HUBUNGAN PENGETAHUAN, PENDAPATAN DAN BUDAYA DENGAN KEJADIAN PERNIKAHAN USIA DINI PADA REMAJA PUTRI DI KECAMATAN
MARTAPURA KOTA
Razi Tamhur1,Ahmad Zacky Anwary2,Khairul Anam3
1Kesehatan Masyarakat,13201, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Kalimantan MAB,NPM.16070299
2Kesehatan Masyarakat,13201,Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Islam KalimantanMAB, NIDN.1127028401
3Kesehatan Masyarakat,13201,Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Kalimantan MAB.NIDN.1110046401 email : [email protected]
ABSTRAK
Pernikahan dini adalah pernikahan yang berlangsung pada umur di bawah usia reproduktif yaitu kurang dari sama dengan 20 tahun pada wanita. Pernikahan menjadi isu penting untuk saat ini. Studi kolerasi ini menggunakan metode cross sectional. Populasi dalam metode penelitian kali ini adalah remaja putri. Mengetahui hubungan pengetahuan , pendapatan, dan budaya dengan kejadian pernikahan dini. Hasil uji analisis dengan Chi square didapat nilai signifikan pada wanita dan di dapat kan hasil pengetahuan tidak ada hubungan dengan pernikahan usia dini ( p=0,972) dan budaya tidak ada hubungan dengan kejadian pernikahan dini dengan (p=0,277) untuk hasil dari pendapatan tidak ada nya hubungan dengan kejadian pernikahan dini dengan (p=0,594)
Kata kunci : pengetahuan, pendapatan , budaya, pernikahan dini
ABSTRACT
Early marriage is a marriage that takes place at the age below the reproductive age, which is less than 20 years for women. Marriage is an important issue for now. This correlation study uses a cross sectional method. The population in this research method is young women. Knowing the relationship between knowledge, income, and culture with the incidence of early marriage. The results of the analysis test with Chi square obtained a significant value in women and the results obtained knowledge that there is no relationship with early marriage (p = 0.972) and culture has no relationship with the incidence of early marriage with (p = 0.277) for the results of no income.
relationship with the incidence of early marriage (p = 0.594) Key words: knowledge, income, culture, early marriage
PENDAHULUAN
Pernikahan dini adalah pernikahan pada remaja di bawah usia 20 tahun yang seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan. Masa remaja juga merupakan masa yang rentan resiko kehamilan karena pernikahan dini (usia muda), diantaranya adalah keguguran, persalinan prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), kelainan bawaan, mudah terjadi infeksi, anemia pada kehamilan, keracunan kehamilan, dan kematian (Kusmiran, 2011)
Pernikahan sebelum usia 18 tahun terjadi diberbagai belahan dunia, dimana orang tua juga mendorong perkawinan anak-anaknya ketika mereka masih berusia dibawah 18 tahun dengan harapan bahwa perkawinan akan bermanfaat bagi mereka secara finansial dan secara sosial, dan juga membebaskan beban keuangan dalam keluarga. Pada kenyataanya,
perkawinan anak-anak adalah suatu pelanggaran hak asasi manusia
Kasus pernikahan usia dini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia. Hal tersebut menjadi perhatian khusus internasional mengingat risiko yang timbul akibat pernikahan yang dipaksakan, hubungan seksual pada usia dini, kehamilan pada usia muda, infeksi penyakit menular seksual, risiko komplikasi yang terjadi saat kehamilan dan persalinan, sehingga berperan meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, pernikahan usia dini juga menyebabkan gangguan (SariPediatr2009). Beberapa orang tua menikahkan anak perempuan mereka sebagai strategi untuk mendukung kelangsungan hidup ketika mengalami kesulitan ekonomi. Orang tua juga menikahkan anak perempuan mereka lebih cepat karena mereka percaya bahwa ini
merupakan cara terbaik secara ekonomi bagi anak dan keluarga mereka (BPS 2013).
Akibat dari permasalahan tersebut remaja Indonesia terganggu kesempatannya untuk memulai kehidupan berkeluarga serta tidak siap untuk melanjutkan tugas serta peran sebagai generasi penerus bangsa (BKKBN, 2010).
Merilis angka persentase pernikahan dini di Tanah air meningkat menjadi 15,66%
pada 2018, di bandingkan tahun sebelumnya 14,18%. Kenaikan persentase pernikahan dini tersebut merupakan catatan tersendiri bagi pemerintah yang sedang terus berusaha memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan data, mereka yang digolongkan pernikahan dini adalah perempuan yang menikah pertama di usia 16 tahun atau kurang. Dari catatan BPS, provinsi dengan jumlah presentase pernikahan muda tertinggi adalah Kalimantan selatan 22.77%, jawa barat 20.93% dan jawa timur 20.73% (BPS.2019)
Provinsi Kalimantan selatan menjadi provinsi dengan jumlah perkawinan anak tertinggi di Indonesia yaitu pada tahun 2018 yaitu sekitar 33,68 persen dan ada nya kenaikan pada tahun 2019 yaitu 39,53 persen (dari jumlah seluruh perkawinan ), data ini dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan dirilis oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA,2019)
Dalam pasal 7 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita telah mencapai umur 19 tahun
“ baik dalm UU Perkawinan maupun UU Perlindungan Anak, tidak tertera sanksi jika terjadi Pernikahan di bawah Umur ini.
(UU,2019)
Hasil survei yang dilakukan WHO (organisasi kesehatan dunia) memperlihatkan, adanya informasi yang baik dan benar, dapat menurunkan permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja. Menurut data Kesehatan Reproduksi yang dihimpun Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN, 2003),
Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) bertujuan untuk menyiapkan fisik dan mental remaja dalam menghadapi kehamilan dan persalinan sehingga remaja terhindar dari komplikasi medis akibat dari terlalu mudanya usia kehamilan dan persalinan.
Dibentuknya program tersebut diharapkan remaja dapat mempunyai gambaran yang tidak saja konseptual tetapi juga operasional. Melihat tujuan dari program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja tersebut, maka secara sederhana peneliti tertarik untuk meneliti 6 pengetahuan tentang perencanaan berkeluarga bagi remaja Sebagai upaya dalam peningkatan kualitas generasi mendatang dan untuk menumbuh kembangkan kehidupan remaja yang tegar (BKKBN, 2010).
Dengan di perkuat oleh kasus yang sudah di uji dengan kuiseoner ada tiga orang dengan keterangan yang berbeda, untuk yang pertama alas an menikah dini adalah faktor dari pergaulan bebas hamil di luar nikah , alas an untuk orang kedua yang menikah dini adalah di jodohkan oleh orang tua nya, dan untuk orang ketiga adalah hamil di luar nikah.
Dengan data yang di dapat kabupaten banjar menjadi salah satu kota dengan pernikahan tertinggi di Kalimantan selatan dengan data mencapai 267 remaja wanita yang sudah menikah dengan di latar belakangi oleh pengetahuan ekonomi dan budaya.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian diskriptif ini dilakukan dengan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor beresiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010).Peneliti menentukan karakteristik keluarga untuk dijadikan sampel sebagai berikut: Remaja putri yang sudah menikah , Remaja dengan kriteria usia maximal 20 tahun dan Bersedia untuk menjadi responden.
HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
Berdasarkan dari hasil penelitian maka pada karakteristik responden didapatkan data yang akan diuraikan terhadap umur di martapura kota pada wanita pernikahan dini di Kabupaten Banjar Tahun 2020
Tabel 1 karekteristik responden
Umur (Tahun) n Persentase %
≤ 20 17 23,6
>20 55 76,4
Total 72 100
Usia menikah dini n Persentase %
≤ 20 57 79,2
> 20 15 20,8
Total 72 100
Pendidikan n Persentase %
SMA/SMK 52 72,2
D3 18 25,0
S1 2 2,5
TOTAL 72 100
Pendapatan n Persentase %
≥UMR 34 48,2
≤ UMR 38 52,8
TOTAL 72 100
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa responden yang paling banyak berumur >20 tahun dan responden yang paling sedikit berumur < 20 tahun di Martapura Kota
Berdasarkan dapat diketahui bahwa responden yang paling banyak menikah muda <
20 tahun dan responden yang paling sedikit menikah usia muda >20 tahun di kecamatan martapura kota
Berdasarkan dapat diketahui bahwa responden yang paling banyak menikah di usia
dini adalah anak SMK/SMA dan yang paling sedikit adalah S1 di kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar Tahun 2020.
Berdasarkan dapat diketahui bahwa responden yang paling banyak penghasilan orang tua nya pada wanita yang menikah usia dini adalah anak ≤UMR dan yang paling sedikit adalah ≥UMR di kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar Tahun 2020.
2. Analisis Univariat
Hasil penelitian dari 72 orang responden di Martapura Kota yang akan disajikan secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi menurut pengetahuan, Budaya, dan pendapatan.
Tabel 2 Analisis Univariat Distribusi Frekuensi: kejadiaan pernikahan Usia Dini pada wanita Kecamatan Martapura kota Kabupaten Banjar Tahun 2020
Pernikahan usia dini n Persentase %
≤20 57 79,2
>20 15 20,8
TOTAL 72 100
Pengetahuan n Persentase %
Kurang 28 38,9
Cukup 33 45,8
Baik 11 15,3
TOTAL 72 100
Budaya n Persentase %
Mendukung 45 62,5
Tidak mendukung 27 37,5
TOTAL 72 100
Pendapatan N Persentase %
>UMR 34 48,2
≤ UMR 38 52,8
TOTAL 72 100
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa responden yang potensial paling banyak di Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar.
Berdasarkan dapat diketahui bahwa pengetahuan responden Kurang yang paling banyak dan pengetahuan
responden Baik yang paling sedikit di Kecamatan Martapura Kota.
Berdasarkan dapat diketahui bahwa Budaya responden yang paling banyak adalah cukup dan yang paling sedikit kurang di Kecamatan Martapura.
3. Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan pengetahuan dan Budaya dalam Kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura, maka hasil dari data yang dapat dimasukkan ke dalam table distribusi hubungan.
Tabel 3
Hubungan Pengetahuan Responden Dalam Kejadian Pernikahan Usia Dini Pada wanita di Desa Tambak Danau Kecamatan Martapura Tahun 2020 PengetahuanKejadian pernikahan dini
Jumlah
p-value Menikah dini Tidak
menikah dini
n % N % n % 0,972
kurang 22 30,6 6 8,3 28 38,9
Cukup 26 36,1 7 9,7 33 45,8
Baik 9 12,5 2 2,8 11 15,3
Total 57 79,2 15 20,8 72 100
Pengetahuan
Kejadian pernikahan dini
Jumlah
p-value Menikah dini Tidak
menikah dini
n % N % n % 0,972
Mendukung 3 4,0 2 1,0 5 5,0
Tidak mendukung 54 53,0 13 14,0 67 67,0
Total 57 57,0 15 15,0 72 72,0
Pendapatan
Kejadian pernikahan dini
Jumlah p-value Menikah dini Tidak
menikah dini
n % n % 0,594
≤ UMR 31 30,1 ≤UMR 31 30,1 ≤UMR
> UMR 26 26,9 >UMR 26 26,9 >UMR
Total 57 57,0 15 15,0 72 72,0
Berdasarkan uji statistik pada tabel diatas didapatkan bahwa pengujian statistik menggunakan Uji Pearson Chi Square di peroleh nilai p = 0,972
(p > 0,05) artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan Kejadian Pernikahan Usia
Dini di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020
Berdasarkan uji statistik pada tabel didapatkan bahwa tidak ada statistik yang dihitung karena sikap responden adalah konstan atau tetap. Maka, p = 0,131 (p >
0,05) artinya tidak ada hubungan antara Budaya dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020.
PEMBAHASAN
1. Wanita yang menikah dengan kejadian pernikahan di usia dini Kecamatan MartapuraKota Kabupaten Banjar
Dalam hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020. Hal ini terlihat dalam tabel 2 menunjukkan bahwa yang ≤20 tahun sebanyak 57 orang (79,2%) dan >20 orang 15 orang (20,8%).
Dari data di atas dapat dilihat bahwa responden di Kecamatan Martapura Kota sebagian besar responden ≤20.
Dengan data tersebut dapat di ketahui bahwa yang menikah muda memiliki data yang lumayan tinggi dengan itu dapat menjadi evaluasi agar petugas agar dapat memberi himbauan kepada masyarakat tentang dampak dan resiko pernikahan usia dini resiko nya seperti apa .
2. Pengetahuan Wanita dengan kejadian pernikahan usia dini di kecamatan martapura Kota Kabupaten Banjar
Dalam hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan di KecamatanMartapura Kota. Yaitu, paling banyak dalam kategori
pengetahuan baik dan paling sedikit kategori pengetahuan cukup. Hal ini terlihat dalam tabel 2 menunujukkan bahwa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 11 orang (15,3%) dan kategori pengetahuan cukup sebanyak 33 orang (45,8%) dan kategori Kurang sebanyak 28 orang (38,9%)
Dari data di atas dapat dilihat bahwa paling banyak pengetahuan Cukup dikarenakan responden paham akan pentingnya dampak dan resiko menikah muda pada wanita.
3. Budaya Pada Wanita dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini di Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar.
Dalam hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap di Kecamatan Martapura Kota.
Yaitu, paling banyak dalam kategori positif. Hal ini terlihat dalam tabel 2 menunujukkan bahwa yang memiliki kategori baik sebanyak 27 orang (37,5%), kategori cukup 40 orang (55,6%) dan Kurang 5 orang (6,9%)
Dari data di atas dapat dilihat bahwa paling banyak Kategori Cukup dikarenakan responden sudah tidak melakukan pernikahan dengan mengikuti adat atau budaya yang belaku sudah mulai pikiran secara modern menikah dengan kemampuan yang mapan dan harus siap secara ekonomi dan baik secara sehat jasmani dan rohani.
4. Pendapatan Pada Wanita dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini di Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar.
Dalam hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap di Kecamatan Martapura Kota. Yaitu, paling banyak dalam kategori positif. Hal ini terlihat dalam tabel 3 menunujukkan bahwa yang memiliki kategori ≥UMR sebanyak 34 orang (48,2%), kategori ≤ UMR orang (52,8%).
Dari data di atas dapatdi lihat bahwa org dengan gajih di bawah gajih rata-rata pekerja masih banyak mungkin itu salah satu faktor penyebab nya.
5. Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian Pernikahan Usia Dini Pada Wanita Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar
Pengetahuan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan kuesioner dengan jumlah 10 pertanyaan terkait dengan Kejadian pernikahan usia dini pada wanita . Pengambilan data dilakukan dengan form kuisioner secara langsung . Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 menunjukkan bahwa pengetahuan responden dengan kejadian pernikahan usia dini sebanyak 11 orang (15,3%) mempunyai pengetahuan baik dan 9 orang (12,5%) ≤20Tahun, 33 orang (45,8%) yang mempunyai pengetahuan cukup dan 7 orang (3,2%) >20 tahun.
Berdasarkan uji statistik pada tabel 4.7 didapatkan bahwa pengujian statistik menggunakan Uji Pearson Chi Square di peroleh nilai p = 0,972 (p > 0,05) artinya tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020.
Hal ini bertolak belakang dengan penelitian dari Ulfah nur aisah (2017) di kecamatan saptosari kabupaten gunung kidul yang ada hubungan dengan kejadian pernikahan dini pada wanita . Dikarenakan pengetahuan seseorang sangat berpengaruh terhadap terjadinya pernikahan usia dini. Menurut notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Pengetahuan juga dapart di peroleh dari pengalaman belajar dari pendidikan formal maupun non formal, dengan demikian dapatt disimpulkan bahwa tindakan seseorang pada dasarnya akan di pengaruhi oleh pengetahuan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh setiawati, erna (2018) tidak ada hubungan tentang pengetahuan dengan pernikahan dini. Di karenakan mereka mengetahui dampak atau resiko dalam pernikahan dini. Hal ini juga sama dengan kejadian di kecamatan martapura yang sudah memiliki pengetahuan yang baik.
6. Hubungan Budaya dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar
Sebagaimana dijelaskan pada tabel 3 menunjukkan bahwa Budaya responden dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita sebanyak 5 orang (37,5%) mempunyai mendukung dan 67 orang (6.9%) kurang mendukug.
Berdasarkan uji statistik pada tabel 4.7 didapatkan bahwa pengujian statistik menggunakan Uji Pearson Chi Square di peroleh nilai p = 0,277 (p > 0,05) artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020.
Hal ini bertolak belakang dengan penelitian eka wulandari(2017) di desa Torobulu kec.laeya kabupaten konawe selatan yang ada hubungan budaya pada pernikahan usia dini pada wanita. Menyatakan bahwa pernikahan usia dini dapat terjadi karna beberapa hal, yaitu budaya setempat, kebiasaan dalam keluarga yang turun temurun , faktor dari orang tua, anak remaja telah haid atau datang bulan maka di anggap sudah siap untuk menikah, anak perempuan yang tidak segera menikah itu memalukan keluarga dianggap tidak laku dengan tidak memandang usia atau status pernikahan dan para orqang tua ini menganggap dari pada anak mereka melakukan hal yang tidak wajar dalam berpacaran, dan akan memalukan keluarga maka lebih baik segera dinikahkan.
Hal ini di perkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh rahardjo di peroleh nilai p-value = 0,331 artinya tidak ada hubungan signifikan antara kepercayaan dengan pernikahan usia dini di kecamatan kalianda kabupaten Lampung Selatan tahun 2013. Hal ini di karenakan di kecamatan martapura tidak ada kebiasaan menikah dii , tetapi apabila remaja sudah tidak sekolah dan bekerja
akhirnya akan menikah dini sebelum mereka dewasa.
7. Hubungan Pendapatan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar.
Pendapatan kali ini cukup dengan 5 pertanyaan dalam kuisioner secara langsung.
Sebagaimana ditunjukan dalam table 4.9 pendapatan orang tua pada kejadian pernikahan usia dini pada remaja putri adalah ≤UMR ada 38 orang (38%) dan ≥UMR 34 orang (34%)
Berdasarkan uji statistik pada tabel 3 didapatkan bahwa pengujian statistik menggunakan Uji Pearson Chi Square di peroleh nilai p = 0,277 (p > 0,05) artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Tahun 2020.
hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eka Wulandari(2018) tidak adanya hubungan pendapatan dengan pernikahan usia dini dikecamatan LaeyaKabupaten Konawe selatan.
Hal ini dapat di lihat dari pendapatan orang tua perbulan.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat di peroleh simpulan bahwa :
1. Responden yang menikah usia dini pada wanita (20,8) lebih sedikit dari perempuan yang tidak menikah dini (79,2)
2. Responden yang memiliki pengetahuan cukup (45,8%) lebih banyak dari yang memiliki pengetahuan baik (15,3%)
3. Tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di kecamatan martapura kota pada tahun 2020 (P-value = 0,972) 4. Tidak adanya hubungan antara
budaya dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di kecamatan martapura kota pada tahun 2020 (P-value = 0,277) 5. Tidak adanya hubungan antara
pendapatan dengan kejadian pernikahan usia dini pada wanita di kecamatan martapura kota pada tahun 2020. (P-value = 0,594) DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, 2009. Kuatnya Adat dan Budaya Penyebab Pernikahan Dini.
http://situs.google.co.id, diakses tanggal 23Maret 2020.
BkkbN, 2011. Faktor yang Mempengaruhi Usia Menikah. http://situs.google.co.id, Diakses Tanggal 29 April 2017.
Chariroh. 2004.Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Perkawinan dan Perceraian Suami Isteri Usia Muda di Pasuruan.
Skripsi Malang: Fakultas UniversitasMuhammadiyah Malang Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Profil
Pendidikan Indonesia 2008. Jakarta.
Duvall, Evelyn Millis & Miller, Brent C. 1985.
Marriage and Family Development (Sixth Edition). New York: Harper &
Row.
Djoko,dkk, 2012. Ilmu Budaya Dasar, Cetakan keduabelas. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Glasier, 2006. Perkawinan Usia Remaja.
http://situs.google.co.id, diakses tanggal 10Maret 2017.
Kartono, 2006. Dualisme Hukum Perkawinan di Indonesia (Analisis Sosiologi Hukum terhadap Praktek Nikah Sirri) Jurnal Perspektif Hukum. 1 Mei 2008 Kemenkes RI. 2013. Survei Demografi
Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Notoatmodjo, S, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka Cipta Nukman,
Nursalam, 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta
Rafidah dkk, 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pernikahan Usia Dini di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Yogyakarta : Berita Kedokteran Masyarakat.
Steve, 2007. Definisi Pernikahan Dini.
http://situs.google.co.id, diakses tanggal 13Maret 2017
Suryaningrum, M.A., 2009. Analisis Status Ekonomi Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Pengambilan Keputusan Menikah Usia Dini Remaja Puteri di Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunungkidul. Tesis Program Pascasarjana Fakultas Kedoteran.
UGM. Yogyakarta.
Tihami dan soehari sahrani,2009 KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
DALAM ADAT PERKAWINAN
JAWA (Pendekatan Gudykunst dan Kim dalam Adat Perkawinan Jawa Oleh Pasangan Berbeda Budaya di Bengkulu Utara)
Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10
Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
Yunita,2014. Status Ekonomi dan Masalah Kesehatan. Surabaya