, termasuk faktor genetik dan lingkungan semakin memperjelas kompleksitas perkembangan individu. Hal tersebut sangat penting bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, sehingga setiap siswa dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan emosionalnya secara optimal.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas, maka rumusan masalah yang disusun yaitu seperti apa relevansi dan penerapan berbagai konsep kecerdasan serta pengujian kecerdasan dalam pendidikan di Indonesia?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang disusun, maka tujuan dari relevansi teori kecerdasan yaitu untuk mengetahui relevansi dan penerapan konsep kercedasan serta pengujian kecerdasan dalam pendidikan di Indonesia.

D. Pembahasan

Intelegensi atau kecerdasan seseorang merupakan salah satu faktor dari prestasi akademik seorang siswa (Wahyuni & Erwantiningsih, 2020). Intelegensi masuk dalam faktor internal yaitu pada faktor psikologis seseorang. Ada banyak sekali pemahaman dari intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli, sehingga sampai saat ini definisi dari intelegensi sangatlah bermacam-macam. Kecerdasan intelegensi dapat berupa

(22)

kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri dengan suatu keadaan dengan sangat baik atau secara efektif dalam waktu yang cepat (Thaib, 2013).

Salah satu cara yang digunakan dalam mengetahui tingkat intelegensi seseorang adalah dengan melakukan tes yaitu berupa tes yang menerjemahkan hasil-hasil dari tes intelegensi menjadi angka yang menjadi acuan atau sebagai suatu petunjuk mengenai tingkat tinggi atau rendahnya kecerdasan seorang siswa yang dibandingkan dengan nilai relatif yang tentu telah ditentukan sebelumnya (Valente & Nyeneng, 2012). Tes untuk mengetahui tingkat kecerdasaan seseorang ini secara umum disebut dengan tes IQ (Intelligence Quotient). Intelegensi sebagai salah satu faktor dan juga aspek kognitif seseorang berperan penting pada tingkat prestasi seseorang. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kecerdasan seorang siswa yang memiliki nilai IQ tinggi.

Selain intelegensi, bakat siswa juga merupakan hal yang sangat berpengaruh pada faktor belajar seorang siswa (Nihayah, 2015). Dalam perkembangan yang semakin modern, definisi bakat sendiri semakin berkembang, dimana ada yang mengartikan dengan bakat sebagai kemampuan atau sesuatu yang dapat dilakukan seseorang sehingga ia dapat mencapai suatu keberhasilan di masa yang akan mendatang. Dari pendapat para ahli, bakat diketahui dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu intelektual, perseptual dan juga psikomotor. Pada setiap komponen ini terdiri lagi atas beberapa aspek yang merupakan hal penting dalam pembentukan suatu bakat. Tingkat tinggi dan juga rendahnya bakat seseorang tidak ditentukan dengan hanya melihat pada bagaimana keberadaan tiga komponen yang menjadi pengaruh besar pembentuk bakat, namun melihat pada bagaimana keterpaduan dan juga kualitas antara aspek-aspek tersebut (Magdalena et al., 2021).

Selain itu, ada cara untuk mengetahui bagaimana tingkat bakat seseorang, yaitu dengan menggunakan tes bakat. Tes bakat ini pada umumnya merupakan tes baku yang disusun oleh para ahli pengukuran (Psychometrist). Ada beberapa tes bakat yang banyak digunakan dan terkenal di kalangan para ilmuwan maupun masyarakat yaitu DAT, MT, MAT dan lain sebagainya. DAT atau yang lebih dikenal dengan Differential Aptitude Test merupakan salah satu tes bakat yang sangat terkenal dan disusun oleh seorang ilmuwan bernama Benet. Pada tes ini terdapat tujuh sub tes yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengikuti serangkaian tes, yaitu bakat verbal, bilangan, berpikir abstrak, pemahaman hubungan ruang, bakat berpikir mekanis kecepatan dan juga ketelitian sampai bagaimana bakat seseorang dalam menggunakan suatu bahasa.

(23)

Cara mengembangkan bakat pada peserta didik sekolah dasar yaitu dengan beberapa cara, pertama kita bisa membantu anak mengenali bakat yang ada pada dirinya, kedua dengan memberikan pengetahuan tentang bakat dan meningkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih bakatnya dan yang terakhir biasanya sekolah memfasilitasi sarana untuk pengembangan pada peserta didik dan bisa juga nanti kita berikan kesempatan pada anak anak mengikuti lomba lomba sesuai bakatnya dan biasanya juga di sekolah ada yang namanya kegiatan ekstrakurikuler jadi di situ siswa bisa ikut yang mana bakat yang mereka kembangkan. Cara kita bisa mengetahui bakat anak sejak dini biasanya bisa dilihat dari setiap saat guru pasti melihat karakter dari pada siswa siswanya dan bisa dilihat anak ini karakternya seperti apa dan dia tingkah lakunya seperti apa dan itu pun secara administrasi dicatat, nanti dari perkembangan itu berlanjut ke kelas tingkat selanjutnya Perbedaan intelegensi dengan istilah IQ, yaitu intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional (Magdalena et al., 2021).

Inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional.

Individu yang memiliki IQ yang tinggi namun ia terlahir di kondisi yang kurang beruntung finansialnya, maka keadilan sosial ini dapat di aplikasikan kepada individu yang kurang beruntung tersebut dan mencoba membantu permasalahannya sehingga mendorong individu untuk terus meningkatkan IQ nya dan tentunya hal ini akan sangat bermanfaat bagi kemajuan suatu bangsa tersebut. Jadi Intelegensi itu kecerdasan pikiran pada manusia itu sendiri. Sedangkan IQ itu intelegensi question itu artinya kecerdasan yang berdasarkan pada alat tes sebuah pertanyaan atau sebagainya jadi di sini kita bisa lihat perbedaannya jadi kalo intelegensi lebih ke pikiran seseorang itu sendiri.

E. Kesimpulan

Kesimpulan dari materi ini adalah bahwa intelegensi atau kecerdasan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan prestasi akademik seorang siswa. Intelegensi, yang merupakan bagian dari faktor internal psikologis, bisa didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara efektif dengan keadaan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang adalah melalui tes IQ (Intelligence Quotient), yang hasilnya dapat menunjukkan tinggi rendahnya kecerdasan siswa.

Selain intelegensi, bakat juga berperan besar dalam proses belajar siswa. Bakat dipengaruhi oleh komponen intelektual, perseptual, dan psikomotor. Pengukuran bakat dilakukan melalui tes bakat seperti Differential Aptitude Test (DAT), yang mengukur

(24)

berbagai aspek seperti bakat verbal, berpikir abstrak, dan pemahaman ruang. Untuk mengembangkan bakat siswa, sekolah dapat membantu anak mengenali bakatnya, memberi motivasi, serta menyediakan fasilitas pengembangan seperti ekstrakurikuler dan kompetisi.

Perbedaan utama antara intelegensi dan IQ adalah bahwa intelegensi mengacu pada kemampuan berpikir rasional, yang sifatnya lebih luas dan abstrak, sedangkan IQ adalah skor dari alat tes yang digunakan untuk mengukur intelegensi secara kuantitatif.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Astaman. (2020). Kecerdasan dalam Perspektif Psikologi dan Al-Qur’an/Hadits. Tarbiya Islamica, 1(1), 41–50. http://ojs.iaisambas.ac.id/index.php/Tarbiya_Islamica/index James W, Elston D, T. J. et al. (20 C.E.). Konsep Kecerdasan. Andrew’s Disease of the Skin

Clinical Dermatology., 11–27.

Latifah, ‘Ainiyatul. (2018). KECERDASAN SANTRI TUNANETRA DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN (Studi Kasus pada Santri Tunanetra di Pondok Pesantren Tarbiyatul Qur’an Al Mannan Kauman Tulungagung). Skripsi, 43.

M.Ed, P. (2010). Intelegensi: Konsep dan Pengukurannya. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16(4), 477–485. https://doi.org/10.24832/jpnk.v16i4.479

Magdalena, I., Dewi, R. H., Ardani, R., & Juliasih. (2021). Intelegensi; Bakat; Prestasi. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi), 2(10), 1678–1687.

Rohmah, U. (2011). Tes intelegensi dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan. Cendekia:

Journal of Education and Society, 9, 125–139.

https://doi.org/https://doi.org/10.21154/cendekia.v9i1.869

Suparyanto, R. (2020). Landasan Dasar Teori. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–253.

Referensi

Dokumen terkait

Setiap individu tidak sama dalam Setiap individu tidak sama dalam memecahkan masalah → tugas pd memecahkan masalah → tugas pd intelegensi dari yang bersangkutan

didik mendapat hasil belajar yang kurang baik, selain kedua faktor tersebut ada.. juga faktor

Intelegensi atau kecerdasan merupakan hal penting dalam pendidikan atau prestasi belajar, terutama dalam kegiatan membaca karena dapat meningkatkan kecerdasan Verbal

Yang akan diukur pada penelitian ini adalah pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah secara kreatif siswa. Untuk mengukurnya akan digunakan tes tertulis

PROFIL INTUISI SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 SALATIGA DALAM MEMECAHKAN MASALAH KESEBANGUNAN DITINJAU DARI KECERDASAN MATEMATIS-LOGIS, KECERDASAN LINGUISTIK,.. DAN KECERDASAN

Untuk menentukan bahwa seseorang mempunyai tingkat kecerdasan rendah, sedang, dan tinggi yaitu dengan cara melihat hasil tes kemampuan mengatasi masalah dan

Untuk menentukan bahwa seseorang mempunyai tingkat kecerdasan rendah, sedang, dan tinggi yaitu dengan cara melihat hasil tes kemampuan mengatasi masalah, serta tingkat

a) Kecerdasan atau intelegensi siswa, merupakan faktor psikologis yang sangat penting dalam proses belajar siswa yang kompleks sebagai penentu kualitas belajar