• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Karakterisasi Air Limbah Industri

N/A
N/A
budhi primasari

Academic year: 2025

Membagikan "Rencana Karakterisasi Air Limbah Industri"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Karakterisasi Air Limbah Industri

Semester Ganjil 2023/2024

TLI60216

Pengolahan Air Limbah Industri

(2)

Tujuan dari karakterisasi air limbah

industri

 untuk memperkirakan volume dan sifat aliran air dan air limbah, yang sangat penting untuk kepatuhan terhadap peraturan dan pengelolaan air limbah yang efektif

(3)

Rencana

Pengukuran Debit/Laju Alir

 Data laju alir sangat penting untuk memperkirakan karakteristik air limbah dan merancang sistem pengolahan.

 Data laju alir yang andal diperoleh dari pengukur laju alir yang ada, dan catatan aliran historis harus digunakan jika tersedia.

 Jika tidak ada pengukur laju alir , berbagai metode estimasi dapat digunakan, seperti kurva pompa, amperemeter sementara, atau mengukur waktu untuk mengisi wadah volume yang diketahui.

 Pengambilan sampel komposit proporsional laju alir

direkomendasikan untuk representasi kualitas air limbah yang akurat.

(4)

Rencana

Pengambilan Sampel dan Analisis

 Rencana pengambilan sampel harus dirancang berdasarkan persyaratan data tertentu.

 Pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan hemat biaya untuk pengelolaan air limbah awal, sedangkan pengambilan sampel sistematis lebih ketat dan digunakan untuk merancang sistem pengolahan.

 Pertimbangkan lokasi titik pengambilan sampel, jenis sampel, frekuensi, durasi, dan keselarasan dengan operasi pabrik.

 Jenis pengambilan sampel yang berbeda-beda: grab sampling, sampel komposit berbasis waktu, dan sampel komposit

proporsional laju alir.

(5)

Pengambilan Sampel yang Representatif

 :Pengambilan sampel harus dilakukan oleh personel yang terlatih untuk memastikan sampel yang representatif.

 Upaya-upaya harus dilakukan untuk mempertahankan konsentrasi padatan tersuspensi yang konsisten dalam sampel.

 Pemeriksaan kebersihan tabung sampel sangat penting untuk menghindari masuknya kotoran.

(6)

Analisis sampel

 :Berbagai metode, mulai dari alat uji lapangan hingga prosedur laboratorium yang rumit, dapat digunakan untuk analisis air limbah.

 Harus bisa diputuskan apakah akan menganalisis sampel secara internal atau menyewa laboratorium komersial independen.

 Kualifikasi laboratorium, sertifikasi, dan prosedur kontrol kualitas harus diverifikasi.

 Data harus ditinjau untuk menguji konsistensi, dan hasil yang meragukan harus segera ditangani.

(7)

Interpretasi Data

 Rata-rata dan deviasi standar dihitung untuk sekumpulan data, untuk membantu mengembangkan konsep pengelolaan air limbah.

 Manipulasi statistik mungkin diperlukan ketika merancang fasilitas pengolahan.

 Beban polutan harus dikaitkan dengan operasi fasilitas tertentu untuk memprediksi dampak perubahan tingkat pengolahan

(8)

Karakterisasi Toksisitas Air Limbah

Industri

 Undang-Undang Air Bersih mengatur pembuangan polutan beracun melalui izin NPDES.Uji toksisitas limbah secara

keseluruhan (Whole effluent toxicity =WET) mengukur toksisitas limbah akut dan kronis.

 Toksisitas dapat diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan konvensional atau pendekatan berbasis toksisitas, dengan

pendekatan yang terakhir lebih efisien.

 Pendekatan tahap I melibatkan berbagai metode pengolahan untuk mengkategorikan sifat zat beracun.

 Metode pengendalian toksisitas diidentifikasi, dievaluasi, dan diimplementasikan untuk mencapai tujuan toxicity reduction evaluation (TRE).

(9)

Studi Kasus TRE

 Contoh-contoh evaluasi pengurangan toksisitas (TRE) untuk

mengidentifikasi dan memecahkan masalah toksisitas disediakan, termasuk kasus-kasus yang melibatkan insektisida, bahan kimia proses, dan konsentrasi klorida.Informasi ini memberikan

gambaran umum tentang pentingnya mengkarakterisasi air limbah industri dan metode serta pertimbangan yang terlibat dalam proses karakterisasi.

(10)

Studi Kasus A:

Penghilangan Insektisida

Organofosfat dalam

Pengolahan Air Limbah

 Dalam studi kasus ini, seorang produsen insektisida menghadapi tantangan dalam menghilangkan insektisida organofosfat,

khususnya diazinon dan klorpirifos, dari air limbah industri mereka.

Perusahaan ini melakukan serangkaian uji kelayakan pengobatan dan evaluasi pengurangan toksisitas (TRE) untuk mengatasi

masalah ini.

 Identifikasi Masalah: Perhatian utama adalah adanya insektisida organofosfat dalam air limbah, yang membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

 Evaluasi Mekanisme Pengolahan: TRE menunjukkan bahwa adsorpsi padatan adalah mekanisme paling efektif untuk menghilangkan insektisida ini dari air limbah.

(11)

Studi Kasus A:

Efisiensi Adsorpsi:

Sekitar 30% dari diazinon dan 85 hingga 90% dari klorpirifos dalam sampel air influen adsorpsi pada padatan primer. Selain itu, 65 hingga 75% diazinon yang ditambahkan ke lumpur campuran

teradsorpsi pada biomassa, sementara klorpirifos teradsorpsi begitu kuat pada biomassa sehingga tidak ada yang tersisa setelah

perlakuan biologis.

Pengaruh MCRT (Mean Cell Residence Time):

Studi ini mengindikasikan bahwa MCRT yang lebih lama pada biomassa dapat menghasilkan penghilangan yang lebih efektif

terhadap insektisida organofosfat. Lebih banyak diazinon teradsorpsi dalam biomassa ber-MCRT 30 hari daripada dalam biomassa ber- MCRT 15 hari.

 Kasus ini menggarisbawahi pentingnya memahami mekanisme khusus untuk menghilangkan polutan dan mengoptimalkan proses pengolahan air limbah.

(12)

Studi Kasus B:

Dampak

Bahan Kimia Deklorinasi

pada Toksisitas Air Limbah

Dalam kasus ini, sebuah pabrik pengolahan air limbah industri

mengalami kegagalan yang tidak terduga dalam uji toksisitas air limbah setelah beralih ke bahan kimia deklorinasi baru dari pemasok yang berbeda.

1.Identifikasi Masalah: Fasilitas tersebut mulai gagal dalam uji toksisitas air limbah setelah mengganti bahan kimia deklorinasi.

2.Investigasi TRE: Konsultan melakukan TRE untuk mengidentifikasi sumber toksisitas.

3.Sumber Toksisitas: TRE mengungkapkan bahwa toksisitas terkait dengan bahan kimia deklorinasi. Ketika fasilitas tersebut beralih ke formulasi baru agen deklorinasi, masalah toksisitas terselesaikan.

4.Pelajaran yang Dipetik: Kasus ini menekankan pentingnya

mendapatkan informasi lengkap tentang bahan kimia yang dibeli, termasuk kontaminan potensial dan hasil uji toksisitas pada sampel produk. Memeriksa bahan kimia secara menyeluruh sebelum

digunakan dapat mencegah masalah kepatuhan lingkungan yang tidak terduga.

(13)

Studi kasus C:

Toksisitas Kronis Air

Limbah yang menmpunyai Konsentrasi Klorida yang Tinggi

Dalam kasus ini, air limbah berdampak toksisitas kronis pada C. dubia (kutu air), organisme yang sering digunakan sebagai penunjuk umum untuk menilai kualitas air. Uji identifikasi dan evaluasi toksisitas (TIE) awal tidak mengungkapkan penyebab toksisitas.

1.Identifikasi Masalah: Air limbah secara kronis beracun bagi C. dubia, tetapi uji TIE konvensional tidak mengidentifikasi sumber toksisitas.

2.Analisis Independen: Analisis independen terhadap air limbah mengungkapkan konsentrasi klorida yang tinggi.

3.Pengujian Air Limbah Tiruan: Air limbah tiruan disiapkan dengan mengulangi konsentrasi kation dan anion yang diamati dalam air

limbah sebenarnya, tetapi menggunakan air deionisasi sebagai pelarut.

Air limbah tiruan tersebut menunjukkan toksisitas yang sama dengan air limbah sebenarnya.

4.Konfirmasi Toksisitas: Data toksisitas laboratorium untuk natrium klorida mengonfirmasi bahwa tingginya konsentrasi klorida dalam air limbah memengaruhi reproduksi C. dubia pada konsentrasi yang

menyebabkan efek.

Kasus ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan sumber toksisitas yang tidak biasa dan melakukan penilaian komprehensif, termasuk penggunaan pengujian dengan air limbah tiruan, untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab akar toksisitas air limbah dalam pembuangan air limbah.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi biogas yang dalam peralatan modifikasi digester secara fed batch dari pengolahan air limbah industri minyak kelapa

Penelitian ini menyajikan hasil karakterisasi fisik dan kondisi operasi serta pengukuran kinerja suatu IPAL industri pangan, serta optimasi proses IPAL yang

Aktivitas industri di Kecamatan Kebakkramat yang menghasilkan limbah cair pada umumnya mengalirkan air limbahnya ke aliran sungai, yang kemudian menyebabkan

Maksud penelitian ini adalah mengolah air limbah industri penyamakan kulit dengan proses Koagulasi-Flokulasi, dengan tujuan yaitu: mengetahui konsentrasi parameter pencemar pada

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Penyamakan Kulit Kabupaten Magetan agar air limbah yang

Polusi air yang tejadi di Kalikabong 33,33% berasal dari limbah industri, 47,62% limbah rumah tangga dan 19,04% berasal dari limbah perkotaan. Menurut lembaga kajian ekologi

Polusi air yang tejadi di Kalikabong 33,33% berasal dari limbah industri, 47,62% limbah rumah tangga dan 19,04% berasal dari limbah perkotaan. Menurut lembaga kajian ekologi

Teknologi online monitoring kualitas air ini dipasang di outlet air buangan dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) industri-industri yang menuju ke badan sungai,