QIRA’AT PADA MASA NABI, SAHABAT DAN TABI’IN
Haidar Basyir Taranisa Baroro Purbo
Jl. Ir H. Juanda No.70, Pisangan, Kec. Ciputat Tim., Kota Tangerang Selatan, Banten, Indonesia 15419 e-mail:[email protected], [email protected]
ABSTRACTS Article info
In its history the development of the qira 'at science did not notwithstanding the qur 'an's journey itself. Scholars form and divide 2 parts in the process of the development of the qira 'at science through oral use by talaqqi hafalan and the writing by code that begins from the setting of the prophet into an apostle to the time of the renewal of mushaf from prophet to prophet's being an apostle to the time of the renewal of mushaf by marking by Abu Aswad ad-du 'ali. It discusses how qiro 'at in the days of the prophet, friend and tabi 'in and how it spread
The study is a kind of qualitative study, with a descriptive study approach and research for literary studies.
The study concluded that the spread of qira 'at in the prophet's time, friend and tabi 'in by means of some of the methods of talaqqi or musyafahah the messenger of god taught directly at the end of the prayer or was in the darul arqam science council that even friend went door to door to teach the qur 'an.
Dalam Sejarahnya perkembangan ilmu Qira’at tidak terlepas dari perjalalan Al-Qur’an itu sendiri. Para ulama membentuk dan membagi 2 bagian dalam proses perkembangan Ilmu Qira’at yang pertama periode periwayatan melalui lisan dengan cara Talaqqi hafalan dan tulisan melalui kodifikasi yang dimulai sejak diutusnya nabi menjadi seorang rasul sampai masa penyempurnaan mushaf utsmani dengan pemberian tanda baca oleh Abu Aswad Ad-Du’ali. Karya tulis ini membahas mengenai bagaimana Qiro’at pada masa Nabi, sahabat dan tabi’in serta bagaimana penyebarannya penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan penelitian deskriptif serta penelitian kajian Pustaka.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Penyebaran Qira’at pada masa Nabi, sahabat dan tabi’in melalui beberapa metode yakni Talaqqi atau musyafahah Rasulullah mengajarkan langsung pada saat selesai shalat atau berada di majelis ilmu darul arqam bahkan sahabat mendatangi rumah ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Article History:
Received 00 Jan 2xxx Revised 00 Jan 2xxx Accepted 00 Jan 2xxx Available online 00 Jan 2xxx ____________________
Kata Kunci:
Nabi, Sahabat, Tabiin, Penyebaran, Qira’at
Pendahuluan
Hikmah diturunkannya Al-Qur’an dalam berbagai bacaan (Qira’at) atau yang tertulis didalam hadist disebut sebagai Sab’atu Ahruf menjadikan tanda bahwa Allah memberikan kemudahan setiap ummat untuk menerima Al-Qur’an sebab Rasulullah berdakwah kepada seluruh ummat untuk menyampaikan agama islam. Dengan ilmu Qira’at ini menjadikan setiap dakwah dan ayat yang disampaikan oleh Rasulullah mudah diterima oleh setiap suku, kebangsaan sebab sesuai dialek dan bahasa yang biasa digunakan oleh Masyarakat setempat kala itu.
Ilmu Qira’at berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang diajarkan Oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kepada para sahabatnya sesuai dengan apa yang nabi terima dari Malaikat Jibril Alaihissalam. Kemudian dari sahabat mengajarkan Kembali kepada tabi’in dan seterusnya dari generasi ke generasi hingga sampai kepada kita
Dalam Sejarahnya perkembangan ilmu Qira’at tidak terlepas dari perjalalan Al-Qur’an itu sendiri. Para ulama membentuk dan membagi 2 bagian dalam proses perkembangan Ilmu Qira’at yang pertama periode periwayatan melalui lisan dengan cara Talaqqi hafalan dan tulisan melalui kodifikasi yang dimulai sejak diutusnya nabi menjadi seorang rasul sampai masa penyempurnaan mushaf utsmani dengan pemberian tanda baca oleh Abu Aswad Ad-Du’ali (w.69 H). Kemudian bagian kedua adalah pembukuan Qira’at yang dimulai sejak Abu al-Aswad memberikan tanda baca yang berlangsung pada 60 H sampai dengan 225 H
Metode
Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian literatur review atau kepustakaan dengan cara menggali refrensi karya ilmiah yang mencakup buku- buku literatur,Tesis, Disertasi, website yang relevan, Kitab Qira’at, dan Kitab-kitab Tafsir yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti oleh penulis. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi berupa buku-buku dan artikel pada google scholar . populasi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan dokumen tertulis mengenai penelitian pendidikan karakter dan akhlak terhadap remaja masa kini.
Hasil dan Diskusi
A. Turunnya Al-Qur’an Dengan Sab’atu Ahruf
Ketika proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap masih terus berlangsung, Rasulullah senantiasa membacakan wahyu yang dibawa Jibril kepada para sahabatnya. Setiap ayat yang turun akan dihafal dengan sangat sempurna, baik oleh Rasulullah saw. sendiri maupun para sahabat. Dengan demikian keaslian Al-Qur’an tidak perlu diragukan lagi. Hafalan Rasulullah Saw dan para sahabat inilah yang menjadi I’timad (sandaran) dalam penukilan Al-Qur’an, bukan dokumentasi tertulis, seperti shuhuf maupun mushaf.1
Bangsa arab mempunyai berbagai etnik, bahasa, dan lahjah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dengan kabilah yang lain baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya.
Keanekaragaman dialek dan bahasa ini memiliki karakter sendiri-sendiri. Dalam situasi seperti inilah Rasulullah diutus dan Al-Qur’an diturunkan.2
Menyadari situasi yang majemuk ini, Rasulullah memohon kepada Allah Swt. agar tidak menurunkan Al-Qur’an dengan satu huruf saja. Dalam suatu hadits riwayat Ubay diceritakan:
ِّا ُتْثِّعُب ِّينّإ ُلْي ِّْبِّْج َيَ َلاَقَ ف َلْيِّْبِّْج ميلسو هيلع الله ىيلص الله ُلْوُسَر َيِّقَل َلاَق ٍبْعَك ِّنْب ِّيَبُأ ْنَع ٍةَّمُأ َلَ
ُْيِّْبَكلا ُخْيَّشلاَو ُزْوُجَعلا ْمُهْ نِّم َْيِّْييِّيما َلُغلاَو
َلِّزْنُأ َنَأرُقلا َّنِّا ديممح َيَ َلاَق ُّطَق ابً اَتِّك ْأَرْقَ ي َْلَ ىذيلا ُلُج َّرلاو ُةَيِّر اَلج اَو ُم
ٍفُرْحَأ ِّةَعْ بَس ىَلَع
Perbedaan yang terjadi dalam pelafadzan Al-Qur’an memang sudah muncul sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hal ini merupakan tanda bukti bahwa kesempurnaan mukjizat Al- Qur’an dapat menampung berbagai dialek sehingga memudahkan untuk dibaca, dihafal dan
1 Romlah Widayati, Ilmu Qira’at 1 Memahami Bacaan Imam Qira’at Tujuh, (Tanggerang Selatan: IIQ Jakarta Press, 2020), Cet. 4, h. 23
2 Ahmad Fathoni, Kaidah Qiraat Tujuh 1&2, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2019) cet. Ke- 4, h. 1
difahami. Keberagaman dialek yang terjadi tak dapat dihindari sebab sudah menjadi ketetapan sehingga Rasulullah Saw membenarkan pembacaan Al-Qur’an dengan macam-macam bacaan (Qira’at) sehingga munculah istilah Qira’at dalam ilmu Al-Qur’an.
1. Takhrij Hadits
Hadis-hadis yang berkenaan dengan sab’atu ahruf jumlahnya banyak dan sebagian telah diselidiki oleh Ibnu Jarir (w.310 H) dalam tafsirnya. As-Suyuti (w.911 H) menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut diriwayatkan dari dua puluh satu orang sahabat. Abu ‘Ubaid al- Qasim bin Sallam3 (w.224 H) menetapkan kemutawatiran hadis mengenai turunnya al- Qur’an dengan tujuh huruf.4 Tetapi az-Zarqani menyebutkan bahwa riwayat itu tidak sampai ke derajat mutawatir karena jumlah perawi pada tabaqah sesudahnya tidak sampai ke tingkat mutawatir.5
Diantara sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut yaitu Ubay bin Ka’ab, Anas bin Malik, Huzaifah bin al-Yaman, Zaid bin Arqam, Samrah bin Jundub, Sulaiman bin Sard, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Usman bin
‘Affan, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin Abu Salamah, ‘Amr bin al-‘As, Muaz bin Jabal, Hisyam bin Hakim, Abu Bakrah, Abu Jahm, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Talhah al-Ansari dan Abu Ayyub al-Ansari.6 Berikut contoh hadits tentang Sab’atu Ahruf:
“Dari Ubay ibn Ka’ab, dia berkata: “Rasulullah saw menjumpai jibril dan berkata: “wahai jibril, aku telah diutus kepada suatu umat yang ummi (buta aksara). Di antara mereka ada yang sama sekali tidak mengenal aksara”. Maka jibril berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf”.
هيلع َُّللَّا ىَّلَص َّبينلا َّنأ هنع الله يضر بعك نب بأ نع :َلاقَف ،ُم َلَّسلا هيلع ُليِّْبِّْج ُهَتَأف :َلاق ،ٍراَفِّغ ِّنَِب ِّةاَضَأ َدْنِّع َناك َمَّلَسَو
،ُهَتَرِّفْغَمَو ُهَتاَفاَعُم ََّللَّا ُلَأْسَأ :َلاقَف ، ٍفْرَح ىَلع َنآْرُقلا َكُتَّمُأ َأَرْقَ ت ْنَأ َكُرُمَْيَ ََّللَّا َّنإ َُّثُ ، َكلذ ُقيِّطُت لا تيَّمُأ َّنإو
،َةَيِّناَّثلا ُهَتََأ
َمَو ُهَتاَفاَعُم ََّللَّا ُلَأْسَأ :َلاقَف ،ِّْيَْفْرَح ىَلع َنآْرُقلا َكُتَّمُأ َأَرْقَ ت ْنَأ َكُرُمَْيَ ََّللَّا َّنإ :َلاقَف ُهَءاَج َُّثُ ،َكلذ ُقيِّطُت لا تيَّمُأ َّنإو ،ُهَتَرِّفْغ
َ ت ْنَأ َكُرُمَْيَ ََّللَّا َّنإ :َلاقَف ،َةَثِّلاَّثلا ُت لا تيَّمُأ َّنإو ،ُهَتَرِّفْغَمَو ُهَتاَفاَعُم ََّللَّا ُلَأْسَأ :َلاقَف ، ٍفُرْحَأ ِّةَث َلَث ىَلع َنآْرُقلا َكُتَّمُأ َأَرْق
، َكلذ ُقيِّط
، ٍفُرْحَأ ِّةَعْ بَس ىَلع َنآْرُقلا َكُتَّمُأ َأَرْقَ ت ْنَأ َكُرُمَْيَ ََّللَّا َّنإ :َلاقَف ،َةَعِّباَّرلا ُهَءاَج َُّثُ
.اوُباَصَأ ْدَقف هيلع اوُؤَرَ ق ٍفْرَح اُّيُّأف
7
3 Pengarang kitab Gharib al-Hadis. Ia merupakan seorang ulama terkemuka dalam bidang hadis yang hidup pada masa Dinasti ‘Abbasiyah, yakni meliputi pemerintahan Khalifah al-Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid, al-Amin, al-Ma’mun dan al-Mu’tasim. (Taufik Hidayat, Abu Ubayd sebagai Fuqaha’ dan Ekonom: Critical Reading terhadap Corak Pemikiran dan Konsepsi Ekonomi Abu Ubayd. Al-Falah: Journal of Islamic Economics, Vol. 4, No. 1, 2019, h. 4.)
4 Manna’ al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an atau Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an terj. Aunur Rafiq El- Mazni, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015), cet. II, hlm. 196. Lihat juga Jalaluddin as-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al- Qur’an, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah Nasyirun, 2008), cet. I, h. 104.
5Muhammad ‘Abd al-‘Azim az-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Arabi, 1995), cet. I, Juz I, h. 118.
6 Jalaluddin as-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah Nasyirun, 2008), cet. I, hlm. 104, atau Muhammad Roihan Nasution, Qira’at Sab’ah Khazanah Bacaan al-Qur’an Teori dan Praktik, (Medan: Perdana Publishing, 2019), cet. I, h. 21-22.
7 Abu al-Husain bin Muslim al-Hajjaj, Sahih Muslim, (Riyad: Dar al-Hadarah li an-Nasyr wa at-Tauzi', 1436 H / 2015 M), Kitab Salat al-Musafirin wa Qasriha, Bab Bayan anna al-Qur’an ‘ala Sab’ati Ahruf wa Bayan Ma’nahu, cet. II, no. 821, h. 243.
Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak bin Basyir al-Azdi as-Sijistani, Sunan Abi Dawud, (Riyad: Dar al-Hadarah li an-Nasyr wa at-Tauzi', 1436 H / 2015 M), cet. II, Kitab al-Watar, Bab Unzila al-Qur’an ‘ala Sab’ati Ahruf, no.
1.478, h. 191.
Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan Abu ‘Abdurrahman an-Nasai’, Sunan an-Nasa’i, (Riyad: Dar al- Hadarah li an-Nasyr wa at-Tauzi', 1436 H / 2015 M), cet. II, Kitab al-Iftitah, Bab Jami’ ma Ja’a fi al-Qur’an, no.
939, h. 135.
Dari Ubay bin Ka’ab radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam berada di kolam air Bani Ghifar. Kemudian beliau didatangi Jibril ‘alaihissalam seraya berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf (lahjah bacaan).” Beliau pun bersabda: “Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu.” Kemudian Jibril datang untuk kedua kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf.” Beliau pun bersabda: “Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu.” Lalu Jibril mendatanginya untuk ketiga kalinya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al Qur`an kepada umatmu dengan tiga huruf.” Beliau bersabda: “Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu.” Kemudian Jibril datang untuk yang keempat kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf. Dengan huruf yang manapun yang mereka gunakan untuk membaca, maka bacaan mereka benar.”
Ada banyak hadis yang semakna dengan hadis-hadis tersebut walapun ada sedikit perbedaan dalam lafaz matannya. Diantaranya diriwatkan oleh Imam Ahmad (w. 241 H) dengan sanadnya sendiri, juga oleh al-Hakim (w. 405 H) dan Ibnu Hibban (w. 354 H) dengan sanadnya masing-masing, begitu juga at-Tabari (w. 310 H) dan at-Tabrani (w. 360 H) sebagaimana disebutkan dalam tafsir at-Tabari.
2. Pendapat Ulama Tentang Sab’atu Ahruf
Menurut bahasa, sab’ah bermaksud bilangan tujuh, yaitu antara bilangan enam dan delapan. Tetapi dalam bahasa Arab, lafaz sab’ah bisa juga berarti bilangan tak terbatas.8 Sementara ah}ruf menurut bahasa adalah kata jama’ (majemuk) dari kata h}arf yang mengandung banyak makna, yaitu tepi suatu, cara atau bentuk, salah satu huruf hijaiyah, bahasa dan dialek serta selain isim dan fi’il.9
Ulama berbeda pendapat dalam memahami kata Sab’atu ahruf . arti Sab’atu Ahruf (Tujuh Huruf) mengandung banyak penafsiran dan pendapat dari kalangan ulama. Hal itu disebabkan karena lafadz Sab’ah itu sendiri dan lafadz Ahruf yang mempunyai banyak arti.
Lafadz Sab’ah dalam bahasa Arab dapat berarti bilangan tujuh, dan bisa juga berarti bilangan tak terbatas. Sedangkan lafadz Ahruf adalah jamak dari harf yang mempunyai macam-macam arti, antara lain: salah satu huruf hijaiyah, makna, saluran air, wajah, kata, bahasa, dan lain-lain.
Para ulama mencoba menafsirkan Sab’atu Ahruf, yang menurut Imam As-Suyuti, tidak kurang dari empat puluh penafsir.
Adapun perbedaan pemahaman tersebut dapat kita lihat tabel berikut:10
No Nama Spesifikasi Makna Sab’atu Ahruf
1 Ulama Ahli Fikih Bentuk muthlaq, muqayyad,
‘am, khash, nash, mu’awwal, dst.
2 Ulama ahli lughah Hadzf, shilah, taqdim, ta’khir, isti’arah, kinayah, dst.
8 Ahmad Fathoni, Kaidah Qira’at Tujuh Menurut Tariq asy-Syatibiyyah, (Tanggerang: Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2022), cet. VI, Jilid I, h. 3.
9 Muhammad ‘Abd al-‘Az}im az-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Arabi, 1995), cet. I, Juz I, hlm. 130, atau Muhammad Roihan Nasution, Qira’at Sab’ah Khazanah Bacaan al- Qur’an Teori dan Praktik, (Medan: Perdana Publishing, 2019), cet. I, h. 21-22.
10Romlah Widayati dkk, Ilmu Qira’at 1 Memahami Bacaan Imam Qira’at Tujuh, (Tanggerang Selatan:
IIQ Jakarta Press, 2020), Cet. 4, h. 12-13
3 Ulama ahli Nahwu Mudzakar, muannats, syarth, I’rab, tashgir, dst
4 Ulama Shufi Zuhd, qana’ah, muraqabah,
khauf, raja’, mahabbah, ma’rifah, dst
5 Abu Hatim al-Sajistani, Ibnu Qutaibah, al- Baqillani, Abu Fadhl al- Razi, dan ibnu Jazari
Beragam bahasa dan Qira’at
6 Sufyan Ibnu Uyainah, Abdullah ibnu Wahab, Ibnu Abd al-Barr al- Thahtawi
Beragam versi lafadz yang punya makna hampir sama
7 Abu Ubaid, Ahmad
ibnu Yahya, Tsa’lab Tujuh macam bahasa kabilah
yang tersebar di dalam Al- Qur’an.
8 Al-Thabari Tujuh macam bahasa kabilah
yang terkumpul dalam satu lafadz.
9 Qadhi Iyadh Tidak memiliki jumlah angka
tertentu.
10 Khalil ibnu Ahmad Satu lafadz memiliki tujuh versi qira’at yang berbeda.
11 As-Shubkiy Satu lafadz tidak mesti
memiliki tujuh versi qira’at yang berbeda, tetapi tidak lebih dari tujuh.
12 Sebagian ulama ahli
qiraa’at Perbedaaan cara pengucapan, seperti izhar, idgham, tarqiq, imalah, dll.
Ada salah satu pendapat yang mendapat banyak dukungan ulama, karena pendapat ini yang paling mendekati kebenaran dan paling masyhur menurut jumhur ulama karena pendapat ini dilakukan melalui penelitian terhadap data-data qira’at yang di anggap akurat yaitu pendapat Abu al-Fadl Ar-Razi (w.454/1062). Menurutnya arti Sab’atu Ahruf adalah tujuh macam segi perbedaan, di mana perbedaan bacaan AlQur’an tersebut tidak terlepas dari tujuh macam segi perbedaan.
3. Pendapat yang Rajih
Ada salah satu pendapat yang mendapat banyak dukungan ulama, karena pendapat ini yang paling mendekati kebenaran dan paling masyhur menurut jumhur ulama karena pendapat ini dilakukan melalui penelitian terhadap data-data qira’at yang di anggap akurat yaitu pendapat Abu al-Fadl Ar-Razi (w.454/1062). Menurutnya arti Sab’atu Ahruf adalah tujuh macam segi perbedaan, di mana perbedaan bacaan Al-Qur’an tersebut tidak terlepas dari tujuh macam segi perbedaan. Perbedaan tersebut meliputi:
a. Perbedaan bentuk isim: Mufrad, jama’, muannats, atau mudzakkar, seperti lafadz ِِهِبُتُك pada firman Allah ِٖهِلُس ُر َوِ ٖهِبُتُك َوِ ٖهِتَكِٕٮٰٓ لَم َوِِ هللّٰاِبِ َنَمِ اِ ٌّلُك ِ ۚ (Q.S. Al-Baqarah/ 2:285) dibaca (ِِهِبُتُك) dalam bentuk jama’ dan di baca (ِِهِبِاَتِك) dalam bentuk mufrad.
b. Perbedaan bentuk fi’il madhi, mudhari, atau amar, seperti lafazd ِ دِعاَبِاَنَّب َر pada firman Allah
اَن ِراَف ۡسَاَِنۡيَبِۡدِع بِاَنَّب َر (Q.S. Saba/ 34:19) di baca dalam bentuk fi’il amr (ِۡدِع بِاَنَّب َر), sedang qira’at
lain membaca dalam redaksi fi’il madhi (ِ دِعَبِاَنُّب َر).
c. Perbedaaan bentuk hadzf atau isbat seperti lafadz ِاوُع ِراَس َوِ pada firman Allah ِى لِاِا ۡۤۡوُع ِراَس َو
ِۡمُكِ ب َّرِ ۡنِ مٍِة َرِفۡغَم (Q.S. Ali Imran / 3:133) dibaca (اوُعِ ِراَس) tanpa dan (ا ۡۤۡوُع ِراَس َو) dengan waw.
d. Perbedaan antara taqdim dan ta’khir, seperti firman Allah dalam (Q.S. Ali Imran /3 :195)
ُِق َوِاوُلَتِاَق َو
ِاوُلِت dan di baca )اوُلَتاَق َوِاوُلِتُق َو).
e. Perbedaan tentang I’rab/ harakat sebagaimana firman Allah (Q.S. an-Nisa / 4:40) ِ ةَنَسَح di baca Nasab dan ِ ةَنَسَح di baca rafa’.
f. Perbedaan dalam hal ibda’ yaitu mengganti huruf dengan huruf lainnya, seperti lafadz (اَه ُرِش نُن) menjadi (اَه ُزِش نُن).
g. Perbedaan tentang lahjah/dialek seperti takhfif-tasydid, imalah, fath, izhar-idgham, dan lain sebagainya. Ulama yang mendukung pendapat ini antara lain: al-Zarkasyi (w.
796/1367), Ibn al-Jazari (w. 833 /1478), al-Zarqani (w. 769/ 1367), Ahmad al-Bily, Muhammad Ali al-Shabuni, dan Abu al-Fath al-Qadhi.11
4. Hikmah di turunkannya Sab’atu ahruf
a. Memberikan kemudahan kepada umat dalam membaca Al-Qur’an dengan qira’at yang dikuasai.
b. Memberikan bukti tentang kedalaman isi kandungan Al-Qur’an, termasuk di dalamnya Qira’at Al-Qur’an.
c. Memberikan bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar diturunkan dari Allah Swt. dan bukan buatan Nabi Muhammad saw.
d. Kekhususan umat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara kekhususan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada umat ini adalah diturunkannya Al-Qur’an dengan tujuh huruf, karena kitab-kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada umat-umat terdahulu itu dalam satu bentuk, maka wajib bagi mereka untuk membacanya dan mempelajarinya dengan satu bentuk tersebut. Begitu juga salah satu kekhususan Al- Qur’an adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang akan menjaganya. Adapun kitab- kitab umat terdahulu, sudah ditinggalkan oleh mereka sendiri dan diubah syariat- syariatnya.12
5. Eksistensi Sab’atu Ahruf Pada Masa Kini
Sebagaimana dinukil dari al-Qurtubi menyatakan masih eksis hingga sekarang. Ada tiga pendapat mengenai kadar eksistensi sab’atu ahruf. Pertama, mengatakan yang eksis hingga saat ini hanya satu huruf saja. Sebab pengkodifikasian Al-Qur’an di masa ‘Usman bin ‘Affan membakar semua mushaf para sahabat kecuali mushaf yang berada di tangan Hafsah. Ini pendapat at-Tabari, at-Tahawi, Ibnu Hibban dan lainnya. Kedua, memandang keseluruhan sab’atu ahruf masih utuh hingga saat ini. Sebab mushaf ‘usmani mencakup sab’atu ahruf. Ini pendapat segolongan fuqaha’, qurra’ dan mutakallimin. Ketiga, sab’atu ahruf yang masih eksis adalah yang yang termuat dalam rasm ‘usmani. Sebab mushaf ‘usmani ditulis sesuai ʻardah akhirah (setoran terakhir) Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam kepada Jibril
‘alaihissalam. Sehingga apa yang ditulis di dalamnya adalah yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ditulis.
11 Romlah Widayati dkk, Ilmu Qira’at 1 Memahami Bacaan Imam Qira’at Tujuh, (Tanggerang Selatan:
IIQ Jakarta Press, 2020), Cet. 4, h. 13-14
12 ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdul Fattah, Hadits al-Ahruf as-Sab’ah, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2002), h. 83.
B. Cara Nabi Mengajarkan Al-Qur’an Kepada Para Sahabat
Ketika proses turunya Al-Qur’an secara gradual masih terus berlangsung, Rasulullah senantiasa membacakan wahyu yang dibawa Jibril kepada para sahabatnya. Setiap ayat yang turun akan dihafal dengan sangat sempurna, baik oleh Rasulullah saw. sendiri maupun para sahabat. Dengan demikian orisinalitas Al-Qur’an yang memang sudah digaransi oleh Allah Swt.
tidak perlu diragukan lagi.13
Ketika Rasulullah berada di Makkah, metode pengajaran Al-Quran lebih menekankan kepada aspek akidah dan keimanan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan pada periode ini umumnya berkaitan dengan masalah tersebut. Pada masa ini pemeluk Islam masih sedikit, sehingga pengajaran Al-Quran masih dilakukan secara sembunyi- sembunyi dari rumah ke rumah. Salah satu sahabat Nabi yang menggunakan metode tersebut bernama Khabbab bin Al-Art. Beliau mengajarkan Al-Quran dengan mendatangi murid- muridnya dari satu rumah ke rumah lainnya. Di antara sahabat yang menjadi muridnya kala itu adalah Abdullah bin Masud, Said bin Zaid, dan Fatimah binti Al-Khattab.
Para sahabat as-sabiqun ila al-Islam adalah orang-orang pertama yang mendengar dan mempelajari Al-Qur’an dari Nabi saw., seperti isteri beliau Khadijah, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah dan Abu Bakar. Pada mulanya dakwah Islam disampaikan secara sembunyi- sembunyi melalui dialog dan pembicaraan dari hati ke hati. Nabi saw. menggunakan metode ini untuk berdakwah kepada keluarga sendiri yang berada satu rumah dengannya, kemudian terhadap tetangganya dan kenalan-kenalan akrabnya dengan pendekatan personal. Karena jumlah orang-orang yang memeluk Islam sudah mencapai sekitar dua puluh lima orang, Nabi saw. menambah metode dakwah baru penyebaran Islam dengan menyelenggarakan pengajaran klasik secara tetap di rumah kediaman sahabat al-Arqam bin Abi al-Arqam. Adapun materi yang disampaikan di tempat itu difokuskan pada masalah keimanan, akhlak dan latihan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diwahyukan. Rumah itu tak jauh dari Ka‘bah. Ia terletak di selatan bukit Safa. Menurut Ali Mustafa Ya’qub, ada dua faktor yang menjadikan Nabi Muhammad saw. memilih tempat ini. Pertama, tempat ini dekat dengan Ka‘bah, sehingga memudahkan para sahabat untuk beribadah di Masjid al-Haram. Kedua, karena faktor keamanaan kemungkinan menjadi pertimbangan Nabi dari pada seandainya beliau mengajar di rumah beliau sendiri. Di antara sahabat yang mengajarkan hafalan dan bacaan Al-Qur’an di Makkah selain Rasulullah adalah sahabat Khabbab bin al-Art. Ia mendatangi muridnya dari rumah ke rumah, sehingga dapat juga dikatakan dia salah satu guru privat Al-Qur’an di periode Makkah. Dia memeluk Islam sebelum adanya pengajian di rumah al-Arqam. Para sahabat yang menjadi muridnya antara lain adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud, Sa‘id bin Zaid dan Fatimah bint al- Khattab.14
Di antara hasil kegiatan pendidikan dan dakwah Nabi saw. dan sahabat adalah sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, Al-Qur’an telah tersebar dan dihafal oleh beberapa kabilah yang berasal dari luar kota Makkah. Zaid bin tsabit yang berusia sebelas tahun sudah menghafalkan tujuh belas surah dari Al-Qur’an, al-Barra yang sudah mengenal surah al-A‘la dan beberapa surah al-mufassal (dari surah Qaf hingga akhir seluruh Al-Qur’an sebelum Nabi sampai ke Madinah dan Rafi’ bin Malik al-Ansari yang termasuk orang pertama yang membawa surat Yusuf ke Madinah, bahkan dalam riwayat lain dijelaskan bahwa beliau mengambil dari Nabi apa yang telah turun kepadanya selama sepuluh tahun, kemudian Rafi’ bin Malik mengumpulkan keluarganya di Madinah dan membacakanya kepada mereka.
Dua cara yang ia lakukan dalam mengajarkan Al-Qur’an: pertama, dengan mengajarkan langsung wahyu yang diturunkan kepada para sahabat dalam majelis-majelis tertentu, khususnya saat salat berjamaah. Kedua, memerintahkan para sahabat senior atau sahabat yang menghadiri
13Romlah Widayati dkk, Ilmu Qira’at 1 Memahami Bacaan Imam Qira’at Tujuh, (Tanggerang Selatan: IIQ Jakarta Press, 2020), Cet. 4, h. 23
14 Salim Muhsin, Ilmu Qira’at Tujuh, (Jakarta: Yataqi, 2007), h. 27.
majelis rasul untuk mengajarkan apa yang telah mereka dapatkan kepada para sahabat yang baru masuk Islam atau para sahabat yang tidak hadir dalam pertemuan.
C. Qira’at Pada Masa Sahabat dan Tabi’in
Dalam mengajarkan Al-Qur’an terdapat dua cara yang digunakan oleh Rasulullah saw.
Pertama, dengan mengajarkan langsung kepada para sahabat dalam majelis tertentu, khususnya saat salat berjama’ah. Kedua, memerintahkan kepada para sahabat senior atau sahabat yang menghadiri majelis untuk mengajaran apa yang telah mereka dapatkan kepada para sahabat yang baru masuk Islam atau para sahabat yang tidak hadir dalam majelis.
Peran para sahabat sangatlah penting dalam perkembangan qira’at di awal, terlebih setelah wafatnya Rasulullah saw. karena selain menerima langsung bacaan qira’at dari Nabi, mereka pun mengajarkannya. Metode yang digunakan oleh para sahabat pun sama seperti mereka menerima qira’at secara langsung dari Rasulullah saw, yaitu metode talaqqi atau musyafahah, hingga pada akhirya sampai kepada tabi’in, para Imam qira’at lalu kepada generasi berikutnya secara mutawatir melalui sanad yang sahih.
Metode para tabi’in dalam mengajarkan qira’at tidak jauh berbeda dengan metode Rasulullah dan para sahabat yaitu dengan metode talaqqi atau musyaafahah, yaitu membentuk halaqah-halaqah hingga madrasah-madrasah di kota-kota besar Islam zaman tersebut.
Penyampaian qira’at Al-Qur’an yang dilakukan secara talaqqii atau musyaafahah sebagaimana penyampaian dan periwayatan hadis, yang mana tak seorang pun dari ahli qira’at yang boleh diambil qira’atnya kecuali ada kepastian bahwa dia telah menerima qira’at tersebut dari ulama sebelumnya (gurunya), hinga rangkaian sanad itu berakhir pada seorang sahabat Nabi yang langsung menerima qira’at itu dari Nabi SAW.15
Kemudian ilmu qira’at pada masa tabi’in telah menyebar cukup merata di beberapa wilayah Islam, yakni di Makkah, Madinah, Kufah, Basrah dan Syam. Dan juga telah melahirkan bibit Imam qira’at yang masyhur yang terkenal dengan sebutan Imam qira’ah sab‘ah, tujuh Imam qira’at tersebut adalah Ibnu Kasir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, ‘Asim, Hamzah dan Kisa’i.
Fase ini berkisar antara akhir abad pertama dan permulaan abad kedua hijriah, atau pada generasi ijtihad tabi’in dalam mempelajari dan mendalami qira’at semakin berkembang, bisa dibilang fase ini adalah fase kemunculan para ahli qira’at.
Berikut adalah nama-nama para pakar Qir’aat pada generasi tabi’in di beberapa wilayah Islam:
1) Makkah, antara lain ialah ‘Ubaid bin ‘Umair, ‘Ata’ bin Abi Ribah , Watas, Mujahid,
‘Ikrimah dan Ibnu Abi Malikah.
2) Madinah, antara lain ialah Ibnu Musayyab , ‘Urwah, Salim, ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, Sulaiman dan ‘Ata’ bin Yasar, Mu’az bin Haris (masyhur dengan Mu’az al-Qari),
‘Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibnu Syihab az-Zuhri, Muslim bin Jundub dan Zaid bin Aslam.
3) Basrah, antara lain ialah Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nashr Bin Ashim, Yahya bin Ya’mar, Muadz, Hasan, Ibnu Sirin dan Qatadah.
4) Kufah, antara lain ialah ‘Alqamah, al-Aswad, Masruq, ‘Ubaidah, ‘Amr bin Syarhabil, Haris bin Qais, ‘Amr bin Maimun, Abu ‘Abdurrahman as-Sulami, Sa’id bin Jubair, an-Nakha’i dan asy-Sya’bi.
5) Syam, antara lain ialah al-Mughirah bin Abi Syihab al-Makhzumi, ‘Usman, Khalifah bin Sa’id salah seorang murid Abu Darda’.
Dari hasil didikan generasi tabi’in tersebut, setelahnya semakin banyak orang yang berminat mempelajari ilmu qira’at dan memusatkan perhatian terhadap ilmu qira’at.
15 Usman, Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 8.
Sehingga di beberapa kota besar penyebaran pakar-pakar qira’at dari generasi ini sudah cukup merata. Berikut beberapa kota dengan penyebaran ilmu qira’at:
1) Makkah, terdapat Imam ‘Abdullah Ibnu Kasir (w. 120 H / 737 M) dan Humaid bin Qais al-A’raj (w. 123 H / 740 M).
2) Madinah, terdapat Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’ (w. 130 H / 747 M) dan Nafi’ bin
‘Abdurrahman bin Nu’aim (w. 154 H / 785 M).
3) Kufah, terdapat nama-nama yang termasyhur adalah Sulaiman al-A’masy (w. 119 H / 737 H), ‘Asim bin Abi Nujud (w. 128 H / 745 M), Hamzah (w. 157 H / 773 M) dan Kisa’i (w.189 H / 805 M).
4) Basrah, terdapat ‘Abdullah bin Abi Ishaq (w. 117 H / 735 M), ‘Isa bin ‘Umar, Abu
‘Amr bin al-A’la (w.154 H/770 M) ‘Asim bin Jahdari dan Ya’qub bin al-Hadrami (w.
205 H / 821 M).
5) Syam, terdapat juga nama-nama yang mayshur diantaranya ‘Abdullah bin ‘Amir (w.118 H/736 M), Isma’il bin ‘Abdillah bin Muhajir (w. 170/786), Yahya bin Haris dan Syuraikh bin Yazid al-Hadrami.16
Banyaknya ahli qira’at yang muncul di masa tabi’in ini menjadi motivasi bagi generasi selanjutnya, sehingga wajar pada akhirnya mereka menjadi pakar qira’at yang terkenal.17
Kesimpulan
Bangsa arab mempunyai berbagai etnik, bahasa, dan lahjah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dengan kabilah yang lain baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya.
Keanekaragaman dialek dan bahasa ini memiliki karakter sendiri-sendiri Perbedaan yang terjadi dalam pelafadzan Al-Qur’an memang sudah muncul sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hal ini merupakan tanda bukti bahwa kesempurnaan mukjizat Al-Qur’an dapat menampung berbagai dialek sehingga memudahkan untuk dibaca, dihafal dan difahami. Keberagaman dialek yang terjadi tak dapat dihindari sebab sudah menjadi ketetapan sehingga Rasulullah Saw membenarkan pembacaan Al-Qur’an dengan macam-macam bacaan (Qira’at) sehingga munculah istilah Qira’at dalam ilmu Al-Qur’an.
Eksistensi Qira’at Sab’atu Ahruf pada masa kini Imam At-Thabari dan Ibnu Hibban mengatakan hanya satu huruf saja sebab semua sudah dipusatkan menjadi mushaf Sebab pengkodifikasian Al-Qur’an di masa ‘Usman bin ‘Affan sementara Fuqaha dan Mutakallimin lainnya mengatakan masih utuh hingga saat ini
Dalam penyebarannya Qira’at di masa sahabat dan tabi’in hampir sama menggunakan metode Talaqqi dan musyafahah sebagaimana Rasulullah Mengajarkan Ilmu Al-Qur’an kepada para sahabat.
16 Manna’ al-Qattan, Mabahis Fi ‘Ulum al-Qur’an atau Pengantar Studi al-Qur’an terj. Aunur Rofiq El- Mazni, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2015), cet. II, h. 212.
17 Khairunnas Jamal & Afriadi Putra, Pengantar Ilmu Qiraat, (Jogjakarta: Kalimedia, 2020), cet I, h. 34.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hajjaj, Abu Al-Husain bin Muslim. Shahih Muslim. Riyadh: Daar al-Hadarah li an-Nasyr wa at-Tauzi, 2015.
Al-Ma'mun, Al-Mu'tasim dan. “Critical Reading Terhadap Corak Pemikiran dan Konsepsi Ekonomi Abu Ubayd.” Al-Falah; Journal Of Islamic Economics, 2019: 4.
Al-Qattan, Manna. Mabahis Fi 'Ulumul Qur'an Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015.
as-Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqan Fi Ulumul Qur'an. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah Nasyirun, 2008.
az-Zarqani, Muhammad 'Abd Al-'Azim. Manahil Al-'Irfan Fi Ulumul Qur'an. Beirut: Daar Al-Kutub Al-'Arabi, 1995.
Fathoni, Ahmad. Kaidah Qira'at Tujuh 1&2. Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2019.
—. Kaidah Qira'at Tujuh Menuju Tariq asy-Syatibiyah. Tangerang : Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2022.
Muhsin, Salim. Ilmu Qira'at Tujuh. Jakarta: Yataqi, 2007.
Nasution, Muhammad Roihan. Qira'at Sab'ah Khazanah Bacaan Al-Qur'an Teori dan Praktek. Medan: Perdana Publishing, 2019.
Putra, Khairunnas Jamal & Afriadi. Pengantar Ilmu Qira'at. Jogjakarta: Kalimedia, 2020.
Widayati, Romlah. Ilmu Qira'at 1 Memahami Bacaan Imam Qira'at Tujuh. Tamgerang Selatan: IIQ Jakarta Press, 2020.