• Tidak ada hasil yang ditemukan

Review Jurnal KONSTITUSI DAN HAK ASASI MANUSIA

N/A
N/A
Hyun Sky

Academic year: 2025

Membagikan "Review Jurnal KONSTITUSI DAN HAK ASASI MANUSIA"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Review Jurnal KONSTITUSI DAN HAK ASASI MANUSIA

Artikel ini membahas hubungan antara konstitusi dan hak asasi manusia (HAM), menyoroti peran konstitusi tidak hanya dalam menjamin dan melindungi HAM secara tertulis tetapi juga dalam menyediakan nilai-nilai yang digunakan pengadilan untuk menginterpretasikan hak-hak tersebut.

Artikel ini mengeksplorasi konsep HAM, posisi HAM dalam konstitusi, khususnya UUD 1945, serta implikasi dari pengaturan HAM dalam konstitusi.

Salah satu muatan utama dari konstitusi adalah HAM. konstitusi setiap negara mengatur HAM dengan menggunakan sistematika yang berbeda. Walter F. Murphy mengemukakan 3 jenis konstitusi, yaitu:

1. Konstitusi pura-pura (sham constitution) artinya, konstitusi ada, tetapi sebenarnya tidak ada

2. Konstitusi kosmetik, yang berarti konstitusi hanyalah sekedar alat pajangan 3. Konstitusi yang sebenarnya

John Locke disebut sebagai bapak HAM. Menurutnya, meskipun ada perjanjian membentuk satu kesatuan masyarakat atau negara, rakyat tetap memiliki hak alamiah sebagai inalieable rights. Negara atau pemerintah tidak boleh mengganggu atau merampas hak-hak alamiah, yaitu life, liberty, property.

Generasi HAM:

Generasi pertama: hak-hak sipil dan politik.

Generasi kedua: hak-hak ekonomi dan sosial.

Generasi ketiga: hak-hak kolektif, budaya, dan lingkungan.

Setiap konstitusi modern hampir selalu memuat ketentuan mengenai hak asasi manusia (HAM). Negara-negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis, seperti Inggris dan Israel, tetap memiliki aturan HAM melalui hukum atau perjanjian internasional. Di Indonesia, ketentuan mengenai HAM dalam UUD 1945 sebelum amandemen sangat terbatas, namun setelah reformasi, HAM diatur secara lebih lengkap untuk menjamin hak-hak warga negara.

Penambahan ketentuan HAM dalam UUD 1945 dilakukan dengan mengadopsi beberapa prinsip dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) tahun 1948. Hal ini

menunjukkan komitmen Indonesia dalam melindungi HAM secara konstitusional.

Memasukkan HAM ke dalam konstitusi tidak hanya menjadikan HAM sebagai hak fundamental, tetapi juga sebagai hak tertinggi yang harus dilindungi dan dipenuhi oleh negara. Dalam diskusi tentang UUD 1945 dan HAM, terdapat perbedaan pandangan antara kelompok yang dipimpin Supomo–Soekarno dan Hata–Yamin. Supomo–Soekarno menolak gagasan memasukkan HAM secara eksplisit dalam UUD karena dianggap berakar pada liberalisme-individualisme, sedangkan Hatta–Yamin mendukung penempatan HAM dalam UUD dengan alasan hak-hak tersebut tidak bertentangan dengan prinsip kekeluargaan.UUD 1945 sebelum amandemen hanya memuat HAM secara terbatas, terutama dalam Pasal 27, 28, 29, 31, 33, dan 34 yang mengatur hak-hak dasar seperti hak atas persamaan di depan hukum, kebebasan beragama, dan hak atas pekerjaan. Namun, setelah reformasi, perubahan UUD 1945 memperluas perlindungan HAM secara lebih rinci dengan menambahkan ketentuan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) 1948. Meskipun hak-hak tersebut dijamin dalam UUD, pada masa Orde Lama dan Orde Baru terjadi pembatasan kebebasan atas nama

“revolusi” dan “pembangunan”. Setelah reformasi, HAM lebih dihormati, namun jurang antara hak-hak politik dan sosial-ekonomi masih terlihat.

(2)

Hubungan Negara dan Agama

Jurnal ini mengkaji hubungan antara negara dan agama, dengan fokus pada nilai-nilai agama dalam hukum serta putusan pengadilan yang merefleksikan hubungan tersebut. Artikel membahas tiga aspek utama: 1) Relasi agama dan negara dalam diskursus Fiqh Siyasah dan Ilmu Hukum; 2) Jaminan kebebasan beragama dalam hukum positif dan konvensi

internasional; 3) Agama sebagai sumber hukum dan aktualisasinya dalam putusan

pengadilan. Kesimpulannya, Indonesia memiliki model unik dalam hubungan negara dan agama, di mana negara tidak terlalu jauh atau dekat dengan agama, tetapi tetap memfasilitasi kebutuhan setiap agama dalam dua ranah: publik dan privat. Nilai-nilai agama sering

diadopsi dalam hukum nasional, tetapi ketika diterapkan, terjadi "derelegiusasi", di mana nilai-nilai metafisis agama dilepaskan dalam proses hukum.

Relasi Agama dan Negara: Indonesia memiliki pola hubungan negara dan agama yang khas, dengan tidak memisahkan sepenuhnya keduanya, namun juga tidak mendasarkan negara pada agama tertentu. Relasi ini terlihat dari produk hukum yang mengakomodasi berbagai kepentingan agama.

Indonesia menjamin kebebasan beragama melalui UUD 1945 dan berbagai peraturan hukum lainnya. Negara tidak menetapkan agama resmi, melainkan mempromosikan agar warganya menjadi orang yang beragama dan berkeyakinan tanpa intervensi negara. Kebebasan ini diatur dalam Pasal 28E, 28I, dan Pasal 29 UUD 1945, yang menjamin hak setiap orang untuk memeluk agama dan beribadat sesuai keyakinannya.

Jaminan ini memberikan ruang bagi organisasi keagamaan untuk mengembangkan

keyakinan, menjalankan ibadah, dan mempromosikan ajaran agama di tengah masyarakat.

Meski begitu, hukum juga berfungsi sebagai alat integrasi sosial, menjaga ketertiban dan mencegah konflik antaragama.

Agama di Indonesia berperan penting sebagai sumber hukum, terlihat dari banyaknya regulasi yang diadopsi dari nilai-nilai agama, seperti UU Perkawinan, UU Haji, dan UU Wakaf. Hubungan simbiosis antara negara dan agama ini memungkinkan nilai-nilai agama masuk ke dalam hukum nasional.

Namun, ketika nilai agama diterapkan sebagai hukum positif, terjadi proses "derelegiusasi," yaitu pelepasan sifat metafisis dan transendental agama, sehingga kepatuhan pada aturan hukum lebih didasarkan pada otoritas hukum daripada alasan ilahiyah.

Kesimpulan: Relasi antara negara dan agama di Indonesia bersifat simbiotik, di mana negara dan agama saling memerlukan, namun dalam praktiknya, nilai-nilai agama yang diadopsi oleh hukum nasional mengalami derelegiusasi saat diterapkan sebagai hukum yang mengikat secara legal.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu sebagai negara hukum, Indonesia menjadikan hak asasi manusia sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan bernegara, yang tidak

Terhadap perhatian akan hak-hak asasi anak ini benar-benar kelihatan bahwa negara Indonesia tidak mau adanya tuntutan standard internasional dalam ratifikasi hukum

sebelum lewat waktu tunggu. Perkawinan Beda Agama Sebelum UU Perkawinan. Sebelum adanya UU Perkawinan, keadaan hukum perkawinan di Indonesia beragam. Setiap golongan

Setiap Orang di muka umum yang menyatakan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia dipidana dengan

Di Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, tidak ada pemisahan sepenuhnya antara negara dan agama, dan bahwa tanggung jawab negara terhadap agama tidak hanya terbatas pada

sebelum lewat waktu tunggu. Perkawinan Beda Agama Sebelum UU Perkawinan. Sebelum adanya UU Perkawinan, keadaan hukum perkawinan di Indonesia beragam. Setiap golongan

Jelaslah bahwa untuk membentuk suatu pembangunan hukum yang aspiratif terhadap nilai global maka hukum Indonesia harus mampu menyerap nilai Hak Asasi Manusia yang

Demikian pula pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia atau hak sipil dalam pembukaan dan inti UUD 1945 adalah desakan negara Indonesia untuk menjadi negara yang sah dan demokratis,