• Tidak ada hasil yang ditemukan

Review Dari Buku Reposisi Pekabaran Injil

N/A
N/A
Ester Viantika Nababan

Academic year: 2024

Membagikan " Review Dari Buku Reposisi Pekabaran Injil"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Review Buku Reposisi Pekabaran Injil

DOSEN PENGAMPU:

Bvr. Tiarma Siahaan, M. Th DISUSUN OLEH:

Nama : Juniar Lamtiorida Lumbantobing NIM : 2020. 003. 1571

Tingkat : 1B

Mata Kuliah : Pengantar Misi

Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti,

TA.2020/2021

(2)

BAB I

IDENTITAS BUKU

Judul buku : Reposisi Pekabaran Injil; Bagaimana menyanyikan nyanyian Tuhan Negeri asing? ( Mazmur 137 : 4 )

Penulis buku : Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing Penerbit buku : PT BPK GUNUNG MULIA Nama kota penerbit : Jl. Kwitang 22 - 23, Jakarta 10420 Jenis cover : Soft cover

Cetakan : ke – 1

Jumlah halaman buku : 233 halaman

Ukuran : xviii; 22 cm

Harga buku : Rp. 99. 000, 00 A. Tentang Penulis

Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing – kampung rawang – kisaran, 22 Agustus 1956 – menlis berbagai buku, terakhir HKBP is HKBP, HKBP do HKBP ( Jakarta, BPK GM 2017 ). Setelah menjabat ketua Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP dalam dua periode ( 2007 – 2015 ) dan ketua Rapat Pendeta HKBP ( 2013 – 2017 ), sejak 2016 terpilih menjadi Ephorus HKBP untuk periode 2016 – 2020. Bukunya yang diterbitkan oleh BPK Gunung Muli adalah Tumbuh Lokal Berbuah Universal ( 2018 ).

B. Tentang Buku

Buku Reposisi Pekabaran Injil merupakan buku edisi cetakan pertama tahun 2019. Sekilas buku ini terlihat sangat sederhana yang hanya terdiri dari 4 bagian dan memilki penutup dari penulis itu sendiri. Buku ini merupakan pengembangan dari buku Gerejaku, Agamaku dan Agamanya, Apa Bedanya? Isinya tentang pendekatan dan pemahaman eksistensi gereja dan ke -kristenan terhadap agama lain.

Buku Reposisi Pekabaran Injil ini adalah suatu upaya mencari dan menemukan metode Pekabaran injil yang relevan, actual, dan tepat guna masa kini. Sebagaimana dikatakan penulis Ibrani “Allah telah berulang kali dan berbagai cara” memberitakan Friman-Nya demikian pula Gereja berusaha menemukan metode yang relevan dan actual memberitakan Injil dalam konteks kehidupan masa kini,sehngga berita injil itu semakin berbuah, berkembang, dan menjadi pola hidup,karakter,dan perilaku umat manusia.

Buku ini membahas tentang perlu adanya sikap dan rencana reposisi, transposisi, dan pergeseran paradigma dalam melaksanakan tugas Pekabaran Injil sekarang ini.Rencana pergeseran itu dimaksudkan agara dalam melaksanakan tugas marturia,memberitakan injil kepada setiap orang

(3)

dan segala makhluk dapat berlangsung secara efisien,tepat guna,dan bermutu dalam arti bermanfaat dalam kehidupan manusia,sebagiamana disuarakan Injil Kristus.

Buku ini diterbitkan dalam rangka menyambut 100 tahun kehadiran HKBP di Jakarta yang ditandai dengan HKBP Kernolong, tahun 1999. Buku ini merupakan kajian dan pemikiran ulang tentang program pekabaran Injil, juga disarankan sebagai buku panduan pelaksanaan pekabaran Injil sekaligus sebagai kajian studi Misiologi

(4)

BAB II ISI BUKU 1. Realitas Kehidupan Gereja

Gereja adalah persekutuan orang – orang yang percaya kepada yesus Kristus. Karena persekutuannya dengan Kristus, secara liturgis dan teologis diwujudkan melalui babtisan dan perjamuan kudus, gereja disebut juga persekutuan orang – orang kudus. Di samping pemahaman gereja sebagai persekutuan orang kudus, gereja juga mempunyai panggilan yaitu untuk melayani dan bersaksi.

Panggilan itu adalah sekaligus pengutusan. Hakikat dan sifat gereja terletak di dalam Tri tugas panggilan gereja yaitu, bersekutu ( koinonia ), melayani ( diakonia ), dan bersaksi ( marturia ).

Gereja yang hidup, bertumbuh, berkembang, mandiri dan dewasa adalah gereja yang benar – benar sudah melakuakan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian.

Bersekutu, melayani, dan bersaksi merupakan tugas hakiki gereja. Tugas itu tidak dilaksanakan secara estafet, tetapi secara simultan. Dimana ada persekutuan, disana ada kesaksian dan pelayanan. Dimana ada pelayanan disana ada persekutuan dan kesaksian. Ketiganya saling mengisi dan saling menguatkan. Kita tidak harus menunggu persekutuan kita semua sempurna, barulah kita memulai pelayanan. kita tidak harus menunggu pelayanan kita sempurna, baru kita laksanakan kesaksian kita. Ketiga dimensi hakikat gereja ini menjadi pilar berdirinya gereja yang utuh dan kokoh. Bila ketiga pilar tersebut kokoh,itu pertanda bangunan gereja pun kokoh. Jika salah satu pilar tersebut tidak lagi berfungsi dengan semestinya, keberadaan gereja itupun tidak kokoh lagi.

Karena itu, membenahi dan merevitalisasi bangunan gereja harus dilakukan secara serentak.

Karena itu, ketiganya memang saling mendukung dan saling manguatkan.

Salah satu ciri khas kehidupan gereja adalah pengharapan akan masa depan. Gereja masa kini tidak selalu berdiam dan berada pada masa kini. Gereja yang hidup adalah gereja yang mempunyai pengharapan masa depan. Gereja tidak pernah di tentukan oleh masa lalu atau masa kini, melainkan oleh pengharapannya oleh masa depan. Dalam konteks pemahaman itulah keberadaan gereja HKBP masa kini dapat diterima dan dipahami.Keadaan HKBP masa kini bukanlah akhir dari keberadaan HKBP yang sebenarnya,sebab HKBP masih berada dalam proses perjalanan hidup menuju masa depan yang diharapkan. Untuk itu, gereja perlu mengantisipasi masa yang akan datang. Antisipasi masa depan yang perlu dilakukan aadalah secara alkitabiah,agar gereja dapat bercermin kepada perilaku ketujuh kehidupan gereja sebagimana disebut dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3. Oleh karena itu, HKBP sebagai salah satu gereja dapat melihat dirinya sendiri melalui penggambaran kehidupan jemaat di dalam kitab Wahyu tersebut.

Dengan melihat perjalanan HKBP sebagai gereja dalam lingkungannya sebagai gereja local tetapi juga dalam pergumulannya sebagai gereja oikumenes,tidak dapat disangkal bahwa HKBP telah mengalami berbagai pergumulan, tantangan, dan kemajuan. Dengan demikian HKBP telah bertumbuh dan berkembang sesuai. Dengan pergumulannya n di dalam konteks kehidupan local, nasional, dan internasional. Dengan kata lain, HKBP bergumul dalam kehidupannya sebagai gereja lokal, gereja suku, tetapi juga sebagai gereja oikumenis. Melihat kenyataan tersebut mutlak perlu dalam upaya menghidupkan gerakan oikumenis serta memahami dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun secara kolektif ( jemaat lokal ). Untuk

(5)

itu, dibutuhkan pendidikan kaderisasi oikumenis untuk memahami, menghayati, dan mempraktikkan keesaan gereja di dalam kehidupan kekristenan.

Sesuai cita – cita dan tujuan gereja yang okumenis, gereja harus berusaha mengaktualisasikan doa dan harapan Yesus Kristus. Gerakan oikumenis yang sedang berlangsung ternyata hanya berusaha menjalin kesatuan sesame satu denominasi, belum antardenominasi, apalagi antargereja dan dunia.

Gereja tidak hanya berupaya menyatakan “satu kendang” dengan orang yang sudah menjadi pengikut Kristus, atau di dalam interdenominasi saja, tetapi berupaya memasukkan orang lain di luar gerejamenjadi di dalam gereja yang am, esa, dan kudus itu.

2. Reposisi Misi Gereja

Gereja dan kekristenan yang diperkenalkan teolog barat yang kemudian dibawa oleh misionaris dimasa lalu, selalu menekankan keutamaan dan kemutlakan ajaranya terhadap agama dan kepercayaan yang lain. Gereja harus semakin memahami bahwa setiap agama dan kepercayaan sebenarnya mempunyai nilai-nilai kebenaran, menuju kebenaran yang hakiki, kebenaran yang universal. Gereja dan kekristenan sebenarnya juga berada di tengah-tengah agama dan kepercayaan lain, yang mempunyai nilai-nilai kebenaran sendiri. Setiap orang selalu berhubungan, berpapasan, bahkan hidup dalam suatu komunitas sosial suku, budaya, bahasa, dan agama lain.

Realitas itu harus didasari sepenuhnya, sehingga keberadaan kita mempunyai perbedaan budaya, bahasa, dan agama hidup rukun dan damai.

Gereja harus siap dan bersedia melakukan dan melaksanakan pemikiran ulang berdasarkan pengkajian yang matang, propesional, dan konsisten dalam setiap program pelayanannya. Dalam relevansi pemberitaan Firman Tuhan sangat tergantung kepada cara atau metode bagaimana Firman Tuhan itu diberitahukan dan disampaikan kepada manusia sebagai pendengar. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk menentukan cara pemberitaan, agar umat manusia dapat mendengar, memahami, dan menerima upaya pemberitaan itu. Kesaksian dan pemberitaan injil yang paling relevan dan efisien adalah melalui perilaku dan cara hidup kita yang sesuai dengan tuntutan Kristus.

Pada periode 2016 – 2020 ini telah membuka kesadaran baru bahwa yang kita lakukan ternyata masih jauh dari sempurna. Kesadaran itu perlu dibangun agar para pelayan tahbisan tidak berpuas diri karena kebesaran HKBP. Pada penghujung periode ini kita terpanggil untuk membenahai dan menyempurnakan program mesianis, yang kita terima, yaitu memberitakan firman Tuhan,Injil Kristus, kepada semua mahkluk hidup dan kepada semua manusia.

Program pelayanan Pekabaran Injil merupakan keharusan bagi gereja masa kini. Gereja tidak boleh lagi hanya menekuni dan menjalankan pola lama. Gereja harus siap dan bersedia melakukan dan melaksanakan pemikiran ulang berdasarkan pengkajian yang matang. Setiap program pelayanan harus selalu siap untuk di kaji ulang agar terlaksana dengan efektif dan efisien. Tuntutan pemberitaan Injil ini merupakan tugas hakiki dari setaip orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Berdebat, Berdialog, Bersaksi, atau Bercerita

persoalan serius yang dihadapi para teolog agama – agama masa kini adalah bagaimana berteologi, bermisi, berinteraksi, dan bermasyarakat antara penganut agama yang satu terhadap penganup

(6)

agama yang lain. Dalam praktik komunikasi melalui Bahasa, kita mengenal istilah yaitu berdebat, berdialog, bersaksi, dan bercerita.

Berdebat adalah salah satu pendekatan berkomunikasi dengan memakai bahasa untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada seseorang. Hal ini merupakan upaya mengalahkan argumentasi orang lain dengan tujuan memenangkan argumentasi yang dibangun sendiri secara logis.

Berdialog adalah merode berkomunikasi yang berbeda dengan berdebat Secara vokabularis, berdialog berarti berbicara dua arah. Tujuan berdialog adalah mencari dan menemukan pemahaman bersama mutual understanding. Dialog bukan untuk mengungkapkan perbedaan sekalipun perbedaan itu perlu diketahui untuk kemudian dipahami bersama Jadi dialog adalah unutk menemukan nilai-nilai dan paham kebersamaan agara dapat saling dipahami bersama.

Bersaksi adalah mengekspresikan perasaan,paham,dan kepercayaan secara monolog kepada orang lain. Komunikasi yang dibangun melalui kesaksian selalau didasarkan atas pengalaman pribadi dalam kehidupan masa lalu. Kesakian yang sifatnya monolog itu secara dominan menekankan peranan diri sendiri dan kurang mempertimbangkan pengalaman orang lain. Pendekatan komunikasi dengan bersaksi mengasumsikan bahwa orang lain harus mendengar dan menerima kesaksiannya.

Terakhir yaitu bercerita, bercerita atau menuturkan kisah kepada orang lain adalah salah satu pendekatan komunikatif yang relevan. Dimana bercerita dijadikan salah satu alternative dalam upaya berteologi narrative theology. Bercerita atau menuturkan kisah akan lebih efisiensi disbanding tindakan komunukasi.

Teologi Yang Relevan di Era Pascamodern

teologi selalu bersangkut paut dengan masalah kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan dating. Teologi menjadi kunci jawaban setiap kemelut yang terjadi di dalam kehidupan yang semakin sembrawut.

Teologi yang relevan adalah teologi yang bertemu dengan konteks kehidupan. Teologi tanpa konteks adalah teologi yang berada di awing-awang. Teologi yang relevan dan aktual dalam kehidupan harus memperhitungkan dan mempertimbangkan konteks kehidupan.Pemahaman Firman Tuhan yang benar dan konteks kehidupan yang tepat melahirkan teologi yang benar dan tepat pula.Teologi seperti itu menjadi relevan dan aktual dalam kehidupan. Tidak hanya Firman Tuhan yang perlu di ketahui secara benar.Konteks kehidupan harus juga dipahami secara tepat.

Dalam tugas panggilan inilah gereja harus berupaya berteologi kontekstual dalam kondisi kehidupan masa kini.Gereja tidak boleh terpisah dari dari dunia ini. Oleh karena itu,kondisi postmodern yang sudah dijelaskan harus dipertimbangkan dan di perhitungkan sebagai konteks dan kondisi berteologi dalam pelayanan masa kini.

Ada beberapa hal yang harus dicermati agar gereja tetap pada posisinya sebagai peawaris misi mesianis Yesus Kristus, yaitu:

➢ Ekklesiosentrisme

(7)

Tujuan pokok bergereja hanya untuk memperbesar gereja secara institusional. Ekklesiosentrisme menempatkan gereja secara institusi yang dilayani sebagai tujuan dari semua pelayanan yang dilakukan.mereka bukan mengajak orang yang belum percaya agar menjadi percaya tetapi bermaksud untuk menggerejakan orang Kristen dari gereja lain menjadi warga gereja yang dilayani.

➢ Churchless Christianity

Kekristenan tanpa gereja adalah sala satu kecenderungan akhir – akhir ini, bahkan merupakan reaksi jemaat terhadap kecenderungan yang terjadi dengan banyak aliran dan denominasi gereja.

Kehairan gereja adalah untuk memberitakan injil Kristus, tujuan para pelayan secara internal mereka terpanggil untuk, memelihara dan melengkapi hidup kerohanian jemaat. Secara eksternal mereka terpanggil untuk, membawa domba – domba lain, yang belum percaya, agara menjadi pengikut Kristus, pewaris kerajaan sorga.

3. Gereja dan Negara

Hubungan negara dan gereja merupakan masalah yang tak kunjung selesai dibahas. Semua warga gereja adalah warga negara, Tetapi tidak semua warga negara sebagai warga gereja. Gereja berada dalam negara tetapi tidak ada negara dalam gereja.

Dari aspek tersebut kehadiran suatau agama yang hidup berdampingan dengan agama lain, baik antara agama tradisional maupun antara agama-agama Kitab, ternyata tidak selalu membawa implikasi positif dalam membangun kehidupan bersekutu, bermasyarakat, dan berbangsa. Lepas dari keagamaan teologi, dogma, ritus, dan tradisi tersebut, suatau agama sering berupaya memperkenalkan Tuhan atau tuhan kepada penganut agama lain. Tugas pokok dari kehadiran gereja di tengah kepelbagaian agama di dalam negara adalah bersaksi, menyatakan pengakuan imannya di hadapan dunia, agar manusia mengenal, mengetahui, dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Kehadiran gereja di tengah-tengah negara dan kepelbagaian agama selalu mempunyai dan melahirkan masalah. Dengan demikian, tugas utama dari gereja sebagai tubuh kristus bukan untuk menjadikan domba-domba lain agar satu kandang dengan kita.Maka kita harus melakukan tiga dimensi hidup keberagaman yang selalu dipelihara dan dipertahankan oleh setiap agama, yaitu sakralitas, spiritualitas, dan moralitas. Ketiga dimensi tersebut menjadi jaminan terhadap hidup keberagamaan seseorang.

Tugas gereja yang utama bukan untuk mengkristenkan, apalagi merekrut agar mereka menjadi warga gereja melainkan untuk membawa berita keselamatan dari Yesus Kristus kepada semua orang.

4. Membangun Kerukunan

Salah satu tugas gereja sebagai persekutuan orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah membawa damai di tengah-tengahdunia yang justru langka dengan suasana dan kehidupan yang damai. Membangun damai untuk semua dalam konteks kehidupan budaya,sosial,dan bangsa Indonesia mengharuskan upaya yang konkert.

(8)

Kerukunan tidak lepas dari toleransi, toleransi yang dimaksud disini yaitu untuk mendengarkan orang lain, memperhatikan orang lain, bekerja sama dengan orang lain, dan bersahabat dengan orang lain. Tetapi kita memiliki persamaan, kita harus saling menghargai perbedaan itu, agar persamaan kita semakin erat.

Peranan gereja sebagai garam dan terang duniaakan memotivasi gereja dan orang-orang percaya untuk menjadi pembawa damai bagi orang lain. Oleh karena itu, semua pihak harus dapat hidup berdampingan dakam kondisi damai sejahtera.Semua pihak, gereja, lembaga pemerintah dan nonpemerintah harus berusaha dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain secara damai dan sejahtera. Itulah yang diupayakan dalam pembentukan komunitas damai di berbagai bidang kehidupan.

Setiap gereja bertumbuh secara lokal, tetapi harus berbuah secara universal. Kehadiran HKBP baik secara lokal maupun universal. HKBP hadir dan membawa pengaruh bukan hanya di daerah asalnya Tapanuli dan bukan untuk suku batak saja, tetapi juga di luar daerah Tapanli dan di luar masyarakat Batak. Dengan demikian HKBP sebagai gereja dan sebagai persekutuan orang percaya masih membutuhkan uluran tangan dari berbagi pihak, dalam waktu yang bersamaan peranan dan kehidupan HKBP tidak lagi hanya untuk diri sendiri tetapi juga sudah menjadi church for others - gereja untuk orang lain.

(9)

BAB III PENUTUP Kesimpulan :

Buku REPOSISI PEKABARAN INJIL: bagaimana menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing?

( Mazmur 134 : 4 ). Keseluruhan buku ini membahas perlu adanya sikap dan rencana reposisi, transporsisi, dan pergeseran paradigma dalam melaksanakan tugas pekabaran injil. Hal ini dilakukan agar tugas dari koinonia, diakonia, dan marturia dapat berjalan dalam melaksanakan tugas nya masing – masing. Yang sangat berguna atau bermanfaat dalam kehidupan manusia, sebagaimana disuarakan injil kristus.

Buku ini merupakan petunjuk untuk melakukan tugas dan panggilan gereja agar program pekabaran injil itu dapat berjalan dengan efektif dan bermutu. Dengan tujuan untuk memberitakan injil Kristus dengan demikian tugas dan pelayanan misi dapat terlaksana dengan efisien untuk membangun kehidupan manusia.

Kelebihan :

Kelebihan dari buku ini adalah bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah untuk dimengerti oleh pembaca. Buku ini juga menambah kosa kata yang belum pernah pembaca ketahui, dalam buku ini juga terdapat mengenai makna Historis kehadiran HKBP sehingga semakin bertambah nya pengetahuan pembaca mengenai HKBP. Dalam buku ini tidak hanya menyajikan teori saja tetapi juga di sertai ayat-ayat Alkitab. Selain itu, pada setiap pembagian pembahasan dalam tiap bagian mulai dari bagian 1 hingga 4 terdapat penutup dari penulis sehingga kita dapat lebih memahami isi buku ini.

Kekurangan :

Kekurangan dari buku ini adalah adanya tanda baca yang tidak sesuai misalnya seperti tanda kutip yang terbalik dan juga tanda penghubung yang terlalu Panjang dan dalam penulisan ayat Alkitab terpisah seperti Markus (16:15-16), juga adanya kalimat – kalimat yang harusnya berbentuk paragraf tetapi dibuat rata sehingga tidak seperti paragaraf – paragraph sebelumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Efikasi diri adalah suatu keyakinan atau kepercayaan diri individu mengenai kemampuannya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu, dan mengimplementasi tindakan untuk mencapai kecakapan tertentu. Efikasi diri mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan proses dan tindakan yang mengarah pada. Terdapat tiga dimensi efikasi diri, yaitu besarnya, kekuatannya, dan