• Tidak ada hasil yang ditemukan

RE-ORIENTASI POLITIK NU PADA MASA ORDE BARU

N/A
N/A
Rikad Alam Al Parisi

Academic year: 2024

Membagikan "RE-ORIENTASI POLITIK NU PADA MASA ORDE BARU "

Copied!
101
0
0

Teks penuh

Buku “Re-Orientasi Politik NU Masa Orde Baru (Analisis Tiga Tahun Strategi Politik NU) memperlihatkan kepada pembaca bahwa politik tidak hanya sebatas tindakan politik praktis. Berdasarkan beberapa permasalahan di atas, maka perubahan corak politik NU, model dan pola pada era Orde Baru sangat penting untuk kajian akademis.

Rumusan Masalah

Sikap politik NU pada masa Orde Baru nampaknya lebih fokus pada strategi NU dalam mengembangkan model masyarakat Islam di Indonesia, strategi tersebut dilakukan NU dalam menghadapi mesin politik Orde Baru yang anti demokrasi. Kongres ini menandai peristiwa sejarah penting bagi NU dalam kaitannya dengan sikap politik di masa Orde Baru.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah

Di sisi lain, NU juga bisa dikatakan akomodatif terhadap kepemimpinan Sukarno, namun tidak pernah memberikan apa pun kepada komunis, hingga akhirnya dengan kebijakan politik Orde Baru, mereka berhadapan dengan tetangga yang serius dengan mengembangkan karakter organisasi baru yang sesuai dengan kepemimpinan Sukarno. dengan persyaratan. waktu itu. Hal ini terutama ditempatkan dalam rangka pengembangan masyarakat, baik spiritual, interaksi maupun upaya peningkatan perekonomian umat. Penelitian ini dibatasi pada periode setelah Kongres Situbondo tahun 1984 dengan keputusan kembalinya Khittah, hingga akhir abad tersebut. Era Orde Baru pada tahun 1998.

Kajian Pustaka

Isi buku ini masih berkisar pada pemahaman langkah politik NU sebagai kajian yang terpisah dari aktivitas sosial keagamaan.5. Buku ini bisa dikatakan merupakan kelanjutan dari penelitian Greg Fealy yang menjelaskan alasan perubahan haluan politik NU pada tahun 1984 dan mencoba mengukur dampak perubahan politik tahun-tahun berikutnya dalam puluhan tahun perkembangan politik Indonesia.

Kerangka Teori

Untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dan menghindari peniruan dan daur ulang, maka penelitian ini akan melihat strategi politik NU dalam pengembangan masyarakat Islam pasca Kongres Situbondo tahun 1984 hingga berakhirnya masa Orde Baru. Hatta, Orde Baru mulai menunjukkan sifat represi politik terhadap umat Islam dan mengaitkan cita-cita politik Islam dengan kekacauan masa lalu yang dianggap mengganggu stabilitas bangsa.

Metode Penelitian

Pengumpulan data atau sumber sebagai langkah awal dilakukan dengan metode penggunaan bahan dokumenter. 14 Strategi perubahan ini dapat dilihat dalam teori spiral sejarah berikut ini. 14 Mengenai metode ini lihat Sartono Kartodirjo, “Metode Pemanfaatan Bahan Dokumen”, dalam Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: 1989), hal.

Sistematika Pembahasan

Aspek pertama yang dijelaskan terkait dengan dinamika SEKARANG dalam konteks Orde Baru, diantaranya adalah politik Orde Baru terhadap Islam, hubungan SEKARANG dengan Orde Baru yang terkesan bermusuhan dengan strategi SEKARANG dalam mempertahankan sikap politiknya agar tetap kritis. Aspek perubahan yang dibahas dalam penelitian ini ada tiga macam.

NU, ORDE BARU DAN RE-ORIENTASI STRATEGI POLITIK

Politik Orde Baru Trehadap Islam

Ketegangan politik antara umat Islam dan pemerintahan Orde Baru terjadi pada masa-masa awal dalam bentuk hubungan yang antagonistik. 28 Ketegangan ini disebabkan oleh panitia kerja MPR AS. Segala macam aktivitas partai politik dan ormas diharapkan mengarah ke arah tersebut dan umat Islam tentunya mempunyai kecerdasan dan sikap tersendiri terhadap kebijakan Orde Baru serta menerimanya dengan strategi dan dinamika yang disepakati masing-masing.

Hubungan Antagonistik NU dengan Orde Baru

Orde Baru juga mengakui bahwa putusan Pengadilan Agama Islam mempunyai status yang sama dengan putusan Pengadilan Umum. Gambaran tersebut dapat disimpulkan dengan cukup jelas bahwa Orde Baru pada dasarnya tidak menyukai politik Islam atau kebijakan lain yang bertentangan dengan apa yang dibangunnya atas pertimbangan stabilitas. Pada masa Orde Baru, NU secara keseluruhan selama beberapa waktu menampilkan dirinya sebagai kekuatan oposisi yang kuat.

Kedudukan kepemimpinan PPP yang dipegang oleh Umat Islam Indonesia (MI) dan didukung oleh pemerintahan Orde Baru semakin kuat sehingga membuat masyarakat NU tidak berdaya menghadapinya.47. NU menghadapi cobaan berat ketika Orde Baru memaksa penggabungan partai politik dan NU dipaksa melakukan merger PPP. Fachry Ali seperti dikutip Elnar Marlahan Sitompun menilai NU pada masa Orde Baru sudah mengambil sikap tegas, menjadi kelompok yang berani melawan arus, kaku dan tidak goyah pendiriannya.

Kembali Kepada Khittah: Strategi Politik Baru

-Selain itu, dengan adanya Majelis Ulama yang seolah-olah hanya mempunyai hak untuk melakukan kegiatan keagamaan dan melalui majelis ini maka mi'raj harus melalui majelis ini. Hal apa lagi yang tersisa untuk SEKARANG? Konsolidasi organisasi ini meliputi: a) Penguatan keyakinan dan pengalaman terhadap prinsip-prinsip keimanan Ahlussunnah Wal Jama'ah; dan b) penyusunan program dasar yang memberikan arahan tegas bagi kegiatan pengembangan NU; dan c) Tata kelola organisasi meliputi kepengurusan, tata cara operasional, dan personalia, sehingga petugas mempunyai pedoman yang jelas dalam mengambil setiap keputusan dan tindakan.” 52. Keputusan Kongres ini memperjelas identitas NU sebagai organisasi keagamaan, namun karena semangat dari politikus masih sangat tinggi, identitas keagamaan kembali memudar.

Konsolidasi organisasi ini meliputi: a) Penguatan keyakinan dan pengalaman tentang prinsip akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah; dan b) penyusunan program dasar yang memberikan arah tegas bagi kegiatan pengembangan NU; dan c) tata kelola organisasi, yang menyangkut kepengurusan, tata kerja, dan personel, sehingga pejabat mempunyai petunjuk yang jelas dalam mengambil setiap keputusan dan tindakan.” 52. Keputusan Kongres ini secara tegas memperjelas jati diri NU sebagai organisasi keagamaan, namun sejak itu antusiasme para politisi masih kuat, identitas keagamaan kembali menjadi kabur. Pada saat yang sama, NU memberikan kebebasan penuh kepada anggota dan warganya untuk menyalurkan aspirasi politik mereka ke dalam organisasi sosial-politik yang mereka bentuk.

Postulat Awai Kelahiran NU

  • Bidang Pendidikan
  • Bidang Dakwa
  • Masalah Kepemimpinan
  • Melaksanakan Kebaikan: Sosial Keagamaan

Dan orang-orang yang menjauhi Taghut (iaitu) tidak menyembahnya [1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang bertakwa.”

Dan janganlah kamu seperti orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengar [603] tetapi mereka tidak mendengar, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah berjaga-jaga (di perbatasan negerimu) dan takutlah". Demi Allah, agar kamu selamat, dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sesungguhnya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.

TIGA STRATEGI NU PASCA MUKTAMAR SITUBONDO

Kemandirian Politik NU

Kesadaran para pemuda ini tercermin dari tim yang kembali melakukan khutbah NU, para pemuda tersebut tergabung dalam beberapa intelektual muda NU dan menyusun strategi bersama Abdurrahman Wahid yang saat itu masih bisa dikatakan sebagai bagian dari generasi muda NU. rakyat. Setidaknya pemuda NU menggalang para ulama yang sebenarnya turut merasakan kegelisahannya terhadap keadaan NU untuk memperbaikinya di seluruh subkultur yang ada. Kestabilan independensi ini terlihat dari perluasan sayap politik NU ke Golkar dan PDI, bahkan Abdurrahman Wahid selaku ketua umum NU diterima sebagai wakil delegasi Golkar MPR.69 Untuk pembinaan intelektual pemuda NU.

Program Munawir antara lain mendorong mahasiswa muda IAIN, yang sebagian diantaranya pernah mengenyam pendidikan di asrama Islam NU, untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana di universitas-universitas Barat di bidang ilmu-ilmu sosial. Banyak pemuda NU yang kembali dari barat merupakan penganut kuat gerakan neomodernis. Faktanya, keterlibatan pemuda NU dalam program IAIN Pancasila turut memberikan vitalitas akademik generasi muda untuk memasuki dunia barunya setelah menyelesaikan program tersebut.

Politik Akomodasi Kritis NU Terhadap Orde Baru

Kebijakan akomodasi NU dimulai dengan menyelesaikan permasalahan pelik terkait keinginan pemerintah Orde Baru yang menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi sosial politik dan organisasi keagamaan. Pancasila dan politik merupakan hal yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan pengaruh SEKARANG dengan kekuasaan pada masa Orde Baru. Hal yang menarik dari situasi politik akomodatif antara ulama dan pemerintahan Orde Baru adalah tarik-menarik antara kedua kubu dalam mencari 'simpati'.

Ulama NU tentu masih menyimpan sejumlah kenangan terkait tekanan Orde Baru yang tiada henti terhadap unsur Islam yang dianggap pembangkang. Menurut kajian Abdul Aziz Thaba, asas Pancasila merupakan salah satu bentuk ujian politik pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. 95 Sosok Abdurrahman Wahid dalam politik NU pada masa Orde Baru menjadi tema sentral dalam forum politik NU pada masa Orde Baru.

Namun hubungan baik ini juga memberikan masukan yang bermanfaat bagi Gus Dur agar ia bisa memperhitungkan langkah-langkah dalam memberikan masukan kepada kekuasaan Orde Baru tanpa menimbulkan reaksi marah dari pemimpin kekuasaan tersebut.96. Sebagai bagian dari kaum intelektual, Gus Dur mempunyai pengaruh dalam gerakan sosial yang lebih luas. Ketenaran dan pengaruh Gus Dur akan membuat organisasi baru ini mendapat kepercayaan masyarakat.

Isu sektarianisme orde baru dilontarkan langsung oleh Ketua PBNU Abdurrahman Wahid. Sebagaimana dikemukakan M. Syafi'i Anwar, benang merah yang sangat penting dalam pemikiran Gus Dur adalah penolakannya terhadap formalisasi, ideologi, dan syariatisasi Islam. Akibatnya, tegas Gus Dur, masih terdapat ancaman terhadap keberlangsungan Pancasila dan NKRI.117.

KESIMPULAN KESIMPULAN

Indonesia adalah bagian dari tanah Allah dan terus menjadi tempat umat Islam mengabdikan diri kepada Allah, dengan penuh ketenangan dan keluasan dalam segala aspek kehidupan. Menurut pengamat Mahrus Hisyam, gerakan NU pasca Khittah pada masa Orde Baru memiliki ciri-ciri gerakan kebudayaan, yaitu gerakan yang mengutamakan tumbuh dan berkembangnya pemikiran atau wawasan, pandangan, persepsi dan penilaian, termasuk dalam ranah kebudayaan. politik atau kekuasaan. Dalam ranah politik, gerakan budaya biasanya memberikan batasan dalam hal etika atau moralitas politik.

Kemudian politik NU dapat dilihat secara nyata dengan menyeimbangkan orientasi dengan menciptakan keberagaman orientasi. Kemandirian masyarakat sipil terlihat dari: pertama, NU berusaha membentuk karakter spiritual dan moral dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa, seperti tanggung jawab warga negara. dalam kehidupan politik, kemandirian ekonomi, keadilan sosial dan budaya kritis dengan tujuan mencapai kemaslahatan jasmani dan rohani baik di dunia maupun di akhirat. Kedua, NU berperan aktif dalam memperjuangkan pemerataan penghidupan untuk mewujudkan keadilan sosial. Ketiga, NU menjadikan warga negaranya dan seluruh bangsa Indonesia sebagai warga negara yang selalu sadar akan tanggung jawabnya dalam pembangunan Indonesia seutuhnya, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, menjaga kemanusiaan dan kejujuran.

DAFTAR PUSTAKA

Kemudian politik terlihat dari keputusan NU untuk kembali bergabung dan menghindari afiliasi dan keterlibatan NU pada satu partai politik saja sebagai upaya untuk mendapatkan vitalitas dan visinya dalam menjalankan aktivitas pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Referensi

Dokumen terkait

Sumber data utama penelitian ini adalah pokok bahasan-pokok bahasan dalam kurikulum Madrasah Aliyah pada masa Orde Baru, terutama pokok bahasan-pokok bahasan yang berisi

Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana kondisi internal dan eksternal Indonesia menjelang sampai munculnya Orde Baru?, bagaimana pelaksaanaan politik

NU dibawah kepemimpinan Idham Chalid mampu memainkan perannya sebagai organisasi Islam yang kritis terhadap kebijakan pemerintah pada masa Orde Lama maupun Orde

Penelitian tentang “Konsep Tawassut{ Menurut Nahdlatul Ulama (NU) dan Implikasinya Terhadap Keputusan-Keputusan Organisasi dalam Bidang Sosial, Politik dan Keagamaan”

Adapun pasal 13 a menyatakan bahwa "Pemilihan umum diikuti oleh 3 (tiga) organisasi kekuatan sosial politik, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi

Meskipun NU merupakan partai baru namun mengingat NU merupakan suatu organisasi yang mempunyai massa yang cukup banyak, tidak heran jika NU mampu menjadi tiga besar

Pada masa Orde Baru pemerintahan dipegang oleh Soeharto, yang menerapkan Pancasila dan UUD 1994 secara murni dan konsekuen. Orde Baru didirikan untuk mengoreksi

Pada masa akhir Orde Baru, kehidupan masyarakat etnis Tionghoa sudah mulai memiliki kebebasan, karena sudah diperbolehkan melakukan kegiatan sembahyang dan upacara keagamaan lainnya,