Revolusi Kesehatan Mental di Era Pasca-Pandemi Abstrak
Kesehatan mental sangat penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Namun, masalah kesehatan mental masih kurang diperhatikan di sebagian besar negara berkembang. Pandemi COVID-19 membuat kesehatan mental menjadi masalah besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi kesehatan mental sebagai bagian penting dari pencegahan COVID-19. Pandemi COVID-19 memiliki banyak kasus penularan dan tingkat kematian yang tinggi, dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental adalah akibatnya. Kebijakan kesehatan mental Indonesia harus menggabungkan layanan kesehatan mental secara optimal. Pada masa pandemi COVID-19, pendekatan berbasis masyarakat dapat memperluas cakupan pelayanan kesehatan mental. Untuk memastikan cakupan pelayanan kesehatan mental universal, pemerintah harus mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam layanan berbasis masyarakat. Untuk mengatasi masalah sumber daya dan stigma yang menghalangi keberhasilan program kesehatan mental di Indonesia, model pemberdayaan partisipatif dan bottom-up menjadi pilihan yang masuk akal.
Pendahuluan
Ahli kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa mengisyaratkan adanya krisis kesehatan jiwa akibat pandemi (Anwar, 2020). Pandemi berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan mental. WHO mengatakan bahwa peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini sangat penting. Karena pandemi COVID-19 telah memaksa banyak orang dari semua usia di berbagai negara untuk melakukan kebiasaan baru yang dapat membahayakan kesehatan mental mereka. Kualitas kesehatan mental orang-orang, mulai dari petugas kesehatan, siswa-siswi yang tidak bisa pergi ke sekolah, pekerja yang berisiko terpapar COVID-19 dan terancam PHK, masyarakat yang menjadi lebih miskin karena ekonomi yang menurun, dan mereka yang harus diisolasi selama lock down. Selain itu, keluarga korban COVID-19 yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai karena tidak
dapat berbicara atau melihat mereka untuk terakhir kalinya Menurut WHO, 2020 Berita tentang COVID-19 membuat orang stres, yang menyebabkan masalah kesehatan mental.
Menurut Merriam Webster, kesehatan mental adalah ketika seseorang memiliki kesehatan emosional dan psikologis yang baik, sehingga mereka dapat memanfaatkan kemampuan kognitif dan emosi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berpartisipasi dalam komunitas mereka (Dewi dalam Zulkarnain dan Fatimah, 2019). Kondisi mental setiap orang tidak dapat disamakan. Disebabkan hal ini, topik kesehatan mental sangat penting untuk diteliti dan dibahas karena berhubungan dengan potensi individu itu sendiri, keluarga, lingkungan, dan komunitas-komunitas yang ada. Diharapkan bahwa individu yang berkepentingan dapat menjalani peran mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan kesehatan mental yang baik.
Tantangan Selama Pandemi
Setelah lebih dari dua tahun berjuang dengan pandemi COVID-19, dunia bergerak maju. Namun, dampaknya belum berakhir. Selain meruntuhkan sistem kesehatan fisik kita, pandemi ini juga mengungkap kerentanan sistem kesehatan mental. Oleh karena itu, kita memasuki era pasca-pandemi dengan dorongan kuat untuk merevolusi kesehatan mental kita.
Dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya, kebijakan kesehatan mental Indonesia dianggap mengalami kemajuan, meskipun kemajuannya cenderung lambat. Data yang cukup belum ada untuk mendukung perumusan kebijakan kesehatan mental, seperti halnya yang terjadi di banyak negara berkembang lainnya. Namun, data yang baik sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang efektif untuk meningkatkan penanganan kesehatan mental pada tingkat pelayanan kesehatan primer dan sekunder (Ridlo & Zein, 2015).
Pandemi telah mengubah segala-galanya. Kami harus mengakui bahwa krisis kesehatan mental yang mendalam telah muncul sebagai konsekuensi dari isolasi, ketidakpastian ekonomi, dan kehilangan yang dialami oleh banyak
individu. Namun, ini juga merupakan momen penting untuk memulai perubahan yang mendalam dalam cara kita memandang, mendukung, dan merawat kesehatan mental.
Pandemi telah membuat banyak orang sadar akan pentingnya kesehatan mental, dan ini adalah peluang untuk mengubah stigma yang masih melekat padanya. Kami melihat semakin banyak diskusi terbuka tentang perjuangan mental yang dilalui orang-orang, termasuk selebritas dan tokoh masyarakat terkenal. Ini adalah langkah awal yang baik menuju pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental.
Selama pandemi, banyak layanan perawatan kesehatan mental berpindah ke platform daring. Ini tidak hanya membuat perawatan lebih terjangkau tetapi juga lebih mudah diakses. Di era pasca-pandemi, kita harus melanjutkan tren ini dan memastikan bahwa perawatan kesehatan mental berkualitas tinggi tersedia bagi semua orang.
Selain perawatan kesehatan mental, pendidikan juga kunci untuk menghilangkan stigma dan memahami kesehatan mental dengan lebih baik. Di era pasca-pandemi, kita harus memperkuat pendidikan kesehatan mental di sekolah- sekolah. Anak-anak dan remaja harus diajari cara mengelola stres, mengenali gejala gangguan mental, dan mencari bantuan jika diperlukan.
Organisasi dan perusahaan juga harus berkontribusi dalam upaya ini.
Mereka dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental karyawan, menawarkan program dukungan kesehatan mental, dan menghapus stigma seputar perjuangan kesehatan mental di tempat kerja. Dalam jangka panjang, ini tidak hanya akan menguntungkan individu, tetapi juga produktivitas dan keberlanjutan bisnis.
Teknologi juga dapat menjadi sekutu kita dalam revolusi kesehatan mental ini. Aplikasi dan platform daring telah muncul untuk menyediakan dukungan, informasi, dan terapi online. Ini memberi kesempatan bagi individu untuk
mengakses perawatan dan dukungan kesehatan mental dengan lebih mudah, bahkan ketika mereka berada di daerah terpencil.
Krisis kesehatan mental yang kita alami selama pandemi telah menjadi panggilan bangun untuk lebih banyak kesadaran dan pencegahan. kita semua memiliki tanggung jawab dalam membangun masyarakat yang lebih peduli. Ini berarti mendengarkan dan peduli terhadap teman, keluarga, dan rekan kerja yang mungkin memerlukan dukungan. Ini berarti berbicara secara terbuka tentang perjuangan kesehatan mental kita sendiri sehingga orang lain merasa lebih nyaman untuk melakukannya juga.
Dalam era pasca-pandemi, kita memiliki kesempatan untuk mengubah pandangan kita tentang kesehatan mental. Kita dapat membangun masyarakat yang lebih peduli, masyarakat yang menghilangkan stigma, dan masyarakat yang memberikan akses perawatan yang lebih baik. Revolusi kesehatan mental ini tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi dengan kerja sama, komitmen, dan kesadaran, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi kesehatan mental kita semua. Mari bersama-sama memulai perubahan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Mangalik, & Ranimpi. (2020). Correlation between Dietary Habit and Nutritional Status with Mental Health Status of Elementary School Students.
Jurnal Kesehatan. Vol 11 (1) . Hal. 93 – 100. ISSN 2086-7751 (Print), ISSN 2548-5695 (Online)
Zulkarnain dan Fatimah. (2019). Kesehatan Mental dan Kebahagiaan.
Mawa’izh: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan. Vol. 10, no. 1 (2019), pp. 18-38.DOI:https://doi.org/10.32923/maw.v10i1.715
Ridlo, I. A., & Zein, R. A. (2015). Arah Kebijakan Kesehatan Mental:
Tren Global dan Nasional serta Tantangan Aktual. Buletin Penelitian Kesehatan.
https://doi.org/10.22435/bpk.v46i1.4911.45-52
World Health Organization. (2020a). World Mental Health Day: An opportunity to kick-start a massive scale-up in investment in mental health.
https://www.who.int/news/item/27-08-2020-world-mental-health-day-an- opportunity-to-kick-start-a-massive-scale-up-in-investment-in-mental-health