PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Maksud dan tujuan ayat tersebut adalah salah satu tujuan perkawinan menurut syariat Islam adalah mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinaḥ mawaddaḥ wa rahmaḥ.4 Allah SWT menciptakan segala sesuatunya berpasangan yaitu naluri seluruh makhluk Allah termasuk manusia. Apabila perselisihan, pertengkaran dan kekerasan tidak dapat diselesaikan maka kondisi rumah tangga akan mencapai klimaks yang berujung pada perceraian dan/atau putusnya perkawinan.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti disini tertarik untuk melakukan penelitian yang fokus pada kondisi seorang wanita yang terlilit hutang dan akhirnya menjadi penyebab perceraian dengan judul “Utang sebagai Alasan Perceraian (Studi tentang Surat Keputusan Nomor 187/Pdt.G ) /2019/Pa.Prg)".
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Sebagai tugas akhir peneliti untuk memperoleh gelar pada Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Ilmu Syariah dan Hukum.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Penelitian Relevan
Penelitian kedua dilakukan oleh Azhar Nasution, (2014) dengan judul Hutang sebagai Alasan Perceraian (Analisis Fikih No: .2429/Pdt.G/2012/di PA TI GARAKSA) 2. 2 Azhar Nasution, Hutang sebagai alasan perceraian (Analisis Fikih No: .249/Pdt.G/2012/At Pa Tigaraksa), (Skripsi; Jakarta; Fakultas Syariah dan Hukum, 2014).
Tinjauan Teori
- Teori Kekuasaan Kehakiman
- Teori Yurispridensi
Dalam lingkup peradilan agama juga berlaku hal serupa dan mempunyai kewenangan khusus sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama juncto Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 dengan Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2006 dan UU No.
Kerangka Konseptual
Selalu terjadi pertengkaran antara suami dan istri dan tidak ada harapan untuk hidup harmonis dalam rumah tangga. Dalam hal terjadi pertengkaran dan perselisihan terus-menerus antara penggugat dan tergugat dalam rumah tangganya, majelis memperoleh fakta hukum bahwa rumah tangga antara suami dan istri yang bersangkutan sudah sedemikian buruknya sehingga sulit untuk didamaikan. Akhirnya majelis sidang menyimpulkan rumah tangga antara pemohon dan tergugat sudah putus (cermin pecah).
Pengadilan berpendapat hubungan pemohon dan tergugat dalam membina keluarga tidak harmonis sehingga sulit mewujudkan tujuan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam hukum Islam, sebagaimana tersirat dalam surat AR-Rum ayat 21 dan juga dalam ketentuan hukum Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Majelis Hakim berpendapat hubungan antara pemohon dan tergugat dalam pengurusan keluarga sudah tidak harmonis lagi sehingga sulit mewujudkan tujuan perkawinan. , sebagaimana dimaksud dalam Hukum Islam sebagaimana tersirat dalam surat ar-Rum ayat 21 dan juga dalam ketentuan Pasal 1 Undang-undang nomor 1 Tahun 1974. keluarga bersama dan permohonan pemohon telah memenuhi maksud Pasal 19 huruf (f) Pemerintah Peraturan Nomor 9 Tahun No Pasal 116 huruf (f) Penyusunan.
Oleh karena harus ada cukup alasan untuk dilakukannya perceraian, maka suami istri tidak akan dapat hidup rukun dalam rumah tangga, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, majelis hakim akan memeriksa apakah gugatan pemohon beralasan dan tidak bertentangan dengan hukum. Untuk mendorong rumah tangga bersama dan gugatan pemohon memenuhi maksud huruf (f) Pasal 19 Peraturan Pemerintah no. 9 Tahun juncto huruf (f) Pasal 116 Kumpulan Hukum Islam. Perselisihan dan pertengkaran terus terjadi antara suami dan istri dan tidak ada lagi harapan untuk hidup harmonis dalam rumah tangga.
Kerangka Fikir
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Latar belakang berdirinya Pengadilan Agama Pinrang adalah adanya pembinaan administrasi di wilayah Sulawesi dan Maluku demi kelancaran pelaksanaan tugas Direktorat Peradilan Agama, sehingga lahirlah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan daerah Tingkat II di Sulawesi dikeluarkan dengan angka romawi I huruf (B), bawah (b) ), angka (18), yang membubarkan daerah otonom Pare-pare. Pengadilan Agama (PA) Pinrang didirikan bersama 14 PA lainnya berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 87 Tahun 1966 Melengkapi Pembentukan Pengadilan Agama/Pengadilan Syar’iyah II di Daerah Sulawesi dan Maluku dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1967 berkedudukan di Watang Sawitto, ibu kota Kabupaten Pinrang, Jalan Jenderal Soekawati, Kecamatan Watang Sawitto Kabupaten Pinrang, dan wilayah hukumnya meliputi daerah eks otonom Sawitto, Batulappa, Kassa dan Suppa dan dari kurun waktu 1967-1987. Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara, dan Peradilan Agama kepada Mahkamah Agung RI khususnya Pasal 2(2), mulai tanggal 30 Juni 2004 organisasi Peradilan Agama/Peradilan Syariah dialihkan dari (Kementerian) Kementerian Agama kepada (Lembaga Peradilan) Mahkamah Agung RI, termasuk Pengadilan Agama Kelas II Pinrang.
Meningkatnya klasifikasi Pengadilan Agama Pinrang Kelas I-B dan dengan dukungan dana dari Mahkamah Agung untuk pembangunan kantor PA Pinrang sesuai standar prototipe, maka PA Pinrang Kelas I-B pada tahun 2009 berada di bawah naungan Lembaga Peradilan Pengadilan Agama Pinrang Kelas I-B dan dengan adanya dukungan dana dari Mahkamah Agung untuk pembangunan kantor PA Pinrang sesuai standar prototipe, maka PA Pinrang Kelas I-B pada tahun 2009 berada di bawah naungan Lembaga Peradilan Pengadilan Agama Pinrang Kelas I-B Mahkamah Agung Republik Indonesia. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2020, penanganan penyelesaian perkara di Pengadilan Agama Pinrang Kelas I-B mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun dan didukung oleh unsur jumlah penduduk muslim di wilayah hukum Pengadilan Agama Pinrang (Kabupaten Pinrang) sebanyak 355.953 jiwa atau 95% dari jumlah penduduk 377.119 jiwa (2019), dengan kepadatan penduduk 192,23 jiwa/km2, terdiri dari 12 (dua belas) kelurahan, dengan jumlah 109 (seratus sembilan) kelurahan/desa, maka golongan klasifikasi PA Pinrang Kelas I-B ditetapkan sebagai pengadilan agama kelas I A, berdasarkan ketentuan keputusan Ketua Mahkamah Agung nomor 74A/KMA/SK/IV/2019, tanggal 26 April 2019, Tentang kriteria untuk klasifikasi pengadilan tingkat pertama, pada Bab IV, Bagian Kedua, peradilan agama, angka (3), huruf (a) dan pada bab V.
Fokus Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Peneliti akan melakukan penelitian selama kurang lebih 2,5 bulan yang kegiatannya meliputi: pengajuan proposal penelitian, pengumpulan data, pengolahan data dan penyusunan hasil penelitian. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari referensi seperti majalah, jurnal dan berbagai hasil penelitian yang relevan dengan penelitian tersebut.
Teknik Pengumpulan Data
43. atau data dari sumber pertama 3 Sumber data utama penelitian ini berasal dari data lapangan yang diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan informan yang berkompeten dan berpengetahuan tentang penelitian ini. Penelitian ini menggunakan observasi partisipan yang memberikan ruang yang luas bagi peneliti sebagai instrumen kunci untuk melakukan observasi langsung dan catatan praktis tentang kondisi lapangan dan permasalahan yang berkaitan dengan fokus penelitian peneliti ini serta menggambarkan apa yang terjadi di lapangan sesuai interpretasi peneliti. Sugiyono berpendapat bahwa wawancara dapat dilakukan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan secara lebih mendalam, jujur, dan akurat. .
Dokumentasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mencari data tentang suatu hal atau variabel atau berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan kajian yang relevan dengan penelitian ini. Dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik dokumentasi, peneliti akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya data-data yang mendukung penelitian ini agar berbagai hak terkait dapat dijelaskan dan diperjelas sehingga keabsahan dan kemungkinan penelitian ini dapat diperhitungkan secara ilmiah.
Uji Keabsahan Data
Data yang dipilih harus mempunyai kredibilitas yang tinggi, dengan menggunakan teknik ini memungkinkan peneliti menggunakan ukuran sampel yang besar. Untuk memastikan bahwa penelitian memenuhi persyaratan reliabilitas, upaya sedang dilakukan untuk menyelaraskan Reliabilitas dengan Konfirmabilitas sehingga temuan dalam penelitian ini dapat dipertahankan dan dibenarkan secara ilmiah ketika menguji validitas data dalam penelitian ini. Dalam hal ini peran mentor sangatlah penting. Pengujian (konfirmabilitas) dalam penelitian kualitatif disebut dengan uji objektivitas penelitian dan dilakukan sedemikian rupa sehingga ada kesepakatan terhadap hasil penelitian yang berkaitan dengan proses penelitian.
Teknik validasi data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi yang merupakan bagian dari kriteria Kredibilitas. Moelong berpendapat bahwa triangulasi adalah suatu teknik validasi data yang menggunakan sesuatu selain data untuk keperluan verifikasi atau perbandingan data.
Teknik Analisis Data
Memang hutang bukan merupakan salah satu alasan perceraian yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, namun karena hutang yang dilakukan oleh tergugat yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah menyebabkan banyak terjadi pertengkaran hebat dalam rumah tangga. Semula rumah tangga antara Pemohon dan Termohon rukun dan rukun selama kurang lebih 11 tahun, namun sejak awal tahun 2014 mulai timbul pertengkaran dan perselisihan karena Pemohon dan Termohon tidak lagi jujur dalam membangun rumah tangga. Responden sering meminjam uang kepada rentenir, keluar rumah tanpa sepengetahuan pemohon dan tidak ada keterbukaan penghasilan kepada pemohon. Dalam keadaan tidak harmonis tersebut, Majelis Hakim berpendapat telah rusaknya ikatan perkawinan antara Pemohon dan Termohon akibat hal-hal tersebut di atas, sehingga tidak mungkin lagi antara Pemohon dan Termohon dapat rujuk kembali. memulai rumah tangga bersama dan gugatan Pemohon memenuhi maksud Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam yang menjelaskan adanya perselisihan dan pertengkaran yang terus terjadi.
Dalam situasi yang tidak harmonis tersebut, majelis hakim menilai ikatan perkawinan antara pemohon dan terdakwa tidak mungkin dapat didamaikan. bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, majelis hakim menilai bahwa hubungan rumah tangga antara pemohon dan tergugat telah terpecah sedemikian rupa sehingga tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Keimanan dalam satu Tuhan Yang Maha Esa (Lihat Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974) Dan. Majelis hakim menilai tidak mungkin dapat mendamaikan ikatan perkawinan antara pemohon dan terdakwa.
Sedangkan hakim pada umumnya mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan hukum, termasuk faktor-faktor penyebab terjadinya perceraian tersebut di atas sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan, hal ini merupakan puncak dari perselisihan rumah tangga dan pertengkaran antara pemohon dan tergugat, penggugat dan pihak tergugat. terdakwa. .
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Utang Piutang Dijadikan Sebagai Alasan Perceraian Studi Putusan Nomor
Pertimbangan Hakim Dalam Mengabulkan Perkara Terlilit Hutang Sebagai
Pertimbangan hukum yang dilakukan pengadilan karena pengadilan melihat sering terjadi pertengkaran antara pemohon dan tergugat, alasannya karena pemohon sudah tidak tega melihat kelakuan suaminya yang sering berhutang tanpa dirinya. . pengetahuan. Termohon seringkali keluar rumah tanpa sepengetahuan Pemohon dan tidak memberikan kabar kepada Pemohon. Klimaks pertengkaran dan perselisihan antara pemohon dan tergugat terjadi pada pertengahan Agustus 2017 karena tergugat tidak jujur kepada pemohon yang meminjam Rp.
Untuk memperkuat dalil-dalil permohonannya, Pemohon atas nama Pemohon dan Termohon mengajukan bukti tertulis berupa fotokopi, cuplikan akta nikah bernomor tanggal 09 Februari 2006. Sedangkan Majelis Hakim selanjutnya akan mempertimbangkan terlebih dahulu apakah Pemohon dan Termohon dapat menjadi pihak (kedudukan hukum) dalam perkara ini. Keempat, Pemohon dan Pemohon meminta majelis hakim mengabulkan gugatannya dengan meminta putusan thalaq untuk seluruhnya.
Namun karena hutang tergugat yang mencapai ratusan juta rupiah, hal ini menimbulkan pertengkaran terus menerus antara suami istri atau antara pemohon dan terdakwa.
PENUTUP
Simpulan
Saran
Sebagai langkah akademis, perlu diadakan pelatihan bagi mahasiswa syariah dan hukum mengenai kemampuannya menjadi mediator dalam perdamaian pihak-pihak yang berselisih, mengingat kurikulum di fakultas masih bersifat lebih dominan, oleh karena itu harus diimbangi dengan kurikulum berbasis praktik. Implikasi Praktek Berhutang yang Dilakukan Istri Tanpa Sepengetahuan Suai terhadap Keharmonisan Rumah Tangga (Studi Kasus di Desa Beleke Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat), (Skripsi; Mataram; Fakultas Syariah dan Hukum). Hutang sebagai Alasan Perceraian (Analisis Hukum No: 249/Pdt.G/2012/Di Pa Tigaraksa). Tesis Sarjana; Jakarta; Fakultas Syariah dan Hukum).
Bahwa benar NURUL FAJRIYANTI mewawancarainya dalam rangka penelitian tesisnya yang berjudul “Utang Sebagai Alasan Perceraian (Kajian SK Nomor 187/Pdt.G/2019/Pa.Prg)”. Profesi : Pengacara/Staf Postbakum Pa.Prg Memang benar NURUL FAJRIYANTI mewawancarainya untuk keperluan disertasinya yang berjudul “Utang Sebagai Alasan Perceraian (Kajian SK Nomor 187/Pdt.G/2019/) untuk diteliti. Pa.Prg )".