PENDAHULUAN
Lat
Dengan kembalinya fungsi taman kota, maka taman kota dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh semua kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Hal ini dapat mempengaruhi kenyamanan orang lain dan membuat taman kota tidak dapat berfungsi secara maksimal.
Tuj
Ma
Observasi ini dimaksudkan untuk memperoleh data bagaimana remaja memanfaatkan taman kota Fort Rotterdam sebagai ruang terbuka hijau. Dokumentasi adalah proses pengumpulan data menggunakan kamera tentang bagaimana remaja memanfaatkan taman kota Fort Rotterdam.
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Bab ini menjelaskan kasus remaja yang memanfaatkan Taman Kota Fort Rotterdam di kawasan Kecamatan Ujung Pandang, Desa Bulogading. Suasana Taman Kota Fort Rotterdam Makassar tampak tenang pada sore hari tanggal 7 Maret 2017 pukul 16.20.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
Kajian Pustaka
- Konsep Perilaku Sosial
- Perilaku Menyimpang
- Remaja
- Taman Kota
Teori sosiologi perilaku berupaya menjelaskan hubungan historis antara akibat perilaku masa lalu yang terjadi di lingkungan aktor dan perilaku aktor yang terjadi saat ini. Artinya teori ini menjelaskan bahwa perilaku yang terjadi pada masa sekarang merupakan akibat dari perilaku yang terjadi pada masa lalu. Melalui bukunya Sociology: A Multiple Paradigm Science, George Ritzer sendiri mengungkapkan kebingungannya atas klaim bahwa dengan mengetahui apa yang diperoleh dari perilaku nyata di masa lalu, maka akan dimungkinkan untuk memprediksi apakah seorang aktor akan berperilaku sama (ulangi bahwa ) ) dalam situasi saat ini.
Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa semakin tinggi imbalan yang diterima, semakin besar kemungkinan perilaku tersebut akan terulang kembali. Demikian pula, semakin besar biaya atau ancaman hukuman yang diterima, semakin kecil kemungkinan perilaku serupa akan terulang kembali. Semakin sering suatu perilaku seseorang memberi penghargaan pada perilaku orang lain, maka semakin sering pula orang tersebut mengulangi perilaku tersebut.
Semakin bernilai perilaku orang lain yang ditujukan kepadanya, maka semakin besar peluang perilaku tersebut terulang kembali. Perbuatan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat disebut dengan perilaku menyimpang.
Kerangka Konseptual
CK sebelumnya menghabiskan waktu di Fort Rotterdam dan Fort Park bersama anak-anak MAPALA lainnya. Jika menilik Taman Fort Rotterdam, keberadaannya seolah menjadi salah satu cara untuk menciptakan perilaku sosial bagi pengunjungnya.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Dikatakannya bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Dari sudut pandang sosiologi, banyak teori yang dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab perilaku menyimpang. Di daerah seperti itu, perilaku menyimpang (kejahatan) dianggap sebagai sesuatu yang wajar, yang tertanam dalam kepribadian masyarakat.
Mekanisme proses pembelajaran perilaku menyimpang sama dengan proses pembelajaran hal-hal lain yang ada di masyarakat. Apabila suatu kelompok sosial mempunyai pola sikap dan perilaku yang menyimpang, maka besar kemungkinan kelompok tersebut juga akan menampilkan pola perilaku yang menyimpang. Perilaku menyimpang tersebut diciptakan oleh kelompok-kelompok berkuasa di masyarakat untuk melindungi kepentingannya.
Dalam masyarakat kita mengenal dua ciri perilaku menyimpang, yaitu perilaku menyimpang positif dan perilaku menyimpang negatif. Permasalahan utama menurut paradigma sosial adalah akibat atau perubahan faktor lingkungan yang menyebabkan perubahan perilaku individu yang terjadi dalam kaitannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan perilaku.
Lokasi Penelitian
Penentuan Informan
Fokus Penelitian
Sumber Data
Misalnya saja AD, remaja yang masih duduk di bangku SMA, mengaku sangat sering ke Taman Benteng. 50 Pertanyaan penulis selanjutnya adalah mengapa Taman Benteng ini menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh Masehi. Setiap malam kerja NRL mengunjungi Fort Park untuk bersantai menikmati hiruk pikuk Kota Makassar di malam hari.
Berbicara mengenai alasan memilih Fort Park sendiri, NRL mengaku mungkin saja masyarakat yang berkunjung ke taman kota ini memiliki alasan yang sama dengan beberapa informan sebelumnya. Namun hal seperti itu tidak terdapat di Taman Benteng yang menjadi salah satu alasan mengapa Taman Benteng banyak dikunjungi masyarakat di kota Makassar. Seperti yang diungkapkan salah satu informan, Taman Benteng bukanlah satu-satunya taman yang sering dijadikan tempat berkumpul.
Instrument Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Observasi ini dilakukan dengan cara peneliti berkunjung ke lokasi penelitian, kemudian melakukan observasi dan mencatat fenomena-fenomena yang diteliti di lokasi penelitian yaitu Taman Kota Fort Rotterdam, yang dilakukan secara singkat atau berulang-ulang secara informal untuk mendorong peneliti mengumpulkan sebanyak-banyaknya. informasi sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan masalah penelitian. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data ketika peneliti ingin mengetahui sesuatu tentang responden secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara mendalam yaitu dengan mengumpulkan sejumlah data dari informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang mengacu pada pedoman wawancara yang disusun secara sistematis agar data yang ingin diperoleh lebih lengkap dan valid. .
Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada informan secara lisan dan langsung (tatap muka), didukung dengan pedoman wawancara. Partisipatif merupakan kegiatan atau aktivitas dimana peneliti terlibat langsung dalam penelitian untuk memberikan kontribusi.
Teknik Analisis Data
- Validitas Data
Dengan demikian, keandalan data dan rangkaian peristiwa dapat terekam secara pasti dan sistematis, sehingga peneliti dapat mengecek kembali apakah data yang ditemukan salah atau tidak. Apabila tidak ditemukan data yang berbeda atau bertentangan maka data tersebut dapat dipercaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kecocokan data yang diambil dengan yang disediakan oleh penyedia data.
Jika penyedia data setuju dengan data yang ditemukan, maka kita dapat mengklaim bahwa data tersebut valid sehingga data tersebut lebih kredibel, begitu pula sebaliknya. Triangulasi Sumber, yaitu menguji kredibilitas data dengan cara memeriksa kembali data yang telah diperoleh dari berbagai sumber. Apabila ketiga teknik pengujian kredibilitas data menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data terkait untuk memastikan data mana yang benar.
Tahap Penelitian
Selama kurang lebih satu tahun, AF dan kawan-kawan menjadikan Fort Park sebagai tempat favorit mereka, dimana mereka menyaksikan berbagai bentuk perilaku pengunjung. AF dan kawan-kawan menuturkan, taman benteng selalu ramai hingga subuh, selain itu tidak ada batasan dalam mengemudikan bus. Saat berkunjung ke Taman Benteng, SMD mengaku tujuan utamanya hanya sekedar bersantai dan menyalurkan hobi fotografinya.
Untuk kenyamanan di dalam Taman Benteng ini sendiri menurut SMD cukup nyaman, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang yang berkunjung ke taman ini memiliki tujuan yang berbeda-beda, seperti para remaja masa kini misalnya, kebanyakan dari mereka memanfaatkan Taman Benteng ini sebagai tempat untuk bersantai. tempat sampai saat ini. Selama berada di taman benteng NRL, Anda menghabiskan waktu sekitar beberapa jam dan waktu berkunjung hanya sampai jam 10 malam. jam 8 malam Jika kita berbicara tentang perilaku afektif di Fort Park, kita bisa menemukan banyak hal yang kesemuanya tidak lepas dari perilaku menyimpang, yaitu perilaku yang tidak boleh terjadi di tempat umum.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Kasus Enam Remaja Penikmat Taman Kota
Berdasarkan rasa penasarannya tersebut, AD mengunjungi Benteng bersama teman-temannya dari rumah dan mengaku juga pernah membawa pacarnya untuk berkunjung, hingga saat ini Taman Benteng menjadi tempat yang sering ia kunjungi. Diakui remaja ini, dari dulu hingga sekarang, tujuan utamanya berkunjung ke Taman Benteng hanya untuk jalan-jalan, duduk-duduk dan bercerita bersama teman-teman berkunjungnya, siapapun mereka. SMD, 18 tahun, beralamat di Jalan Pakis, mengaku biasa pergi ke Taman Benteng seminggu sekali.
Soal keamanan taman benteng itu sendiri, AN mengaku aman meski banyak pengunjung yang datang untuk berkencan, minum alkohol dan merokok lem pada malam hari, serta polisi tidak pernah terlihat mengawasi taman kota tercinta tersebut. 56 tidak pernah mencoba mengajak pacarnya ketika mengunjungi taman ini, menunjukkan bahwa pertama kali dia diundang ke Fort Park oleh seorang teman, NRL hanya sangat menyukai taman ini setelahnya. Untuk pertanyaan selanjutnya penulis menanyakan tentang keamanan benteng itu sendiri, dari pernyataan sebelumnya diketahui ini adalah puncaknya.
Pembahasan
- Bentuk - Bentuk Perilaku Sosial Remaja di Taman Benteng
- Bentuk - Bentuk Perilaku Sosial Oleh Max Weber
- Alasan Remaja Memanfaatkan Taman Kota
Taman Benteng merupakan salah satu taman di Makassar yang paling banyak dikunjungi masyarakat khususnya remaja. Lokasinya dekat dengan Pantai Losari yang notabene merupakan pusat kesibukan kota Makassar dan tepat bersebelahan dengan bangunan tua Fort Rotterdam yang menjadi sebagian kecil alasan mengapa taman ini menjadi salah satu taman yang digemari masyarakat, walaupun letaknya keberadaannya relatif baru. Keberadaan taman ini lebih banyak dimanfaatkan oleh remaja pada malam hari untuk bercinta dengan pasangannya, walaupun terdapat perilaku lain namun hanya sebagian kecil saja, dan pada dasarnya Taman Benteng banyak dikunjungi oleh remaja yang membawa pasangan lawan jenisnya. Namun bagi para remaja yang ingin berperilaku semaunya dengan penuh kebebasan tanpa pengawasan dari pihak terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja, hal ini tentu menjadi insentif bagi mereka untuk memilih Benteng Park.
Sedangkan jika dilihat dari bentuk perilaku sosial Max Weber, hanya ada dua jenis perilaku yang ada di Rotterdam’s Fort Park, yaitu: perilaku rasional instrumental yang diekspresikan dalam perilaku positif dan perilaku afektif atau berorientasi pada emosi yang lebih terfokus pada perilaku negatif. . . Terdapat perbedaan persepsi di kalangan generasi muda mengenai Taman Kota Fort Rotterdam sebagai ruang terbuka hijau, yaitu: pertama; merasa bebas dari teguran sehingga remaja merasa lebih aman dalam berperilaku; Kedua; lokasi Fort Rotterdam memberikan tampilan klasik yang cocok sebagai objek wisata dan pemotretan, ketiga; Minimnya penerangan membuat para remaja lebih leluasa dalam bertindak atau berperilaku sebebas mungkin pada malam hari, dan yang terakhir tidak dipungut biaya apapun untuk mengunjungi taman ini sehingga para remaja yang sebenarnya tidak mempunyai penghasilan menjadikan taman benteng ini sebagai alternatif tempat orang-orang terdekat bersantai. Masyarakat atau pengunjung taman harus berperan aktif dalam meminimalisir perilaku abnormal dengan melaporkan kepada pihak berwajib jika melihat hal-hal yang dianggap mengganggu di Taman Benteng.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa remaja memanfaatkan Taman Kota Fort Rotterdam sebagai Ruang Terbuka Hijau dalam lima bentuk berdasarkan jawaban dan observasi enam informan, dua di antaranya sama. perilakunya yaitu: bercinta, berpesta pora, mengamen, berfoto, bertemu dan berbincang.
Saran