ABORSI & EUTANASIA
BAB 1 - PENDAHULUAN
Aborsi dan eutanasia merupakan topik-topik yang tidak mudah untuk diurai, dimengerti, maupun diperdebatkan, karena berbagai aspek tersangkut pada topik tersebut seperti aspek medis, hukum, teologi, etika, sosial, dan personalitas. Aborsi merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri masa kehamilan dan kehidupan janin sebelum kelahiran. Aborsi biasanya dilakukan karena adanya komplikasi kehamilan yang dapat terjadi karena masalah pribadi, risiko kesehatan yang dapat membahayakan nyawa bayi maupun sang ibu, atau suatu kondisi yang akan mempengaruhi bayi setelah kelahiran. Terdapat dua jenis aborsi yaitu aborsi medis dan aborsi illegal. Aborsi medis hanya boleh dilakukan ketika dalam kondisi/situasi tertentu dengan indikasi medis yang jelas. Jenis aborsi ini dapat dilakukan menggunakan obat- obatan seperti mifepristone dan misoprostol dan operasi. Sedangkan, aborsi illegal (menggunakan obat yang dapat membuat seseorang kontraksi hebat dan mengeluarkan janinnya) adalah aborsi yang dilakukan tanpa alasan medis yang jelas, biasanya karena orangtua tidak menginginkan kehadiran anaknya. Aborsi dapat dilakukan sebelum kehamilan berusia 20 minggu dan mayoritas aborsi dilakukan pada 12 minggu pertama. Di Inggris, aborsi terhitung illegal sampai adanya Undang-Undang Pemeliharaan Kehidupan Bayi tahun 1929, yang mengatur bahwa suatu tindakan tidak bisa dihukum apabila aborsi dilakukan dengan tujuan untuk menyelematkan nyawa sang ibu. Jumlah tindakan aborsi juga terhitung lumayan banyak di rumah sakit seperti NHS dan Wales. Pada tahun 2000, telah terjadi aborsi sebanyak 185.376 kasus. Diperkirakan bahwa terjadi 55.000.000 tindakan aborsi pertahunnya. Di samping itu, banyak aborsi dini yang mungkin tidak tercatat. Tindakan aborsi yang tidak sesuai dengan standar medis dapat mempengaruhi kehamilan selanjutnya.
Aborsi dan eutanasia memiliki hubungan yang sangat erat dan cocok untuk dibahas dalam bab yang sama karena keduanya berurusan dengan pengambil keputusan terhadap kematian. Eutanasia sendiri merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri hidup seorang dengan sengaja untuk menghilangkan penderitaan orang tersebut. Secara populer, eutanasia biasanya disebut “pembunuhan karena kasihan”. Eutanasia dibagi menjadi dua jenis yaitu eutanasia sukarela (bunuh diri yang dibantu dan karena keinginan pasien) dan eutanasia nonsukarela (kematian yang terjadi atas keputusan orang lain). Eutanasia dapat dilakukan dengan cara memberikan suntikan mematikan dengan zat-zat berbahaya maupun melalui tablet sianida. Euthanesia seringkali terjadi kepada seseorang yang memiliki penyakit parah dan tidak
dapat disembuhkan. Hingga saat ini, masih ada perdebatan apakah kedua tindakan tersebut merupakan hal yang benar atau salah. Meskipun di Indonesia eutanasia adalah hal yang dilarang, ada beberapa negara yaitu antara lain Belanda, Australia, Canada, Belgium, Portugis, Spanyol, Ecuador, Selandia Baru, Luxembourg, dan Colombia yang memperbolehkan eutanasia dilakukan dalam keadaan khusus. Peraturan dan keadaan khusus berbeda-beda pada setiap negara, beberapa keadaan khusus meliputi penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan berakhir dengan kematian dalam jangka enam bulan, memastikan orang yang menyadari apa yang dilakukan, membutuhkan persetujuan dua dokter atau lebih, dan lain-lainnya. Sejak peresmian peraturan “Medical Assistance in Dying” di Canada pada tahun 2016, lebih dari 60,000 orang telah meninggal melewati eutanasia. Pada tahun 2023, terhitung adanya 15,353 kematian eutanasia yaitu 1 dari 20 kematian dalam negara tersebut. Jumlah tersebut naik 15.8%
dibandingkan tahun sebelumnya.
BAB 2 - ABORSI
Rata-rata lima kehamilan yang dinyatakan positif, berakhir dengan aborsi. Salah satunya adalah kasus aborsi yang dilakukan oleh pasangan muda yang belum menikah di Indonesia. Pasangan muda berinisial GR dan RN ketahuan melakukan aborsi setelah melalukan hubungan seksual sebelum menikah. Keduanya sudah menjalin hubungan cukup lama dan ketika janin kurang lebuh berusia 11 minggu, mereka menggugurkan janin tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter dan sadar bahwa ternyata RN hamil, mereka memutuskan untuk menggugurkannya dengan cara mengonsumsi obat yang dibeli melalui media sosial.
Awalnya obat tersebut tidak berfungsi dengan baik sehingga RN meminta agar dosis obatnya dinaikan 8 kali lipat untuk hasil yang lebih cepat. Mereka mengeluarkan dan membuang janin yang masih berbentuk gumpalan di dalam kloset pada kamar mandi. Polisi pun menerima laporan pada 3 september 2024 bahwa telat terjadi kasus aborsi di batu dan menemukan barang- barang bukti seperti obat yang dikonsumsi, plasenta, dan pakaian pelaku. GR dan RN ditahan dan dijerat Pasal 77A Undang-Undang tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara hingga 10 tahun. Kejadian ini mungkin dapat terjadi karena beberapa faktor pendukung, seperti keinginan untuk menjaga nama baik dari rumor bahwa mereka hamil diluar nikah, kondisi kedua orangtua yang belum siap dan tidak dapat mendukung kehidupan sang bayi (baik secara keuangan dan mental).
Tindakan aborsi tidak hanya dapat dilakukan pada orang dewasa, namun korban pelecehan juga dapat melakukan tindakan aborsi. Salah satu kasus yang terjadi di Indonesia
adalah sebagai berikut. Seorang perempuan berinisial WA yang masih berada dibawah umur diperkosa oleh kakak kandungnya sendiri yang sudah berusia 18 tahun. WA pun memutuskan untuk melakukan aborsi setelah dilecehkan dan hamil. WA tidak diberikan hukuman apapun, karena ia merupakan korban dari kekerasan seksual dan kehamilan tersebut bukan disengaja.
Dan AA sekalu kakak kandung korban telah diberikan hukuman yang setimpal yaitu dua tahun penjara.
Dari kedua kasus diatas, dapat dilihat bahwa sebagian orang setuju dengan melakukan tindakan aborsi. Hal ini didukung oleh beberapa poin seperti, dampak yang akan berpengaruh secara psikologis kepada sang ibu jika janin tidak diaborsi. Mereka merasa bahwa, ketika seseorang ibu tidak menginginkan anaknya, rasa kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh orangtua pun akan berkurang. Dengan melakukan tindakan aborsi, tekanan psikologis, kesulitan keuangan, dan dampak buruk lainnya juga dapat terhindarkan.
Namun disisi lain beberapa orang juga sangat menentang tindakan aborsi. Berdasarkan penelitian, melakukan tindakan aborsi juga dapat memberikan pengaruh yang buruk terhadap para perempuan (angka depresi yang tinggi, orang yang masuk rumah sakit jiwa & bunuh diri, serta jumlah kejadian lahir prematur pada kehamilan berikutnya). Seseorang perempuan berhak untuk menentukan kehamilannya, namun hal itu seharusnya dilakukan sebelum pembuahan.
Karena, ketika pembuahan sudah terjadi dan janin sudah mulai bertumbuh, melakukan aborsi sangat menentang HAM (Hak Asasi Manusia), karena setiap orang sudah seharusnya memiliki hak untuk hidup sejak berada di dalam kandungan.
Di Indonesia, seseorang yang melakukan tindakan aborsi dapat dihukum. Aturan mengenai aborsi tertera pada Pasal 462 UU 1/2023. Ketentuan ini dibuat untuk melindungi kandungan seorang perempuan dan mempertahankan kehidupan janin. Tetapi, Undang-undang ini tidak berlaku bagi beberapa kondisi seperti korban tindak pidana perkosaan dan indikasi kedaruratan medis. Setiap perempuan yang melakukan tindakan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan, akan dipidana penjara maksimal 4 tahun.
Beberapa orang menaruh persepsi yang salah terhadap embrio yang berada di rahim ibu.
Mereka memiliki pandangan yang sangat amat bervariasi. Pertama, mereka menganggap bahwa janin itu merupakan benda atau seseuatu tak bernyawa dan hanyalah sebagian dari tubuh ibunya dan belum sepenuhnya menjadi manusia. Sehingga, tidak masalah untuk melakukan aborsi dan membuang anak tersebut. Kedua, jika alasan orangtua ingin melakukan aborsi karena kecacatan yang dimiliki anaknya, kita tidak dapat menerima alasan tersebut. Pada
zaman ini, teknologi sudah sangat maju dan berkembang, sehingga walaupun anak tersebut lahir secara prematur mereka tetap dapat bertahan hidup dengan dukungan teknologi medis.
Ketiga, melakukan aborsi tidak dapat dibenarkan karena aborsi sama saja seperti
“penghalangan kehidupan” yang parah. Aborsi berarti penghancuran kehidupan seseorang, padahal bayi yang belum dilahirkan pun termasuk manusia dan berada untuk alasan yang sama dengan ibunya.
BAB 3 - EUTANASIA
Pada bagian pendahuluan, telah tertera definisi/pengertian dari eutanasia. Eutanasia bisanya dilakukan untuk mengakhiri hidup seseorang dan mengurangi pendertiaan orang tersebut. Secara umum, eutanasia biasanya terjadi kepada seseorang yang sakit parah dan kemungkinan penyembuhannya sangat kecil. Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk mencari bantuan medis dan mendapatkan obat-obatan mematikan guna mengakhiri hidup. Ini adalah salah satu contoh kasus eutanasia yang terjadi di Inggris. Seorang ibu bernama Antonya Cooper dari Abingdon, Oxfordshire, Inggirs, mengaku bahwa ia memberikan morfin dalam dosis besar kepada putranya bernama Hamish, yang berusia tujuh tahun untuk menghentikan penderitaan sang anak yang sedang sakit parah dan mengakhiri hidupnya dengan tenang.
Menuturkan bahwa putranya mengidap kanker stadium 4 dan sangat kesakitan sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1981. Cooper membuat pengakuan tersebut kepada BBC Radio Oxford sebagai bagian dari upaya untuk mengubah undang-undang tentang bantuan kematian.
Anak tersebut berusia lima tahun saat didiagnosis dan awalnya diberi prognosis atau harapan hidup selama tiga bulan. Setelah 16 bulan telah menjalani perawatan kanker di Rumah Sakit Great Ormond Street, hidup Hamish diperanjang tetapi dia tetap merasakan sakit parah.
Dikatakan oleh sang ibu, bahwa jika penyakit kanker tersebut telah mendatangi pada 43 tahun, maka ia akan mengizinkan Hamish untuk meinggal dengan tenang. Saat wawancara pada Juli 2024, dikatakan bahwa Cooper telah menderita kanker stadium akhir pada saat wawancara.
Setelah dianalisis lebih lanjut, keputusan Cooper untuk melakukan tindakan eutanasia kepada anaknya karena ia ingin mengakhiri kesakitan anaknya yang telah menderita neuroblastoma stadium 4, kanker langka dan agresif yang sebagian besar menyerang anak-anak.
Tetapi, lebih baik jika sang ibu memilih pilihan yang lain selain melakukan tindakan eutanasia.
Sang ibu dapat mendukung anaknya tersebut dan selalu membuat ia rasa ternyaman bersama sang ibunya. Semua manusia memiliki hak untuk hidupnya masing-masing, maka pilihan harus
dipikirkan dengan lebih dalam dan matang, apalagi ini merupakan keputusan yang berhubungan dengan nyawa seseorang (antara hidup dan mati).
Beberapa orang mendukung tindakan eutanasia karena mereka mengganggap bahwa mereka berhak untuk menentukan keberlangsungan hidupnya. Terutama, ketika seseorang sudah sangat menderita dan merasa tersiksa dengan penyakit yang harus dihadapinya.
Kelompok yang setuju dengan eutanasia juga beranggapan bahwa melakukan eutanasia kepada pasien yang memang sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup akan sangat membantu tenaga kesehatan. Karena, mereka bisa lebih fokus kepada pasien-pasien yang memiliki harapan untuk sembuh lebih besar dan bertahan. Tetapi, kelompok yang menentang adanya tindakan eutanasia berkata bahwa eutanasia sangat menentang kehendak Tuhan. Karena, hanya Tuhanlah yang berhak untuk menentukan hidup atau kematian dari seorang manusia. Sehingga, tindakan eutanasia tidak dapat dibenarkan sama sekali. Kelompok yang kontra terhadap eutanasia juga mengganggap bahwa tindakan ini bukanlah tindakan yang baik karena hal ini sama saja dengan pembunuhan.
BAB 4 – PENUTUP
Secara menyeluruh, aborsi dan eutanasia merupakan isu yang sangat kompleks dan penuh kontroversi, dengan banyak faktor yang mempengaruhi keputusan untuk melakukan kedua tindakan tersebut, baik dari segi medis, hukum, sosial, maupun agama. Aborsi adalah tindakan untuk mengakhiri kehamilan dan kehidupan janin, yang dilakukan karena berbagai alasan, termasuk faktor kesehatan ibu atau janin, serta situasi sosial dan pribadi. Aborsi medis diperbolehkan dalam kondisi tertentu, tetapi aborsi ilegal dilakukan tanpa alasan medis yang jelas. Dalam pandangan agama, khususnya dalam Kekristenan, aborsi dianggap sebagai tindakan pembunuhan yang melanggar hak hidup yang diberikan oleh Tuhan.
Sedangkan eutanasia adalah tindakan sengaja mengakhiri hidup seseorang yang menderita sakit parah dengan tujuan untuk mengurangi penderitaan. Dalam pandangan agama Kristen, eutanasia dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak Tuhan yang menciptakan dan merencanakan kehidupan setiap individu. Artinya hanya Tuhanlah yang berhak menentukan kapan hidup seseorang berakhir. Secara keseluruhan, meskipun ada argumen medis dan situasional yang mendukung tindakan aborsi dan eutanasia dalam beberapa kasus, banyak pihak, terutama dari sudut pandang agama, menentang kedua tindakan ini karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai hidup yang sakral. Keputusan tentang kehidupan dan
kematian seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek dengan hati-hati dan penuh empati, sambil tetap menghargai hak hidup yang diberikan Tuhan.
Pandangan Kekristenan menegaskan bahwa baik aborsi maupun eutanasia adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum Tuhan, yang memandang kehidupan sebagai hal yang sangat berharga dan direncanakan oleh-Nya sejak dalam kandungan. Ayat-ayat Alkitab seperti Mazmur 139:13 dan Ayub 10:8 mengingatkan bahwa Tuhan adalah pencipta kehidupan dan hanya Dia yang berhak menentukan takdir hidup seseorang.
Dalam Alkitab sudah tertulis secara keras bahwa aborsi dan eutanasia tidak diperbolehkan dalam Kekristenan. Dalam Kekristenan aborsi merupakan tindakan pembunuhan manusia yang dilarang. Sedangkan eutanasia adalah tindakan yang dilarang Kekristenan karena merupakan pelanggaran berat terhadap hukum Tuhan, eutanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seseorang untuk meringankan penderitaannya. Tidak hanya itu dalam Kitab Mazmur 139:13 yang mengatakan bahwa aborsi termasuk menyangkut penciptaannya. Selain itu dalam Kitab Ayub 10:8 di situ Ayub menegaskan bahwa tangan Allah telah membentuk dan juga membuat manusia. Kedua ayat ini telah menekankan bahwa Tuhan bukan hanya menciptakan manusia, tetapi juga membentuk, membuat, dan juga merencanakan hidup mereka sejak dalam kandungan seorang Ibu. Apalagi dalam pandangan kekristenan, Mazmur 139 telah menegaskan bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik dan berharga. Tuhan telah menunjukaan bahwa kehidupan manusia adalah sesuatu yang sangat berharga dan direncanakan Tuhan. Maka itu tindakan aborsi dianggap sebagai pertentangan dengan penghargaan terhadap hidup yang telah diberikan Tuhan. Selain itu dalam Kitab Ayub juga dapat dimengerti lagi lebih dalam bagaimana Ayub mengakui bahwa Tuhan yang membentuknnya di dalam rahim ibunya, tidak hanya itu Ayub juga mengakui bahwa kehidupannya berasal dari Tuhan. Terlihat dalam pandangan ini melalui pengakuan Ayub yakni aborsi bisa dianggap sebagai upaya yang dapat menghentikan atau mengakhiri kehidupan yang sudah diberikan oleh Tuhan.
Sedangkan eutanasi dilarang dalam Kitab Mazmur 139 karna kehidupan manusia adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan juga yang membentuk serta merencanakan setiap hidup seseorang, maka itu mengambil keputusan untuk mengakhiri kehidupan seseorang dengan sengaja atau disebut eutanasi dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan hak Tuhan.
Eutanasi merupakan pengakhiran hidup seseorang dengan sengaja. Kitab Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan kehidupan tetpi juga mengetahui setiap
detail tentang hidup seseorang bahkan sebelum dia lahir, maka itu jika Tuhan telah merencanakan kehidupan setiap orang, maka hanya Tuhan yang berhak untuk menentukan kapan seseorang tersebut harus hidup dan kapan seseorang itu harus meninggal. Maka itu tindakan manusia untuk mengakhiri hidup seseorang melalui eutanasi bertentangan dengan hak Tuhan untuk menentukan hidup manusia. Begitu juga dalam Kitab Ayub, Ayub yang mengakui bahwa Tuhan adalah sumber kehidupannya yang membentuknya dalam kandungan dan merencanakan hidupnya. Maka itu sebagai orang Kristen, eutanasi bertentangan dengan hal ini, karna eutanasi adalah pengakhiran kehidupan seseorang secara sengaja.
Setelah mempelajari kedua topik ini dengan lebih lanjut, kelompok kami memiliki pendapat masing-masing mengenai topik ini. Hampir seluruh anggota kelompok kami menentang dan tidak setuju dengan tindakan aborsi dan eutanasia. Berikut adalah opini kami:
Menurut Celine, saya sepenuhnya menentang dengan adanya tindakan aborsi karena itu adalah hasil dari kesalahan dua individu yang harus dipertanggungjawabkan. Saya merasa ketika kedua orang sudah memutuskan untuk melakukan hubungan seksual, sudah seharusnya mereka berani untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka. Karena tindakan aborsi tidak hanya dapat menghilangkan nyawa dan hak seseorang untuk hidup dan dilahirkan di dunia ini, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis. Dimana hal ini dapat mempengaruhi kesehatan dalam jangka waktu panjang apabila tindakan aborsi dilakukan tanpa alasan medis. Kemudian, menurut pandangan Kristen, tindakan aborsi juga telah melanggar hukum/perintah Allah no 7 yaitu "Jangan membunuh". Aborsi adalah tindakan mengeluarkan janin secara paksa setelah melakukan hubungan seksual dan karenanya sama saja dengan membunuh seseorang dan dianggap sebagai perbuatan berdosa. Perintah Allah tersebut berlaku untuk semua makhluk, baik yang sudah lahir maupun yang belum. Namun, saya tetap mendukung tindakan aborsi karena alasan medis, seperti kehamilan ektopik. Jika, kehamilan tersebut dapat membahayakan nyawa ibu dan janin, saya berpikir bahwa lebih baik untuk menyelamatkan salah satunya terlebih dahulu. Karena kalau sudah terjadi komplikasi pada kehamilan, hal ini dapat berakibat fatal dan membahayakan nyawa ibu dan janin. Selanjutnya, saya juga tidak setuju dengan eutanasia atau tindakan apapun yang bertujuan untuk menghilangkan penderitaan seseorang dengan cara mengakhiri hidupnya. Karena tidak semua jalan keluar dari suatu masalah atau pendertiaan adalah kematian. Saya setuju bahwa hanya Tuhan yang memiliki hak untuk memutuskan apakah seseorang layak untuk hidup atau mati (Ulangan 32:44–39), karena Ialah yang memberikan kita kehidupan sehingga sudah sepatutnya Ia juga yang menentukan kematian kita karena Allah yang memiliki kuasa atas segala hal yang
terjadi di dunia ini, dan sebagai manusia kita tidak boleh memutuskan kehidupan/kematian semena-mena.
Julia juga berpendapat hal yang sama akan hal ini, aborsi maupun eutanasia merupakan hal yang sangat dilarang dalam Alkitab, karena Kekristenan tipernah mengajarkan kita untuk melakukan hal tersebut, terutama hal ini menyangkut nyawa seseorang. Saya sebagai orang yang beragama Kristen sangat melarang aborsi dan juga eutanasia, karna kedua hal ini adalah salah satu cara untuk menyakiti Tuhan. Nyawa yang sudah ada didalam kandungan, sudah lah terbentuk dan sudah direncanakan Tuhan, namun beberapa manusia tetap melakukan hal ini dengan alasan yang sama ataupun alasan yang telah membuat mereka menderita, sampai mereka lupa bahwa mereka juga sedang mempertaruhkan nyawa yang ada dalam kandungan mereka saat itu. Apalagi dalam, beberapa ayat alkitab yang sudah di katakan sebelumnya juga dapat terlihat bagaimana Alkitab melarang manusia untuk melakukan tindakan tersebut. Aborsi merupakan hal yang mengakhiri nyawa dengan alasan seperti, untuk kesehatan bayi, kehamilan yang dilakukan karena bahan pelecehan, ketidakmampuan ekonomi dan lainnya. Sedangkan eutanasia meruapakan hal yang mengakhiri nyawa yang disebabkan untuk memudahkan kematian orang secara disengaja tanpa merasakan sakit, karna dilakukan dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit.
Begitu juga dengan pendapat Joyce yang menyatakan bahwa aborsi dan eutanasia hanya boleh dilakukan jika tidak ada pilihan lain. Apabila bayi yang dikandung akan lahir dalam keadaan memiliki penyakit dan Ibu dalam kondisi sehat, janin tetap berhak untuk hidup. Jika tidak mampu membiayai anak karena alasan apa pun, anak dapat diasuh oleh orang lain.
Sedangkan untuk eutanasia, melakukan prosedur tersebut berarti menyerah sepenuhnya meskipun ada kemungkinan terjadi keajaiban. Kecuali orang tersebut sedang menderita dan ingin melakukannya, saya merasa eutanasia jangan dilakukan.
Pendapat Noel akan hal ini juga sama, Noel menyimpulkan bahwa aborsi dan eutanasia merupakan suatu tindakan atau perilaku yang dihasilkan oleh manusia yang begitu sangat salah dan perlu dipikirkan lagi sebelum melakukan suatu hal. Dalam pandangan saya, aborsi merupakan dosa yang begitu sangat besar, dan maka dari itu, aborsi juga termasuk membunuh, yang berarti melawan terhadap perintah Allah. Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita. Walaupun aborsi merupakan tindakan yang sangat salah, aborsi medis dapat diperbolehkan dalam kondisi yang tertentu dan jelas. TIndakan aborsi ini dapat disimpulkan sebagai suatu tindakan yang melanggar perintah Tuhan. Selain aborsi, eutanasia merupakan
suatu tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang yang sedang mengalami penderitaan dengan tujuan untuk mengakhiri penderitaan dari individu tersebut. Mungkin saya dapat memahami situasi yang dialami kepada orang yang melakukan eutanasia, tetapi tetap saja tindakan tersebut sudah jelas melanggar perintah Tuhan, bahkan untuk mengakhiri hidup seseorang. Walaupun dua-dua tindakan tersebut merupakan tindakan yang sangat berdosa, tetapi seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa aborsi diperbolehkan jika memiliki alasan medis yang jelas. Maka dari itu, saya mungkin mendukung terhadap dua individu yang memiliki alasan media yang jelas dengan konidis yang tertentu, tetapi tidak juga hal tersebut tidak mengandung dosa. Dalam pandangan kristen, maupun aborsi atau eutanasia yang memiliki alasan yang jelas atau tidak jelas, hal tersebut tetap saja melanggar perintah Tuhan.
Maka sebaiknya, kita harus memikirkan pilihan besar kita terlebih dalam sebelum melakukannya. Tuhan telah memberikan semua manusia kehidupan, dan kehidupan ialah hal yang sangat berharga terhadap manusia.
Vilano juga memiliki pendapat yang sama akan hal ini. Inilah pendapat dari Vilano. Setelah saya mencoba untuk memahami serta mengerti lebih dalam mengenai aborsi dan euthanasia, akhirnya saya sadar bahwa kedua tindakan ini sangatlah melarang perintah Tuhan serta membunuh ciptaan Tuhan yang paling indah. Menurut saya, tindakan aborsi merupakan tindakan membunuh atau mengakhiri kehidupan sang janin yang dilakukan secara sengaja maupun karena alasan medis. Dari tindakan tersebut, hal itu sangatlah melawan perintah Tuhan dan akan membuat dosa yang sangatlah besar. Namun, aborsi diperbolehkan jila hal tersebut dilakukan akibat alasan medis tertentu. Jika aborsi yang dilakukan secara sengaja tanpa alasan medis, maka hal tersebut dianggap sebagai tindakan membunuh. Selanjutnya untuk euthanasia, yang merupakan tindakan yang disengaja untuk mengakhiri kehidupan seseorang yang terkena penyakit parah dan bertujuan untuk mengurangi rasa penderitaan yang dialami. Tindakan ini juga merupakan tindakan membunuh karena seseorang sengaja untuk menghilangkan nyawanya. Oleh karena itu, saya tidak setuju dengan tindakan aborsi dan euthanasia karena kedua hal tersebut telah melanggar perintah Tuhan. Tidak hanya itu, membunuh bayi dalam kandungan berarti mengabaikan rencana Tuhan atas hak kehidupan yang telah Ia bentuk. Hal ini juga bertentangan dengan perintah Allah keenam dalam Sepuluh Perintah Allah yaitu
“jangan membunuh” serta hal tersebut juga dapat ditemukan pada keluaran 20:13. Dalam pandangan Kristen, kehidupan dimulai sejak dalam kandungan, dan setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang terdapat pada Kejadian 1:27. Sedangkan untuk euthanasia, Dalam dilihat pada Ayub 1:21, Ayub mengakui bahwa hidup dan mati ada di tangan
Tuhan:“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”.
Mazmur 31:15 juga menegaskan bahwa hidup kita ada dalam kendali-Nya: “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.” Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk merawat kehidupan dengan kasih dan menghormati kehendak Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang berhak memberi dan mengambil nyawa.