• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rachmadi Usman, SH, MH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Rachmadi Usman, SH, MH"

Copied!
278
0
0

Teks penuh

PRAKATA (EDISI REVISI)

Kata-kata cinta yang tak ada habisnya juga saya sampaikan secara khusus kepada istri saya, Dinda Yunita Usman, S.Pd., yang selalu setia, baik dalam suka maupun duka hidup, memberikan dorongan moril dan semangat untuk selalu bekerja dan selalu puas dengan suami. bekerja. kelalaian, memberikan kehangatan pada rumah. Buku ini merupakan sebuah tonggak sejarah kecil yang menghubungkan kebutuhan para mahasiswa, praktisi dan pemerhati hukum, serta para pelaku bisnis perbankan yang hendak mengkaji dan mendalami lebih jauh ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur bisnis industri perbankan syariah dalam sistem hukum perbankan nasional di Indonesia. . . Pada akhirnya, mahasiswa Fakultas Hukum diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami dan menguasai prinsip-prinsip hukum terkait industri perbankan syariah serta peraturan-peraturan yang mempengaruhi kegiatan usaha perbankan syariah saat ini.

Sementara itu, pembaca lainnya diharapkan lebih tertarik untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuannya mengenai peraturan bisnis industri perbankan syariah dalam sistem hukum perbankan nasional saat ini. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan dari para pembaca demi penyempurnaan isi buku ini lebih lanjut, oleh karena itu sebelumnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan edisi revisi buku ini hingga dapat disajikan di hadapan sidang pembaca.

Kepada penerbit yang telah menyetujui penyuntingan naskah dan bersedia menerbitkan serta mendistribusikan kembali buku hasil revisi ini, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya.

DAFTAR ISI

BANK DALAM ISLAM

  • Sejarah Kelahiran Bank Islam dan Perkembangannya Lahirnya bank pada mulanya hasil dari perkembangan cara penyimpanan harta benda. Para saudagar
  • Pemikiran Perlunya Kelahiran Bank Islam Dapat dikatakan kalau kelahiran bank Islam ini tidak terlepas dari upaya penggalangan dana
  • Ciri-ciri Bank Islam dan Perbedaannya dengan Bank Konvensional
    • Ciri-ciri Bank Islam Ciri-ciri bank Islam adalah
    • Perbedaan Bank Islam dan Bank Konvensional
  • Penamaan dan Pengertian Bank Islam Di Indonesia Secara teoritis, bank Islam baru dirintis sejak tahun 1940-an dan secara kelembagaan baru dapat
  • Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah Di Indonesia Perkembangan bank syariah di Indonesia dewasa ini berjalan dengan sangat pesat. Walaupun jumlah
  • Sejarah Perkembangan Hukum Perbankan Syariah Di Indonesia Perbankan Indonesia sebenarnya telah memiliki sejarah yang sangat panjang. Sebelum kemerdekaan,
  • Bank Yang Boleh Melakukan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992, maka bank yang dapat menyediakan
  • Asas, Tujuan dan Fungsi Perbankan Syariah Ketentuan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 menegaskan asas perbankan syariah,
  • Kegiatan dan Larangan Usaha Perbankan Syariah Kalau kita mencermati ketentuan dalam Pasal 6 sampai dengan pasal 15 Undang-Undang Nomor 7
    • Kegiatan dan Larangan Usaha Bank Umum Syariah
    • Kegiatan dan Larangan Usaha Unit Usaha Syariah Bank Umum Konvensional
    • Kegiatan dan Larangan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
  • Pendirian dan Kepemilikan Bank Berdasarkan Prinsip Syariah 1. Pendirian dan Kepemilikan Bank Umum Syariah
    • Pembentukan Unit Usaha Syariah dan Pembukaan Kantor Cabang Syariah Dalam ketentuan Pasal 5 ayat (9) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 ditegaskan, bahwa
    • Konversi Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional Menjadi Bank Umum Syariah Ketentuan dalam Pasal 5 ayat (6) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 menetapkan, bahwa
    • Layanan Syariah (Office Channeling) oleh Bank Umum Konvensional
    • Pendirian dan Kepemilikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
  • Susunan Kepengurusan Bank Berdasarkan Prinsip Syariah
    • Kepengurusan Bank Umum Syariah
    • Kepengurusan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
    • Pejabat Eksekutif Bank Syariah
  • Pengawasan Kegiatan Usaha Perbankan Syariah
    • Dewan Syariah Nasional
    • Dewan Pengawas Syariah
    • Komite Perbankan Syariah

Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/24/PBI/2005 tentang Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah; Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang menyatakan bahwa ketentuan pelaksanaan bank berdasarkan prinsip syariah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank umum memberikan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005 tentang Perjanjian Penghimpunan dan Penyaluran Dana bagi Bank yang Melakukan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah; Sebelum berlakunya undang-undang no. 21 Tahun 2008, kegiatan usaha bank umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah (Bank Umum Syariah) diatur lebih lanjut oleh Bank Indonesia. 6/17/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia nomor 8/25/PBI/2006.

Kebutuhan Modal Ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 mengatur bahwa besarnya modal disetor minimum untuk mendirikan bank umum syariah diatur dalam peraturan Bank Indonesia. Bank Umum Konvensional yang akan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib membuka UUS di kantor pusat bank dengan izin Bank Indonesia.” Dari ketentuan Pasal 5 Ayat (3) dan Ayat (9) UU Nomor 21 Tahun 2008, jelas bahwa bank umum konvensional yang akan melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib membuka UUS di kantor pusat banknya dengan izin Bank Indonesia, yang persyaratannya diatur lebih rinci Lanjutkan Peraturan Bank Indonesia.

PRINSIP SYARIAH DALAM KEGIATAN USAHA BANK SYARIAH

  • Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana Bank Syariah
    • Akad Al Wadi’ah (Simpanan atau Titipan)
  • Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penyaluran Dana Bank Syariah
    • Transaksi Bagi Hasil
    • Transaksi Sewa-Menyewa (Persewaan)
    • Transaksi Jual Beli
  • Prinsip Syariah dalam Kegiatan Pelayanan Jasa Bank Syariah Ketentuan dalam Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 sebagaimana telah diubah

Bank syariah boleh memberikan 'athaya (bonus) kepada nasabah dengan ketentuan tidak disepakati terlebih dahulu dan/atau tercantum dalam akad. Tidak diperlukan imbalan apa pun, kecuali dalam bentuk sumbangan sukarela ('athaya) dari bank syariah. Bank syariah boleh memberikan 'athoya atau bonus kepada nasabah dengan ketentuan tidak disepakati terlebih dahulu dan/atau tercantum dalam akad.

Pada produk tabungan dengan prinsip mudharabah ini, bank syariah menerima investasi nasabah dalam jangka waktu tertentu. Secara teknis dapat dikatakan bahwa bank syariah dalam hal ini memberikan jaminan kepada nasabahnya sehubungan dengan kontrak kerja/akad yang diadakan antara nasabah dengan pihak ketiga. Mengacu pada Fatwa DSN Nomor 06/DSN-MUI/IV/2000 ketentuan Pasal 13 Peraturan Bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005 mengatur persyaratan minimum kegiatan penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan berdasarkan penarikan. , yaitu:. Bank syariah menjual barang kepada nasabah dengan spesifikasi, kualitas, kuantitas, jangka waktu, tempat dan harga yang disepakati; pembayaran nasabah kepada bank syariah tidak boleh berupa penghapusan utang nasabah kepada bank syariah; alat pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya sesuai dengan perjanjian; pembayaran nasabah sebagai pembeli kepada bank syariah dilakukan secara bertahap atau berdasarkan kesepakatan; Dalam hal seluruh atau sebagian barang tidak tersedia dalam waktu, kualitas atau kuantitas yang disepakati, pembeli mempunyai pilihan:

Berdasarkan Fatwa DSN Nomor 12/DSN-MUI/IV/2000, hawalah merupakan produk layanan pembiayaan bank syariah yang halal, sah dan tidak melanggar syariah.

IMPLEMENTASI PRINSIP KEHATIAN-HATIAN DALAM

  • Prinsip Kehatian-hatian dalam Kegiatan Usaha Bank Syariah Apabila Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan belum secara eksplisit menentukan
  • Analisis Kelayakan Penyaluran Dana Seperti diketahui, ketentuan dalam Pasal 36 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 menentukan
  • Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Dalam rangka menjamin dan memelihara tingkat kesehatan perbankan syariah, bank yang
  • Posisi Devisa Neto Prinsip kehati-hatian mewajibkan bank umum devisa untuk mengelola dan memelihara posisi devisa
  • Batas Maksimum Penyaluran Dana Seperti diketahui, dalam penyaluran dana berdasarkan prinsip syariah oleh Bank Syariah dan UUS
  • Giro Wajib Minimum Setiap Bank Umum, termasuk pula Bank Umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
  • Kualitas dan Penyisihan Aktiva Bank Kelangsungan usaha bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah tergantung
  • Restrukturisasi Pembiayaan
    • Kewajiban Mengumumkan Neraca dan Laporan Laba Rugi Tahunan salah satu pilar penting dalam pencapaian good corporate governance di perbankan Indonesia adalah

Dalam hal ini Pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 juga mewajibkan Bank Umum Syariah untuk memiliki dan melaksanakan pedoman pembiayaan berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia mengatur bahwa bank umum devisa wajib mengelola dan memelihara posisi devisa neto setiap saat paling banyak 20% dari modal. Dari ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 jelas bahwa Bank Indonesia berwenang menetapkan BMPD berdasarkan prinsip syariah bagi nasabah penerima fasilitas atau kelompok nasabah yang menerima fasilitas terkait, termasuk perusahaan yang satu kelompok dengan Bankir Syariah dan UUS serta pimpinan Bank Syariah terkait.

Bank Indonesia dapat menetapkan BMPD lebih rendah dari 20% modal Bank Syariah, namun tidak boleh melebihi 20% modal Bank Syariah. Bank Indonesia juga mengatur bahwa Bank Umum Syariah wajib menetapkan kualitas yang sama atas beberapa rekening aktiva produktif yang digunakan untuk membiayai 1 (satu) nasabah, pada bank yang sama. Kemudian Bank Indonesia menetapkan bahwa BPRS juga wajib melakukan penilaian kualitas aset baik terhadap aset produktif maupun aset non produktif.

Dengan Peraturan Bank Indonesia No.8/21/PBI/2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.9/9/PBI/2007 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/24/PBI/2008, Bank Indonesia mengatur bahwa Bank Umum Syariah wajib membentuk penyisihan kerugian aset (PPA) terhadap aset produktif dan aset non produktif. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib mempublikasikan laporan keuangan berupa neraca, perhitungan laba rugi dan lain-lain yang bank menentukan bentuk tertentu. . Indonesia. Penyampaian laporan keuangan yang menjadi acuan tersebut akan dilakukan oleh Bank Syariah dan UUS dalam waktu dan bentuk yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.

Berdasarkan Pasal 9 Peraturan Bank Indonesia nomor 3/22/PBI/2001 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia nomor 7/50/PBI/2005, Pemberitahuan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan harus ditandatangani oleh paling sedikit (2) orang anggota Pengurus. Dewan bank komersial. Selain itu, Bank Indonesia juga akan mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disampaikan bank umum pada laman Bank Indonesia. Selanjutnya sesuai dengan ketentuan Pasal 14 Peraturan Bank Indonesia nomor 3/22/PBI/2001 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia nomor 7/50/PBI/2005, bank wajib mempublikasikan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Bank Indonesia Halaman Beranda.

Sebelum pengumuman dilakukan, Bank Indonesia akan menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan kepada bank untuk diteliti kebenaran laporannya. Dalam hal tidak ada keberatan dari bank umum dalam jangka waktu yang ditentukan, Bank Indonesia akan mengumumkan laporan tersebut.

TATA KELOLA YANG SEHAT (GOOD CORPORATE GOVERNANCE)

  • Pengertian Tata Kelola Yang Sehat (Good Corporate Governance) Istilah “tata kelola usaha yang sehat“, “tata kelola yang sehat“, atau “tata kelola yang baik“ merupakan
  • Dasar Hukum dan Relevansi Tata Kelola Yang Sehat (Good Corporate Governance) bagi Bank Syariah

Good Corporate Governance merupakan tata kelola Bank yang menerapkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi dan kewajaran. Dari definisi di atas jelas bahwa GCG adalah tata kelola usaha yang sehat pada industri perbankan, yang didasarkan pada lima prinsip dasar, yaitu transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi dan kewajaran, guna meningkatkan kinerja bank, untuk meningkatkan kinerja bank. melindungi kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan. dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan, hukum yang berlaku, dan nilai-nilai etika (code of Conduct) yang berlaku umum pada industri perbankan. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik pada industri perbankan dimaksudkan sebagai upaya memperkuat kondisi internal perbankan nasional, mengingat risiko dan tantangan yang dihadapi industri perbankan akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan industri perbankan yang sangat pesat. , yang umumnya dibarengi dengan semakin kompleksnya aktivitas bisnis perbankan, sehingga berdampak pada meningkatnya eksposur risiko perbankan.

Ketiga, tanggung jawab, yaitu kepatuhan pengurus bank terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat. Landasan Hukum dan Relevansi Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah Bagi Bank Umum Syariah Penerapan GCG bagi bank umum dilaksanakan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/PBI/2006, yang mengatur bahwa bank umum wajib menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dalam seluruh kegiatan usahanya, termasuk dalam penyusunan visi, misi, rencana strategis, pelaksanaan kebijakan, dan langkah-langkah pengendalian internal pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. Tata kelola perusahaan yang baik pada industri perbankan sangat diperlukan untuk mencapai bisnis perbankan yang sehat.

Di sektor perbankan, tata kelola perusahaan yang baik merupakan salah satu rekomendasi dari Basel Committee on Banking Supervision (September 1999).339. Memasuki abad 21, sangatlah penting untuk segera menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan GCG dalam pengelolaan bank syariah. Pemicu utama berkembangnya permintaan tersebut adalah krisis yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 pada sektor perbankan yang umumnya didominasi oleh perbankan konvensional dan berlangsung hingga tahun 2000.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian dan laporan Bank Dunia dan ADB, krisis perbankan yang terjadi di Indonesia dan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar global disebabkan oleh buruknya penerapan praktik GCG.340. Perkembangan kegiatan perbankan syariah akhir-akhir ini sangat pesat, dimana berdasarkan laporan Bank Indonesia sampai dengan triwulan I tahun 2006, aset perbankan syariah mencapai Rp. Selain itu, penerapan GCG dapat membantu bank syariah untuk meminimalisir buruknya kualitas pembiayaan, meningkatkan akurasi evaluasi bank, infrastruktur, kualitas pengambilan keputusan bisnis, serta memiliki sistem deteksi dini terhadap area bisnis, produk dan produk yang berisiko tinggi. layanan.341 .

Dukungan terhadap penerapan GCG pada perbankan syariah juga diberikan oleh Bank Indonesia (BI) selaku otoritas perbankan lokal yang segera menyusun kode etik GCG khusus perbankan syariah, sedangkan lembaga syariah internasional seperti Islamic Financial Services Board (IFSB) di 2005 telah berhasil memenuhi pedoman standar GCG untuk lembaga keuangan Islam internasional.342. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, perbankan syariah wajib menerapkan GCG dalam kegiatan usahanya.

Referensi

Dokumen terkait