JUDUL
Peran “Sanggar Tari Budaya” Sebagai Wujud Eksistensi Kesenian Wayang Kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember
PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JEMBER
2022
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN ...
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Rumusan Masalah ...
1.3 Metodologi Penelitian ...
1.4 Tujuan ...
1.5 Mamfaat ...
BAB II. PEMBAHASAN ...
2.1 Hasil Penelitian ...
2.2 Silahkan tambah sub-bab sesuai judul jika diperlukan ...
BAB III. PENUTUP ...
1.1 Kesimpulan ...
1.2 Komentar Kelompok Terhadap Hasil Mini Riset...
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Wayang adalah jenis seni yang ditinggalkan yang masih hidup dan mendapat dukungan dari sebagian orang.Berbagai jenis wayang banyak dijumpai di
masyarakat,sebagian besar sudah hilang.Dalam wayang ada beberapa jenis wayang yang pernah di publikasikan.Dari cerita yang dituturkan dan bagaimana
memaknainya dan cara membuatnya di Indonesia,khusunya di Pulau Jawa ada,sekitar 40 jenis wayang di antaranya sudah punah.
Wayang (berasal dari bahasa Jawa: ꦮꦮꦮ, translit. wayang, har. “bayang” atau bayang-bayang yang berasal dari akar kata “yangKata-kata didalam Bahasa Jawa yang mempunyai akar kata “yang” dengan yang berarti: selalu bergerak, tidak tetap, samar- samar dan sayup-sayup. Kata “wayang”, pada waktu dulu berarti: mempertunjukan
“bayangan”. Jenis-jenis wayang dapat dikelompokan dengan dibagi berdasarkan cerita yang dibawakan, cara mementaskan, dan bahan pembuatannya.1
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia,Agama Hindu mengadaptasi budaya yang ada,dan seni pertunjukan wayang menjadi sarana penyebaran agama Hindu yang dinilai efektif.Pertunjukan wayang menggunaka cerita dari Ramayana dan Mahabrata.Pada saat Agama Islam masuk ke Indonesia,Pertunjukkan yang menampilkan’Tuhan’ atau “Dewa” dalam wujud seperti manusia dilarang,mundullah wayang dari kulit sapi yang pertunjukkanya berupa bayangan saja,yang dikenal dengan Wayang Kulit.Wayang ini juga digunakan untuk menyebarkan agama Islam pada saat itu.
Kesenian Wayang juga sangat diminati di Desa Andongsari.Peminat wayang di Desa Andongsari terdiri dari kaum tua sekitar umur 40-an keatasa hingga kaum muda,dan pementasan wayang diadakan sekali dalam malam Suro.
1 WIKIPEDIA. Wayang - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada tanggal 31 Mei 22
1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Bagaimana sejarah kesenian wayang di kecamatan ambulu kabupaten jember?
1.2.2 Bagaimana perkembangan kesenian wayang di desa Ambulu kab jember?
1.2.3 Bagaimana peran sanggar tari budaya di tengah kebudayaan masyarakat desa Ambulu kab jember?
1.3 Metode Penelitian
Penelitian ini mengkaji objek-objek sejarah, sehingga metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Tahapan metode penelitian sejarah meliputi pengumpulan sumber atau heuristic, kritik sumber, interpretasi, dan dikembangkan menjadi historiografi yang umumnya berbentuk tulisan. Heuristic sebagai tahap awal penelitian sejarah mempunyai pengertian pencarian sumber dan jejak sejarah melalui berbagai aktivitas. Jenis sumber sejarah adalah sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber benda. Sumber lisan dalam kajian ini adalah kegiatan wawancara kepada narasumber yang mempunyai keahlian di bidang kesenian wayang kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember. Informasi yang diperoleh dari narasumber adalah garis besar dari kajian penelitian, yakni mengenai sanggar tari budaya dan wayang kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember.
Sumber tertulis dalam kajian ini adalah hasil dari pencarian berbagai referensi, baik dalam bentuk jurnal maupun buku yang masih berkaitan dengan tema penelitian. Informasi sumber yang diperoleh dari observasi lapangan dan data tersebut kemudian akan dijadikan sebagai data-data sejarah melalui tahap kritik sumber sebagai tahap kedua setelah heuristic. Kritik sumber terbagi menjadi dua, yakni kritik sumber internal dan eksternal. Kritik sumber internal dan eksternal dapat dilakukan pada sumber tertulis maupun sumber lisan. Tahap ketiga adalah interpretasi, dimana diperlukan tindakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lainnya untuk menguatkan fakta dan mendapat suatu kebenaran karena didukung oleh banyak sumber. Tahap terakhir adalah historiografi yang dituangkan melalui tulisan berdasarkan data-data sejarah yang telah diperoleh. Historiografi adalah langkah untuk merekontruksi peristiwa masa lampau yang harus berpedoman kepada metode
penelitian sejarah agar tulisan sejarah yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.
1.4 Tujuan
Tujuan penulisan ini secara umum adalah untuk mengetahui, menganalisis, serta memahami kesenian wayang yang terdapat di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember.
1. Mengetahui serta menguraikan sejarah kesenian Wayang di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember
2. Mengetahui serta menguraikan perkembangan kesenian wayang di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember
3. Mengetahui peran sanggar tari budaya terhadap masyarakat Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember
1.5 Manfaat
Berdasarkan Tujuan Penelitian yang hendak dicapai, maka diharapkan penelitian yang membahas mengenai “Peran Sanggar Tari Budaya sebagai wujud eksistensi kesenian wayang kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember” semoga dapat memberikan wawasan baru kepada pembaca maupun peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun hasil manfaat yang didapat dari penelitian ini :
1. Memberikan ilmu pengetahuan baru mengenai kesenian wayang kulit di Desa Andongsari, Ambulu Kabupaten Jember.
2. Memberikan berbagai macam pertanyaan serta kesaksian pelaku kesenian wayang kulit mengenai eksistensi kesenian wayang kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember.
3. Memberikan kesimpulan mengenai eksistensi kesenian wayang kulit di Desa Ambulu Kabupaten Jember saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Veni Inafariza, dkk. (2016). Artikel Ilmiah Mahasiswa : Pertunjukan Wayang Kulit Di Kabupaten Jember Pada Tahun 1980-2014. Jember.
Firmansyah, dkk. (2021). Jurnal Historica : Dynamics Of Home Industry Creatrative Crafts Of Wayang Kulit Village Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan Jember District 1995- 2018. Jember.
Rohman fatkhur. (2018). Jurnal Kebudayaan : Sejarah Perkembangan Dan Fungsi Wayang. Vol 3. No 1. Agustus 2018.
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah wayang dan perkembangannya di Desa Andongsari
Sejarah wayang menurut pak derma, wayang sangat sulit di cari asalnya dan hanya sebatas cerita ataupun tidak tertulis. Kisah pertama yang diceritakan adalah sebuah kisah yang berjudul Prabu Watu Gunung, akan tetapi kisah tersebut merupakan kisah yang tidak tertulis.
Sejarah yang tercatat dulu wayang disebut dengan wayang purwo. Wayang purwo itu dimulai dari zaman kerajaan Hindu dan tujuan dibuatnya wayang itu untuk mengenang nenek moyang pada saat itu Prabu Joyoboyo kerajaannya di Memenang Kediri. Dia membuat wayang purwo dengan daun lontar. Wayang adalah gambaran (ayang-ayang), sementara purwo adalah kawitan, dalam hal ini yang dimaksud dengan wayang purwo adalah gambaran mengenai bagaimana bentuk nenek moyang, yang ditandai dengan sengkala yang disebut sebagai wayang wolu ( wayang delapan) pada tahun 869 Saka. Dikisahkan kembali pada abad ke-11 Masehi wayang itu sudah ada yang ditandai dengan prasasti yang ditulis pada waktu Kerajaan Airlangga. Dan prasasti itu diambil dari kakawin ”Arjuna Wiwaha” bunyi prasastinya
“Hananonton ringgit manangis asekel mudha hidhepan huwus wruh tuwin yan walulang inukir molah angucap hatur ning wang tresneng wisaya malaha ta wihikana ri tatwa nyan maya sahana-hana ning bawa siluman” maksud dari prasasti tersebut orang yang nonton wayang bisa menangis sedih dan gembira padahal dia tahu bahwa yang mereka saksikan terbuat dari kulit yang cara jalannya dijalankan. Tulisan kakawin karya Mpu Kanwa pada masa Prabu Airlangga kurang lebih tahun 1.030 Masehi. Dari sini raja Airlangga sudah membentuk berbagai bentuk wayang, tetapi bentuknya masih berupa bentuk kerajaan atau membentuk sebuah kerajaan yang di dalamnya tergambar raja lengkap dengan para prajuritnya, sampai pada kemunculan Aji Saka seorang raja yang bergelar Prabu Widyaka dari Purwacarita yang membuat wayang, pada masa ini muncul sebuah pakem yang menceritakan kisah perjalanan para dewa, yang mana terdapat sengkala yakni Ratu Guna Maletik Tunggal pada tahun 1.031 Saka yang artinya adalah seorang raja sangat digunakan dan dibutuhkan pengetahuannya. Sejarah wayang dilanjutkan sampai pada masa munculnya Kerajaan Jenggala pada 1.120. Kemudian pada masa Kerajaan Demak. Sunan Kalijaga memodifikasi bentuk wayang yang bentuk badan dan wajahnya miring kemudian seperti memakai topeng yang disebut Ringgit atau “Ginambar miring dening ingkang anggit”
seperti wayang yang kita tahu saat ini agar tidak melenceng dari syariat islam. Seperti yang kita tahu bahwa dalam syariat islam dilarang atau diharamkannya benda-benda yang menyerupai bentuk manusia atau ciptaan Allah contohnya seperti patung. Menurut Pak Bambang sendiri pagelaran wayang merupakan sebuah tontonan yang terdapat unsur memberi tuntunan laku dan perilaku manusia, sebagaimana manusia hidup di dunia perilaku
yang dijalankan setiap hari menjadi sebuah ilmu dan teladan bagi manusia di dunia Dalang pertama di Andongsari adalah Pak Sunoko beliau berasal dari Blitar, kemudian beliau lari ke Andongsari dikarenakan adanya peristiwa G30S-PKI. Beliau ke Andongsari membawa gamelan kemudian narasumber memberikan contoh lagu Sekar Dandanggula, dalam tembang itu mengandung arti manusia hidup di dunia ini tidak akan selamanya, suatu saat akan kembali ke rumah sebenarnya.
Peran sanggar tari wayang
Untuk menyelamatkan dan melestarikan kebudayaan dan seni wayang di tengah gempuran kebudayaan moderen masyarakat Desa Ambulu Kabupaten Jember. Dikarenakan banyak kebudayaan kita yang diambil oleh negara luar yang ingin mengembangkan seni wayang yang ada di Andongsari. Sanggar Tari Budaya dibentuk atas dasar untuk nguri-uri budaya Jawa agar tetap lestari dan diminati oleh generasi muda. Pasalnya generasi muda di Andongsari memiliki minat dan bakat untuk belajar berkesenian (terutama dalam seni karawitan dan pendalangan) tetapi karena adanya keterbatasan dan ketidaktahuan generasi muda harus menyalurkan minat dan bakat yang mereka miliki , maka dalam hal ini Sanggar Tari Budaya dibentuk sebagai wadah dalam menaungi minat dan bakat generasi muda di Andongsari.
Fungsi wayang
Fungsi wayang dapat ditinjau dari berbagai multipersepektif. Fungsi wayang adalah sebagai media efektif dalam menyampaikan pesan, informasi dan pelajaran. Wayang dulu digunakan sebagai media efektif dalam menyebarkan agama mulai dari agama Hindu sampai agama Islam. Karena begitu luwesnya wayang hingga saat ini eksistensinya masih kuat dan digunakan untuk berbagai keperluan. Fungsi asalnya, wayang merupakan ritual yang ditujukan untuk roh leluhur bagi penganut kepercayaan “hyang”. Selanjutnya, wayang mengalami pergeseran peran, yaitu sebagai media komunikasi sosial. Dalam lakon-lakon yang ditampilkan dalam perwayangan biasanya menyimpan beberapa nilai, seperti pendidikan, kebudayaan dan ajararan-ajaran dari filsafat Jawa. Peran ini lambat laun mengalami pergeseran, hingga wayang hanya sebatas hiburan atau tontonan. Wayang sebagai seni dekoratif merupakan ekspresi kebudayaan nasional. Wayang sebagai media pendidikan, berdasarkan tinjauan isi wayang yang banyak memberikan ajaran moralitas kepada masyarakat. Wayang sebagai media pendidikan memfokuskan pada pendidikan moral dan budi pekerti. Wayang sebagai media komunikasi, dari aspek penampilan wayang merupakan media yang komunikatif dalam masyarakat. Wayang digunakan sebagai sarana memahami
suatu tradisi, pendekatan kepada masyarakat, penerangan dan penyebarluasan nilai-nilai.
Sedangkan wayang sebagai media hiburan, wayang difungsikan sebagai sarana hiburan, tontonan bagi masyarakat yang bisa digunakan berbagai macam keperluan sarana hiburan.
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran Transkip Wawancara
TRANSKIP WAWANCARA WAYANG Narasumber : Ki Bambang Hadi W.
Kusmadi
Penanya : Menurut narasuber bagaimana sejarah kesenian wayang ?
Narasumber : Sejarah yang tercatat dulu wayang disebut dengan wayang Purwo. Wayang purwo itu dimulai dari kerajaan hindu dan tujuan dibuatnya wayang itu untuk mengenang nenek moyang. Pada saat itu Prabu Joyoboyo kerajaannya di Mamenang Kediri. Dia membuat wayang purwo dengan daun lontar. Wayang adalah gambaran (ayang-ayang). Purwo adalah kawitan. Dikisahkan kembali pada abad 11 wayang itu sudah ada yang ditandai dengan Prasasti Airlangga.
Penanya : Apa saja agenda di paguyuban wayang ini ?
Narasumber : Rutinitas setiap malam selsa karawitan dan pendalangan. Kemudian ada juga lomba festival di Jakarta
Penanya : Bagaimana struktur keanggotaan di paguyuban ini ?
Narasumber : Struktur keanggotaan di paguyuban ini terdiri dari yang pertama yaitu pemilik sanggar, yang kedua pembina sekaligus pelatih, yang ketiga Humas, yang ke- empat sekretaris dan bendahara. Dan anggota karawit sendiri yang terdiri dari 12 orang.
Penanya : Bagaimana antusias masyarakat Andongsari terhadap seni wayang ini ?
Narasumber : Di Andongsari sebenarnya masih banyak sekali bukti antusias masyarakay untuk melihat seni wayang yang terdiri dari kaum tua maupun muda.
Penanya : Bagaimana sejarah seni wayang di Andongsari ?
Narasumber : Dalang pertama di Andongsari adalah pak Sunoko, beliau berasal dari Blitar.
Kemudian beliau lari ke Andongsari dikarenakan adanya peristiwa G30-SPKI.
Beliau ke Andongsari membawa gamelan, kemudian narasumber memberikan contoh lagu Sekar Dandang Gulo, dalam tembang itu mengandung arti manusia hidup di dunia ini tidak akan selamanya, suatu saat akan kembali kerumah sebenarnya.
Penanya : Bagaimana ciri khas yang membedakan dengan wilayah lain pertunjukan wayang di Andongsari ?
Narasumber : Cerita yang sering diambil adalah kisah Mahabarata dan Ramayana. Di Ramayana menceritakan tentang Rama dan Cinta yang kemudian dibagi lagi menjadi seperti Anoman.
Penanya : Apakah pemerintah mengapresiasi paguyuban ini ?
Narasumber : Pemerintah sama sekali tidak mengapresiasi, dikarenakan paguyuban ini didirikan oleh pak Bambang sendiri.
Penanya : Apakah generasi muda di Andongsari banyak yang berminat dengan kesenian wayang ini ?
Narasumber : Sebenarnya minat generasi muda pada kesenian wayang ini cukup banyak.
Cuman mereka tidak tahu harus memulai dari mana. Ini adalah PR kita untuk menjaring mereka dan ini menjadi tanggungjawab pemain seni.
Penanya : Apa saja peralatan yang digunakan dala pertunjukan wayang ?
Narasumber : Peralatannya terdiri dari Demung, Saron, Pekung, Srengkem, Bonang babon dan Bonang barong, Gong, Lenong, Gender, Gambang, dan yang terakhir Gendang.
Penanya : Apakah ada perbedaan pertunjukan wayang dari sebelum pandemi hingga saat pandemi ?
Narasumber : Sebelum adanya pandemi pertunjukan wayang banyak digelar namun dengan adanya pandemi ini orang yang menganggap wayang itu jarang, bahkan kegiatan rutin setahun sekali di Balaidesa setiap bulan Suro terpaksa tidak terlaksana.
Penanya : Apa tujuan bapak mendirikan pertunjukan wayang ini ?
Narasumber : Tujuan saya mendirikan paguyuban ini ingin menyelamatkan seni wayang.
Dikarenakan banyak kebudayaan kita yang diambil oleh negara luar yang ingin mengembangkan seni wayang yang ada di Andongsari.
Penanya : Di Desa Andongsari sendiri apakah ada penggunaan wayang sebagai media dakwah?
Narasumber : Iya, dikarenakan dalam pertunjukan wayang itu banyak mengandung nilai-nilai keagamaan. Contohnya pada saat pertunjukan wayang selalu ada kata (Duh Gusti) yang mengajarkan arti ketuhanan. Kemudian dala pertunjukan wayang selalu menunjukan sikap atau tata krama.
Penanya : Mengapa para wali mengubah bentuk wayang ?
Narasumber : Dikarenakan dalam islam melarang benda-benda yang menyerupai manusia.
Dijaman kerajaan Airlangga bentuk wayang seperti raja-raja. Akhirnya pertunjukan wayang dibenarkan ketika zaman walisongo dan digambarkan miring agar tidak menyerupai manusia.
Penanya : Bagaimana pesan bapak kepada generasi muda saat ini ?
Narasumber : Pesan untuk generasi muda agar berhati-hati dalam membawa dan menjaga kebudayaan.
Kusmadi Ki Bambang Hadi W.
Lampiran Nama Anggota Kelompok
Ketentuan Penulisan :
Sesuai dengan Teknis Penulisan Sejarah
Menggunakan nomor halaman
Font : Times New Roman
Judul (uk 14) , penulisan (uk 12)
Spasi : 1,5
Margin : 4-4-3-3
Boleh menyertakan gambar atau data-data pendukung (tidak wajib)
Dikumpulkan paling lambat tanggal 28 Mei 2022 j1m 19.00 WIB ke pendamping masing-masing
Dikumpulkan dalam bentuk soft file (PDF)