• Tidak ada hasil yang ditemukan

Repositori Institusi | Universitas Kristen Satya Wacana: Tindak Pidana Dengan Sengaja Atau Atas Persetujuan Dirinya Menjadi Objek Atau Model Yang Mengandung Muatan Pornografi Dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Repositori Institusi | Universitas Kristen Satya Wacana: Tindak Pidana Dengan Sengaja Atau Atas Persetujuan Dirinya Menjadi Objek Atau Model Yang Mengandung Muatan Pornografi Dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka Tindak Pidana Dengan Sengaja Atau Atas Persetujuan Dirinya Menjadi Objek Atau Model Yang Mengandung Muatan Pornografi Dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat

Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana. Pembentuk undang-undang menggunakan perkataan “strafbaar feit” untuk menyebutkan “tindak pidana” didalam kitab undang-undang hukum pidana. Perkataan “feit” dalam bahasa Belanda berarti

“sebagian dari suatu kenyataan” sedangkan “straftbaar” berarti “dapat dihukum”, sehingga secara harfiah, perkataan “strafbaar feit” itu dapat diterjemahkan sebagai “sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum”, sifat penting dari tindak pidana “strafbaar feit” ialah onrechtmatigheid atau sifat melanggar hukum dari suatu perbuatan.13

Kata “strafbaar feit” diartikan lebih khusus oleh Evi Hartanti, yaitu dalam bahasa Belanda, “strafbaar feit” terdapat dua unsur pembentuk kata, yaitu

“strafbaar” dan feit. Kata feit dalam bahasa belanda diartikan sebagaian dari kenyataan, sedang “strafbaar” berarti dihukum, sehingga secara harafiah, kata

“strafbaar feit” berarti sebagagian dari kenyataan yang dapat dihukum.14

13Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Cetakan Pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal. 23.

14Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hlm.5.

(2)

18

Teori monistis banyak diikuti oleh beberapa ahli hukum pidana Belanda dan beberapa ahli hukum pidana di Indonesia, misalnya menurut van Hamel bahwa tindak pidana merupakan kelakuan manusia yang dirumuskan dalam Undang-undang, melawan hukum, yang patut dipidanadan dilakukan dengan kesalahan.15

Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang kongkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat.16

Untuk lebih jelasnya, Simons menyebutkan adanya unsur objektif dan unsur subjektif dari tindak pidana (strafbaar feit). Unsur objektif antara lain : perbuatan orang, akibat yang kelihatan dari perbuatan itu, mungkin ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat openbaar atau

“di muka umum”. Sedangkan unsur subjektif: orang yang mampu bertanggung jawab, adanya kesalahan (dollus atau culpa). Perbuatan harus dilakukan dengan kesalahan, kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan.17

Menurut Teguh Prasetyo, jika dilihat berdasarkan rumusan yang ada maka delik (strafbaar feit) memuat beberapa unsur yaki :18 Suatu perbuatan manusia;

15Andi Zainal AbidinFarid dan Andi Hamzah, Pengantar dalam Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Pertama, Yarsif Watampone, Jakarta, 2010, hlm.117.

16Sofjan Sastrawidjaja, Hukum Pidana, Cetakan Pertama, Armico,1990, hlm.9.

17Ismu Gunadi dan Jonaedi Efendi, Cepat & Mudah Memahami Hukum Pidana, Cetakan Pertama, Kencana Prenadamedia Group, 2014, hlm. 39-40.

18Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Cetakan ke-7, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

(3)

19

Perbuatan itu dilarang dan diancam dengan hukuman oleh Undang-undang; dan Perbuatan itu dilakukan oleh orang yang dapat di pertanggung-jawabkan.

Hukum Pidana pada umumnya memiliki d unsur-unsur yang terdiri dari unsur subjektif dan unsur objektif. Unsur-unsur subjektif tindak pidana adalah:

Kesengajaan (dolus) atau ketidaksengajaan (culpa); Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau poging; Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain-lain; Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachteraad yang terdapat dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP; Perasaan takut yang antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.

Unsur objektif tinndak pidana itu meliputi :19 a). Perbuatan manusia terbagi atas perbutan yang bersifat positf dan bersifat negatif yang menyebabkan suatu pelanggaran pidana. Sebagai contoh perbuatan yang bersifat positif yaitu pencurian (Pasal 362 KUHP), penggelapan (Pasal 372 KUHP), pembunuhan (Pasal 338 KUHP), dan sebagainya. Sedangkan contoh perbuatan negatif yaitu tidak melaporkan kepada pihak yang berwajib padahal dia mengetahui ada komplotan untuk merobohkan negara (Pasal 165 KUHP), membiarkan orang dalam keadaan sengsara, sedangkan ia berkewajiban memberikan pemeliharaan kepadanya (Pasal 304 KUHP). Terkadang perbuatan positif dan negatif terdapat dengan tegas di dalam norma hukum pidana yang dikenal dengan delik formil.

Dimana pada delik formil yang diancam hukuman adalah perbuatannya seperti

2011,hlm.48.

19R. Soesilo, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Cetakan ke-1, Karya Nusantara,Sukabumi,1984. hal.27.

(4)

20

yang terdapat pada Pasal 362 KUHP dan Pasal 372 KUHP, sedangkan terkadang pada suatu pasal hukum pidana dirumuskan hanya akibat dari suatu perbuatan saja diancam hukuman, sedangkan caramenimbulkan akibat itu tidak diuraikan lebih lanjut, delik seperti ini disebut sebagai delik materil yang terdapat pada Pasal 338 KUHP. b). Akibat perbuatan manusia, yaitu akibat yang terdiri atas merusaknya atau membahayakan kepentingan-kepentingan hukum, yang menurut norma hukum pidana itu perlu ada supaya dapat dipidana. Akibat ini ada yang timbul seketika bersamaan dengan perbuatannya, misalnya dalam pencurian hilangnya barang timbul seketika dengan perbuatan mengambil, akan tetapi ada juga bahwa akibat itu timbulnya selang beberapa waktu, kadang-kadang berbeda tempat dan waktu dari tempat dan waktu perbuatan itu dilakukan misalnya dalam hal pembunuhan, perbuatan menembak orang yang dibunuh misalnya telah dilakukan pada tempat dan waktu yang tertentu, akan tetapi matinya (akibat) orang itu terjadi baru selang beberapa hari dan di lain tempat. c.)Keadaan-keadaannya sekitar perbuatan itu, keadaan-keadaan ini biasa terdapat pada waktu melakukan perbuatan, misalnya dalam Pasal 362 KUHP keadaan: ”bahwa barang yang dicuri itu kepunyaan orang lain” adalah suatu keadaan yang terdapat pada waktu perbuatan “mengambil” itu dilakukan, dan bisa juga keadaan itu timbul sesudah perbuatan itu dilakukan, misalnya dalam Pasal 345 KUHP, keadaan : “jika orang itu jadi membunuh diri” adalah akibat yang terjadi sesudah penghasutan bunuh diri itu dilakukan. d). Sifat melawan hukum dan sifat dapat dipidana. Perbuatan itu melawan hukum, jika bertentangan dengan undang-undang. Pada beberapa norma hukum pidana unsur “melawan hukum” ini dituliskan tersendiri dengan

(5)

21

tegas di dalam satu pasal, misalnya dalam Pasal 362 KUHP disebutkan: “memiliki barang itu dengan melawan hukum (melawan hak)”. Sifat dapat dipidana artinya bahwa perbuatan itu harus diancam dengan pidana, oleh suatu norma pidana yang tertentu. Sifat dapat dipidana ini bisa hilang, jika perbuatan itu, walaupun telah diancam pidana dengan undang-undang tetapi telah dilakukan dalam keadaan- keadaan yang membebaskan misalnya dalam Pasal-Pasal 44, 48, 49, 50 dan 51 KUHP.

Istilah Pornografi berasal dari bahasa yunani yaitu porne yang artinya pelacur dan graphein yang artinya ungkapan. Pornografi merupakan perbuatan yang tidak senonoh atau cabul yang dituangkan dalam gambar atau tulisan, yang dalam arti luas termasuk benda atau patung yang artinya menunjukan atau menggambarkan sesuatu yang bersifat asusila atau menyerang rasa sesusilaan masyarakat. Pornografi dan pornoaksi merupakan perbuatan yang berdampak negatif terhadap generasi muda. Anak-anak dan perempuan banyak yang menjadi korban, baik sebagai korban murni atau sebagai “pelaku sebagai korban”. Karena itu pornografi dan pornoaksi dikategorikan sebagai perbuatan pidana.20

Pornografi menjadi suatu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia pada era globalisasi, karena perkembangan pornografi bukan hanya terjadi dalam kehidupan social masyarakat, bahkan penyebaran secara luas didunia maya terus menjadi suatu hal yang sangat wajar bagi sebagian masyarakat.21 Dalam Kitab

20Neng Jubaedah, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Perspektif Negara Hukum Berdasarkan Pancasila, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, hlm.3

21Suratman dan Andri Winjaya Laksana, Analisis Yuridis Penyidikan Tindak Pidana Pornografi Berdasarkan Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2008 Di Era Digitalisasi’’, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol. 1, No. 2, Mei - Agustus 2014, hlm.2

(6)

22

Undang-undang Hukum Pidana menjelaskan bahwa Pornografi merupakan kehjahatan yang termasuk golongan tindak pidana melanggar kesusilaan yang diatur dalam pasal 282 sampai 283 KUHP. Sehingga penafsiran mengenai makna pornografi terjadi perubahan yang menggeser makna dari kata tersebut.

Pergeseran tersebut dikarenakan perkembangan teknologi yang seharusnya mengubah penafsiran terhadap unsur delik pornografi.

Salah satu ketentuan yang mengatur tentang pornografi dalam delik kesusilaan, yaitu dalam Pasal 282 KUHP. Rumusan unsur-unsur tindak pidana dalam Pasal 282 ini dapat digunakan untuk menjerat tindak pidana pornografi yaitu sebagai berikut: Menyiarkan; Mempertunjukan atau menempelkan di muka umum, tulisan, gambaran atau benda, yang telah diketahui isinya dan yang melanggar kesusilaan; Memasukannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya keluar negeri; atau Mempunyainya dalam persediaan; dan Menjadikan hal tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan

Tindak pidana yang diatur dalam pasal 282 ayat (2) pada dasarnya memiliki kesamaan dengan apa yang menurut pasal 282 ayat(1) KUHP, kecuali unsur subjektifnya, yakni karena karena tindak pidana yang diatur dalam pasal 282 ayat (2) hanya mensyaratkan adanya unsur culpa pada diri pelaku. Hal ini terbukti dengan dipakainya kata-kata yang sepantasnya harus diduga dalam rumusan tindak pidana tersebut.22

22Vera Rimbawani Sushanty, Pornografi Dunia Maya Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Pornografi dan Undang-Undang Informasi Elektronik, Jurnal Gagasan Hukum Tahun Ke 1 No. 1 Juni 2019, hlm 13.

(7)

23

Dalam buku Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi disebutkan dengan jelas dan atau terang. Pengertian pornografi adalah penggambaran tingkahlaku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi atau bahan-bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi.23

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan dimuka umum yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.24

Tindak pidana pornografi menyerang nilai-nilai akhlak dan moral kesusilaan umum. Sama artinya menyerang kepentingan hukum atas rasa ketentraman atau kedamaian batin bidang kesusilaan umum. Pelanggaran terhadap nilai-nilai kesusilaan, merupakan serangan dan gangguan terhadap ketentraman atau kedamaian batin setiap individu pendukungnya. Dengan demikian juga sekaligus merupakan penyerangan terhadap kepentingan hukum negara.25

Pornografi merupakan salah satu bentuk kejahatan kesusilaan yang harus menjadi permasalahan pokok bagi pemerintah untuk mengatasinya. Karena semakin maraknya masalah erotisme dan sensualitas yang merupakan bagian dari pornografi.

23Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, edisi keempat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 1094.

24Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2008, Tentang Pornografi, Kesindo Utama, Surabaya, 2009, hlm.2.

25Adami Chazawi, Tindak Pidana Pornografi, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hlm. 6-7.

(8)

24

Menurut pasal 27 ayat (1) Undang-undang nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE diatur dalam Bab VII mengenai perbuatan yang dilarang, pasal 27 ayat (1) setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Menurut pasal tersebut, memberikan perlindungan hukum terhadap masyarakat yang berhubungan dengan tindak pidana pornografi.

Objek atau model atau pelaku tindak pidana pornografi dalam UU pornografi ini masih memiliki kejanggalan dalam menentukan pelaku tindak pidana pornografi terkait sebagaimana yangdiatur pada pasal 8,9, dan 11 UU Pornografi, pasal 8 mengatur “setiap orang dilarang dengan sengaja atau persetujuan dirinya menjadi model yang mengandung muatan pornografi. Kemudian pasal 9 menyebutkan bahwa “setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagai objek atau model mengandung muatan pornografi”. Kemudian menurut pasal 11 menyebutkan bahwa “setiap orang dilarang melibatkan anak dalam kegiatan dan atau sebagai objek pornografi”.26

Unsursengajadalampasal 8 disebutkandengankalimat “dengansengaja”.

Unsuritumerupakanunsursubjektif. Unsursubjektif yang berpegaruh pada penentuanpelakutindakpidanapornografiuntukpertanggungjawabanpidananyadim anadalampemeriksaan di depan sidang, Jaksa Penuntut Umum wajib

26Sinaga Erinda, Tinjauan Pertanggungjawaban Pelaku Tindak Pidana Pornografi Menurut Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, Jurnal Ilmu Hukum Volume 8 No. 4, Oktober-Desember 2014, hlm 704

(9)

25

membuktikan bahwa pelaku memenuhi unsur “dengan sengaja” (doluspzet/atau kesengajaan) tersebut.

Untuk mengetahui unsure dengan sengaja maka harus terdiri dari beberapa bagian yaitu: Adanya niat atau kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan kejahatan tertentu; Adanya perbuatan permulaan; Perbuatan yang melanggar hukum; dan Adanya akibat dari perbuatannya.

Unsur yang berdasarkan pasal 34 adalah perbuatan yang Sama pada pasal 8 Undang-undang Pornografi. Apabila rumusan pasal 34 Jo pasal 8 Undang-undang No 44 tahun 2008 tentang Pornografi dirinci maka terdapa tunsur-unsur yaitu:

Unsur subjektif: kesalahan: dengan sengaja atau atas persetujuanmya. Dan Unsur objektif: perbuatan: menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi.

Dari unsure diatas dapat dijelaskan secara rinci yaitu Kesalahan dengan sengaja, Semua kejahatan pornografi adalah kejahatan dolus (disengaja). Namun, hanya kejahatan terhadap Pasal 34 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Porno Ini yang secara eksplisit menyatakan dengan sengaja. Sementara itu bertindak pornografi dalam UU Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi ini tidak termasuk kata-kata dengan sengaja. Meskipun tidak termasuk unsur yang disengaja dalam perumusannya, tindak pidana pornografi lainnya dalam UU Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Porno ini adalah kejahatan yang disengaja. unsur yang disengaja ada secara diam-diam atau diam dalam unsur tindakan. Seperti halnya sistem Wvs Belanda, bahwa semua

(10)

26

tindak pidana itu tidak termasuk unsur yang disengaja serta kulup, maka tindak pidana itu adalah kejahatan dengan sengaja.

Jan Rememlink menyatakan bahwa Unsursecara tidak sengaja dapat disembunyikan di dalam cara bagaimana suatu tindakan selesai, yaitu, ketika dalam kata kerja yang digunakan oleh rumus pelanggaran tersebut terkait dengan unsur dolus, misalnya dengan kekerasan atau ancaman atau paksaan dengan kekerasan

atau ancaman kekerasan.27 Pengertian disengaja sebagaimana dimaksud sangat penting dan mutlak diperlukan dalam pembuktian. Oleh karena itu, membuktikan bahwa tindak pidana telah terwujud secara utuh sama saja dengan membuktikan setiap unsur yang terdapat dalam peristiwa yang didakwakan. Membuktikan setiap unsur membutuhkan menggam barmakna dari unsur tersebut.

Dengan kata lain semua unsure yng diletakan dimuka sengaja menentukan kemana sengaja harus ditujukan. Unsur yang hamper pasti diletakan didepan sengaja adalah unsure perbuatan dan objek perbuatan, yang sekaligus merupakan objek tindak pidana. Selanjutnya barulah unsure lainnya, misalnya unsure keadaan menyertai objek atau menyertai perbuatan dan keadaan-keadaan lainnya. Oleh karena itu, frasa objek atau model yang mengandung muatan pornografi dalam rumusan pasal 34 undang-undang pornografi merupakan unsure tindak pidana.

Unsur objek itu pasti selalu diarahkan atau di tujukan oleh kesengajaan. Dalam Pasal 34 mengandung pengertian yang diinginkan pembuatnya menjadi objek atau model konten pornografi. Frase teratas persetujuan dalam rumus Pasal 34 memiliki

27Jan Remelink, Hukum Pidana Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dalam KUHP Belanda dan Pidananya dalam KUHP Indonesia, Grafmedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hlm 161

(11)

27

arti yang sama dengan berkehendak. Di sini terwujud bahwa objek atau model itu yang diinginkannya dikenakan biaya pornografi. Tentang pengetahuan seperti ini yang diinginkan pembuatnya menjadi objek atau model pornografi.

Unsur kesalahan dalam rumusan pasal 34 Undang-undang Pornografi ditulis

“dengan sengaja atau atas persetujuannya” dihubungkan dengan perbuatan, objek perbuatan dan objek tindak pidan asebagaimana dirinci tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Ditinjau dari sudutadanya kehendak. Dengan sengaja samaartinya dengan atas persetujuannya. Menghendaki dalam unsure atas persetujuan dirinya untuk menjadi objek atau model sama dengan menghendaki dalam unsure atas persetujuan dirinya untuk menjadi objek atau model yang bermuatan pornografi. 2). Ditinjau dari sudut asalnya inisiatif timbulnya kehendak

“dengan sengaja” berbeda dari “atas persetujuannya”. Inisiati ftimbulnya kehendak dalam kesalahan dengan sengaja sejak semula berasal dari sipembuat sendiri. Si pembuat yang menjadi objekatau model yang bermuatan pornografi sementara dalam kesaalahan atas persetujuannya inisiatif timbul dari kehendak untuk menjadi objekatau model pornografi berasa ldari orang lain. Dirinya untuk dijadikan objek atau model sekedar menyetujui.28

Sanksi pidana bagi pelaku pornografi dalam UU Pornografi diatur dalam Bab VII pasal 29 sampai pasal 38. Pada umumnya pidana dalam undang-undang ini dapat digunakan untuk menjerat pelaku tindak pidana pornografi, khususnya pada menyiarkan, mempertontonkan, mempertunjukan atau menjadi model pornografi yang dilakukan melalui media sosial seperti pasal 29, pasal 30, pasal

28Op.Cit, Suratman, Andri Winjaya Laksana, hlm 173-174.

(12)

28

34, pasal 36, dengan unsurnya yaitu, Pasal 29 UU Pornografi menyebutkan bahwa

“Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyakRp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Pasal 30 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang menyediakan jasa pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 31 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 32 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(13)

29

Pasal 34 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 35 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Pasal 36 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 37 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 34, Pasal 35, dan Pasal 36, ditambah 1/3 (sepertiga) dari maksimum ancaman pidananya.

(14)

30

Pasal 38 UU Pornografi menyebutkan bahwa setiap orang yang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan kekuasaan, atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Berlakunya Undang-undang nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi menimbulkan banyak kontrovesi. Namun Undang-undang Pornografi ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk Indonesia. Karena di era globalisasi saat ini sangat diperlukan aturan sebagai paying hokum dalam memberantas tindak pidana Pornografi.

Referensi

Dokumen terkait