Desfika Stevania Marantika 202207010 RANGKUMAN
Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis Jumlah Bab : IV (empat)
Jumlah pasal : 47 (empat puluh tujuh) Jumlah ayat : 133 ayat
Temuan penting : 1. Pasal 1
Rekam Medis adalah dokumen yang berisikan data identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Rekam Medis Elektronik adalah Rekam Medis yang dibuat dengan menggunakan sistem elektronik yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan Rekam Medis.
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Perekam Medis dan Informasi Kesehatan adalah seorang yang telah lulus pendidikan Rekam Medis dan informasi kesehatan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan. Fasilitas dan/atau Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau Masyarakat.
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.
Penyelenggara Sistem Elektronik adalah setiap orang, penyelenggara negara selain Kementerian Kesehatan, badan usaha, dan masyarakat, yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem Elektronik secara mandiri maupun bersama-sama kepada pengguna Sistem Elektronik untuk keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
Direktur Jenderal adalah direktur jenderal pada Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pelayanan kesehatan.
2. Pasal 2 : Pengaturan RM bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan;
memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan dan pengelolaan RM; menjamin keamanan, kerahasiaan, keutuhan, dan ketersediaan data RM; dan mewujudkan penyelenggaraan dan pengelolaan RM yang berbasis digital dan terintegrasi.
3. Pasal 3
Setiap fasyankes wajib menyelenggarakan RME
Fasilitas kesehatan yang dimaksud antara lain : tenaga praktik mandiri dokter, dokter gigi, dan / nakes lainnya; puskesmas; klinik; rumah sakit; apotek; laboratorium kesehatan; balai; dan faskes lain yang ditetapkan oleh Menteri.
4. Pasal 4
Kewajiban penyelenggaraan RME juga berlaku bagi fasyankes yang menyelenggarakan pelayanan telemedisin.
Penyelenggaraan RME dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.
5. Pasal 5 : RME merupakan salah satu subsistem dari sistem informasi fasyankes yang terhubung dengan subsistem informasi lainnya di fasyankes.
6. Pasal 6 : Penyelenggaraan RME di fasyankes dilakukan oleh unit kerja tersendiri atau disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing masing fasyankes.
7. Pasal 7 :
Penyelenggaraan RME dilakukan sejak pasien masuk sampai pulang, dirujuk, atau meninggal.
Fasyankes harus mengatur SPO RME disesuaikan dengan kebutuhan dan sumber daya masing-masing fasyankes, dengan mengacu pada pedoman RME.
8. Pasal 8 :
Menteri memfasilitasi penyelenggaraan RME di fasyankes
Fasilitas dari Menteri yang dimaksud meliputi penyediaan: Sistem Elektronik pada penyelenggaraan RME; dan platform layanan dan standar interoperabilitas dan integrasi data kesehatan.
Dalam rangka memfasilitasi penyelenggaraan RME di fasyankes, Menteri berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait dan Pemerintah Daerah.
9. Pasal 9 :
Sistem Elektronik pada penyelenggaraan RME dapat berupa Sistem Elektronik yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan, fasyankes sendiri, atau Penyelenggara Sistem Elektronik melalui kerja sama.
Penyelenggaraan RME dengan menggunakan Sistem Elektronik yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dilakukan dengan mengajukan permohonan tertulis kepada Kementerian Kesehatan.
Penyelenggara Sistem Elektronik pada RME harus terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik pada sektor kesehatan di kementerian yang bertanggung jawab pada bidang komunikasi dan informatika sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
10. Pasal 10 :
Sistem Elektronik yang digunakan dalam penyelenggaraan RME harus memiliki kemampuan kompatibilitas dan/atau interoperabilitas.
Kompatibilitas merupakan kesesuaian Sistem Elektronik yang satu dengan Sistem Elektronik yang lainnya.
Interoperabilitas kemampuan Sistem Elektronik yang berbeda untuk dapat bekerja secara terpadu melakukan komunikasi atau pertukaran data dengan salah satu atau lebih Sistem Elektronik yang lain, yang menggunakan standar pertukaran data.
Interoperabilitas mengacu kepada standar sistem elektronik yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
11. Pasal 11 :
Sistem Elektronik harus mengacu kepada variabel dan meta data yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Variabel merupakan elemen data yang terdapat pada Sistem Elektronik RME.
Meta data meliputi definisi, format, dan kodifikasi.
12. Pasal 12 :
Fasyankes penyelenggara RME atau Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melakukan registrasi Sistem Elektronik digunakannya di Kementerian Kesehatan.
Registrasi Sistem Elektronik dilakukan dengan melampirkan dokumen yang paling sedikit terdiri atas: nama Sistem Elektronik; dokumentasi sistem; fitur/fungsi yang tersedia; lokasi penyimpanan data; variabel dan meta data; dan daftar fasyankes pengguna Sistem Elektronik, jika Sistem Elektronik digunakan oleh fasyankes lain.
Dalam hal terdapat perubahan data pada dokumen registrasi fasyankes penyelenggara RME atau Penyelenggara Sistem Elektronik harus melaporkan kepada Kementerian Kesehatan.
13. Pasal 13 :
Kegiatan penyelenggaraan RME paling sedikit terdiri atas: registrasi Pasien;
pendistribusian data RME; pengisian informasi klinis; pengolahan informasi RME;
penginputan data untuk klaim pembiayaan; penyimpanan RME; penjaminan mutu RME; transfer isi RME.
Kegiatan penyelenggaraan RME dilakukan oleh tenaga PMIK dan dapat berkoordinasi dengan unit kerja lain.
Kegiatan penyelenggaraan RME dilakukan oleh nakes pemberi pelayanan kesehatan.
Dalam hal terdapat keterbatasan tenaga PMIK pada fasyankes, dapat dilakukan oleh nakes lain yang mendapatkan pelatihan pelayanan RME.
Dalam hal RME diselenggarakan pada tempat praktik mandiri dokter dan dokter gigi, atau tempat praktik mandiri nakes lain, kegiatan penyelenggaraan RME menjadi tanggung jawab dokter dan dokter gigi, atau nakes lain tersebut.
14. Pasal 14 :
Registrasi Pasien merupakan kegiatan pendaftaran berupa pengisian data identitas dan data sosial Pasien rawat jalan, rawat darurat, dan rawat inap.
Data identitas paling sedikit berisi nomor RM, nama Pasien, dan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Dalam hal Pasien tidak memiliki atau tidak diketahui identitasnya, pengisian data identitas dilakukan berdasarkan surat pengantar dari institusi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan urusan di bidang rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, perlindungan sosial, dan penanganan fakir miskin, atau surat pengantar dari institusi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan urusan di bidang kependudukan dan pencatatan sipil, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Data sosial paling sedikit meliputi agama, pekerjaan, pendidikan, dan status perkawinan.
15. Pasal 15 : Pendistribusian data RME merupakan kegiatan pengiriman data RME dari satu unit pelayanan ke unit pelayanan lain di fasyankes.
16. Pasal 16 :
Pengisian informasi klinis berupa kegiatan pencatatan dan pendokumentasian hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan kesehatan lain yang telah dan akan diberikan kepada Pasien.
Pencatatan dan pendokumentasian harus lengkap, jelas, dan dilakukan setelah Pasien menerima pelayanan kesehatan dengan mencantumkan nama, waktu, dan tanda tangan nakes pemberi pelayanan kesehatan.
Pencatatan dan pendokumentasian harus dilakukan secara berurutan pada catatan masing-masing nakes pemberi pelayanan kesehatan sesuai dengan waktu pelayanan kesehatan yang diberikan.
Dalam hal terjadi kesalahan pencatatan atau pendokumentasian dalam pengisian informasi klinis, nakes pemberi pelayanan kesehatan dapat melakukan perbaikan.
17. Pasal 17 :
Pengisian informasi klinis oleh nakes pemberi pelayanan kesehatan pada fasyankes yang memiliki lebih dari satu jenis nakes sebagai pemberi pelayanan kesehatan, harus dilakukan secara terintegrasi.
Pengisian informasi klinis secara terintegrasi merupakan pengisian RME dalam satu dokumen yang meliputi beberapa catatan/informasi kesehatan Pasien dari nakespemberi pelayanan kesehatan, dan waktu pemberian pelayanan kesehatan secara berurutan.
Selain pengisian informasi klinis secara terintegrasi, nakes pemberi pelayanan kesehatan di fasyankes keluarga (family folder) dengan tetap mempertimbangkan privasi masing-masing anggota keluarga.
18. Pasal 18 :
Pengolahan informasi RME terdiri atas: pengkodean; pelaporan; dan penganalisisan.
Pengkodean merupakan kegiatan pemberian kode klasifikasi klinis sesuai dengan klasifikasi internasional penyakit dan tindakan medis yang terbaru/International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pelaporan terdiri atas: pelaporan internal fasyankes; dan pelaporan eksternal dari fasyankes kepada dinas kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait.
Penganalisisan dilakukan terhadap data RME secara kuantitatif dan kualitatif.
Selain pengolahan informasi RME, fasyankes yang dengan alasan tertentu tidak dapat menyelenggarakan RME harus melakukan pengindeksan.
Pengindeksan merupakan kegiatan pengelompokan data paling sedikit berupa indeks:
nama Pasien; alamat; jenis penyakit; tindakan/operasi; dan kematian.
19. Pasal 19 : Penginputan data untuk klaim pembiayaan merupakan kegiatan penginputan kode klasifikasi penyakit pada aplikasi pembiayaan berdasarkan hasil diagnosis dan tindakan yang ditulis oleh tenaga pemberi pelayanan kesehatan sesuai dengan RM, dalam rangka pengajuan penagihan biaya pelayanan.
20. Pasal 20 :
Penyimpanan RME merupakan kegiatan penyimpanan data RM pada media penyimpanan berbasis digital pada fasyankes.
Penyimpanan RME harus menjamin keamanan, keutuhan, kerahasiaan, dan ketersediaan data RME.
Media penyimpanan berbasis digital berupa: Server; sistem komputasi awan (cloud computing) yang tersertifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan; dan/atau media penyimpanan berbasis digital lain berdasarkan perkembangan teknologi dan informasi yang tersertifikasi.
Fasyankes yang melakukan penyimpanan melalui media penyimpanan berbasis digital wajib memiliki cadangan data (backup system).
Cadangan data (backup system) dilaksanakan dengan ketentuan: diletakkan pada tempat yang berbeda dari lokasi fasyankes; dilakukan secara periodik; dan dituangkan dalam standar prosedur operasional masing-masing fasyankes.
21. Pasal 21 :
RME yang disimpan oleh fasyankes harus terhubung/terinteroperabilitas dengan platform layanan interoperabilitas dan integrasi data kesehatan yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan.
22. Pasal 22 :
Dalam hal terdapat keterbatasan sumber daya pada fasyankes, penyimpanan RME dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Penyelenggara Sistem Elektronik yang memiliki fasilitas penyimpanan data di dalam negeri.
Penyelenggara Sistem Elektronik harus mendapatkan rekomendasi dari unit kerja yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan data dan informasi di Kementerian Kesehatan.
Penyelenggara Sistem Elektronik dilarang membuka, mengambil, memanipulasi, merusak, memanfaatkan data, dan hal lain yang merugikan fasyankes.
Ketentuan larangan dituangkan dalam bentuk pakta integritas atau NonDisclosure Agreement yang dilampirkan pada saat melakukan perjanjian kerja sama dengan fasyankes.
Fasyankes yang melakukan kerja sama dengan Penyelenggara Sistem Elektronik yang memiliki fasilitas penyimpanan data di dalam negeri harus memperoleh akses yang tidak terbatas terhadap data RME yang disimpan.
23. Pasal 23 :
Penjaminan mutu dilakukan secara internal oleh fasyankes.
Penjaminan mutu secara internal merupakan audit mutu RME yang dilakukan berkala oleh tim reviu RM yang dibentuk oleh pimpinan fasyankes dan dilakukan sesuai dengan pedoman RME.
Selain penjaminan mutu secara internal, pemerintah dapat melakukan audit mutu RME dan dapat melibatkan pihak terkait, sebagai bagian dari pembinaan dan pengawasan.
24. Pasal 24 :
Transfer isi RME merupakan kegiatan pengiriman RM dalam rangka rujukan pelayanan kesehatan perorangan ke fasyankes penerima rujukan.
Transfer isi RME dilakukan melalui platform layanan interoperabilitas dan integrasi data kesehatan yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan.
25. Pasal 25 :
Dokumen RM milik fasyankes.
Fasyankes bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan dan/atau penggunaan oleh orang, dan/atau badan yang tidak berhak terhadap dokumen RM.
26. Pasal 26 :
Isi RM milik Pasien.
Isi RM sebagaimana disampaikan kepada Pasien.
Selain kepada Pasien, RM dapat disampaikan kepada keluarga terdekat atau pihak lain.
Penyampaian RM kepada keluarga terdekat dilakukan dalam hal: Pasien di bawah umur 18 (delapan belas) tahun; dan/atau Pasien dalam keadaan darurat.
Penyampaian RM kepada pihak lain dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Pasien.
Isi RM paling sedikit terdiri atas: identitas Pasien; hasil pemeriksaan fisik dan penunjang; diagnosis, pengobatan, dan rencana tindak lanjut pelayanan kesehatan;
dan nama dan tanda tangan nakes pemberi pelayanan kesehatan.
RM harus dibuat oleh penanggung jawab pelayanan.
RM harus diberikan kepada Pasien rawat inap dan rawat darurat pada saat pulang, atau kepada fasyankes penerima rujukan pada saat melakukan rujukan.
Selain untuk Pasien rawat inap dan rawat darurat, RM dapat diberikan kepada Pasien rawat jalan apabila dibutuhkan.
RM yang ditujukan kepada fasyankes penerima rujukan menjadi bagian dari surat rujukan dalam sistem rujukan pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
RM yang diberikan pada saat Pasien pulang berupa surat yang dikirimkan dan diterima dalam bentuk elektronik dengan menggunakan jaringan komputer atau alat komunikasi elektronik lain termasuk ponsel atau dalam bentuk tercetak.
27. Pasal 27 :
Isi RME terdiri atas: dokumentasi administratif; dokumentasi klinis.
Dokumentasi administratif paling sedikit berisi dokumentasi pendaftaran.
Dokumentasi klinis sebagaimana berisi seluruh dokumentasi pelayanan kesehatan yang diberikan kepada Pasien di fasyankes.
Fasyankes dapat mengembangkan isi RME sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai isi RME diatur dalam pedoman RME.
28. Pasal 28 :
Fasyankes harus membuka akses seluruh isi RME Pasien ke Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan berwenang melakukan pemanfaatan dan penyimpanan isi RME dalam rangka pengolahan data kesehatan.
Pengolahan data kesehatan dilaksanakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan/atau pembuatan kebijakan bidang kesehatan, dengan memperhatikan prinsip kedokteran berbasis bukti (evidence based), etika kedokteran, dan ketentuan peraturan perundang undangan.
Data kesehatan yang dilakukan pengolahan, selain berasal dari data RME, juga dapat berasal dari data lain di fasyankes dan/atau institusi lain.
29. Pasal 29 :
RME harus memenuhi prinsip keamanan data dan informasi, meliputi: kerahasiaan;
integritas; dan ketersediaan.
Kerahasiaan merupakan jaminan keamanan data dan informasi dari gangguan pihak internal maupun eksternal yang tidak memiliki hak akses, sehingga data dan informasi yang ada dalam RME terlindungi penggunaan dan penyebarannya.
Integritas merupakan jaminan terhadap keakuratan data dan informasi yang ada dalam RME, dan perubahan terhadap data hanya boleh dilakukan oleh orang yang diberi hak akses untuk mengubah.
Ketersediaan merupakan jaminan data dan informasi yang ada dalam RME dapat diakses dan digunakan oleh orang yang telah memiliki hak akses yang ditetapkan oleh pimpinan fasyankes.
30. Pasal 30 :
Dalam rangka keamanan dan perlindungan data RME, pimpinan fasyankes memberikan hak akses kepada nakes dan/atau tenaga lain di fasyankes.
Pemberian hak akses menjadi bagian dari kebijakan standar prosedur operasional penyelenggaraan RME yang ditetapkan oleh pimpinan fasyankes.
Hak akses terdiri atas hak untuk: penginputan data; perbaikan data; dan melihat data.
Penginputan data huruf merupakan kegiatan pengisian data administratif dan data klinis Pasien, yang dilakukan oleh nakes pemberi pelayanan kesehatan dan petugas administrasi termasuk PMIK sesuai dengan kewenangan bidang masing-masing.
Perbaikan data dilakukan apabila terjadi kesalahan dalam penginputan data administratif dan data klinis Pasien.
Perbaikan data hanya dapat dilakukan oleh nakes pemberi pelayanan kesehatan dan petugas administrasi termasuk PMIK dengan batas waktu paling lama 2x24 jam sejak data diinput.
Dalam hal kesalahan data administratif diketahui melebihi tenggat waktu, perbaikan data dilakukan setelah mendapatkan persetujuan PMIK dan/atau pimpinan fasyankes.
Melihat data merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tenaga internal fasyankes untuk mendapatkan informasi terkait data di dalam RME untuk keperluan pelayanan atau administrasi.
Hak akses diatur dalam kebijakan pimpinan fasyankes dengan memperhatikan prinsip keamanan data dan informasi.
31. Pasal 31 :
Selain pemberian hak ases, dalam rangka keamanan dan perlindungan data, penyelenggaraan RME di fasyankes dapat dilengkapi dengan tanda tangan elektronik.
Tanda tangan elektronik digunakan sebagai alat verifikasi dan autentifikasi atas isi RME dan identitas penanda tangan.
Tanda tangan elektronik diselenggarakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
32. Pasal 32 :
Isi RM wajib dijaga kerahasiaannya oleh semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di fasyankes walaupun Pasien telah meninggal dunia.
Pihak meliputi: nakes pemberi pelayanan kesehatan, dokter dan dokter gigi, dan/atau nakes lain yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan Pasien;
pimpinan fasyankes; tenaga yang berkaitan pelayanan kesehatan; badan hukum/korporasi Pelayanan Kesehatan; mahasiswa/siswa yang dengan pembiayaan dan/atau bertugas Fasilitas dalam pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan/atau manajemen informasi di fasyankes; dan
Pihak lain yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan Pasien di fasyankes.
33. Pasal 33 :
Pembukaan isi RM dapat dilakukan: atas persetujuan Pasien; dan/atau tidak atas persetujuan Pasien.
Permintaan pembukaan isi RM harus dilakukan secara tertulis atau secara elektronik.
Pembukaan isi RM dilakukan terbatas sesuai dengan kebutuhan.
34. Pasal 34 :
Pembukaan isi RM atas persetujuan dilakukan untuk: kepentingan pemeliharaan kesehatan, pengobatan, penyembuhan, dan perawatan Pasien; permintaan Pasien sendiri; dan/atau keperluan administrasi, pembayaran asuransi atau jaminan pembiayaan kesehatan.
Permintaan pembukaan isi disampaikan kepada pimpinan fasyankes.
Dalam hal Pasien tidak cakap, persetujuan pembukaan isi RM dapat diberikan oleh keluarga terdekat atau pengampunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Keluarga terdekat meliputi suami/istri, anak yang sudah dewasa, orang tua kandung, dan/atau saudara kandung Pasien.
Selain keluarga terdekat, persetujuan pembukaan isi RM dapat dilakukan oleh ahli waris.
Dalam hal keluarga terdekat dan ahli waris tidak dapat memberikan persetujuan karena tidak diketahui keberadaannya, tidak cakap secara hukum, meninggal dunia, atau tidak ada, persetujuan tidak diperlukan.
Pembukaan isi RM untuk keperluan administrasi, pembayaran asuransi atau jaminan pembiayaan kesehatan harus dilakukan secara tertulis dan/atau melalui sistem informasi elektronik pada saat registrasi pasien di fasyankes.
35. Pasal 35 :
Pembukaan isi RM tidak atas persetujuan Pasien dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, untuk kepentingan: pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum; penegakan etik atau disiplin; audit medis; penanganan kejadian luar biasa/wabah penyakit menular/kedaruratan kesehatan bencana; pendidikan dan penelitian; masyarakat/ upaya perlindungan terhadap bahaya ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat;
dan/atau lain yang diatur dalam peraturan perundang undangan.
Pembukaan isi RM dilakukan tanpa membuka identitas pasien.
Permintaan pembukaan isi RM dilakukan oleh pihak atau institusi yang berwenang atas kepentingan.
36. Pasal 36 :
Pembukaan isi RM harus mendapatkan persetujuan dari Menteri.
Untuk memperoleh persetujuan, pihak atau institusi yang berwenang mengajukan permohonan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.
Berdasarkan persetujuan pihak atau institusi yang berwenang menyampaikan permintaan pembukaan kepada pimpinan fasyankes.
Persetujuan dari Menteri, dikecualikan untuk pembukaan isi RM yang dilakukan atas dasar perintah pengadilan, dan dapat dilakukan dengan cara memberikan salinan dokumen RM dan/atau memperlihatkan dokumen asli.
37. Pasal 37 : Dikecualikan dari ketentuan, dalam hal pembukaan isi RM untuk kepentingan:
penanganan kejadian luar biasa/wabah penyakit menular/kedaruratan kesehatan masyarakat/bencana; dan upaya perlindungan terhadap bahaya ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat,
38. Pasal 38 :
Pasien dan/atau keluarga Pasien yang menginformasikan isi RM kepada publik melalui media massa dianggap telah melakukan pelepasan hak rahasia isi RM kepada umum.
Pelepasan hak rahasia isi RM kepada umum memberikan kewenangan kepada fasyankes untuk mengungkapkan rahasia isi RM sebagai hak jawab fasyankes.
39. Pasal 39 :
Penyimpanan data RME di fasyankes dilakukan paling singkat 25 (dua puluh lima) tahun sejak tanggal kunjungan terakhir Pasien.
Setelah batas waktu berakhir, data RME dapat dikecualikan untuk dimusnahkan apabila data tersebut masih akan dipergunakan atau dimanfaatkan.
Pemusnahan RME dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
40. Pasal 40 : Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan RME diatur dalam pedoman RME yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
41. Pasal 41 :
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan RME sesuai dengan kewenangan masing-masing dan ketentuan peraturan perundang undangan.
Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota dapat melibatkan pihak lain yang terkait.
Pembinaan dan pengawasan dalam pelaksanaan RME diarahkan untuk menjamin dan meningkatkan mutu pelayanan RME.
Pembinaan dan pengawasan dapat dilakukan melalui: sosialisasi; monitoring dan evaluasi; dan/atau bimbingan teknis.
42. Pasal 42 :
Menteri dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan dapat mengenakan sanksi administratif terhadap fasyankes yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan.
Pengenaan sanksi administratif oleh Menteri dilaksanakan melalui Direktur Jenderal.
Sanksi administratif berupa: teguran tertulis; dan/atau rekomendasi pencabutan atau pencabutan status akreditasi.
43. Pasal 43 :
Sanksi administratif dikenakan berdasarkan laporan dugaan pelanggaran yang berasal dari: pengaduan; dan/atau hasil monitoring dan evaluasi.
Laporan dugaan pelanggaran disampaikan kepada Direktur Jenderal.
44. Pasal 44 :
Pengaduan dapat dilakukan oleh perorangan, kelompok, dan/atau institusi/lembaga/instansi/ organisasi.
Pengaduan harus memenuhi pernyaratan: dilakukan secara tertulis; dan memiliki uraian peristiwa yang dapat ditelusuri faktanya.
Pengaduan paling sedikit memuat: nama dan alamat lengkap pihak yang diadukan;
dan keterangan yang memuat fakta, data, atau petunjuk terjadinya pelanggaran.
45. Pasal 45 : Seluruh fasyankes harus menyelenggarakan RME sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini paling lambat pada tanggal 31 Desember 2023.
46. Pasal 46 : Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Permenkes 269/MENKES/PER/III/2008 tentang RM dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
47. Pasal 47 : Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.