• Tidak ada hasil yang ditemukan

The research is a qualitative approach that would reveal the Public Perception About Ecosystem Maninjau Due Keramba cage (KJA) in the district of Tanjung Raya Agam.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "The research is a qualitative approach that would reveal the Public Perception About Ecosystem Maninjau Due Keramba cage (KJA) in the district of Tanjung Raya Agam."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Public Perception About Ecosystem Maninjau Due Keramba cage (KJA) in the Kecamatan Tanjung Raya Kabup[aten Agam.

By:

Irfan Noviyanto*, Helfia Edial**, Yuherman**

**) University Student Program Education Study Geography STKIP PGRI

West Sumatera

**)Staff leacture Program Education Study Geography STKIP PGRI West Sumatera

ABSTRACT

This study aimed to obtain and analyze the data or in-depth information about Public Perceptions About Ecosystem Maninjau Due Keramba cage (KJA) in the Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam.

The research is a qualitative approach that would reveal the Public Perception About Ecosystem Maninjau Due Keramba cage (KJA) in the district of Tanjung Raya Agam.

Informants were taken by using purposive sampling which consists of communities in Muko- Muko Kanagarian and Kenagarian Bayur in Tanjung Raya Agam. The research that researchers do is in terms of: 1) Public perception of Keramba cage, 2) How is the public perception of water, silting, and fish endemic to the lake Maninjau, 3) How is the public perception of the role of the Government of the lake ecosystem Maninjau.

Results of the study found that: 1) floating net cages located in Tanjung Raya Maninjau lake Agam has exceeded the limit. Where every citizen has approximately two floating net cages.

Causing pollution to the lake. 2) the state of the water in the lake has been polluted Maninjau this is evidenced from the color of the muddy water and washing water will be as white as rice in the morning, and the water smells like the smell of fish carcasses. 3) government in the District Kanjung Kingdom Agam less oversee the activities Keramba cage (KJA) in lake Maninjau, it is seen from the state of the lake Maninjau increasingly more severe the condition was. Regulations made by the Government does not work in practice. And the lack of rules to be farmed.

(3)

PENDAHULUAN

Perairan disebut danau apabila perairan itu dalam dengan tepi yang umumnya curam. Air danau biasanya bersifat jernih dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah pinggir saja. Berdasarkan pada proses terjadinya danau, dikenal danau tektonik yang terjadi akibat gempa dan danau vulkanik yang terjadi akibat aktivitas gunung berapi (Barus, 2004).

Proses terjadinya danau pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: danau alami dan danau buatan. Danau alami merupakan danau yang terbentuk sebagai akibat dari kegiatan alamiah, misalnya bencana alam, kegiatan vulkanik dan kegiatan tektonik. Sedangkan danau buatan adalah danau yang dibentuk dengan sengaja oleh kegiatan manusia dengan tujuan-tujuan tertentu dengan jalan membuat bendungan pada daerah dataran rendah (Nyakken, 1992).

Rancun balerang menyebabkan matinya berton-ton ikan keramba setiap tahun, seolah telah menjadi ritual danau Maninjau yang terus dilestarikan Pemkab dan masyarakat Agam.

Bukannya malah berkurang, siklus rancun balerang yang biasanya lima

tahunan, kini bisa berulang kali terjadi dalam setahun. (Padang Ekspres • Selasa, 25/03/2014 hal : 13)

Rancun balerang yang terjadi sejak tahun 1990-an itu, hingga kini tiada henti mencemari keelokan danau Maninjau. Hasil penelitian LIPI telah tegas menyatakan pencemaran danau Maninjau disebabkan masifnya keramba jala apung yang menumpuk pada lokasi tertentu. Sisa pelet ikan yang terus bertambah tidak mampu lagi difilter oleh kondisi danau, sehingga air danau rentan terhadap racun yang berasal dari belerang maupun residu sisa pakan

.

Pemkab, DPRD Kabupaten Agam maupun tokoh masyarakat sangat paham dengan kondisi itu. Tapi entah kenapa, seolah tutup mata. Melakukan pembiaran terhadap kerusakan ekologi danau Maninjau. Demi kepentingan ekonomi segelintir orang, potensi danau Maninjau yang notabene milik semua warga Agam, bahkan Sumbar, rela dikorbankan untuk masa depan anak cucu. ( Aswirman, 2013 )

METODE PENELITIAN

Berdasarkan dengan keadaan dan latar belakang penelitian maka jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah

(4)

termasuk jenis kualitatif. Menurut Klik dan Miller (1986:9) penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam

kawasanya maupun dalam

peristilahanya.

Dalam penelitian ini metode yang dimanfaatkan adalah metode wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen metode ini dipilih kerena dengan metode ini peneliti bisa melihat dan mengamati secara langsung perilaku informan, sehingga data yang diperoleh lebih akurat.

HASIL DAN PEMBAHASAN Letak Geografis dan Luas Danau

Danau Maninjau yang terletak pada 00°14′34”- 00°24′43” LS dan 100°08′39”- 100°14′34” BT berada dalam wilayah Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam dengan ketinggian 461,50 meter diatas permukaan laut. Luas permukaan Danau Maninjau ± 99,5 km2 dengan luas daerah tangkapan air mencapai 24.800 ha. Sementara kedalaman maksimum mencapai ±165 m. Secara garis besar,

wilayah Danau Maninjau ini dapat dibagi atas 2 yaitu:

1. Kawasan danau Maninjau, merupakan kawasan dalam punggung danau.

2. Kawasan pengaruh, merupakan kawasan di luar punggung danau.

Bentuk danau Maninjau memanjang dari arah utara ke selatan dengan panjang ± 17 km dan lebar sekitar 8 km, danau ini memiliki sebuah outlet alami yaitu sungai Batang Antokan yang mengalir ke arah Barat.

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa bagian tengah Gunung Maninjau ditempati oleh kaldera dengan ukuran panjang ± 20 km dan lebar ± 8 km. Di dalam danau Maninjau ini terdapat beberapa buah pulau kecil dengan luas hanya ratusan m2. Semakin kearah bagian selatan danau, kedalaman semakin tinggi dengan lereng (slope) yang semakin curam. Titik-titik terdalam dari danau ini berada di wilayah bagian selatan.

Pembahasan

Keadaan danau Maninjau saat ini sudah tercemar cukup parah, hal ini dapat dilihat dari penelitian yang telah

(5)

dilakukan dan dapat dirangkum sebagai berikut:

Pertama, presepsi masyarakat tentang keramba jaring apung yang berada di danau Maninjau Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam sudah melebihi batas. Dimana setiap warga memiliki kurang lebih sekitar dua atau lebih keramba jaring apung. Ditambah masyarakat luar daerah danau pun boleh membuat keramba dengan jalan menyewa tepian rumah masyarakat selingkaran danau Maninjau. Kurang tegasnya aturan dari Pemerintah sehingga membuat keberadaan keramba tidak terkontrol. Pertumbuhan keramba jaring apung di danau Maninjau mencapai 1000 kja/tahun itu termasuk angka yang sangat memprihatinkan. Pada saat ini rata-rata masyarakat danau Maninjau sudah mulai meninggalkan usaha keramba jaring apung di karenakan masyarakat merugi secara besar-besaran pada tahun 2010- 2011 akibat balerang naik sampai dua kali dalam satu tahun. Masyarakat merugi puluhan sampai ratusan juta, akan tetapi itu tidak menurunkan angka pertumbuhan keramba jaring apung. Keramba jaring apung pertumbuhannya tetap meningkat itu dikarenakan karena berkurangnya peminat masyarakat di sekitar danau

Maninjau untuk membuat keramba jaring apung maka penanam modal dari luar berdatangan ke danau Maninjau untuk membuat keramba. Penanam modal biasanya membuat keramba jaring apung jumlahnya dua kali lipat dari pada yang di buat masyarakat sekitar danau Maninjau supaya mendapatkan untung yang berlipat ganda. Dan karena itu lah pertumbuhan keramba jaring apung di Maninjau tetap bertambah banyak tiap tahunya.

Kedua, presepsi masyarakat terhadap keadaan air di danau Maninjau Kecamatan tanjung raya Kabupaten Agam menyatakan air sudah tercemar hal ini dibuktikan dari kondisi warna air yang makin hari semakin keruh, berbau seperti bau bangkai ikan. Eceng gondok dan rumput air telah tumbuh di sepanjang tepian danau Maninjau, pencemaran danau mencapai puncaknya ketika belerang danau maninjau naik, dulu balerang naik satu kali dalam lima tahun akan tetapi sekarang balerang naik sampai dua kali dalam setahun kepermukaan. berton-ton ikan keramba mati dan dibiarkan mengambang di permukaan danau tampa ada penanggulangan secara cepat sehingga bangkai mencemari air. Karena keadaan

(6)

danau yang seperti itu sehingga ikan asli seperti bada, inuak dan bili bisa dikatakan semakin berkurang dikarenakan kondisi air yang sudah tercemar di tambah lalu lalangnya perahu pengangkut pakan ikan dan kapal patroli sehingga keberadaan ikan asli danau Maninjau teramcam berkurang dan hilang.

Ketiga, presepsi masyarakat akan Pemerintah di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam menyatakan Pemerintah kurang mengawasi kegiatan petani keramba di danau Maninjau, hal ini dilihat dari kurang tegasnya aturan- aturan membuat keramba jaring apung dan pelaksanaanya di danau Maninjau, Yang semakin hari kian parah keadaannya. Dan jika dilihat dari dinas perikanan setempat dinas perikanan hanya berfokus kepada pembibitan dan pengarahan cara mengelolaan keramba jaring apung tampa memberikan penjelasan dampak negative dari keramba jaring apung yang berlebihan. Ketika terjadi pencemaran di danau Maninjau, Pemerintah seperti hanya setengah hati menyelesaikanya. Dikatakan seperti itu karena pada saat belerang naik Pemerintah membantu menguburkan bangkai ikan hanya di satu tempat sisanya masyarakat menguburkan

bangkai ikan dengan tenaga mereka sendiri. Saat ini masyarakat sedang meminta Pemerintah untuk mengadakan alat penyedot pakan ikan yang telah mengendap di dasar danau dan belum di tanggapi secara serius oleh Pemerintah setempat.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dari Judul Persepsi Masyarakat Teentang Kerusakan Ekostem Danau Maninjau Akibat Keramba Jaring Apung Di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan presepsi masyarakat di Danau Maninjau dapat diambil kesimpulan bahwa kehadiran keramba jaring apung sudah sangat berlebihan dimana satu kepala keluarga memiliki kurang lebih dua induk keramba jaring apung dan masyarakat luar kawasan danau pun boleh membuat keramba tampa ada batasan yang jelas. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan danau Maninjau. Banyak petani keramba yang belum memahami bahwa kehadiran keramba jaring apung yang berlebihan dapat merusak ekosistem danau.

(7)

2. Berdasarkan presepsi masyarakat, danau Maninjau sudah tercemar hal ini dapat dilihat bahwa air danau Maninjau berwarna keruh seperti air nasi, dan berbau busuk. Ini dikarnakan dari pakan ikan yang mengendap di dasar danau dan bila gelombang air danau naik maka pakan tersebut naik kepermukaan dan menyebabkan ekosistem danau rusak.

Keadaan ikan endemi dari danau Maninjau sangat susah ditemukan dan terancam punah seperti rinuak, bada, dan gariang.

3. Berdasarkan presepsi masyarakat, bahwa tindakan dari Pemerintah itu ada akan tetapi peraturan tidak berjalan dimana Pemerintah menetapkan setiap kepala keluarga yang berada ditepian danau maninjau memiliki jatah empat petak keramba dengan keramba tersebut berada 30meter dari tepian danau Maninjau. Hal ini tidak jalan karena sosialisai kurang dan Pemerintah akan peraturan tersebut. Petani merasa kalau memiliki keramba yang sedikit maka petani merugi, karena biaya pengeluaran pertama cukup besar dalam pembuatan keramba.

Saran

Adapun saran yang penulis

kemukakan dalam penilitian ini adalah :

1. Diharapkan bagi masyarakat di danau Maninjau, harus saling bantu membantu menjaga danau agar ekosistem danau Maninjau tidak rusak terlalu parah, jika ada hal-hal yang mencurigakan yang akan merusak danau dapat melaporkanya kepada pihak yang berwajib atau pemuka adat setempat.

2. Bagi petani disarankan harus membersihkan tepiannya dari sampah, eceng gondok ataupun rumput liar minimal seminggu sekali. Pakan ikan yang diberikan sebaiknya pakan ikan yang tidak membahayakan bagi kelestarian ekosistem danau seperti pakan apung. Jika sudah panen keramba harus dibongkar untuk menghindari tumbuhnya eceng gondok dan rumput liar pada jaring keramba yang di tinggalkan sipa panen.

3. Pemerintah dalam menjalankan peraturan di harapkan lebih tegas, dan sosialisasi akan peraturan tersebut harus sering dilakukan kepada masyarakat maupun petani. Dan memberikan sanksi kepada yang tidak mentaatinya. Serta Pemerintah harus cepat tanggap dalm melakukan pembersihan-pembersihan jika balerang naik.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ekosistem_danau.html)

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Barus 2004. Ekosistem Air Danau.

Jakarta: Rineka Cipta

BPS Kabupaten Agam : 2012

Fathoni, Abdurrahmat. 2006.

Metodologi Penelitian Dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta

http://pengertian konsep geografi dari suatu lokasi.com

http://pengertian konsep persepsi menurut para ahli.com

http://pengertian masyarakat menurut para ahli. Com

Indriyanto. 2008. Ekologi Danau.

Jakarta: Bumi Aksara

Jalaludin dan Marliani. 2010.

Pengertian persepsi. Jakarta: Rineka Cipta

Kartasapoetra, Dkk. 2000. Teknologi Konserfasi Tanah Dan Air. Jakarta:

Rineka Cipta

Lufri . 2005. Metodologi Penelitian.

Padang: FMIPA UNP.

Padang Ekspres • Selasa, 25/03/2014 hal : 13

Reksohadiprojo, 2000. peranan dan fungsi danau. Jakarta : PT Bumi Aksara

Sjarief, Rustam, Dkk.2000. Tata Ruang Air. Penerbit ANDI Yogyakarta

Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Tika,Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: PT Bumi Aksara

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999, Lingkungan Hidup. Jakarta LAMBOCK V.

NAHATTANDS

(9)

Referensi

Dokumen terkait