NAMA : Bayu Senoaji
NIM : 20512-507111022
KELAS : IPL-B4
MATA KULIAH : Hubungan Sipil dan Militer Dosen Pengampu : Johan Wahyudi, S.IP, MA.
Resume Bab 3
Pikiran Militer : Realisme Konservatif dari Etike Militer Profesional
Fungsional dari militer seringkali dibahas dalam istilah “pikiran militer”. Terdapat tiga pendekatan dan satu pendekatan altenatif. Para penulis yang menggunakan pendekatan pertama, biasanya lebih menekankan “pikiran militer” kaliber rendah. Pada pendekatan ini, penulis membandingkan kecerdasan, ruang lingkup, dan imajinasi antara militer dengan pengusaha ataupun politisi. Perbandingan tersebut menyebabkan inferioritas yang rendah karena telah dikaitkan dengan berbagai bakat dan kemampuan yang pada dasarnya lebih rendah dari orang yang menjadi perwira. Pendekatan yang umum ini erat kaitannya dengan ciri khas pikiran militer, tetapi tidak membantuk untuk mendefinisikan aspek “militer” yang khas dari pikiran tersebut. Fakta bahwa pikiran militer telah menempati pikiran tertentu pada skala intelejen tidak dapat dikatakan menjelaskan karakteristiknya secara keseluran. Pendekatan kedua lebih beranggapan bahwa keunikan dari pikiran militer terletak pada kualitas mental tertentu yang dapat membentuk kepribadian militer. Para penulis dari militer maupun sipil setuju bahwa pikiran militer itu disiplin, kaku, logis, ilmilah, toleran, intuitif, dan emosial.
Secara intuitif, orang – orang merasa bahwa deskripsi ini juga intuitif mendekati sasaran. Akan tetapi, samapai lebih banyak pengetahuan yang dikumpulkan tentang ciri – ciri kepribadian militer dan kelompok penting lainnya secara politik, hubungan ini kurang begitu berguna dalam menganalisis hubungan antara sipil – militer.
Selanjutnya pada pendekatan ketiga lebih menganalisis substansi dari pikiran militer, sikap, nilai, dan pandangan orang militer. Hal ini biasanya dilakukan melalui teknik menggambarkan nilai dan sikap tertentu sebagai muatan militer, kemudia menegaskan bahwa nilai dan sikap ini lazim terdapat di orang – orang militer. Orang militer percaya bahwa perdamaian akan melemahkan dan konflik serta perang akan mengembangkan kualitas moral dan intelektual tertinggi manusia. Pada pendekatan alternatif mendefinisikan nilai – nilai
militer berdasarkan sumbernya. Hal ini bertujuan untuk mengasumsikan setiap ekspresi sikap atau nilai yang berasal dari sumber militer mencerminkan pikiran militer. Akan tetapi, kesulitan dalam pendekatan ini adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber militer tidak serta merta diturunkan dari karakternya sebagai sumber militer. Dengan demikian, pikiran militer dapat didefinisikan secara abstrak sebagai tipe ideal dalam hal kepercayaan pria dan kelompok yang sebenarnya dapat dianalisis. Tidak ada individua tau kelompok yang akan mematuhi semua elemen penyusun etika militer, karena tidak ada korps perwira tertentu yang akan mematuhi etika yang hanya bersifat protes, yaitu sejauh apapun hal tersebut dibentuk oleh fungsional daripada imperatif sosial. Pengungkapan etika oleh korps perwira menunjukkan rendahnya profesionalisme, meluasnya artikulasi etika, dan tingginya profesionalisme.
Etika militer professional tidak tertinggal zaman dan tikda teralokasi tidak seperti profesi yang merupakan ekspresi intelektual. Selama tidak ada perubahan yang mendasar dalam sifat yang melekata pada fungsi militer, tidak akan ada perubahan dala, isi etika profesi.
Oleh karena itu, etika militer merupakan standar yang konstan yang memungkinakan untuk menilai profesionalisme korps perwira. Keakuratan dari definisi etika tergantung pada sejauh mana pandangan yang dinyatakan harus tersirat oleh kinerja fungsi militer. Keberadaan profesi militer yang seringkali mengandaikan konflik dan penggunaan kekerasan untuk memajukan kepentingan tertentu mengakibatkan etika militer memandang konflik sebagai pola universal di seluruh alam dan berakar pada sifat biologis serta psikologis laki – laki. Etika militer menekankan kejahatan. Hal tersebut dikarenakan manusia adalah mahluk yang egois dan manusia dimotivasi oleh dorongan untuk kekuasaan dan kekuatan. Sedangkan etika militer menekankan kelemahan adalah keegoisan manusia mengarah pada perjuangan. Akan tetapi, kelemahan manusia lah yang menciptakan konflik seperti yang dikatakan oleh Clausewitz bahwa “semua perang mengandaikan kelemahan manusia, dan melawannya itu diarahkan”.
Profesi militer mengorganisir laki – laki untuk mengatasi rasa takut dan kegagalan yang melekat pada diri manusia. Ketidakpastian yang muncul dalam kondisi perang dan sulitnya mengantisipasi tindakan lawan membuat pandangan orang militer menjadi skeptis terhadap jangkauan pandangan ke masa depan.
Eksistensi profesi militer tergantung pada keberadaan negara yang bersaing. Tanggung jawab dari profesi militer adalah untuk meningkatkan keamanan di suatu negara. Tanggung jawab ini membutuhkan kerjasama dan disiplin karena kewajiban dari profesi militer adalah untuk melayani masyarakat secara luas. Militer juga lebih mementingkan kepentingan kelompok disbanding dengan kepentingan individu. Orang – orang militer menenggelamkan
kepentingan dan keinginan prubadi untuk apa yang diperlukan oleh masyarakat luas. Panggilan militer adalah sebuah profesi dikarenakan memiliki akumulasi pengalaman yang dapat membentuk sekumpulan pengetahuan yang professional. Dalam pandangan militer, manusia hanya belajar dari pengalamannya sendiri. Jika pengalaman yang dimiliki hanya sedikit, maka orang tersebut harus belajar dari pengalaman orang lain. Profesi militer tergantung pada keberadaan negara atau bangsa yang mampu mempertahankan pendirian militer dan mempunyai keinginan untuk mempertahankan pendirian tersebut karena munculnya ancaman terhadap diri mereka. Akibtanya, orang militer cenderung menganggap negara atau bangsa adalah bentuk akhir dari organisasi politik. Orang militer membenarkan bahwa pemeliharaan kekuatan militer hanya ditujukan untuk tujuan politik negara. Penyebab dari suatu perang selalu bersifat politis. Kebijakan newgara yang tujukan untuk melanjutkan tujuan politik selalu mendahului perang.
Dalam dunia negara-bangsa, masalah keamanan militer tidak pernah terpecahkan.
Persaingan di antara negara terus berlanjut dan perang hanyalah salah satu intesifikasi dari persaingan antar negara – negara. Jika penyebab perang adalah manusia, maka penghapusan total dari perang tidak mungkin terjadi. Akibatnya, muncul pikiran militer yang skeptis terhadap institusional yang telah dirancang untuk mencegah terjadinya perang. Dalam memperkirakan ancaman keamanan, militer melihat kemampuan negara lain terlebih dahulu.
Orang militer secara profesional juga dapat memperkirakan kekuatan tempur negara lain. Akan tetapi, dalam hal menilai kebijakannya termasuk ke dalam masalah politik yang dimana hal ini adalah diluar kemampuan kompetensinya. Kekhawatiran orang – orang militer akan bahayanya keamanan nasional membuat mereka terdesak untuk memperluas dan memperkuat kekuatan keamanan militer yang ada untuk melindungi keamanan negara. Manifestasi yang paling umum adalah permintaan untuk bagian yang besar dari anggaran nasional. Kekhawatiran militer juga membuat militer menginginkan konversi sumber daya yang besar. Militer lebih memilih pasukan reguler untuk cadangan pasukan dan persediaan senjata untuk pabrik yang membuat senjata. Orang militer juga lebih suka mempertahankan variasi senjata dan kekuatan seluas mungkin asalkan sistem senjata dijaga dengan ketat. Hal ini disebabkan agar militer cukup kuat dan mampu menghadapi ancaman yang ada.
Orang militer juga suka untuk melindungi negara melalui jaminan aliansi, asalkan aturan ini dapat meningkatkan kekuatan negara. Sekutu harus dipilih melalui dasar mutualitas kepentingan keamanan nasional terlepas dari masalah ideologis dan politik. Kekuatan nasional juga dapat ditingkatkan dengan perluasan wilayah nasional. Perluasan wilayah juga
menghasilkan peningkatan kekuatan yang nyata. Wilayah yang dipilih harus trategis, karena militer tidak akan memilih wilayah terpencil yang rentan terhadap serangan dan sulit dipertahankan, militer tidak peduli dengan keinginan politik atau nonpolitik untuk tujuan perang. Hubungan antara tujuan politik dan militer dapat mempengaruhi keamanan militer negara. Politisi harus berhati – hati terhadap tujuan ini karena rancangan politik besar harus dihindari karena dianggap sebagai hal yang tidak praktis. Keamanan militer harus didahulukan, tujuan moral dan ideologis tidak boleh didahulukan dengan mengorbankan keamanan negara.
Orang militer cenderung menganggap dirinya sebagai korban abadi dari perang sipil. Negara yang menginginkan perdamaian harus dipersenjatai dengan baik untuk menegakkan keamanan tersebut. Etika militer menarik perbedaan yang tajam antara kekuasaan bersenjata dan sifat suka berperang, negara militer, dan negara suka berperang.
Hakikat hubungan militer dan negara menyangkut ruang lingkup relative kompetensi ahli militer dan ahli politik. Napoleon mewujudkan kesatuan lama ilmu militer dan politik.
Walaupun tidak ada definisi yang tepat untuk menggambarkan hubungan militer dan negara, tetapi ada kemungkinan untuk menyatakan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan hubungan antara militer dan negara. Ilmu militer adalah sebuah arca dimana kompetensi khusus diperoleh melalui pelatihan dan pengalaman profesional. Bidang yang menyangkut pelaksanaan politik negara oleh militer dibagi menjadi komponen konstan dan variabel. Pembagian tersebut diakui setelah munculnya profesi militer. Elemen konstan mencerminkan keabadian sifat manusia dan geografi fisik. Politik berkaitan dengan tujuan kebijakn suatu negara. Kompetensi di bid aini memiliki kesadaran yang luas tentang unsur – unsur dan kepentingan yang masuk ke dalam suatu keputusan dan dalam memiliki hak yang sah. Politik berada di luar lingkup kompetensi militer. Dalam hal ini, sebaiknya militer harus berada di pihak yang netral secara politik. Suatu komandan militer tidak boleh membiarkan penilaian militernya dibelokkan oleh kepentingan politik. Tanggung jawab militer kepada negara ada tiga. Pertama, fungsi perwakilan untuk mewakiliki keamanan militer di dalam mesin negara. Kedua, perwira militer memiliki fungsi sebagai penasehat untuk menganalisis dan melaporkan implikasi dari jalan alternatif tindakan negara dari sudut pandang militer. Ketiga, perwira militer memiliki fungsi eksekutif untuk melaksanakan keputusan negara sehubungan dengan keamanan militer.
Idelanya, orang militer harus merumuskan solusi militernya terlebih dahulu dan kemudian mengubahnya sesuai arahan penasehat politiknya. Profesi militer hadir untuk melayani negara dan untuk memberikan layanan setinggi mungkin kepada seluruh profesi militer dan kekuatan militer harus dijadikan sebagai instrumen kebijakan negara yang efektif.
Hal ini disebabkan oleh arah politik yang datang dari atas. Hal ini juga berarti bahwa profesi tersebut harus ditata dalam suatu hierarki. Fungsi di dalamnya harus dapat memerintahkan kepatuhan instan dan loyal. Tanpa hal ini, profesionalisme dalam militer tidak akan terbentuk.
Karena ketika orang militer menerima perintah hukum dari atasan, mereka tidak membantah dan ragu – ragu. Mereka langsung patuh dan sesegera mungkin melaksanakan perintah. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan instrumen ketaatan. Kebajikan tertinggi dalam militer adalah kepatuhan. Akan tetapi, muncul pertanyaan terkait dengan batas dari ketaatan tersebut.
Pertanyaan tersebut muncul dalam dua koneksi yang terpisah. Pertma menyangkut hubungan antara kepatuhan militer dan kompetensi profesional. Yang kedua menyangkut konflik antara nilai militer ketaatan dan nilai – nilai non militer.
Konflik antara kepatuhan militer dengan kompetensi profesional biasanya melibatkan hubungan antara bawahan dan atasan militer. Hal tersebut muncul dalam dua pengertian, yang pertama menyangkut eksekusi oleh bawahan suatu perintah militer yang menurut pandangannya akan mengakibatkan suatu bencana militer. Yang kedua adalah ketaatan yang kaku dan tidak fleksibel dapat menghambat ide – ide baru dan menjadi budak rutinitas yang tidak progresif. Banyak komando tertinggi yang telah membekukan pemikiran di masa lalu dan telah menggunakan kendalinya atas hierarki militer untuk menekan perkembangan yang baru dalam hal taktik serta teknologi. Rangkaian masalah kedua menyangkut hubungan kepatuhan militer dengan nilai – nilai non militer. Ada konflik antara kepatuhan militer dan kebijaksanaan politik. Dapat dikatakan bahwa militer sengaja dibenarkan untuk memaksakan suatu perkembangan baru kepada pemimpin militer. Kriteria kelayakan militer sangat terbatas dan relatif objektif sedangkan kriteria kebijaksanaan politik tidak terbatas dan cenderung subjektif.
Hal ini dikarenakan politik adalah seni dan militer adalah profesi. Tidak ada nilai – nilai politik yang diterima secara umum untuk dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa penilaian politik militer lebih baik daripada penilaian politik negarawan. Terdapat konflik juga antara kepatuhan militer degan kompetensi militer ketika kompetensi tersebut terancam oleh atasan politik. Dugaan kompetensi profesional superior yang ada dalam kasus seorang atasan militer memberikan perintah yang dipertanyakan ketika negarawan memasuki urusan militer.
Kesimpulannya, etika militer menekankan keabadian, irasionalitas, kelemahan, dan kejahatan dalam sifat manusia. Hal ini menekan kesinambungan dan nilai sejarah. Militer menerima negara bangsa sebagai bentuk tertinggi organisasi politik dan mengakui kemungkinan berjalnjutnya suatu perang. Hal ini juga menekankan pentingnya kekuasaan dalam suatu hubungan internasional dan memperingatkan bahaya terhadap keamanan negar.
Keamanan negara juga tergantung pada penciptaan dan pemeliharaan kekuatan militer. Banyak pendapat bahwa perang adalah instrument politik, bahwa militer adalah pelayan negarawan, dan bahwa kontrol sipil sangat penting untuk profesionalisme militer. Dalam hal ini, kepatuhan sangat diagungkan karena dapat dijadikan sebagai kebajikan tertinggi dari orang – orang militer. Dengan demikian, etika militer dapat digambarkan sebagai hal yang pesimis, kolektivis, historis, berorientasi pada kekuasaan, nasionalistik, pasifis, dan instrumentalis dalam pandangannya terhadap profesi militer.