REPORTASE PENCEMARAN TANAH
DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH DETERJEN TERHADAP KUALITAS TANAH DAN KESEHATAN MANUSIA DI KABUPATEN
SUKABUMI
Mata Kuliah
Pencemaran dan Kesehatan Lingkungan
Dosen : Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc.
Disusun Oleh:
Rahmat Hidayat (P0502241047)
ILMU PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN IPB UNIVERSITY
2024
LATAR BELAKANG
Menurut Naufal dan A’yun (2024), Pencemaran tanah merupakan salah satu masalah lingkungan yang signifikan dan sering kali diabaikan, terutama di daerah perdesaan yaitu di kabupaten Sukabumi. Salah satu sumber pencemaran tanah yang umum tetapi kurang disadari adalah limbah deterjen. Limbah ini, yang berasal dari kegiatan rumah tangga sehari-hari seperti mencuci pakaian dan peralatan dapur, mengandung bahan kimia yang dapat berbahaya bagi ekosistem tanah serta kesehatan manusia. Pencemaran tanah di pedesaan umumnya disebabkan oleh penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan, serta pembuangan limbah domestik dan industri secara sembarangan. Pencemaran ini dapat menurunkan kesuburan tanah, mencemari tanaman yang tumbuh di atasnya, dan berpotensi merusak ekosistem tanah.
Larutan deterjen merupakan air deterjen sintesis yang digunakan masyarakat untuk mencuci. Pemakaian deterjen ini meningkat setiap tahun. Pertambahan penduduk dengan segala aktivitasnya yang sedemikian pesat telah mengakibatkan peningkatan jumlah limbah yang dibuang ke perairan. Masyarakat cenderung menggunakan deterjen untuk mencuci dengan takaran yang dibuat sendiri, tanpa melihat takaran yang sudah sesuai pada kemasannya. Sehingga ini akan mengakibatkan pencemaran air dan bahkan pencemaran tanah (Kustiyaningsih dan Irawanto 2020).
Limbah deterjen mengandung senyawa kimia seperti fosfat, surfaktan, dan bahan pemutih yang berpotensi merusak struktur tanah serta mengganggu keseimbangan mikroorganisme penting di dalamnya. Fosfat dapat memicu eutrofikasi yang menyebabkan pertumbuhan alga berlebihan di perairan, sementara surfaktan dapat menghambat kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi.
Dampak ini berujung pada penurunan kualitas tanah, gangguan produktivitas pertanian, dan ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Di wilayah perdesaan, di mana kesadaran dan pemahaman tentang dampak limbah deterjen sering kali masih rendah, masalah ini menjadi semakin serius. Banyak warga mungkin tidak menyadari bahwa cara mereka membuang limbah deterjen dapat merusak lingkungan di sekitar mereka.
PEMBAHASAN Sumber Polutan
Pengelolaan air limbah domestik baik itu greywater dan blackwater di Kabupaten Sukabumi terutama di daerah perdesaan biasanya menggunakan cara- cara manual yakni dibuang langsung ke sungai tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Penggunaan deterjen yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencuci pakaian tanpa takaran yang sesuai merupakan sumber polutan dari pencemaran tanah. Adanya penumpukan bahan kimia seperti fosfat dan surfaktan dapat merusak struktur tanah dan mengurangi ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Menurut Achmad (2024), deterjen yang berasal dari rumah tangga merupakan sumber Fosfat yang
umum dalam air limbah, dan untuk mengontrol eutrofikasi dikonsentrasikan pada eliminasi Fosfat dalam deterjen, mengeluarkan Fosfat pada proses pengolahan air buangan limbah, dan mencegah termuatnya Fosfat dalam aliran air buangan dari berbagai badan air. Eutrofikasi merupakan suatu fenomena yang sering terjadi, yang merupakan dasar dari pembentukan deposil yang berlimpah dari batu bara dan tanah-tanah yang subur, dimana kegiatan manusia dapat meningkatkan proses tersebut dengan cepat. Kandungan kimia ini dapat bertahan lama di dalam tanah dan menurunkan kualitas tanah secara keseluruhan.
Polutan
Deterjen umumnya tersusun atas tiga komponen utama, yaitu surfaktan (sebagai bahan dasar deterjen), bahan builders (senyawa fosfat) dan bahan aditif (pemutih dan pewangi). Komponen terbesar dari deterjen yaitu bahan builders berkisar 70-80%, bahan dasar (surfaktan) berkisar 20-30%, dan bahan aditif relatif sedikit yaitu antara 2-8%. Berdasarkan bahan dasar (surfaktan), deterjen dibedakan menjadi empat kelompok besar yaitu deterjen nonionik, kationik, anionik dan amphoterik (Sawyer dan Carty 1978). Jenis surfaktan yang umumnya digunakan pada deterjen adalah tipe anionik dalam bentuk sulfat (SO42-) dan sulfonat (SO3-).
Berdasarkan rumus bangun kimianya, deterjen golongan sulfonat dibedakan menjadi jenis bercabang yaitu Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dan jenis rantai lurus adalah Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS). Senyawa ABS mempunyai sifat lebih sukar diuraikan oleh mikroorganisme dibandingkan dengan senyawa LAS. Hal ini disebabkan karena senyawa ABS mempunyai rantai alkyl yang bercabang banyak, sedangkan senyawa LAS rantai alkilnya lurus sehingga lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Di negara maju, perubahan komposisi deterjen dilakukan dengan mengganti ABS dengan LAS. Karena ABS merupakan rantai cabang di dalam negeri juga sudah terdapat kecenderungan mengganti ABS dengan LAS, namun karena harganya lebih mahal LAS hanya digunakan sebagai campuran sedangkan bagian terbesarnya masih menggunakan ABS (Sopiah dan Chaerunisah 2006).
Surfaktan adalah zat aktif permukaan air yang bersifat hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka lemak). Builder berfungsi untuk meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral terhadap kesadahan air, seperti polifosfat, natrium karbonat atau natrium silikat dan alumino silikat. Filter (pengisi) merupakan bahan tambahan deterjen yang berfungsi untuk menyatukan agar harga murah. Additives sebagai bahan tambah untuk membuat menarik minat pembeli misal pewangian, pelarut, pemutih, pewarna dan lainnya (Myers 2006).
Medium Transport
Pencemaran tanah memiliki hubungan erat dengan pencemaran udara dan air, karena sumber pencemaran udara dan air sering kali juga menjadi penyebab utama pencemaran tanah. Gas-gas seperti oksida karbon, oksida nitrogen, dan oksida belerang yang mencemari udara dapat larut dalam air hujan dan menghasilkan hujan asam, yang kemudian meresap ke dalam tanah dan merusak struktur serta kualitasnya. Selain itu, air permukaan yang tercemar oleh berbagai bahan
berbahaya, seperti zat radioaktif, logam berat dari limbah industri, sampah rumah tangga, limbah rumah sakit, sisa pupuk dan pestisida dari kegiatan pertanian, serta limbah deterjen, juga menjadi medium transport yang signifikan dalam proses pencemaran tanah (Muslimah 2015). Limbah deterjen, misalnya, mengandung senyawa kimia seperti surfaktan dan fosfat yang terbawa melalui air permukaan atau meresap bersama air ke dalam lapisan tanah. Dalam mekanismenya, senyawa- senyawa ini dapat mengikat partikel tanah dan memengaruhi keseimbangan kimia di dalamnya, sehingga mengganggu kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan aktivitas mikroorganisme. Ketika air yang terkontaminasi deterjen meresap ke dalam tanah, bahan kimia tersebut dapat terakumulasi di lapisan tanah, menyebabkan degradasi kualitas tanah yang berujung pada penurunan produktivitas pertanian dan meningkatnya risiko pencemaran pada sumber air bawah tanah. Hal ini menunjukkan bahwa limbah deterjen tidak hanya berdampak langsung pada air, tetapi juga memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kualitas tanah dan lingkungan secara keseluruhan.
Target
Deterjen selain mempunyai dampak positif juga dapat berdampak negatif baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari bahan pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yang ada pada permukaan kulit dan meningkatkan permebialitas permukaan luar.
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan kimia dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi sedang pada kulit. Surfaktan kationik bersifat toksik jika tertelan dibandingkan dengan surfaktan anionik dan nonionik. Sisa bahan surfaktan yang terdapat dalam deterjen dapat membentuk chlorbenzene pada proses klorinasi pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa yang bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan (Muslimah 2015).
Surfaktan yang terkandung dalam deterjen dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas tanah. Senyawa ini bersifat aktif secara kimiawi, sehingga dapat mengganggu struktur tanah dan keseimbangan biologisnya. Ketika surfaktan terbawa oleh air permukaan atau meresap ke dalam tanah, senyawa ini dapat menurunkan tegangan permukaan air, yang pada gilirannya memengaruhi kemampuan tanah untuk mempertahankan air dan nutrisi. Akibatnya, tanah kehilangan kapasitas alaminya untuk menyerap dan menyimpan air secara optimal, sehingga berdampak pada ketersediaan air bagi tanaman. Selain itu, surfaktan dapat mengganggu aktivitas mikroorganisme penting di dalam tanah, yang berperan dalam dekomposisi bahan organik dan siklus nutrisi. Dalam jangka panjang, keberadaan surfaktan dapat menyebabkan penurunan kesuburan tanah, mempercepat degradasi lahan, dan berdampak buruk pada produktivitas pertanian serta kesehatan ekosistem tanah secara keseluruhan.
Builders berupa zat pemutih dan pewangi menurut hasil riset organisasi konsumen Malaysia (CAP) pemutih dapat menimbulkan kanker pada manusia dan pewangi lebih banyak merugikan konsumen karena bahan ini membuat makin tingginya biaya produksi, sehingga harga jual produk semakin mahal. Padahal zat pewangi tidak ada kaitannya dengan kemampuan mencuci. Senyawa fosfat sebagai zat additive digunakan oleh semua merek deterjen memberikan andil yang cukup besar terhadap terjadinya proses eutrofikasi yang menyebabkan booming algae (meledak nya populasi tanaman air). Deterjen tidak dapat diuraikan dalam jangka waktu lama dalam kondisi perairan alamiah sehingga deterjen adalah zat yang persisten. Oleh karena tidak terdapat mekanisme alamiah yang dapat menguraikan zat tersebut, maka akan terjadi terakumulasi dalam badan air. Deterjen juga menimbulkan busa di perairan yang tidak dapat diterima oleh estetika dan menimbulkan kesulitan dalam pengolahan air. Deterjen dapat menghambat proses pengolahan air dan air buangan, dapat menurunkan efisiensi tangki sedimentasi, menghambat kerja pada grease removal (Schlegel dan Schmidt 1995). Dalam air minum deterjen dapat menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak serta mengganggu kesehatan manusia.
Menurut Iskandar et al. (2018), tanah yang terkontaminasi limbah deterjen mengalami penurunan pH, peningkatan kandungan logam berat, dan penurunan kesuburan tanah. Hal ini mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian masyarakat perdesaan.
Limbah deterjen yang meresap ke dalam tanah dapat mencapai air tanah, mencemari sumber air yang digunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari- hari. Terlebih lagi limbah deterjen yang terbuang ke tanah mengandung bahan kimia berbahaya seperti fosfat, surfaktan, dan bahan pemutih yang dapat merusak struktur dan kualitas tanah. Di daerah perdesaan, di mana pengelolaan limbah belum optimal, limbah deterjen menyebabkan penurunan kesuburan tanah, gangguan pada mikroorganisme tanah, dan berkurangnya kesehatan tanaman.
Selain itu, terdapat korelasi antara pencemaran tanah dengan meningkatnya masalah kesehatan masyarakat, termasuk penyakit kulit dan gangguan pernapasan. Kesadaran masyarakat mengenai bahaya limbah deterjen masih rendah, sehingga diperlukan edukasi dan penerapan strategi pengelolaan limbah yang lebih baik (Naufal dan A’yun 2024).
DAFTAR PUSTAKA
Achmad R. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi.
Iskandar D, Sari WA, Rahmawati E. 2018. Dampak limbah deterjen terhadap kualitas tanah dan upaya pengelolaannya. Jurnal Ilmu Lingkungan.
12(2):45-56.
Kustiyaningsih E, Irawanto R. 2020. Pengukuran total dissolved solid (TDS) dalam fitoremediasi deterjen dengan tumbuhan sigittarria lancifolia. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan. 7(1):143-148.
Muslimah. 2015. Dampak pencemaran tanah dan langkah pencegahan.
Agrisamudra. 2(1):11-20.
Myers D. 2006. Surfactant Science and Technology. Kluwer Academic Pulb.
Naufal BS, A’yun DQ. 2024. Analisis dampak pencemaran tanah akibat limbah deterjen terhadap lingkungan hidup masyarakat di daerah pedesaan. Student Research Journal. 2(3): 231-235.
Sawyer CN, Carty MC. 1978. Chemistry for Environmental Engineering. New York (US): Mc Graw-Hill, Inc.
Schlegel HG, Schmidt K. 1995. Mikrobiologi Umum. Bagarkoro T, Wattimena JR, penerjemah. Yogyakarta: UGM Press.
Sopiah RN, Chaerunisah. 2006. Laju degradasi surfaktan linear alkil benzena sulfonat (LAS) pada limbah deterjen secara anaerob pada reaktor lekat diam bermedia sarang tawon. Jurnal Teknik Lingkungan. 7(3):243-250.