Meskipun pemilu 2009 dipenuhi calon anggota parlemen, presiden, dan wakil presiden yang menampilkan diri mereka dengan meminjam atribut selebriti/tokoh nasional/internasional dalam teks visual baliho, tren ini semakin marak pada pemilu 2019. Belum ada kebijakan publik yang merespons fenomena bahasa ‘kabur’ dalam kampanye iklan luar ruang calon anggota parlemen dan presiden pada Pemilu 2019. Pada tahun pertama, analisis difokuskan pada penguraian teks berupa baliho calon legislatif dan presiden. dan calon wakil presiden pemilu 2019, menggunakan pisau bedah teori semiotika sosial untuk mengurai teks visual.
Tahap ketiga merupakan integrasi dari tahap pertama dan kedua yang keluarannya adalah rekomendasi kebijakan publik untuk bahasa kampanye periklanan pada baliho calon presiden dan wakil presiden pemilu 2019. Bagian kedua akan membahas tentang politik branding baliho untuk legislatif kandidat dan calon presiden dan wakil presiden yang memposisikan baliho sebagai (a) artefak budaya/visual, (b) komoditas “pasar keliling” dalam konteks pemilu 2019 (yaitu baliho mewakili logika operasional pemasaran politik tingkat jalanan) ) , dan (c) alat kampanye yang tidak hanya mewakili kompleksitas wacana keberagamaan atau berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. Inklusivitas dalam wacana nasionalis berpotensi menimbulkan gesekan dalam wacana politik religiusitas di Indonesia (dalam hal ini pada masa kampanye pemilu 2019 – 23 September 2018 hingga 13 April 2019).
Pemilu 2019, Political Branding dalam Baliho dan Peraturan KPU tentang Kampanye Pemilu versus Etika Periklanan Indonesia
Ada 16 partai politik yang mengikuti Pemilu 2019, yaitu: PKB, GERINDRA, PDI PERJUANGAN, GOLKAR, NASDEM, GARUDA, BERKARYA, PKS, PERINDO, PPP, PSI, PAN, HANURA, DEMOKRAT, PBPB DAN. 13 Pasca putusan Mahkamah Konstitusi mengenai Presidential Threshold, seluruh partai politik mulai melakukan persiapan menghadapi pemilu, terutama dengan menentukan langkah koalisi untuk mencoba mengusung calon presiden dan wakil presiden. Sementara itu, partai pendukung Jokowi-JK yang tergabung dalam Koalisi Besar Indonesia (KIH) tidak memperoleh perolehan suara yang sama pentingnya dengan partai politik yang tergabung dalam koalisi KMP.
Parpol yang sebelumnya tergabung dalam Koalisi Merah Putih berubah haluan dengan mendukung pemerintah dan Joko Widodo pada Pilpres 2019. Seiring dengan kemenangan Jokowi pada tahun 2014, beberapa parpol masuk dalam koalisi ini, yaitu koalisi pendukung pemerintah, yakni Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di kubu penantang, Prabowo-Sandi didukung beberapa partai politik antara lain Demokrat, PKS, Gerindra, dan PAN.
State of the Art
Sedangkan penafsiran makna kata tidak boleh tertuang dalam peraturan yang terkesan otoriter, artinya makna (baca juga: pesan iklan) tidak boleh menyimpang dari tatanan. Oleh karena itu, sangat mendesak untuk merumuskan/mengembangkan rekomendasi kebijakan publik mengenai bahasa iklan pemilu berdasarkan kajian bahasa di media. Sementara itu, Leiliyanti (2013) membaca narasi konstruksi gambar caleg pemilu 2009 pada baliho menemukan bahwa gambar caleg pada baliho mewakili disposisi politik dan budaya, yakni memadukan dan menentang paham Islam dan nasionalis. tren politik di papan reklame.
Di sisi lain, citra dan komunikasi politik Prabowo dinilai kontra-hegemonik: bersifat impersonal, terpusat, hierarkis, dan masyarakat diposisikan pasif (dalam hubungan patron-klien). Selain itu, Salamah (2015, p. 166) menemukan bahwa sifat kampanye Jokowi vs Prabowo, yaitu partisipatif aktif vs mobilisasi massa, menjadi salah satu faktor yang diyakini turut berperan dalam meningkatkan popularitas Jokowi. Prabowo dalam pandangan Mietzner adalah sosok Muslim neo-otoriter yang tampil saleh, sedangkan Jokowi yang menolak eksklusivitas umat Islam, dalam pandangan Mietzner (2014, p. 120) adalah seorang Muslim yang taat.
Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah a. Rumusan Masalah
21 religiusitas, politik karakter dan platform politik dalam wacana kontestasi dan sintesis aliran politik nasionalis/Islam. Bagaimana mekanisme scaffolding konstruksi citra agar baliho tersebut mencerminkan kontestasi dan sintesa arus politik nasionalis/Islam dalam kerangka isu kepemimpinan, religiusitas, politik karakter serta platform politik calon presiden dan wakil presiden serta legislatif? caleg (citra caleg dijalin menjadi pencitraan politik kubu capres dan cawapres). Bagaimana para pemilih atau komuter yang melihat baliho mengonsumsi baliho dalam wacana kontestasi dan sintesis aliran politik nasionalis/Islam yang tidak lepas dari persoalan kepemimpinan, religiusitas, politik karakter, dan platform politik.
Agar lebih terfokus dan tepat sasaran, maka batasan permasalahan penelitian ini erat kaitannya dengan ruang lingkup penelitian yaitu kajian bahasa visual dan tulisan pada dua baliho calon legislatif dari masing-masing partai politik pemenang pemilu dan dua baliho untuk calon legislatif dari masing-masing partai politik pemenang pemilu dan dua baliho untuk calon legislatif dari masing-masing partai politik pemenang pemilu. pemilihan. calon presiden dan wakil presiden sebagai dasar pembuatan kajian teks (pada tahun pertama). Untuk menjawab permasalahan ini, penelitian studi lapangan tahun kedua akan membatasi wawancara pada calon legislatif peserta pemilu/pembuat iklan yang ditugaskan oleh calon legislatif, calon presiden dan wakil presiden (tahap produksi), dan pemilih di kedua kubu. Sedangkan penelitian tahun ketiga ini akan membedah peraturan perundang-undangan terkait kampanye pemilu 2019 serta Etika Periklanan Indonesia (EPI) untuk mengkaji inkonsistensi atau kontradiksi yang berpotensi menimbulkan keresahan (sebagaimana dibahas pada sub bagian Umum PKPU). Statuta KPU Nomor 20 Tahun 2018 dengan EPI).
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tahun kedua adalah membongkar mekanisme scaffolding produksi citra agar baliho mencerminkan kontestasi dan sintesa arus politik nasionalis/Islam dalam kerangka isu kepemimpinan, religiusitas, politik karakter, dan platform politik. calon presiden dan wakil presiden serta calon legislatif (citra calon legislatif dijalin dalam citra politik kubu calon legislatif calon presiden dan wakil presiden) dan mekanisme bagi pemilih atau komuter yang melihat baliho untuk mengonsumsi baliho. Pada Pilgub DKI Jakarta 2012, Prabowo dan Megawati mengusung Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Pada tahun 2003, perusahaan saat itu masih bernama PT Kiani Kertas yang dipimpin oleh Luhut Binsar Pandjaitan yang kemudian diangkat oleh Jokowi menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada tahun 2017.
Ma'ruf juga dianggap sebagai sosok yang disegani oleh kelompok Islam garis keras dan moderat. Pada tahun 2017, Ma'ruf Ruf menjadi salah satu tokoh utama yang akhirnya mengeluarkan fatwa penodaan agama. Bland (2019, p. 5) berpendapat bahwa pemilihan Ma'ruf juga didasarkan pada usia Ma'ruf. Terbukti pada 2017 ia mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur dari Partai Gerindra bersama Anies Baswedan.
Sistem Transitivitas Halliday
Hall dan Du Gay (1996, p. 4) menjelaskan bahwa identitas berfungsi sebagai 'proses 'menjadi' dan tidak menjelaskan 'siapa kita' atau 'dari mana kita berasal', namun identitas lebih berfokus pada akan menjadi siapa kita. dilakukan di masa depan. , bagaimana kita direpresentasikan dan bagaimana hal ini dapat menunjukkan cara setiap subjek akan mewakili dirinya sendiri. 33 Metafungsi tekstual merupakan gabungan dari metafungsi ideasional dan interpersonal, dan metafungsi ini memerlukan koherensi antara teks dan konteks agar pesan dan makna dapat tersampaikan kepada siapapun yang melihat atau mendengarnya (Halliday & Halliday dan Matthiessen (2004) juga mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara tema dan reme dalam metafungsi tekstual - mengacu pada informasi yang diberikan dan informasi baru dalam teks.
Semiotika Sosial
Baliho tersebut menampilkan slogan 'Romahurmuziy untuk Indonesia', sebuah proses relasional yang bermakna Romahurmuziy diproyeksikan sebagai senser pada suatu jabatan politik, yaitu presiden. Kesamaan identitas politik yang coba dibangun baliho-baliho tersebut menunjukkan bahwa Romy merupakan sosok yang coba dikaitkan dengan etos kerja Jokowi. Jika dikaitkan dengan atribut yang digunakan dalam baliho tersebut yakni penggunaan pakaian berwarna putih, maka hal ini ada kaitannya dengan warna baju yang juga digunakan Jokowi dalam kampanyenya.
Keterkaitan inilah yang menjadi landasan kampanye dan identitas politik yang coba dibangun Romy melalui baliho tersebut. Baliho tersebut menampilkan Pradia Handika Daryanes sebagai Humas dan merupakan calon legislatif dari Partai PPP. Panel tersebut juga menunjukkan bahwa PR melihat viewer secara langsung, meski dalam posisi terbalik.
Terdapat kalimat di baliho tersebut yaitu 'Negara kita kaya akan sumber daya alam dan manusia' yang merupakan sebuah proses relasional. Ada kemiripan slogan di baliho tersebut dengan slogan kampanye Partai PAN, yakni tulisan 'Rakyat' dan 'Umat'. Namun Djaali tidak tersenyum di baliho tersebut untuk menunjukkan pesona atau kewibawaan yang dimiliki PR terhadap penontonnya (Image Act yang dibangun seolah menunjukkan bahwa PR bukanlah sosok yang sederhana dan mudah tersenyum, melainkan tegas dan serius).
Kemudian warna yang digunakan pada baliho tersebut terdiri dari merah, putih, dan biru tua. Terlibat dalam upaya mewujudkan kebebasan dan kemandirian demokrasi sesuai logo PAN di baliho tersebut. Dalam baliho tersebut, AHY digambarkan mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan penonton (sudut medium juga digunakan untuk menunjukkan bahwa penonton dan AHY dekat (Harrison, 2003).
Ada tiga sosok di baliho tersebut, yakni Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, dan calon legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yakni Hj. Dalam baliho tersebut, Yora menatap suatu objek dan tidak memandang ke arah penonton (tindakan ini tidak memberikan kesan kedekatan antara penonton dan Yora). Warna yang tertera pada baliho tersebut adalah putih dan merah melambangkan partai pengusung Yor yakni Gerindra.
Beberapa calon legislatif dari koalisi Adil Makmur juga memasang sosok Prabowo - Sandi di balihonya. Selain itu, ideologi masing-masing parpol juga terpampang di baliho masing-masing calon legislatif.
Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
2017 The language of religious tolerance and political publicity approaches the gubernatorial election in DKI Jakarta in the social media. 2017 Religious, ethnic and political discursive competition in Aksi Bela Islam from the perspective of The Guradina, The New York Times and The Wall Street Journal.
Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir
Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No Nama Pertemuan
Reading the image of Islam after the Charlie Hebdo attack. The importance of multicultural education in shaping the character of students through the consideration of the curriculum Introduction to cultural studies. Representation and Symbolic Politics in Indonesia: An Analysis of Advertising in the 2009 Legislative Assembly Elections.
Representasi dan Politik Simbolik di Indonesia: Analisis Baliho Pemilu Legislatif 2009. Menulis Produksi dan Konsumsi Ujaran Kebencian Politik dan Agama pada Pemilu Presiden 2014 di Indonesia. 118 Segala informasi yang saya masukkan dan cantumkan dalam data pribadi ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Maka biodata ini saya buat untuk memenuhi salah satu syarat pengajuan Riset Kompetitif Pascasarjana. Apabila di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, saya siap dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang telah diterima ke kas negara.