677 Volume 7, Nomor 3, November 2023
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Pegawai
Yuwanita Karlina
Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok, Indonesia [email protected]
Abstrak
Terjadinya pandemi Covid-19 menimbulkan masalah kesehatan mental pada pegawai di Kantor Humas salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Banyaknya stressor di tempat kerja membuat pegawai mengalami tekanan mental seperti cemas, stres, dan depresi. Penulis menemukan bahwa stressor yang paling mempengaruhi adalah kurangnya komunikasi di antara pimpinan dan pegawai, tuntutan bekerja melebihi batas waktu kerja, serta melakukan kegiatan luring dengan layanan tatap muka secara langsung. Tulisan ini mencoba untuk fokus pada beragam stressor yang dihadapi pegawai akibat pandemi yang digambarkan secara kualitatif. Otoetnografi dipilih oleh penulis untuk menjelaskan situasi dan kondisi di lapangan dengan lebih detil. Wawancara mendalam dan pengamatan terlibat juga penulis lakukan agar mengetahui apa yang dialami dan dirasakan oleh informan. Penulis mengharapkan artikel ini dapat memberi sumbangsih untuk kajian antropologi psikologi khususnya kesehatan mental pegawai di tempat kerja sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan agar kesejahteraan pegawai dapat terpenuhi.
Kata kunci: antropologi, kesehatan mental, otoetnografi, psikologi Abstract
The Covid-19 pandemic caused mental health problems for employees in one of the Public Relations Offices in Jakarta. Many stressors in the workplace make employees experience mental health problems such as anxiety, stress, and depression. The author found that the most influencing stressors were the lack of communication between leaders and employees, demands for work exceeding the working time, and carrying out offline activities with direct services. This paper tries to focus on describing the various stressors faced by employees. Autoethnography was chosen by the author to describe the situation and conditions in more detail. In-depth interviews and participation observations were also carried out by the authors in order to find out what the informants experienced and felt. The author hopes this article can contribute to the study of mental health in the workplace so it can be used to formulate policies so that employee welfare can be fulfilled.
Key words: anthropology, autoethnography, mental health, psychology
PENDAHULUAN
Sejak tiga tahun terakhir, adanya virus Covid-19 yang menjadi pandemi di seluruh dunia menyebabkan perubahan di segala bidang kehidupan manusia. Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan keadaan akibat perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sangat cepat dan kompleks (Nanda Amalia et al., 2023). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan kasus Covid-19 pertama kali terdeteksi pada tanggal 31 Desember 2019 di Kota Wuhan,
678 Volume 7, Nomor 3, November 2023
Provinsi Hubei. Penyebaran Covid-19 ternyata berlangsung dalam waktu singkat di Tiongkok, hingga mendorong pemerintah untuk melakukan lockdown ketat. Pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid- 19 sebagai pandemi global karena sudah menyebar hingga ke 203 negara, dan tercatat sebanyak 3.398.302 kasus kematian hingga tanggal 17 Mei 2021 (WHO,2020 dalam Manik & Suriadi, 2023).
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 lalu jelas mengubah semua perilaku dan kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat di semua negara, tidak terkecuali Indonesia. Sejak masuknya Covid-19 ke Indonesia, perubahan terjadi di semua lini kehidupan. Pemerintahpun memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan penyebaran Covid-19. Semua lini kehidupan terkena dampak atas pemberlakuan kebijakan PSBB ini, tidak terkecuali bidang pendidikan. Semua kegiatan pembelajaran diarahkan menjadi dalam jaringan (daring/online). Bekerja yang selama ini dilakukan di kantor, menjadi dilakukan di rumah. Seluruh kegiatan yang awalnya dilaksanakan secara luring, kini menjadi daring.
Pemerintah telah melakukan semua tahapan manajemen krisis di bidang pendidikan sebagai upaya penanganan kondisi darurat Covid-19. Langkah berikutnya pemerintah mengeluarkan program krisis berupa Study From Home (SFH). Program ini merupakan jenis kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan dari jarak jauh atau pelaksanaan belajar dari rumah (Dasrun Hidayat, 2020 dalam (Baktiar et al., 2022). Sebagai badan hukum penyelenggara pendidikan, tempat penelitian penulis juga wajib menyelenggarakan perkuliahan secara online. Pimpinan tertinggipun mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah 100% bagi semua pegawai dan dosen, dan belajar dari rumah untuk para mahasiswanya.
Pegawai dipaksa beradaptasi menggunakan peralatan dan aplikasi baru yang mendukung dilakukannya pekerjaan dari rumah. Tidak jarang sistem layanan juga dimodifikasi agar pemangku kepentingan sebagai pengguna layanan tetap dapat memenuhi kebutuhannya, salah satunya adalah layanan secara daring dengan menggunakan teknologi. Penggunaan layanan teknologi dalam kondisi Covid sangat masif. Layanan teknologi digital ini diharapkan dapat mendukung kinerja menjadi lebih responsif dan efisien dengan memfasilitasi fungsi administrasi dan manajerial (Wilson & Adnan, 2022). Banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan membuat pegawai Kantor Humas perguruan tinggi yang penulis teliti seringkali bekerja di luar jam kantor semestinya. Banyaknya stressor di tempat bekerja membuat pegawai mengalami tekanan baik secara fisik maupun mental yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Data yang dirilis oleh WHO pada tahun 2022 menyebutkan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia atau tepatnya sebesar 60% penduduk dunia aktif bekerja. Prevalensi gangguan kesehatan mental di dunia untuk pekerja cukup tinggi. 301 juta diantaranya mengidap gangguan mental kecemasan, dan 280 juta lainnya menderita depresi (Mental Health at Work: Policy Brief, n.d.).
Banyaknya pekerja yang mengidap gangguan mental sesuai data WHO di atas patut menjadi perhatian. Gangguan mental tidak hanya merugikan penderitanya, namun juga berdampak pada ekonomi perusahaan dan negara. Pentingnya kesehatan mental untuk kesejahteraan manusia membuat banyak kajian yang fokus terhadap masalah ini. Google Scholar mencatat terdapat lebih dari 5 juta artikel dengan kata kunci “mental health in the work environment”. Sebanyak 666.000 artikel di antaranya ditulis pada tahun 2020-2023. Google Scholar juga mencatat sebanyak 186.000 literatur dengan kata kunci
“kesehatan mental di lingkungan kerja”, dengan 58.000 di antaranya ditulis pada tahun 2020-2023.
Literatur yang fokus kepada kajian kesehatan mental di lingkungan kerja ini diambil berdasarkan penelitian dari hampir semua negara dengan berbagai metode penelitian, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Banyaknya artikel mengenai kesehatan mental di lingkungan kerja yang ditemukan menandakan bahwa kajian ini amat penting untuk diteliti dan dipelajari demi kesejahteraan individu maupun kolektif.
Banyaknya tekanan di lingkungan kerja dapat menyebabkan terganggunya kesehatan pegawai, baik fisik maupun mental. Minimnya dukungan atasan dan sesama rekan kerja dapat membuat tekanan berkali lipat lebih berat. Pegawai yang mengalami tekanan ini dapat merasakan kelelahan pada fisik dan mentalnya. Kelelahan secara fisik berdampak terhadap minimnya kehadiran di tempat kerja karena izin atau cuti sakit, dan juga adanya pengeluaran atau biaya untuk berobat. Penyakit kronis yang bisa terjadi akibat adanya kelelahan diantaranya adalah penyakit kardiovaskular dan faktor risiko utamanya, diabetes, dan gangguan muskuloskeletal (Houdmont & Leka, 2010). Kelelahan secara mental dapat berakibat adanya stres, depresi maupun kecemasan berlebih. Baik kelelahan fisik maupun mental akan mengakibatkan menurunnya produktivitas pegawai yang berujung kerugian pada perusahaan dan negara.
Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam mewujudkan kesehatan yang menyeluruh.
679 Volume 7, Nomor 3, November 2023
Namun di sebagian besar negara berkembang, masalah kesehatan mental belum diprioritaskan (Ridlo et al., n.d.). Hasil penelitian terbaru mengenai kesehatan mental diteliti oleh Safira yang berjudul Tanggung Jawab Pemerintah dan Perguruan Tinggi Dalam Memberika Akses Pelayanan Kesehatan Mental di Indonesia pada 2021. Fokusnya pada tanggung jawab pemerintah dan perguruan tinggi dalam memberikan akses pelayanan kesehatan mental di Indonesia ini menarik, karena mengangkat studi kasus pada perguruan tinggi yang ingin saya angkat pada artikel ini. Membahas mengenai kesehatan mental di salah satu perguruan tinggi, Safira menekankan pentingnya kebijakan dan pelayanan kesehatan mental bagi mahasiswa melalui studi pustaka dan wawancara dengan narasumber pimpinan universitas, konselor, dan psikolog perguruan tinggi tersebut (Safira, 2021).
Studi terbaru yang fokus kepada kesehatan mental dilakukan oleh Dara Putri Ghassani, Sirril Wafa dan Herison P. Purba. Studi yang fokus kepada kesehatan mental mahasiswa ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kesejahteraan psikologis anggota organisasi kemahasiswaan selama pandemi Covid-19. Melalui metode studi kasus instrumental, tiga orang partisipan diteliti untuk mengetahui kesejahteraan psikologisnya. Penelitian ini mempunyai kekurangan dimana kesejahteraan psikologis partisipan tidak fokus karena tidak dibatasi pada lingkup tertentu misalnya, situasi kampus, rumah, atau organisasi (Putri Ghassani et al., 2022)
Sayangnya beberapa studi di atas hanya fokus pada kesehatan mental mahasiswa, padahal pegawai mempunyai kontribusi yang besar juga terhadap tridharma perguruan tinggi. Sehingga pembuat kebijakan di universitas dapat mempertimbangkan kesehatan mental pegawainya demi kesejahteraan pegawai yang dapat meningkatkan produktivitas universitas.
Beberapa studi lainnya juga mempunyai kekurangan, dimana sebagian besar penelitian mempunyai sudut pandang perusahaan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Rahmawatiningsih pada 2021 dengan judul Kesehatan Mental dan Partisipasi Kerja di Indonesia yang menitikberatkan pada pentingnya tes kesehatan mental bagi perusahaan yang akan melakukan penerimaan pegawai baru (Rahmawatiningsih, n.d.). Selain itu Rahmawatiningsih juga melakukan penelitian dengan metode kuantitatif sehingga tidak dapat menggambarkan secara deskriptif apa yang dirasakan oleh pegawai dalam kaitannya dengan produktivitas kerja.
Minimnya penelitian terkait kesehatan mental yang menggunakan sudut pandang pegawai dalam metode kualitatif patut disayangkan, padahal sudut pandang ini diperlukan jika ingin perusahaan berjalan dengan kendala yang minimal dari faktor internal. Karena dari sudut pandang pegawai sendiri itulah dapat ditemukan penyebab gangguan mental yang pegawai alami, sehingga pembuat kebijakan di perusahaan menemukan cara untuk mengatasi atau bahkan membuat kebijakan preventif atas gangguan mental tersebut, agar tidak mengganggu alur kerja dan produktivitas perusahaan.
Tujuan penulisan ini adalah menghasilkan sebuah deskripsi terkait faktor apa saja yang menyebabkan pegawai mengalami gangguan kesehatan mental akibat adanya pandemi. Hasil penulisan ini secara praktis diharapkan menjadi bahan tinjauan dan rekomendasi bagi para pemangku kepentingan termasuk pimpinan untuk menerapkan kebijakan alternatif terkait kesehatan mental pegawainya. Tentu saja penulis berharap artikel ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk institusi yang penulis teliti, namun juga organisasi yang memiliki pengalaman serupa akibat terdampak pandemi. Secara teoritis, artikel ini diharapkan dapat memperkaya studi antropologi yang mencakup kajian perubahan sosial dan budaya, metode otoetnografi, dan studi psikologi terkait kesehatan mental.
METODE
Riset ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan otoetnografi untuk menggambarkan situasi dan kondisi di lapangan dengan lebih detil. Otoetnografi penulis pilih sebagai sarana untuk menyuarakan deskripsi dari kelompok yang bersifat eksklusif, sehingga mampu mengangkat kasus-kasus yang selama ini tidak dapat atau sulit terungkap oleh peneliti yang berasal dari luar kelompok yang dikaji. Peneliti menggunakan pendekatan otoetnografi karena peneliti adalah bagian dari kelompok yang sedang diteliti, sehingga dapat mengetahui kasus yang terjadi di dalam kelompok, dimana tidak ada orang yang tau selain anggota kelompok tersebut. Selain pendekatan otoetnografi, penulis memakai tiga cara yang biasanya digunakan oleh metode kualitatif untuk pengumpulan data di lapangan, yaitu menggunakan metode wawancara, metode pengamatan, dan metode pengamatan terlibat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam esainya di projectmultatuli.org Chris Wibisana menyebut bahwa pandemi covid-19 yang
680 Volume 7, Nomor 3, November 2023
semakin parah di Indonesia dikarenakan karena inkompetensi pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19 sejak bulan Maret tahun 2020. Ditambahkan olehnya bahwa krisis pandemi Covid-19 tersebut setidaknya menyangkut beberapa aspek, diantara ialah kolapsnya layanan dan tenaga kesehatan (nakes), pelacakan dan pengambilan sampel yang sarat manipulasi data, komunikasi resiko oleh pemerintah yang buruk (Sofian & Reza Khadafi, 2022).
Pandemi merevisi pola relasi sosial, dan mengoyak pola hidup normal masa lalu. Perubahan yang terjadi karena COVID-19 bersifat fundamental dan permanen, merasuk sampai ke dasar struktur masyarakat. Muncul budaya hidup baru, budaya peduli kebersihan, budaya peduli dengan jarak fisik dan jarak sosial, dan budaya digital (Sihotang & Putri, 2022) membuat perubahan dalam pola komunikasi pegawai. Semula pegawai dalam melakukan koordinasi hampir selalu bertatap muka di kantor, baik dalam bentuk rapat formal maupun informal. Koordinasi melalui aplikasi digital dalam jaringan hanya dilakukan ketika pegawai sedang tidak di kantor atau jam kerja telah selesai. Namun adanya PSBB dan PPKM mengubah cara berkomunikasi antarpegawai.
Perubahan pola komunikasi dan perubahan budaya kerja adalah tantangan yang harus dihadapi oleh para pegawai. Banyaknya program kerja yang membutuhkan adaptasi pada sistem membuat para pegawai bekerja lebih dari jam institusi biasa. Terlebih tuntutan dari pimpinan yang menganggap bahwa bekerja dari rumah lebih mudah karena tidak perlu mengalokasikan waktu untuk mobilitas ke kantor sehingga pegawai mempunyai banyak waktu, membuat pimpinan seringkali memberikan tugas pada saat jam kerja selesai. Tidak jarang pegawai terlihat masih bekerja di atas pukul 12 malam, beberapa di antaranya bahkan masih berkoordinasi dengan pegawai dari unit kerja lain. Beberapa dari mereka yang bekerja sampai dini hari mengaku, bahwa pimpinan unit kerja menunggu sampai jam berapapun agar pekerjaan dapat selesai sebelum pagi hari. Proses adaptasi inilah yang sulit bagi sebagian pegawai, sehingga dua orang pegawai memutuskan untuk mengundurkan diri demi menjaga kesehatan fisik dan mental mereka.
Selain pola komunikasi yang melibatkan pimpinan dengan pegawai, ada beberapa faktor penyebab terjadinya gangguan kesehatan mental pegawai yang akan dibahas pada bab ini.
1. Kurangnya komunikasi pimpinan-pegawai
Tertutupnya komunikasi tatap muka secara langsung akibat Covid-19 inilah yang kemudian menjadi salah satu stressor yang paling mempengaruhi kondisi mental pegawai pada awal pandemi melanda. Komunikasi berasal dari bahasa Latin communis atau common dalam bahasa Inggris yang berarti sama. Dalam berkomunikasi berarti terjadi upaya untuk mencapai kesamaan makna, 'commonness'. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi terjadi upaya berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian atau pertukaran informasi dan pemahaman yang sama dari satu orang ke orang lainnya (Budiman, 2021). Dengan kata lain, jika dalam proses penyampaian atau pertukaran informasi yang dilakukan tidak menghasilkan pemahaman yang sama maka tidak terjadi komunikasi (Mayang Sari, n.d.). Hal inilah yang terjadi pada pegawai di lokasi penelitian penulis. Penerapan kebijakan bekerja dari rumah tidak disertai dengan arahan teknis dari pimpinan, sehingga ketika kegiatan yang sudah dijadwalkan tidak dapat dilaksanakan, beberapa orang pegawai yang bekerja di lapangan seperti reporter, fotografer, videografer, acara dan protokol menjadi kebingungan. Mereka merasa
“kehilangan” pekerjaan. Pada masa ini tidak ada penyampaian informasi maupun gagasan dari pimpinan terkait dengan strategi untuk tetap mengoperasikan kantor agar tetap dapat berjalan. Hal tersebut disebabkan oleh karena pimpinan juga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dan bagaimana langkah yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan di tengah ketidakpastian. Hal ini terjadi di masa-masa awal Covid-19 masuk ke Indonesia, dimana pegawai hanya berdiam diri di rumah tanpa dapat mengerjakan pekerjaan mereka. Alih-alih merasa terbebastugaskan karena tidak ada yang dapat pegawai kerjakan, mereka justru merasa tidak nyaman dengan kondisi yang tidak dapat melakukan pekerjaan sama sekali. Ketidaknyamanan ini memicu perasaan bersalah sehingga mengakibatkan munculnya gangguan kesehatan mental.
Bersamaan dengan terjadinya pandemi, organisasi yang penulis teliti juga mengalami perubahan budaya. Perubahan budaya tersebut terjadi akibat adanya pergantian pimpinan. Pimpinan yang baru membawa pola komunikasi yang berbeda dengan pimpinan sebelumnya. Semula, semua pegawai dapat berkomunikasi secara langsung kepada pimpinan unit kerja. Namun, sejak pimpinan unit kerja diganti, pegawai tidak dapat langsung berkomunikasi dengan pimpinan, melainkan harus melalui kepala bagian.
Hal inilah yang membuat pegawai tidak dapat berkomunikasi dengan pimpinan, oleh karena itu tidak ada
681 Volume 7, Nomor 3, November 2023
pertukaran informasi dan pemahaman yang sama baik dari pimpinan ke pegawai maupun dari pegawai ke pimpinan. Walaupun komunikasi dijembatani oleh kepala bagian, namun proses penyampaiannya tidak dilakukan sendiri, sehingga bisa dikatakan tidak terjadi komunikasi (Mayang Sari, n.d.). Terlebih ketika kepala bagianpun hanya berkomunikasi secara tertulis melalui media atau aplikasi percakapan whatsapp sehingga tidak dapat mendengar intonasi apalagi melihat reaksi wajah. Hal inilah yang kemudian kerap kali menimbulkan salah persepsi.
Menurut Graen & Uhl-Bien (1995) atasan dan bawahan perlu menjalin komunikasi dua arah, yang dalam teori kepemimpinan disebut dengan pertukaran pemimpin-anggota (leader-member exchange).
Pertukaran sosial berupa ide, kepercayaan, kewajiban, dan kedekatan interpersonal dapat timbul dalam leader-member exchange (Liden & Maslyn, 1998 dalam Dwi Putri et al., n.d.). Namun, hadirnya pimpinan baru dan terbatasnya komunikasi dengannya membuat pegawai kesulitan mengenali karakter pimpinan baru tersebut. Padahal penelitian Anshari dan kawan-kawan (2018) dan Alsughayir (2017) menunjukkan bahwa kualitas leader-member exchange berpengaruh signifikan terhadap perilaku kerja inovatif karyawan (Dwi Putri et al., n.d.). Kesulitan beradaptasi dengan pola kepemimpinan dan budaya kerja yang dibawa oleh pimpinan baru di tengah situasi pandemi yang serba sulit menyebabkan perilaku kerja pegawai mengalami penurunan, dan bahkan gangguan kesehatan mental seperti perasaan tidak berguna dan merasa tidak dipercaya.
2. Tuntutan bekerja melebihi batas waktu kerja
Di tengah tingginya penularan Covid-19, Perguruan Tinggi tetap berkewajiban melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Dalam kaitannya dengan pandemi, dalam bidang pendidikan perguruan tinggi mencari cara untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan efektif tanpa tatap muka secara luring. Berbagai aplikasi dibuat untuk memudahkan tenaga pendidik dan mahasiswa melakukan proses pembelajaran.
Dalam bidang penelitian, sivitas akademika dituntut untuk dapat memberikan sumbangsih pengetahuan, pencegahan, dan pengobatan terkait Covid-19. Hal itu berarti banyak kegiatan yang dilakukan terkait penelitian tersebut. Hampir semua fakultas melakukan penelitian, salah satunya adalah Fakultas Kedokteran.
Pada masa awal terjadinya pandemi, hanya 12 lembaga se-Indonesia, yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai Laboratorium Pemeriksa COVID-191. Selain penunjukkan sebagai Laboratorium Pemeriksa COVID-19, Fakultas Kedokteran di tempat saya meneliti juga melakukan berbagai riset seperti uji klinis vaksin dan obat, dan berbagai riset inovasi alat-alat kesehatan bekerja sama dengan berbagai lembaga. Hal yang sama dilakukan oleh Fakultas Teknik. Berbagai riset dilakukan untuk menciptakan alat yang dapat digunakan baik untuk melakukan pencegahan penularan, maupun untuk meminimalisir dampak kesehatan bagi para penderita. Tidak hanya Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik, namun Fakultas Kesehatan Masyarakat juga kerap berkontribusi dalam hal pencerdasan kepada masyarakat akan bahaya pandemi dan bagaimana cara menghindarinya. Beberapa ahli kesehatan masyarakat juga seringkali dimintai pendapatnya tidak hanya oleh pemerintah, namun juga oleh media. Untuk membantu masyarakat mengetahui wilayah mana saja yang merupakan zona merah penyebaran Covid-19, Fakultas Ilmu Komputer membuat aplikasinya. Sementara Fakultas Ilmu Keperawatan banyak membantu pemerintah menurunkan mahasiswa dan sejumlah perawat untuk secara aktif membantu rumah sakit ataupun klinik yang merawat pasien penderita Covid-19. Fakultas Farmasi juga banyak menyumbangkan pembersih tangan yang dibagikan ke sejumlah tempat publik seperti pasar dan stasiun kereta. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politikpun turut membuat policy brief sebagai sumbangsih pemikiran untuk pemerintah.
Banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh universitas tempat penulis melakukan penelitian berimbas pada padatnya agenda liputan dan pembuatan siaran pers agar kontribusi nyata universitas dapat diketahui oleh khalayak umum. Imbas padatnya agenda liputan dan pembuatan siaran pers ini adalah beban kerja Kantor Humas menjadi tinggi. Beban kerja yang tinggi dapat menimbulkan stres dalam
1 Salah satu lembaga tersebut adalah UKK Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran (diambil dari https://www.ui.ac.id/laboratorium-mikrobiologi-klinik-fkui-ditunjuk-jadi-lab-pemeriksa-covid-19/ pada 23 November 2022). Penunjukan 12 Laboratorium Pemeriksa ini tertuang dalam Surat Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/182/2020 tentang Jejaring Laboratorium Pemeriksaan COVID-19.
Keputusan ini ditandatangani oleh Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pada Senin, 16 Maret 2020.
682 Volume 7, Nomor 3, November 2023
bekerja yaitu ketika tuntutan kerja tidak sesuai dengan kemampuan fisik seseorang (Nanda & Sugiarto, 2020) ditambah keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan membuat pegawai Kantor Humas kewalahan dalam membagi tugas.
Target minimal empat siaran pers setiap hari membuat pegawai yang bekerja di bagian Hubungan Media harus bekerja sampai dengan larut malam. Yang membuat pegawai menjadi stress adalah karena pekerjaan yang pegawai lakukan tidak hanya bergantung pada diri mereka sendiri ketika mengerjakannya, namun juga karena bergantung kepada orang lain terutama narasumber kegiatan.
Narasumber harus memberikan pernyataan untuk dikutip oleh pegawai dalam siaran pers. Namun tidak semua narasumber dapat memberikan pernyataan dengan cepat kepada pegawai, karena kesibukan narasumber itu sendiri. Padahal pegawai harus segera menyerahkan draft siaran pers tersebut kepada pimpinan unit kerja untuk dikirim ke media. Pegawai kerap mendapat tekanan dari pimpinan unit kerja untuk segera menyelesaikan siaran pers, namun pegawai tidak dapat menekan narasumber. Hal inilah yang membuat pegawai menjadi stres, dan berujung depresi karena tekanan pekerjaan terutama dari pimpinan unit kerja.
Kesehatan jiwa yang dikemukakan oleh World Health Organization (2001) yaitu kondisi dari kesejahteraan yang didasari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, dan berperan serta di komunitasnya. Sejahtera menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Pegawai yang bekerja di bagian Hubungan Media tidak merasa sejahtera, yang disebabkan oleh adanya gangguan karena tidak dapat beristirahat dengan cukup dan kelelahan akibat harus bekerja hingga larut malam. Hingga akhirnya pada Desember 2020, satu pegawai Hubungan Media mengundurkan diri disusul oleh pegawai lainnya pada Maret 2021.
Sebuah studi oleh Nadinloyi et al. (2013) mengatakan bahwa stres, frustrasi, dan kelelahan merupakan faktor negatif yang memperburuk kesehatan mental karyawan (Yu, Park, & Hyun, 2021).
3. Kegiatan luring
Ketika pandemi melanda dunia, berbagai negara mengadopsi langkah-langkah mereka sendiri untuk menjaga jarak sosial dan penguncian nasional sementara untuk mengurangi penyebaran infeksi (Neetha, 2021). Pada awal pandemi masuk ke Indonesia yaitu 2 Maret 2020, pemerintah belum memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah, sehingga banyak kegiatan yang dilakukan secara masif dan tatap muka. Pada tanggal 31 Maret 2020, Presiden Indonesia, Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020, yang mengatur Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai respons terhadap COVID-19, yang memungkinkan pemerintah daerah untuk dapat melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau pembatasan terhadap pergerakan orang dan barang untuk satu provinsi atau kabupaten/ kota tertentu dengan persetujuan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan (diambil dari artikel kompas.com dengan judul Pembatasan Sosial Berskala Besar Berhak Batasi Orang Keluar Masuk Suatu Daerah diakses pada 30 November 2022 https://nasional.kompas.com/read/2020/04/01/11054771/pembatasan-sosial-berskala-besar- berhak-batasi-orang-keluar-masuk-suatu ).
Pada saat PSBB diberlakukan, pegawai tetap bekerja untuk meliput kegiatan. Hal itu berarti pegawai akan bertemu dengan pimpinan, tamu undangan, dan penyelenggara kegiatan yang melibatkan massa. Walaupun kegiatan dilaksanakan dengan peserta yang terbatas, namun pertemuan dengan orang lain baik dalam pelaksanaan kegiatan maupun dalam perjalanan ke tempat kegiatan tidak terhindarkan.
Gangguan kesehatan mental berupa kecemasan akibat pertemuan dengan orang lain yang dapat mengakibatkan terpaparnya Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh tenaga kesehatan, namun juga oleh pegawai yang bertugas untuk meliput dan protokol. Pada kajian yang dilakukan oleh Northwood K, Siskind D, Suetani S, McArdle PA di Australia menyebutkan bahwa petugas kesehatan mempunyai faktor resiko berupa lingkungan kerja yang menantang, jam kerja yang panjang, pekerjaan dengan intensitas tinggi, stres pekerjaan di rumah, dan paparan reguler terhadap rasa sakit, penderitaan, dan kematian (Northwood et al., 2021), namun faktor-faktor resiko tersebut juga ditemui pada kantor tempat penelitian yang saya lakukan. Puncaknya, ketika penyelenggaraan sebuah acara penandatangan kerja sama pada 23 Juni 2022 menghasilkan cluster Covid-19 yang berimbas pada tertularnya beberapa peserta acara, termasuk salah satu pegawai bagian liputan. Menurut (Reynolds & Kincaid, 2022) tertularnya pegawai oleh Covid-19 adalah hal yang wajar, karena Beck (1992, 2000) dan Hacker (2006) menyoroti bagaimana modernisasi, globalisasi, dan individualisasi telah memunculkan “masyarakat berisiko” di mana individu
683 Volume 7, Nomor 3, November 2023
sekarang bertanggung jawab untuk menavigasi dan mengelola banyak sekali risiko yang pernah ditangani oleh dan dibagikan di antara pemerintah dan organisasi/ perusahaan. Masyarakat berisiko ini ditandai dengan munculnya “pekerjaan berbahaya” di mana pekerja menerima lebih sedikit perlindungan/manfaat dan harus menerima risiko ketidakamanan, ketidakpastian, dan ketidakstabilan yang lebih besar (Kalleberg, 2018; Kalleberg & Vallas, 2018 dalam (Reynolds & Kincaid, 2022). Resiko tertularnya Covid-19 adalah salah satu dari ketidakamanan dalam melakukan pekerjaan pada saat ini.
4. Layanan tatap muka secara langsung
Pandemi Covid-19 telah berkembang sebagai salah satu krisis yang melanda dunia akhir-akhir ini yang mempengaruhi semua jenis orang dan wilayah dengan cara yang berbeda (Moustafa, 2021).
Perbedaan pengaruh ini tidak hanya dalam skala yang besar seperti perbedaan negara atau wilayah, namun juga perbedaan terhadap jenis pekerjaan dalam satu kantor. Sebagai contoh, pengaruh Covid-19 berbeda antara pegawai yang berkerja di bagian administrasi dengan pegawai yang bekerja sebagai front officer. Pegawai administrasi dapat bekerja tanpa bertemu dengan orang lain yang membawa kemungkinan memiliki virus di dalam tubuh mereka. Namun, pegawai yang bekerja sebagai front officer mempunyai kecemasan yang berlebih terhadap Covid-19, karena mereka bekerja secara tatap muka dengan pengguna layanan.
Salah satu tugas pegawai front office adalah untuk melayani para pengguna layanan, baik secara daring maupun tatap muka. Oleh karena itu Covid-19 menjadi momok untuk mereka yang bekerja pada front office. Sekalipun pimpinan universitas mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah, pegawai yang bekerja di bagian front office tetap masuk dan bekerja dari kantor. Hal ini disebabkan oleh banyaknya layanan yang belum dapat diakomodasi oleh aplikasi daring. Banyaknya pengguna layanan yang datang ke kantor mengakibatkan tingkat kecemasan pegawai front office lebih tinggi dari pada pegawai lainnya.
Selain itu, adanya perasaan bahwa pekerjaan di bagian lain lebih aman dari penularan karena tidak perlu bekerja dari kantor semakin membuat pegawai front office merasa diperlakukan tidak adil.
Kecemasan berlebih yang dialami oleh pegawai front office mirip dengan apa yang dirasakan oleh pegawai hotel yang diteliti oleh Jongsik Yua, Junghyun Parkb, and Sunghyup Sean Hyun pada 2021 lalu.
Karena Covid-19 ditularkan dari manusia ke manusia melalui kontak dekat, pegawai front office mempunyai kecemasan ketika harus berinteraksi dengan pengguna layanan. Penularan dari manusia ke manusia semacam ini dapat menyebabkan ketidakpercayaan yang kuat terhadap hubungan interpersonal dan kemauan yang kuat untuk menghindari kontak dengan berbagai orang (misalnya, berjabat tangan, percakapan, penggunaan kembali benda-benda yang digunakan oleh orang lain, dan sebagainya) (Yu et al., 2021). Penggunaan kembali benda-benda yang digunakan oleh orang lain tidak dapat dihindari ketika layanan legalisasi dokumen dan pembuatan KTM baru terjadi. Pada layanan legalisasi dokumen, pengguna layanan harus meyerahkan dokumen ijazah atau transkrip nilai asli milik pengguna layanan untuk divalidasi dan digandakan. Begitu juga dengan layanan pembuatan KTM baru yang rusak.
Pengguna layanan harus menyerahkan KTM miliknya yang rusak untuk diganti yang baru. Proses penyerahan dokumen dan KTM oleh pengguna ke pegawai inilah yang dikhawatirkan dapat memicu penularan Covid-19.
Pada kajian yang dilakukan oleh Thomas dkk (2022) sepakat bahwa ancaman infeksi COVID-19 yang bertahan lama dan tindakan perlindungan untuk menahan penularan memiliki konsekuensi penting pada kesehatan mental individu (Thomas et al., 2022) Terlebih banyaknya pengguna layanan yang tidak mematuhi protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker. Pegawai front office telah berupaya untuk meminimalisasi dampak layanan tatap muka dengan mengajukan pembatas akrilik yang dipasang di meja layanan kepada Direktorat Fasilitas tempat penulis melakukan penelitian. Namun karena permohonan fasilitas harus diajukan di tahun anggaran sebelumnya, pembatas akrilik tidak dapat diberikan. Akibatnya pegawai front office memiliki gangguan kesehatan mental akibat rasa cemas akan tertularnya Covid-19 yang berlebih karena banyaknya layanan tatap muka tanpa adanya fasilitas pencegahan yang maksimal. Rasa cemas dan katakutan ini mirip dengan apa yang dilaporkan pada front office petugas kesehatan di Ghana dan Uganda bahwa ketakutan telah menjadi emosi manusia yang menonjol yang memengaruhi petugas kesehatan garis depan dengan beberapa melaporkan bahwa COVID-19 telah menjadi momen paling menakutkan dalam hidup mereka. Ketakutan terutama didorong oleh ketidakpastian seputar penyakit yang merupakan hal baru bagi petugas kesehatan, tanpa informasi awal tentang cara mengatasinya (Moustafa, 2021).
SIMPULAN DAN SARAN
684 Volume 7, Nomor 3, November 2023
Banyaknya akademisi yang merespon pandemi Covid-19 dengan melakukan penelitian patut diberikan apresiasi. Penelitian tidak hanya terfokus pada virus secara biologis dan fisiologis, namun juga banyak penelitian yang mengkaji dampak sosial, ekonomi dan kesehatan mental orang yang terdampak.
Semua penelitian bertujuan untuk memberikan informasi dan saran agar pemerintah atau semua pemangku kepentingan memberikan solusi agar masyarakat tetap dalam kondisi sehat. Mengacu pada definisi sehat WHO bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (https://www.who.int/about/governance/constitution diakses pada 21 Desember 2022) maka jelas seseorang dinyatakan sehat ketika fisik, mental, dan sosial dalam kondisi yang baik.
Pada saat melanda, pandemi menyebabkan banyak orang terdampak. Bukan hanya kepada penderita, namun seluruh masyarakat dunia. Tidak sedikit dari masyarakat yang berstatus pekerja di dunia ini yang mengidap gangguan kecemasan, baik para tenaga medis maupun pegawai kantor biasa.
Dengan ditulisnya artikel ini kitapun dapat mengetahui juga dampak pandemi terhadap kesehatan mental pegawai yang selama ini dianggap aman dari penularan. Beberapa stressor yang telah diuraikan pada artikel harus menjadi perhatian bagi semua pihak di internal kantor. Tugas pimpinan di kantor adalah untuk memastikan bahwa kesejahteraan pegawainya terpenuhi, baik dengan memberikan vaksin maupun memperhatikan kesehatan mentalnya.
Secara umum, pengetahuan mengenai gangguan kesehatan mental dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat luas. Ketahanan mental juga diperlukan sebagai mekanisme pencegahan baik untuk tenaga medis, pegawai perusahaan, maupun masyarakat luas agar siap menghadapi bencana pandemi jika kembali terjadi di masa depan. Melakukan kegiatan berbasis teknologi tinggi tanpa tatap muka secara langsung adalah hal yang patut dipertimbangkan, namun menyelesaikan pekerjaan secara digital juga merupakan hal yang penting walaupun dilakukan secara sederhana. Pegawai yang memiliki inisiatif yang tinggi dan mahir menggunakan teknologi menjadi persyaratan mutlak yang harus dimiliki setiap perusahaan untuk mengantisipasi dibutuhkannya kemampuan tersebut agar organisasi tetap dapat berjalan dengan baik jika terjadi bencana serupa.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sururi, Budi Hasanah. (2022). Process, Integration, and Impact of Digital Public Service Policy Innovation on Public Sector Organizations. Forum Ilmu Sosial.
Akhriyadi Sofian, Muhammad Reza Khadafi. (2022). Visualisasi Kreasi Humor Covid-19: Pengawasan Penangan Covid-19 Oleh Milenial di Ranah Virtual. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial.
Ayuk Widya Nanda, Agus Sugiarto. (2020). Stres Kerja: Pengaruhnya Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Bayu Baktiar, Yanti Tayo, Wahyu Utami. (2022). KONSTRUKSI IDENTITAS SEORANG GURU SEKOLAH DASAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KOTA TANGERANG. JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH.
Budiman, R. R. (2021). Understanding The Concept of Online Learning in Distance Learning amidst COVID-19 Crisis: Challenges and Opportunities. Wacana..
Detson Ray Halomoan Sitorus, Kusdi Raharjo, Andriani Kusumawati. (2018). The Influence of Work-Life Balance on Job Satisfaction, Organizational Commitment, and Turnover Intention. Wacana.
Diyah Fitriyani, Ocky Sundari, Johnson Dongokan. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja Pegawai Kecamatan Sidorejo Salatiga. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Dwi Berliana Putri, Ismiyati, Mar’atus Sholikah. (2020). Analisis Peningkatan Kinerja Pegawai dan Kemampuan Pengelolaan Arsip. Semarang: Jurnal Sains Sosial dan Humaniora.
George Mark, Andrew P. Smith. (2011). Effects of occupational stress, job characteristics, coping, and attributional style on the mental health and job satisfaction of university employees. Anxiety, Stress & Coping.
Gusti Ayu Ardhia Candra Trikusuma, Wiwin Hendriani. (2021). Distres Psikologis di Masa Pandemi COVID 19: Sebuah Tinjauan Literatur. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 106-116.
Jeremy Reynolds, Reilly Kincaid. (2022). Gig Work and the Pandemic: Looking for Good Pay from Bad Jobs During the COVID-19 Crisis. Work and Occupations.
Jina Kim, Hye-Sun Jung. (2022). The Effect of Employee Competency and Organizational Culture on Employees’ Perceived Stress for Better Workplace. Environmental Research and Public Health.
685 Volume 7, Nomor 3, November 2023
Jongsik Yu, Junghyun Park, Sunghyup Sean Hyun. ( 2021). Impacts of the COVID-19 pandemic on employees’ work stress, well-being, mental health, organizational citizenship behavior, and employee-customer identification. Journal of Hospitality Marketing & Management.
Lauren E. Thomas, Abigail Emich, Emily Weiss, Corina Zisman, Katherine Foray, Deborah M. Roberts, Emily Page, Monique Ernst. (2022). Examination of the COVID-19 Pandemic’s Impact on Mental Health From Three Perspectives: Global, Social, and Individual . Perspectives on Psychological Science.
Mangla, N. (2021). Working in a pandemic and post-pandemic period – Cultural intelligence is the key.
International Journal of Cross Cultural Management.
Mauro Giovanni Carta, Maria Francesca Moro, Federica Sancassiani, Ruben Ganassi, Paola Melis, Alessandra Perra, Silvia D’Oca, Michela Atzeni, Fernanda Velluzzi, Caterina Ferreli, Laura Atzori, Cesar Ivan Aviles Gonzalez, Maria Roberta Serrentino. (2022). Respect for service users’ human rights, job satisfaction, and wellbeing are higher in mental health workers than in other health workers: A study in Italy at time of the Covid pandemic. Journal of Public Health Research.
Minarti Manik, Agus Suriadi. (2023). Strategi Adaptasi Pelaku Usaha Wisata Selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora, 41-52.
Moeljono Notosoedirdjo, Latipun. (2019). Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan. Malang: ummpress.
Moustafa, A. A. ( 2021). Mental Health Effects of COVID-19. Nikki Levy.
Muhammad Victor Wilson, Ricardi S. Adnan. (2022). Adaptation of Public Services in The Era of Covid 19. JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH.
N., N. (2021). Crisis After Crisis: The Pandemic and Women’s Work. The Indian Economic Journal.
Nany Widiastuti, Retnowati Wahyuning Dyas Tuti. (2022). Kepemimpinan Strategis Dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19 di Provinsi Bali. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Nirmala Manindra Dwi Putri, Anwar Ma'ruf, Sutinah. (2020). Pengaruh Leader-Member Exchange dan Psychological Empowerment Terhadap Innovative Work Behavior: Review Sistematik. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Northwood K, Siskind D, Suetani S, McArdle PA. (2021). An assessment of psychological distress and professional burnout in mental health professionals in Australia during the COVID-19 pandemic.
Australasian Psychiatry.
Organization, W. H. (2018). Findings from the Global Burden of Disease Study 2017. Seatle: Institute for Health Metrics and Evaluation.
Purwanto, S. A. (2011). Otoetnografi: Mempelajari Kasus Pribadi Peneliti. Antropologi Indonesia.
Rahmawatiningsih, A. (2021). Kesehatan Mental dan Partisipasi Kerja di Indonesia. Depok, Jawa Barat.
Renee de Reuver, Karina Van de Voorde, and Steven Kilroy. (2019). When Do Bundles of High Performance Work System Reduce Employee Absenteeism? The Moderating Role of Workload.
The International Journal of Human Resource, 2889–2909.
Revina Nanda Amalia, Muhammad Irvan, Raihan Dani Priatama. (2023). Dinamika Politik Pemerintah Desa Adat Intaran Bali dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19. JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH.
RIDLO, I. A. (2020). Pandemi COVID-19 dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental di. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 155-164.
Safira, H. (2021). Tanggung Jawab Pemerintah dan Perguruan Tinggi Dalam Memberika Akses Pelayanan Kesehatan Mendtal di Indonesia (Studi: Universitas Indonesia). Depok.
Sari, C. M. (2014). Analisis Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia Kaitannya Dengan Kepemimpinan dan Ketahanan Nasional. Jakarta: Pascasarjana UI.
Siti Azizah Hyaliti, Gita Aulia Nurani. (2021). Workload Analysis on Public Funeral Workers in Pandemic Covid-19. Jurna Sains dan Humaniora.
Susilo, J. (2022). Ketahanan Kesehatan Masyarakat Melalui Herbal Habbit: Analisis Isi Pengobatan Tradisional Dalam Serat Centhini. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial.
Sylvia Xiaohua Chen, Wesley C. H. Wu, Emma E. Buchtel, Ben C. P. Lam, Jacky C. K. Ng, Yanjun Guan.
(2015). Do People’s World Views Matter? The Why and How. Journal of Personality and Social Psychology.
Wayan Bagia, Fridayana Yudiaatmaja, Ni Nyoman Yulianthini. (2015). Model Konseptual Kinerja Individual Pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten yang Berbasis Kompetensi, Komitmen Organisasi, dan Motivasi Kerja. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Weijun Gu, Xiaochun Chen, Rui Zhang, Wensong Zhang. ( 2021). The effect of emotional leadership and
686 Volume 7, Nomor 3, November 2023
job security on employees’ mental health. Social Behavior and Personality.
Xin Xuan Che, Zhiqing E. Zhou, Stacey R. Kessler & Paul E. Spector. (2017). Stressors beget stressors:
The effect of passive leadership on employee health through workload and work–family conflict.
Routledge Taylor & Francis Group, 338-354.
Yohana Eka Trisna Sihotang, Malida Putri. (2022). Penerapan Kebijakan New Normal dalam Pola Perilaku Masyarakat. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora.
Yudhistira Pradhipta Aryoko, Alfato Yusnar Kharismasyah, Iqbal Maulana. (2022). Kepuasan Kerja, Locus of Control dan Self-Efficacy: Pengaruhnya terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora.
Zulkarnain. (1998). Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Gangguan Mental Emosional (Studi Di Kalangan Pengemudi Bus Kota Sebuah Perusahaan Bus Di Tangerang). Depok.