• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seajarah Suku batak Pakpak

N/A
N/A
chrismas

Academic year: 2024

Membagikan "Seajarah Suku batak Pakpak "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

I.Seajarah Suku batak Pakpak

Konon orang menganggap Batak Dairi masih sama dengan Batak Pakpak, karena pada dasarnya kedua suku ini memang memiliki banyak kesamaan khususnya bahasa, adat istiadat, maupun geografi yang berdekatan. Walaupun secara marga, beberapa hal juga termasuk masyarakatnya sendiri mengakui ada perbedaan diantara keduanya. Menurut sejarahnya, suku Batak sendiri awalnya adalah kerajaan yang didirikan oleh seorang raja berasal dari Toba Sila-silahi (Silalahi) lau’ Baligi (Luat Balige), yang berada di kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja tersebut yang langsung bersangkutan adalah Raja Kesaktian bernama Alang Pardoksi atau yang sering dipanggil sebagai Pardosi.

Kerajaan ini mengalami kejayaannya pada masa dipimpin oleh raja bernama Sultan Mahara Bongsu, yang memimpin pada 1054 Hijriyah. Dari kerajaan yang besar ini kemudian terpecah menjadi beberapa suku seperti yang kini dikenal, termasuk suku Batak Toba, Mandailing, Pakpak dan lainnya.

Suku Pakpak inilah yang kemudian menjadi suku Pakpak Dairi. Antara pakpak dan Dairi sejak dulu menjadi satu keluarga atau marga, tetapi kini mereka terpecah menjadi Pakpak dan Dairi meskipun budaya, adat dan bahasa sama. Menurut pendapat masyarakat suku Batak Pakpak, suku Batak Dairi adalah bagian dari lima sub suku Batak Pakpak, yaitu: Pegagan, Keppas, Simsim, Klasen dan Boang.

Tapi hal ini tidak diterima oleh orang Dairinya sendiri, karena menurut orang Dairi yang disebut suku Pakpak itu adalah hanya puak Pegagan, puak Keppas dan puak Simsim, sedangkan puak Klasen dan puak Boang adalah merupakan kelompok suku Batak Dairi.

Pembagian puak sendiri menurut suku Dairi, adalah Suku Dairi Klasen, Suku Dairi Boang, kadang disamakan dengan suku Julu yang berada di Singkil, dan suku Kahia, atau suku Dairi Kahia yang kadang disebut juga sebagai suku Pakpak-Kahia. Mereka mengatakan dulunya mereka memang berasal dari wilayah Pakpak-Dairi sekarang, tetapi mereka berbeda dengan suku Pakpak. Dalam melaksanakan pernikahan,sistem sosial kemargaan merupakan hal penting dan menjadi acuan dalam menetapkan calon pasangan yang ingin dinikahi. Beberapa aturan dasar dalam konsep pernikahan kebudayaan suku Batak antara lain, larangan menikah dengan satu marga. Hanya diperbolehkan menikah jika pasangan calonnya berasal dari marga yang berbeda. Tetapi jika ingin menikah dengan selain suku Batak, maka calon pasangan dari luar suku harus diadopsi terlebih dahulu oleh salah satu marga yang berbeda. Larangan ini berkaitan dengan kekerabatan marga, setiap suku Batak yang berada dalam satu marga masih menganggap satu bagian keluarga besar, sehingga tidak boleh melangsungkan pernikahan dengan saudara

alam konsep perjodohan Batak juga ada pariban, yaitu sepupu. Orang Batak dibolehkan menikahi paribannya bila mereka sama-sama mau. Sepupu yang dimaksud adalah, misalkan untuk perempuan, maka bisa menikah dengan anak laki-laki dari adik perempuan ayah. Sedangkan kalau laki-laki, bisa menikah dengan anak perempuan dari adik laki-laki ibu. Dalam masyarakat Dairi juga dikenal Martarombo, yaitu mencari-cari hubungan saudara satu dengan yang lainnya. Bila dua orang Batak dengan marga yang sama saling bertemu, mereka biasanya akan saling mencari titik kekerabatan yang menghubungkan persaudaraan mereka. Bagi yang tidak mengenali silsilah kemargaannya sendiri maka akan disebut sebagai “Nalilu’, yang artinya orang Batak kesasar.

(2)

II. Kearifan Local dari Suku batak Pakpak A. Rumah adat batak pakpak

Rumah Adat Pakpak bernama Jerro. Bentuk rumah adat Pakpak sama saja dengan rumah adat lainnya di Sumatera Utara yang umumnya menggunakan tangga dan tiang. Rumah Pakpak memiliki bentuk yang khas dan terbuat dari kayu serta atap dari bahan ijuk. Rumah suku Pakpak memiliki bentuk yang unik dan khas yang terbuat dari bahan kayu dengan atapnya yang terbuat dari bahan ijuk. Bentuk arsitektur Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara tidak hanya berbentuk seni budaya namun di setiap bagian – bagian rumah adat Pakpak memiliki artian yang bermakna di mana menggambarkan bagaimana polah pikiran dan bagaimana Suku Pakpak berbudaya pada jamannya.

Rumah Adat suku pakpak karo

B. Pakaian Adat batak pakpak

pemakaian busana (Baju Adat Pakpak) dimaksud lebih dikonotasikan dalam penggunaan pada pesta-pesta (upacara adat ) atau kerja-kerja baik kerja njahat maupun kerja mbaik. Jadi bukan pada penggunaan keseharian. Busana ini kemudain terdokumentasikan secara kolektif oleh masyarakat Pakpak sebagai penggunanya.

Kini terdapat berbagai variasi baik pada model, bentuk api-api (manik-maniknya) yang tampaknya dimaksudkan untuk memperindah sebagai modifikasi dari bentuk semula. Bahkan terdapat pula upaya meletakkan beberapa komponen pendukung busana semisal borgot dan leppa-leppa yang personifikasikan lewat manik-manik yang terukir dan melekat pada baju.

Penempatan ini simbolik, menyerupai benda asli yang semestinya terdapat pada posisi dimana modifikasi diletakkan. Dapat dipahami bahwa ini juga dimaksudkan karena tidak banyak lagi orang Pakpak yang memiliki kedua jenis kalung Pakpak itu. Disisi lain secara ekonomis dengan bahan emas atau perak berlapis emas dinilai terlalu mahal. Dengan demikian belum ditemukan kesepakatan tertulis dan bersifat final terhadap berbagai modifikasi ini.

(3)

Tetapi inisiatif dan inovasi semacam itu harus dipahami sebagai bentuk kreatifitas yang patut dihargai.

Sebab jika harus disesuaikan dengan bentuk atau model asal, sulit didapatkan kesamaan pandangan. Hal ini dikarenakan variasi pengalaman dari masing-masing warga masyarakat, termasuk disebabkan oleh perbedaan kelas ekonomi yang tentu mempengaruhi pula kelengkapan busana yang biasa digunakan. Pada kalangan muda perubahan oleh karena modifikasi itu tentu lebih dapat diterima dibanding generasi yang lebih tua. Pada generasi ini sinisme pada upaya modifikasi masih saja terlihat.

Jika dahulu lebih banyak digunakan pada upacara-upacara adat bahkan pada upacara ritual kini upacara lain baik bersifat nasional maupun keagamaan juga semakin sering digunakan.

BUSANA DAN PERLENGKAPAN PAKAIAN ADAT PAKPAK A. Pakaian Adat Pakpak Untuk Pria

1. BAJU MERAPI-API

Baju model melayu leher bulat berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api- api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Ada beberapa variasi lain yang melekat dan pada leher dan ujung lengan terdapat warna merah putih.

2. BULANG-BULANG

Bulang-bulang Adalah penutup kepala, sebuah lambang kehormatan dan kewibawaan, dibetuk sedemikian rupa dari bahan oles perbunga mbacang. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Saat Mengenakan Baju Adat Pakpak pada saat pembukaan pekan raya Sumut (PRSU) tahun 2011 di Medan 3. CELANA PANJANG

Celana panjang berwarna hitam, sama dengan kemeja pada ujungnya juga terdapat variasi warna merah dan putih. Ukurannya umumnya tidak sampai menyentuh ujung kaki melainkan berada pada posisi tanggung, seperti celana yang biasa digunakan oleh atil silat atau karate.

4. SARUNG (OLES SIDOSDOS)

Celana panjang hitam kemudia ditutupi oleh oles sidosdos secara melingkar dengan ujung yang terbuka didepan.

5. BORGOT

Kalung yang terbuat dari emas, baik emas murni atau perak dilapisi emas. Sangat tergantung pada kemampuan ekonomi pemilik atau penggunanya. Rangkaian emas yang diikat dengan benang Sitellu rupa dan diujungnya terdapat mata kalung bergambar kepala kerbau. Rangkaiannya terdiri dari 32 keping 6. SABE-SABE

Oles Polang-polang atau pada pemakai yang punya keberadaan lebih tinggi oles Gobar, diletakkan pada bahu sebelah kanan terurai dari belakang hingga kedepan. Oles dilipat dan disesuaikan dengan corak oles.

(4)

7. REMPU RIAR

Sejenis pisau yang dibungkus dengan sarung yang diliti atau dilapisi emas atau perak (riar=uang jaman dahulu). Diselipkan di pinggang melalui rante abak.

8. RANTE ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

9. UCANG

Anyaman daun pandan (legging) berbentuk tas dihiasi dengan manik-manik dengan tali terbuat dari kain berwarna merah. Bisa dilatakkan pada bahu sebelah kiri namun sesekali juga dipegang oleh pemakai.

10. TONGKET

Tongkat yang sering juga dinamai tongket balekat, terbuat dari kayu berkwalitas tinggi, pada kepala dan batangnya terukir dengan gerga pakpak. Beberapa bukunya diikat dengan bahan emas, perak, atau loyang.

B. Pakaian Adat Pakpak Untuk Wanita 1. BAJU MERAPI-API

Baju modelleher segitiga berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Berebda dengan pria variasi warna merah putih tidak ditemukan, namun disekitar lengan atas terdapat manik-manik dengan gambar terlihat seperti kepala kerbau. Demikian juga pada ujung lengan. Kancing yang digunakan pada kemeja ini berbentuk bulat melingkat berlobang dengan ukuran jari-jari 3 Cm

2. SARUNG (OLES PERDABAITAK)

Hampir sama dengan Pria, oles perdabaitak dililit pada pinnggang secara melingkar.

3. SAONG

Tutup kepala yang dibentuk sedemikian rupa dengan oles silima takal. Pada wanita muda dibentuk lonjong dengan sudut runcing kebelakang, dengan rambu yang terurai di dahi. Namun pada usia dewasa bentuknya lebih sederhana dengan rambu terurai kebelakang.

4. LEPPA-LEPPA

Kalung wanita dengan bentuk dan bahan yang sama dengan pria. Bedanya dengan pria barangkali karena tidak ata mata kalung sebagaimana yang terdapat pada borgot. Jumlah rangkainnya juga berbeda dan cenderung lebih pendek.

5. RANTE ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

(5)

6. RABI MUNDUK

Sejenis Pisau yang terbuat dari besi dengan ujung pisau melingkar kecil keatas, gagangnya (sukul) terbuat dari jenis kayu berkwalitas tinggi, berukir dan ujungnya dililiti emas atau perak.

7. PAPUREN

Sejenis sumpit dari rajutan atau anyaman daun pandan dilapisi dengan api-api (manik-manik). Sama dengan pria sumpit ini juga bertali berwarna merah.

8. CULAPAH

Kotak kecil tempat tembakau dengan bahan yang terbuat bdari emas, perak atau loyang berukir sesuai gerga atau ornamen Pakpak yang ada. Ukurannya lebih kurang 6 x 8 cm.

9. KANCING EMMAS

Kancing bulat (berbentuk lingkaran) namun dengan lobang ditengah. Jari-jari lebih kurang 3-4 cm.

Terbuat dari emas, perak atau logam yang dilapisi emas. Fungsinya sebagai hiasan, dan menutupi kancing sebenarnya. Artinya umumnya tidak berfungi sebagai kancing dalam artian yang sebenarnya, hanya merupakan assesories semata.

C. Pakaian Adaat batak pakpak

(6)

D. Makanan Khan Batak pakpak Pelleng

Makanan khas daerah Sumatera Utara ini dikenal sebagai sejenis nasi atau bubur berwarna kuning, tapi bukanlah nasi tumpeng. Karena, nasi peleng ini berbentuk bulat bukanlah kerucut. Selain itu, nasi ini juga sudah dibumbui dan kaya akan rempah sebagai bumbunya. Didaerah Pakpak ada banyak sekali jenis pelleng, diantaranya pelleng kelasen, boang, simsim dan pegagan dengan rasa gurih dan pedas yang berbeda-beda. asi pelleng ini sangat khas di Pakpak, biasanya ditambah dengan lauk sejenis daging ayam kampung. Lebih nikmat lagi jika di atas nasi Pelleng ini disiram kuah dari opor ayam.

Nakan Ngersing

Berikutnya ada yang namanya nakan ngersing, yaitu sejenis makanan yang dibuat dari beras menjadi nasi. Namun, nasinya disini dibuat dengan bumbu kunyit. Makanan khas Pakpak Barat ini biasanya dibuat pada saat diadakannya upacara adat untuk penolak bala..

(7)

E. Tarian batak Pakpak

Etnis Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat. Pakpak memiliki khasanah tarian tradisional yang identik dengan pola kehidupan sehari-hari suku Pakpak. Tari tradisional Pakpak kerap ditampilkan dalam acara adat maupun acara biasa. Tari dalam Bahasa

A Jenis tarian tradisional Pakpak

1. Tari Tatak Menapu Kopi/ Memupu Kopi

Merupakan salah satu jenis hasil pertanian di Tanah Pakpak. Tatak Muat Kopi ini menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen kopi, menumbuk kopi dan menjemur kopi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi (petani) di kampungnya saat datang musim panen.

2. Tatak Garo Garo2. Tari

Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Tatak Garo Garo merupakan tatak yang menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang mencari pasangan di kampungnya namun tidak juga menemukannya karena pemuda yang dicari sedang pergi merantau ke kampung seberang. Suatu ketika mereka bertemu dan akhirnya pemuda tersebut membawa pulang sang kekasih. Tatak ini biasa diiringi dengan lagu pertangis- tangis Menci. Masyarakat Pakpak sendiri menari-kan tarian ini ketika masa panen tiba yang menandakan sukacita masyarakat atas panen yang berlimpah

.

3. Tari Tatak Dembas Simanguda

Tari ini menceritakan tentang doa dan mohon berkat petani yang disampaikan kepada nenek moyang (Sarat spiritual magis yaitu animisme karena menyebut berkali-kali "Mpung") agar diberi kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan pekerjaan

.

4. Tari Tatak Muat Page/ Menabi Page

Tatak Muat Page/ Menabi Page menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen padi, mengerrik (Memisahkan padi dari batangnya dengan menggunakan telapak kaki), membawa pulang kerumah yang dilakukan oleh pemuda-pemudi di kampungnya saat datang musim panen. Taktak ini menggambarkan kegembiraan dari para muda-mudi. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu, para muda-mudi di daerah Pakpak hanya dapat bertemu dan berbicara lebih dekat satu sama lain pada saat masa panen. Tatak ini menggambarkan tentang kegembiraan dalam memanen padi

.

(8)

5. Tari Tatak Renggisa

Renggisa merupakan jenis burung yang selalu setia terbang bersama pasangannya. Tatak Renggisa ini menceritakan tentang keserasian sepasang Renggisa yang berwarna putih dengan Renggisa yang berwarna hitam terbang melewati bukit-bukit sambil mengepakkan sayapnya secara bergantian sehingga menghasilkan suara yang enak didengar. Cerita ini diibaratkan dengan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan saling setia antara yang satu dengan yang lainnya.

6. Tari Tatak Menerser Page (Tintoa Serser)

atak ini diciptakan dari kegiatan masyarakat saat panen Padi, Tatak ini menggambarkan bagaimana proses bercocok tanam mulai dari memanen padi "menabi", mengerrik, membersihkan dan membawa pulang hasil panen padi tersebut.

F. Tata Acara Adat Batak pakpak

Tata Adat Pakpak merupakan salah satu etnis di Sumatera Utara yang mendiami Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat. Di etnis Pakpak, perkawinan biasanya disebut sebagai merbekkaskom yang terdiri dari kata bekkas artinya tempat dan kom artinya berhenti..

Menurut masyarakat Pakpak istilah perkawinan biasa disebut dengan merbekkaskom, yang berasal dari kata bekkas dan kom. Bekkas artinya tempat atau keberadaan, sedangkan kom mempunyai arti berhenti.

Merbekkaskom diartikan jika seseorang yang masih remaja atau belum menikah, maka dia tidak mempunyai tanggungjawab dalam adat Pakpak. Namun setelah menikah, orang tersebut akan memiliki tanggungjawab dan peranan dalam keluarga maupun masyarakat.

(9)

Dalam adat Pakpak, ada enam tahapan dalam perkawinan. Mulai dari mengririt yang artinya meminang, sampai tahapan terakhir yaitu upacara merbayo atau perkawinan

\1.Mengririt/Mengindangi

Mengririt berasal dari kata ririt, artinya seorang pemuda dan kerabatnya terlebih dahulu meneliti seorang gadis yang akan dinikahinya. Mengindangi berasal dari kata indang yang artinya disaksikan atau dilihat secara langsung bagaimana watak dan kepribadian atau sifat-sifat si gadis.

Tahapan ini lebih kepada pengenalan terhadap masing-masing calon mempelai. Biasanya yang melakukan tugas ini adalah orang tua atau pun kerabat dekat masing-masing. Keluarga pria akan mencari tahu tentang tentang si wanita, begitu juga sebaliknya, keluarga wanita akan mencari tahu tentang si pria.

Jika kedua belah pihak melihat kecocokan terhadap calon menantu dan ada kesesuaian antara dua belah pihak, maka akan segera acara tukar cincin (mersiberren tanda burju)

2.MersiberrenTandaBurju

Tahapan ini merupakan semacam memberikan tanda bahwa ada kesesuaian atau kecocokan setelah dilakukan mengririt sebelumnya. Tanda tersebut biasanya dengan tukar cincin, kain atau yang lainnya.

Dalam tahap ini peranan pihak ketiga tetap penting, dari pihak perempuan sebagai saksinya adalah bibinya (namberru), sedangkan dari pihak laki-laki saksinya adalah sininana (satu marga).

Tahapan ini diawali dengan melakukan pertukaran barang dan diakhiri dengan membuat ikrar atau janji yang disebut merbulabon. Contoh merbulabon adalah dengan membelah daun sirih dan setiap bagian dimakan masing-masing oleh yang membuat ikrar.

Sanksi dalam hukum umumnya dikenakan kepada yang melanggar, tetapi pengingkaran terhadap janji diyakini mempunyai pengaruh buruk sampai sampai ke generasi selanjutnya. Setelah selesai tukar cincin maka baik saksi pria maupun saksi wanita langsung memberitahukan kesepakatan tersebut kepada kedua orang tua masing-masing

3. Menglolo/Mengkata Utang

Menglolo/mengkata utang merupakan tahapan untuk membicarakan mas kawin. Rombongan keluarga pria yang pergi menglolo disebut penglolo, sedangkan rombongan keluarga wanita yang mengkata utang disebut pengkata utang. Sebelum pertemuan itu, orang tua dari wanita terlebih dahulu mendiskusikan dengan kerabat dekat terkait rencana kedatangan penglolo itu. Kemudian mereka akan mendiskusikan tentang jenis permintaan mas kawin ataupun besaran mas kawinnya. Hasil diskusi di kerabat wanita itu lah yang akan dibawa dan ditawarkan saat rombongan penglolo tiba. Saat pertemuan antara penglolo dan pengkata utang itu akan dicari kesepakatan terkait dengan jenis dan banyaknya mas kawin.

Biasanya jenis mas kawin dapat berupa emas, perak, gerantung (alat musik), kebun, sawah, tanah, hewan ternak kerbau atau lembu, mesin jahit, sejumlah uang dan kain. Saat ini yang umum berlaku adalah hanya berupa uang dan emas.

(10)

4. Muat Nakan Peradupen

Muat nakan peradupen ini merupakan tahapan yang dilaksanakan oleh keluarga pria. Orang tua pria tersebut akan mengundang dan mengumpulkan kerabat terdekatnya atau garis keturunan dari pihak orang tua laki-laki, untuk mendiskusikan soal persiapan perkawinan anaknya. Pertemuan ini akan dipimpin oleh persinabul atau juru bicara dari setiap perwakilan keluarga. Persiapan perkawinan yang didiskusikan dalam muat nakan peradupen adalah jumlah mas kawin yang harus disediakan, jenis barang yang harus disediakan, masalah teknis upacara dan hal-hal lain yang menyangkut kelancaran upacara perkawinan.

5. Tangis Berru Pangiren

Tangis berru pangiren merupakan tahapan yang dilakukan oleh keluarga wanita. Tengis berru pangiren dilakukan sehari setelah acara rundingan dengan keluarga pria selesai.

Ibu dari wanita yang akan menikah akan memberikan makanan secara khusus kepada anak gadisnya yang akan menikah. Biasanya ayam menjadi makanan yang diuguhkan. Makanan ini disebut nakan penjalon yang artinya mas kawin dari calon pengantin laki-laki telah diterima, kiranya sang gadis menerima keputusan tersebut dengan rela dan senang hati

6.Upacara Merbayo

Upacara merbayo atau perkawinan, setelah secara adat pihak keluarga laki-laki menyerahkan mas kawin baik itu berupa uang, emas dan kain dan pihak perempuan telah menerima mas kawin, maka upacara perkawinan pun akan dilaksanakan. Setelah tiba hari yang ditentukan, pihak pria berangkat ke rumah pengantin wanita. Sesampai di halaman, pihak pengantin perempuan berdiri di depan pintu sambil menjunjung piring berisi beras yang dialas dengan sumpit (kembal).

Di depan pintu rumah telah diletakkan bara api yang nantinya dilangkahi oleh rombongan. Adapun makna api tersebut adalah untuk menghangatkan jiwa para kerabat pengantin pria. Kemudian persinabulo dari pihak pengantin wanita memandu jalannya upacara perkawinan. Kemudian pihak pengantin pria memasuki rumah dan disambut dengan siraman beras oleh pihak pengantin wanita. Selanjutnya pihak pengantin pria menyerahkan oleh-oleh yaitu makanan yang disebut nakan luah.

Lauknya terdiri dari ayam yang telah dipotong-potong sesuai ketentuan. Idealnya lauk tersebut dibungkus dengan daun, akan tetapi saat ini sering digunakan rantang dan panci. Kemudian pihak pengantin perempuan menyerahkan makanan ringan, tepung beras, pisang dan tebu.

Acara ini disebut merdohom, biasanya dalam acara ini ditanyakan berapa jumlah makanan yang disediakan dan setiap makanan ditutupi dengan daun pisang dan piringnya dilapisi dengan sumpit (kembal). Setelah acara ini selesai maka dilanjutkan dengan pelaksanaan perkawinan.

Bagi yang beragam Kristen terlebih dahulu dilakukan pemberkatan di gereja sedangkan bagi yang beragama Islam melakukan syukuran akad nikah sebelum acara makan bersama dan acara adat dilakukan.

Setelah selesai akad nikah kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama

Referensi

Dokumen terkait