REFERAT
“HERPES ZOOSTER PADA IBU HAMIL”
Disusun Oleh:
Wenseslaus Costradilo D. G4A024078 Rahma Dini Yamsun G4A024083 Suci Eka Nurrahma A. G4A024101
Pembimbing:
dr. Ermadi Satriyo Sudibyo, Sp.DVE., M.Sc.
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD BANYUMAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN BANYUMAS
2025
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN REFERAT
“HERPES ZOOSTER PADA IBU HAMIL ”
Disusun Oleh:
Wenseslaus Costradilo D. G4A024078 Rahma Dini Yamsun G4A024083 Suci Eka Nurrahma A. G4A024101
Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Banyumas
Telah disetujui dan dipresentasikan pada Tanggal : ……….
Mengetahui, Pembimbing
dr. Ermadi Satriyo Sudibyo, Sp.DVE., M.Sc
BAB I
LAPORAN KASUS
A. Identitas Pasien
1. Nama : Ny. DS
2. Usia : 28 Tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Alamat : Banyumas
5. Pekerjaan : Guru
6. Agama : Islam
7. Status : Sudah menikah 8. Tanggal Pemeriksaan : 17 Juni 2025 B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Lenting-lenting di sekitar perut hingga pinggang 2. Keluhan Tambahan
Lenting terasa gatal dan nyeri 3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan G1P0A0 usia kehamilan 26 minggu datang dengan keluhan gatal dan lenting lenting pada bagian pinggang sampai perut bagian kiri sejak 7 hari yang lalu dan lenting lenting semakin bertambah.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan serupa : disangkal Hipertensi : disangkal Diabetes melitus : disangkal Penyakit jantung : disangkal
Stroke :disangkal
Hiperkolesterolemia : disangkal Gangguan ginjal : disangkal Gangguan hati :disangkal Hiperurisemia : disangkal
Alergi : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga Keluhan serupa :disangkal Hipertensi : disangkal Diabetes melitus : disangkal
Penyakit jantung : disangkal
Stroke : disangkal
Hiperkolesterolemia : disangkal Gangguan ginjal : disangkal Gangguan hati : disangkal Hiperurisemia : disangkal
Alergi : disangkal
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan seorang guru dan tinggal bersama dengan suami.
Pasien berobat menggunakan BPJS Non PBI.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos mentis 3. TTV
a. Tekanan darah : 124/74 mmHg
b. Nadi : 90 x/menit
c. Laju napas : 20 x/menit
d. SpO2 : 98 % room air
e. Suhu : 36.5 C
4. Antropometri
a. Berat badan : kg b. Tinggi badan : cm
c. IMT : ()
5. Kepala
a. Kepala : Mesosefal (+), rambut berwarna hitam, distribusi merata
b. Mata : Simetris, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokol 3 mm/3 mm, lesi di kelopak mata c. Hidung : Napas cuping hidung (-/-), discharge
(-/-), deformitas (-/-)
d. Mulut : Mukosa basah, bibir sianosis (-) e. Telinga : Simetris, otorea (-/-)
6. Leher : trakea simetris, pembesaran KGB (-) 7. Paru
a. Inspeksi : Simteris (+), pengembangan dada (+), retraksi (-)
b. Palpasi : Fremitus dextra dan sinistra normal
c. Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru d. Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), wheezing
(-), Ronkhi (-) 8. Jantung
a. Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
b. Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V, 2 jari medial LMCS
c. Auskultasi : S1>S2, reguler, gallop/murmur/S3 (-) 9. Abdomen
a. Inspeksi : Perut cembung, caput medusa (-), erosi kulit (-)
b. Auskultasi : Bising usus (+) normal
c. Perkusi : Timpani (+) seluruh lapang abdomen d. Palpasi : Nyeri tekan (-), massa (-),
pembesaran organ (-) 10. Ekstremitas
a. Atas : Tremor (-/-), CRT < 2 detik, akral hangat b. Bawah : Tremor (-/-), CRT < 2 detik, akral hangat 11. Pemeriksaan Dermato Venereologi
Lesi terdapat di perut hingga punggung berupa vesikel multipel di atas makula eritem dengan konfigurasi herpetiformis distribusi terdapat di dermatom thorakal 10 sampai 11 unilateral sinistra.
D. Usulan Pemeriksaan Penunjang
1. Tzank test ditemukan multinucleated giant cells
2. PCR untuk membedakan herpes zoster dengan HSV zosteriformis
E. Assessment
1. Diagnosis : Herpes zoster 2. Diagnosis banding :
a. Dermatitis Herpetiformis b. Dermatitis Kontak Iritan c. Dermatitis Kontak Alergi d. Insect Bite
e. Zosteriform Herpes Simpleks F. Terapi
1. Medikamentosa
a. Paracetamol tablet 500 gram selama nyeri b. fucilex cream 2% 5 gr
c. asam folat 1 mg 2. Non Medikamentosa
a. Intervensi Psikososial G. Prognosis
1. Ad Vitam : Bonam 2. Ad Sanationam : Bonam 3. Ad Functionam : Bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Herpes zoster atau shingles merupakan reaktivasi varicella zoster menetap di ganglion saraf sensorik setelah terjadinya infeksi varicella. Varicella atau yang dikenal sebagai cacar air, penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak sedangkan pada herpes zoster terjadi pada dewasa (Nair & Petel, 2023).
B. Epidemiologi
Herpes zoster (HZ) terjadi akibat reaktivasi virus varicella-zoster (VZV) laten yang sebelumnya menyebabkan infeksi primer varicella (cacar air). Lebih dari 90%
populasi di Amerika Serikat memiliki bukti serologis terhadap infeksi VZV, dan diperkirakan terdapat lebih dari satu juta kasus HZ setiap tahunnya, dengan angka kejadian seumur hidup sekitar 30%. Insidensi HZ meningkat seiring bertambahnya usia, mencapai sekitar 10 kasus per 1000 orang per tahun pada usia 80 tahun, karena penurunan imunitas seluler terhadap VZV (Hayward et al, 2018).
Meskipun kejadian HZ pada kehamilan tergolong jarang, kasus tetap dapat terjadi.
Sebuah studi bahkan menemukan bahwa wanita yang menjalani anestesi umum untuk persalinan sesar memiliki risiko HZ yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan anestesi regional. Insidensi HZ satu tahun pasca persalinan sesar diperkirakan sekitar 3,5 per 1000 perempuan, angka yang sebanding dengan populasi umum (Hayward et al, 2018).
C. Faktor Risiko
Siapa pun yang pernah menderita cacar air dapat mengembangkan herpes zoster.
Sebagian besar orang dewasa di Amerika Serikat pernah menderita cacar air saat masih anak-anak. Itu terjadi sebelum tersedianya vaksinasi rutin masa kanak-kanak yang sekarang melindungi dari cacar air. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena herpes zoster antara lain:
1. Usia. Risiko terkena herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia. Herpes zoster biasanya terjadi pada orang yang berusia di atas 50 tahun. Dan orang yang berusia di atas 60 tahun lebih mungkin mengalami komplikasi yang lebih parah.
2. Beberapa penyakit. Penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda, seperti HIV/AIDS dan kanker, dapat meningkatkan risiko herpes zoster.
3. Perawatan kanker. Radiasi atau kemoterapi dapat menurunkan daya tahan tubuh Anda terhadap penyakit dan dapat memicu herpes zoster.
4. Beberapa obat. Obat-obatan yang mencegah penolakan terhadap organ yang ditransplantasikan dapat meningkatkan risiko herpes zoster. Penggunaan steroid jangka panjang, seperti prednison, juga dapat meningkatkan risiko herpes zoster.
D. Etiopatogenesis
Varicella-zoster virus (VZV) merupakan anggota keluarga Herpesviridae, dan termasuk dalam kelompok α-herpesvirus karena kemampuannya menetap secara laten di neuron sensorik setelah infeksi primer. Setelah infeksi varicella
(cacar air), VZV menyebar dari lesi kulit dan mukosa menuju ujung saraf sensorik dan diangkut melalui serabut saraf menuju ganglion sensorik, tempat virus menetap dalam keadaan laten di dalam neuron.
Genom VZV terdiri dari setidaknya 71 gen, banyak di antaranya homolog dengan gen virus herpes lain. Gen awal mengatur replikasi virus, sementara gen akhir menyandi protein struktural virus. Terdapat satu serotipe VZV, namun terdapat 7 atau 8 genotipe (klade) yang menunjukkan variasi geografis dan potensi rekombinasi.
Virus laten ini menghasilkan transkrip laten (Latency-Associated Transcript, LAT) yang mirip dengan yang dihasilkan oleh HSV (Herpes Simplex Virus), tetapi tidak menghasilkan virus infeksius. Reaktivasi VZV dapat terjadi secara sporadis, terutama saat imunitas sel-T spesifik terhadap VZV menurun di bawah ambang tertentu, seperti pada kondisi imunosupresi. Reaktivasi menyebabkan replikasi virus, nekrosis neuron, dan inflamasi yang dapat disertai nyeri neuropatik hebat.
Herpes zoster paling sering muncul pada dermatom yang sebelumnya mengalami ruam varicella padat, seperti area yang diinervasi oleh cabang oftalmikus dari ganglion trigeminal dan ganglion sensorik dari T1 hingga L2. Virus yang aktif kemudian menyebar secara sentrifugal ke ujung saraf sensorik dan menimbulkan ruam vesikular khas herpes zoster.
Pada kasus berat, infeksi dapat menyebar proksimal melalui saraf ke sistem saraf pusat (SSP), menyebabkan komplikasi seperti meningitis, ensefalitis, mielitis segmental, atau bahkan ensefalomielitis. Infeksi dan kerusakan neuron di dorsal horn tulang belakang juga diduga berkontribusi terhadap nyeri neuropatik menetap (postherpetic neuralgia) .
E. Gambaran Klinis
1. Prodromal
Nyeri dan parestesia pada dermatom yang terlibat sering kali mendahului erupsi
selama 1 hingga 3 hari, tetapi kadang-kadang selama seminggu atau lebih. Sensasi abnormal bervariasi dari rasa gatal, kesemutan, atau rasa terbakar yang dangkal hingga rasa sakit yang parah, dalam, membosankan, atau menjalar. Rasa sakitnya bisa konstan atau terputus-putus, dan sering kali disertai dengan kelembutan dan hiperestesi pada kulit di dermatom yang terlibat. Nyeri prodromal herpes zoster mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat penyakit pada organ viseral (seperti infark miokard, kolesistitis, kolik ginjal, diskus intervertebralis yang mengalami prolaps), dan hal ini dapat menyebabkan kesalahan diagnosis serta investigasi dan intervensi yang salah sasaran. Nyeri prodromal jarang terjadi pada orang yang memiliki kekebalan tubuh yang berusia kurang dari 30 tahun, tetapi terjadi pada sebagian besar orang dengan herpes zoster yang berusia di atas 60 tahun.
1. Ruam
Ciri yang paling khas dari herpes zoster adalah lokalisasi dan distribusi ruam, yang unilateral dan umumnya terbatas pada area kulit yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Kulit yang disuplai oleh saraf trigeminal, terutama divisi oftalmikus (10%-15%), dan batang tubuh dari T3 ke L2 (>50%), paling sering terkena dampaknya; lesi herpes zoster jarang terjadi di bagian distal siku atau lutut.
Meskipun lesi individu herpes zoster dan varisela secara histologis tidak dapat dibedakan, lesi herpes zoster cenderung berkembang lebih lambat dan biasanya terdiri dari vesikel yang berkelompok secara dekat pada dasar eritematosa, sedangkan vesikel varisela yang tersebar secara acak dan terpisah-pisah. Perbedaan ini mencerminkan penyebaran virus secara intraneural (aksonal) ke kulit pada herpes zoster, berlawanan dengan penyebaran virus secara viremik pada varisela.
Lesi herpes zoster dimulai sebagai makula eritematosa dan papula dalam distribusi dermatom. Vesikel terbentuk dalam waktu 12 hingga 24 jam dan berkembang menjadi pustula pada hari ketiga. Mengering dan mengeras dalam 7 sampai 10 hari.
Kerak umumnya bertahan selama 2 sampai 3 minggu. Pada orang normal, lesi baru terus muncul selama 1 sampai 4 hari (kadang-kadang sampai 7 hari). Ruam paling parah dan berlangsung paling lama pada orang tua, dan paling tidak parah dan berdurasi singkat pada anak-anak.
Antara 10% dan 15% kasus herpes zoster melibatkan divisi oftalmikus dari saraf trigeminal. Ruam zoster oftalmikus dapat memanjang dari tingkat mata ke titik tengkorak, tetapi berakhir dengan tajam di garis tengah dahi. Ketika hanya cabang supratrochlear dan supraorbital yang terlibat, mata biasanya tidak terkena.
Keterlibatan cabang nasosilier, yang menginervasi mata, serta ujung dan sisi hidung, memberikan VZV akses langsung ke struktur intraokular. Dengan demikian, ketika zoster oftalmikus melibatkan ujung dan sisi hidung (tanda Hutchinson), perhatian yang cermat harus diberikan pada kondisi mata.
Keterlibatan cabang nasosilier sering kali disertai konjungtivitis unilateral dan gangguan sensasi kornea, yang dapat menyebabkan ulserasi kornea dan infeksi bakteri yang mengancam penglihatan. Mata terlibat dalam 20% hingga 70% pasien dengan zoster mata. Herpes zoster yang menyerang divisi kedua dan ketiga saraf trigeminal, serta saraf kranial lainnya, dapat menimbulkan gejala dan lesi pada mulut telinga, faring, atau laring. Sindrom Ramsay Hunt (kelumpuhan wajah yang dikombinasikan dengan herpes zoster pada telinga luar, liang telinga, atau gendang telinga, dengan atau tanpa tinitus, vertigo, dan ketulian) diakibatkan oleh keterlibatan saraf wajah dan saraf pendengaran. Telinga dan saluran pendengaran eksternal dipersarafi oleh saraf kranial ke-5, ke-7, ke-9, dan ke-10 serta oleh saraf servikal bagian atas, dan saraf wajah beranastomosis dengan semua saraf tersebut.
Dengan demikian, ketika herpes zoster melibatkan ganglia dari salah satu saraf ini, maka dapat menyebabkan kelumpuhan wajah dan lesi kulit pada atau di sekitar
telinga.
2. Nyeri
Meskipun ruam adalah hal yang penting, nyeri adalah gejala utama herpes zoster, terutama pada orang tua. Beberapa pasien herpes zoster tidak mengalami nyeri, tetapi sebagian besar (>85% di atas usia 50 tahun) mengalami nyeri atau ketidaknyamanan dermatomal selama fase akut (30 hari pertama setelah timbulnya ruam) yang berkisar dari ringan hingga berat. Pasien menggambarkan rasa sakit atau ketidaknyamanan mereka sebagai “terbakar”, “sakit yang dalam”,
‘kesemutan’, atau “menusuk”. Pada beberapa pasien, rasa gatal mungkin merupakan gejala yang dominan. Untuk beberapa pasien, intensitas rasa sakitnya begitu hebat sehingga kata-kata seperti “mengerikan” atau “menyiksa” digunakan untuk menggambarkan pengalamannya. Nyeri herpes zoster akut dikaitkan dengan penurunan fungsi fisik, tekanan emosional, dan penurunan fungsi sosial.
3. Gatal
Gatal sering kali merupakan gejala yang menonjol dan mengganggu selama fase akut herpes zoster. Hal ini sering kali berlanjut sampai semua kerak terlepas.
F. Diagnosis
Diagnosis Herpes Zoster ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik 1. Anamnesis
a. Gejala Prodromal : rasa nyeri dan adanya sensasi abnormal seperti pruritus, parestesia, mati rasa, dan disestesia yang dirasakan 1-3 hari atau lebih dari 1 minggu sebelum timbulnya lesi pada kulit.
b. Rasa nyeri yang ditimbulkan dapat digambarkan sebagai rasa terbakar, berdenyut, dan tertusuk, dapat disertai dengan gejala konstitusi meliputi, malaise, sefalgia, dan flu-like symptoms yang akan menghilang setelah erupsi kulit terlihat.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Lokasi unilateral, terbatas satu dermatom, tetapi dapat melibatkan dermatom di dekatnya
b. Jumlah lesi akan menyebar secara radial di sepanjang dermatom yang terkena dan jumlahnya akan bertambah banyak dalam kurun waktu 24-72 jam
c. Lesi berupa makulopapular yang akan berubah menjadi vesikel hingga bula dengan cairan jernih kemudian menjadi keruh, lalu berubah menjadi pustul, multipel, zosteriformis dengan dasar kulit eritematosa dan edema, kemudian dalam 5-7 hari akan berubah menjadi krusta
d. Lesi hemoragik dapat ditemukan pada pasien dengan terapi antiplatelet, antikoagulan, dan kortikosteroid jangka panjang, pada pasien lansia e. Dapat disertai dengan adanya pembesaran kelenjar getah bening regional f. Herpes zoster aberans, dapat disertai dengan vesikel minimal 10 melewati
garis tengah.
g. Sindrom Ramsay-Hunt: timbul gejala paralisis otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus, dan nausea, juga gangguan pengecapan
h. Herpes zoster oftalmikus (HZO): timbul kelainan pada mata dan kulit di daerah persarafan cabang pertama nervus trigeminus.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Tzank test pada fase erupsi vesikel menunjukkan gambaran multinucleated giant cells.
b. PCR untuk mendeteksi antigen / asam nukleat virus (Perdoski, 2024).
G. Diagnosis Banding
Herpes simpleks: disebabkan oleh virus herpes simpleks dan menyebar melalui kontak langsung dengan lesi herpes atau permukaan mukosa. Infeksi primer sering muncul dengan gejala prodromal sistemik yang diikuti dengan disuria, limfadenopati yang menyakitkan, dan kelompok vesikel yang menyakitkan dan berwarna merah di atas dasar eritematosa. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium, seperti PCR dan DFA. Pengobatan meliputi terapi antivirus.
Selulitis: infeksi kulit akibat bakteri yang umum menyerang lapisan yang lebih dalam dari dermis dan jaringan subkutan. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Selulitis muncul sebagai area eritematosa dan edematosa, yang hangat dan lembut saat disentuh. Diagnosis dilakukan secara klinis dan penatalaksanaannya melibatkan antibiotik yang disesuaikan dengan organisme yang dicurigai.
Folikulitis: peradangan pada folikel rambut yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Pasien mungkin datang dengan papula/bintil-bintil yang gatal, perih, dan eritematosa di sekitar folikel rambut. Diagnosis ditegakkan secara klinis.
Penatalaksanaan biasanya bersifat suportif, tetapi terapi antibiotik topikal atau oral mungkin diperlukan untuk kasus yang parah.
Dermatitis kontak alergi: peradangan pada kulit akibat kontak dengan alergen Pasien biasanya datang dengan ruam lokal, merah, pruritus dan melepuh. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan.
H. Tatalaksana
Pada dasarnya, penyakit herpes zoster bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya. Terapi pada Herpes zooster bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan lesi, mengurangi keluhan nyeri akut, mengurangi risiko komplikasi post-herpetic neuralgia (PHN), dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Tata laksana didasarkan pada strategi 6A (Fitriyani et al., 2021).
1) Attract patient early (penilaian pasien sejak dini dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik)
Anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap dibutuhkan untuk mendapatkan diagnosis yang benar sehingga dapat pasien menerima terapi yang tepat.
Pengobatan dilakukan dalam 72 jam setelah muncul erupsi kulit untuk mendapatkan hasil yang optimal.
2) Assess patient fully (menilai pasien dengan lengkap berdasarkan pada kondisi khusus)
Penilaian pasien secara lengkap yaitu dengan memperhatikan kondisi khusus pada pasien seperti usia lanjut, risiko PHN, risiko komplikasi mata, sindrom Ramsay Hunt, kondisi immunocompromised, defisit motorik, dan kemungkinan komplikasi organ dalam berupa pneumonia, hepatitis, dan
peradangan otak
3) Antiviral therapy (pengobatan dengan antivirus)
Berbagai studi mengenai tatalaksana HZ merekomendasikan pemberian antivirus dalam waktu 72 jam sejak berkembangnya lesi kulit. Pemberian antivirus dapat diberikan lebih dini sejak muncul lesi pada beberapa kondisi seperti usia lebih 50 tahun, risiko terjadi PHN, sindrom Ramsay Hunt, kondisi immunocompromised dengan penyebaran generalisata, HZ dengan komplikasi, serta pada anak-anak dan wanita hamil. Antivirus pada infeksi HZ memiliki target kerja untuk menghambat aktivitas DNA virus dalam proses transkripsi sehingga dapat menekan replikasi virus. Antivirus yang memiliki mekanisme tersebut yaitu golongan analog nukleosida seperti aciclovir, famciclovir, valaciclovir, brivudin, dan foscarnet menunjukkan efikasi dalam tatalaksana infeksi VZV. Terapi sistemik baik melalui rute per oral maupun parenteral, lebih diutamakan dibandingkan terapi topikal karena profil farmakokinetik yang lebih baik serta mampu mengatasi keterbatasan adanya barrier untuk masuknya obat antivirus ke jaringan pada sisi-sisi replikasi VZV (Pusponegoro, 2014; Levin et al., 2019).
4) Analgesic (tatalaksana nyeri)
Nyeri intensitas sedang dapat diobati dengan paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid. Obat tersebut tidak dapat mengurangi nyeri pada PHN,
namun dapat digunakan sebagai obat lini pertama untuk mengontrol nyeri pada HZ.Nyeri akut yang berat menjadi faktor risiko terjadinya PHN, yang berkontribusi pada terjadinya sensitisasi sentral serta menyebabkan nyeri kronis, sehingga perlu dipertimbangkan untuk pemberian analgesik opioid seperti tramadol dan codeine. Nyeri akut yang lebih berat dapat menggunakan opioid aksi pendek. Studi acak dengan placebo melaporkan bahwa opioid lebih efektif dibandingkan gabapentin untuk nyeri terkait HZ (Fitriani et al., 2021).
5) Antidepressant dan anticonvulsant (pengobatan dengan antidepresan dan antikonvulsan pada kasus yang membutuhkan)
Antidepresan trisiklik berperan untuk mengontrol nyeri pada HZ dan PHN. Antidepresan trisiklik dosis rendah menunjukkan efikasi yang cukup baik dan bekerja melalui mekanisme tidak langsung dari efek antidepresannya.
Antidepresan trisiklik yang sering digunakan yaitu amitriptyline dapat secara signifikan menurunkan nyeri pada PHN dibandingkan nortriptyline dan desiramine karena penggunaan keduanya berkaitan dengan efek samping kolinergik. Pada penelitian acak terkontrol ditemukan bahwa terapi kombinasi nortriptyline dan gabapentin dapat menurunkan rasa nyeri lebih dari penggunaan tunggal agen tersebut. Pada salah satu studi terbuka, penggunaan gabapentin bersama dengan valaciclovir selama periode akut herpes zoster lebih efektif dalam mencegah terjadinya PHN dibandingkan penggunaan valaciclovir saja.
Meskipun pengobatan dengan prednisone bersama dengan aciclovir dapat mengurangi nyeri akut pada pasien dengan herpes zoster, beberapa penelitian terkontrol gagal menunjukkan adanya perbedaan dalam hal insidensi atau derajat keparahan PHN dengan penggunaan kombinasi obat ini dibandingkan penggunaan monoterapi acyclovir.
6) Allay anxiety-counselling atau konseling kecemasan.
Edukasi mengenai penyakit HZ kepada pasien bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan memberikan pemberian informasi tentang penyakit, risiko transmisi, komplikasi dan rencana terapi kepada pasien. Edukasi untuk menjaga kondisi mental dan aktivitas fisik agar tetap optimal, memberikan perhatian dalam rangka membantu pasien mengatasi penyakit HZ, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien diberikan edukasi untuk tetap menjaga lesi kulit kemerahan tetap bersih dan kering untuk mengurangi risiko superinfeksi bakteri.
I. Komplikasi
1) Derajat Ringan
a. Herpes zooster Impetiginisata
Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada ibu hamil dengan herpes zoster adalah infeksi sekunder pada lesi kulit, yang dikenal sebagai herpes zoster impetiginosata. Kondisi ini terjadi ketika lesi vesikular atau ulseratif akibat herpes zoster mengalami kolonisasi bakteri, terutama Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes, sehingga menyebabkan gejala tambahan berupa eritema yang meluas, keluarnya eksudat purulen, krusta kekuningan, serta peningkatan rasa nyeri dan kadang disertai demam ringan (van der Meijden et al., 2023; Harger et al., 2023). Infeksi ini tidak hanya memperberat gejala klinis, tetapi juga memperpanjang waktu penyembuhan dan meningkatkan risiko terbentuknya jaringan parut atau hiperpigmentasi pasca-lesi (Schafer et al., 2019). Meskipun herpes zoster pada kehamilan umumnya tidak menyebabkan kelainan kongenital, komplikasi seperti impetiginosata tetap penting untuk dikenali lebih awal karena dapat meningkatkan morbiditas maternal. Penatalaksanaan terdiri dari pemberian antivirus sistemik seperti asiklovir, yang aman digunakan pada kehamilan, dikombinasikan dengan antibiotik topikal seperti mupirosin atau antibiotik sistemik (misalnya cefalexin atau amoksisilin), tergantung pada tingkat keparahan dan usia kehamilan (van der Meijden et al., 2023). Selain itu, perawatan lokal yang baik dan edukasi kebersihan kulit sangat dianjurkan untuk mencegah eksaserbasi infeksi dan komplikasi lanjutan.
2) Derajat Sedang
a. Neuralgia Pasca Herpetik
Neuralgia pasca herpetik atau post-herpetic neuralgia (PHN) merupakan komplikasi utama dari herpes zooster. PHN didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama 90 hari setelah timbulnya ruam. Sekitar 15%
pasien herpes zooster akan mengalami PHN yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan. Gejala berupa nyeri tajam, berdenyut, atau terbakar, serta dapat disertai komplikasi lokal seperti ulkus mukosa, osteonekrosis, hingga kehilangan gigi pada regio maksila atau mandibula. PHN akan dapat menjadi lebih parah pada pasien dengan diabetes melitus atau mereka yang terinfeksi HIV (Gebo et al. 2005; Heymann et al. 2008).
Prevalensi dan durasi nyeri meningkat seiring bertambahnya usia, sesuai
dengan penurunan respons imun terkait usia secara umum. Pada ibu hamil Analgesik yang digunakan untuk neuralgia meliputi asetaminofen, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), analgesik opioid, antidepresan, gabapentin, pregabalin, dan analgesik topikal. Asetaminofen oral dapat digunakan pada pasien hamil dengan HZ karena memiliki catatan keamanan yang baik pada semua tahap kehamilan. Oleh karena itu, asetaminofen harus dianggap sebagai lini pertama untuk pengobatan nyeri selama kehamilan (Banh et al. 2015).
b. Herpes zooster Oftalmikus
Selain neuralgia pascaherpes (postherpetic neuralgia/PHN), komplikasi okular merupakan bentuk komplikasi yang paling sering terjadi pada infeksi herpes zoster. Virus varicella-zoster dapat menginfeksi berbagai struktur intraokular (Opstelten & Zaal, 2005; Yawn et al., 2007).
Reaktivasi virus pada cabang pertama nervus trigeminus, yaitu nervus oftalmikus (V1), dapat menyebabkan zoster oftalmikus. Kondisi ini mencakup sekitar 10–20% dari seluruh kasus herpes zoster, dengan risiko kumulatif seumur hidup sebesar ±1%. Apabila pasien mengalami manifestasi oftalmologis akibat infeksi herpes zooster. Perlu dilakukan rujukan segera ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi yang lebih berat (Hayward et al, 2018).
c. Neuralgia pasca herpetik saraf kranial / Sindrom Ramsay-Hunt dan trigeminal
Pada masa kehamilan, meskipun reaktivasi virus herpes zoster umumnya tidak menyebabkan infeksi langsung pada janin, ibu hamil tetap berisiko mengalami komplikasi neurologis yang signifikan, seperti neuralgia pascaherpetik pada saraf kranial, termasuk sindrom Ramsay-Hunt dan neuralgia trigeminal. Sindrom Ramsay-Hunt tipe II terjadi akibat reaktivasi virus varicella-zoster pada ganglion genikulatum saraf fasialis (nervus kranialis VII), yang ditandai dengan kelumpuhan otot wajah unilateral, nyeri telinga, dan munculnya vesikel pada daun telinga atau saluran telinga eksternal (Jeon & Lee, 2018; Nelson-Piercy, 2020). Penatalaksanaan kondisi ini meliputi pemberian antivirus dosis tinggi, seperti asiklovir atau valasiklovir, yang sebaiknya diberikan dalam 72 jam sejak munculnya gejala, serta dapat dikombinasikan dengan kortikosteroid pada kasus sindrom Ramsay-Hunt. Selain itu, penggunaan
obat anti nyeri neuropatik seperti gabapentin atau pregabalin juga diperlukan untuk mengatasi nyeri jangka panjang akibat neuralgia pascaherpetik (Murakami et al., 2004; Jeon & Lee, 2018).
3) Derajat Berat
a. Herpes zooster diseminta
Pada ibu hamil, herpes zoster diseminata adalah bentuk komplikasi serius akibat reaktivasi virus varicella–zoster yang menyebar di luar satu dermatom atau menjadi sistemik melalui viremia. Berdasarkan data retrospektif terkini, meskipun infeksi HZ pada kehamilan jarang menyebabkan kelainan kongenital, bentuk diseminata meningkatkan beban morbiditas ibu (Schmader, 2018; Schafer et al., 2019). Infeksi ini ditandai oleh ruam vesikular yang melibatkan lebih dari dua dermatom, penyebaran luas melebihi 20 vesikel, atau munculnya gejala sistemik seperti demam, nyeri hebat, dan potensi keterlibatan organ dalam (Schmader, 2018; Schafer et al., 2019) Studi dari pusat rujukan menunjukkan bahwa viremia HZ dapat terjadi pada 1–4 kasus per 1 000 perempuan hamil, dengan komplikasi maternal antara lain pneumonia, hepatitis, atau ensefalitis—meskipun angka kejadian spesifik pada diseminata kehamilan masih jarang dilaporkan (Schmader, 2018) . Pengelolaan segera dengan antivirus dosis tinggi (misalnya asiklovir oral atau intravena) sangat penting dan dianggap aman bila dimulai dalam 72 jam sejak muncul ruam; tidak ditemukan efek teratogenik signifikan pada kehamilan. Selain itu, dukungan suportif seperti hidrasi, analgesik, dan pemantauan fungsi organ perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi sistemik dan mempercepat pemulihan ibu (Schafer et al., 2019; Xu et al., 2025) .
b. Herpes zooster ensefalitis
Pada ibu hamil, herpes zoster ensefalitis merupakan komplikasi neurologis berat akibat reaktivasi virus varicella zoster yang menyebar ke sistem saraf pusat melalui viremia atau jalur retrograd dari ganglion sensoris (Espiritu & Rich, 2007; StatPearls, 2021). Gejala klinis berupa demam, sakit kepala hebat, kebingungan, kejang, dan kesadaran menurun, ruam zoster mungkin tidak selalu muncul (Espiritu & Rich, 2007;
Kaewpoowat et al., 2016) Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan PCR terhadap cairan serebrospinal (CSF) yang menunjukkan DNA VZV, sementara pemeriksaan pencitraan otak dapat memperlihatkan tanda-tanda
inflamasi (Espiritu & Rich, 2007). infeksi sekunder seperti ensefalitis lebih sering terjadi pada pasien immunocompromised, sehingga aspek yang perlu diperhatikan pada kehamilan karena modulasi imun melahirkan kondisi rentan, terutama jika disertai komorbiditas seperti diabetes (Hayward et al., 2018; PMC, 2020) .Penatalaksanaan memerlukan pemberian asiklovir intravena dosis tinggi (5–10 mg/kgBB tiap 8 jam selama 10–14 hari), idealnya segera dimulai saat dugaan ensefalitis muncul, walau ruam belum jelas terlihat (Espiritu & Rich, 2007; PMC, 2020) Tambahan terapi suportif berupa kontrol kejang, stabilisasi cairan, dan pemantauan neurologis sangat penting untuk mengurangi morbiditas jangka panjang. Deteksi dini dan penatalaksanaan komprehensif khususnya saat terdapat infeksi sekunder sangat menentukan outcome pasien, terutama pada ibu hamil yang berisiko tinggi. Meski risiko pada janin relatif rendah, komplikasi maternal seperti ensefalitis tetap menuntut pendekatan multidisiplin, dengan kolaborasi antara dokter mata, neurolog, dan obstetri untuk memastikan keselamatan ibu dan janin (Hayward et al., 2018) .
c. Herpes zooster meningitis
Pada ibu hamil, Herpes Zoster Meningitis termasuk komplikasi sistem saraf pusat yang serius, meskipun tergolong jarang. Infeksi ini dapat terjadi melalui viremia atau jalur retrograd dari ganglion sensoris ke sistem saraf pusat, bahkan tanpa muncul lesi kulit khas (Schafer et al., 2019; Hayward et al., 2018). Gejala klinis mencakup demam, sakit kepala hebat, fotofobia, dan leher kaku seringkali menyerupai meningitis virus non-spesifik (Varicella-zoster meningitis in pregnancy case, 2021; Schmid et al., 2022). Diagnosis ditegakkan melalui deteksi DNA VZV di cairan serebrospinal menggunakan PCR, sedangkan pemeriksaan pencitraan otak biasanya tidak menunjukkan kelainan spesifik. Penyakit sistem saraf pusat seperti meningitis merupakan bentuk infeksi sekunder yang dapat terjadi pada pasien dengan respons imun yang berubah, termasuk selama kehamilan. Penatalaksanaan harus segera dimulai dengan aciclovir intravena dosis tinggi (5–10 mg / kgBB tiap 8 jam selama 10–14 hari), meskipun ruam belum muncul. Pendekatan ini terbukti aman bagi kehamilan dan mampu mencegah komplikasi neurologis jangka panjang.
Terapi suportif seperti penatalaksanaan kejang, hidrasi, dan pemantauan saraf juga esensial untuk meningkatkan hasil klinis dan mengurangi
morbiditas (Hayward et al, 2018).
J. Prognosis
Secara umum, prognosis herpes zoster pada ibu hamil tergolong baik, terutama bila diagnosis ditegakkan secara dini dan terapi antivirus diberikan dalam 72 jam pertama sejak munculnya lesi kulit. Hal ini berbeda dengan infeksi varisela primer pada kehamilan yang dapat menyebabkan komplikasi janin seperti sindrom varisela kongenital, herpes zoster jarang menimbulkan efek teratogenik karena merupakan reaktivasi virus yang sudah berada dalam tubuh dan tidak bersifat viremik sistemik seperti varisela primer (Schafer et al., 2019; Kennedy & Cohrs, 2021). Sebagian besar studi menunjukkan bahwa ibu hamil dengan herpes zoster mengalami perjalanan penyakit yang ringan hingga sedang, dengan risiko komplikasi janin yang sangat rendah (Xu et al., 2025). Meskipun demikian, komplikasi pada ibu seperti neuralgia pascaherpetik, infeksi sekunder, atau diseminasi masih dapat terjadi, terutama pada pasien dengan sistem imun terganggu atau keterlambatan terapi (Pupco et al., 2011; CDC, 2023). Oleh karena itu, meski prognosisnya menguntungkan, penting untuk tetap melakukan pemantauan ketat dan pengobatan yang tepat agar risiko jangka panjang terhadap ibu maupun janin dapat diminimalkan.
BAB III KESIMPULAN
1. Herpes zoster atau shingles adalah reaktivasi varicella zoster menetap di ganglion saraf sensorik setelah terjadinya infeksi varicella. Varicella atau yang dikenal sebagai cacar air, penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak sedangkan pada herpes zoster terjadi pada dewasa.
2. Gejala yang paling khas dari herpes zoster adalah lokalisasi dan distribusi ruam, yang unilateral dan umumnya terbatas pada area kulit yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Nyeri dan parestesia pada dermatom sering kali mendahului erupsi selama 1 hingga 3 hari, diikuti sensasi abnormal bervariasi dari rasa gatal, kesemutan, atau rasa terbakar.
3. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan menggunakan Tzank test pada fase erupsi vesikel yang menunjukkan gambaran multinucleated giant cells dan PCR untuk mendeteksi antigen / asam nukleat virus.
4. Tatalaksana meliputi 6 A yaitu Attract patient early (penilaian pasien sejak dini dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik), Assess patient fully (menilai pasien dengan lengkap berdasarkan pada kondisi khusus), Antiviral therapy, (pengobatan dengan antivirus), Analgesic (tatalaksana nyeri), Antidepressant dan anticonvulsant (pengobatan dengan antidepresan dan antikonvulsan pada kasus yang membutuhkan), Allay anxiety-counselling atau konseling kecemasan.
5. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain neuralgia pasca herpetik, herpes zooster oftalmicus, neuralgia pasca herpetik saraf kranial / Sindrom Ramsay-Hunt dan trigeminal, Herpes zooster diseminta, dan herpes zooster infeksi sekunder seperti ensefalitis dan meningitis. Prognosis herpes zoster pada ibu hamil tergolong baik, terutama bila diagnosis ditegakkan secara dini dan terapi antivirus diberikan dalam 72 jam pertama sejak munculnya lesi kulit.
DAFTAR PUSTAKA
Perdoski .2024. Panduan Praktik Klinis: bagi dokter spesialis, venerologi, dan estetika di Indonesia. Perdoski: Indonesia.
Schafer R, Davis M, Phillippi JC. 2019. Herpes zoster in pregnancy: diagnosis, management, and outcomes. J Midwifery Womens Health. 64(2):230–235.
Hayward K, Cline A, Stephens A, Street L, et al. 2018. Management of herpes zoster during pregnancy. Augusta Univ Res Profiles.