DR AF
DR AF
M
inat terhadap Ekonomi Pembangunan dan Ilmu Koperasi mengantarkan Subandi Sardjoko untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil di Bappenas pada 1986.Sesuai dengan latar belakang pendidikan sebagai Sarjana Bidang Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor, pria yang dikenal hobi bernyanyi ini ditugaskan sebagai staf perencana di Biro Pengembangan Dunia Usaha dan Koperasi. “Jadi, pas banget, saya tuh bekerja dengan senang hati, tidak ada yang terpaksa, bukan karena saya harus bekerja hanya untuk mendapatkan gaji saja. Ini menjadi pemicu karier saya, untuk berusaha bekerja dengan memberikan yang terbaik, dan saya percaya insyaallah balasannya dari Allah.
Prinsip saya itu dan alhamdulillah sampai sekarang, karier saya berjalan lancar,”
kenangnya.
Setelah tiga tahun berkarier di Bappenas, tepatnya pada 1989, Subandi melanjutkan pendidikan di Saitama University, Jepang dan mendapat gelar magister bidang Policy Science pada 1991.
Usai menempuh pendidikan, pria kelahiran 5 Januari 1962 ini kembali ke tanah air dan menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Usaha Golongan Ekonomi Lemah, Biro Pengembangan Dunia Usaha dan Koperasi hingga 1994. Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Bagian Perdagangan Dalam Negeri, Biro Koperasi, Pangan, dan Pengembangan Dunia Usaha hingga 1996.
Masih di biro yang sama, ia menjabat Kepala Bagian Pengadaan dan Distribusi Pangan selama tiga tahun.
TEKAD DAN SYUKUR SEBAGAI PEMICU KARIER
SUBANDI SARDJOKO - PLT. DEPUTI BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA, MASYARAKAT, DAN KEBUDAYAAN
Di usia 38 tahun, Subandi bertekad melanjutkan pendidikan doktoral, terlebih beberapa rekan kerjanya sudah lebih dahulu meraih gelar doktor. Ia pun mengakui kesempatannya tersebut tidak terlepas dari jasa pimpinannya waktu itu.
“Saya punya pimpinan yang luar biasa ya, yaitu Pak Eiko Whismulyadi, direktur yang waktu itu menangani koperasi, pangan dan pengembangan dunia usaha.
Bos saya ini mengizinkan saya sekolah, beliaulah yang jadi contoh, bahwa untuk memberi kesempatan sekolah bagi stafnya walaupun jumlah staf di biro pada saat itu terbatas,” kisahnya.
Dengan tekad sekeras baja, Subandi berhasil menyandang gelar Doktor Bidang Natural Resource Economics dari Kyoto University, Jepang pada 2004.
Kembali ke tanah air, ayah dua orang putra ini ditugaskan sebagai Kepala Sub Direktorat Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Direktorat Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Setahun berselang, Subandi dipercaya menjabat sebagai Direktur Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga hingga 2007.
Posisi ini menjadi momentum bagi Subandi untuk menyusun
perencanaan pembangunan pariwisata.
Ia waktu itu berani untuk mengusulkan mengubah alokasi anggaran promosi pariwisata luar negeri yang anggarannya jauh lebih besar ke program destinasi wisata dalam negeri. “Karena percuma saja, jika banyak wisatawan mancanegara datang ke Indonesia tapi kemudian kapok gara-gara pelayanan di destinasi wisata
dalam negeri tidak memadai. Karena itu saya sempat disidang oleh Sekjen Departemen Pariwisata. Saya minta izin ke Deputi saya dan diminta langsung menjelaskan alasan saya mengubah alokasi anggaran tersebut. Ya sudah saya jelaskan dan alhamdulillah berhasil,” tutur Subandi.
Pada saat yang sama, Subandi diangkat menjadi Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 157/M Tahun 2006 tentang Pengangkatan Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional Periode 2006-2009. “Pada waktu itu kondisi perfilman nasional sedang lesu dan produksi film nasional sangat sedikit. Hal tersebut disebabkan karena biaya memproduksi film nasional jauh lebih mahal dari film impor. Salah satu penyebabnya adalah adanya pajak yang tinggi untuk impor peralatan film.
Tim BPPN berhasil meyakinkan menteri keuangan untuk menurunkan pajak impor peralatan produksi film,” jelasnya.
Di tengah semangat yang membara menangani perencanaan pariwisata, pada 2005 Subandi dipindahkan menjadi Direktur Kependudukan, Pemberdayaan
Perempuan, dan Perlindungan Anak yang antara lain bertugas mengarusutamakan isu gender. Hal tersebut menjadi tantangan besar bagi Subandi yang kala itu masih sangat asing dengan isu gender. Berkenalan dengan isu gender membuatnya memahami pentingnya keadilan dan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan, bahwa perempuan juga
PROFIL PROFIL
KABAR BAPPENAS / E D I S I I V / 2 0 2 1
22
DR AF
PROFIL
harus memiliki bargaining position yang sama dengan laki-laki. “Kalau dilihat dari piramida penduduk, jumlah perempuan sama dengan laki-laki. Namun kontribusi perempuan dalam partisipasi angkatan kerja sangat tertinggal dibandingkan dengan laki-laki. Hal itu disebabkan masih adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan sektor lainnya, sehingga perencanaan penganggaran itu harus adil bagi yang membutuhkan. Ini tentunya sangat menantang dan saya selalu menyuarakan tentang pentingnya pemahaman para pengambil kebijakan yang harus paham isu gender ini. Dalam RPJMN 2010-2014, perencanaan dan penganggaran yang responsif gender berhasil menjadi salah satu arah kebijakan pembangunan nasional,” tekadnya.
Usai empat tahun menangani isu gender, Subandi bertugas menjadi Direktur Agama dan Pendidikan sejak 2011 hingga 2012, kemudian berlanjut menjadi Direktur Pendidikan hingga 2015. Amanah yang diemban kali ini menitikberatkan pada pentingnya akses dan kualitas pendidikan bagi anak Indonesia. Subandi berusaha menyusun perencanaan yang mampu mendukung anak-anak Indonesia melanjutkan pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi.
“Kalau saya mengunjungi sekolah-sekolah, saya selalu mendorong agar anak-anak harus rajin belajar, jadi anak yang paling pandai dan jangan takut untuk melanjutkan sekolah sampai setinggi-tingginya. Bagi anak dari keluarga tidak mampu dan bisa masuk ke PTN, negara akan membantu. Sampai saat ini pemerintah menyediakan beasiswa bagi anak-anak tidak mampu ini untuk bersekolah sampai pendidikan tinggi. Ini yang juga jadi salah satu perhatian saya agar program ini terus dilanjutkan. Supaya anak pandai dari keluarga tidak mampu, mendapatkan pendidikan setinggi- tingginya dan bisa menjadi salah satu cara memutuskan rantai kemiskinan,”
ungkapnya.
Tekad untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik
mengantarkan Subandi sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan (PMMK).
“Saya tidak mau daftar waktu itu karena bagi saya, jabatan itu adalah penghargaan dari pimpinan karena prestasi kerja saya. Saya tidak mau mengejar jabatan, pokoknya niat saya itu kerja, kerja yang terbaik yang bisa saya berikan pada
negara, itu prinsip saya. Ketika itu, last minute, Menteri Andrinof mengeluarkan nota dinas agar saya ikut seleksi menjadi Eselon I. Alhamdulillah saya terpilih,”
tuturnya.
Menjabat sebagai Deputi PMMK ibarat mengawinkan seluruh pengalaman mengabdi Subandi di Kementerian PPN/
Bappenas. Isu pembangunan manusia yang dimulai sejak janin, anak, remaja, pemuda, hingga lansia sangat krusial dan ini menjadi salah satu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 dalam mendukung daya saing bangsa.
Subandi menekankan pentingnya manusia yang sehat terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, serta menjaga kesehatan dan pemenuhan gizi ibu dan anak, sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan stunting. “Manusia yang sehat dan berpendidikan merupakan prasyarat menjadi SDM yang produktif. Tugas- tugas saya sebelumnya terkait pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pembangunan pemuda, dan pendidikan
memberi bekal dalam mengemban tugas saya ini. dalam RPJMN 2020-2024 target kita adalah membentuk manusia kita menjadi SDM unggul, yaitu SDM yang sehat,
cerdas, inovatif, kreatif, dan berkarakter sehingga betul- betul dapat mendukung daya saing bangsa,”
urainya.
Saat ini, sosok yang hobi bercocok tanam ini telah dilantik menjadi Fungsional Perencana Ahli Utama dan saat ini masih ditugaskan sebagai Plt. Deputi PMMK. Melihat kesuksesan kariernya selama ini, Subandi menegaskan pentingnya pendidikan dan selalu mendorong stafnya untuk menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri. Selagi menunggu kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, Subandi berpesan kepada seluruh stafnya untuk mengerjakan setiap tugas dengan senang dan bekerja yang terbaik dalam memberi manfaat bagi bangsa dan negara. Selain itu, harus memiliki rasa syukur dan dilengkapi dengan kejujuran, dedikasi,
dan integritas, serta update dengan ilmu dan perkembangan yang
sangat dinamis.
“Di jaman seperti ini, generasi muda harus memiliki keahlian abad 21, bukan hanya cerdas, tetapi juga kreatif, inovatif, mampu berkomunikasi dengan
baik, dan mampu berpendapat dengan tepat dan
berlandaskan evidence- based. Indonesia
mengidamkan anak muda seperti itu, berkarakter dan memiliki etika yang baik. Anak muda seperti itu akan jadi manusia unggul dan di mana pun berada, pasti akan bermanfaat.
Seperti itulah harapan saya untuk generasi penerus di Bappenas,”
tutup Subandi.
Menyampaikan pentingnya peran anak untuk pembangunan Indonesia dalam
Bimbingan Teknis Partisipasi Anak dalam Perencanaan Pembangunan di Provinsi Bali (12/9/2019).
KABAR BAPPENAS / E D I S I I V / 2 0 2 1