KEPADATAN POPULASI KERANG BAKAU (Polymesoda bengalensis Lamarck) DI MUARA PACUAN LAKITAN KECAMATAN LENGAYANG
KABUPATEN PESISIR SELATAN
Uci Idia Tantia¹, Ismed Wahidi² , Yosmed Hidayat²
¹Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat
²Dosen Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
Pacuan Lakitan estuaries is one of the estuaries found in Pesisir Selatan Regency.
One of the biological resources contained in the estuaries Pacuan Lakitan is Polymesoda bengalensis Lamarck commonly referred to as mangrove shells. The continuous collection of mangrove shells by the community for consumption, sale and expansion of residential areas will affect the development of mangrove shell populations. This research aims to determine the density population of mangrove shell that found in the estuaries of Pacuan Lakitan Lengayang District Pesisir Selatan Regency. This research was conducted in May 2017, used descriptive survey method. Determination of sampling location by purposive sampling that is based on substrate condition. Station I with muddy sand substrate and station II with muddy substrate. Sampling using a square frame. The results showed that the total average density of mangrove shell population was 1.36 ind/m².
Result of physical-chemical measurement with temperature 33 ºC, pH range 6-7, Disolve oxygen (DO) ranged is from 1.35-6,43, organic substrat contain (KOS) is 0,22-0,23 and salinity ranged is 13,42-21,11 ‰. The density population of mangrove shells that was found in Pacuan Lakitan in estuaries Lengayang district is low.
Keywords: Density, Polymesoda bengalensis, Mangrove
PENDAHULUAN
Kerang adalah hewan air yang bertubuh lunak dan memiliki sepasang cangkang. Kerang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sehingga masyarakat banyak yang membudidayakan kerang.
Kerang hidup di air tawar dan estuari tergantung masing-masing jenis kerang. Biasanya kerang sering ada diperairan yang memiliki substrat
pasir dan lumpur (Suwignyo dkk., 2005).
Kerang dimanfaatkan manusia untuk dikosumsi dan cangkang kerang dijadikan sebagai aksesoris rumah tangga seperti hiasan dinding, vas bunga dan gantungan kunci.
Secara ekologis kerang berfungsi sebagai bio indikator logam berat disuatu perairan (Dight and Gladstone, 1993 dalam Kelana dkk., 1
2013). Salah satu jenis kerang yang mempunyai nilai ekonomis adalah kerang bakau.
Kerang bakau merupakan salah satu jenis kerang yang sering dijumpai pada ekosistem manggrove.
Ciri-ciri dari kerang bakau yaitu cangkangnya bewarna kuning, hijau kekuningan hingga kecoklatan.
Panjang cangkang maksimum 10 cm, umumnya sampai 7 cm (Carpenter and Niem, 1998).
Jenis kerang ini merupakan jenis kerang yang bisa dikosumsi oleh masyarakat. Kerang bakau dimanfaatkan sebagai lauk pauk seperti sate lokan dan rendang lokan, sehingga kerang ini banyak diburu oleh masyarakat. Kerang juga kaya akan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan, kalsium yang dibutuhkan tulang, serta zinc yang manfaatnya terkait dengan kesehatan prostat, serta zat besi untuk memproduksi sel darah merah, dan vitamin B yang baik bagi otak (Tumaidi, 2016).
Muara Pacuan Lakitan merupakan salah satu habitat kerang bakau yang terdapat di Pesisir Selatan. Berdasarkan hasil wawancara
dan informasi dari beberapa penduduk sekitar Muara Pacuan Lakitan bahwa masyarakat setempat pada umumnya memanfaatkan kerang bakau sebagai mata pencarian serta untuk dikonsumsi sebagai lauk pauk.
Masyarakat mengambil kerang bakau yang masih berukuran kecil dan adanya perluasan daerah pemukiman masyarakat didaerah ekosistem manggrove. Sehingga menyebabkan populasi kerang bakau di Muara Pacuan Lakitan sudah mulai berkurang. Pada tahun 2014 biasanya masyarakat hanya membutuhkan waktu yang sebentar untuk mendapatkan kerang bakau. Namun tiga tahun terakhir kerang bakau sudah mulai susah didapatkan masyarakat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2017.
Pengambilan sampel kerang bakau dilakukan dikawasan Muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.
Penghitungan kerang bakau dilakukan di Laboratorium Zoologi Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
Pengukuran salinitas dan oksigen terlarut dilakukan di Dinas Kesehatan UPTD Balai Laboratorium Sumatera Barat dan pengukuran kandungan organik substrat dilakukan dilaboratorium jurusan Ilmu Tanah Universitas Negeri Andalas Padang.
Penelitian ini adalah survey deskriptif dimana penentuan lokasi pengambilan secara purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kondisi substratnya.
Stasiun I pada substrat pasir berlumpur dan stasiun II substratnya berlumpur. Penempatan bingkai kuadrat dilakukan secara random sampling.
Pengambilan sampel dilakukan dengan bingkai kuadrat.
Sampel yang didapatkan dibersihkan dan dimasukkan kedalam plastik sampel dan diawetkan dengan alkohol 70 %.
Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.
Pengukuran salinitas, air diambil menggunakan botol sampel dan selanjutnya untuk pengukuran sampel dilanjutkan di laboratorium.
Pengukuran kadar organik substrat, substrat pada masing-masing stasiun
diambil dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan selanjutnya dilakukan dilaboratorium.
Pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan thermometer Hg. Pengukuran oksigen terlarut pada masing-masing lokasi, ambil air yang sudah disiapkan dan Tambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml alkali selanjutnya dilakukan di laboratorium.
ANALISIS DATA
Dalam penelitian ini dilakukan analisis data dengan menghitung kepadatan populasi.
Dalam penelitian ini dilakukan analisis menggunakan rumus yang mengacu pada (Suin, 2002) yang sudah dimodifikasi yaitu:
KP=𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢𝑘𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑏𝑎𝑘𝑎𝑢 (𝑖𝑛𝑑) 𝑙𝑢𝑎𝑠𝑏𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑖𝑘𝑢𝑎𝑑𝑟𝑎𝑡 (𝑚²)
Keterangan:
KP = Kepadatan populasi
HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di muara Pacuan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan didapatkan hasil kepadatan populasi kerang bakau
(Polymesoda bengalensis Lamarck) seperti pada Tabel 1. di bawah ini.
Tabel 1. Kepadatan Populasi kerang bakau (Polymesoda bengalensis Lamarck) di muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan
No Stasiun Jumlah individu
Kepadatan rata-rata (ind/m²)
1 I 12 0,80
2 II 29 1,93
Total 41 𝑥̅1,36
Keterangan : I substrat pasir berlumpur, II substrat lumpur Berdasarkan dari hasil
penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil kepadatan rata-rata populasi kerang bakau di Muara Pacuan Lakitan adalah 1,36 ind/m².
Rendahnya kepadatan populasi kerang bakau di Muara Pacuan diduga disebabkan oleh adanya kebiasaan dari aktivitas masyarakat yang mengambil kerang bakau terus menerus tanpa memperhatikan ukuran kerang bakau dan adanya perluasan daerah pemukiman masyarakat sehingga menyebabkan makin berkurang habitat kerang bakau.
Menurut Arizona dan Sunarto (2009) bahwa akibat adanya
pembangunan pemukiman yang terus berkembang tanpa memperhatikan lingkungan pada ekosistem manggrove, akan mengakibatkan berkurangnya jumlah populasi kerang bakau.
Tamsar dkk., (2013) menyatakan bahwa adanya aktivitas masyarakat yang memanfaatkan kerang bakau secara terus menerus akan memberikan pengaruh bagi organisme tersebut yaitu penurunan jumlah populasi dan akan mengganggu pertumbuhan populasi yang pada akhirnya akan terjadi eksploitasi berlebihan.
Tabel 2. Faktor fisika kimia air di Muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan
No Parameter Stasiun
I II
1 Suhu(ºC) 33 33
2 pH (derajat keasaman) 7,2 6,8
3 DO (mg/l) 6,43 1,35
4 Kandungan organik substrat% 0,22 0,23
5 Salinitas(‰) 21,11 13,42
Keterangan : I substrat pasir berlumpur, II substrat lumpur Salinitas juga mempengaruhi
kepadatan populasi kerang bakau, salinitas pada stasiun I yaitu 21,11
‰ dan stasiun II 13,42 ‰. Jumlah kerang bakau yang ditemukan lebih banyak di stasiun II ini disebabkan oleh salinitas pada stasiun II lebih rendah dibandingkan dengan stasiun I. Nilai salinitas di Muara Pacuan Lakitan masih dalam kisaran toleransi hidup bagi kerang bakau.
Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup (2004) biota yang hidup pada ekosistem manggrove mampu hidup pada salinitas 3-34 ‰. Akan tetapi stasiun I yang langsung dipengaruhi oleh air laut akan mengakibatkan kerang bakau kurang menyukai tempat tersebut. Sehingga kepadatan populasi kerang bakau hanya sedikit yang dijumpai pada stasiun I.
Menurut Nontji (1993) tinggi rendahnya salinitas pada estuari disebabkan oleh adanya pengaruh dari air tawar yang lebih banyak dan air laut yang sedikit. Selain dari pertemuan antara air tawar dan air laut, pengadukan air juga sangat menentukan tinggi rendahnya salinitas pada suatu perairan. Biasanya nilai salinitas yang tinggi dijumpai didepan muara ini disebabkan oleh adanya aliran air laut yang kuat sedangkan pengaruh pasang surut sedikit.
Oksigen terlarut sangat berperan penting bagi biota yang hidup pada ekosistem manggrove yaitu sebagai respirasi. Oksigen terlarut yang didapatkan di Muara Pacuan Lakitan adalah stasiun I 6,43 mg/l dan II 1,35 mg/l. Tingginya oksigen terlarut pada stasiun I disebabkan oleh lokasi stasiun yang berada didekat pantai. Sehingga adanya pengaruh dari arus ombak yang
menyebabkan tingginya oksigen terlarut pada stasiun I. Sedangkan pada stasiun II nilai oksigen terlarut rendah, ini disebabkan oleh kondisi stasiun II yang berada dekat pemukiman masyarakat sehingga adanya buangan limbah organik yang mengakibatkan rendahnya oksigen terlarut pada stasiun II. Rendahnya oksigen terlarut pada stasiun II tidak berpengaruh terhadap kerang bakau. Karena kepadatan populasi kerang bakau banyak dijumpai pada stasiun II.
Mengacu pada Kordi (2011) pertumbuhan kerang terjadi pada lingkungan perairan dengan kandungan oksigen terlarut 4-6 mg/l. Putri dkk., (2013) melaporkan bahwa kerang bakau hidup pada oksigen terlarut berkisar antara 5-7 mg/l. Faktor -faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya oksigen terlarut yaitu adanya limbah organik, tergantung pada suhu, salinitas, potensi biotik perairan, arus dan gelombang. (Welch, 1952 dalam Steven, 2013).
Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan kerang bakau terutama terhadap proses
aktivitas metabolisme. Dari hasil penelitian yang didapatkan dilapangan, suhu Muara Pacuan Lakitan yaitu 33ºC masih dalam kisaran yang normal untuk kehidupan kerang bakau.
Menurut Clark (1974) dalam Rajab dkk 2016 menyatakan bahwa organisme seperti kerang yang terdapat dalam kawasan vegetasi hutan manggrove cenderung memiliki toleransi terhadap suhu yang berkisar 30-40º C.
Hasil pengukuran pH air yang didapatkan di Muara Pacuan Lakitan berkisar antara 6,8-7,2. Sesuai dengan pernyataan Kordi (2011) bahwa pada umumnya kerang dapat hidup pada kisaran pH 6,5 - 9. pH yang ada di Muara Pacuan Lakitan masih dalam kisaran baik untuk pertumbuhan kerang bakau.
Rendahnya jumlah kepadatan populasi kerang bakau sesuai dengan pernyataan Tuan (2000) dimana kerang dengan kepadatan 50-100 ind/m2 disebut kepadatan maksimum, kepadatan 16-50 ind/m2 disebut kepadatan sedang, dan kepadatan 7-16 ind/m2 disebut kepadatan minimum.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan dapat disimpulkan bahwa :
1. Kepadatan rata-rata populasi kerang bakau (Polymesoda bengalensis Lamarck) yang ditemukan di muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang yaitu 1,36 ind/m².
2. Faktor fisika-kimia muara juga mempengaruhi kehidupan kerang bakau namun masih dalam kisaran toleransi untuk kehidupan kerang bakau. Suhu 33°C, pH 6,8-7,2, KOS 0,22-0,23
%, DO berkisar 1,35-6,43 (mg/l), salinitas berkisar 13,42-21,11‰ dan tipe substrat yang ditemukan adalah berlumpur dan pasir berlumpur.
DAFTAR PUSTAKA
Arizona, M. & Sunarto. 2009.
Kerusakan Ekosistem Manggrove Akibat Konversi Lahan Dikampung Tobati Dan Kampung Nafri Jaya Pura.
Jurnal MGI. 23 (3): 18-39.
Carpenter, K. E & Niem, V.H. 1998.
FAO Species Identification Guide For Fishery Purposes.
The Living Marine Resources Of The Wastern Central Pacific.
Jurnal Agriculture. 1 (1) : 315- 319.
Kelana, P. P., Setyobudi, I., &
Krisanti, M. 2013. Kondisi Habitat Polymesoda erosa Pada Kawasan Ekosistem Manggrove Cagar Alam Leuwung Sancang.
Jurnal Akuatika. 6 (2): 107-117 Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup. 2004. Baku Mutu Air Laut Untuk Biotoa Laut.
Kordi, M. 2011. Budi Daya 22 Komoditas Laut Untuk Konsumsi Lokal Dan Ekspor.
Yogyakarta: Lily Publisher.
Nontji, A. 1983. Laut Nusantara.
Jakarta: Djambatan
Tumaidi. 2016. Lokan Bakau Di Desa Kadur Yang Harus Dibudayakan http://kadur.desa.id/2016/11/2 2/lokan-bakau-di-desa-kadur- yang-harus-dibudayakan/.
Diakses tanggal 25 Juli 2017 Rajab, Abdul, Bahtiar, dan Salwiyah.
2016. Studi Kepadatan dan Distribusi Kerang Lahubado (Glauconome sp) di Perairan Teluk Staring Desa Ranooha Raya Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan. 1 (1):1- 12.
Steven. 2013. Hasil Perameter Kimia Oksigen Terlarut (Do) Di Perairan Popsa. http://steven- marinescience.blogspot.co.id/20
13/03/oksigen-terlarut-do.html Diakses tanggal 5 Agustus 2017.
Suin, M. N. 2002. Metoda Ekologi.
Padang: Universitas Andalas Padang.
Suwignyo, S., Bambang, W., Yusli, W., & Majariana, K. 2005.
Avertebrata Air Jilid 1. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Tamsar,. Emiyarti,. & Wa., N. 2013.
Studi Laju Pertumbuhan dan
Tingkat Eksploitasi Kerang Kalandue (Polymesoda erosa) Pada Daerah Hutan Mangrove di Teluk Kendari. Jurnal Mina Laut Indonesia. 2 (06): 14-25 Tuan, V. S. 2000. Status and Solution
for Farming ang Management of The Clam Meretrix Lytara at Go Cong Dong, Tien Giang.
Province Vietnam. Proceding of the Tropical Marien Mollusc Programe (TMMP).