Defence Diplomacy
Dalam politik internasional, diplomasi pertahanan mengacu pada pengejaran tujuan kebijakan luar negeri melalui penggunaan sumber daya dan kemampuan pertahanan secara damai. Diplomasi pertahanan sebagai konsep pengorganisasian untuk aktivitas internasional terkait pertahanan berawal dari penilaian ulang pasca-Perang Dingin terhadap lembaga pertahanan Barat, yang dipimpin oleh Kementerian Pertahanan Britania Raya, dan merupakan prinsip %u201Digunakan untuk membantu Barat berdamai dengan lingkungan keamanan internasional yang baru. Meskipun istilah tersebut berasal dari Barat, pelaksanaan diplomasi pertahanan sama sekali tidak terbatas pada negara-negara Barat.
Tujuan diplomasi pertahanan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kerjasama militer, mengurangi ketegangan antar negara, menjaga persahabatan atau membentuk aliansi dan dapat melakukan latihan bersama. Diplomasi pertahanan dalam praktiknya dipengaruhi oleh dua hal, yaitu aktor dan faktor serta evolusi tantangan keamanan. Pemahaman masing-masing aktor dalam memandang permasalahan pertahanan dan keamanan mengalami perubahan di berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, budaya, politik maupun pertahanan. Dewasa ini, globalisasi memotong batas negara (borderless) yang mengakibatkan masalah pertahanan dan keamanan menjadi isu regional dan global sehingga negara-negara dunia mengadakan kerjasama pertahanan regional dan kerjasama global. Perubahan dari pernyataan sebelumnya memaksa aktor-aktor pertahanan untuk mengubah cara pandang, prioritas dan tanggung jawab di bidang pertahanan dan keamanan seperti membentuk dan mengirimkan penjaga perdamaian ke daerah konflik, menanggapi bencana, melaksanakan diplomasi pertahanan, baik itu latihan militer bersama atau membuat kesepakatan bersama.
Dengan sejarah panjang peristiwa-peristiwa besar dunia, negara-negara menjadi sadar untuk terlibat dalam diplomasi multilateral dan pembentukan lembaga-lembaga tertentu dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam memajukan kepentingan nasionalnya.
Secara sederhana, diplomasi pertahanan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, kegiatan kerjasama dilakukan oleh institusi militer dalam kondisi damai. Kedua, kerjasama militer diharapkan dapat menciptakan keseimbangan terhadap kekuatan lawan. Pada titik ini, negara secara aktif mengirimkan penjaga perdamaian, mempromosikan demokrasi dan lainnya. Ketiga, diplomasi pertahanan juga terkait dengan kerjasama militer dengan negara rival. Artinya, negara melalui
diplomasi pertahanan dapat mengidentifikasi, mengukur dan merumuskan langkah-langkah strategis dengan perencanaan yang matang jika sewaktu-waktu perang tidak dapat dihindari.
Dengan terjalinnya kerja sama militer dan kerja sama infrastruktur militer, diharapkan hubungan antar negara akan semakin diperkuat, terkadang bahkan melampaui institusi tradisional lainnya dalam proses pengambilan keputusan di luar negeri.
Cottey dan Foster (2004) menjelaskan kegiatan yang termasuk dalam kategori diplomasi pertahanan. Pertama, dimulai dengan kontak bilateral dan multilateral antara pejabat senior militer dan pertahanan sipil. Kedua, menunjuk atase pertahanan bagi negara mitra. Ketiga, menyusun dan menetapkan perjanjian kerja sama pertahanan bilateral. Keempat, mengadakan latihan pertahanan militer bersama dengan negara mitra. Kelima, secara aktif memberikan keahlian dan memberikan masukan tentang pengendalian demokrasi angkatan bersenjata, manajemen pertahanan dan teknik militer. Keenam, mengadakan kontak dan pertukaran personel dan satuan militer serta melakukan kunjungan ke kapal rekanan. Ketujuh, mengatur penempatan personel militer atau sipil di kementerian pertahanan atau angkatan bersenjata negara mitra.
Kedelapan, menyebarkan tim pelatihan dengan negara mitra. Kesembilan, mengoordinasikan pemberian bantuan peralatan militer dan material lainnya. Dan terakhir, mengadakan latihan militer bilateral atau multilateral untuk tujuan pelatihan. Semua kegiatan tersebut bermuara pada penguatan kerjasama antar militer sebagai bagian dari praktik diplomasi.