• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan dan Larangan Usaha Bank Umum Syariah

Dalam dokumen Rachmadi Usman, SH, MH (Halaman 67-72)

DAFTAR ISI

BAB 1 BANK DALAM ISLAM

G. Kegiatan dan Larangan Usaha Perbankan Syariah Kalau kita mencermati ketentuan dalam Pasal 6 sampai dengan pasal 15 Undang-Undang Nomor 7

1. Kegiatan dan Larangan Usaha Bank Umum Syariah

Sebelum ditetapkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, kegiatan usaha Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah (Bank Umum Syariah) telah diatur lebih lanjut oleh Bank Indonesia. Pengaturan yang sama, sebelumnya dijumpai dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 12 Mei 1999, kemudian diganti dan disempurnakan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 tentang Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005, yang kemudian diganti dan disempurnakan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tentang Bank Umum Syariah.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, ketentuan dalam Pasal 6 huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 menegaskan, bahwa salah satu kegiatan usaha Bank Umum adalah menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan usaha lain berdasarkan Prinsip Syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Selanjutnya dengan merujuk kepada ketentuan dalam Pasal 6 huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, kegiatan- kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum dengan menerapkan Prinsip Syariah (Bank Umum Syariah) mendapat perincian dalam ketentuan Pasal 28 dan Pasal 29 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR.

Ketentuan dalam Pasal 28 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR menegaskan, bahwa Bank Umum Syariah wajib menerapkan Prinsip Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya yang meliputi:

1. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang meliputi:

a. giro berdasarkan prinsip wadiah;

b. tabungan berdasarkan prinsip wadiah atau mudharabah;

147Rachmadi Usman. Op.Cit., hlm. 52. Lihat pula Rachmadi Usman. 2001. Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hlm. 208.

148Munir Fuady. 1999. Hukum Perbankan Modern Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Tahun 1998 (Buku Kesatu). Bandung: PT Citra Aditya Bakti, hlm. 175-176.

c. deposito berdasarkan prinsip mudharabah; atau

d. bentuk lain berdasarkan prinsip wadiah atau mudharabah.

2. melakukan penyaluran dana melalui:

a. transaksi jual beli berdasarkan prinsip:

a) murabahah;

b) istishna;

c) ijarah;

d) salam;

e) jual beli lainnya.

b. pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip:

a) mudharabah;

b) musyarakah;

c) bagi hasil lainnya.

c. pembiayaan lainnya berdasarkan prinsip:

a) hiwalah;

b) rahn;

c) qardh.

3. membeli, menjual dan/atau menjamin atas risiko sendiri surat-surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata (underlying transaction) berdasarkan prinsip jual beli atau hiwalah;

4. membeli surat-surat berharga Pemerintah dan/atau Bank Indonesia yang diterbitkan atas dasar Prinsip Syariah;

5. memindahkan uang untuk kepentingan sendiri dan/atau nasabah berdasarkan prinsip wakalah;

6. menerima pembayaran tagihan atas surat berharga yang diterbitkan dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga berdasarkan prinsip wakalah;

7. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip wadiah yad amanah;

8. melakukan kegiatan penitipan termasuk penatausahaannya untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak dengan prinsip wakalah;

9. melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lain dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek berdasarkan prinsip ujr;

10. memberikan fasilitas letter of credit berdasarkan prinsip wakalah, murabahah, mudharabah, musyarakah dan wadiah serta memberikan fasilitas garansi bank berdasarkan prinsip kafalah;

11. melakukan kegiatan usaha kartu debet berdasarkan prinsip ujr;

12. melakukan kegiatan wali amanat berdasarkan prinsip wakalah;

13. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan bank sepanjang disetujui oleh Dewan Syariah Nasional.

Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas, berdasarkan ketentuan dalam Pasal 29 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR menentukan, bahwa Bank Umum Syariah dapat pula:

a. melakukan kegiatan dalam valuta asing berdasarkan prinsip sharf;

b. melakukan kegiatan penyertaan modal berdasarkan prinsip musyarakah dan/atau mudharabah pada Bank atau perusahaan lain yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah;

c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara berdasarkan prinsip musyarakah dan/atau mudharabah untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya; dan

d. bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun berdasarkan Prinsip Syariah sesuai dengan ketentuan dalam perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.

Demikian pula berdasarkan ketentuan dalam Pasal 29 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR, Bank Umum Syariah dapat bertindak sebagai lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infaq, shadaqah, waqaf, hibah atau dana sosial lainnya dan

menyalurkannya kepada yang berhak dalam bentuk santunan dan/atau pinjaman kebajikan (qardh ul hasan).

Kemudian kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum Syariah mendapat penyempurnaan melalui ketentuan dalam Pasal 36 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005, yang memerinci kegiatan usaha Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 36 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005, Bank Umum Syariah wajib menerapkan Prinsip Syariah dan prinsip kehati-hatian dalam melakukan kegiatan usahanya, yang meliputi:

1. melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi, antara lain:

▪ giro berdasarkan prinsip wadi’ah;

▪ tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah dan/atau mudharabah; atau

▪ deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah; atau 2. melakukan penyaluran dana melalui:

▪ prinsip jual beli berdasarkan akad antara lain:

- murabahah;

- istishna;

- salam;

▪ prinsip bagi hasil berdasarkan akad antara lain:

- mudharabah;

- musyarakah;

▪ prinsip sewa menyewa berdasarkan akad antara lain:

- ijarah;

- ijarah muntahiya bittamlik;

▪ prinsip pinjam meminjam berdasarkan akad qardh;

3. melakukan pemberian jasa pelayanan perbankan berdasarkan akad antara lain;

wakalah;

hawalah;

kafalah;

rahn;

4. membeli, menjual dan/atau menjamin atas risiko sendiri surat-surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata (underlying transaction) berdasarkan prinsip syariah;

5. membeli surat-surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh Pemerintah dan/atau Bank Indonesia;

6. menerbitkan surat berharga berdasarkan prinsip syariah;

7. memindahkan uang untuk kepentingan sendiri dan/atau nasabah berdasarkan prinsip syariah;

8. menerima pembayaran tagihan atas surat berharga yang diterbitkan dan melakukan perhitungan dengan atau antarpihak ketiga berdasarkan prinsip syariah;

9. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga berdasarkan prinsip wadiah yad amanah;

10. melakukan kegiatan penitipan termasuk penatausahaannya untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak dengan prinsip wakalah;

11. memberikan fasilitas letter of credit berdasarkan prinsip syariah;

12. memberikan fasilitas garansi berdasarkan prinsip syariah;

13. melakukan kegiatan usaha kartu debet, charge card berdasarkan prinsip syariah;

14. melakukan kegiatan wali amanat berdasarkan akad wakalah;

15. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan Bank sepanjang disetujui oleh Bank Indonesia dan mendapatkan fatwa Dewan Syariah Nasional.

Selanjutnya ketentuan dalam Pasal 37 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005 menetapkan kegiatan-kegiatan usaha lain dari Bank Umum Syariah. Menurut ketentuan dalam Pasal 37 tersebut, kegiatan usaha lain dari Bank Umum Syariah sebagai berikut:

(1) Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas, Bank dapat pula:

a. melakukan kegiatan dalam valuta asing berdasarkan akad sharf;

b. melakukan kegiatan penyertaan modal pada Bank atau perusahaan lain di bidang keuangan berdasarkan prinsip syariah seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan;

c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara berdasarkan prinsip syariah untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan oleh Bank Indonesia; dan d. bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun berdasarkan prinsip

syariah sesuai dengan ketentuan dalam perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.

(2) Bank syariah dalam melaksanakan fungsi sosial dapat bertindak sebagai penerima dana sosial antara lain dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, waqaf, hibah dan menyalurkannya sesuai syariah atas nama Bank atau lembaga amil zakat yang ditunjuk oleh pemerintah.

Dengan demikian dari uraian di atas, jelas bahwa kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum Syariah ternyata tidak jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum Konvensional, terkecuali melaksanakan fungsi bisnis, Bank Umum Syariah juga dapat melaksanakan fungsi sosial keagamaan.

Kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum Syariah kembali mendapat penegasan dan perincian (secara limitatif) dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008. Menurut ketentuan dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, kegiatan usaha Bank Umum Syariah meliputi:

a. menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi’ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

b. menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

c. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah, Akad musyarakah, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

d. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad murabahah, Akad salam, Akad istishna’, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

e. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

f. menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

g. menyalurkan pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

h. melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;

i. membeli, menjual, atau menjamin atas risko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain seperti Akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau hawalah;

j. membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia;

k. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah;

l. melakukan Penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu Akad yang berdasarkan Prinsip Syariah;

m. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah;

n. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan Prinsip Syariah;

o. melakukan fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan Akad wakalah;

p. memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan Prinsip Syariah; dan q. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial

sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya, selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, Bank Umum Syariah dapat pula melakukan kegiatan usaha lainnya sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, yaitu:

a. melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip Syariah;

b. melakukan kegiatan usaha penyertaan modal pada Bank Umum Syariah atau lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah;

c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya;

d. bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun berdasarkan Prinsip Syariah;

e. melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal;

f. menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan sarana elektronik;

g. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang;

h. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar modal; dan

i. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Umum Syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip Syariah.

Kegiatan usaha perbankan syariah, khususnya menyangkut produk dan jasa yang ditawarkan, pada prinsipnya memiliki cakupan yang relatif lebih luas (bersifat universal banking) dibandingkan dengan yang ditawarkan perbankan konvensional, karena selain melakukan kegiatan usaha seperti halnya bank konvensional, bank syariah juga menawarkan jasa yang umumnya dijalankan oleh lembaga pembiayaan, seperti jasa leasing, serta pembiayaan bagi hasil yang umumnya ditawarkan oleh lembaga investasi, semacam modal ventura.149

Secara tegas ketentuan dalam Pasal 39 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005 melarang Bank Umum Syariah melakukan kegiatan usaha perbankan secara konvensional dan mengubah kegiatan usaha menjadi bank konvensional. Sebelumnya penegasan larangan melakukan atau mengubah kegiatan usaha perbankan secara konvensional oleh Bank Umum Syariah juga terdapat dalam ketentuan Pasal 32 dan Pasal 33 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR.

Bila ketentuan dalam Pasal 39 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005 dihubungkan dengan ketentuan dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998, dapat disimpulkan bahwa Bank Umum Syariah dilarang:

a. melakukan penyertaan modal, kecuali melakukan kegiatan usaha yang telah ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005;

b. melakukan usaha perasuransian;

149Arief R. Permana dan Anto Purba. Op.Cit., hlm. 6.

c. melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha yang telah ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005;

d. melakukan kegiatan usaha perbankan secara konvensional;

e. mengubah kegiatan usaha perbankan syariah menjadi kegiatan usaha perbankan konvensional.

Dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 terdapat penegasan yang sama, bahwa Bank Umum Syariah juga dilarang melakukan hal-hal kegiatan-kegiatan usaha sebagaimana ditentukan dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, yaitu:

a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah;

b. melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di pasar modal;

c. melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b dan huruf c Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008; dan

d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.

Sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 terdapat penegasan yang sama pula sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (7) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, yang menetapkan bahwa Bank Umum Syariah tidak dapat dikonversi menjadi Bank Umum Konvensional.

Dapat diketahui bahwa suatu Bank Umum Syariah sama sekali tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan selain kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah. Dengan kata lain, suatu Bank Umum Syariah tidak dapat memiliki conventional window, yaitu tidak boleh melakukan kegiatan perbankan konvensional sekalipun kegiatan perbankan konvensional itu dilakukan melalui suatu cabang yang khusus dimaksudkan untuk melakukan kegiatan perbankan konvensional saja. Artinya Bank Umum Syariah hanya boleh memiliki single window saja yang hanya melakukan kegiatan usaha perbankan syariah saja.150

Asas bahwa Bank Umum Syariah hanya boleh memiliki single window atau tidak boleh memiliki conventional window, sudah selayaknya diterapkan. Karena kalau tidak demikian halnya, maka pada Bank Umum Syariah dilihat dari kaca mata syariah (agama Islam), pelaksanaan kegiatan usaha yang halal akan tercampur dengan kegiatan usaha yang halal. Bahkan, apabila harus dipertimbangkan secara murni dilihat dari kaca mata syariah, bagi bank umum konvensional yang membuka islamic window (dengan membuka cabang khusus yang dimaksudkan hanya untuk melaksanakan kegiatan perbankan syariah saja), apakah memang ada jaminan di dalam operasionalisasinya bahwa cabang khusus syariah tersebut akan menggunakan dana yang dikerahkan hanya berdasarkan prinsip syariah saja dan tidak tercampur dengan dana dari kantor cabang lain atau dari kantor pusatnya yang diperoleh bukan berdasarkan prinsip syariah, tetapi berdasarkan pemberian bunga yang dilarang oleh syariah. Apabila hal itu sampai terjadi, maka cabang khusus syariah tadi telah mencampuradukkan antara dana halal dan dana haram bagi kegiatan pembiayaannya yang berdasarkan prinsip syariah.151

Dalam dokumen Rachmadi Usman, SH, MH (Halaman 67-72)