• Tidak ada hasil yang ditemukan

Susunan Kepengurusan Bank Berdasarkan Prinsip Syariah

Dalam dokumen Rachmadi Usman, SH, MH (Halaman 98-103)

DAFTAR ISI

BAB 1 BANK DALAM ISLAM

B. Susunan Kepengurusan Bank Berdasarkan Prinsip Syariah

melaksanakan fungsi pengawasan pada 1 (satu) perusahaan anak lembaga keuangan bukan Bank yang dimiliki oleh Bank; anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau Pejabat Eksekutif pada 1 (satu) perusahaan yang merupakan pemegang saham Bank; atau pejabat pada paling banyak 3 (tiga) lembaga nirlaba. Selain itu mayoritas anggota Dewan Komisaris dilarang saling memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi.

Menurut ketentuan dalam Pasal 28 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009, jumlah anggota Direksi paling kurang 3 (tiga) orang dan setiap anggota Direksi harus berdomisili di Indonesia. Direksi dipimpin oleh Presiden Direktur atau Direktur Utama, yang wajib berasal dari pihak yang independen terhadap PSP. Independen di sini maksudnya tidak terdapat keterkaitan kepengurusan, kepemilikan dan/atau hubungan keuangan, serta hubungan keluarga.

Secara khusus ketentuan dalam Pasal 30 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 mensyaratkan, bahwa BUS wajib memiliki 1 (satu) orang Direktur Kepatuhan yang diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham, yang bertugas untuk memastikan kepatuhan bank terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya. Dengan kata lain pada BUS wajib diadakan Direktur Kepatuhan.

Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 30 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 merupakan penegasan ketentuan yang sama sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 29 Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2008, yang menetapkan sebagai berikut:

(1) Dalam jajaran direksi Bank Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 wajib terdapat 1 (satu) orang direktur yang bertugas untuk memastikan kepatuhan Bank Syariah terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas untuk memastikan kepatuhan Bank Syariah terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Mengenai tugas dan tanggung jawab Direksi dalam kepengurusan BUS diatur dalam ketentuan Pasal 27 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 yang menetapkan, bahwa Direksi bertanggungjawab penuh atas pelaksanaan pengelolaan bank termasuk pemenuhan prinsip kehati- hatian dan prinsip syariah, yang dilaksanakan dengan berpedoman antara lain pada ketentuan Bank Indonesia mengenai pelaksanaan good corporate governance yang berlaku bagi BUS.

Demikian pula anggota Direksi BUS terkena larangan rangkap jabatan sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan Pasal 29 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 29 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009, anggota Direksi dilarang merangkap jabatan sebagai anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau Pejabat Eksekutif pada bank, perusahaan dan/atau lembaga lain. Larangan rangkap jabatan ini dikecualikan apabila Direksi yang bertanggung jawab terhadap pengawasan atas penyertaan pada perusahaan anak Bank, menjalankan tugas fungsional menjadi anggota Dewan Komisaris pada perusahaan anak bukan bank yang dikendalikan oleh Bank; dan/atau Direksi menduduki jabatan pada 2 (dua) lembaga nirlaba.

Anggota Direksi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dilarang memiliki saham melebihi 25% (dua puluh lima persen) dari modal disetor pada perusahaan lain. Selain itu, mayoritas anggota Direksi dilarang saling memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Direksi dan/atau dengan anggota Dewan Komisaris.

Pasal 30 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 mensyaratkan, bahwa calon dewan komisaris dan calon direksi wajib lulus uji kemampuan dan kepatutan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menjamin kompetensi, kredibilitas, integritas, dan pelaksanaan tata kelola yang sehat (good corporate governance) dari pemilik, pengurus bank, dan pengawas syariah.

Di samping itu, uji kemampuan dan kepatutan terhadap komisaris dan direksi yang melanggar integritas dan tidak memenuhi kompetensi dilakukan oleh Bank Indonesia. Komisaris dan direksi yang tidak lulus pada uji kemampuan dan kepatutan diwajibkan melepaskan jabatannya.

Dengan merujuk kepada ketentuan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, ketentuan dalam Pasal 31 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 menegaskan, bahwa calon anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi wajib memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia sebelum menduduki jabatannya. Pengangkatan anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi oleh Rapat Umum Pemegang Saham berlaku efektif setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia. Selain memenuhi ketentuan Bank Indonesia, calon anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota wajib memenuhi persyaratan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Permohonan untuk memperoleh persetujuan menduduki jabatan Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi BUS diajukan oleh BUS kepada Bank Indonesia disertai dengan dokumen pendukung. Persetujuan atau penolakan atas permohonan dimaksud diberikan Bank Indonesia berdasarkan pada:

a. penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen; dan

b. uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi.

Pengaturan seperti ini diperlukan mengingat perbankan sebagai lembaga kepercayaan masyarakat harus dikelola oleh pengurus yang mempunyai kemampuan/kompetensi dan kepatutan/integritas. Artinya tidak setiap orang dapat menjadi pengurus bank, hanya mereka yang telah lulus uji kemampuan dan kepatutanlah yang berhak.155

Persetujuan atau penolakan atas pengajuan calon anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap.

Calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi yang telah mendapat persetujuan Bank Indonesia namun tidak diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal persetujuan diterbitkan, maka persetujuan terhadap calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi menjadi tidak berlaku.

Pengangkatan anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi wajib dilaporkan oleh Bank kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pengangkatan efektif disertai dengan dokumen pendukung.

Pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah pemberhentian dan/atau pengunduran diri efektif.

2. Kepengurusan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Demikian pula dengan merujuk kepada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, kepengurusan BPRS terdiri atas Dewan Komisaris dan Direksi. Di samping, terdapat pula di dalam kepengurusan BPRS adalah Pejabat Eksekutif dan DPS. Sebelumnya berdasarkan ketentuan dalam Pasal 20 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006 menetapkan, bahwa kepengurusan BPRS terdiri atas Direksi dan dewan Komisari. Jadi, struktur organisasi/kepengurusan BPRS itu terdiri atas Direksi dan dewan Komisaris, ditambah dengan Pejabat Eksekutif dan DPS.

Jumlah anggota Direksi BPRS ditetapkan minimal 2 (dua) orang, sedangkan jumlah dewan Komisaris BPRS ditetapkan minimal 2 (dua) orang dan maksimal 3 (tiga) orang.

155Arief R. Permana dan Anton Purba. Agustus 2008. ”Sekilas Ulasan UU Perbankan Syariah”, dalam Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 6 Nomor 2. Jakarta: Direktorat Hukum Bank Indonesia, hlm. 7.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006 mensyaratkan, bahwa untuk dapat menjadi anggota Direksi dan dewan Komisaris BPRS wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. persyaratan integritas, bahwa anggota Direksi dan dewan Komisaris BPRS adalah pihak-pihak memiliki yang:

▪ akhlak dan moral yang baik;

▪ memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku;

▪ memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan operasional bank yang sehat; dan

▪ tidak termasuk dalam daftar tidak lulus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;

b. persyaratan kompetensi, bahwa anggota Direksi dan dewan Komisaris BPRS adalah pihak-pihak yang:

(1) bagi calon Direksi:

▪ memiliki pengetahuan di bidang perbankan yang memadai dan relevan dengan jabatannya;

▪ memiliki pengalaman dan keahlian di bidang perbankan dan/atau bidang keuangan; dan

▪ memiliki kemampuan untuk melakukan pengelolaan strategis dalam rangka pengembangan BPRS yang sehat;

(2) bagi calon Komisaris:

▪ memiliki pengetahuan di bidang perbankan yang memadai dan relevan dengan jabatannya;

dan/atau

▪ memiliki pengalaman di bidang perbankan.

a. reputasi keuangan, bahwa anggota Direksi dan dewan Komisaris adalah pihak-pihak yang:

▪ tidak termasuk dalam daftar kredit macet; dan

▪ tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi Direksi atau Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit, dalam waktu 5 (lima) tahun terakhir sebelum dicalonkan.

Di samping harus memenuhi persyaratan umum, masih terdapat persyaratan lainnya yang merupakan persyaratan khusus yang wajib dipenuhi setiap calon anggota Direksi dan dewan Komisaris BPRS. Ketentuan dalam Pasal 22 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006 mensyaratkan, bahwa paling sedikit 50% (lima puluh perseratus) (mayoritas) dari anggota Direksi termasuk Direktur Utama wajib:

▪ berpengalaman operasional paling kurang 1 (satu) tahun sebagai pejabat di bidang pendanaan dan/atau pembiayaan di perbankan syariah;

▪ paling sedikit 4 (empat) tahun sebagai pegawai di bidang pendanaan dan pembiayaan di perbankan syariah;

▪ paling kurang 2 (dua) tahun sebagai pejabat di bidang pendanaan; dan/atau perkreditan di perbankan konvensional; dan

▪ memiliki pengetahuan di bidang perbankan syariah; atau paling kurang 3 (tiga) tahun sebagai direksi atau setingkat dengan direksi di lembaga keuangan syariah yang telah mendapat izin dari instansi yang berwenang.

Bagi anggota Direksi lain yang belum berpengalaman perbankan syariah diwajibkan mengikuti pelatihan perbankan syariah. Di samping itu, anggota Direksi dipersyaratkan pula paling kurang berpendidikan formal minimal setingkat Diploma III atau Sarjana Muda dan wajib memiliki sertifikat kelulusan dari lembaga sertifikasi. Khusus untuk Direktur Utama BPRS dipersyaratkan wajib berasal dari pihak yang independen terhadap pemegang saham pengendali. Seluruh anggota Direksi BPRS dipersyaratkan pula harus berdomisili dekat dengan tempat kedudukan Kantor Pusat BPRS.

Anggota direksi BPRS terkena larangan sebagai berikut:

a. dilarang mempunyai hubungan keluarga sampai dengan derajat pertama termasuk dengan sesama anggota Direksi atau anggota dewan Komisaris;

b. dilarang merangkap jabatan sebagai anggota Direksi, Komisaris atau Pejabat Eksekutif pada lembaga perbankan, perusahaan atau lembaga lain;

c. dilarang memberikan kuasa umum yang mengakibatkan pengalihan tugas dan wewenang tanpa batas.

Berbeda dengan persyaratan anggota Direksi, kalau anggota dewan Komisaris BPRS tidak dipersyaratkan secara khusus, minimal wajib pengetahuan dan/atau pengalaman di bidang perbankan atau di bidang keuangan lainnya. Anggota dewan Komisaris BPRS hanya dapat merangkap jabatan anggota dewan Komisaris maksimal pada 3 (tiga) bank lain atau anggota dewan Komisaris, Direksi atau Pejabat Eksekutif yang memerlukan tanggung jawab penuh maksimal pada 2 (dua) lembaga/perusahaan lain bukan bank.

Anggota dewan Komisaris dan anggota Direksi BPRS yang memiliki benturan kepentingan dengan kepentingan BPRS, dilarang mengambil tindakan yang dapat merugikan BPRS dan benturan kepentingan tersebut wajib diungkapkan dalam suatu keputusan.

3. Pejabat Eksekutif Bank Syariah

Ketentuan dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 menetapkan, bahwa dalam menjalankan kegiatan Bank Syariah, direksi dapat mengangkat pejabat eksekutif, yang mengenai pengangkatannya diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Pengertian Pejabat eksekutif di sini adalah pejabat yang bertanggung jawab langsung kepada direksi dan/atau mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dan operasional Bank Syariah seperti kepala divisi, pemimpin Kantor Cabang, atau kepala satuan kerja audit internal.

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009, dalam struktur organisasi BUS, dikenal pula Pejabat Eksekutif, di samping anggota Direksi dan dewan Komisaris BUS. Pejabat Eksekutif BUS ini merupakan pejabat yang paling bertanggung jawab kepada direktur atau Direksi dan/atau mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dan operasional bank seperti kepala divisi, pemimpin KC, atau kepala satuan kerja audit internal.

Pasal 40 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 menentukan, bahwa Pengangkatan, pemberhentian, atau penggantian Pejabat Eksekutif wajib dilaporkan oleh Bank kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pengangkatan, pemberhentian, atau penggantian efektif disertai dengan dokumen pendukung. Dokumen pendukung di sini dapat berupa surat pengangkatan dan pemberian kuasa sebagai Pejabat Eksekutif atau pemimpin Kantor Cabang dari Direksi Bank; dan dokumen yang menyatakan identitas Pejabat Eksekutif atau pemimpin Kantor Cabang BUS yang bersangkutan.

Selanjutnya apabila berdasarkan penilaian dan penelitian Bank Indonesia, Pejabat Eksekutif- nya termasuk dalam daftar antara lain Daftar Tidak Lulus sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, Daftar Kredit Macet, dan pertimbangan lain yang menunjukkan tidak terpenuhinya aspek integritas, maka BUS wajib membatalkan pengangkatan Pejabat Eksekutif tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal surat penegasan dari Bank Indonesia.

Demikian pula berdasarkan ketentuan dalam Pasal 25 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006, dalam struktur organisasi BPRS, di samping anggota Direksi dan dewan Komisaris, diadakan Pejabat Eksekutif, yaitu pejabat yang bertanggung jawab langsung kepada direksi bank atau perusahaan atau mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dan operasional bank atau perusahaan, antara lain pemimpin Kantor Cabang BPRS.

Direksi BPRS wajib melaporkan pengangkatan atau penggantian Pejabat Eksekutif BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pengangkatan efektif dan dilampiri dengan:

a. surat pengangkatan dan khusus bagi pemimpin cabang disertai dengan surat kuasa dari Direksi BPRS;

b. 1 (satu) lembar pas foto 1 (satu) bulan terakhir ukuran 4x6 cm;

c. fotokopi tanda pengenal berupa KTP;

d. riwayat hidup;

e. contoh tanda tangan dan paraf.

Pasal 26 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006 menentukan, bahwa Pejabat Eksekutif BPRS yang memiliki benturan kepentingan dengan kepentingan BPRS, dilarang mengambil tindakan yang dapat merugikan BPRS dan benturan kepentingan tersebut wajib diungkapkan dalam suatu keputusan.

Dalam dokumen Rachmadi Usman, SH, MH (Halaman 98-103)