Menuju peningkatan kerangka hukum kebebasan berserikat dan berkumpul, berpendapat dan berekspresi, serta perlindungan pembela hak asasi manusia di Indonesia. Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No. 98 tentang Hak untuk Berunding Bersama (Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No. 98 tentang Hak Berorganisasi dan Perundingan Bersama) 18. Prinsip Siracusa mengenai ketentuan yang membatasi dan merendahkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ( Prinsip Syracuse tentang Ketentuan Pembatasan dan Pengurangan dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik) 20.
-Prinsip-Prinsip Camden tentang Kebebasan Berekspresi dan Kesetaraan (Prinsip-Prinsip Camden tentang Kebebasan Berekspresi dan Kesetaraan) 21. Deklarasi PBB tentang Hak atas Pembangunan. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Ketentuan Undang-undang 34. Ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang kepada Organisasi Masyarakat untuk Bertindak 59.
UU No.27 Tahun 1999 Tentang Perubahan KUHP Terkait Tindak Pidana Terhadap Keamanan Negara 85. UU No.16 Tahun 2017 Pembentukan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas UU No.17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Undang-undang (Massa Hukum ) 86.
PENGANTAR
Hasil indikator global seperti CIVICUS dan Freedom House menunjukkan gejala yang sama yaitu kualitas ruang masyarakat sipil di Indonesia semakin menurun dari tahun ke tahun. Hak untuk berserikat dan berkumpul serta hak untuk berekspresi merupakan persyaratan mendasar untuk menciptakan ruang yang sehat bagi masyarakat sipil. Hampir seluruh organisasi masyarakat sipil (CSO), meski secara implisit, memprioritaskan kehadiran unsur ini dalam mandat organisasinya.
Ruang lingkup masyarakat sipil menjadi rentan terhadap semakin tidak terkekangnya kekuasaan negara untuk mengontrol hak berserikat, berkumpul dan berekspresi. Acemoglu dan Robinson (2019) meminjam karakter Ratu Merah dari Through the Looking Glass karya Lewis Carroll untuk memberikan analogi mengenai masyarakat sipil versus negara. Namun dalam konteks hubungan masyarakat sipil dan negara, keduanya harus berjalan bersama untuk saling bersaing dengan tetap berada pada tempat yang sama.
Jika laju civil society lemah maka akan menimbulkan otoritarianisme negara, sehingga civil society harus berlari lebih cepat untuk menyeimbangkan peran negara. Sejarah menunjukkan bahwa karena luasnya kekuasaan, negara selalu membutuhkan tambahan pembatasan baru, sedangkan masyarakat sipil menunjukkan gejala sebaliknya.
RUANG GERAK MASYARAKAT SIPIL
CIVIC SPACE)
Civil space atau yang sering diterjemahkan dengan istilah ‘civil society space’ dalam bahasa Indonesia adalah sebuah infrastruktur sosial yang berisikan lingkungan atau arena yang mendukung bagi para aktor masyarakat sipil untuk bergerak guna mengubah struktur sosial dan politik disekitarnya.1 Infrastruktur sosial ini didukung oleh pilar penting hak asasi manusia di bidang sipil dan politik, termasuk hak atas kebebasan berekspresi, berpendapat, berorganisasi dan berpartisipasi, serta hak-hak lainnya di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Sedangkan aktor masyarakat sipil yang dimaksud adalah warga negara, baik secara perseorangan maupun yang secara kolektif tergabung dalam organisasi sipil.
PENDAHULUAN
Oleh karena itu, negara harus mendorong dan melindungi terbentuknya ruang sipil yang aman dan berdaya, sehingga aktor masyarakat sipil dapat bergerak bebas dan berperan aktif bersama dengan sektor lain yaitu sektor negara dan sektor pasar. Pengumpulan data kepustakaan meliputi pencarian peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan berbagai literatur hukum dan non hukum yang berkaitan dengan ruang sipil. Konsep utama dalam laporan ini adalah konsep 'ruang sipil' atau sering disebut 'ruang masyarakat sipil'.
Dari namanya menunjukkan bahwa konsep ruang sipil tidak dapat dipisahkan dari konsep masyarakat sipil itu sendiri. Selanjutnya penelitian ini menggunakan definisi ruang sipil yang digunakan oleh Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (UN OHCHR) sebagai berikut: 5. 5 Office of the High Commission for Human Rights (OHCHR) , “Apa itu Civic Space ?”, Perserikatan Bangsa-Bangsa, (nd).
UN OHCHR mendefinisikan ruang sipil sebagai lingkungan yang memungkinkan masyarakat sipil berperan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial masyarakat. Sistematika laporan ini terinspirasi oleh pembagian penulisan sistematis yang digunakan dalam laporan penyelidikan Eropa dari departemen politik Parlemen untuk urusan hak-hak sipil dan konstitusional, “Melindungi ruang masyarakat sipil: memperkuat kebebasan berserikat, berkumpul dan berekspresi serta hak untuk membela diri” hak asasi manusia di UE”.7 Berdasarkan pertimbangan tersebut, laporan ini kemudian membagi analisis konsep ruang sipil menjadi tiga bagian utama, yaitu: (1) kebebasan berekspresi, (2) kebebasan berserikat dan berkumpul, dan (3 ) perlindungan pembela hak asasi manusia.
KERANGKA HUKUM PELINDUNGAN
Uraian kerangka hukum pada bagian ini dibagi berdasarkan tiga persoalan pokok dalam ruang sipil, yaitu hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat, hak atas kebebasan berkumpul dan berserikat, serta hak-hak yang berkaitan dengan perlindungan pembela HAM. . Ketiga pertanyaan tersebut selanjutnya akan diurutkan berdasarkan subkategori: (a) kerangka hukum internasional dan (b) kerangka hukum nasional. Subkategori kerangka hukum internasional dikelompokkan menjadi (a) instrumen internasional dan (b) regional; kemudian berdasarkan klasifikasi kekuatan pengikatnya, subkategori sebelumnya dibagi lagi menjadi dua kelompok, antara lain: (i) instrumen yang tergolong perjanjian dan (ii) instrumen non-perjanjian.1.
1 Penting untuk memberikan penjelasan teoritis singkat mengenai perbedaan antara hukum internasional dalam bentuk perjanjian (seperti konvensi, kovenan, dll.)
CIVIC SPACE
CRPD sendiri diterapkan sebagai hukum positif di Indonesia setelah diratifikasi oleh Pemerintah dan DPR melalui UU No. 19 Tahun 2011. Selain itu, Konvensi ini juga merupakan salah satu instrumen internasional tertua yang pernah diratifikasi oleh Indonesia, yaitu melalui UU No. 18 Tahun 1956 Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD 1945) menjamin kebebasan setiap orang untuk mempunyai keyakinan, menyatakan pendapat dan bersikap sesuai dengan hati nuraninya, sebagaimana diatur dalam Pasal 28E ayat (2).
Undang-undang ratifikasi ini mengesahkan isi ketentuan Konvensi Hak-Hak Sipil sebagai hukum positif di Indonesia. Dalam kerangka hak ekonomi, aspek kebebasan berekspresi yang terkena dampak undang-undang ini menyangkut hak individu untuk memajukan kebudayaan. Undang-undang ini secara khusus memuat pasal tersendiri mengenai hak penyandang disabilitas untuk berekspresi dan berpendapat.
Undang-undang ini menjamin hak atas kebebasan berpendapat dalam bentuk konsultasi publik dan partisipasi dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa peraturan di tingkat hukum juga mengatur tentang perlindungan atau memuat ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul. UU No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP tentang Kejahatan terhadap Keamanan Negara.
Ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Titik temu antara ketentuan hak kebebasan berserikat dalam undang-undang ini terdapat pada muatan Pasal 1 angka 27 yang mengatur tentang pengertian organisasi lingkungan hidup. 39 DPR, “RUU Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan,” Program Legislasi Nasional, 17 Desember 2019.
41 Lihat: DPR, “RUU Tentang Perubahan Undang-Undang Hak Asasi Manusia Nomor 39 Tahun 1999”, Program Legislasi Nasional, (n.d.). 44 Lihat: DPR, “RUU Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia,” Program Legislatif Nasional, (n.d.). Terbitnya undang-undang ini menandai era baru bagi upaya pemajuan hak asasi manusia di Indonesia.
UU No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP tentang Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan Dalam Undang-Undang (UU Ormas).
ANALISIS HUKUM ATAS PRAKTIK PENYEMPITAN
Kasus yang menjerat Saiful Mahdi pada tahun 2019 merupakan salah satu dari sekian banyak contoh penyalahgunaan Pasal 27 ayat (3) UU ITE untuk menekan hak kebebasan berekspresi. Sayangnya, berjalannya waktu menunjukkan bahwa ketika diterapkan, Pasal 27 ayat (3) UU ITE bermasalah dalam kualifikasi tindakannya, sehingga berpotensi besar membungkam kebebasan berekspresi. Kajian ICJR terhadap pasal 27 ayat (3) menunjukkan bahwa susunan kata pada pasal tersebut bermasalah pasca Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Penafsiran Pasal UU ITE yang terbit kemudian.
Budiman, Mengkaji Klausul Bermasalah pada Pasal 27 (3) Ayat UU Pencemaran Nama Baik ITE, (Jakarta: ICJR, September 2021), hal. Dua contoh kasus tersebut dan masih banyaknya pelaporan yang menggunakan Pasal 27 Ayat 3 UU ITE sejak diterbitkannya SKB menunjukkan perlunya perbaikan secara menyeluruh. Pasal pidana terkait berita bohong diatur dalam beberapa produk hukum, antara lain (a) UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, (b) KUHP dan (c) UU ITE.
Namun struktur pasal penyebaran berita bohong dalam UU ITE berbeda jauh dengan Pasal 14 dan 15 UU No. 1 dari tahun 1946; Tindakan menyebarkan berita palsu tidak bisa disamakan dengan kejahatan ofensif atau ujaran kebencian. Soalnya, delik penyebaran berita bohong yang tidak secara spesifik merugikan konsumen masih bisa dijerat pasal lain dalam UU ITE. Hal ini berdampak pada penerapan berita bohong yang bercampur dengan pasal penghinaan, pencemaran nama baik, dan ujaran kebencian dalam UU ITE.
Pasal UU ITE yang sering digunakan untuk menjerat pelaku ujaran kebencian adalah pasal 28 ayat (2) UU ITE. IDI melaporkan, Jerinx dan Polisi menetapkannya sebagai tersangka dengan menggunakan Pasal 28 ayat (2) dan/atau Pasal 27 ayat (3) UU ITE.82. Selain KUHP, pasal ujaran kebencian juga dimuat dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta UU ITE.
Sayangnya, dengan kelonggaran ketentuan tersebut, pasal 28 ayat (2) UU ITE justru memiliki ancaman hukuman penjara yang lebih tinggi dibandingkan KUHP. Dalam hal ini, jelas mengapa rumusan ayat kedua Pasal 28 UU ITE bermasalah, yakni karena rumusan tersebut lebih menekankan pada distribusi. Berdasarkan statistik dan contoh kasus, pasal ujaran kebencian, khususnya Pasal 28 ayat (2) UU ITE, diterapkan secara sewenang-wenang.
IDI sebagai organisasi yang menjadi sasaran pernyataan Jerinx tidak masuk SARA, jadi Pasal 28(1) 2, UU ITE tidak boleh digunakan. Tak hanya itu, dalam kaitannya dengan informasi elektronik, pelanggaran serupa juga terdapat pada Pasal 28 ayat. 2 UU ITE juncto Pasal 45A ayat 2, UU ITE.