• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUTRI SYUHADA 1606200181

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PUTRI SYUHADA 1606200181 "

Copied!
109
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

  • Rumusan Masalah
  • Faedah Penelitian

Adanya peristiwa tersebut membuat penulis tertarik untuk mengangkat judul skripsi: “Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Perkosaan yang Mengakibatkan Korban Hamil (Studi di Polrestabes Medan)”. Apa kendala dan upaya penanganan tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan hamilnya korban di Polrestabes Medan.

Tujuan Penelitian

Kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi bahan renungan bagi aparat penegak hukum dan pengambil kebijakan dalam menangani tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan. Selain itu, kami berharap penelitian ini dapat menjadi sumbangsih pemikiran dan sumber informasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para korban perkosaan, agar dapat mengetahui tindakan atau langkah apa yang dapat dilakukan ketika pemerkosaan terjadi pada diri mereka.

Defenisi Operasional

Kehamilan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kehamilan yang disebabkan oleh tindak pidana perkosaan. Korban adalah orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau ekonomi akibat tindak pidana 13 Yang dimaksud dengan korban dalam penelitian ini adalah korban yang mengalami tindak pidana perkosaan dan korban tindak pidana perkosaan yang sedang hamil.

Keaslian Penelitian

Muhammadiyah Sumut dan Perguruan Tinggi lainnya, tidak ditemukan penelitian yang berjudul “Mekanisme Penanganan Tindak Pidana Perkosaan yang Mengakibatkan Korban Hamil (Studi di Polrestabes Medan)”. 14410491, Mahasiswa Fakultas Hukum Program S1 Universitas Islam Indonesia Tahun 2018 dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Hukum Pidana Pemerkosaan yang Mengakibatkan Kehamilan”.

Metode Penelitian

  • Jenis dan Pendekatan Penelitian
  • Sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Alat Pengumpul Data
  • Analisis Data

Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, KUHP, UU No. 8 tahun. 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, UU No. 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, Peraturan Kapolri No. 3 Tahun 2008 tentang pembentukan ruang khusus pelayanan dan tata cara pemeriksaan saksi dan/atau korban tindak pidana.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemeriksaan Tindak Pidana

Kemudian masuk proses di kejaksaan, untuk mengkaji apakah perkaranya sudah lengkap, sempurna dan memenuhi persyaratan atau sebaiknya tidak dilimpahkan ke pengadilan negeri. Berdasarkan limpahan kasus dari aparat kejaksaan ini, hakim pengadilan negeri akan menyelidiki kasus tersebut dan mengambil keputusan.

Penyidikan

Pengertian penyidikan menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP adalah serangkaian tindakan penyidik ​​dalam perkara dan menurut cara yang ditentukan dalam undang-undang ini untuk mencari dan mengumpulkan barang bukti yang dengan alat bukti itu menerangkan tentang tindak pidana yang terjadi dan untuk menemukan tersangkanya. Tindakan hukum yang diberikan oleh undang-undang kepada penyidik ​​Polri selain penangkapan dan penahanan adalah penggeledahan.

Tindak Pidana Perkosaan

Di Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur tentang tindak pidana kekerasan, tetapi tidak secara khusus mengatur tentang kekerasan terhadap perempuan. Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan atau mungkin mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, terlepas apakah itu terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. Tindak pidana perkosaan merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang menjadi contoh kerentanan perempuan.

Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Tindak Pidana Perkosaan yang Mengakibatkan Kehamilan”, Skripsi, Program Sarjana, Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hal 57. 29 . terhadap kepentingan seksual laki-laki.48 Dalam KUHP, tindak pidana perkosaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 49. Perlindungan Hukum Terhadap Korban Perkosaan Dalam Peradilan Pidana”, Tesis, Program Pascasarjana, Magister Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, halaman 8.

Kehamilan

Istilah "pemerkosaan" secara literal tidak ditemukan dalam Al-Qur'an, namun jika mengacu pada beberapa kamus pemerkosaan diartikan sebagai pemaksaan (Ikrah). Ikrah menurut bahasa adalah memaksa orang untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya, sedangkan kata al-qurhu berarti perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang terpaksa tanpa merasa senang dan rela. Bedanya, jika zina adalah hubungan seksual di luar nikah, maka perkosaan adalah hubungan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan atau paksaan.

Islam sangat melarang perkosaan, hal ini tertuang dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' Ayat 32 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Pasal 34(1) Undang-Undang Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi menyatakan bahwa kehamilan akibat perkosaan adalah kehamilan akibat persetubuhan tanpa persetujuan perempuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Kehamilan akibat perkosaan merupakan dampak yang paling merugikan bagi korban perkosaan dan sangat bertentangan dengan hak reproduksi.

Korban

Namun persoalannya akan berbeda jika kehamilan tersebut dialami oleh seorang perempuan yang menjadi korban tindak pidana perkosaan. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan Korban dan Saksi Dalam Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Berat. Pasal 1 angka 2 menjelaskan bahwa korban adalah individu atau kelompok orang yang mengalami penderitaan akibat pelanggaran HAM berat yang memerlukan perlindungan fisik dan mental dari ancaman, intimidasi, teror, dan kekerasan dari pihak manapun.

Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 3 Tahun 2008 tentang Pendirian Tempat Kantor Khusus dan Tata Cara Pemeriksaan Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana. Selain itu, Pasal 6 juga memuat beberapa hak tambahan yang diperuntukkan bagi korban pelanggaran HAM berat, korban terorisme, korban perdagangan manusia, korban penyiksaan, korban kekerasan seksual dan korban penyiksaan berat berupa: hak atas bantuan medis, bantuan rehabilitasi psikososial dan psikologis. Hak-hak tersebut tertuang dalam berbagai instrumen HAM yang sah dan juga tertuang dalam yurisprudensi komite HAM internasional dan pengadilan HAM regional.57.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Modus Tindak Pidana Perkosaan Yang Mengakibatkan Kehamilan

Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak mungkin suatu kejahatan dapat timbul jika tidak ada korban dari kejahatan itu, yang merupakan pelaku utama dari pidana itu dalam terjadinya suatu kejahatan dan dalam hal memenuhi kepentingan pidana itu sehingga menimbulkan penderitaan bagi korban. Hal ini karena setiap kejahatan yang terjadi, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, pasti didahului dengan pola kejahatan. Dengan mengetahui tata cara tindak pidana maka akan diperoleh gambaran yang jelas tentang bentuk tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polrestabes Medan, diketahui ada beberapa bentuk tindak pidana perkosaan, antara lain sebagai berikut:69. 45. pelaku akan memanfaatkan kecerobohan, kelemahan dan kepolosan korban, ditambah jika korban masih di bawah umur yang belum mampu melawan.. setiap pelaku kejahatan dalam melakukan kejahatannya menggunakan berbagai macam cara, antara satu cara dengan pelaku lainnya biasanya tidak sama. Dalam temuan Bareskrim Polri, pelaku melakukan aksinya dengan mengambil foto salah satu guru di akun Instagram.

Proses Penanganan Tindak Pidana Perkosaan Yang Mengakibatkan

Ketika menjadi korban, perempuan yang menjadi korban tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan harus menggunakan haknya. Untuk itu, ketika korban tindak pidana pemerkosaan yang mengakibatkan kehamilan memutuskan untuk melaporkan kejadian pemerkosaan tersebut ke Polrestabes Medan, biasanya korban akan diarahkan ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara korban tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan maupun yang tidak mengakibatkan kehamilan, terutama jika korbannya adalah anak-anak dan korbannya adalah orang dewasa.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses penanganan tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan hamilnya korban di Polrestabes Medan nampaknya lebih menitikberatkan pada tujuan untuk menemukan dan mengungkap terjadinya suatu tindak pidana. Dalam Perkap Polri Nomor 3 Tahun 2008 memang diatur mengenai mekanisme pelaksanaan tugas/tata cara penanganan saksi dan/atau korban tindak pidana yang diarahkan pada RPK (Ruang Pelayanan Khusus). 93 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Ruang Pelayanan Khusus dan Tata Cara Pemeriksaan Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Pasal 1 Ayat

Kendala dan Upaya Dalam Penanganan Tindak Pidana Perkosaan Yang

Dalam proses penanganan tindak pidana perkosaan yang berujung pada kehamilan korban di wilayah hukum Polrestabes Medan, dengan mengarahkan korban ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). Padahal, jika dilihat dari modus operandi tindak pidana perkosaan yang berujung pada kehamilan korban, kemungkinan akan terus bertambah setiap harinya. Dalam menghadapi tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan bagi korban, perlu diberikan hak dan perlakuan khusus.

Pertanyaan: Siapa yang dapat mengobati korban perkosaan yang hamil di Polrestabes Medan. Pertanyaan: Apakah hak korban diberikan dalam proses penanganan korban tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan? Pertanyaan: Polrestabes Medan bekerjasama dengan instansi lain dalam melakukan penanganan terhadap korban tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan kehamilan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Ketika korban berani melaporkan tindak pidana perkosaan kepada polisi, maka otomatis tahapan proses penanganan tindak pidana dimulai. Setelah itu penyidik ​​memeriksa korban, saksi, tempat kejadian perkara dan mencari barang bukti lain terkait dengan tindak pidana tersebut. Apabila penyidik ​​merasa sudah lengkap semua seperti saksi dan barang bukti, serta merasa unsur pidananya sudah cukup atau lengkap, maka penyidik ​​mengeluarkan surat perintah penangkapan.

Dalam menangani tindak pidana perkosaan yang mengakibatkan hamilnya korban, Polres Medan hanya menemukan beberapa kendala yaitu: saat menangani korban yang masih anak-anak atau belum berusia 18 tahun dan korban yang mengalami cacat bicara atau bisu. Upaya yang dilakukan penyidik ​​dalam menangani anak korban adalah sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa takut anak dan tidak memaksa anak korban untuk memberikan keterangan, atau bekerja sama dengan beberapa instansi terkait. Sedangkan bagi korban yang bisu, penyidik ​​akan meminta bantuan ahli yang mampu memahami dan mengartikan bahasa isyarat korban.

Saran

Pertanyaan: Apakah korban perkosaan yang hamil ditampung atau diberi ruang khusus selama pemeriksaan di Polrestabes Medan? Pertanyaan: Bagaimana bentuk perlakuan yang diberikan Polrestabes Medan terhadap korban perkosaan yang hamil. Karena itu, korban yang melapor biasanya dirujuk ke unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak).

Pertanyaan: Apakah ada perbedaan perlakuan terhadap korban perkosaan yang mengakibatkan kehamilan dan korban pada umumnya di Polrestabes Medan. Sedangkan untuk korban yang sudah berumur atau 18 tahun masih menggunakan istilah perkosaan yang mengacu pada Pasal 285 KUHP. Sedangkan untuk korban tuna wicara atau tuna wicara, tidak ada peneliti di Polrestabes Medan yang mengerti dan bisa menggunakan bahasa isyarat.

Referensi

Dokumen terkait

Pioneer of Protection for National Electrical Installations in Riau and Riau Islands Region Coefficient of Determination Test R2 The value of the coefficient of determination or R