BENTUK PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP SALES PROMOTION GIRL (SPG) HM. SAMPOERNA ROKOK DI KOTA PADANG
Reffi Novita Sari, Aziwarti, Yuhelna
Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research is background of sexual despising that is experienced by sales promotion girl. Factor that influences someone to do sexual despising to a woman that is the thinks interesting. Sales staff is very important role in product marketing for society, especially for sales promotion girl (SPG) HM. Sampoerna cigarette in Padang City. Purpose of this research is to describe types of sexual despising to ward sales promotion girl (SPG) cigarette Sampoerna in Padang City.This research is using symbolic interactionism theory that is conveyed by Herbert Blumer with using qualitative approach about descriptive research type.
Informant of this research is taken by snowball sampling with amounts of informants are 4 people. Kinds of data of this research are primer data and secondary data. As for, technique of data collection in this research is observation, deeply interview. Unit of analyze in this research is individual. Data analyze in this research is using data analyze mathode that is conveyed by Miles and Huberman, that is interactive model of analyze. Based on Result of this research can conclude that is types of sexual despising that is experienced by sales promotion girl are verbal sexual despising, visual sexual despising and physical sexual despising. verbal sexual despising that is experienced by sales promotion girl, costumer temptation, negative commentary to sales promotion girl. Visual sexual despising that is experienced by sales promotion girl consumer takes a look intently to sales promotion girl from the bottom to the top. physical sexual despising that is experienced by sales promotion girl is poked and touched by consumer.
Keywords: Form Sexual Harassment, Sales Promotion Girl, Cigarettes
PENDAHULUAN
Pelecehan seksual adalah suatu bentuk penghinaan atau memandang rendah seseorang karena hal-hal yang berkenaan dengan seks, jenis kelamin, atau aktivitas, atau
aktivitas seksual antara pria dan wanita. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor, porno, cubitan, colekan, tepukan, atau
sentuhan dibagian tubuh tertentu, gerakan tertentu, atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Pelecahana seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Meskipun pada umumnya para korban pelecehan seksual adalah kaum wanita, namun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual (Namora, 2013:114).
Pelecehan seksual tergolong kedalam perilaku menyimpang, pelecehan seksual biasanya dapat disebabkan oleh beberapa aspek yaitu: (1) Aspek lahiriah, yang bisa kita amati dengan jelas. Aspek ini bisa dibagi dalam dua kelompok yakni berupa: a. Deviasi lahiriah yang verbal dalam bentuk: kata-kata kotor yang tidak senonoh dan cabul, sumpah serapah, dialek-dialek dalam dunia politik dan dunia kriminal, ungkapan-ungkapan sandi, dan lain- lain. Misalnya penamaan “babi”
untuk pegawai negeri atau orang pemerintah “singa” untuk tentara
“serigala” untuk polisi “kelinci”,
untuk orang-orang yang bisa dijadikan mangsa (dirampok atau di copet, digarong), dan seterusnya, b.
Deviasi lahiriah yang nonverbal:
yaitu semua tingkah laku yang nyata kelihatan. (2) Aspek-aspek simbolik yang tersembunyi. Khususnya mencakup sikap-sikap hidup, emosi- emosi, sentimen-sentimen, dan motivasi-motivasi yang mengembangkan tingkah slaku menyimpang. Yaitu berupa mens rea (pikiran yang paling dalam dan tersembunyi), atau berupa iktikad kriminal dibalik semua aksi-aksi kejahatan dan tingakah laku menyimpang. Hendaknya selalu diingat , bahwa sebagian besar dari tingkah laku penyimpangan misalnya kejahatan, pelacuran, kecanduan narkotika, dan lain-lain, itu tersamar dan tersembunyi sifatnya, tidak kentara atau bahkan tidak bisa diamati. Tingkah laku yang tampak itu semisal puncak kecil dari gunung es raksasa yang tampak mengapung dipermukaan laut, sedang bagian terbesar dari gunung itu sendiri tersembunyi dibalik permukaan air (Freud dalam Kartono (2015:15-16) )
Beragam alasan yang melatarbelakangi seseorang bekerja, mulai dari masalah ekonomi, keinginan untuk membantu orang tua, keinginan untuk hidup mewah, mencari pengalaman sampai hanya karena ingin mengisi waktu luang.
Pekerjaan yang dilakukan antara lain bekerja sebagai pengajar les privat, wirausaha, penjaga warnet dan rental, penyiar radio dan Sales Promition Girl
Salah satu perusahaan yang sering menggunakan jasa Sales Promition Girl (SPG) adalah perusahaan rokok yang konsumennya didominasi oleh kaum pria. Pada perusahaan rokok, tenaga sales sangat berperan penting dalam memasarkan produk kepada masyarakat. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan berinteraksi langsung dengan konsumen. Melalui cara ini diharapkan target promosi dapat langsung mencapai sasaran yang akan berdampak pada kenaikan jumlah penjualan suatu produk.
Sales Promition Girl (SPG) adalah seorang perempuan yang direkrut perusahaaan untuk
mempromosikan produk.
Keberadaan Sales Promition Girl (SPG) dari fungsinya yaitu sebagai pihak presenter dari suatu produk.
Profesi ini biasanya dilakukan perempuan yang mempunyai karakter fisik yang menarik perhatian konsumen (Retnasih, 2001:23).
Kehadiran Sales Promotion Girl (SPG) rokok sedikit banyak membantu perusahaan dalam menggaet calon konsumen. Ini didasarkan pada penampilan utama yang ditunjukkan Sales Promotion Girl (SPG) rokok yang memang biasanya menarik, selain dari fisik Sales Promotion Girl (SPG) rokok juga diharuskan oleh perusahaan rokok untuk berdandan mencolok seperti memakai bulu mata palsu, eyeshadow, blason dan softlen untuk menunjang penampilan dari Sales Promotion Girl (SPG).
Menjadi seorang Sales Promotion Girl (SPG) rokok sampoerna dimana pekerjaan ini dipandang negatif oleh masayarakat yang dikarenakan pakaian dan tingkah laku mereka saat mempromosikan produknya kepada konsumen yang pada umumnya laki-
laki. Faktor yang mengakibatkan pelecehan seksual terhadap Sales Promotion Girl (SPG) rokok khusunya pada sales rokok sampoerna tersebut yaitu (1). Karena pakaian mereka yang seksi dan ketat, (2). Proses interaksi sesama konsumen yang sering bersifat rayuan dan godaan, (3).
Kecenderungan untuk berjualan ditempat kerumunan lelaki.
Berdasarkan penjelasan data di atas, maka dari itu peneliti tertarik melakukan penelitian tentang
“Bentuk Pelecehan Seksual Terhadap Sales Promotion Girl (SPG) Hm. Sampoerna Rokok Di Kota Padang”. Maka tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pelecehan Seksual Terhadap Sales Promotion Girl (SPG) Rokok Sampoerna di Kota Padang.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Menurut Blumer (Goerge Ritzer, 1985:61) istilah interaksionisme simbolik menunjukkan kepada sifat Khas dari interaksi antar manusia.
Kekhasannya, adalah manusia saling menerjemahkan dan saling
mendefenisikan tindakannya. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain, tetapi didasarkan atas “makna”
yang diberikan terhadap tindakan orang itu. Interaksi antara individu, diatur oleh penggunaan simbol- simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Sehingga dalam proses interaksi manusia itu bukan suatu proses saat adanya stimulasi secara otomatis dan langsung menimbulkan tanggapan atau respon.
Tetapi antara stimulus yang diterima dan respon yang terjadi sesudahnya oleh proses interpretasi diantaranya oleh si aktor. Jelas proses interpretasi ini adalah proses berfikir yang merupakan kemampuan yang dimiliki manusia. Proses interpretasi yang menjadi penengah antara stimulus dan respon menempati posisi kunci dalam teori interaksionisme simbolik (Nazsir, 2008: 32).
METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah
pendekatan penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian tentang pemahaman apa yang dirasakan oleh orang lain, memahami pola pikir dan sudut pandang orang lain. Alasan peneliti memilih pendekatan kualitatif yaitu dianggap mampu menggambarkan masalah yang akan diteliti secara mendalam (Herdiansyah,2012:17).
Tipe penelitian ini bersifat deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek karakter sifat, model, tanda atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu (Bungin,2011:11).
Informan penelitian adalah orang yang memberikan informasi baik tentang dirinya ataupun orang lain atau suatu kejadian kepada peneliti. Informan tidak di pahami sebagai objek peneliti atau penelitian, melainkan sebagai subjek penelitian. Meraka haruslah di pandang sebagai sumber informasi dan pengetahuan bagi peneliti Afrizal (2014:139). Penelitian ini
menggunakan teknik snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil kemudian membesar (Sugiyono,2011:68). Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah informan sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang mengelinding, lama-lama menjadi besar.
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data pada pengumpul data. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil observasi dan wawancara. Data yang dikumpulkan yang berkenaan dengan bentuk pelecehan seksual terhadap Sales Promotion Girl (SPG) HM soemporna rokok Sugiyono (2011:136). Data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Data sekunder ini digunakan untuk memperkuat data primer yang
peneliti dapatkan melalui kerjasama dengan sesama pihak-pihak terkait masalah yang diteliti, selain itu dapat mempermudah jalannya tujuan penelitian Sugiyono (2011:136).
Observasi adalah metode pengumpulan data dengan mencatat dan merupakan pengumpulan data yang paling tua yang digunakan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan Herdiansyah (2012:131). Jenis observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah jenis observasi non-participant yaitu pengamat tidak terlibat langsung atau ikut serta dalam kegiatan yang diamati (Yusuf,2005:131). Peneliti hanya mengamati kegiatan dan bentuk pelecehan terhadap informan penelitian, kemudian data yang didapat menggunakan panca indera tersebut dituangkan kedalam kertas kosong mengenai bentuk pelecehan seksual terhadap Sales Promotion Girl (SPG) rokok. Pada observasi ini peneliti melakukan ditempat SPG itu bekerja, dan dilingkungan tempat tinggalnya.
Wawancara mendalam merupakan sebuah interaksi sosial informal antara seorang peneliti
dengan para informannya, seperti maota-ota dalam Bahasa Minangkabau. Sebelumnya, sudah disinggung bahwa wawancara mendalam seperti maota-ota tersebut atau ngomong-ngomong antara dua orang tentang satu hal atau berbagai hal. Akan tetapi, ngomong-ngomong ini bukanlah ngomong-ngomong biasa, ini adalah ngomong-ngomong yang dilakukan untuk mendapatkan data yang valid yaitu, data yang menunjukkan sesuatu yang ingin diketahui. Ngomong-ngomong tersebut mestilah dilakukan dengan cara yang terkontrol, terarah dan sistematis. Terkontrol berarti pewawancara mesti mengendalikan jalannya ngomong-ngomong, memilih orang yang akan diajak ngomong dengan tepat, mengatur tempat duduk, mengandalikan arah pembicaraan. Terarah mengacu kepada ngomong-ngomong yang dilakukan jelas tujuannya dan jelas informasi yang akan dikumpulkan Afrizal (2014:137).
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang.
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya, foto, gambar, patung, film dan lain-lain Sugiyono (2011:240). Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto,2006:121). Unit analisis merupakan keseluruhan satuan atau unit yang diteliti, unit analisis dapat berupa individu, kelompok dan keluarga (Martono,2011:73).
Peneliti menggunakan unit analisis berupa individu. Data-data yang diperoleh dianalisis dengan empat alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi untuk mendapatkan kesimpulan akhir.
HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Sales Promotion Girl (SPG) Rokok
Sales Promotion Girl (SPG) rokok sampoerna di kota padang sebagian besar berumur 18- 27 tahun yang bekerja dari jam 09.00
pagi sampai 23.00 malam. Sales Promotion Girl (SPG) rokok bekerja dilatarbelakangi oleh penghasilan yang cukup besar agar bisa mengikuti trend atau gaya hidup mewah.
Cara kerja Sales Promition Girl (SPG) ini, mereka dibentuk kedalam beberapa tim, dimana dalam satu tim berjumlah 6 orang, terdiri dari 4 orang Sales Promition Girl (SPG), 1 orang Driver dan 1 orang TL (Team Leader) yang bertugas untuk menjaga dan mengawasi Sales Promition Girl (SPG) saat melakukan pemasaran. Masa dalam bekerja sebagai Sales Promition Girl (SPG) 4 hari dalam 1 minggu.
Dengan target penjualan rokok dalam satu hari 40 bungkus atau 4 slop rokok per orang.
Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual Terhadap Sales Promotion Girl (SPG)
Pelecehan seksual merupakan tindakan atau perilaku yang tidak dikehendaki dalam bentuk verbal (kata-kata) atau tulisan, visual, dan fisik untuk kepentingan seksual, memiliki maksud seksual, sehingga menyebabkan kemarahan, perasaan
terhina, malu, tidak nyaman, dan tidak aman bagi orang lain.
Maka untuk melihat bentuk pelecehan seksual yang di alami oleh Sales Promition Girl (SPG) akan dibahas dibawah ini apa saja bentuk- bentuk pelecehan seksual yang dialami oleh Sales Promition Girl (SPG).
1. Pelecehan Seksual Verbal Pelecehan seksual verbal adalah pelecehan yang berupa ucapan atau ungkapan yang disampaikan oleh seseorang atau sekumpulan orang kekorban, seperti Menggoda, bercanda, berkomentar, atau menanyakan hal-hal yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan membuat lawan bicara tidak nyaman.
2. Pelecehan Seksual Visual Pelecehan seksual visual adalah pelecehan yang berupa tindakan- tindakan yang tidak diinginkan dan membuat korban tidak nyaman seperti Menatap seseorang dengan pandangan ke arah tubuh tertentu (payudara, bibir, pantat, betis, lengan dll) dan Membuat ekspresi wajah seperti main mata, menjilat lidah atau melempar ciuman pada seseorang.
3. Pelecehan Seksual Fisik Pelecehan seksual fisik adalah pelecahan yang terjadi ketika pelaku melakukan kontak fisk secara seksual yang tidak diinginkan oleh korban, seperti menyentuh baju, tubuh, atau rambut orang lain yang bermaksud seksual sehingga menyebabkan ketidaknyamanan.
Perilaku Konsumen Saat Melakukan Pembelian Rokok Tehadap Sales Promition Girl (SPG)
Perilaku menurut skinner sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo (2010: 12) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar (stimulus). Perilaku merupakan suatu keadaan jiwa atau berpikir dan sebagainya dari seseorang untuk memberikan respon atau tanggapan terhadap situasi diluar subyek tersebut. Respon atau tanggapan ini ada dua macam yaitu bersifat aktif (dengan tindakan) dan bersifat pasif (tanpa tindakan).
Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang
mendahului dan menyusuli tindakan ini. Untuk memahami konsumen dan mengembangkan strategi pemasaran yang tepat kita harus memahami apa yang mereka pikirkan (kognisi) dan mereka rasakan (pengaruh), apa yang mereka lakukan (prilaku), dan apa serta dimana (kejadian di sekitar) yang mempengaruhi serta dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan oleh konsumen (Setiadi, 2013:2)
Pada saat Sales Promition Girl (SPG) menawarkan rokok, mereka menggunakan kata-kata rayuan seperti menyapa konsumennya dengan menghampiri konsumennya dan melakukan penjualan dengan menggunakan berbagai kata-kata rayuan seperti
“selamat malam bang atau om”,
“permisi bang, ngerokok bang”,
“rokok baru bang” prilaku yang centil seperti merayu dan menggoda merupakan salah satu strategi yang digunakan oleh Sales Promition Girl (SPG) untuk menarik konsumennya.
Perilaku Sales Promition Girl (SPG) yang merayu seperti itu membuat konsumen yang mayoritas laki-laki tergoda melakukan pelecehan.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian tentang bentuk-bentuk pelecehan seksual terhadap Sales Promotion Girl (SPG) Hm. Sampoerna rokok di Kota Padang dapat disimpulkan bahwa adanya simbol-simbol dari tindakan konsumen yang bisa dinilai dan mempunyai makna negatif ketika konsumen melakukan pelecehan seksual terhadap Sales Promotion Girl (SPG).
Simbol-simbol pelecehan seksual yang dilakukan oleh konsumen ketika Sales Promotion Girl (SPG) menawarkan rokok berupa:
1. Pelecahan Seksual
verbal Pelecehan seksual verbal yaitu berupa kata kata godaaan dari konsumen terhadap Sales Promotion Girl (SPG) seperti
“suiittt-suitt”, “seksi adiak ma”
dan memberikan komentar negatif tentang pakaian Sales Promotion Girl (SPG).
2. Pelecehan Seksual Visual Pelecehan seksual visual berupa tatapan kebagian tubuh tertentu.
Tatapan yang dilakukan konsumen terhadap Sales
Promotion Girl (SPG) yaitu melihat kebagian privat maap (paha dan dada) Sales Promotion Girl (SPG).
3. Pelecehan Fisik
Pelecehan seksual fisik berupa sentuhan dibagian tubuh.
Sentuhan yang dilakukan oleh konsumen kepada Sales Promotion Girl (SPG) seperti menyentuh tangan serta colekan di bagian tubuh Sales Promotion Girl (SPG). Pelecehan seksual yang berupa simbol-simbol yang dilakukan oleh konsumen membuat Sales Promotion Girl (SPG) merasa tidak nyaman dan risih.
Dari ketiga pelecehan yang dilakukan oleh konsumen terhadap Sales Promotion Girl (SPG), maka pelecehan yang paling banyak dilakukan oleh konsumen kepada semua Sales Promotion Girl (SPG) adalah pelecehan seksual verbal.
Pelecehan seksual verbal yang dilakukan oleh konsumen seperti menyiuli dan berkomentar tidak sopan mengenai pakaian yang dipakai oleh Sales Promotion Girl (SPG) dan pelecehan yang paling
sedikit dilakukan oleh konsumen kepada Sales Promition Girl (SPG) adalah pelecehan seksual fisik.
Pelecehan seksual fisik yang dilakukan oleh konsumen seperti menyentuh bagian tangan dan mencolek bagian badan Sales Promotion Girl (SPG).
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal, 2014. Metode penelitian kualitatif. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Burhan, Bunggin.2011. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Jakarta: PT. Gravindo persada.
Lubis, Namora. 2013. Psikologi Kespro. Jakarta:
Prenadamedia Groups.
Martono, Nanang. 2011. Metode Penelitian Kualitatif Analisis Isi Dan Analisis Data Sukender. Jakarta: PT.
Raja Gravindo.
Nazzir, Nasrullah. 2008. Teori-Teori Sosiologi. Jakarta: Widya Padjajaran
Retnasih, Ratna. 2001. Sales Promotion Girls dalam
berbagai prespektif. Jakarta:
Salemba Empat
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R
& D. Bandung: Alfabeta Yusuf, Muri. 2005. Metodologi
Penelitian. Padang: UNP Press.