KUMPULAN PUISI-PUISI UNTUK LOMBA BACA PUISI
1. Puisi Masjid Saka Tunggal
Masjid Saka Tunggal Karya: Abdul Wachid B. S.
masjid satu pilar
di tengahnya empat sayap seperti totem tergambar
bawah tiang kaca pelapis senyap
ada tahun pendirian prasasti
abad 12 sebelum wali sanga
di tanah yang disucikan agama kuna sebuah batu menhir tegak meraja di hutan dengan ratusan kera
empat sayap penopang yang
menempel di saka empat kiblat dan lima lurus empat mata angin dan satu pusat tak terputus
manusia dikelilingi api, angin, air, dan bumi hidup haruslah seimbang
yang hidup mestinya seperti alif jangan bongkok
yang bengkok bukanlah manusia
empat penjuru mata memandang hati berdendang lagu
“jangan terlalu banyak air kalau tak ingin tenggelam jangan banyak angin bila tak tahan masuk angin jangan bermain api
jika takut terbakar
jangan terlalu memuja bumi jika tak ingin terjatuh”
empat kiblat dan lima lurus
sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah bertarunglah jiwa-jiwa manusia
hingga hidup hanyalah alif.
Cikakak, Wangon, 4 Januari 2016
2. Nun
Nun
Karya: Abdul Wachid B. S.
“Nuun
Walqalami wamaa yasturuun
Maa anta bini’mati rabbika bimajnuun”
“Nun
Demi pena penyair dan puisi yang mereka lahirkan
Karena sentuhan-Nya kau tidak menjadi gila”
aku cuma-lah sebatang pena, yang
ketika engkau angkat, yang ketika engkau turunkan, yang ketika engkau tuliskan nafas dan nafs-ku cuma-lah tergantung kepada
tiupan udara takdirmu
tetapi
semoga sebatang pena itu
tidak diamdiam di tengah malam keluar dari kertas putihmu tidak diamdiam menulisi sembarang sempat
sehingga ia tersesat jalan pulang kembali kepada kotak
tekateki takdirmu
maka pegang-lah
bagai alif, aku sebatang pena, yang sekali sentuhmu
pena ini akan menggila tersebab gandrung oleh pukau maha tanganmu
Yogyakarta, 31 Agustus 2013
3. Cipasung
Cipasung
Karya: Acep Zamzam Noor
Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu
Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu
Hari esok adalah perjalananku sebagai petani
Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini
Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur
4. Apakah Aku Sudah Sembahyang
Apakah Aku Sudah Sembahyang Karya: Irna Novia Damayanti
apakah aku sudah sembahyang dengan benar ?
aku berdiri dengan hutang dan keributan dari meja rapat surat yang kubaca terasa begitu panjang
lalu takbirotul ikhromku
dikerumuni teriakan orang-orang meminta kedamaian
kurasa pohon kelapa belakang rumah lebih indah sembahyangnya
;berdiri seumur hidup
apakah aku sudah sembahyang dengan benar ? di dalam ruku, berkeliaran bebanku yang bertambah berat di kepala juga persendianku
sebab orang-orang yang lidahnya meminta kemerdekaan belum kupenuhi hasratnya
dan semakin meronta di dalam lututku
dalam hal ini, aku harus mengaku kalah dengan kerbau milik tetanggaku yang
terus ruku dalam hidupnya ruku saat mencari makan dan menemukan hasrat kebinatangan tanpa mengeluhkan tubuh
apakah aku sudah sembahyang dengan benar ? ketika yang kusujudkan di atas sajadah adalah dunia dan meminta melepas diri dari kewajiban
padahal orang di rumah menanti sebungkus roti bakar atau martabak saat malam menjelang
sebagai penebus rindu
mereka yang beribadah seperti batu
diam dan tenang sebagai pondasi sebuah rumah merawat usiaku dengan doa
apakah aku sudah sembahyang dengan benar ?
Rajawana, 2020
5. Selamat Pagi Indonesia
Selamat Pagi Indonesia Karya: Sapardi Djoko Damono
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu.
Aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana,
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
Selalu kujumpai kau di bawah anak-anak sekolah, di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan untuk diam-diam mencintaimu.
Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya..
aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan, merubahkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu
pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah, biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah telah hancur kristal-kristal dusta.
khianat dan pura-pura.
6. Babad Tulah
Babad Tulah Karya: Teguh Trianton
/Tepus Rumput/
Seperti percuma. Setelah empat puluh putaran, kau selesaikan masa diam itu. Pupus lekuk tiga sungai dalam sekali sila. Kau tukar cincin yang terbuat dari gigil akik di kewingitan muara dan kedung batinmu. Perempuan yang mengandung tulah kau terima tanpa kesepakatan.
Seperti percuma. Kau mesti terus menjaga api pada tungku yang dingin, lantaran suluhnya urung dinyalakan.
Sampai hangus batinmu oleh titah yang kau terima sebagai tuah paling magma. Kau pajangkan tanah dan nasabmu hingga padam.
/Ore-ore/
Dengan sabetan pedang; tunailah tulah, rebahlah dua silsilah dalam satu waktu. Meski telah kau pisah pada tepi dua sisi gandok, tetapi pawon di dapur kadipaten itu terlanjur menyimpan bara. Kau tak akan berhasil menguyur api, dengan air dari tiga sungai sekalipun. Kau tak akan mampu mengubur asap, meski dengan seluruh tanah warisan pun.
"Telah aku selesaikan dua hikayat paling purba. Lihatlah! Inilah pasal; tak boleh seorang pun dari kalian mengurai hasrat dengan lebih dari satu cinta. Kecuali telah kau asah asihmu. Sebab pada tajam pedang, cinta hanya
mengekalkan sesal, meresmikan kutukan."
/Cipaku/
Tidak pernah ada yang rahasia dari sejarah yang telah ditetak begitu saja. Tidak ada yang lebih berbahaya dari dua cinta yang beradu begitu saja. Tidak ada yang lebih laten, dari tatu di batin lapuk poyangku. Kehilangan adalah sebab bagi kesumat yang memanjang begitu saja.
"Rara Pakuwati, anakku. Tak satupun biji pinang boleh tumbuh pada tanah, alamat; tempat asal kau bermula. Tak akan aku ijinkan upacara perbesanan; atas nama cintamu yang telah purna, yang kekal sebagai sesal, yang padam sebagai nisan".
Purwokerto, 2020
7.Sembahyang Rumputan
Sembahyang Rumputan Karya: Ahmad Yosi H.
walau kau bungkam suara azan walau kau gusur rumah-rumah tuhan aku rumputan
takkan berhenti sembahyang : inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padang tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang akarku yang mengurat di bumi tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan jiwa dan badan yang rindu berbaring di pangkuan tuhan sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan habis-habisan
walau kau tebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru walau kaubakar daun-daunku akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
: sesungguhnya shalatku dan ibadahku hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan pada tanah akar kupertahankan agar tak kehilangan asal keberadaan di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema menggetarkan jagat raya : la ilaaha illallah muhammadar rasulullah
aku rumputan kekasih tuhan seluruh gerakku adalah sembahyang
(1992)