TINJAUAN STANDARISASI LABORATORIUM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI
SE- KABUPATEN PASAMAN BARAT
Artikel
ENJANG APRILIANI NIM. 10010211
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN STKIP PGRI SUMBAR
PADANG
2014
TINJAUAN STANDARISASI LABORATORIUM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI SE- KABUPATEN
PASAMAN BARAT Oleh:
Enjang Apriliani, Drs. Ardi, M. Si., Liza Yulia Sari, S. Pd, M. Pd.
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat Email: [email protected]
ABSTRACT
Biology is a science that has important significance for education in schools. Laboratory standard is really needed to support the students learning biology outcomes. The objectives of learning biology will not be fully achieved in the classroom without practical activities. The variation in the biology laboratory conditions at SMAN in West Pasaman district indirectly lead to differences in laboratory standardized, but not yet revealed. This research is aimed to determine the learning biology of laboratory standardization at SMAN in West Pasaman district. This research is a descriptive research which conducted from July - September in first semester in academic year 2014/2015. The sample were all laboratories in the learning biology at SMAN that West Pasaman district consist of 11 schools. The type of data in was primary data collected directly from the respondents. The instrument was a questionnaire. The data is analyzed by using descriptive qualitative. The results of data analysis showed that the average percentage of learning biology laboratory standardization at SMAN in West Pasaman district is 57, 8% with less criteria.
Therefore, it can be concluded that the learning biology laboratory at SMAN in West Pasaman district is not meet to the standards set by the Ministerial Regulation No. 24 in 2007.
Key words: standardized, learning biology outcomes PENDAHULUAN
Sekolah merupakan sebuah sistem yang memiliki tujuan. Berkaitan dengan tujuan tersebut, maka diperlukan manajemen perlengkapan sekolah. Menurut Gunawan (2002: 114), proses belajar mengajar (PBM) atau kegiatan belajar mengajar akan semakin sukses bila ditunjang dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
Laboratorium termasuk ke dalam prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar.
Wirjosoemarto (2004: 40) mengemukakan bahwa laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat untuk melakukan percobaan atau penelitian.
Menurut Suprayitno (2011: 1), biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang mempelajari makhluk hidup. Sebagai ilmu pengetahuan alam, biologi lahir dan berkembang melalui pengamatan dan eksperimen.
Dengan demikian peranan laboratorium sangat besar sebagai sumber belajar yang efektif untuk mencapai
kompetensi yang diharapkan oleh siswa.
Selain itu, laboratorium merupakan prasarana penunjang kegiatan praktikum.
Jika laboratorium yang tersedia di sekolah belum memenuhi standar, maka kegiatan praktikum tidak akan berjalan lancar, sehingga tidak akan tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tanggal 28 Juni Tahun 2007 mengatur standar sarana prasarana sekolah, khususnya laboratorium. Standar ruang laboratorium biologi menurut peraturan tersebut diantaranya: (1) ruang laboratorium biologi berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan praktikum yang memerlukan peralatan khusus; (2) ruang laboratorium biologi dapat menampung minimum satu rombongan belajar; (3) rasio minimum ruang laboratorium biologi 2,4 m2/peserta didik.
Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2,
lebar minimum ruang laboratorium biologi 5 m; (4) ruang laboratorium biologi memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan; (5) ruang laboratorium biologi dilengkapi sarana (perabot, peralatan pendidikan, bahan habis pakai, dan perlengkapan lain).
Kabupaten Pasaman Barat memiliki 11 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri, dari 11 sekolah yang ada, terdapat enam sekolah yang memiliki laboratorium biologi secara khusus. Adanya variasi kondisi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, secara tidak langsung menimbulkan perbedaan standarisasi laboratorium, tetapi hal ini belum terungkap. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standarisasi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat ditinjau dari tata guna ruang laboratorium biologi, desain ruangan laboratorium biologi, dan sarana laboratorium (perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan dan perlengkapan lain).
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat, meninjau, menggambarkan, tentang laboratorium pembelajaran biologi sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Penelitian ini dilakukan di laboratorium pembelajaran biologi SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat pada bulan Juli – September semester ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015.
Populasi dalam penelitian ini adalah laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/ 2015, dimana jumlah SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat adalah 11 sekolah. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anggota populasi yaitu, 11 laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, diantaranya SMAN 1 Luhak Nan Duo, SMAN 2 Pasaman, SMAN 1 Kinali, SMAN 1 Pasaman, SMAN 1 Gunung Tuleh, SMAN 1 Lembah Melintang, SMAN 1 Sungai Aur, SMAN 1 Talamau, SMAN 1 Koto Balingka, SMAN 1 Sungai Beremas, dan SMAN 1 Ranah Batahan, karena anggota populasi yang relatif kecil, sehingga penelitian ini
adalah penelitian populasi. Arikunto (2002:
112) mengungkapkan bahwa apabila subjek atau anggota populasinya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer. Sumber data dalam penelitian ini adalah responden. Adapun responden yang mengisi angket dalam penelitian ini adalah pengelola labor/guru mata pelajaran biologi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket atau kuisioner. Angket yang digunakan adalah angket dengan alternatif jawaban yang disediakan (angket tertutup), dengan menggunakan skala Guttmann.
Prosedur yang ditempuh dalam penelitian ini diantaranya, mengurus semua administrasi yang berhubungan dengan observasi penelitian, melakukan observasi/
wawancara awal untuk melihat kondisi laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, menemukan masalah penelitian, menentukan subjek penelitian, mengurus semua administrasi yang berhubungan dengan proposal penelitian, mencari bahan kajian pustaka, menyusun proposal penelitian, membuat instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang dipakai adalah angket yang sudah dimodifikasi dari Septinurmita (2014), melakukan validasi angket dengan dua orang dosen validator, menganalisis hasil validasi angket, melakukan penelitian di laboratorium pembelajaran biologi SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, menganalisis data, dan menyusun laporan penelitian.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, dimana data dan informasi yang diperoleh di lapangan dideskripsikan secara kualitatif. Namun demikian, dalam hal tertentu perlu didukung oleh data kuantitatif sederhana berupa tabel frekuensi, tujuannya untuk menggambarkan proporsi setiap kategori masing – masing indikator variabel dalam bentuk angka – angka persentase dari setiap pilihan informan (Iskandar, 2009:
255).
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
Berdasarkan data angket yang diperoleh pada 11 SMA Negeri se-
Kabupaten Pasaman Barat, deskripsi hasil standarisasi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 1.Deskripsi Data Persentase Angket Tinjauan Standarisasi Laboratorium Pembelajaran Biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014
/2015.
No Indikator Variabel
Standarisasi Laboratorium Pembelajaran
Biologi Persentase Kriteria 1. Tata guna
ruang laboratorium biologi
63, 7 % Cukup
2. Desain ruang laboratorium biologi
86, 4 % Sangat Baik 3. Perabot 62, 7 % Cukup 4. Peralatan
pendidikan
34, 3 % Kurang Sekali 5. Media
pendidikan
72, 7 % Cukup 6. Bahan habis
pakai
37, 8 % Kurang Sekali 7. Perlengkapan
lain
47, 3 % Kurang Sekali Jumlah 404, 9
Rata – rata 57, 8 % Kurang 2. Pembahasan
Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat bahwa, standarisasi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/ 2015, dapat dikategorikan pada kriteria kurang dengan persentase 57, 8 %.
Hasil ini diperoleh dari rata – rata persentase pengisian angket oleh 11 responden terpilih pada laboratorium SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat yang dipaparkan sebagai berikut.
Dari segi tata guna ruang laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 yang memenuhi standar adalah 63, 7 % dengan kriteria cukup. Hasil tersebut menunjukkan bahwa, dari segi tata guna ruang laboratorium telah memenuhi
standar minimum yang ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007.
Menurut aturan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007, seharusnya ruang laboratorium biologi difungsikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan praktikum biologi.
Menyangkut hal ini, SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat telah memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 yaitu pada kriteria cukup. Sejalan dengan hal tersebut, Wirjosoemarto (2004: 43 - 44) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran biologi, laboratorium berperan sebagai tempat kegiatan penunjang kegiatan kelas, bahkan mungkin sebaliknya bahwa yang berperan utama dalam pembelajaran biologi adalah laboratorium, sedangkan kegiatan kelas hanya sebagai penunjang.
Dari segi desain ruang laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 yang memenuhi standar adalah 86, 4 % dengan kriteria sangat baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa, dari segi desain ruang laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995: 7), disamping laboratorium sebagai ruangan tempat siswa melakukan praktikum, terdapat pula ruangan – ruangan lain yang merupakan bagian dari laboratorium, ruangan ini sebagai penunjang kegiatan praktikum, ruangan tersebut diantaranya ruang persiapan yang digunakan untuk mempersiapkan alat – alat dan bahan yang akan digunakan dalam laboratorium untuk percobaan – percobaan yang akan dilakukan oleh siswa maupun yang akan digunakan untuk demonstrasi guru, dan ruang penyimpanan yang berfungsi untuk menyimpan alat – alat dan bahan praktikum.
Selain itu pencahayaan dan ventilasi yang juga fasilitas penting dalam laboratorium, rata – rata telah dimiliki oleh setiap SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa ruang laboratorium biologi harus memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk mengamati obyek percobaan dan membaca buku.
Dari segi perabot, laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat yang memenuhi standar adalah 62, 7 % dengan kriteria cukup, ini berarti dari segi perabot, laboratorium di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat telah memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Ketersediaan perabot yang masih sangat kurang di laboratorium SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat yaitu meja demonstrasi dan meja persiapan, dimana hanya empat sekolah yang memiliki meja demonstrasi, diantaranya SMAN 1 Luhak Nan Duo, SMAN 1 Gunung Tuleh, SMAN 1 Sungai Beremas dan SMAN 1 Ranah Batahan. Sedangkan meja persiapan hanya tersedia pada dua sekolah, yaitu pada SMAN 1 Pasaman dan SMAN 1 Sungai Beremas. Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995: 15), meja demonstrasi sangat diperlukan dalam suatu laboratorium, meja demonstrasi tidak hanya diperlukan untuk meletakkan alat – alat dan bahan tertentu sewaktu siswa sedang melakukan praktikum, tetapi juga tempat mengumpulkan alat – alat dan bahan setelah siswa melakukan praktikum, dengan demikian guru dapat dengan mudah dan cepat memeriksanya kembali.
Dari segi peralatan pendidikan laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat yang memenuhi standar adalah 34, 3 % dengan kriteria kurang sekali. Peralatan pendidikan yang masih kurang di laboratorium SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat diantaranya, aquarium, gambar berbagai sistem dalam tubuh hewan, gambar kromosom, gambar DNA, gambar RNA, gambar pewarisan sifat Mendel, gambar contoh tumbuhan berbagai divisi, gambar contoh hewan berbagai filum, gambar pohon evolusi, perangkat batang statif, klem universal, boss head (penjepit), potometer, termometer suhu tanah, higrometer putar dan perangkat pemeliharaan mikroskop.
Dapat diketahui bahwa dari segi peralatan pendidikan, laboratorium di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat belum memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Kelancaran kegiatan praktikum sangat bergantung kepada pengadaan
peralatan pendidikan, dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 telah dikemukakan bahwa kegiatan praktikum biologi memerlukan peralatan khusus yakni peralatan pendidikan meliputi alat peraga dan alat – alat percobaan praktikum.
Dari segi media pendidikan laboratorium pembelajaran biologi yang memenuhi standar di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 adalah 72, 7 % dengan kriteria cukup. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dari segi media pendidikan laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasman Barat telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007.
Namun demikian, terdapat dua sekolah yang belum memiliki media papan tulis di laboratorium, diantaranya SMAN 1 Kinali dan SMAN 1 Sungai Aur, hal ini dikarenakan gedung labor biologi pada kedua SMA Negeri tersebut masih baru, selain itu juga terdapat satu sekolah yang papan tulisnya sedang dalam kondisi rusak yakni pada SMAN 1 Talamau.
Dari segi bahan habis pakai (kebutuhan per tahun), laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat yang memenuhi standar adalah 37, 8 % dengan kriteria kurang sekali. Ini berarti bahwa bahan praktikum di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat belum memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan oleh Permendiknas No. 24 Tahun 2007. Bahan praktikum yang ketersediaannya masih kurang pada laboratorium di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat diantaranya acetokarmin, iodium, dan MnSO4. Menurut Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007, bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat. Jadi jika bahan atau zat tersebut habis, sekolah harus membeli atau memesan kembali saat dibutuhkan untuk praktikum.
Berkaitan dengan penyediaan bahan untuk praktikum, menurut Wijosoemarto (2004:
50) untuk memudahkan pemeriksaan alat dan bahan laboratorium yang habis atau rusak perlu dilakukan inventarisasi yang sistematik. Inventarisasi ini dapat dibuat pada buku atau secara komputerisasi sebagai daftar induk, untuk melakukan inventarisasi
dan pengelolaan laboratorium sebaiknya dilakukan oleh seorang laboran.
Dari segi perlengkapan lain laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 yang memenuhi standar adalah 47, 3 % dengan kriteria kurang sekali. Hasil tersebut menunjukkan bahwa, dari segi perlengkapan lain laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/2015 belum memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007.
Perlengkapan lain seperti soket listrik sudah tersedia pada laboratorium di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, tetapi jumlahnya belum memenuhi kriteria yang ditetapkan Permendiknas No. 24 Tahun 2007. Perlengkapan lain yang masih kurang, diantaranya alat pemadam kebakaran, P3K dan jam dinding. Menurut Tarmizi (2009:
23) di laboratorium, selalu ada kemungkinan bahaya kebakaran. Alat – alat dari kaca, porselen dapat merengat sehingga isinya tumpah. Alkohol, eter, benzen, karbon disulfida, aseton dan pelarut organik yang mudah menguap dan sering digunakan yang mudah sekali terbakar, atau alat – alat elektronik juga mungkin dapat terbakar karena terlalu panas atau karena konsleting, oleh karena itu alat pemadam kebakaran harus selalu tersedia. Dengan demikian keberadaan perlengkapan lain dalam laboratorium biologi sangatlah penting, oleh karena itu, hendaknya dilakukan upaya untuk melengkapi perlengkapan lain di laboratorium SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, agar keselamatan dalam laboratorium lebih terjaga dan demi kelancaran kegiatan laboratorium.
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, standarisasi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat Tahun Pelajaran 2014/ 2015 secara umum berada pada kriteria kurang dengan persentase 57, 8
%. Secara rinci standarisasi laboratorium pembelajaran biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, ditinjau dari segi tata guna ruang laboratorium biologi yang memenuhi standar adalah 63, 7 % dengan
kriteria cukup, segi desain ruang laboratorium biologi yang memenuhi standar adalah 86, 4 % dengan kriteria sangat baik, dari segi perabot laboratorium biologi yang memenuhi standar adalah 62, 7 % dengan kriteria cukup, dari segi peralatan pendidikan yang memenuhi standar adalah 34, 3 % dengan kriteria kurang sekali, dari segi media pendidikan yang memenuhi standar adalah 72, 7 % dengan kriteria cukup, dari segi bahan habis pakai yang memenuhi standar adalah 37, 8 % dengan kriteria kurang sekali, dan dari segi perlengkapan lain yang memenuhi standar adalah 47, 3 % dengan kriteria kurang sekali.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dapat menyarankan bagi Dinas pendidikan Kabupaten Pasaman Barat, agar lebih memperhatikan dan mengoptimalkan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, khususnya laboratorium biologi agar memenuhi standar yang ditetapkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007, sehingga proses pembelajaran biologi dapat berjalan optimal, bagi sekolah, khususnya laboratorium biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat, sebaiknya memiliki tenaga laboran agar proses penyelenggaraan dan penggunaan laboratorium dapat berjalan lancar dan bagi peneliti selanjutnya, agar dapat melakukan penelitian tentang tinjauan kesiapan laboratorium pembelajaran biologi untuk implementasi kurikulum 2013 di SMA Negeri se- Kabupaten Pasaman Barat.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 1995. Pedoman Pendayagunaan Laboratorium dan Alat Pendidikan IPA. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Gunawan, Ary H. 2002. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta: Rineka Cipta.
Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gung Persada Press.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidiyah (SD/MI), Sekolah
Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah (SMA/MA). http://akhmad sudrajat.files.wordpress.com/2009/0 4/permen-no-24 standarsarana.
pdf.html, diakses 23 Januari 2014.
Septinurmita, Rahayu. 2014. Tinjauan Standarisasi Laboratorium IPA Biologi di SMA Negeri se- Kabupaten Solok Selatan. Padang:
STKIP PGRI Sumatera Barat.
Suprayitno, Totok. 2011. Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi. Jakarta: Direktorat Sekolah Menengah Atas.
Tarmizi. 2009. Managemen Laboraturium.
Padang: UNP Press.
Wirjosoemarto, K., Adisedjaja, Y. H., Suprayitno, B., Riandi. 2004.
Teknik Laboratorium. Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas PMIPA. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.