• Tidak ada hasil yang ditemukan

Puisi Masjid Saka Tunggal

N/A
N/A
Muhammad saad jaelani

Academic year: 2024

Membagikan " Puisi Masjid Saka Tunggal"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KUMPULAN PUISI-PUISI UNTUK LOMBA BACA PUISI

1. Puisi Masjid Saka Tunggal

Masjid Saka Tunggal Karya: Abdul Wachid B. S.

masjid satu pilar

di tengahnya empat sayap seperti totem tergambar

bawah tiang kaca pelapis senyap

ada tahun pendirian prasasti

abad 12 sebelum wali sanga

di tanah yang disucikan agama kuna sebuah batu menhir tegak meraja di hutan dengan ratusan kera

empat sayap penopang yang

menempel di saka empat kiblat dan lima lurus empat mata angin dan satu pusat tak terputus

manusia dikelilingi api, angin, air, dan bumi hidup haruslah seimbang

yang hidup mestinya seperti alif jangan bongkok

yang bengkok bukanlah manusia

(2)

empat penjuru mata memandang hati berdendang lagu

jangan terlalu banyak air kalau tak ingin tenggelam jangan banyak angin bila tak tahan masuk angin jangan bermain api

jika takut terbakar

jangan terlalu memuja bumi jika tak ingin terjatuh

empat kiblat dan lima lurus

sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah bertarunglah jiwa-jiwa manusia

hingga hidup hanyalah alif.

Cikakak, Wangon, 4 Januari 2016

(3)

2. Nun

Nun

Karya: Abdul Wachid B. S.

Nuun

Walqalami wamaa yasturuun

Maa anta bini’mati rabbika bimajnuun

Nun

Demi pena penyair dan puisi yang mereka lahirkan

Karena sentuhan-Nya kau tidak menjadi gila”

aku cuma-lah sebatang pena, yang

ketika engkau angkat, yang ketika engkau turunkan, yang ketika engkau tuliskan nafas dan nafs-ku cuma-lah tergantung kepada

tiupan udara takdirmu

tetapi

semoga sebatang pena itu

tidak diamdiam di tengah malam keluar dari kertas putihmu tidak diamdiam menulisi sembarang sempat

sehingga ia tersesat jalan pulang kembali kepada kotak

tekateki takdirmu

maka pegang-lah

(4)

bagai alif, aku sebatang pena, yang sekali sentuhmu

pena ini akan menggila tersebab gandrung oleh pukau maha tanganmu

Yogyakarta, 31 Agustus 2013

(5)

3. Cipasung

Cipasung

Karya: Acep Zamzam Noor

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani

Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini

Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur

(6)

4. Apakah Aku Sudah Sembahyang

Apakah Aku Sudah Sembahyang Karya: Irna Novia Damayanti

apakah aku sudah sembahyang dengan benar ?

aku berdiri dengan hutang dan keributan dari meja rapat surat yang kubaca terasa begitu panjang

lalu takbirotul ikhromku

dikerumuni teriakan orang-orang meminta kedamaian

kurasa pohon kelapa belakang rumah lebih indah sembahyangnya

;berdiri seumur hidup

apakah aku sudah sembahyang dengan benar ? di dalam ruku, berkeliaran bebanku yang bertambah berat di kepala juga persendianku

sebab orang-orang yang lidahnya meminta kemerdekaan belum kupenuhi hasratnya

dan semakin meronta di dalam lututku

dalam hal ini, aku harus mengaku kalah dengan kerbau milik tetanggaku yang

terus ruku dalam hidupnya ruku saat mencari makan dan menemukan hasrat kebinatangan tanpa mengeluhkan tubuh

apakah aku sudah sembahyang dengan benar ? ketika yang kusujudkan di atas sajadah adalah dunia dan meminta melepas diri dari kewajiban

padahal orang di rumah menanti sebungkus roti bakar atau martabak saat malam menjelang

sebagai penebus rindu

mereka yang beribadah seperti batu

(7)

diam dan tenang sebagai pondasi sebuah rumah merawat usiaku dengan doa

apakah aku sudah sembahyang dengan benar ?

Rajawana, 2020

5. Selamat Pagi Indonesia

Selamat Pagi Indonesia Karya: Sapardi Djoko Damono

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu.

Aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,

dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana,

bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.

Selalu kujumpai kau di bawah anak-anak sekolah, di mata para perempuan yang sabar,

di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;

kami telah bersahabat dengan kenyataan untuk diam-diam mencintaimu.

Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku.

seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam

padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya..

aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan, merubahkan kesangsian,

dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu

pada setiap matahari terbit, o anak jaman

yang megah, biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,

(8)

para perempuan menyalakan api,

dan di telapak tangan para lelaki yang tabah telah hancur kristal-kristal dusta.

khianat dan pura-pura.

(9)

6. Babad Tulah

Babad Tulah Karya: Teguh Trianton

/Tepus Rumput/

Seperti percuma. Setelah empat puluh putaran, kau selesaikan masa diam itu. Pupus lekuk tiga sungai dalam sekali sila. Kau tukar cincin yang terbuat dari gigil akik di kewingitan muara dan kedung batinmu. Perempuan yang mengandung tulah kau terima tanpa kesepakatan.

Seperti percuma. Kau mesti terus menjaga api pada tungku yang dingin, lantaran suluhnya urung dinyalakan.

Sampai hangus batinmu oleh titah yang kau terima sebagai tuah paling magma. Kau pajangkan tanah dan nasabmu hingga padam.

/Ore-ore/

Dengan sabetan pedang; tunailah tulah, rebahlah dua silsilah dalam satu waktu. Meski telah kau pisah pada tepi dua sisi gandok, tetapi pawon di dapur kadipaten itu terlanjur menyimpan bara. Kau tak akan berhasil menguyur api, dengan air dari tiga sungai sekalipun. Kau tak akan mampu mengubur asap, meski dengan seluruh tanah warisan pun.

"Telah aku selesaikan dua hikayat paling purba. Lihatlah! Inilah pasal; tak boleh seorang pun dari kalian mengurai hasrat dengan lebih dari satu cinta. Kecuali telah kau asah asihmu. Sebab pada tajam pedang, cinta hanya

mengekalkan sesal, meresmikan kutukan."

/Cipaku/

Tidak pernah ada yang rahasia dari sejarah yang telah ditetak begitu saja. Tidak ada yang lebih berbahaya dari dua cinta yang beradu begitu saja. Tidak ada yang lebih laten, dari tatu di batin lapuk poyangku. Kehilangan adalah sebab bagi kesumat yang memanjang begitu saja.

"Rara Pakuwati, anakku. Tak satupun biji pinang boleh tumbuh pada tanah, alamat; tempat asal kau bermula. Tak akan aku ijinkan upacara perbesanan; atas nama cintamu yang telah purna, yang kekal sebagai sesal, yang padam sebagai nisan".

Purwokerto, 2020

(10)

7.Sembahyang Rumputan

Sembahyang Rumputan Karya: Ahmad Yosi H.

walau kau bungkam suara azan walau kau gusur rumah-rumah tuhan aku rumputan

takkan berhenti sembahyang : inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin

topan menyapu luas padang tubuhku bergoyang-goyang

tapi tetap teguh dalam sembahyang akarku yang mengurat di bumi tak berhenti mengucap shalawat nabi

sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan jiwa dan badan yang rindu berbaring di pangkuan tuhan sembahyangku sembahyang rumputan sembahyang penyerahan habis-habisan

walau kau tebang aku

akan tumbuh sebagai rumput baru walau kaubakar daun-daunku akan bersemi melebihi dulu

(11)

aku rumputan kekasih tuhan

di kota-kota disingkirkan

alam memeliharaku subur di hutan

aku rumputan

tak pernah lupa sembahyang

: sesungguhnya shalatku dan ibadahku hidupku dan matiku hanyalah

bagi allah tuhan sekalian alam

pada kambing dan kerbau

daun-daun hijau kupersembahkan pada tanah akar kupertahankan agar tak kehilangan asal keberadaan di bumi terendah aku berada

tapi zikirku menggema menggetarkan jagat raya : la ilaaha illallah muhammadar rasulullah

aku rumputan kekasih tuhan seluruh gerakku adalah sembahyang

(1992)

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Yusuf Efendi, NIM A 310 060 212 , “ Kohesi Gramatikal Elipsis pada Kumpulan Puisi Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (SMSJ:TCSH) Karya Emha Ainun

Penelitian ini mengkaji peran bahasa dalam sebuah puisi, yaitu kohesi gramatikal elipsis yang digunakan pada kumpulan puisi Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud

Hasil yang didapatkan adalah ciri-ciri masjid wali yang meliputi bangunannya ditopang empat saka guru, atapnya limasan bersusun tiga (Tuimpang/Meru), di depan bangunan

Empat item menu pilihan yang digunakan untuk menuju dalam pembahasan yaitu menu pertama sejarah tari Baris Tunggal dengan menggunakan simbol kertas karena isi fitur

Berdasarkan hasil penelitian data dalam teks kumpulan puisi KPSM karya Nesi terdapat makna ikon, indeks, dan simbol namun yang dominan adalah konsep simbol.. Kata kunci: kajian teori,

Arsitektur Masjid Agung Surakarta berbentuk bujur sangkar memuat makna filosofis konsep kiblat papat lima pancer, yakni kesetaraan kekuatan empat arah, antara lain: arah utara, selatan,

Berikut Hasil wawaancara dengan bapak Abdullah ketua adat Dusun Besar : “Masjid Syuhada ini sejak dibangun mempunyai empat tiang penyangga yang berada di dalam masjid.Empat tiang ini

Berdasarkan permasalahan tersebut, sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sari, 2018 yang menjelaskan bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam menulis teks puisi disebabkan oleh empat