• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resume Kuliah Lapangan Vulkanologi Kelas A Kelompok 8[1]

N/A
N/A
Raihan Shaib Pahlevi

Academic year: 2025

Membagikan "Resume Kuliah Lapangan Vulkanologi Kelas A Kelompok 8[1]"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME KULIAH LAPANGAN VULKANOLOGI GUNUNG GUNTUR, GARUT, JAWA BARAT

Diajukan untuk memenuhi tugas kuliah lapangan mata kuliah Vulkanologi Dosen Pengampu:

Dr. Ir. Johanes Hutabarat, M.Si.

Disusun oleh:

Kelompok 8 / Kelas A

Eka Prisari Ningrum 270110220052 Muhammad Daffa Al Ghifari 270110220068 Keisha Anjani Putri 270110220081 Imelda Aprillia Putri 270110220083

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2024

(2)

I. PENDAHULUAN

Gunung Guntur adalah salah satu gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.249 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu gunung api dengan sejarah letusan yang cukup intens di Jawa Barat. Sejak pertama kali tercatat pada abad ke-19, Gunung Guntur telah mengalami beberapa letusan signifikan yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Dengan karakteristiknya sebagai stratovolcano, Gunung Guntur memiliki potensi aktivitas vulkanik yang bervariasi, mulai dari erupsi eksplosif hingga emisi gas vulkanik, yang menjadikannya subjek penting dalam studi vulkanologi di Indonesia.

Sebagai bagian dari kawasan Cincin Api Pasifik, Gunung Guntur memegang peranan penting dalam pemahaman kita tentang proses vulkanik, baik dari sisi geologi maupun mitigasi bencana. Penelitian dan observasi lapangan di gunung ini membantu memperdalam pemahaman mengenai mekanisme erupsi, tipe batuan vulkanik yang dihasilkan, dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Kuliah lapangan ini bertujuan untuk mengenalkan para mahasiswa pada kondisi riil di lapangan, terutama dalam mengidentifikasi ciri-ciri aktivitas vulkanik dan memahami risiko yang terkait dengan keberadaan gunung api aktif seperti Gunung Guntur.

II. TUJUAN

Adapun tujuan dilakukannya kuliah lapangan ini yaitu:

● Mempelajari Karakteristik Vulkanik Gunung Guntur

● Mengidentifikasi Komposisi Batuan Vulkanik

● Mempelajari Proses Vulkanik Gunung Guntur

● Menilai Potensi Bahaya Vulkanik

III. LOKASI KEGIATAN

Gunung Guntur terletak di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dan berada sekitar 10 kilometer di sebelah barat laut kota Garut. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.249 meter di atas permukaan laut dan merupakan bagian dari deretan gunung api di Jawa Barat yang terbentuk akibat subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Lokasi Gunung Guntur berada dalam zona tektonik yang aktif, sehingga sering mengalami aktivitas seismik dan vulkanik. Gunung Guntur dikelilingi

(3)

oleh berbagai fitur geologis lain seperti aliran sungai, lembah, serta beberapa gunung api lainnya, seperti Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray.

Gambar 3.1Peta Lokasi Gunung Guntur

IV. GEOLOGI GUNUNG GUNTUR

● Tipe Gunung Api

Gunung Guntur adalah tipe gunung api stratovolcano, atau gunung berlapis, yang terbentuk dari letusan berturut-turut yang menghasilkan lapisan-lapisan lava dan material piroklastik. Stratovolcano seperti Gunung Guntur memiliki bentuk kerucut yang curam dan simetris akibat akumulasi material hasil letusan yang mengendap di sekeliling kawahnya. Aktivitas vulkanik pada stratovolcano umumnya bersifat eksplosif karena kandungan silika di dalam magmanya yang cukup tinggi, sehingga menyebabkan viskositas magma menjadi lebih kental dan membentuk tekanan yang besar sebelum terjadi letusan.

Gambar 4.1Bentuk Gunung Guntur

(4)

● Komposisi Batuan

Batuan vulkanik di Gunung Guntur didominasi oleh jenis-jenis batuan andesit dan basalt yang terbentuk dari aktivitas magma di bawah permukaan bumi.

Andesit merupakan batuan beku dengan komposisi silika menengah, biasanya berwarna abu-abu hingga abu-abu tua, dan sering ditemukan pada gunung api tipe stratovolcano. Batuan basalt, di sisi lain, memiliki kandungan silika lebih rendah, berwarna hitam, dan biasanya terbentuk dari aliran lava yang lebih encer. Selain itu, beberapa endapan piroklastik, seperti tuff dan scoria, juga banyak ditemukan di Gunung Guntur. Endapan ini dihasilkan dari aktivitas erupsi eksplosif yang memuntahkan material-material kecil ke atmosfer sebelum jatuh kembali dan mengendap di sekitar gunung.

Gambar 4.2Sebaran Batuan pada Gunung Guntur

● Proses Vulkanik

Gunung Guntur mengalami beberapa proses vulkanik yang menghasilkan beragam bentuk dan endapan vulkanik di sekitarnya. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai proses-proses tersebut:

1. Pembentukan Kawah

Kawah-kawah di puncak Gunung Guntur terbentuk akibat letusan-letusan yang terjadi pada masa lalu. Setiap letusan menghasilkan cekungan besar di puncak gunung yang menunjukkan lokasi keluarnya magma ke permukaan. Pembentukan kawah ini menandai pusat aktivitas vulkanik dan

(5)

sering kali menunjukkan adanya rekahan atau retakan akibat tekanan dari magma yang naik ke permukaan.

2. Aliran Lava

Aliran lava adalah proses keluarnya magma dalam bentuk lava yang mengalir dari kawah menuju lereng gunung. Di Gunung Guntur, aliran lava umumnya berasal dari letusan bertipe efusif yang menghasilkan lava andesit atau basalt. Lava yang mengalir ini membentuk lapisan-lapisan batuan beku yang keras setelah mendingin dan menjadi karakteristik utama dari stratovolcano. Aliran lava ini biasanya mengikuti lereng gunung dan dapat mencapai dasar lembah, membentuk dataran lava. Pada Gunung Guntur dapat terlihat di mana aliran lava dan material piroklastik tersebar ke arah selatan dan barat daya.

3. Endapan Piroklastik

Aktivitas vulkanik di Gunung Guntur juga menghasilkan endapan piroklastik, yaitu material yang terlontar ke udara saat terjadi letusan eksplosif.

Endapan piroklastik terdiri dari abu vulkanik, lapilli, bom vulkanik, serta fragmen batuan yang lebih besar. Piroklastik ini biasanya terbawa angin dan mengendap di sekitar lereng gunung, membentuk lapisan yang ringan tetapi cukup berbahaya bagi lingkungan karena kandungan gas beracun dan suhu tinggi saat terbentuk.

4. Aktivitas Fumarola dan Hidrotermal

Gunung Guntur juga menunjukkan adanya aktivitas fumarola, yaitu semburan uap dan gas panas dari celah-celah di sekitar kawah. Aktivitas fumarola ini menunjukkan adanya panas dari dalam bumi yang masih aktif dan dapat mengindikasikan aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung.

Gas-gas yang dilepaskan umumnya berupa uap air, karbon dioksida, dan belerang, yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar dan mengindikasikan adanya sirkulasi hidrotermal di bawah permukaan.

(6)

V. Dampak Gunung Guntur

1. Hilangnya daerah resapan air dan kerusakan hutan

Letusan gunung yang besar dapat menghancurkan hutan di lereng dan sekitarnya abu vulkanik yang tebal serta aliran lava atau lahar merusak tanah dan menghalangi resapan air hujan, sehingga mengurangi kapasitas tanah untuk menyimpan air dan berdampak pada berkurangnya cadangan air tanah serta sumber air bersih di masa mendatang.

2. Kerusakan lahan dan bahaya akibat banjir lahar dingin

Banjir lahar dingin dari letusan gunung dapat merusak lahan pertanian, hutan, serta pemukiman. Banjir lahar dingin yang membawa material ini berisiko menghancurkan rumah, jembatan, fasilitas umum, dan sistem sanitasi, serta mengancam keselamatan masyarakat.

3. Kerusakan Infrastruktur dan Permukiman

Material vulkanik seperti lava panas, abu, dan batuan yang terlontar saat letusan dapat merusak Infrastruktur bahkan pemukiman akibat tertimbun abu vulkanik atau terkena aliran lahar panas dan dingin. Selain kerusakan properties juga dapat merusak jaringan listrik dan menara komunikasi buat menjadi kalimat padu dan singkat

4. Gangguan Aktivitas Ekonomi dan Pariwisata

Letusan gunung memaksa masyarakat menghentikan aktivitas ekonomi seperti perdagangan, pertanian, dan peternakan karena lahan rusak atau tertutup abu, serta menyebabkan penurunan wisatawan akibat kekhawatiran keamanan dan akses jalan yang terganggu.

(7)

VI. Tindakan Mitigasi Bencana 1. Seismometer

Seismometer dapat mendeteksi dan mengukur getaran atau gempa vulkanik yang sering terjadi sebelum letusan. Alat ini membantu memantau aktivitas seismik di bawah gunung, sehingga pergerakan magma bisa terdeteksi lebih awal.

Gambar 5.1 Seismometer

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Koesmono, S., et al. (1996). Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa Barat. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Surono, I., & Handayani, D. (2012). Vulkanologi dan Aktivitas Gunung Berapi di Indonesia.

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Fauzi, A. (2016). Gunung Guntur: Sejarah dan Potensi Vulkaniknya. Bandung: Penerbit Geologi Indonesia.

Sutawidjaja, I. (2018). Mitigasi Bencana Letusan Gunung Api di Indonesia. Jakarta: Penerbit Alam Ilmu.

Yulianto, H. (2019). Dampak Letusan Gunung Guntur terhadap Lingkungan dan Masyarakat.

Jurnal Vulkanologi, 15(2), 89-101.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. (2021). Gunung Guntur: Aktivitas dan Potensi Bahaya Vulkanik. Bandung: PVMBG.

(9)

LAMPIRAN

Berikut merupakan link pengumpulan video kuliah lapangan Vulkanologi.

https://drive.google.com/drive/folders/1U_bDx58YiKshZ10sGQTitKQogvH1kGe4?usp=driv e_link

Referensi

Dokumen terkait